Thursday, May 24, 2018

Rivalitas Mimesis Dua Kota


Oleh Darmanto Simaepa

Rivalitas paling sengit, dan sekaligus paling getir, biasanya melibatkan orang-orang dekat. Sangat-sangat dekat. Ingat kisah Qabil dan Habil? Dari kitab suci kita mengenal rivalitas, dan pertumpahan darah pertama di dunia, terjadi justru di antara saudara satu rahim.

Pun demikian di sekeliling kita. Kisah-kisah rakyat di Nusantara tentang jatuh-bangunnya kerajaan, legenda suku-suku dan riwayat asal-usul sebuah desa berawal dari persaingan kerabat dekat yang berujung perselisihan. Di film dan novel silat, alur cerita nyaris digerakkan oleh perseteruan dua saudara seperguruan. Sehari-hari kita pun mendengar dengan persaingan sengit antar sepupu di sekolah atau punya istri/suami yang lebih baik....

Dalam khazanah sepakbola, perseteruan diantara dua saudara itu bernama derbi, el-classicoder klassiker, match of eternal enemies. Dari Buenos Aires hingga Glasgow, dari Madrid hingga Tokyo, pertandingan-pertandingan paling keras dan menguras emosi hampir selalu melibatkan tim yang lahir berasal dari kota, dan bahkan pada suatu waktu berbagi stadion, yang sama.

Sebagai provinsi sepakbola, Jawa Timur pun memiliki derbi-nya sendiri. Derbi ini, yang berangsur-angsur menjadi sebuah rivalitas yang melampaui skala geografisnya, melibatkan dua tim yang paling berprestasi dalam empat dekade.

Pertandingan Persebaya dan Arema tidak hanya menarik publik sepakbola Malang dan Surabaya ke stadion tetapi juga menyeret publik sepakbola Indonesia, terutama di Jawa Timur dan sekitarnya ke dalam demam persaingan.

Namun, seperti rivalitas klasik lain, kita tidak akan pernah menemukan cerita tunggal tentang bagaimana dan mengapa demam ini terbentuk.

Ada yang bilang rivalitas ini bermula dari insiden tawuran anak-anak muda Malang dan Surabaya di sebuah konser musik. Sumber lain menyebut arogansi tokoh-tokoh sepakbola Surabaya sebagai biangnya—orang Malang merasa selalu diremehkan. Satu versi lain menyebut kontribusi  halaman olahraga Jawa Pos yang menganakemaskan Persebaya dan menganaktirikan Arema. Versi lain mengaitkan rivalitas ini dengan perpindahan pelatih dan pemain—terutama dari Arema ke Persebaya.

Masih ada varian dari versi-versi di atas yang lebih kecil. Tiap-tiap versi punya pembenaran dan kebenarannya sendiri. Seperti halnya dalam perseteruan dua bersaudara, tiap pihak punya daftar bukti kesalahan orang lain. Rincian peristiwa adalah bumbu, bukan masakan utamanya. Dan barangkali tak begitu penting untuk mencari mana versi yang lebih sahih.

Yang pasti, rivalitas Arema dan Persebaya belum begitu lama. Rivalitas ini bahkan barangkali tidak bisa dikatakan sebagai sebuah derby. Persebaya dan Arema bukan ‘saudara-dalam-sepakbola’. Mereka lahir dari dua kota yang berbeda pada waktu yang berbeda, dan tumbuh dari rahim kompetisi yang berbeda.

Persebaya berumur 60 tahun lebih tua. Ia dibentuk oleh ‘pemoeda-pemoeda’ yang sedang bergairah dengan ide-ide, meskipun embrionik, tentang kemerdekaan dan revolusi nasional. Sebagai konsekuensi dari sejarahnya, klub ini bermain dalam sepakbola amatir, akar dari sepakbola Indonesia, yang kemudian bertransformasi menjadi kompetisi Perserikatan.  

Sebaliknya, Arema, lahir di masa-masa puncak Orde Baru, adalah bagian dari klub-klub yang diinisiasi dari ‘atas’ oleh elit-elit politik-bisnis-birokrasi-militer yang mendapat proteksi dari kekuasaan. Arema bermain di Liga Sepakbola Utama (Galatama), sebuah proyek kompetisi olahraga semi-profesional yang mendapat subsidi dari konglomerat-konglomerat pribumi.

Sampai awal-awal tahun penyelenggaraan Liga Indonesia bergulir di paruh dekade 1990, keduanya tidak punya punya sejarah rivalitas. Secara tradisional kedua klub ini memiliki riwayat perseturuan, meskipun barangkali tidak terlalu sengit, justru dengan klub lain di kompetisi yang mereka ikuti. Di sepanjang dekade 1980an kita mendengar permusuhan Persebaya vs Persema sementara di akhir 1980an dan awal 1990an, kita menyaksikan persaingan Arema dan Niac Mitra.

