Thursday, June 14, 2018

Ketika Uni Soviet Gagal Lolos Piala Dunia Secara In Absentia


Oleh Mahfud Ikhwan


Setelah memenangi tiga pertandingan berat melawan Peru, Chile mesti melewati dua pertandingan lagi melawan Uni Soviet untuk merebut satu tempat di Jerman Barat. Ini seharusnya menjadi pertemuan antarkawan lawa, mengingat Chile, di bawah pemerintah sosialis Salvador Allende, adalah salah satu negara di Amerika Latin yang paling bersahabat dengan Uni Soviet. Tapi yang terjadi sama sekali berkebalikan. 

Pertandingan tersebut jatuh di saat yang sangat tidak tepat—dan seharusnya, demi sepakbola, dan lebih dari itu demi kemanusiaan, pertandingan itu semestinya tak pernah ada.

Hanya berbilang minggu saja sebelum pertandingan tersebut dijadwalkan, pemerintahan sah Allende digulingkan. Augusto Pinochet yang didukung Amerika, yang kelak menjadi salah satu diktator paling mengerikan dalam sejarah dunia, adalah pelakunya. Tapi hal paling belum lagi terjadi.

Penggulingan Allende, yang oleh sejarah Chile disebut sebagai “Operasi Jakarta” itu, diikuti oleh penangkapan besar-besaran kalangan komunis dan kaum kiri di seantero Chile. Helikopter-helikopter dikerahkan Pinochet untuk memindai para pembangkang. Pasukan khusus bentukan Pinoche, yang dikenal dengan nama Karavan Kematian, menangkap puluhan ribu orang kiri dan membuat penjara-penjara di Chile tak mampu menampung tahanan politik. Estadio Nacional kemudian dipilih untuk “menampung” para tahanan politik yang tak kebagian penjara. Beberapa waktu kemudian, stadion itulah yang akan dipakai Chile untuk menjamu lawan komunis mereka.

Pertandingan pertama dilaksanakan di Central Lenin Stadium, Moskow. Beberapa pemain Chile yang sekaligus pendukung Allende turun ke lapangan dengan ketakutan. Mendapat bantuan yang agak terang-terangan dari seorang wasit asal Brazil yang antikomunis bernama Marques, Chile menahan tuan rumah Uni Soviet 0-0 di pertandingan yang jauh dari rasa persahabatan itu.

“Tak ada tukar cendera mata, tak ada lagu kebangsaan, dan pemain Uni Soviet menolak makan malam dengan tim Chile,” begitu tulis Carl Worswick di The Blizzard

“Uni Soviet bahkan tak bisa mengalahkan kita main bola!” tulis sebuah koran di Chile keesokan harinya.

Chile ganti menggelar pertandingan kedua kurang dari sebulan kemudian. Mereka tentu saja menawarkan Estadio Nacional, stadion kebanggaan mereka. Itu adalah stadion yang pernah dipakai menggelar pertandingan final Piala Dunia 1964. Juga pertandingan brutal antara Chile melawan Italia yang kemudian dikenal sejarah sepakbola sebagai Pertempuran Santiago. Dan, saat itu tengah dijadikan kamp interniran dadakan sekaligus tempat eksekusi orang-orang kiri. 

Seperti ditulis Worswick, sekitar 40 ribu orang dijebloskan ke dalam stadion itu antara 12 September- 9 November—hanya berselisih kurang dari dua minggu dari jadwal pertandingan. Salah satu tahanan yang disekap di situ adalah Hugo Lepe, mantan pesepakbola sekaligus pemimpin buruh, yang sangat dihormati oleh para pemain timnas Chile

Uni Soviet menolak bermain di stadion itu, dan menuntut pertandingan digelar di tempat netral. “Kami tak akan bertandingan di lapangan yang ternoda darah para patriot Chile,” kata mereka.

Asosiasi Sepakbola Chile sempat goyah, hendak mencari jalan tengah, tapi Junta Militer bersikeras. Dan penilik FIFA—konon, di bawah tatapan dari kejauhan 7000-an tawanan politik yang masih terkurung di dalam stadion—merestui hajatan Junta itu. Perwakilan FIFA menyatakan, “Kehidupan (di Chile) sudah kembali normal”. Akhirnya, 21 November 1973, pertandingan kedua itu dilangsungkan di tempat yang telah ditetapkan. 

Pernah menampung penonton hingga 85 ribu lebih ketika Universidad de Chile bertanding melawan Universidad Catolica pada 1962, hari itu tribun Estadio Nacional hanya diisi oleh 17 ribu penonton (15 ribu kata sumber lainnya). Tapi hal paling aneh terjadi di tengah lapangan. Sebelas pemain Chile bersiap di paroh lapangannya, demikian juga wasit Erich Linemayr dari Austria di lingkaran tengahnya. Tapi, di paroh lapangan lain, tak ada seorang pun pemain Uni Soviet. Mereka telah menyatakan menolak bertanding, sementara FIFA ngotot melangsungkan pertandingan.

Meski tak ada lawan, wasit memerintahkan  para pemain Chile untuk melakukan kick-off. Dan terjadilah adegan tak lazim itu. 

Dalam rekaman pertandingan yang masih bisa ditemukan di internet, empat pemain Chile berlari dengan enggan ke arah gawang kosong, beriringan, saling mengumpan, sementara seisi Estadio Nacional menyemangati timnya, seakan sebuah serangan balik cepat yang memporak-porandakan lawan sedang berlangsung di lapangan. Satu meter di depan gawang, pemain Chile bernomor punggung 19 dengan ban kapten di lengannya (jika tak ada perubahan dengan tim yang turun di Jerman Barat pada musim panas berikutnya, itu pastilah Francisco Valdes) menendang bola ke mulut gawang. Sorakan penonton membahana. Lalu, wasit meniup peluit panjang. 

Pertandingan hanya berlangsung 30 detik. Chile berangkat ke Jerman Barat.

“Pertandingan paling menyedihkan dalam sejarah sepakbola,” kutuk sastrawan Uruguay, Eduardo Galeano. 

“Pertandingan yang benar-benar memalukan, yang seharusnya tak boleh mendapat tempat,” kata Leonardo Veliz, salah satu penyerang Chile di pertandingan konyol itu, dengan getun. “Apa kata orang? Mungkin mereka menertawakan kami,” sesalnya.

Yang lebih buruk lagi, meskipun disebut bahwa para tawanan politik telah diangkut ke Gurun Atacama beberapa hari sebelum pertandingan dilangsungkan, rupanya sebagian kecil masih disekap di dalam stadion. Dan mereka bisa mendengar dengan jelas pendukung Chile menyoraki gol “lucu” itu.  

2 comments: