Friday, December 9, 2016

Kembali (Mencoba) Berharap

Oleh Mahfud Ikhwan


Raut haru itu—apakah Anda menyaksikannya? Alfred Riedl, orang Austria itu, kakek berwajah dingin itu, seperti menahan isaknya di ruang jumpa pers usai mengantar Indonesia lolos ke semifinal AFF 2016. Wajah bulenya memerah, kalimat-kalimatnya (tentu masih tetap dalam bahasa Inggris beraksen Jerman) nyaris terbata. Ia memuji timnya yang masih sangat muda, tak berpengalaman, dan penuh kecingkrangan akibat berbagai batasan dan keterbatasan. Berkali-kali kata “manis” keluar dari bibirnya, tapi matanya menatap kamera dengan berkaca-kaca.

Riedl pernah diberitakan menangis. Itu saat ia bertemu dengan pendonor ginjalnya—seorang warga Vietnam. Tapi menangis untuk timnas Indonesia? Itu… itu membuat saya, seorang warga Indonesia, pendukung timnas bahkan sebelum benar-benar mengerti sepakbola, sangat tidak nyaman. Itu menggelisahkan.

Beberapa jam sebelumnya, dengan wajah berbinar, bapak saya langsung nyerocos soal betapa indahnya gol penyama milik Andik begitu saya pulang dari warung kopi. (Ia belum tahu saya tak menonton pertandingan itu, bahkan sama sekali tidak ingat.) Itu binar yang sama saat ia bercerita bagaimana Ronny Pasla, dengan tangan-tanganya yang panjang, menyelamatkan gawang Indonesia, saat saya masih bocah. Itu semangat yang sama ketika ia menggambarkan gol sundulan Syamsul Arifin si Kepala Emas kepada anaknya yang masih TK, di sela siaran pandangan mata pertandingan-pertandingan Persebaya dari radio.

“Menang, Pak?” saya bertanya dengan sedikit rasa bersalah. “Menang 2-1, dan lolos!” jawabnya semringah.

Sehari setelahnya, dalam sebuah obrolan ringan soal agama, seorang kerabat yang sehari-harinya dikenal sebagai imam masjid yang saleh, jenis orang yang tak mungkin saya sangka punya antusiasme dengan sepakbola, tiba-tiba dengan menggebu memuji permainan timnas saat mengalahkan Singapura. “Luar biasa. Yang mencetak gol kedua itu... siapa namanya?” Diam sebentar, seakan berpikir tapi sebenarnya agak malu, saya menjawab: “Stefano Lilipaly.”

***

Lilipaly, seperti halnya Riedl, tak pernah terlihat memberikan wawancara dalam bahasa Indonesia, dan tampaknya tak cukup berusaha. Ia, sebagaimana juga nyaris seluruh pemain yang dipanggil Riedl, dan Riedl sendiri, adalah hal-hal yang membuat saya tak berharap di AFF tahun ini. Sebagaimana AFF di beberapa edisi terakhir.

Ya, mohon maaf, saya memang sedang tak punya harapan dengan timnas, sebagaimana dengan sepakbola Indonesia. Mengingat apa yang terjadi di tahun-tahun belakangan ini, dan apa yang masih terjadi saat ini, bagi saya, memiliki harapan untuk sepakbola kita terdengar imoral. Lagi pula, setelah berkali-kali dibuat hilang harapan dengan cara yang sangat buruk, dan sebagian besarnya sama sekali tak ada hubungannya dengan sepakbola, pendukung biasa seperti saya merasa layak untuk tidak berharap.

Lenyapnya timnas dari peredaran dan menghilangnya sepakbola lokal dari televisi kita adalah bencana. Namun bikin kompetisi yang artifisial jelas bukan usaha rekonstruksi yang dibenarkan. Mendongkel oligarki partai dari PSSI itu penting, tapi mengundang kembali serdadu ke sepakbola adalah langkah mundur. Keluar dari mulut harimau masuk mulut buaya, itu kata teman saya Darmanto Simaepa tentang sepakbola Indonesia. Belakangan, kita tak berdaya melihat sepakbola kita jadi rebutan para lipan dan lengkibang.

Riedl berangkat ke Manila dengan skuad sangat terbatas akibat hanya bisa bawa dua pemain dari setiap klub. “Biar timnas dan kompetisi sama-sama bisa tetap jalan,” begitu kata yang sok bijak. Tunggu..., sejak kapan timnas dan kompetisi bisa “sama-sama tetap jalan”? Jelas ada yang tak beres jika jadwal bertanding timnas Indonesia bersamaan jamnya dengan laga big match liga. Mendapati lini tengah Indonesia diobrak-abrik Filipina (bangsa yang lebih suka main bola dengan tangan), sementara pada saat yang sama di tv sebelah misalnya kita menyaksikan Slamet Nurcahyo sedang bagus-bagusnya bersama Madura United, apa kepala tidak pening?

Jelas, itu bukan win-win solution timnas dan klub. Jika bukan kompromi dua kelompok oligarki yang masih terus saling berebut sepakbola Indonesia, itu pasti kesepakatan dua televisi untuk tak saling mengganggu acara unggulan masing-masing.

Untuk kondisi macam itulah saya lebih memilih untuk tak berharap. Dan dengan tak berharaplah saya menonton Indonesia dilantakkan Thailand dan kemudian didominasi Filipina. Karena tak berharap, saya merasa lebih baik. Karena tak berharap pula, saya lupa jadwal pertandingan menentukan Indonesia vs Singapura, dan saya tak apa-apa.

Sampai kemudian saya melihat haru di wajah Riedl.

***

Akhir pekan lalu, di semifinal leg pertama, Indonesia 2-1 atas Vietnam. Indonesia bermain bagus setidaknya di paroh pertama babak kedua. Lewat akselerasinya yang menghasilkan penalti, tapi terutama karena peran pentingnya di sepanjang pertandingan, Lilipaly menjelaskan kepada kita kenapa ia jadi satu-satunya pemain naturalisasi yang dipanggil Riedl. Andik ngos-ngosan selewat menit 70-an, tapi kompetisi yang teratur di Malaysia membuatnya terlihat lebih bijak dalam berlari dan pegang bola, dan karena itu ia jauh lebih berbahaya. Tapi hal terbaik adalah melihat para pemain Indonesia tetap tenang usai menerima beberapa keputusan tak menyenangkan dari wasit.

Tapi saya tahu, bukan hal-hal itu yang membuat harapan itu menyelusup kembali, mendesak-desak lagi. Kita toh pernah mengalami yang lebih: AFF 2010, Sea Games 2011, dan tentu masih banyak lagi. Lagi pula, untuk pertandingan format tandang-kandang, menang tipis di kandang dengan lawan mampu mencetak gol tandang adalah bekal yang rentan. Tidak, bukan itu.

Adalah kekaca di mata kakek bule itu yang memicunya. Juga binar wajah bapak saya, yang tak pernah berubah dari masa ke masa berkait timnas Indonesia. Juga pertanyaan seorang kerabat tentang pemain dengan wajah dan nama yang terlalu asing untuk dihapalnya. Semua itu yang menyadarkan bahwa saya sebenarnya hanya seorang penggemar yang sedang ngambek saja, yang membenci karena terlalu mencintai. Yang mendendam karena rindu. Yang jauh di dalam sana, masih saja bandel memendam harapan, meskipun berkali-kali dikecewakan.


Apa daya, saya hanya seorang penggemar biasa. Anda juga, ‘kan?

Saturday, October 8, 2016

Big Sam dan Wajah Sepakbola Industri

Oleh Darmanto Simaepa

Asosiasi sepakbola Inggris  (FA) memecat Sam Allardyce (Big Sam), terutama karena ia menerima tawaran untuk mendapat penghasilan tambahan dengan menjadi konsultan sepakbola di Asia. Lewat teknik menjebak wartawan The Daily Telegraph, ia juga kepergok bicara tentang cara mengakali aturan yang melarang kepemilikan pemain oleh pihak ketiga.

Bagi FA dan publik Inggris, ucapan dan komentar Big Sam melampaui batas. Ia dianggap serakah dan menyalahi moralitas sebagai pelatih tim nasional, yang merupakan jabatan publik. Dengan kontrak sekitar 130-an miliar selama 2 tahun (2016-2018), ia masih ingin menambah penghasilan tanpa sepengetahuan pihak yang resmi mempekerjakanya.