Sejarah rivalitas Persebaya vs Persema dan Niac Mitra vs Arema sebelum Persebaya vs Arema menunjukkan sesuatu yang lain. Sesuatu itu adalah rivalitas yang lebih laten, lama dan besar: rivalitas dua kota dari sub-kultur yang sama.

Rivalitas Persebaya vs Arema adalah manifestasi kontemporernya.

***

Malang dan Surabaya adalah dua kota yang menjadi anak kandung sub-kultur Jawa Timur-an yang paling Jawa Timur. Berbeda dengan kota-kota di kawasan Tapal Kuda, kedua kota ini tidak begitu terpengaruh Madura dan Islam. Berbeda dengan kota-kota di bagian baratnya, kedua kota ini juga nyaris tidak mendapatkan penetrasi budaya Mataram.

Dua kota ini mengembangkan sub-kulturnya sendiri. Terletak di pesisiran, Surabaya menjadi kota dagang dan industri manufaktur yang ramai. Sementara Malang, berada di pedalaman dan diberkahi keindahan alam, identik dengan kota wisata, pertanian, dan pendidikan.  

Kedua kota ini juga mengembangkan versi Jawa yang lebih egaliter dan terbuka. Di kelilingi pabrik dan toko-toko, penduduk Surabaya identik dengan kelas pekerja yang dibekali dengan karakter tekad-kuat, rasa setia-kawan, dan keberanian. Sementara dengan kesejukan iklimnya, orang Malang membanggakan daya kreatifitas dalam usahanya.

Kedua kota ini, juga, pada dasarnya, juga dekat dan saling membutuhkan. Orang Surabaya butuh hasil bumi, pegunungan dan udara segar dari Malang. Sementara Orang Malang perlu barang pabrikan dan layanan finansial serta hiburan dari kota Surabaya.

Corak egalitarianisme sub-kultur Jawa Timur memampukan kedua kota ini menemukan identitasnya sendiri. Masing-masing menciptakan keunikan, dari bahasa sampai makanan.
Jika Surabaya menghasilkan ludruk, Malang menemukan bahasa walikan. Jika Surabaya melahirkan Kartolo, Malang memiliki Ian Antono. Surabaya menemukan rujak cingur dan lontong kupang, malang menciptakan bakso dan angsle.  

Namun, gaya egaliter Jawa Timuran mendorong penduduk dua kota ini untuk membawa dinamika saling bersaing-dan-membutuhkan ini pada batas terjauhnya. Klub sepakbola adalah salah satu tempat di mana warga Surabaya dan Malang bisa mengekspresikan persaingan ini. Dari sini kita bisa memahami asal muasal rivalitasnya.

Dekade 1990an menandai susut dan bangkitnya klub-klub bekas era Galatama dan Persyerikatan. Penyatuan kompetisi Galatama dan Persyerikatan ke dalam Liga Indonesia (Ligina) membuat sebagian klub-klub penting di Galatama dan Persyerikatan lenyap, sementara yang lain muncul ke permukaan.

Di Surabaya, eks Galatama (Niac Mitra dan Assyabab) keteteran mengikuti irama kompetisi yang baru itu. Dalam prosesnya, keduanya gagal beradaptasi dan kehilangan kesaktiannya. Sebaliknya di Malang, eks Persyerikatan (Persema) perlahan menjadi tim kedua dan tak berapa lama hilang entah main di divisi berapa.

Arema dengan bekal juara di periode-periode akhir Galatama mendapatkan simpati yang luas dari publik Malang, terutama generasi mudanya. Dukungan politik-ekonomi dan jaringan dari para pendirinya juga membuat Arema mengalami transisi yang relatif bagus ke Ligina. Sementara Persema, yang prestasinya semenjana, pelan-pelan hilang dari panorama, Arema muncul menjadi representasi sepakbola Malang.  

Persebaya tidak punya masalah dalam transisi ini. Klub ini punya segalanya: tradisi, sejarah, stadion, dan suporter yang loyal. Sementara klub-klub Galatama tersingkir ke pinggir secara literal maupun kiasan—Assyabaab terdesak ke Sidoarjo, lantas ke Bali sementara Niac Mitra dioperasi plastik dan berganti nama menjadi Mitra Kukar dan entah apalagi.  

Di ujung hari, Persebaya dan Arema menjadi wakil-tanpa-saingan bagi kota Surabaya dan Malang. Dan yang lebih penting, keduanya memberi kebanggaan bagi Surabaya dan Malang untuk menjadi sedikit klub yang berjaya di dua era kompetisi yang berbeda.

