Tuesday, April 11, 2017

Membayangkan Leicester City Juara Liga Champions

Oleh Mahfud Ikhwan

Bola yang membentur pundak Robert Huth itu bergulir pelan saja di antara kaki dua bek Juventus yang terkejut. Dan Gigi Buffon yang ingin pensiun dengan gelar Liga Champion hanya bisa memukuli permukaan lapangan, menyesali diri sendiri, karena ada di posisi yang salah. Ia meraung, tapi segera meraih bola dari sudut jaring gawangnya, menepuk keras punggung beberapa beknya yang masih tercengang, dan meminta Paulo Dybala untuk segera membawa bola ke lingkaran tengah. Pertandingan sudah ada di menit 117 perpanjangan waktu babak kedua, setelah 90 menit pertandingan normal gagal menghasilkan gol.

Diawali dari lemparan ke dalam jauh dari Christian Fuch, yang kemudian disambut sundulan ke belakang oleh Jamie Vardy, Huth, seperti biasanya, ada di tempat yang tepat. Di antara kerumunan, dan dengan sedikit kekagetan, ia menyambut bola liar dari Vardy dengan kepalanya yang memanjang. Bukannya kepala, bola itu justru melintir ke pundak. Itu jelas bukan cara terbaik sebuah sundulan dilakukan, lebih-lebih di pertandingan final Liga Champions. Tapi siapa peduli? Itu gol. Itu GOL!

Beberapa ribu pendukung Juventus melongo, membekap kepala—mereka mengutuki diri, kenapa hal ini terjadi lagi, dan lagi, kepada mereka. Namun, seisi Stadion Millenium Cardiff sisanya meledak oleh rasa terkejut yang indah. Dan tiga menit setelahnya adalah sejarah.

***

Tentu saja, tiga paragraf pembuka di atas cuma karangan saya. Sebab, hanya orang ngarang yang akan menebak Leicester City mencapai final Liga Champions, apalagi sampai memenanginya. Tak perlu bertanya kepada mesin pencari untuk tahu ada di posisi mana dan perbandingan berapa Leicester diunggulkan di rumah-rumah judi di Eropa. Di antara raksasa macam Real Madrid, Barcelona, Bayern Munchen, dan Juventus, atau bahkan klub dengan klub macam Atletico dan Monaco, Leicester jelas bukan apa-apa, bukan siapa-siapa.

Tapi, kalau kita belum lupa, siapakah Leicester City sebelum mereka menjadi juara Liga Inggris sepuluh bulan lalu? Mereka adalah tim yoyo, yang dikenal karena hanya sesekali nongol di liga level atas. Enam musim sebelum bermain di Liga Champions untuk pertama kalinya, mereka masih terjerembab di liga kasta tiga. Naik ke Liga Ingris pada musim 2014-15, mereka lolos dari degradasi dan bisa bertahan di Liga Premier karena tujuh kemenangan ajaib di akhir kompetisi.

Itulah kenapa, pada awal musim berikutnya rumah judi Ladbrokes dan William Hill memasang mereka dalam angka taruhan 5000/1. Leigh Herbert, seorang tukang kayu dari Leicester, dan 12 orang lainnya, dianggap fans putus asa ketika mereka tetap bersikeras menaruhi tim pujaannya. Sementara itu Gary Lineker (striker legendaris Inggris, seorang penyiar sepakbola ternama, dan fans Leicester) mungkin hanya berniat bercanda ketika mengatakan akan siaran dengan cuma pakai cawat jika si Rubah juara liga.

Pada awal Mei 2016, Herbert pun jadi orang kaya baru. Lineker akhirnya benar-benar muncul di televisi cuma dengan cawatnya. Dan kita kemudian menyaksikan, di Liga Champions, Leicester menjuarai babak penyisihan grup, sebelum menyingkirkan tim dengan tradisi hebat di turnamen, Sevilla, di 16 besar.

Kejutan tak sering terjadi di sepakbola, sebagaimana juga dalam kehidupan. Karena itu, kita semua menyukai kejutan.

***

Meski begitu, kejutan adalah nama tengah sepakbola.

Orang selama ini menyangka, keindahan sepakbola semata ada pada cara ia dimainkan. Itu kenapa belakangan orang berbondong-bondong memuja Barcelona. Barcelona memang memberikan kegembiraan dengan tiki-takanya, dengan Messi-nya. Dan memberi kegembiraan adalah sifat hakiki sepakbola. Tapi bukan hanya itu.

Eduardo Galeano menyebut, keindahan sepakbola juga terletak pada kemampuannya untuk mengelak dikira, menolak disangka. Sepakbola menyajikan apa yang tidak kita bayangkan.

Yang tak terbayangkan itu tak sering terjadi. Karena itu ia istimewa. Ia dikenang dalam rentang waktu panjang, bahkan mungkin abadi. Makanya, Pele, Cruyff, Maradona, dan Messi ada di tempat yang berbeda dalam statistik dan sejarah sepakbola. Brazil sudah memenangi lima Piala Dunia, tapi mereka tak akan bisa melupakan Maracanazo. Sebelum timnas Jerman terbiasa dengan piala, mereka mengawalinya dengan mengejutkan dunia: menghajar Hungaria di final Piala Dunia 1958. Benarkah final Piala Dunia 1974 dikenang karena keindahan Total Football Belanda? Boleh jadi, tapi mungkin juga karena orang-orang tak menyangka Der Panzer yang inferior bisa bangkit dengan dua golnya. Dan gelar Denmark pada Piala Eropa 1992 masih tetap mengundang senyum dan geleng kepala, sebagaimana gelar Yunani pada 2004.

