Wednesday, July 11, 2018

TIMNAS INGGRIS 2006

Oleh Nick Hornby; Terj. Mahfud Ikhwan

Langsung saja kita kembali ke tahun enampuluhan, ketika aku mulai menonton sepakbola. Inggris baru saja memenangkan Piala Dunia 1966 dan, dengan demikian, tak terbantahkan, merupakan tim terbaik di dunia. Fakta, titik, akhir cerita. Benar bahwa gol kemenangan di final itu seharusnya tak dihitung; pun, benar juga, bahwa tim Brazil dan Pele secara sistematik dibuat kalah di turnamen itu--Pele bolak-balik digotong dengan tandu setelah pelanggaran brutal yang kesekian. Tapi tetap saja, ya kan? Inggris yang terbaik! Mungkin!
Dan kami adalah tim terbaik kedua di Piala Dunia 1970. Jelas, meskipun seseorang harus sedikit lebih kreatif untuk menunjukkan buktinya. Ya, Inggris memang tersingkir di perempatfinal, tapi seharusnya tidak. Mereka unggul 2-0 melawan Jerman hingga pertandingan tersisa 20 menit, dan akhirnya dipaksa kalah 3-2. Brazil adalah tim terbaik di 1970, jauh mengungguli lawan-lawannya. Namun, mereka hanya unggul tipis dari kami di babak grup, 1-0. Dan Jeff Astle membuang peluang menyamakan kedudukan di menit-menit akhir pertandingan. Seharusnya pertandingan berakhir 1-1. Padahal, Brazil menggulung semua lawan. Maka, kesimpulannya: kami jelas-jelas tim terbaik di 1966, dan lumayan terbaik--mari Brazil kita kasih sedikit kredit, agar setera dengan kita--di 1970.
Kemudian, semua jadi serba salah. Sepertinya untuk seterusnya.

Sebagai permulaan, aku jadi lebih dewasa, dan menjadi jauh lebih terganggu soal apa artinya menjadi bagian dari negara, sementara timnas Inggris jeleknya minta ampun. (Aku mungkin tidak terlalu pusing dengan soal nasionalisme dan patriotisme ini jika mereka lumayan bagus.) Tim yang sama bagusnya dengan Brazil itu bahkan tak lolos babak kualifikasi untuk Piala Dunia 1974 dan 1978; para pemain kelas dunia yang dianugerahkan kepada kita di tahun enampuluhan sudah pergi, dan pada tahun delapanpuluhan, soal sepakbola dan patriotisme ini menjadi lebih rumit lagi.

Terlintas jelas di pelupuk mata, di dekade itu, pertandingan-pertandingan timnas Inggris seringkali hanya bisa dinikmati di tengah-tengah kelimun gas airmata, yang biasa dipakai polisi-polisi negara Eropa untuk membubarkan hooligan kita yang ribut. Pendukung timnas Inggris dengan segera berubah menjadi segerombolan penjahat. Dan meskipun pertandingan-pertandingan di tingkat klub juga terjangkiti kerusuhan, itu tak ada apa-apanya. Jika kamu nonton pertandingan timnas di Wembley, sebagaimana yang masih aku lakukan, sekali waktu kamu akan ketemu orang di sampingmu melakukan salut ala Nazi ketika lagu kebangsaan dinyanyikan. Menghina pemain berkulit hitam--bahkan jika pemain itu bermain untuk Inggris--adalah sesuatu yang biasa.

Pada masa itu, Wembley sanggup menampung 92 ribu orang; tampak tidak kebetulan bahwa ada 92 klub profesional di seluruh Inggris. Kadang kala terasa bahwa seribu fan paling busuk dari setiap klub berkumpul bersama di Wembley, menirukan suara monyet dan menyanyikan lagu-lagu anti-IRA. Orang-orang itulah yang berjasa membentuk ketakutan dan kengerian khalayak atas dua bendera kita. Jika kalian melihat seseorang yang berjalan ke arahmu dengan kaos bergambar bendera salip Santo George atau Union Jack, kalian akan disarankan lebih baik menyingkir. Kaos itu kadang-kadang punya gambar dan slogan lain, yang boleh jadi berbunyi: "Aku rasis, tapi aku membencimu apa pun warna kulitmu"; atau, kaos dengan gambar grafiti hasil jepretan fotografer Philadelphia Zoe Strauss yang bertuliskan: "KALAU KAMU BACA INI BERARTI KAMU BANGSAT". Jika mereka tak ngapa-ngapin kamu, maka anjing pit-bull mereka yang akan menggigitmu.

Maka, cukup bisa dimengerti kalau lambat laun sebagian fan semakin hilang rasa dengan timnas Inggris. Pada 1990, ketika Inggris bertanding lawan Kamerun di perempatfinal Piala Dunia Italia, tak sulit menemukan orang Inggris (kelas menengah, biasanya liberal, tapi bisa juga siapa pun) yang ingin Kamerun menang. Aku nonton pertandingan itu dengan sebagian dari mereka. Ketika Inggris ketinggalan 1-2 (meskipun kemudian bisa menang dengan 3-2), orang-orang itu bersorak. Aku bisa mengerti sikap mereka, tapi tentu saja aku tidak bisa bersorak bersama mereka. Itu agak mengejutkanku. Orang-orang mabuk itu, para bajingan rasis yang berselimut bendera Inggris itu... bagiamanapun adalah orang sejenisku, tak seperti (sebagaimana yang sejak awal kupikirkan) teman-teman liberalku yang budiman yang nonton bersamaku. Dan timnas Inggris adalah timnasku. Maksudku, kalian tak bisa memilih, 'kan?

Piala Dunia 1990 memang jadi sebuah titik balik. Tim itu tidak malu-maluin--setidaknya setelah pertandingan pembuka. Terlepas dari tawuran kecil-kecilan yang ganjil, para fan Inggris juga tak malu-maluin amat. Pada akhirnya, Inggris kalah, tipis dan secara gagah berani, dari Jerman, lewat adu penalti, di semifinal. (Inggris, kebetulan, pada enam Piala Dunia terakhir, sudah empat kali dipulangkan kalau tidak oleh Jerman ya oleh Argentina, dua negara yang punya urusan dengan kami di masa lalu. Kalian yang familiar dengan koran-koran tabloid kita yang bawaannya ngajak ribut itu bisa membayangkan bahwa kesialan di Piala Dunia itu tak akan menyumbang apa-apa bagi perdamaian dunia.) Setelah beberapa dekade tidak karu-karuan, tim nasional, dan olahraga nasional ini, sekali lagi bisa berselimutkan kehangatan kasih sayang seluruh bangsa.

***
Kelahiran kembali itu pupus dalam lima menit. Akibat salah tunjuk manager, Inggris kembali gagal lolos kualifikasi. Dan pada 1998, sepakbola sudah menjadi permainan yang berbeda. Prancis memenangi Piala Dunia 1998, namun hanya beberapa gelintir pemain di tim itu yang main di Prancis. Para pemain kunci mereka, Zidane dan Desailly dan Deschamps, bermain di Italia; sisanya main di Spanyol, Inggris, atau Jerman. Sementara itu, para bintang besar di sepakbola Inggris adalah Zola dari Italia, Bergkamp dari Belanda, Schmeichel dari Denmark. Manchester United, klub terbesar di Inggris, memang mendasarkan kekuatan intinya pada para pemain muda Inggris, termasuk di dalamnya David Beckham. Namun, Arsenal, timku, yang dengan nyaman memenangkan Liga, telah mencampur kegigihan ala Inggris dengan kelihaian ala Prancis dan Belanda. Para pemain asing, yang jadi bagian terbesarnya, lebih baik, lebih fit, dan lebih murah, dan mereka juga lebih sedikit minum. (Orang seperti Bergkamp dan Henry jelas-jelas menjadikan tirakat sebagai tebusan bagi karir atletnya, namun sikap macam ini kadang dianggap sebagai sebentuk kecurangan oleh kebanyakan pesepakbola Inggris.) Belum lama terjadi, mayoritas pemain di divisi teratas sepakbola kita datang dari luar Kepulauan Inggris.

Globalisasi dan pasar transfer menusuk sepakbola internasional tepat di ulu hati. Di masa-masa lalu, kita terbiasa menonton pemain terbaik di setiap klub dan berpikir: "alangkah hebatnya jika pemain-pemain terbaik itu main bersama?" Dan jawabannya adalah seperti apa yang kita lihat dalam tim nasional--meskipun itu idealnya, karena kenyataannya, timnas, khususnya timnas Inggris, seringkali kali kurang terlatih dan salah urus. Sekarang, Chelsea, MU, Real Madrid, Juventus, duo Milan, dan Barcelona telah menggantikan timnas sebagai tim sepakbola fantasi. Jika di timnasmu tidak ada pemain dari klub-klub tersebut di atas, itu bukan berarti klub-klub tersebut tidak mau, tapi karena para pemain di timnasmu tidak bagus. Dalam beberapa tahun terakhir, timnas Inggris melorot akibat harus memilih pemain yang belum tentu terpakai di klubnya, dan kenapa pemain itu dipilih sudah sama sekali berubah. Dulu, seorang pemain berkelas timnas sudah pasti jadi pilihan utama di klubnya. Sekarang, tergantung--sebagus apa klubnya, dan sebagus apa timnasnya.

Bagaimanapun, tak diragukan lagi, impor pemain asing membuat pemain Inggris harus mengeluarkan kemampuan terbaiknya, kadang kala dengan ogah-ogahan, agar bisa bersaing. Kita sudah terbiasa dengan permainan itu, dan itu-itu juga ('kita' di sini boleh jadi merujuk kepada semua penduduk negeri ini); kita tidak terlalu mengkhawatirkan tim dari negara lain, sebab kita bertanding lawan mereka hanya sesekali dalam beberapa tahun. Sekarang, para pemain Inggris bermain bersama atau melawan tim terbaik dunia setiap pekan, dan mereka mesti cepat belajar agar bisa tetap ikut bermain, dan tetap mendapat pekerjaan.

Mereka yang tahu bola akan bilang bahwa timnas Inggris diperkuat oleh beberapa pemain terbaik dunia. Wayne Rooney masih remaja ketika Piala Eropa 2004. Namun, ketika ia pincang karena cedera saat pertandingan melawan Portugal, timnas Inggris jadi berantakan. Ia sangat kuat, sangat lihai, dan sebelum mendapat kartu merah, mungkin karena memaki, ia menciptakan salah satu gol terbaik yang pernah kita lihat. (Pada sebuah pertandingan melawan Arsenal, Rooney diperkirakan bilang 'fuck off' kepada wasit 20 kali dalam 60 detik. Karena "pelanggaran dan makian" diganjar kartu kuning, kita bisa menduga bahwa apa yang dikatakan Rooney adalah kata-kata yang betul-betul buruk, yang lebih buruk dari f*** atau c***, yang hanya pemain bola yang tahu dan kita tidak.) Frank Lampard dan John Terry adalah pemain-pemain terpenting di Chelsea, yang bila diukur dengan iklim ekonomi saat ini berarti bisa dianggap sebagai dua pemain terpenting di Eropa--jika tidak begitu, mereka pasti sudah kerja di tambak garam sekarang. Ashley Cole boleh jadi adalah bek kiri terbaik di dunia, itulah kenapa ia tidak mau lagi main di klubku, Arsenal, lebih lama lagi.

Setidaknya, separoh pemain timnas Inggris saat ini sungguh bagus. Maka, ketika mereka kalah di perempatfinal, seperti biasanya, yang muncul adalah kemarahan yang tidak penting alih-alih pasrah.

Menjelang pengujung babak kualifikasi Piala Dunia 2006 yang tak mengesankan, Inggris dipaksa menyerah 1-0 dari Irlandia Utara, yang sebagian besar pemainnya bermain di tim-tim gurem di Inggris Raya. Saat pertandingan, kalian hampir-hampir bisa melihat para pemain bintang Inggris berpikir: "ngapain aku di sini, di tempat sampah ini, bertanding melawan para pecundang?" (Fakta bahwa para pecundang itu memenangkan pertandingan tampaknya tidak terlalu mereka ambil pusing.) Tentu saja sulit menilai sebuah tim nasional hanya dalam 90 menit, jadi tunggu setidaknya sampai putaran final Piala Dunia dan setelahnya. Lalu, beberapa pekan kemudian, setelah kemenangan di menit terakhir di sebuah pertandingan yang tak ada artinya namun menegangkan melawan Argentina, kita semua telah menyimpulkan: Inggris akan jadi juara Piala Dunia.

Gambaran ini sedikit membaik: biasanya, kepercayaan nasional kita membumbung setelah kemenangan tipis dari Irlandia, sebelum kemudian dihancurkan oleh tim yang lebih baik. Sekarang kita punya sekelompok pemain kosmopolitan yang lebih 'ndenger' (atau para primadona yang gemerlapan, tergantung dari pandangan dunia, usia, dan koran apa yang kita baca), yang tak mudah diganggu, kecuali kalau ada kesempatan.

Enambelas tahun lalu, Inggris bertanding imbang melawan Swedia, hasil yang menjamin mereka lolos Piala Dunia 1990. Gambar abadi dari pertandingan itu adalah saat kapten Inggris, Terry Butcher, menyapu bola dengan kepala diperban, dan kaos putih timnasnya yang bersimbah darah yang menetes dari kepalanya yang terluka nyaris sepanjang pertandingan. "Di luar lapangan, aku adalah orang biasa yang lemah-lembut," kata Butcher pada wawancara setahun kemudian. "Namun, begitu aku pakai seragam timnas, aku merasa seperti pakai topi baja dengan sepucuk bayonet yang terhunus. Merdeka atau mati!"

Begitulah orang Inggris lama: bayangan tentang perang, menganggap penting pertandingan 0-0 melawan tim semenjana, pergantian tak terhindarkan bakat dan gaya dengan darah dan luka-luka. Hal itulah yang bikin pening David Beckham, kapten Inggris saat ini, yang bisa mengaku pakai topi baja dan kepala berperban jika dan hanya jika ia terpaksa pakai di sebuah klab malam dengan fashion konyol di Eropa.

Tentu saja itu tidak adil. Di luar wajah dan uangnya, Beckham juga telah bekerja sangat keras untuk menambal apa yang ia kurang sebagai pemain, terutama kecepatannya. Namun, tak diragukan lagi, ia adalah gambaran yang brilian tentang olahragawan Inggris jenis baru: profesional, sadar-media, sesekali marah-marah, dan sangat-sangat kaya.

Maka, lebih dari mencurigakan rasanya ketika para pendukung timnas Inggris yang menonton pertandingan persahabatan melawan Argentina (dilangsungkan di Jenewa, entah apa alasannya) masih menyanyikan lagu "Jangan Menyerah kepada IRA"; mereka masih mencari-cari sosok Terry Butcher dengan bayonetnya dan bukannya David Beckham, orang yang baru-baru ini difoto sedang pakai sarung. Padahal, Inggris macam itu sudah lewat. Kita sudah membom Jerman; dan, setelah 60 tahun, lamat-lamat sudah muncul dugaan bahwa hari-hari itu tak akan terulang lagi dalam waktu dekat; dan dalam pada itu, kita harus menyandarkan diri kepada bocah ganteng kaya yang pakai sarung untuk menendang orang Argentina untuk kita. Kita tak senang dengan itu, tapi mau bagaimana lagi?

***
Pada Piala Dunia 1998, saat paling menegangkan bagiku datang ketika Viera dari Arsenal menyodorkan bola kepada Petit dari Arsenal untuk menciptakan gol ketiga Prancis atas Brazil di final. Aku melonjak-lonjak. (Pagi berikutnya, the Daily Mirror, yang dieditori oleh seorang pemegang tiket musiman Arsenal, menulis kepala judul: ARSENAL JUARA PIALA DUNIA--halaman depan itu aku pigura.) Viera dan Petit adalah bocah-bocahku: aku menghabiskan lebih banyak hari dalam setahun membenci para pemain Inggris demi mereka; jika ada para bangsat dari Manchester United atau Chelsea berhadap-hadapan langsung dengan mereka, bocah-bocah Prancis-ku yang ganteng dan berbakat itu, aku tak ada keberatan kalau bangsat-bangsat itu dibereskan. Itulah saatnya kamu bisa memilih. Allez, les blues.

*diterjemahkan dari "Fan Mail", Nick Hornby, 2013

Tuesday, July 3, 2018

Menonton Belgia vs Inggris, Mengingat Dinamit Denmark


Oleh Mahfud Ikhwan

"Bilang kepada para pemainku untuk mengalah? Itu tidak akan kulakukan. Itu bukan jiwa sepakbola," begitu kata pelatih Sepp Piontek, menjelang pertandingan terakhir grup antara tim yang diasuhnya, Denmark, melawan tim dari negaranya, Jerman Barat, di Grup E Piala Dunia Mexico 1986.
Padahal, skenario menarik sudah menunggu di babak selanjutnya. Jika kalah, Denmark akan menjadi runner-up grup dan akan menghadapi pemimpin klasemen grup F, Maroko, tim Afrika yang tampil mengejutkan, yang mengungguli Inggris, Polandia, dan Portugal di grup mereka. Kalau mereka imbang atau menang, mereka akan memimpin klasemen grup dan menghadapi runner-up Grup D sekaligus lawan yang lebih alot, Spanyol, finalis Piala Eropa 1984, dengan Butragueno-nya.
Itu pilihan mudah, bukan? Lagi pula, apa janggalnya kalah dari Jerman Barat?  
Tapi Piontek dan para pemain Denmark lebih memilih "jiwa sepakbola" dibanding lawan enteng di babak berikutnya. Tim yang beberapa hari sebelumnya merebut hati dunia setelah membantai juara dunia dua kali Uruguay 6-1 itu maju dengan gagah berani dan sepenuh hati. Jerman Barat mereka hantam 2-0. Untuk kemenangan itu, Denmark bahkan mesti kehilangan pemain terpenting mereka, Frank Arnessen, yang terkena kartu merah.
Tiga hari kemudian, tanpa Arnessen, tim yang sama, yang membabat dua juara dunia di babak grup itu, dibantai 5-1 oleh Spanyol. Butragueno mencetak empat gol.
Secara statistik, tim itu tak ada apa-apanya dibanding tim yang mereka kalahkan di babak grup, Jerman Barat, yang kemudian muncul sebagai finalis—dan empat tahun kemudian menjadi juara dunia di Italia '90. Bahkan, jika diukur dari capaiannya, mereka bukan tim Denmark terbaik yang pernah ada. Meski dianggap sebagai paling menarik di Piala Eropa 1984, mereka tak punya tropi sebagaimana tim Denmark (yang telah sama sekali berbeda) di Piala Eropa 1992. Tim ini juga tak melaju sejauh tim Denmark di Piala Dunia 1998. Tapi, merekalah Dinamit Denmark. Ya, Dinamit Denmark yang terkenal itu. Salah satu tim terbaik yang pernah ada dalam sejarah sepakbola.
Lewat buku Danish Dynamite: The Story of Football’s Greatest Cult Team (2014), Rob Smyth dkk. mengantar kisah menggetarkan ini kepada kita dengan indah dan menggebu.
***
Saya memikirkan kalimat Piontek dan tim Dinamit Denmark-nya itu sepanjang menonton pertandingan "penentuan" di Grup G antara Belgia vs Inggris.
Itu adalah pertandingan yang di atas kertas tampak paling menjanjikan untuk menjadi pemungkas babak grup Piala Dunia 2018. Para pengamat, grafis di koran-koran cetak, juga komentator-komentator di layar televisi, membayangkan tentang pertemuan familiar namun sengit pemain-pemain terbaik di Liga Inggris dalam pertandingan ini: dua bek Inggris, Walker dan Stone, akan bertemu sejawat Man City-nya, De Bruyne; sementara Kane akan bermuka-muka dengan dua bek yang jadi rekannya di Spurs, Alderweireld dan Vertonghen. Itulah kenapa, sejak sebelum Piala Dunia mulai, saya menjanjikan kepada Jawa Pos untuk menulis pertandingan itu.
Tapi kening saya dibuat berkerut bahkan sejak daftar pemain terpampang di layar: Ingris mengganti delapan pemainnya dari pertandingan melawan Kostarika, sementara Belgia mengganti sembilan pemainnya dari pertandingan sebelumnya. Sejak pagi saya memang menemukan analisis-analisis akal-akalan, mulai dari media-media Inggris sendiri, macam The Sun, hingga status-status facebook sok tahu sepakbola, bahwa Inggris mesti jadi nomor dua agar ada di jalur yang lebih empuk, dan bisa melaju lebih jauh. Karena itu, saya tak terlalu kaget dengan daftar pemain yang dikeluarkan, baik oleh Southgate maupun oleh Martinez. Tapi mereka tak bisa mencegah pikiran buruk saya—dan siapa saja yang mengerti sepakbola—bekerja.
Tentu saja, tak ada  yang terlanggar di sini. Tak ada satu pun aturan yang mereka tabrak. Mereka menurunkan pemain yang sah. Mereka juga bertanding dengan normal. Kedua tim, misalnya, tak melakukan apa yang dilakukan Jerman (Barat) dan Austria pada Piala Dunia 1982, dengan hanya saling mengoper bola sepanjang nyaris 80 menit, setelah keduanya sama-sama memastikan diri lolos, dan sama-sama memastikan Aljazair tersingkir. Baik Inggris maupun Belgia saling menyerang, terlihat ingin memenangi pertandingan.  
Di sisi lain, sebagai penggemar sepakbola, ada banyak hal yang menyenangkan dari diturunkannya "tim berbeda" di pertandingan ini. Saya suka Mousa Dembele sejak di Fulham. Dengan diistirahatkannya Hazard dan De Bruyne, Dembele yang biasa turun agak telat, menjadi bos sepanjang pertandingan. Dan itu menyenangkan. Pertandingan ini juga menyadarkan kita, sepotong berlian terlupakan bernama Adnan Januzaj, yang terbuang dari Old Trafford, terlunta-lunta bersama Sunderland, dan kini mencoba menemukan kembali dirinya bersama Sociedad di Spanyol, ternyata tak pernah kehilangan gilapnya.  
Di sisi Inggris, menyaksikan penyerang tipe jadul macam Jamie Vardy yang makin langka itu tak kalah menyenangkannya. Untuk penggemar MU, apa kalian tak girang melihat Phil Jones nongol di Rusia? Dan, hei, jika kalian pencinta Inggris dan pengkritik keras Jose Mourinho karena alerginya dengan pemain muda, ini kesempatan yang mewah menyaksikan pemain-pemain muda berbakat macam Rashford dan Alexander-Arnold jadi elemen penting tim.
Jadi, sekali lagi tak ada yang salah. Semua terlihat tak ada masalah. Selain, tentu saja, semua orang tahu bahwa pemain-pemain terbaik dari kedua tim sedang duduk-duduk selonjoran di bangku cadangan.
Lalu kenapa suara "huuu..." menggema sepanjang pertandingan? Boleh jadi karena penggemar Inggris dan Belgia bosan. Tak seperti pendukung Argentina atau Jerman yang mesti empot-empotan sampai menit terakhir pertandingan ketiga, saya kira mereka sudah merasa lolos ke babak 16 besar bahkan ketika undian grup baru diumumkan, beberapa bulan lalu.
***
Jika tulisan ini terbaca nada moralisnya, mohon maaf. Percayalah, itu bias. Itu lebih karena saya bukan pendukung Inggris atau Belgia. Jika tim saya yang menghadapi pilihan seperti yang dihadapi Inggris, saya kira saya akan dengan gembira mendukung langkah mereka.
Bagaimana pun, Inggris telah memilih (meskipun mereka berhasil membuatnya tampak sebagai bukan pilihan), dan dengan demikian mendapatkan imbalan yang telah dibayangkannya: terhindar dari kemungkinan ketemu Brazil di babak 8 besar. Cuma, tampaknya mereka sedikit lupa memikirkan Kolumbia. Atau, yang mereka ingat tentang Kolumbia sepenuhnya adalah tentang Falcao yang gagal total di MU dan Chelsea? Entahlah. Semoga mereka beruntung.
Lalu, bagaimana dengan kalimat Piontek, Dinamit Denmark, dan “jiwa sepakbola”-nya? Saya kira Southgate dan para pendukung Inggris tak perlu terlalu menghiraukannya. Itu sudah lama berlalu—32 tahun lalu. Lagi pula, apa yang bisa ditiru dari tim yang tak memperoleh apa-apa?