Ia juga dianggap menampar muka FA karena komentarnya yang secara tidak langsung mendukung aturan kepemilikan pemain oleh perusahaan/investor, suatu praktik perbudakan terselubung dalam sepakbola. Aturan ini resmi di larang di Inggris sejak tahun 2007, terutama setelah melibatkan transfer mencolok Carlos Tevez dan Javier Mascherano dari Corinthians ke West Ham dengan perantara Kia Joorabchian, investor yang memiliki hak registrasi dan 30% kepemilikan kedua pemain tersebut.

(Publik Inggris sendiri telah lama memendam prasangka bahwa Big Sam juga bermain dengan aturan ini ketika ia membeli tiga pemain dengan pihak ketiga lewat perantara agen yang tak lain adalah anaknya sendiri)

Meskipun pemecatan ini menggambarkan komitmen organisasi sepakbola terhadap keserakahan, suap, atau perdagangan manusia, sepakbola tidak serta merta menjadi bersih dan suci. Seperti halnya bank, universitas, dan institusi global lain yang tumbuh lewat jual-beli barang dan jasa, ketamakan dan korupsi adalah bagian yang tak terpisahkan dari industri sepakbola. Dan industri seperti ini, hidup dan berkembang, tiada lain, lewat eksploitasi tenaga manusia.

***

Mari kita meninggalkan romantisme bahwa sepakbola modern adalah olahraga rakyat terindah yang dimainkan dengan suka cita dan tanpa dosa. Dari kelahirannya, industri sepakbola melibatkan praktik perdagangan manusia. Meskipun pada awalnya dimainkan para buruh Inggris di waktu senggang sehabis revolusi industri, tangan-tangan tak terlihat kelas berkuasa segera memperdagangkannya, anak-anak kolonial menyebarluaskannya, dan para politisi memanfaatkannya.

Kini sepakbola telah menjadi industri global yang melibatkan jutaan tenaga kerja, jual-beli angka statistik, atau penyediaan jasa potong rumput, konsultan nutrisi hingga ahli psikologi. Uang yang berputar di dalamnya luar biasa besarnya, hampir setara dengan perdagangan senjata dan jauh meninggalkan peredaran uang narkoba.

Memang ada era di mana sepakbola bisa membangkitkan nasionalisme, menghentikan sesaat konflik berdarah, dan menjadi rute bagi penduduk terjajah dan kaum pinggiran untuk melawan. Namun, hal itu mungkin sudah berlalu.

Industri sepakbola modern mencerminkan kehidupan dunia. Struktur industri ini terdiri dari 99% orang biasa (yang hampir semuanya konsumen) dan 1% superkaya yang menentukan hitam-putihnya bagaimana sepakbola dimainkan. 99% orang ini jatuh cinta dan bersedia melakukan apa saja, dan menyerahkan hidupnya untuk bisa memainkan atau menikmati permainan indah ini. 

Sementara 1% ini (pemilik klub, penjual sepatu, kaos dan bola, pemilik bandar judi, penjual minuman kalengan, atau pemilik media yang menguasai hak siar televisi) tidak pernah benar-benar jatuh cinta dengan sepakbola tapi bisa melanggengkan kuasa dan modalnya dari sepakbola. Dunia antara 99% dan 1% ini ditempati birokrat sepakbola, akuntan, dan manajer yang dibayari oleh si minoritas.

Struktur ini paralel dengan tatanan ekonomi (keuangan) dunia. Sebagian besar uang di bank dan penabung adalah rakyat kebanyakan (97.8% untuk kasus di Indonesia). Uang itu, oleh segelintir orang superkaya (0,7%) pemilik bank, perusahaan yang mengajukan kredit dan hutang, dan para investor, digunakan untuk melipatgandakan kekayaan dan, ironisnya, lewat penghisapan keringat jutaan orang lain yang menjadi pekerja.

Dengan struktur tersebut industri sepakbola mencerminkan dunia kita: segala sesuatunya dilakukan untuk melipatgandakan laba dengan cara mengekploitasi para pekerja yang terlibat dalam hubungan langsung dan tak langsung dengan industri sepakbola.

***

Tanpa tenaga jutaan tenaga rakyat jelata, industri sepakbola tidak akan berjalan. Lihatlah! Hampir semua pemain hebat yang membentuk olahraga ini berasal dari keluarga-keluarga kalangan bawah. Orang tua Maradona, Garincha, Messi, Zidane, Widodo Cahyo, Evan Dimas adalah buruh pabrik, petani miskin, imigran gelap, satpam, kuli bangunan, atau pekerja rel kereta api. Pemain-pemain besar sepakbola tidak pernah lahir di rumah mewah dan berlatih di taman-taman istana megah.

Dari mimpi jutaan anak-anak orang miskin menjadi pesepakbola bayaran dan mengubah nasib keluarganya, industri sepakbola terus berkembang. Dari jutaan orang yang percaya klub dan stadion sepakbola adalah ruang publik untuk menautkan kebersamaanlah industri ini terus bernapas.

Di dasar struktur ekonomi sepakbola global yang kokoh adalah milyaran fan sepakbola biasa yang tiap hari menghisap rokok ketengan, minum kopi sachetan, langganan pulsa eceran, menenggak bir murahan atau minuman kalengan, beli hp yang bisa memperlihatkan hasil pertandingan atau ikut judi online kecil-kecilan. Mereka adalah kalangan pekerja dan petani yang butuh hiburan agar tidak semakin terasing dengan pekerjaan.

Tanpa keterpakasaan pekerja migran yang menyabung nyawa memasang besi dan paralon di stadion-stadion megah, pemotong rumput yang bangun pagi-pagi di musim dingin untuk meratakan lapangan, atau tukang cuci sepatu dan pakaian pemain, kita sulit membayangkan sepakbola modern bisa dimainkan dengan hebat di layart televisi. Bahkan tanpa pemain miskin yang gagal bersinar dan berharap menjadi manajer sukses, sepakbola tidak akan menjadi industri yang merangsang kreativitas dan inovasi.

Dan di sinilah ironi terbesar sepakbola. Meskipun sangat tergantung dari orang-orang biasa, industri sepakbola memperlakukan tenaga mereka dengan buruk. Meskipun badan sepakbola berusaha memerangi perbudakan dan jenis praktik lain yang menempatkan para pemain serupa daging kiloan yang dimiliki oleh majikan dan diperjual-belikan secara bebas dan menjadikan pemain bintang setenar bintang Bollywood dan sekaya bintang Hollywood, industri ini memeras tenaga pemain dengan brutal.

Sama seperti perkebunan sawit, pertambangan, dan industri ekstraktif yang memerlukan pekerjaan fisik, sepakbola membutuhkan tubuh pemain. Namun, di banding industri ekstraktif yang membutuhkan pegawai hingga nyaris usia pensiun, industri sepakbola butuh fisik pemain rata-rata paling lama 10-15 tahun.

Meskipun memberi bayaran sangat besar, industri sepakbola memberi waktu pendek bagi pemain untuk mengeksploitasi bakat dan fisiknya. Dengan masa karir pendek dan persaingan keras, setiap pemain harus mengoptimalkan nilai yang melekat di tubuhnya. Jika tidak bisa optimal dan beradaptasi dengan kerasnya persaingan, pemain ditawarkan kanan-kiri sebagai barang pinjaman. Ketika kaki mulai renta, rentan cedera dan otot mengendor, mereka mudah menjadi barang rongsokan yang dijual rombengan.

Tak perlu heran jika kita semakin sering melihat pemain pindah klub tiap tahun demi bayaran lebih tinggi. Loyalitas adalah barang mewah. Mereka harus pintar mengumpulkan kekayaan dalam waktu singkat. Mereka juga butuh banyak uang  untuk menghidupi anak-cucu setelah gantung sepatu.

Industri ini juga memaksa anak-anak berlatih diluar kemampuan ototnya dan perkembangan usianya. Pemain-pemain berbakat juga harus rela meninggalkan orang tuanya sedini mungkin, menjauhi kesenangan, dan hidup seperti rahib di biara untuk sukses. Persaingan yang keras tidak memberi ruang bagi sedikit sikap santai dan berpuas diri. Dari usia muda, mereka telah dibebani dengan tekanan dan tuntutan.