Contoh teranyar ditunjukkan Barcelona, saat menang 6-1 atas PSG untuk lolos ke 8 besar. Cules yang terlalu fanatik mungkin akan tetap yakin bahwa keberhasilan itu karena tiki-taka yang selama ini menjadi ciri Barcelona. Tidak. Di pertandingan itu tiki-taka tak berjalan, bahkan tak dipakai. Pertahanan kedodoran. Umpan-umpan kunci terbaik diciptakan Verrati, bukannya Messi. (Sebelum tendangan bebas Neymar yang kemudian dibuat jadi gol ke-6 oleh Sergi Roberto, nyaris tak ada umpan hebat yang masuk kotak penalti PSG.) Gol terbaik di pertandingan itu pun tak dicetak pemain Barcelona, tapi oleh Cavani.

Tapi itu tetap saja pertandingan sepakbola yang indah. Hal terindah yang membuat saya berdiri dan bertepuk tangan di akhir pertandingan adalah karena kita semua, termasuk di dalamya para pendukung Barca, tak menyangka ujung pertandingan akan sebegitu rupa. Dan, tentu saja, itu tak kalah indahnya dengan permainan indah manapun yang pernah disajikan Barca.

***

Sejak Red Star Belgrade jadi juara pada 1991, gelar antarklub Eropa hanya mondar-mandir di antara klub-klub besar, dari kompetisi-kompetisi yang bergelimang uang. Mungkin yang bisa sedikit kita golongkan sebagai “mendingan” adalah ketika Monaco dan Porto ada di partai final Liga Champions 2004. Selebihnya, masa-masa ketika klub semenjana macam Steau Bucuresti, Aston Villa, Nottingham Forest, hingga Hamburg bisa menjadi juara tampaknya sudah lama berlalu.

Industrialisasi membuat sepakbola makin minim kejutan. Tak seperti penonton, para pemilik modal menginginkan kepastian. Sepakbola jadi kian rutin. Atau, kalau bisa, memang harus dirutinkan. Klub-klub kaya mendominasi, dan semakin mendominasi.

Saya adalah pendukung salah satu tim besar itu. Dan saya ingin tim pujaan saya jadi juara Liga Champions setiap tahunnya. Tapi, terkadang, saya ingin tahu bagaimana rasanya dikejutkan. Dortmund, atau Atletico, atau Monaco mungkin akan lebih mudah dibayangkan menjadi ganjalan bagi raksasa macam Munchen, Madrid, Barcelona, atau Juve. Tapi kenapa tidak sekalian Leicester?

Pendukung tim-tim besar, mungkin termasuk saya, boleh jadi akan kecewa. Orang-orang yang memuja sepakbola indah akan menyesalinya. Bagaimana bisa tim dengan materi buruk, bermain sangat sederhana, dan sedang berjuang dari degradasi di liga domestiknya, bisa juara? Mungkin begitu pertanyaannya. Tapi, jika klub macam Leicester bisa juara, ia akan memberi pelajaran lain tentang sepakbola—sebagaimana sebelumnya Eropa pernah mendapatkannya dari Denmark dan Yunani. Ia akan menunjukkan keindahan sepakbola dari sisi yang berbeda.


Bahwa: sepakbola adalah permainan yang mengelak dikira, menolak disangka. Ia menyajikan apa yang tidak kita bayangkan.  


*Dimuat di Jawa Pos, Selasa 11 April 2017

Wednesday, April 5, 2017

Brazil Sedang Menemukan Dirinya Kembali*

Oleh   Darmanto Simaepa

“Sepakbola membantu Brazil menemukan dirinya sendiri dan membuat dunia menemukannya,” Nelson Rodrigues, penulis naskah lakon kenamaan Brazil era 1950-an, pernah bilang.

Itu bermula setengah abad yang lewat. Di Piala Dunia 1950, Brazil muda ingin menunjukkan kepada dunia bahwa mereka adalah negara yang modern, penuh ambisi dan percaya diri. Empat tahun sebelumnya, mereka melahirkan konstitusi demokratik untuk mengakhiri kediktaturan selama masa perang dunia ke dua.

Optimisme dan kebaruan membutuhkan simbol. Ukuran sangat penting mengingat Brazil adalah negara besar dengan pantai lebar, sungai besar, hutan hujan tropis raksasa. Mereka sudah punya patung Yesus paling besar. Namun mereka membutuhkan simbol baru. Untuk itulah mereka membangun stadion terbesar di dunia: Maracana.

Maracana menyembul ke udara, berdiri gagah di antara pemukiman kumuh. Ia mewakili patriotisme baru Brazil. Ia tidak hanya menunjukkan ambisi Brazil, tetapi juga meletakkan Brazil di tengah percaturan dunia. Sepuluh ribu lebih pekerja memburuh siang malam untuk menyelesaikan stadion dalam waktu dua tahun.

Hasil-hasil di babak pendahuluan memberi keyakinan bahwa tidak mungkin Brazil tidak juara. Bahkan, sebelum pertandingan mulai, Walikota Rio de Janairo mendeklarasikan bahwa medali telah dihitung dan Piala Dunia hanya tinggal diserahkan kepada Augusto, kapten Brazil.