*Dimuat di Jawa Pos, 30 Juni 2018

Monday, July 2, 2018

Brazil yang Melawan Dirinya Sendiri

Oleh Darmanto Simaepa


Tite, pelatih Brazil, lebih suka bicara tentang perasaan atau emosi dari pada membahas taktik atau mengomentari kekuatan lawan. Ia menyebut-nyebut rasa cemas, gugup, dan tekanan. Sangat mudah untuk menerka ke mana arah omongannya.

Brazil punya luka besar yang masih segar. Empat tahun lalu, Brazil mengalami Mineirazo (tragedi Mineiro). Kekalahan 7-1 itu meruntuhkan kepercayaan dan harga diri sepakbola Brazil.
‘Namun, Brazil sudah bisa berdamai dengan dirinya sendiri’, begitu kata Tite sebelum berlaga. Di tangannya, Brazil sepertinya sudah mengatasi kenangan pilu itu. Sepanjang kualifikasi dan ujicoba, mereka tak terkalahkan, bermain dengan penuh gaya dan kepala tegak.

Mereka datang ke Russia dengan percaya diri. Mineirazo seakan-akan sudah lama berlalu. Pemain-pemain yang jiwanya remuk oleh kekalahan itu bangkit dari puing-puing. Ratusan juta warga Brazil yang hatinya masih basah oleh kekecewaan kembali optimis akan peluang timnya.

Di antara tim unggulan, Brazil paling sedap dipandang. Mereka begitu menikmati permainan mereka sendiri. Sentuhan Neymar, imajinasi Coutinho, letupan langkah kecil Marcelo, dan kemampuan Casemiro mendeteksi bahaya seperti menghadirkan kembali tarian samba. Mereka bermain dengan riang tapi tetap tenang, dengan kaki yang lincah dan hati yang membuncah.  

Lalu gol Zuber. Dan tiba-tiba kita menemukan Brazil yang lain. Brazil yang rapuh dan rentan. Mereka seperti sekumpulan bocah-bocah pintar yang gugup dan cemas ketika lawan cerdas-cermat mereka lebih cepat menekan tombol jawaban. Kecerdasan sepakbola mereka seperti menguap ke udara.

Selama lebih dari 15 menit setelahnya, Brazil kehilangan kontrol, tempo dan keanggunannya. Mereka tersesat di lapangan. Bayang-bayang Mineirazo terasa sekali di depan televisi ketika kita mendapati Willian atau Paulinho mengumpan dan berlari seperti pemain Arab Saudi.

Dorongan Zuber ke Miranda barangkali hanya satu momen biasa yang mudah diabaikan. Dan tidak begitu menentukan. Jauh dibandingkan, misalnya dengan sikutan Diego Costa ke tengkuk Pepe. Namun momen itu cukup menelanjangi sisi lain Brazil. Itu adalah Brazil yang kelu dan kedinginan, yang mengigigil ketika bertemu dengan tragedi dan masa lalunya.

Reaksi pasca pertandingan menjelaskan semua. Tite mengumpat wasit dan menunjuk satu momen itu sebagai satu-satunya penyebab mereka gagal menang. Kemarahan Tite, dan juga 200 juta lebih warga Brazil, terhadap wasit ibarat mikroskop yang menunjukkan kanker yang bersemayam di balik kulit mereka. Empat tahun kemo terapi dan dokter yang bagus mungkin telah menghilangkan kanker yang mereka derita. Tapi itu belum menghilangkan rasa takut dan kecemasan tentang kemungkinan kanker itu kembali.

Menonton pertandingan pertama Brazil di Russia ini, terutama selepas Swiss menyamakan kedudukan, melihat bagaimana mereka sedang bertarung dengan dirinya sendiri. Dan ini bukan yang 
pertama kali.

Brazil adalah negara yang menghayati sepakbola dengan sepenuh hati dan segenap emosi. Karena itu, kisah sepakbola mereka sangat ekstrim. Mereka punya sejarah kebahagiaan yang paling hebat sekaligus tragedi paling memilukan. Mereka punya senyuman yang paling ceria tapi sekaligus derai air mata yang tak pernah berhenti mengalir.  