Lantas apa kaitannya dengan Big Sam dan keserakahan?

***

Bagi pelatih, posisi mereka di industri sepakbola lebih buruk lagi dari pemain. Karir mereka jauh lebih pendek dan bayaran mereka jauh lebih sedikit dari pemain. Mereka hidup dalam bisnis yang mendewakan hasil dan menuntut hasil cepat. Seringkali, mereka dituntut untuk memberi prestasi dalam waktu yang singkat dan dalam tekanan luar biasa. Ibaratnya, mereka dipaksa membuat sop enak dengan bahan-bahan yang hanya cukup untuk membuat mi rebus instan. Tiap hasil buruk datang, kepala merekalah yang dicemplungkan ke dalam kuali. Sebagai kambing hitam.

Oleh karena itu pelatih harus pintar mengeksploitasi apa yang mereka punyai. Dalam waktu singkat, mereka harus mengoptimalkan banyak pihak yang berpotensi memberi ekstra pendapatan. Kalau tidak, mereka bisa saja menghabiskan masa tua dengan teman alkohol dan depresi. Jaminan hidup diperlukan. Agen, perusahaan, bandar judi adalah orang-orang yang sangat menentukan kehidupan. Kerja administrasi mereka dalam urusan transfer pemain atau kesepakatan kontrak iklan memberi ruang yang besar untuk mengakali aturan resmi yang dikeluarkan badan sepakbola.

Di tengah kompetisi yang berat dan resiko pekerjaan tinggi, mereka menemukan siasat untuk mengamankan pekerjaan dan kehidupan. Banyak cerita pelatih mendapat komisi tambahan dengan mengakali aturan transfer pemain. Banyak cerita mereka mendapat uang terima kasih dari agen pemain.

Tidak heran jika mereka tidak sepenuhnya mendukung larangan kepemilikan pemain oleh pihak ketiga. (Praktik ini dilarang karena membuat si pemain seperti budak belian—misalnya, ada pemain yang punya kontrak bahwa kakinya dimiliki oleh si investor A, sementara lengan punya perusahaan B). Pelatih bisa kongkalikong dengan investor atau pemilik sebagian hak kepemilikan pemain untuk mendapat uang ekstra. Terlebih lagi jika sanak saudara dan teman dekat terlibat dala bisnis ini. Semua aturan bisa diakali.

Tidak terbatas pada transfer pemain, ekspansi industri sepakbola adalah lahan subur yang memberi peluang menambah  penghasilan. Setiap hari, klub-klub baru dibentuk. Akademi terus didirikan. Situs-situs perjudian tumbuh semarak. Buku-buku biografi kontroversial ditunggu-tunggu.

Seperti halnya industri bala bantuan atau ekstraktif, industri sepakbola butuh tenaga kerja yang lebih fleksibel untuk berkembang pesat. Konsultan, penasihat, atau motivator paruh waktu selalu dibutuhkan. Dan pelatih, terutama pelatih nasional, bisa mengisi celah ini. 

Kita tidak pernah tahu tiba-tiba kita punya Wim Rijsbergen sebagai pelatih nasional setelah kunjungan singkatnya sebagai wisatawan. Berapa kali perseteruan siapa pelatih PSSI adalah asap dari api industri sepakbola yang tidak pernah kita tahu secara pasti.

Pasar baru di negara-negara berkembang membutuhkan mereka. Di Indonesia, PSSI dan sponsor tiap tahun mengundang pemain-pemain pensiunan dan pelatih luar negeri untuk memberi ceramah dan latihan. Tim-tim legenda juga diundang untuk pertunjukan eksebisi. Pemain-pemain punya nama di media di datangkan untuk menghangatkan kompetisi. Mereka dibutuhkan oleh sepakbola industri seperti industri minyak atau bala bantuan membutuhkan jasa konsultan.

Big Sam adalah wajah dari industri sepakbola modern yang semakin eksploitatif, baik terhadap pekerja di dalamnya maupun konsumennya. Tanpa terasa, sepakbola dalam takaran tertentu telah menjadi candu bagi massa. Stadion disterilisasi. Tayangan televisi disterilisasi. Pemain yang mengekspresikan pandangan politik dilarang. Klub yang membiarkan pendukungnya yang mengibarkan bendera Palestina didenda. Ia telah digunakan untuk menjinakkan pemain dan penonton.

Di tengah situasi ini, apakah pantas Big Sam kehilangan pekerjaan dan dinistakan? Ya, tidak diragukan lagi. Ia bergaji 60 miliar rupiah lebih per tahun. Ketika ia masih menginginkan uang tambahan secara rahasia, FA punya alasan untuk memecatnya. Publik yang membayar pajak untuk gajinya juga pantas mengutuknya. 

Namun, sekali lagi, ini tidak lantas menjadikan sepakbola lebih bersih.

Industri dan pasar telah mencemari olah raga yang kita cintai ini, membuatnya sangat eksploitatif dan korup. Ia membuat Big sam dan banyak orang yang terlibat di dalamnya berlumur kotoran. Ia membuat kita, penonton eceran di belakang gawang dan sofa butut di depan televisi, hanya menjadi atom-atom tak bernama yang siap dieksploitasi, bahkan ketika kita sedang mentertawai nasib Big Sam yang berusaha menambah penghasilan. 


Wednesday, September 28, 2016

Mou dan Dilema Pendukung MU

Oleh   Darmanto Simaepa


Seperti sikap kebanyakan pendukung MU, saya pun mendua terhadap Jose Mourinho. Namun, ini bukan perkara ia tidak punya reputasi mengorbitkan pemain akademi. Bukan karena ia mencolok mata pelatih lain. Bukan pula karena manajemen yang aberasif dan gaya sepakbolanya yang reaktif.

Benar bahwa segala hal yang saya benci dari sepakbola modern mewujud dalam diri Mou. (Anda hanya perlu memeriksa tulisan lain di blog ini untuk menemukannya). Namun, segala sumpah serapah terhadapnya harus diletakkan dalam ruang dan waktu ketika ia menjadi pelatih Madrid dan saya memuja Barca. Sepakbola yang ia mainkan pantas untuk dicaci maki, namun untuk semua hal yang ia telah berikan terhadap sepakbola, kita pun perlu angkat topi.

Semakin banyak membaca dan membaca (lagi) apa saja yang sudah dituliskan tentang MoU, saya semakin yakin bahwa narasi sejarah sepakbola membutuhkannya dan menempatkannya menjadi setan pesakitan agar industri sepakbola modern memiliki alasan untuk berkembang menjadi institusi religius yang lebih populer dan menarik jemaat di banding agama-agama besar dunia di zaman kita.

Narasi dominan tentang Mou sebagai iblis yang terusir dari surga Catalan terbangun menutupi kebenaran bahwa fondasi sepakbola modern dibangun di atas prinsip menang adalah segalanya. Seperti keterusiran iblis, narasi tentang Mou menutupi dalil dasar kehidupan bahwa moralitas kebaikan juga punya obsesi kemenangan dan terus berusaha mengalahkan moralitas keburukan, meskipun keduanya tidak pernah bisa hidup tanpa yang lain.

Contoh saja soal anak muda dan sepakbola negatif. Dianggap tidak suka anak muda, ia memberi debut bagi banyak pemain muda lebih banyak dibanding dengan pelatih yang memulai karir sezaman. Tudingan bahwa sepakbolanya negatif lebih sering keluar dari fan atau jurnalis yang mendukung tim-tim favorit yang dikalahkannya. Di tangannya, Madrid dan Chelsea juara liga dengan jumlah poin dan gol terbanyak.

Lagipula apa daya kita, sebagai penonton rombengan, menyangkal atau membela keputusan para direksi untuk merekrutnya. Keluarga Glazer tak akan menghitung keluhan kita. Yang bisa kita terima sebagai penggemar pinggiran adalah akhir pekan bahagia. 

Tentu saja, melihat tim bermain menyerang dan bermain bagus adalah kepuasan besar. Apalagi jika tim utamanya dipenuhi pemain lokal, pelatihnya adalah orang dalam dan gaya sepakbolanya merefleksikan kontinyuitas tradisi dan identitas klub yang kita bela.