Lintasan sejarah ini memberikan keistemawaan bagi keduanya. Persebaya dan Arema menjadi simbol sekaligus arena bagi perwujudan hasrat dan aspirasi persaingan warga kedua kota untuk mendapatkan keotentikan Jawa Timur. Jika gerobak bakso dan warung lontong kupang tidak menjadi arena persaingan terbuka untuk menunjukkan siapa yang lebih hebat antara Surabaya dan Malang, kompetisi sepakbola menyediakanya.

Lambang Bajul Ijo yang konsisten dari tahun ke tahun mewakili gaya Surabaya yang solider, nekat, dan tak-takut berkonfrontasi. Gambar Singo Edan di stiker atau kaos yang bervariasi menyimbolkan kera ngalam yang kreatif dan penuh kejutan.

Keberanian Bonek mendatangi stadion lawan mewakili Surabaya sebagai kota yang penuh vitalitas dan keberanian warga Surabaya. Sementara, tari-tarian di stadion dan gambar singa di setiap sudut gang menggambarkan selera seni dan imajinasi warga Malang.

***

Sepakbola secara inheren mendorong insting perseteruan karena hanya menyediakan satu pemenang dalam sebuah kompetisi. Ia menjadi arena konkrit apa disebut sebagai rivalitas mimesis.

Konon, seseorang punya hasrat menggebu-gebu akan sesuatu, pertama-tama bukan ditentukan oleh nilai atau kualitas sesuatu itu sendiri, namun karena ada orang lain yang pada waktu sama menginginkan sesuatu itu.

Orang Surabaya berpikir bahwa kotanya menjadi yang paling unik dan Persebaya menjadi klub sepakbola yang paling hebat. Mereka punya hasrat untuk mewujudkannya karena orang Malang mengklaim dan menginginkan hal yang sama.

Dalam rivalitas mimesis, ruang dan waktu menjadi penting. Ketika berada dalam jarak dan waktu dekat, dua orang yang saling menginginkan hal yang sama tidak begitu merasakan dan mengenali bahwa mereka saling bersaing. Jarak yang dekat membuat mediasi ego tidak terlihat. Mereka menjadi rival karena berusaha saling meniru tindakan pesaing.

Semua orang tua yang berdedikasi atau petugas layanan day-care sangat familiar dengan hal ini. Pertengkaran anak-anak sepantaran atau adik-kakak kandung yang umurnya berdekatan nyaris semua dimulai karena keduanya menginginkan balon atau layang-layang yang sama. Ketika mainan itu tidak dipegang oleh orang lain, rivalitas tidak ada. Begitu salah satu anak mengambil dan memainkannya, kekacauan akan segera muncul.

Dalam rivalitas ini, seringkali tidak penting seseorang mendapatkan apa yang diinginkannya. Yang lebih penting adalah si rival tidak mendapatkannya. Anak-anak yang berebut layangan atau mobil-mobilan seringkali memilih menyobek layang dan melempar mobil itu ke comberan. Orang Malang senang bukan saja saat-saat Arema menang atau juara, tetapi lebih sering ketika Persebaya menjadi pecundang.

Ada potensi kekerasan dalam setiap rivalitas orang-orang dekat. Setelah layang-layang sobek, seorang kakak mungkin akan memukul adiknya. Seorang akan melukai hati sahabat dan si sahabat menyimpan dendam itu dalam hatinya untuk waktu yang lama. Luka fisik mungkin akan pulih seiring berjalannya waktu, namun luka batin biasanya mengeras seperti batu seiring bertambanya waktu.

Seperti halnya kisah Qabil dan Habil, rivalitas orang-orang dekat sulit didamaikan karena rivalitas ini lahir dari mimesis—proses meniru dan mediasi internal satu sama lain, yang sering kali tidak disadari oleh pelakunya. Orang dewasa punya istilah ini: harga diri. Rivaltias mimesis memberikan gengsi. Pendukung Persebaya dan Arema sulit disatukan persis karena mereka gengsi dan harga diri mereka ditentukan oleh keberhasilan dalam persaingan yang saling mengandaikan dan membutuhkan ini.  

Rivalitas mimesis ini bisa menghasilkan hubungan yang buruk dan bahkan memicu kekerasan. Satu-dua perkelahian, perusakan, dan bahkan tawuran masal yang berujung kematian adalah bagian tak terpisakan dalam setiap derbi sepakbola.

Namun, di sisi lain, rivalitas ini punya energi yang besar. Rivalitas ini mendorong daya cipta dan kreativitas. Seperti halnya hikayat rivalitas mimesis yang mendorong lahirnya temuan ilmiah, inovasi teknologi, dan  banyak dilumasi oleh rivalitas mimesis.