Bermain dengan riang dan penuh keingintahuan, Brazil memberi kita lebih dari sekadar sepakbola. Mereka menciptakan  jogo bonito. Dengan keberanian dan imajinasi, Brazil memberi kita kisah petualangan mengasyikkan di atas lapangan yang dibawakan oleh Garrincha, Jairzinho atau Ronaldinho.

Namun dari sana kita juga belajar bahwa sepakbola bisa tidak mengenal rasa belas kasihan. Moacir Barbosa, kiper kulit hitam yang tidak membuat kesalahan, dihukum seumur hidup oleh sebuah bangsa dengan cara yang tak terperikan. Dianggap sebagi kutukan dan sial yang menggagalkan Brazil juara dunia, kiper terbaik di masanya diasingkan bukan hanya oleh publik sepakbola dan media tetapi juga teman-teman dekat dan anak istri.

Kejayaan Brazil adalah siklus melampaui kegagalan. Habis Maracanazo, mereka berjaya di Swedia. Gagal di Inggris, nomor satu di Mexico. Porak-poranda di Italia, tersenyum di Amerika. Terpuruk di Prancis, juara di Jepang.  

Seperti yang sudah-sudah, pertempuran paling besar yang Brazil hadapi di Piala Dunia kali ini adalah pertempuran melawan bayang-bayang masa lalunya sendiri. Secara teknik, tim ini paling berbakat. Skuad mereka sangat dalam dan merata. Secara fisik, mereka tampak jauh lebih bugar. Secara taktik, mereka juga sangat matang.

Di lima belas menit terakhir melawan Swiss, ketika sudah bisa mengatasi rasa takut dan kecemasan, Brazil menjadi kandidat kuat pemenang Piala Dunia. Permainan mereka menjadi stabil tanpa kehilangan urgensi. Kreatifitas mereka juga keluar tanpa kehilangan kewarasan.

Kali ini, Brazil akan sanggup melewati ketakutan. Lawan-lawan yang sedikit ringan di fase grup akan membantu mereka menemukan kepercayaan dirinya. Kemenangan atas Costa Rica dan Serbia mustilah pelan-pelan menyingkirkan trauma.

Sekali Brazil mampu mengatasi rasa takut, menyembuhkan luka-luka yang masih segar itu dan berdamai dengan dirinya sendiri, pendukung Argentina dan penggemar Lionel Messi seperti saya ini harus siap-siap untuk menghadapi trauma sepakbola yang tak tersembuhkan.


*Dimuat di Jawa Pos, 22 Juni 2018


Saturday, June 30, 2018

Hidangan Prancis dan Anggur Yang Masih Muda

Oleh Darmanto Simaepa


Melihat materi les blues, kita seperti memasuki dapur restoran Prancis. Bahan-bahan dasar makannya segar dan berkualitas. Hampir semua bahan itu hasil kebun pembibitan Clairefountain yang terkenal menghasilkan pemain bola pilih-tanding karena hawanya sejuk dengan tukang-tukang rawat yang hebat.

Kultivarnya dari mana? Jangan ditanya. Prancis dibekali bibit unggulan dari seluruh penjuru dunia. Pogba dari Guyana. Mbappe hasil persilangan Kamerun dan Aljazair. Griezman punya darah Jerman dan Portugal. Lorris asli Mediterannia. Alphonse Areola adalah orang Filipina. Pokoknya, hampir semua pemain Prancis adalah hasil serbuk-silang alamiah gen-gen terbaik dari segala bangsa.

Mereka juga punya koki sarat pengalaman. Didier Deschamp belajar dan magang langsung dari master chef kelas dunia. Tak main-main, bos-bosnya adalah pemenang trofi Jules Rimet dan Liga Champions. Di Marseille, dia diasuh oleh Franz Beckenbauer. Di Juventus, ia belajar dari Marcelo Lippi. Di timnas, ia adalah kaptennya Aime Jacquet.

Sebagai koki utama, prestasi Deschamp juga tidak semenjana. Ia sukses memenangi kompetisi Bintang Michelin beberapa kali bersama Monaco dan Marseille.

Dengan bahan dasar beragam dan berkualitas, chef yang mumpuni, dan tradisi sepakbola yang panjang, Prancis punya segalanya untuk menghadirkan hidangan klasik haute cuisine, mewah sekaligus nikmat. Namun, yang hadir di atas meja justru masakan yang tidak menggugah selera. Kenapa?

***

Masakan Prancis umumnya sederhana. Kualitasnya ditentukan bahan-bahannya. Mereka membenci bumbu yang berlebihan atau saus instan. Teman kuliah Prancis saya selalu terpana dengan orang Inggris yang senantiasa menuangkan ketchup di atas fish-and-chips-nya. Ia juga tak habis mengerti mengapa orang Indonesia selalu mencari sambal botolan ketika makan di restoran.  

Orang Prancis berpendapat, masakan yang enak dimasak dengan bumbu dan saus sederhana, yang mengeluarkan dan menguatkan rasa bahan utama. Mereka sulit menerima ikan segar di atas bara diolesi mentega dan rempah ulekan. “Bumbu berlebihan akan menghilangkan sensasi, tekstur, dan keunikan rasa bahan dasar,” begitu teman itu menjelaskan.

Oleh karena itu, hidangan khas Prancis terkadang disajikan setengah matang dengan percikan saus seadanya. Kita diajak berpetualang, menikmati keaslian dan kesegaran cita rasa bahan-bahan pokoknya. Tak ada kecap, sambel, atau cuka. Paling banter ya garam dan lada.

Racikan Deschamp mengikuti pakem klasik french cuisine ini. Ia tidak memperumit komposisi masakan. Atau menambahkan bumbu berlebihan. Menunya baku dan standar 4-3-3 yang ketika gagal, berubah menjadi 4-2-3-1.