Namun, gol Alcides Ghiggia menyadarkan mereka adalah negara yang muda, rentan, dan gampang putus asa.  Kekalahan yang dikenang sebagai tragedi Maracana (Maracanazo) itu luka sejarah Brazil yang tak tersembuhkan.  

Sepakbola memberi mereka sebuah kutukan. Maracanazo adalah aib kolektif sehingga tak ada satupun orang Brazil yang terbebas dari kutukannya. ‘Seperti bom atom Hiroshima,’ kata Rodriguez, ‘setiap orang mengingatnya, setiap hati terluka.’

Namun sepakbola juga memberi penebusan. Lewat kemenangan di Piala Dunia 1958, 1962, dan 1970, Brazil menemukan dirinya kembali. Tak hanya sepakbola menghasilkan pemain-pemain dan tim terbaik, ia juga mendefinisikan Brazil sebagai sebuah bangsa.

Tak ada satupun negara di dunia yang diidentikan dengan satu cabang olahraga kecuali Brazil dengan sepakbola. Begitu pentingnya sepakbola bagi Brazil, ia tak pernah sekadar sebagai olah raga. Sepakbola adalah gambaran dari cara orang Brazil menjalani hidupnya.

Pemain lahir dan melatih ketrampilan di jalanan sempit favela. Mereka berlari kencang ke seluruh penjuru dunia untuk meninggalkan kemiskinan yang mendera. Gocekan ritmik dan trik cerdik mengelabui lawan didapat dari musik samba dan seni bela diri capoeira, keahlian yang harus mereka pelajari dan kuasai untuk bisa berkelit dan bertahan dari hidup yang brutal.

Sepakbola memberi jalan keluar, tetapi juga menjadi pintu masuk bagi sisi hitam kehidupan. Para cartolas menguasai klub dan federasi, memeras tenaga pemain seperti pemilik perkebunan tebu memeras buruhnya. Kompetisi dijalankan seperti bisnis gelap di mana para mafia tengik mendapatkan kekayaan dan kekuasaan. Sepakbola adalah sarana untuk membangun karir sebagai politisi, sarang praktik-praktik korupsi, namun juga medium untuk menampilkan diri sebagai orang suci.

Orang Brazil menyebutnya futebol-arte. Sepakbola sebagai seni. Dunia pun mengenal jogo bonito. Secara metaforis sepakbola cerminan dari seni kehidupan—dengan sisi terang dan sisi gelapnya. Bukan kebetulan jika sejarah sepakbola Brazil berkait berkelindan dengan lika-liku sejarah kolektif mereka sebagai bangsa.  

*****

Sepakbola kontemporer Brazil dipaksa menemukan diri mereka sendiri kembali. Ini setelah mereka mengalami Mineirazo, Hiroshima sepakbola kedua Brazil, yang daya rusaknya tak kalah dibanding Maracanazo.

Seperti tahun 1950, Piala Dunia 2014 adalah wajah Brazil yang percaya diri dan optimis. Kekuasaan Partai Buruh di bawah Lula da Silva meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Gerakan rakyat menguat. Industri menggeliat. Ekspor komoditi meningkat. Bersama Rusia, India, China, dan Afrika Selatan, Brazil menjadi kekuatan baru dunia.

Dillma Rousseff mencapai puncak popularitasnya (dan sedikit protes) menjelang Piala Dunia dan terpilih kembali setelahnya. Gencarnya investasi, tingginya kunjungan wisatawan, meningkatnya transaksi pemain, dan bergairahnya industri sepakbola domestik mengikuti keajaiban ekonomi Brazil.

Optimisme Brazil sebagai negara besar, modern, dan kuat menggema kembali. Tujuh stadion baru dibangun megah, sementara yang lama direnovasi dan diberi warna berani—kuning, hijau, biru—warna-warna yang mewakili bangsa Brazil. Bahkan, mereka percaya diri bahwa dunia akan pergi ke stadion megah di belantara hutan Amazon.

Namun, Piala Dunia kembali menjadi alegori bagi tragedi politik. Kemegahan stadion dan optimisme penyambutannya mengaburkan kerentanan ekonomi yang bersandar pada ekspor komoditi mentah dan upah kerja rendah. Kegagahan stadion-stadion baru seakan-akan menutupi budaya korupsi. Kemakmuran yang digambarkan mengalihkan kesenjangan dan kerentanan.

Kekalahan 1-7 dari Jerman di Estadio Mineiras, Belo Horizonte memberi mereka bom atom sepakbola ke dua. Brazil, sekali lagi, menemukan mereka sebagai bangsa pecundang, rapuh dan rentan. Tim yang konon punya skuad pertahanan terbaik dunia—David Luiz, Thiago Silva, Dani Alves, Marcelo/Felipe Luiz, Julio Cezar (semuanya finalis Liga Champions dan juara di liga domestik Eropa)—luluh lantak.

Banyak pakar meramalkan Mineirazo akan menggoncang sendi-sendi sepakbola Brazil dan akan butuh waktu lama bagi pemain Brazil untuk pulih dari derita. Kegagalan Selecao di Copa America Centenary Amerika menunjukkan kekalahan di Mineiras itu telah menghancurkan sepakbola Brazil. Paling tidak satu piala Dunia atau satu generasi timnas dibutuhkan untuk lepas dari Mineirazo.