Rivalitas mimesis Surabaya dan Malang telah memberi banyak hal kepada kita. Di luar sepakbola, lidah kita diberikan pengalaman untuk merasakan penemuan kuliner terbaik dunia rujak cingur atau bakso.

Di sepakbola, rivalitas ini menjadikan dua kota ini menjadi barometer. Pemain berbakat tak putus diciptakan di Malang dan Surabaya. Di bawah bayang-bayang kebesaran figur masa lalu seperti Singgih Pitono, Mecky Tata atau Aji Santoso, kota Malang adalah tempat inkubasi pemain lokal seperti Dendi Santoso dan Dedik Setiawan. Dengan daya akulturasi yang tinggi, Malang mengadopsi Kurnia Mega atau Hanif Syahbandi seperti anak mereka sendiri. Bukan suatu kebetulan jika figur sepakbola seperti Iwan Budianto lahir di sini. Kota ini memberi kesempatan bagi orang muda seperti dia untuk mengasah keahlian dan ketrampilan menjadi wirausahawan sepakbola.

Di Surabaya, kehidupan sepakbola terus berdenyut kencang, meskipun konflik kepentingan para petinggi federasi berusaha memisahkan publik (bonek) dengan sepakbolanya. Kota ini mencetak ulang kecerdikan Uston Nawawi dalam diri Rendi Irawan atau ketenangan Bejo Sugiantoro dalam diri Rachmat Irianto. Di gang-gang sempit, di bekas puing-puing bangunan pabrik, atau sudut lapangan berdebu di Surabaya, anak-anak kecil punya impian menjadi Yusuf Ekodono, Mustaqim atau Syamsul Arifin. Atau membayangkan dirinya mengatur irama permainan seperti Ibnu Graham.

Di atas segalanya, keduanya berbagi kesamaan: punya basis suporter yang besar dan representasi dari kota yang gila sepakbola. Dua modal utama dalam sepakbola itu membuat Surabaya dan Malang terus menjadi kota yang melahirkan terobosan-terobosan bari di luar lapangan .

Strategi bisnis yang kreatif terus diluncurkan untuk menarik iklan—Arema dan Persebaya adalah sedikit tim yang tak punya masalah dengan pendapatan dari sponsor. Lagu-lagu dan koreografi baru pemberi semangat terus dicipta ulang dan dipentaskan. Desain-desain baru syal, kaos, dan tiket terus diperbaharui untuk menunjukkan semangat persaingan sekaligus mengeruk pendapatan. Mereka membangun Kanjuruhan dan Gelora Bung Tomo yang kini menjadi katedral baru bagi massa yang hendak melakukan penziarahan dan perayaan rivalitas mimesis ini setelah era Gajayana dan Tambaksari.

Di depan wartawan, kapten Persebaya Rendi Irawan melihat pertandingan melawan Arema sebagai pertaruhan harga diri kota Surabaya dan pemain lokal. Sebaliknya, bekas pelatih Arema Joko Susilo membahasakannya sebagai gengsi kota kecil melawan kota raksasa. Ketua suporter Surabaya bicara tentang Surabaya dan Malang sebagai ‘aset sepakbola nasional’ dan siapa yang terbaik di lapangan adalah pemenangnya.

Narasi rivalitas Surabaya dan Malang ini memenuhi kriteria mendasar terbentuknya rivalitas sengit dalam sepakbola modern. Harga diri, gengsi, persaingan—semuanya adalah bahan dasar perseteruan mimesis.

Hari-demi-hari narasi ini bisa semakin mengkristal dan menjadi bagian penting sejarah sepakbola Jawa Timur, dan bahkan dalam skala tertentu Nasional—penggemar Arema dan Persebaya tersebar di seluruh penjuru tanah air, entah karena ikatan tempat lahir atau identifikasi lainnya. Karena bercorak kultural dan berpilin dengan tradisi dan sejarah kota, narasi jenis ini sangat fundamental bagi terbentuknya sebuah kompetisi sepakbola yang berkelanjutan dan menguntungkan secara ekonomi.

Jika PSSI dan otorita sepakbola terkait mengelola rivalitas ini dengan baik dan menyalurkan energi besar persaingan sengit ini ke dalam kompetisi yang nir-kekerasan (misalnya dengan pemasaran yang pintar), kita bisa punya tontonan sepakbola Indonesia dalam versi terbaiknya—yang lebih dekat dengan sejarah sosial dan terasa lebih hangat dibalik kulit ari kita dibanding el-classico atau derbi the greater Manchester. 


*dimuat di Jawa Pos, 6 Mei 2018, dengan beberapa perubahan

No comments:

Post a Comment