Di belakang, kita bisa merasakan simpelnya selera Deschamp. Bek-beknya tidak terlalu bernafsu menyerang dan terobsesi dengan penguasaan bola. Ia bahkan dianggap konservatif dengan memasang Benjamin Pavard yang cenderung bertahan.

Di tengah, komposisi Prancis polanya sederhana. Kante berfungsi sebagai perebut bola, Pogba mendistribusikannya. Sementara Tolisso atau Matuidi bermain sebagai positional player yang menjaga rasa permainan tetap seimbang.

Di depan, Deschamp membiarkan kualitas bahan yang bicara. Mbappe, Griezmann dan Dembele dibebaskan masuk ke mulut lawan mengikuti insting alamiah mereka. Jika terlalu tawar, kekuatan Giroud masuk untuk memberi tekanan pada lambung lawan.

Deschamp juga mengikuti ritme dans struktur gastronomi Prancis. Permainan pendek dari Lorris ke Umtiti atau ke Lucas Hernandes seperti hidangan pembuka (entrĂ©e). Umpan-umpan kecil di belakang itu seperti sup atau foi grass. Ringan dan menaikkan selera.

Lalu kombinasi vitalitas Kante dan kreatifitas Pogba adalah plat principal atawa hidangan utama. Umpan melebar ke sayap, permutasi posisi dan kombinasi imajinasi Pogba-Griezmann-Tolisso seperti bouillabaisse (ikan kuah) atau pot-au-feu (sup daging sapi). Hangat, kaya rasa dan benar-benar memanjakan selera.  

Di depan, sentuhan akhir Mbappe atau Giroud adalah fromage (keju dan hidangan penutup). Sederhana, gurih-manis, dan menyempurnakan sajian. Sesekali, muncul kecemerlangan Dembele. Seperti salad yang diperciki vinnegar. Segar dan mengembalikan kesegaran organ dalam.

Meski Deschamp meracik hidangan mengikuti tradisi kuliner klasik, tetapi kenapa hidangan Prancis terasa hambar di mata?

***

Aha, yang kurang dari racikan Deschamp pastilah anggurnya. Hidangan Prancis tak banyak pakai garam. Anggur bukan bahan dasar atau saus utama dalam komposisi french cuisine. Namun ia sangat penting. Tanpanya, masakan Prancis tidak terasa hidangan Prancis. Ia ibarat garam dalam hidangan Indonesia. Semua masakan enak hasil sentuhan koki yang paling hebat akan mendapat cibiran bila komposisi dan takaran anggurnya kurang atau berlebihan.

Sebagai pelengkap, anggur membuat seluruh bahan dan bumbu menyatu dengan sempurna. Sebagai minuman, anggur adalah bagian integral dari struktur dan kultur kuliner Prancis. Minuman itu dicicip sebelum makan, diteguk pelan-pelan di sela-sela suapan, dan diminum usai perjamuan.

Nah, anggur terbaik adalah anggur yang berumur. Ia butuh waktu dan fermentasi yang sempurna. Sementara, anggur Prancis di Russia ini masih sangat muda. Miskin pengalaman.

Pengalaman adalah anggur tua yang membuat bakat alam Prancis keluar aromanya dan membuat racikan taktik berjalan mulus. Ia bisa membuat aliran bola dicecap oleh panca indra dengan lezat dan mengalirkan perasaan nikmat. Seperti anggur tua, pengalaman memang tidak menentukan kemenangan. Tapi tanpa pengalaman, sebuah tim akan sulit bermain secara konsisten dan anak-anak muda mudah keder menghadapi tekanan.

Anggur yang masih muda membuat bahan-bahan terbaik dan saus lezat Prancis belum bercampur dengan sempurna. Ini membuat hidangan yang dimasak Deschamp, meminjam ungkapan orang-orang tua kita, terasa hambar dan tidak terasa asam-garamnya.