Tragedi Mineirazo paralel dengan gempa politik Brazil. Ketika bangsa Brazil murung tak berkesudahan, popularitas rezim Dilma Roussef mulai dipertanyakan. Retorika kekuatan ekonomi baru dunia dibangun di atas praktik-praktik penyalahgunaan kekuasaan. Sebulan setelah Dunga diturunkan dari kursi kepelatihan setelah gagal di Amerika, Dilma dimakzulkan dari kursi kepresidenan.

Namun, seperti gerakan tak terduga Garrincha atau Ronaldinho, Brazil selalu menghadiahi kita kejutan.

Kejutan itu bernama Tite. Tidak seperti prediksi para ahli, Ia hanya butuh 9 bulan untuk membuat sepakbola dan rakyat Brazil seperti terlahir kembali. Delapan kemenangan beruntun di kualifikasi piala dunia yang dicapai dengan permainan menghibur, menyerang dan produktif seperti telah berhasil menghalau hantu Mineirazo.

Di tangan Tite, Brazil seperti tak mengalami trauma besar. Justru, mereka menunjukkan 
bahwa Brazil masih menjadi pemilik futebol-arte. Selecao bermain lepas, mengalir seperti irama samba, dan tidak gentar menghadapi tantangan, bahkan saat menghadapi tim-tim keras dan menekan, seperti Uruguay dan Paraguay. Ia berhasil meracik kedisiplinan pemain belakang, ketenangan gelandang dan kegesitan pemain depan.

Lewat kemenangan 4-1 lawan Uruguay, kita menyaksikan Brazil yang menemukan dirinya kembali. Pemain Brazil menemukan bahwa mereka adalah tim yang menari di atas lapangan. Dan duniapun menemukan imaji tentang Brazil kembali. Brazil yang cantik, riang dan menang.

Metamorfosis Brazil dapat direfleksikan dari transformasi Neymar. Ia seperti keluar dari kepompong yang selama ini membebatnya. Seperti kupu-kupu, ia bermain lepas, tampak dewasa dan mewarnai lapangan. Tak ada umpan yang meluncur sia-sia. Tak ada aksi pura-pura. Ia juga bermain tanpa rasa takut, selalu menciptakan ruang, dan sangat berbahaya.

Tentu saja, masih awal untuk menyimpulkan bahwa Tite telah membantu Brazil menemukan identitas sepak bolanya kembali. Perjalanan masih panjang. Namun, sejauh dia meyakinkan bahwa setiap pemain Brazil bergerak seperti penari samba sambil terus menghasilkan kemenangan, Brazil boleh optimis tak perlu waktu lama menemukan dirinya kembali sebagai bangsa yang melahirkan futebol-arte.

Kini, kaki mereka sudah berada di Rusia. Untuk menemukan kembali diri mereka sepenuhnya dan membantu dunia menemukannya, Tite dan timnya harus membuktikan bahwa, tak seperti tim-tim Brazil sebelumnya yang hebat di babak kaulifikasi tapi gagal bersinar di babak final, Brazil siap menebus duka-nestapa Mineirazo dengan membawa pulang Hexa Campeon!

* Dimuat di Jawa Pos, Selasa 4 Maret 2017, dengan modifikasi seperlunya. 


Sunday, March 26, 2017

SEPAKBOLA TELANJANG BULAT (Bagian 3-Habis)

Oleh  Alex Bellos

Manaus punya sembilan klub profesional. Hanya dua di antaranyayang mampu membayar pemain lebih dari ketentuan upah minimal—keduanya bermain di divisi dua liga nasional. Sisanya? Hidup segan mati tak mau.

Untuk memahami realitas ini, aku mengunjungi America FC.

Klub ini dijalankan dari gudang pupuk yang terletak di teras belakang rumah Amadeu Teixeira. Amadeu, kini di usianya yang lebih 70, adalah pria yang menawan.  Wajahnya pipih, dengan mata biru dan rambut yang di sisir rapi ke belakang. Ketika dia mengucapkan ‘America’, kata itu terdengar ‘Omega’ karena giginya ompong. Dia membawaku ke ‘kantor pusat’ klub. Gudang itu disesaki medali, piala, gambar, dan perlengkapan olahraga. 

Terentang sebuah spanduk menutupi dinding, bertuliskan ‘Amadeu Teixeira: Legenda Sepakbola’. Aku tidak bisa tidak untuk tidak setuju. Pelatih di Brasil dibilang beruntung jika dia bisa bertahan dalam satu musim. Amadeu sudah menjadi pelatih America sejak 1956. Dan masih. Aku berani bertaruh dengan siapapun bahwa dia adalah pelatih sepakbola terlama di dunia.

Piala terbesar di gudang itu tingginya melampaui Amadeu. Ia bertingkat tiga: patung pesepakbola paling atas, di bawahnya berdiri panel yang menyerupai toples kecil, dan di bawah, empat pilar dari logam pejal menopang keseluruhan. Piala ini menandai kejayaan terbesar America: juara kejuaraan negara bagian Amazon tahun 1994. Amadeu memenanginya untuk pertama kali, dan satu-satunya, setelah mencoba selama 38 tahun.

“Daya tahan adalah kunci.” Gumamnya lirih.

Amadeu punya kesabaran yang luar biasa mengingat kesemrawutan sepakbola profesional di Amazon. Orang biasa pasti akan menyerah berpuluh-puluh tahun lalu. “Kami seharusnya juara beberapa kali,” klaim Amadeu. “Di tahun 70-an, kami melawan Nacional di final. Presiden Nacional adalah gubernur Amazona. Dia berdiri di tepi lapangan dan berteriak kepada wasit untuk mengusir pemain kami. Seingatku, dua pemain kami kena kartu merah.”