Namun, berapa dari kita sih yang punya kesempatan untuk mendapatkan klub semacam ini? Berapa klub yang sering diperbincangkan di televisi berhasil melakukan itu semua? Sepakbola zaman kini lebih banyak menghasilkan klub-klub yang pintar menjual masa lalunya sembari memeras tenaga dan laba dari pemainnya serta mengincar uang-uang belanja harian penggemar yang seharusnya menjadi hak keluarga mereka tanpa begitu peduli dengan sepakbola.

Saya ingin MU menang karena itu memberi udara segar di akhir pekan setelah hari-hari yang berat. Jadi, saya tidak keberatan tim saya bermain buruk. Tak peduli jika dilatih oleh orang yang gampang menyulut pertikaian atau orang yang bermulut manis di depan wartawan. Tak peduli jika hampir semua pemainnya adalah hasil transferan. Tak peduli dengan cemoohan pendukung yang memuja-muja kebesaran masa lalu dan memaklumi kesemenjanaan masa kini klubnya.

Well, seseorang akan berpendapat, sepakbola global telah membawa klub-klub Eropa di televisi menjadi lebih nyata dibanding klub-klub kota tempat kita tinggal. Dunia sepakbola telah menjadi simulakra. Meskipun tidak menolak pandangan ini, bagi saya hampir-hampir sulit dibayangkan bagaimana seorang suporter Liverpool atau AS Roma nun jauh di Indonesia menjalani hidupnya dengan gembira pekan ini, dan berantakan di pekan kemudian, selama bertahun-tahun.

Butuh keajaiban untuk menjadi orang yang tidak lahir, bukan warga kota, dan jauh dari sejarah konkrit kota London atau Milan untuk menanggung penderitaan jika klub-klub yang ada dikota tersebut sering memberi nestapa dari pada perasaan bahagia. Sangat tidak enak menjadi pecundang tiap satu minggu, apalagi setelah harus begadang dan meriang. Tapi apa boleh dikata, dunia memang selalu membutuhkan masokis.

Peduli setan! Asal MU menang, hidup terasa lapang. 

*****

Setelah tiga musim yang membuat pening dan kulit kepala gatal, semua pendukung MU merindukan hari-hari yang gembira. Nah, kedatangan Jose memberi harapan baru, meskipun juga menyisakan kecemasan baru. Di sinilah letak dilema.

Sikap mendua terhadap Jose lebih karena, pertama, direksi MU membutuhkannya bukan untuk sebuah proyek jangka panjang sepakbola. Jika MU punya rencana matang meneruskan tradisi sepakbola klub, memberi kesempatan Van Gaal menyelesaikan kontrak sekaligus menjadi mentor Ryan Giggs (seperti yang telah ia lakukan dengan Koeman, Mou, Philip Cocu, Luis Enrique untuk sedikit nama) adalah pilihan yang masuk akal. 


Atau sabar menunggu beberapa tahun untuk melihat perkembangan situasi pelatih muda potensial macam Tomas Tuchel atau Mauricio Pocchetino sebelum mengambilnya di saat yang tepat.


Alasan MU merekrutnya mirip ketika Madrid meminta jasanya. Ia satu-satunya orang yang bisa mencegah MU jatuh menjadi klub kelas dua. Para direksi tahu, gelombang pasang sedang melanda kota Manchester. City sedang berselancar di atas ombak yang menjauhkan MU dari prestasi. Dan ini tidak bagus untuk bisnis. 


Ia bagus untuk bisnis sepakbola MU, namun barangkali tidak bagi tradisi sepakbolanya. Namun, jika Mou bisa menyeimbangkan keduanya dan memenuhi janjinya untuk membangkitkan sepakbola MU sebagai tontonan menarik, tidak sulit bagi penggemar cerewet seperti saya ini untuk mengubah kebencian menjadi pujian.

Mou diambil bukan untuk sebuah proyek meneruskan sepakbola yang disenangi publik Old Trafford. Ia direkrut mengimbangi gravitasi sepakbola di kota Manchester setelah Joseph Guardiola memilih City.

Semua tahu visi sepakbola Jose agak sulit dikawinkan dengan tradisi MU. Meskipun berulang kali ia ingin merevitalisasi tradisi sepakbola menyerang merek MU, agak sulit mengharapkan pelatih yang punya mantra ‘kontrol dan keseimbangan’ dapat menyegarkan kembali sepakbola penuh petualangan dan kekacauan (yang brilian) di era Matt Busby dan paruh pertama periode Fergie.

Namun, MU tidak punya pilihan lain untuk membiarkan pendulum pusat semesta sepakbola bergeser ke halaman rumah tetangga. Ia satu-satunya orang yang bisa meyakinkan pemain sebesar Zlatan untuk bermain di Liga Europa di senja kala karirnya. Ia bisa meyakinkan Pogba untuk mengabaikan tawaran Madrid. Ia masih jadi bintang di ruang konferensi pers. Namanya menahan harga saham, menarik pengiklan, dan menjangkau pasar global.

Jadi, alih-alih untuk menata rencana jangka panjang sepakbola pasca Ferguson, kehadiran Jose, pertama-tama, untuk menahan MU sebagai institusi industri tidak mengalami tragedi kejatuhan yang dialami oleh Liverpool. 

Keluarga Glazer merekrutnya untuk menjamin MU sebagai institusi industri menghasilkan laba. 


*****

Hal kedua yang membuat saya mendua adalah teka-teki waktu. Jose jelas pelatih istimewa. Ia adalah sedikit pelatih yang cocok dengan profil klub dengan skala MU. Ini bukan perkara koleksi piala. Kepribadian, kejeniusan dan ego besarnya sepadan dengan kebesaran MU.

Masalahnya: apakah perkawinan ini tepat waktu? Perkawinan yang baik, konon katanya, tidak dimulai dari cinta yang meluap-luap atau kecocokan rasi bintang. Ia dimulai dari pertemuan dua orang yang berbeda di waktu dan ruang yang tepat. Apakah Mou dan MU bertemu di waktu yang tepat?

Saya khawatir jawabannya tidak. Jawaban ini berkait dengan siklus kesuksesan pelatih hebat. Terdapat pola umum bahwa pelatih besar punya periode spesialnya sekali saja. Dan masa puncak ini tidak berlangsung lama.

Lazimnya, periode ini ditandai oleh keberhasilan si pelatih meracik taktik baru atau membentuk tim yang memainkan sepakbola dengan cara yang berbeda dari tim semasanya. Periode keemasan ini bermula ketika mereka membuat gebrakan di klub semenjana.  Berlanjut kemudian di periode awal ketika mereka bekerja di klub-klub besar dan mapan di mana mereka memantapkan temuan taktiknya.

Kisah Arrigo Sacchi, Arsene Wenger, dan Fergie, dan Jose sendiri cocok dengan narasi ini. Sacchi dan Wenger bereksperimen di Parma dan Monaco sementara Fergie dan Jose sukses di Aberdeen dan Uniao de Leiria sebelum menciptakan mesin pemenang di Milan, Arsenal, MU dan Porto.

Hampir semua pelatih spesial ini memulainya di usia 30an. Di masa ini, mereka belajar dan mencuri ide atau bagian eksperimen darin para pelatih inovatif sebelumnya. Lalu mereka berpetualang dan mencari klub di mana ia bisa mengembangkan dan menyempurnakan metode yang telah dipelajari.

Setelah sukses selama beberapa tahun, mereka menarik minat klub-klub besar yang lebih mapan. Periode di klub kecil dan awal-awal klub besar adalah periode puncaknya. Seiring kemapanan pekerjaan di klub-klub besar dan kaya, gairah eksperimentasi meredup. Inovasi menjadi stagnan. Setelah melewati usia setengah abad, mereka mengalami penurunan. Setelahnya, tim-tim yang mereka hasilkan membosankan atau tak lagi juara.

Lihatlah riwayat Van Gaal dan Wenger. Setelah mencapai puncak di akhir 40-an, mereka kehilangan daya magis. Mereka menjadi mandek, sementara ide-ide mereka dicuri dan disempurnakan oleh generasi baru.