*Dimuat di Jawa Pos, 26 Juni 2018 

Thursday, June 28, 2018

Messi dan Mitos Itu

Oleh Mahfud Ikhwan

Membaca ulang buku Jonathan Wilson tentang sejarah sepakbola Argentina, Angels With Dirty Faces (2016), saya selalu kembali ke kesimpulan yang sama: ia mengada-ada. Tentang para malaikat buruk rupa pujaan orang Argentina, para pahlawan tak sempurna mereka, termasuk pahlawan-pahlawan bolanya, itu pasti dibuat-buat. Orang-orang Argentina itu hanya terlalu fanatik dengan judul film Hollywood lama. Dan Wilson menelannya begitu saja.
Saya pikir, mitos itu pasti dibikin untuk membuat bocah cebol, berkepala galon, dan badung macam Maradona pas dengan imajinasi orang Argentina. Karakter separoh Indian, miskin, tumbuh dan besar dari villa miseria, dan punya keculasan jalanan itu muncul setelah Maradona, kemudian dijadikan teori, dan dipercayai sendiri oleh mereka.
Sebagai pendukung Argentina sejak mengenal sepakbola, saya enggan menerima mitos itu. Mungkin karena saya bukan orang Argentina, berjarak dengan sejarah dan kehidupan mereka. Tapi terutama karena itu tak penting. Saya tak begitu peduli sang penolong itu seperti apa wujudnya. Entah malaikat atau iblis, atau bahkan Tuhan, yang penting mereka mesti memenangkan sesuatu—jangan cuma “medali level Porseni,” seperti diejekkan teman saya yang pendukung Jerman.
Jika orang seperti Tevez, atau Ortega, atau Requelme, yang sangat memenuhi syarat sebagai Malaikat Buruk Rupa, tak memberikan apa-apa, lalu buat apa? Sebaliknya, jika orang itu macam Thomas Muller, yang wajah, perawakannya, dan potongan rambutnya seperti tetangga sebelah rumah, namun memberi piala, ya sudah, tak masalah. Atau, kalau memang ada jelmaan baru yang mengingatkan kita dengan Di Stefano, Kempes atau Caniggia, ayo segera berikan kesempatan. Persetan dengan mitos itu. Persetan dengan Jonathan Wilson.
Sayangnya, kelihatannya, Messi sendiri mempercayainya.
***
Ketika muncul pertama kali di tepi lapangan Camp Nou pada pertengahan Oktober 2004, ia begitu manis. Belum genap delapan belas, dengan tubuh kecil rampingnya, dengan rambut sepundak berombak, ia seperti anak anjing lincah menggemaskan. Semua orang ingin pegang. Dan gadis-gadis belia datang ke stadion dengan kertas karton bertulis tangan: "Messi, Marry Me".
Lalu gelar-gelar bersama Barca itu berdatangan. 32 jumlahnya. Dan jagad raya pun dipersuntingnya. Seiring dengan itu, juara Piala Dunia U-20 dan emas Olimpiade didapatnya. Dilengkapi dua gol dengan tangan dan gocekan dari tengah lapangan yang diciptakannya ke gawang Espanol dan Getafe di pertengahan 2007, semua orang berpikir Maradona baru telah lahir. Tak seperti Maradona-Maradona baru sebelumnya, macam Ortega, Ibagaza, Aimar, Saviola, D'Alessandro, hingga Tevez yang masih berupa nujuman, kepada Messi orang-orang benar percaya.
Meski keduanya sangat berbeda, Maradona sendiri mempercayai Messi memanglah pewarisnya. Secara verbal ia mengatakanya, tapi yang paling jelas bisa kita lihat dari caranya memperlakukan Messi ketika jadi pelatih Argentina. Di Piala Dunia 2010 Afrika Selatan, Maradona ingin Messi seperti dirinya, bermain sepertiya, bermain di posisinya. Namun percobaan—juga harapan—itu hancur, sehancur-hancurnya; di kaki musuh yang salah: Jerman.
Para pendukung Argentina macam saya mulai menyadari bahwa harapan yang terlalu besar itu pasti tak adil untuk Messi. Tapi apa yang ditunjukkan oleh Messi (bersama Barcelona) setelah kegagalan di Afrika Selatan justru mencegah orang untuk berhenti berharap kepadanya. Bagaimana Anda tak berharap kepada seseorang yang setiap tahunnya jadi pemain terbaik dunia?
Dan Messi bukannya tak peduli dengan harapan itu. "Aku mau menukar rekor apa pun yang kupuya untuk membuat orang Argentina bahagia," katanya. Karena itu, ia sangat mengupayakannya. Dan itulah yang bisa kita saksikan ketika ia membawa Argentina—nyaris sendirian—di tiga final secara beruntun, dalam tiga tahun.
Sayangnya, itu hanya tiga final. Dan final selalu berjarak jutaan tahun cahaya dengan juara.  
***
Seperti bisa kita saksikan dalam pertandingan melawan Islandia, kadang Messi tampak mencoba terlalu keras. Saya menyangka, ia bahkan mengupayakannya di luar lapangan. Dan karena itulah, saya pikir, ia percaya dengan mitos soal Malaikat Buruk Rupa itu.
Ia tahu, ia jauh dari sosok itu. Ia tak tumbuh dan mulai dicintai dari lapangan-lapangan penuh konfeti dengan pendukung-pendukung gila di Liga Argentina, seperti Ferreyra, Corbatta, Bochini, Maradona, atau bahkan Tevez. Ia “lahir” di salah satu kedaton sepakbola paling megah bernama Camp Nou, tempat yang justru dikenang dengan pahit oleh Maradona. Ia memang boncel, tapi jelas tidak dari keluarga miskin. Moyangnya di Italia dan Katalonia masih terlalu mudah dilacak, sehingga tak mungkin baginya mengklaim sebagai setengah Indian. Yang paling berbeda, tak seperti para pendahulunya, Messi jauh dari kehidupan keras jalanan. Dari seorang remaja imut, dengan mulus ia mengubah diri jadi bapak bijak sayang anak.
Lalu kita mendapati tato-tato itu. Kemudian, brewokan di wajahnya. Ya, tentu saja kita tahu bahwa tato-tato itu untuk anaknya, sementara brewokan itu mungkin ditujukan agar ia lebih tampak kebapakan. Tapi, tak bisa diabaikan, terpikir juga kemungkinan bahwa dengan tato dan brewokan itu, Messi sengaja ingin terlihat lebih garang. Ia ingin sedikit agak “buruk rupa”. Ia ingin menjadi kapten Argentina yang lebih sempurna, sebagaimana Passarella dan Maradona.
Sayangnya, tato-tato dan brewokan itu tak membantu banyak kekaptenannya. Jauh berbeda dengan kapten-kapten macam Passarella dan Maradona yang petarung, Messi nglokro setelah gagal secara beruntun di final ketiganya di Amerika. Ia menyatakan pensiun dari timnas.
Itu bukan saja keputusan yang buruk; alih-alih keputusan seorang kapten yang gagal, itu lebih dekat dengan keputusan seorang bintang yang tak tak sanggup membuktikan diri. Namun yang lebih buruk lagi, hanya dalam hitungan hari, ia menyatakan kembali.
Sebagai pendukung Argentina, saya sebenarnya telah bersiap untuk bergabung dengan para pendukung Belanda dan Italia, menjadi penonton Piala Dunia tanpa tim gacoan. Tapi hattrik Messi di Quito mengantar Argentina ke Russia. Dan itu, tak lain dan tak bukan, berarti penderitaan akan jadi lebih panjang.
Karena itu, saya bukan termasuk orang yang kaget dengan ketakberdayaan Messi di depan gawang Hannes Halldorson. Dan saya tak akan terkejut jika Argentina pulang sangat awal, seperti di Jepang-Korea 2002.


*dimuat di Jawa Pos, 18 Juni 2018