“Di tahun yang lain, kami bertanding di final melawan Rodoviaria. Kami sedang unggul sebelum lampu tiba-tiba mati dan stadion menjadi gelap gulita. Kata mereka, tak ada satu orang pun yang bisa menyalakannya lagi. Percaya nggak sih kamu? Di pertandingan ulang, kami kalah.”

Lalu dia mencari kertas untuk menggambarkan lapangan yang digunakan sebagai venue Final Kejuaraan tahun 1988 melawan Rio Negro. Jari-jarinya bergerak menyusuri kertas, menjelaskan arah pergerakan bola di final itu. “Salah satu pemain kami menendang bola ke kotak penalti.  Bek lawan melompat, berusaha menanduknya namun meleset. Bola melenting ke arah gawangnya sendiri. Penjaga garis lapangan bergegas lari ke arah wasit dan mengarang-ngarang cerita. Gol dibatalkan. Semua orang tahu wasit itu. Mereka bilang dia berangkat terbang dari Rio. Kami tahu dia makan siang dan duduk minum-minum dengan pemain dan presiden Rio.”

Amadeu masih remaja bau kencur saat membentuk America dengan teman-teman sekolahnya. Waktu itu dia baru berusia 13 tahun. Ini adalah salah satu aspek dari karernya yang, menurut ukuran Brasil, sebenarnya tidak aneh. (Botafogo, klub besar dari Rio, didirikan oleh remaja ingusan 14 tahun.) Amadeu punya pekerjaan sebagai pegawai negeri di kantor pemda namun menghabiskan seluruh sisa hidupnya untuk America. Dia menciptakan akademi pemain muda, bahkan juga mengembangkan olahraga lain seperti bersepeda, bola voli dan bola basket.

Suatu hari di tahun 1960s, dia melihat anak gadis bermain bola di jalanan. Si gadis itu dijuluki Pele dan cara menggiring bola sebagus anak laki-laki. Itu menginspirasiya untuk mengembangkan sebuah ide. Lalu dia mengumpulkan beberapa gadis yang cukup untuk dua kesebelasan. Namun saat mereka berlatih, seorang polisi datang. Berita mengenai inovasinya sampai ke telinga pejabat di ibu kota Brasilia. Menteri Pendidikan mengirimi pesan: perempuan bermain bola dilarang oleh hukum.

Amadeu menunjukkan kepadaku guntingan koran dari tahun 1969. “Di sana di Amazon, ada sepakbola wanita’ begitu judul artikel dari sebuah koran Sao Paulo, ditulis dengan campuran bingung dan rasa takjub. Empat tahun kemudian, jauh dari kontroversial, perempuan mendapat tempat dalam sepakbola Amazona: tampil dengan cawat dan berlomba memperebutkan gelar ratu Tarkam.

Selain menggelar kompetisi profesional, Federasi sepakbola Amazona juga menghelat Copa dos Rios, Turnamen antar Sungai. Ini turnamen semi-amatir tim-tim yang mewakili kota kecamatan. Karena Amazona luasnya tiga kali luas Prancis dan transportasi utamanya adalah kapal, Copa dos Rios barangkali adalah contoh terbaik seberapa jauh orang Brazil bepergian untuk bermain sepakbola. Wasit-wasit dari Manaus sering menghabiskan waktu berminggu-minggu di atas kapal yang melayari anak-anak sungai Amazon untuk datang ke pertandingan.

Kota kecamatan berinvestasi besar-besaran di Copa dos Rios karena turnamen ini adalah satu-satunya cara bagi masyarakat yang terpencar-pencar dan saling tidak mengenal untuk melakukan sosialisasi. “Tidak ada kegiatan sosial lain yang mampu menghubungkan kota-kota selain turnamen sepakbola. Turnamen itu adalah satu satunya even yang mempertemukan orang-orang,” ujar Fernando Seabra, koordinator Asosiasi Kota-Kota Amazona.

Ucapan itu tak sepenuhnya tepat. Tarkam juga melibatkan tim-tim dari pelosok Amazon. Di tahun 2000, sepuluh kota di Amazon menyelenggarakan Tarkam di tingkat kabupaten (tentu lengkap dengan pemilihan ratu kecantikan).Turnamen-turnamen itu menjangkau desa-desa dan kota-kota kecil sejauh 350 km di luar Manaus. Pemenang Tarkam tingkat kabupaten ini akan bersaing untuk mendapat tempat di putaran final Tarkam tingkat negara bagian di Manaus. Jika kita memasukkan seluruh tim dan pemain yang terlibat dalam keseluruhan Tarkam tingkat kabupaten, ini akan membuat ukuran Tarkam besarnya dua kali lipat.  Di tahun 1995, jumlah pemain yang ikut turun lapangan mencapai 30,000.

Sebuah pertandingan berlangsung tak seimbang. Setelah gol ke empat dicetak, seorang suporter tim yang dipermalukan menghambur ke lapangan untuk membuat perhitungan. Fransisco, suporter nekat itu, sedang berusaha mengayunkan pukulan pertamanya ke arah wasit ketika Eurico, lebih cepat dari kilatan cahaya, tiba-tiba saja sudah berada di dekat wasit. Bek tengah itu kekar dan garang mirip tukang pukul. Fransisco tersentak. Dan mengkeret. Namun dia tidak bodoh. Dia berlutut dan menyembah-nyembah wasit agar mengampuninya. Akhirnya, mereka membuat kesepakatan. Fransesco seorang sopir taksi. Dia setuju mengantar wasit pulang ke rumah. Dua puluh tahun kemudian, dia masih menyopiri taksi. Di manapun dan kapanpun mereka berpapasan, Fransesco akan berhenti dan memberi tumpangan gratis. Semua orang tahu dia masih terbayang-bayang wajah Eurico.