Ferguson adalah perkecualian. Ia satu-satunya pelatih juara yang punya rentang karir panjang. Fleksibilitas dan kemampuan beradaptasi adalah kualitas Fergie yang disebut-sebut sebagai rahasia kesuksesannya—bukan keahlian merumuskan taktik atau menemukan kebaruan gaya dalam sepakbola.

Keberhasilan juara di empat negara menunjukkan bahwa Jose juga fleksibel dan pragmatis. Seperti Fergie, ia juga jago membangkitkan potensi pemain semenjana. Sukses besarnya adalah ketika membesut klub besar yang sedang krisis atau tim kuda hitam. Chelsea dan Inter Milan adalah contoh yang bagus.

Dilihat dari perspektif ini, Jose dan MU bisa jadi perkawinan yang bagus. MU bukan klub yang obsesif dengan inovasi taktik atau estetisasi permainan. Pendukung dan pemilik cenderung reseptif, asalkan timnya menang. Orang tidak banyak mengeluhkan permainan membosankan MU di paruh kedua masa Fergie karena ia, dengan satu dan lain cara, menjanjikan piala. Lagi pula, MU kini juga bukan lagi kekuatan dominan.

Masalahnya, pemecatan di Chelsea seperti memberi jalan bagi pembacaan kapan Mou mulai menuruni puncak karirnya dan menemukan krisis paruh baya. Diukur dari piala, penurunan karirnya sangat jelas. Jika dari 2002-2010 ia memberi 7 gelar liga, 2 Piala Champions, 1 Piala UEFA, dan selusin gelar minornya lain, maka dari 2010-2016, ia hanya punya 2 gelar liga dan satu gelar minor lainnya.

Jika diukur dari kemampuannya membentuk tim, juga ada tanda-tanda bahwa ia tidak lagi figur yang tanpa cela di mata pemainnya. Jika pemain Porto dan Inter memujanya sebagai Napoleon, maka friksi dengan Casillas di Madrid dan serta timnya, terutama Hazard dan dokternya, di Chelsea menandakan bahwa ia malih rupa menjadi Julius Caesar dengan Brutus-Brutus yang siap menikamnya di belakang.

Kritiknya terhadap pemain MU, belakangan ini, sering dirujuk sebagai kegagalannya untuk menyerap tekanan industri sepakbola dan menjadikan dirinya sebagai ‘kijang bidikan’ bagi masalah yang menimpa timnya, suatu keunggulan yang pernah menjadikan dirinya sebagai pujaan para pemainnya.

Sejarah sepakbola belum pernah mengenal pelatih spesial dua kali. Ia sedang berada di sebuah persimpangan jalan. Apakah ia sedang menuruni puncak karir setelah usia 50-an, seperti pelatih besar lain? Apakah ini badai dalam cawan yang justru menjadi awal bagi periode istimewa di klub baru? Ia berada di tubir waktu yang bisa membawanya melampui para legenda namun sekaligus bisa menyeretnya ke jalan yang telah dilalui oleh Wenger dan Van Gaal.

Sebagai penggemar, saya ingin MU menang dan diam-diam berharap ia bisa mengulang kejeniusannya. Mungkin ia telah menyiapkan rencana cadangan agar tidak menjadi Wenger atau Benitez. 

Namun, di sisi lain, hanya ada satu jalan keluar bagi pelatih yang tengah menuruni senja kala karirnya, pergi ke tim besar yang porak-poranda atau tim kecil dan membuat kehebohan semusim saja. Van Gaal melakukannya dengan AZ Alkmar, Capello melakukannya dengan AS Roma. Kadang terpikir Mou sebaiknya pergi ke Hamburg atau Valencia....

Dia sedang melakukan perjudian besar dengan menangani MU. Ia bisa membalik karirnya atau semakin memperdalam krisis yang sedang melanda klub ini dan menambah arang hitam di mukanya. 

Namun, tiga bulan adalah masa yang terlalu pendek untuk bisa menerka ke mana arah perkawinan Mou dan MU. Ada waktu di mana ia berusaha merestorasi permainan penuh resiko MU (ketika memasukkan 4 penyerang dalam derbi). Namun ada juga waktu di mana ia membawa ingatan sepakbola membosankan a la Van Gaal. Ada masa ia bersikap positif terhadap pemainnya. Ada kalanya bayang-bayang krisis Chelsea menggantung di udara.

Hari-hari ini, Mou membuat pendukung MU berada dalam dilema dan bersikap mendua.   

Tuesday, July 19, 2016

Euro 2016: Narasi Tak Selesai

Oleh Mahfud Ikhwan

“...This kind of intimacy with the ball is a mixed blessing... a poison remedy. In part this is because football is an unpredictable game. All the statistical evidence reinforces the observation that on any given day the worst team can win, that favourites are more vulnerable than in other sport, that the place for the random, the chaotic and the unexpected is surprisingly large in football...”  -- David Goldblatt  


1/

Ketika Eder mencetak gol di pengujung babak kedua perpanjangan waktu final Euro 2016, gol yang menjadi pembeda mana tim yang menang dan mana yang pecundang, Candra (14 tahun), dengan sedikit kaget berdiri dari duduknya. Tampak masih tidak percaya, ia menuding ke tembok, ke mana sorot proyektor diarahkan. “Lho, gol. Gol. Hore, Gol!” Ia bertepuk tangan dengan sedikit ragu, dan merayakan gol itu sedikit terlambat. Dan sendirian. Teman-teman sebayanya, yang kebanyakan mengidolakan Ronaldo dan mendukung Portugal, bergelimpangan di sekitarnya dihajar kantuk. Ya, bagaimana pun, itu jam setengah empat pagi. Orang-orang dewasa, yang kebanyakan bergerombol agak jauh dari layar, bersandar di tembok aula sebuah sekolah TK itu, tak ada yang ikut merayakan. Mereka ada di pihak yang kalah. Sikap sok rasional, sok analitik, yang mungkin saja mereka dapatkan dari ocehan para pengamat di televisi atau penulis-penulis Jawa Pos, membuat mereka mendukung tim tuan rumah, “yang bermain fantastis”, sang Ayam Jantan Prancis.

Beberapa dari mereka tak mampu menepikan rasa kecewanya bahkan sampai sore di hari berikutnya—ada yang bahkan menyimpannya sampai berhari-hari kemudian. Dalam sikap yang masih uring-uringan itulah salah satu dari mereka bercerita tentang perayaan Candra yang seorang diri pada dini hari itu kepada saya. Ya, saya memang tak menyaksikan secara langsung perayaan Candra tersebut. Sayang sekali—hal yang paling saya sesali di malam final itu. Padahal, saya ada di tempat yang sama sejak sore. Tapi, rasa kantuk dan bosan membuat saya memutuskan untuk pulang dari tempat nonton bareng itu 15 menit sebelum babak kedua waktu normal selesai. Tapi adegan terakhir yang bisa saya ingat dari pertandingan itu hanya saat masuknya Eder menggantikan Renato Sanchez. Saya tepar begitu sampai rumah.

Kalau diingat-ingat, itu bukan saja satu-satunya pertandingan di Euro 2016 yang tidak saya tonton (selain dua-tiga partai penentuan di babak grup yang memang disiarkan serentak), tapi juga final Euro pertama sejak saya menonton sepakbola yang tak sanggup saya selesaikan karena mengantuk. Dan ini tentu saja adalah pertandingan yang saya saksikan dengan cara nonton bareng pertama yang tak saya tuntaskan. Konyol sekali, bukan?


2/

Memang sangat konyol jika mengingat betapa saya mempersiapkan diri untuk turnamen ini. Sejak jauh-jauh hari saya sangat antusias menyambut Euro kali ini, yang kebetulan berbarengan dengan Copa Amerika edisi Centenario. Ini tahun sepakbola memang. Yang terutama, ini adalah tahun ke-20 saya sejak pertama menonton Euro—nanti akan coba saya ceritakan. Ketika seorang teman dari Jawa Pos kemudian menggubungi saya untuk ikut nimbrung nulis di kolom sportainment mereka, saya tahu ini akan jadi Euro yang tak biasa bagi saya.