Kendati merupakan negara bagian kedua paling kecil dalam tingkat kepadatan penduduk, Amazonas ironisnya punya kota yang paling padat. Separuh penduduk Amazonas tinggal di Manaus. Secara demografi, ini membuat kota ini seperti pulau kecil yang ramai dikelelingi samudra sunyi. Saat menumpang taxi di salah satu kota satelit, sebuah kota yang menjorok menuju hutan tropis, aku terpana oleh pemandangan di luar jendela. Aku tak ubahnya seperti sedang di sebuah kota miskin biasa di bagian Amerika Latin lain. Bagi kebanyakan penduduk, Manaus adalah kota kumuh berair coklat, bukan hijaunya hutan tropis.

Pagi-pagi jam 7, setelah satu jam berkeleliling, taksi membawaku di depan Rumah No 16, Jalan No 8, Blok 13. Gubuk reot di atas lahan sempit itu tempat Paulinho Jorge de Moraes hidup dengan seekor kucing siam. Poster-poster tim sepakbola dari Rio de Janeiro menguning memenuhi dinding gubuk itu. Paulinho adalah satu-satunya orang yang menjadi panitia Tarkam sejak tahun pertama. Ketika aku tiba, dia sudah mengenakan pakaian wasit lengkap dengan peluit dan sepatu hitam. Gelang dan cincin emas berkilauan melingkari jari dan lengannya. Kalung emas dengan bandul jimat juga menguntai di lehernya. Ketika tersenyum, kilau gigi emas keluar dari mulutnya. Dia lebih cocok sebagai seorang pelanggan pub di utara Inggris.

Jiika ada satu orang yang benar-benar mewakili fantasi tentang Tarkam, maka itu adalah Paulinho. Seorang kenalan memberitahuku untuk tak menganggap serius 30 persen apa yang Paulinho katakan. Dia mengklaim dirinya setinggi 160 cm. Itu adalah klaim yang kelewat bersemangat.

Barangkali satu-satunya penilaian yang tidak terlalu berlebihan terkait dengan Paulinho adalah bahwa hidupnya dibentuk oleh Tarkam. Turnamen ini memberinya kepercayaan diri dan popularitas di tiap sudut kota. Tanpanya, kita tak bisa membayangkan yang sebaliknya.

“Karena pada dasarnya sangat kecil, aku selalu ingin menjadi wasit. Mula-mula ibuku melarang pergi karena khawatir aku akan kena pukul. Namun lambat laun dia terbiasa,” ujar Paulinho, yang sekarang berumur 52 tahun, “Untuk menjadi wasit, ukuran bukan hal yang penting. Yang paling utama adalah memahami aturan.”.

Paulinho adalah wasit dengan nyali kuat. Sepanjang 27 tahun memimpin pertandingan, dia mengklaim telah mengusir 5,982 pemain. Dia lebih terlihat sebagai  orang mungil yang melawan orang normal dari pada seorang wasit. “Biasanya, aku mengeluarkan 18-20 kartu merah tiap minggu. Lebih sering aku mengusir orang dari pada tidak.” Setiap orang harus berhati-hati jika ia memimpin pertandingan. Pernah suatu kali, seorang suporter yang marah memanggilnya, “sabun batangan hotel’ karena badanya yang mini dan penampilan yang kemrincing. ‘Aku langsung memberinya kartu merah,” dia menukas.

Aku tanya dia apakah dia pernah mengalami kekerasan. Paulinho bilang dia pernah dikejar-kejar oleh seorang perempuan sambil mengacungkan sapu. Dia juga mendapat delapan jahitan di kepala setelah seorang pemain meninjunya. “Polisi menemukan dan membawanya kepadaku. Mereka memintaku untuk membalas.” Dia melanjutkan, “sekarang dia salah satu teman terbaikku.” Di lain kesempatan, dia mengusir seorang pemain ‘sebesar orang hutan’. Orang-orang mencegah pemain itu masuk kembali ke lapangan dan melakukan balas dendam. Namun sore itu juga mereka berpapasan di kedai tuak dan berjabat tangan. Paulinho bilang: ‘Dia mengajak ke hotel, mentraktir minum-minum dan membayari perempuan untuk bergabung di mejaku. Kenangan-kenangan seperti inilah yang membuat Tarkam menjadi even yang menyenangkan.’

Pakaian warna-warni tak ada yang berukuran cukup kecil untuknya sehingga dia harus mengenakan baju dinas berwarna kuning-hitam itu. Segala sesuatu di rumahnya berukuran mungil; alih-alih lemari es, dia punya minibar. “Aku ingin dikubur dengan mengenakan baju wasit lengkap, kartu kuning di saku kiri dan kartu merah di saku kiri,” katanya sambil menepuk dada.