(Terdengar norak dan berlebihan? Haha... biar saja. Sepakbola memang tak pernah membiarkan saya jadi terlalu kalem seperti lazimnya.)

Tulisan saya muncul sekitar tiga minggu sebelum turnamen berlangsung—itu adalah tulisan sepakbola pertama saya di Jawa Pos, juga tulisan pertama sejak saya berhasil menerbitkan dua cerpen pada 2003 silam di media itu. Beberapa teman di Jogja membacanya, kemudian membaca tulisan yang kedua, dan itu segera membuat mereka tertulari antusiasme saya. Bayangkanlah sebuah bulan puasa yang penuh dengan sepakbola, demikian saya menggoda. Tidak semua teman saya ketahui menyukai sepakbola. Tapi toh mereka ikut bersemangat juga. Seorang teman yang sehari-harinya hanya ngomong soal Islam dan Jawa dan hubungan antara keduanya bahkan menegur saya karena tak memasang jadwal pertandingan sebulan, padahal waktu turnamen sudah semakin dekat. Properti kantor, sebuah proyektor tua, yang sehari-harinya kami salahgunakan untuk menonton film-film India, untuk sebulan kedepan telah siap kami salahgunakan untuk sarana olahraga.   

Dan itulah yang memang terjadi nyaris sebulan ke depan: setiap malam, dari setengah delapan sore sampai jam lima pagi, kadang sampai jam 11 siang jika kebetulan dilanjut dengan dua pertandingan Copa Amerika. Ruang tengah di rumah-kantor kami di belakang Bandara Adi Sucipto Jogja malih fungsi jadi serupa tribun, lengkap dengan serakan sampah, kopi yang tumpah, teh yang tak habis terminum, minuman panas yang mendingin, minuman dingin yang butuh kembali dipanaskan, dan tentu saja sumpah-serapah. (Ada juga alkohol, tapi si empunya bersikeras tetap menyimpannya di kulkas. “Puasa,” katanya, “nunggu nanti setelah Lebaran.”)

Beberapa kali gedoran dari tetangga kontrakan—sebagai tanda rasa terganggu—menyelingi acara nonton bareng kami. Tapi tak ada yang lebih menarik untuk dikenang dari malam-malam nonton bareng itu melebihi malam-malam waktu seorang tamu dari Prancis datang menginap. Ia teman dari teman, seorang aktivis agraria yang kekiri-kirian, yang banyak bercerita tentang Amerika Latin, terutama soal cewek-ceweknya. Ya, dia cowok. Sejak sebelum kedatangannya, saya sudah khawatir kalau dia akan jadi selingan tak menyenangkan bagi kegilaan sepakbola yang tengah saya bangun di rumah itu. Ketika ia bilang bahwa ia suka bola, saya sedikit lega. Dan itu dibuktikannya dengan ikut menonton satu-dua pertandingan. Juga bertanya hasil-hasil pertandingan yang dilewatkannya karena harus keluar untuk keperluan kunjungannya. Juga obrolan-obrolan pendek ala-ala Tarzan-Jane soal kondisi ekonomi-politik sepakbola Prancis. Meski demikian, seperti yang saya perkirakan sebelumnya, ia dan saya memang tidak berada di level yang sama soal apa yang disebut dengan “suka bola”.

Pertama, ia tak kenal nama Luca Modric. Kedua, ia tampaknya kesulitan memahami bagaimana cara orang Asia, khususnya orang Indonesia, menyukai sepakbola. Ia terlihat berusaha keras untuk bersosialisasi, dan saya menghargai itu. Selama di Indonesia, ia ikut puasa. Ia ikut berbuka, dan memaksa diri ikut bangun makan sahur, meski pada satu Jumat siang yang panas, ia berselonjor di beranda rumah dengan hanya pakai celana pendek saat orang-orang berbondong berangkat Jumatan. Tapi, masalah itu muncul saat tengah malam.

Malam itu, ia ditinggal teman saya yang jadi temannya, sehingga dia harus bersosialisasi dengan teman-teman saya yang baru dilihatnya. Dua orang di antara teman saya pernah mengecap Program Bahasa Inggris Sanata Dharma, tapi kemampuan komunikasinya tampaknya tak banyak berbeda dengan saya. Jadi, tanpa teman saya yang jadi temannya, si Prancis tetap jauh lebih pendiam dari biasanya. Meski begitu, ia cukup berhasil jadi bagian dari kerumunan keriuhan kami pada pertandingan pertama. Ia antusias. Kata seru “O la la!” berkali-kali saya dengar dari mulutnya. Ia minum teh yang kami buat, saya nyemil snack yang dibelikannya untuk kami. Pada pertandingan kedua, yang dimulai pukul sebelas, ia undur diri ke dalam kamarnya, kamar yang persis ada di belakang tembok tempat proyektor menyorotkkan siaran sepakbola. Saya lupa apa pertandingan malam itu, yang jelas jauh lebih seru dibanding pertandingan pertama. Dan itu membuat suasana menonton jadi jauh lebih hidup. Singkatnya: lebih ribut. Saya sedikit menyimpan khawatir, tapi menetralisirnya dengan berpikir bahwa ia semestinya tahu bahwa orang Prancis main bola saat orang Indonesia tidur dan orang Indonesia nonton bola pada jam yang sama dengan orang Prancis tidur. Tapi ia ternyata tidak tahu, atau mungkin belum tahu. Sekitar setengah satu tengah malam, ia keluar kamar dengan muka merah dan mata yang lebih merah. Ia tampaknya marah, tapi mencoba dengan sopan memohon: “be quiet, please...” Kami kontan saja jadi lebih kalem, sebagaimana umumnya tuan rumah yang mendongkol kepada tamunya.

Dalam beberapa kesempatan setelahnya ia memberi nasihat soal tidak sehatnya begadang; ia bahkan menunjuk perut saya. Saya senyam-senyum saja, yas-yes saja. Tapi mungkin juga telah berpikir bahwa ia agak kebablasan, malam berikutnya, sejak sangat sore ia mendekati meja saya, minta maaf karena membuat nonton saya tidak nyaman, sembari kembali memohon-mohon agar saya nonton bolanya lebih kalem. “Saya mau good sleep,” katanya, dengan senyum memelas. Saya berjanji, karena saya tahu esoknya dia akan melakukan perjalanan jauh. Sedikit kebetulan, malam itu saya hanya punya sedikit kawan menonton. Itu malam yang tenang. Dan teman Prancis teman saya itu pun bisa sedikit pulas tidurnya. Ketika paginya ia pamit pergi dari Jogja menuju tujuan berikut, saya mengantarnya dengan ucapan selamat tinggal yang sudah saya hapalkan. Lengkap dengan senyum—senyum kemerdekaan.   

Pada pertandingan antara Kroasia-Spanyol yang seru itu, kami kemudian bisa ribut dengan tenang. Demikian juga pertandingan Hungaria-Portugal—pertandingan terbaik Ronaldo sepanjang turnamen. Dan saya sulit membayangkan betapa berat beban pemberadaban yang ditanggung teman Prancis itu jika harus menyaksikan betapa biadabnya kami di tengah malam saat merayakan tendangan voli Pelle membunuh—tampaknya untuk selamanya—tiki-taka-nya Spanyol.     

Dan saya pikir dia akan kesulitan menerima penjelasan saya bahwa kemenangan Italia atas Spanyol dan kemenangan Islandia atas Inggris mengembalikan energi puasa saya, setelah sehari sebelumnya saya lesu, lelah, dan marah usai menyaksikan betapa buruknya Argentina di final Copa Amerika, yang ditambah reaksi Messi setelahnya yang bertolak belakang dengan seramnya tato di bahu dan kakinya dan lebat brewoknya. “Itulah yang di sini kami sebut ‘suka bola’, Monsieur...”

Dengan mood yang sedang baik, juga karena jeda jelang perempat final, saya menganggap itu waktu yang tepat untuk ikut berdesak-desakan di bus Jogja-Surabaya. Berangkat selepas sahur, saya mudik dengan seringai mengejek untuk para pendukung Inggris masih tersisa di bibir. Saya bahagia untuk kesedihan mereka. Saking senangnya, saya lupa memasukkan cas laptop, cas hp, dan modem ke dalam tas. Padahal, saya masih ngutang dua tulisan untuk Jawa Pos.   


3/   

Kehilangan layar seukuran almari lawas, juga umpatan-umpatan brutal dari orang-orang yang baru ikut-ikutan nonton bola, saya kemudian melewatkan empat pertandingan perempat final dan dua semifinal dengan televisi 21 inci murahan kami di rumah bersama rekan nonton lama saya: bapak. Ia orangtua yang ribut saat nonton bola, tak banyak berubah seperti saat ia masih muda. Meski demikian, tetap saja saya tidak mungkin bisa nonton seperti biasanya. Apalagi jika dalam satu pertandingan ternyata kami berpihak pada tim yang berbeda. Sementara itu, tidak punya peralatan untuk menulis, saya ternyata masih diharuskan untuk memikirkan tiap pertandingan dengan lebih serius. Itu akan jadi modal yang baik untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan teman yang kadang terlalu serius—setelah beberapa dari mereka tahu saya nulis di koran—soal pertandingan-pertandingan semalam, entah saat di warung kopi atau saat jadi panitia zakat fitrah. Pada saat-saat seperti itulah tercetus untuk bikin acara nonton bareng pertandingan final.

Sudah cukup lama, acara nonton bareng telah jadi kebiasaan di desa kami. (Setidaknya, saya ingat untuk pertamakalinya ikut nonton bareng dengan menutup jalan desa saat final Liga Champions 2011, dan itu tampaknya bukan acara nonton bareng pertama di desa.) Kadang untuk sekadar nonton bareng saja, sekadar ramai-ramai dan senang-senang saja, kadang juga untuk menciptakan momentum agar kami bisa kumpul-kumpul dan mengobrolkan hal yang agak urgen, semisal soal-soal kontemporer desa, soal-soal pemuda, bahkan soal-soal agama. Toh tidak sulit cari proyektor. Beberapa institusi pendidikan di desa kami, juga beberapa individu, punya proyektor dan bisa dipinjam.

Usai Lebaran, saya diberitahu kalau nonton bareng final Euro akan sekaligus dipakai untuk mengumpulkan para pelajar dan remaja yang di hari-hari biasa kebanyakan ada di luar desa, sebagain besar karena belajar di pesantren. Organisasi remaja di masjid kami sudah lama mati suri, dan teman-teman sebaya saya merasa ikut bertanggung jawab untuk berinisiatif mengorganisirnya kembali. Sedikit di luar bayangan nonton bareng final yang gayeng, tapi saya kira itu baik.

Sempat bersilang pendapat soal di mana sebaiknya kami mengadakan nonton bareng—ada yang mengusulkan di depan masjid (agar ini tampak sebagai kegiatan yang bermanfaat), ada yang bahkan mengusulkan di depan rumah saya (agar lingkungan rumah saya yang sepi bisa sedikit ramai)—kami bersepakat menyelenggarakannya di aula sebuah taman kanak-kanak. TK itu masih ada di lingkungan masjid, sehingga akan memberi kesan bahwa itu bukan sekadar acara hura-hura. Meski demikian, lokasinya yang tidak langsung bersebelahan dengan masjid akan menghindarkan ketidakenakan menonton seandainya pertandingan memanjang sampai menerabas waktu Subuh. Cocok.

Saya menyatakan diri siap membantu. Berpengalaman dengan proyektor, saya siap jadi operator. Saya juga siapkan senjata andalan saya: hardisk eksternal beserta film-film yang mengisinya. (Ya, brengsek benar, di saat cas dan modem ketinggalan, hardisk malah tak pernah alpa ikut pulang.)


4/

Hal terakhir yang ingin saya lakukan, atau yang paling tak saya sukai,  saat dan sesudah nonton bola adalah menganalisis taktik. Karena itu pula, saya tak terlalu suka membaca analisis taktik dan utak-atik statistik. Beberapa penulis, lebih sedikit lagi komentator, memang membantu kita memahami pertandingan lebih baik. Tapi sisanya adalah omongkosong—sebuah kerangka yang telah pakem, yang bisa diisi nama-nama pemain yang berbeda, tim yang berbeda, pelatih yang berbeda, tergantung hasil pertandingan.

Dan hal paling sia-sia dalam industri game paling tua ini adalah analisis taktik sebelum pertandingan. Semua preview adalah gombal. Sejak sangat awal, saya tak menyukai tabloid olahraga edisi Jumat karena isinya cuma tebakan yang dipanjang-panjangkan. Para penjudi mungkin membutuhkannya, tapi salafus-salih sepakbola sebaiknya mengabaikannya. Menebaklah jika ingin menebak. Begitu saja. Kalau benar, asyik. Kalau salah, itulah sepakbola—dan sepakbola selalu asyik.

Saya berhasil menebak skor pertandingan Kroasia-Spanyol dengan tepat nyaris ke menit-menit golnya. Dan meski sakit, saya juga sama sekali tak terkejut ketika Kroasia tumbang oleh gol di menit terakhir perpanjangan waktu oleh Portugal. Saya tak punya statistik, dan tak lagi menyukainya kecuali ia ada dalam kalimat-kalimat Sid Lowe. Saya tak baca satu pun preview. Hanya perasaan dan pengalaman menonton ribuan pertandingan yang saya pakai. (Mungkin seperti petani yang menghapal pranata mangsa setelah bergenerasi-generasi menanam padi.) Dan—dalam kondisi tak punya mesin ketik dan tak memiliki akses internet—itulah yang saya pakai ketika membuat tulisan jelang final yang dibaca banyak orang cenderung mengunggulkan Portugal.

Tulisan itu saya garap tengah malam, sekitar satu jam sebelum pertandingan semifinal Prancis-Jerman. Tapi, sejak pagi, apa yang saya tulis itulah yang saya obrolkan dengan banyak teman di sela-sela berhari raya. Kekalahan Wales di semifinal membuat banyak orang marah, dan saya membuat mereka jadi lebih dongkol karena bilang bahwa mereka memang pantas kalah. Di sisi lain, secara bersamaan, itu adalah pertandingan terbaik Portugal. Dan pola itulah yang membawa saya bersimpulan: Portugal justru tengah ada di puncak penampilan saat mengkapling tempat di partai puncak. Dan itu mengkhawatirkan. Dan meskipun Prancis bisa mengalahkan Jerman dengan skor yang sama dengan skor Portugal saat mengalahkan Wales, namun dengan permainan terburuk mereka sepanjang turnamen (minim peluang, minim penguasaan), saya jadi semakin khawatir.

Membaca dukungan yang menggebu dan terus terang terhadap Prancis dalam tulisan seorang teman di blog ini, yang saya tahu mewakili sebagian besar penggemar sepakbola (sebagaimana yang diklaimnya), saya tahu tulisan saya yang muncul di koran beberapa jam sebelum pertandingan final itu menentang arus. Dan dengan tebakan yang melawan harapan banyak orang itulah saya datang ke tempat nonton bareng.

Sekolah TK itu adalah bangunan terbaru di lingkungan masjid kami—secara lembaga, saya adalah alumninya, tapi dulu kami belum memiliki tempat yang tetap, sehingga sekolah kami berpindah-pindah. Fakta bahwa saya tak banyak tahu kapan gedung dua lantai itu dibangun jelas menunjukkan bahwa bangunan ini sangat baru. Namun yang benar-benar sulit saya kenali adalah para remaja yang sudah banyak berkumpul di tempat itu. Cowok-cewek, mereka ada sekitar 30-an orang. Dengan rentang usia SMP kelas 2 hingga kuliah semester 4, saya nyaris tak mengenali mereka dan mereka tampaknya juga tak mengenal saya. Sebagian besar dari mereka pasti lahir beberapa tahun setelah saya ke Jogja. Sedikit yang saya kenali adalah mereka yang masih termasuk famili. Juga mereka yang pernah saya perdaya dengan bola plastik, es teh, dan ote-ote agar mau masuk ke perpus masjid yang saya dirikan.