Aku memberinya tumpangan ketika dia hendak ke kota. Ini adalah minggu pertama Tarkam. Seratus tiga puluh enam pertandingan akan dimainkan di 40 lapangan yang berbeda dari jam 8 pagi sampai matahari terbenam. Paulinho mengarahkan taksi ke beberapa lapangan yang akan digunakan. Pada dasarnya, di manapun ada gawang, di situlah pertandingan dilangsungkan. Manaus mungkin kota yang dikelilingi semak belukar. Namun nyaris semua lapangan berupa garis petak di atas tanah berdebu. Aku bahkan melihat lapangan yang penuh bebatuan, pecahan kaca, dan tumpukan tulang.

Paulinho tidak bertugas hari ini. Di babak grup, pertandingan di atur sendiri oleh tim-tim peserta. Setiap tim harus menyediakan empat orang sebagai panitia: wasit, penjaga garis, dan manajer pertandingan. Mereka kemudian mengatur kesepakatan bagaimana mengatur pertandingan-pertandingan selanjutnya. Tiap tim butuh secara serius menyiapkan panitia demi kepentingan tim mereka sendiri. Tim yang tidak mengirim wasit pertandingan akan terkena hukuman berat.

Aku berhenti sejenak di salah satu lapangan untuk mengamati prosedur pertandingan dari awal hingga akhir. Pertama-tama, panitia pertandingan datang. Wasit mengempit bola, peluit dan kedua kartu. Penjaga garis membawa bendera yang terbuat dari cabikan kain yang ditempel di tongkat kecil. (Sekali waktu, seorang wasit lupa tidak membawa kartu merah dan menggantinya dengan bungkus rokok.) Manajer pertandingan membawa meja seadanya. Dia membawa secarik kertas yang diambil dari kantor Tarkam dan menuliskan laporan pertandingan.

Sebuah mobil angkot berhenti dan pemain-pemain berhamburan ke luar. Aku terkesima dengan prosesi pertandingan. Presiden klub menata kostum tim di sebuah pagar dan membagikan kepada tiap pemain. Dilengkapi dengan kartu pengenal tim, dia lantas memastikan bahwa setiap pemain menandatangani secarik kertas yang dibawa oleh panitia.

Pertandingan mulai tepat waktu. Wasit melakukan tugas dengan baik. Dia tidak memihak dan tidak juga, seperti yang pernah dikatakan orang-orang, menghentikan pertandingan, memberi kesempatan buat dirinya sendiri untuk bernapas. Untuk meningkatkan kualitas, Tarkam juga menyediakan kompetisi paralel bagi tim-tim yang memiliki 16 wasit terbaik. Juara turnamen paralel ini masuk play-off segi tiga dengan 16 klub yang ratu paling cantik dan 16 tim terbaik dari kabupaten. Juara dari kompetisi paralel ini akan memenangkan satu kursi 16 besar Tarkam tingkat negara bagian.

Setelah mondar-mandir dari satu lapangan ke lapangan yang lain, aku menghabiskan waktu sore hari dengan Vila Nova yang memainkan debutnya. Aku tiba di tempat kumpul-kumpul beberapa jam sebelum bertanding. Kami duduk-duduk di bawah rindang pohon zaitun dekat rumah Audemir. Bangkunya terbuat dari papan kasar yang melengkung tiap seseorang menempelkan pantat. Sekitar sepuluh orang bergantian duduk dan berdiri.

Suasana tegang. Mauricio Lima, ipar Audemir dan wakil presiden Vila Nova, mengatakan persiapan timnya agak berantakan. Mereka punya desain untuk kostum baru. Dia baru saja mengambilnya dari percetakan sablon yang dikelola seorang teman. Nama sponsor mereka, Delirium Drinks, tercetak tak keruan. Mereka memutuskan akan mengenakan kostum lama saja. Delirium Drink adalah nama kedai tuak tempat Ademir bekerja. Dukungan sponsor ini dapat dilihat di bawah pohon zaitun: kotak polifom besar berisi dua krat bir.

Tersiar kabab bahwa Erica, ratu klub, gagal masuk seleksi kedua. Audemir frustasi. “Aku sudah bilang, batalkan saja ikut ratu-ratuan,” dia menggerutu. “Itu pengeluaran tambahan. Kita membuang lebih banyak uang untuk kontes kecantikan dari pada mencari pemain. Tim kaya bisa dengan mudah mencari gadis semlohai. Sementara kami sangat tergantung dari kualitas pemain.” Dia mengucapkan kalimat terakhir layaknya Tarkam adalah kompetisi sepakbola yang tidak adil.

Sejam sebelum dimulai, pemain berjalan beberapa kilo meter menuju lapangan. Tetangga ikut bergabung sepanjang perjalanan. Kami menyusuri lorong air dan melintasi kampung kumuh. Mauricio bilang kampung ini dikuasai pengedar obat-obat terlarang. Siapapun dilarang masuk ke kawasan ini di malam hari. Pemukiman ini dibangun di atas lumpur. Rumah-rumah berada di atas selokan kecil yang bisa dilihat dari kolong-kolongnya. Salah satu superter bernyanyi dan menabuhi drum yang digantung di lehernya. Vila Nova adalah satu-satunya klub yang punya kelompok superter homoseksual yang dibentuk oleh Marcos, seorang juru masak lokal. Marcos dan teman-temannya barangkali adalah ratu sejati Tarkam. Mereka membuat rumbai-rumbai hijau yang melambai-lambai sepanjang jalan.

Ketika tiba di tepi lapangan, aku mengenali Ford Maroon Ademir. Dia mengangkat galon air dari bagasi. Dia meletakkannya dipunggung dan membawanya ke dekat garis lapangan. Mauricio dan saudara-saudaranya Ademir mengenakan kostum tim yang berbeda dengan yang dikenakan oleh pemain. Perbedaan itu membedakan mana pemain dan mana staf pelatih. Aku bertanya apakah ada anggota keluarga yang tidak datang. “Hanya ayah. Dia akan berjingkrak-jingkrak kesetanan dan lalu bertengkar dengan wasit.”

Lawan Vila Nova adalah Unidos da Rua Natal, atau Persatuan Sepakbola Natal. Audemir tampak cemas. Sebelum mulai, pemain dan pelatih saling berangkulan di lingkaran tengah. Suara Audemir serak memberi wejangan: “Simbol tim kita adalah elang. Itu berarti nyali, keberanian, kekuatan dan keinginan kuat. Ingat—tidak ada yang memalukan dari pada menyerah. Mereka lalu menyitir sabda tuhan dan mengakhirinya sambil meletakkan tangan di pusat lingkaran dan berteriak ‘Vila Nova’.

Pertandingan mulai. Vila Nova mendominasi namun lawan lebih kuat dari yang diperkirakan. Kedua tim sangat disiplin. Tampaknya tak ada celah lemah yang bisa dimanfaatkan. Seorang pemain Vila Nova terjatuh dan cedera. Dua staf pelatih berlari memberi pertolongan sambil membawa sekantung es batu. Setelah 25 menit babak pertama—aturan yang berlaku untuk babak penyisihan—skor masih kacamata.

Tak terhitung cerita seru dan kelakar tak tentu Aku dengar tentang Tarkam sampai-sampai aku mulai meragukan kebenarannya. Namun, kisah-kisah ajaib itu melintas di pelupuk mata saya. Menjelang sepuluh menit terakhir, suporter homoseksual mulai berteriak-teriak. Seorang pemain Vila Nova datang telambat karena baru pulang kerja. Dia sangat tampan. Selagi dia pemanasan, suporter gay berjumpalitan. Mereka teriak-teriak kegirangan, “ayo ganteng, ayo ganteng!”.

Dia masuk tanpa sepatu. Kepada Audemir ia bilang bahwa dia hanya bisa bermain dengan kaki telanjang. Bergegas, ia lari mengambil posisi di lapangan tengah. Tiap kali bola menghampirinya, fans Vila Nova melompat-lompat dan meracau seperti orang kesurupan. Kehadirannya mengubah keseimbangan. Vila Nova mulai menekan tanpa henti. Mereka mendapat tendangan sudut berkali-kali. Beberapa menit kemudian, si pengganti seksi itu mencetak gol.

Vila Nova menang 1-0. “Hasil yang bagus kawan-kawan,” sambut Audemir sambil menjabat tangan seluruh pemain ketika mereka meninggalkan lapangan. “Untuk pertandingan pertama, kita melakukan pekerjaan bagus.”

Mereka balik jalan kaki menuju pohon Zaitun untuk sebuah ‘perahu besar’, nama yang diberikan untuk pesta pasca-pertandingan yang wajib dilakukan. Suporter gay sukarela bersedia menjadi pelayan. Mereka membukakan botol bir dan memastikan bahwa gelas-gelas tidak kosong. Di malam yang gerah, seluruh kampung larut dalam pesta kemenangan. ‘Sepakbola adalah permulaan,” ujar Mauricio “Selanjutnya terserah anda.”

Si wasit sekilas melihat sebuah tendangan yang membahayakan dan, tanpa sekalipun berkedip, dia meniup peluit. Pelanggaran. Penalti? Itu detil yang tidak penting. Yang pasti, tiupan itu mengundang amarah. Semua pemain berebutan menonjok wasit. Namun Manuel bukan orang yang goblok. Dia sudah bersiap-siap. Dia mengeluarkan pistol dari balik seragam. Dia menodongkan senjata itu dan berbalik mengancam. “Siapa berani maju sekarang!” koarnya. Hidungnya berasap. Para pemain lari lintang pukang, saling bertabrakan dan kebingungan. Dalam kemelut itu tak ada yang memperhatikan detil kecil. Itu sebuah gertakan. Pistol itu pistol mainan seharga 50 ribu di toko anak-anak.

Aku meninggalkan Manaus hari berikutnya namun mengikuti perkembangan Tarkam sekembali ke Rio. Dua minggu sekali, A Critica, harian dari Manaus memuat delapan halaman khusus buat Tarkam. Aku minta toko majalah langganan menyimpannya untukku. (Ini tidak berlebihan karena dari Rio, Manaus lebih jauh dari Argentina, Uruguay, Paraguay, Bolivia, Chile dan Peru). Halaman khusus itu memang berasa testosteron. Separuh bagian untuk sepakbola. Setengahnya berisi gambar-gambar gadis semok mengenakan bikini. 

Selama beberapa bulan, aku mengikuti perkembangan Vila Nova. Mereka lolos dari babak penyisihan tanpa sekalipun terkalahkan. Mereka takluk 1-3 dari Central Park St Antonio di babak gugur ketika hanya tersisa 45 tim. Tarkam tahun ini akhirnya dimenangi oleh 3B Surprishop, tim yang dipunyai oleh pemilik toko retil barang-barang elektronik. Samantha Simoes dari Gloria United memenangi kontes ratu kecantikan yang disiarkan secara langsung oleh televisi. Nona Roberta, gagal maju ke babak kedua.


* Disadur tanpa izin dari Naked Futebol, Bab XI dari "Futebol The Brazilian Way of Life" (Bloomsbury 2014).