Sembari menyiapkan proyektor, mengatur kabel-kabel, memastikan antena bisa menangkap siaran, menggotong televisi tabung dan son-son sebesar kulkas dari lantai satu ke lantai dua, saya mencuri simak bocah-bocah itu rapat di antara mereka sendiri. Hebat juga mereka. Seorang yang tertua dari mereka, dengar-dengar sedang kuliah di Surabaya, memimpin forum dengan kemampuan komunikasi yang tak saya miliki bahkan ketika sudah mengelola sebuah terbitan mingguan di kampus. Dalam dua jam, mereka membentuk formatur, menunjuk ketua, dan ketua-ketua bidang. Orang-orang tua yang selalu mengeluh soal kenakalan anak-anak mereka seharusnya melihat anak-anak mereka rapat.

Tapi yang paling mengesankan dari mereka adalah saat mereka menyelesaikan rapatnya. Sementara beberapa dari mereka segera membuat perapian untuk membakar ikan buat dimakan ramai-ramai, saya bertanya kepada beberapa di antara mereka tentang final yang akan kami tonton bareng. Yang sedikit mengejutkan, sebagian besar dari mereka tampaknya mendukung Portugal. “Kok bisa?” tanya saya, tak terima. Alasan mereka standar, namun sangat mudah diterima: Ronaldo. Ketika saya mengkonfrontir mereka dengan analisis-analisis yang beredar bahwa Portugal adalah tim buruk, dengan permainan buruk, mereka dengan enteng menukas: “Yo uwis.” Biar saja.

Untuk membuat suasana tetap gayeng, sementara jam pertandingan masih jauh, saya berinisiatif memutar film untuk bocah-bocah itu. Ya, sudah dalam beberapa kali kesempatan saya memerankan diri menjadi apa yang di waktu kecil dulu sangat saya idamkan: jadi operator video. Saya pernah sukses membuat layar tancap kecil-kecilan dengan penonton para bocah beberapa waktu lalu dengan memutar film aksi cum perjuangan tahun 80-an, Pasukan Berani Mati. Dan saya mau mengulanginya lagi. “Ojo India yo, Cak,” mohon bocah yang komputernya saya pakai memutar film. (Haha... betapa sudah tercemarnya reputasi saya.) Mengabaikan beberapa hal, saya putuskan memutar Pendekar Tongkat Emas. Dalam beberapa menit, saya segera bisa melihat bahwa itu film silat sekaligus film Indonesia yang aneh—saya baru menontonnya malam itu. Tapi saya antusias melihat kerumunan yang membesar di depan layar.

Kerumunan menjadi lebih besar ketika di luar tiba-tiba hujan tercurah dengan deras. Anak-anak yang di luar gedung sekolah berhamburan masuk, dan mereka segera bergabung dengan antusiasme layar tancap. Siapa yang nakal dan siapa yang pendiam segera terlihat saat layar memampang adegan ciuman Reza Rahadian dan Tara Basro. Yang nakal bersorak, sementara yang pendiam tersipu. Sempat ada sedikit rasa bersalah, tapi kenangan menonton film-film Suzanna, Warkop, film-film laga brutal sekaligus erotis khas tahun 90-an, di usia yang lebih muda dibanding mereka, membuat saya jadi lebih cuek. Lagi pula, Youtube dan Facebook pasti menjadikan hal-hal begituan tak terlalu istimewa untuk anak-anak remaja sekarang. Film selesai dengan sambutan yang menyenangkan. Jika ada di lokasi, Ifa Isfansyah pasti akan ikut senang.

Yang sedikit kurang menyenang, perapian untuk membakar ikan yang ada di halaman mati total karena dihajar hujan, dan kemudian sama sekali tak bisa diperbaiki. Dari duapuluh kilo ikan salem yang disiapkan, baru sedikit yang sudah matang dan siap santap. Untung nasi dimasak di rumah. Film usai, anak-anak itu—saya juga ikut—menyerbu nasi dan ikan bakar (matang) yang jumlahnya terbatas. Saya masih kebagian ikan, tapi kehabisan sambal kecapnya, sementara beberapa bocah malah hanya makan dengan sambal kecap saja.

Kembali ke depan proyektor, waktu masih setengah satu. Artinya, masih 90-an menit lagi dari final. Tak ada yang membawa kopi, sementara warung kopi pasti sudah tutup. Perut kekenyangan dan takut mengantuk, saya meminta pertimbangan mereka untuk memutar satu film lagi. Mereka sepakat. Saya pilihkan Rango-nya Verbinsky, film animasi yang sudah beberapa kali muncul di TV. Hanya untuk pelintas waktu saja. Tak saya sangka, tak seorang pun dari mereka yang pernah menontonnya. Dan kadal pembual bersuara Jack Sparrow itu pun segera jadi pusat perhatian.

Lalu jam dua tiba. Waktu kick-off menjelang, film yang masih separo jalan harus dihentikan. Beberapa orang tampak berat, tapi tak ada pilihan: ini acara nonton bareng final. Komputer dimatikan, tv dinyalakan. Beberapa orang dewasa bergabung. Juga beberapa orang yang bahkan tidak saya kenal. Anak-anak bergerombol dengan teman sebayanya di barisan depan. Orang-orang dewasa berkerumun menyender dinding, sedikit jauh di belakang. Jika dikasih kaos, kerumunan depan akan didominasi warna merah tua, sementara warna biru akan mencolok di beris belakang. Ketika Prancis mendominasi total babak pertama, memiliki peluang bersih melalui sundulan Griezman dan sepakan Sissoko, kerumunan yang bersandar di tembok terlihat riuh. Bocah-bocah di barisan depan menyembunyikan ketegangannya di balik sarung. Pasti juga untuk menyumpal kuping mereka dari mendengar cemoohan orang-orang dewasa itu terhadap tim yang mereka bela. Ketika Ronaldo yang cedera lutut dipapah keluar lapangan, masuk lagi, dan kemudian benar-benar keluar, cemoohan itu makin membadai. “Huu... pasti dia pura-pura. Agar dia punya alasan kalau kalah!” kata seseorang dari baris belakang.

Memulai pertandingan dengan grogi, banyak salah umpan, Sanchez yang tampak tenggelam, dan puncaknya kehilangan Ronaldo di babak pertama, pasti membuat pendukung Portugal khawatir. Tapi saya malah mengkhawatirkan Prancis. Saya ketemu sedikit dejavu. Banyaknya penguasaan bola, dominasi total, juga banyaknya peluang, namun tak sanggup membuat gol sampai babak pertama usai, Prancis mengingatkan saya dengan Jerman di semifinal. Dan beberapa penyelamatan gemilang Rui Patricio—terutama atas sundulan indah Griezman—seperti tengah mengulang apa yang dilakukan Llorris empat hari sebelumnya. “Kalau gini terus, dan Prancis tak punya solusi, bisa kalah mereka,” bisik saya kepada teman di sebelah.

Di awal babak kedua, Portugal tampak memperbaiki penampilan, dan kemudian semakin membaik dari menit-menit ke menit. Segera kelihatan, Deschamp memang belum menemukan solusi untuk timnya. Tapi bukan hanya Deschamp yang tak menemukan solusi. Kami juga. Dari awal pertandingan, kami mengalami persoalan dengan daya tangkap antena atas siaran—ini sebenarnya masalah klasik kami sejak zaman TVRI masih Menjalin Persatuan dan Kesatuan. Hujan deras barusan tampaknya memperburuk keadaan. Jika gambar di layar televisi memburuk, gambar yang disorotkan proyektor menghilang. Dan seiring berjalannya pertandingan, hilangnya gambar dari tembok yang disorot semakin sering. Telah dicoba menstabilkan arah antena, tapi hanya bisa mengatasi sementara saja. Kabel visual juga coba diganti. Tapi tak banyak menolong. Dalam beberapa kesempatan, kami—ada sekitar 30-an orang—dipaksa memelototi layar televisi. Dan itu tak menyenangkan.

Lalu azan awal dari masjid di sebelah berkumandang. Pertandingan masih duapuluh menitan. Prancis tetap buntu. Portugal, walau kelihatan lebih baik dibanding di awal pertandingan, kelihatan menunggu. Dan beberapa kali gambar di proyekter amblas, dan saya sudah putusasa mengatasinya. Saya simpulkan, Fernando Santos akan menunggu Prancis bosan, seperti yang dilakukannya pada Kroasia; ini akan jadi pertandingan dengan perpanjangan waktu yang kesekian untuk Portugal. Tapi sayalah yang bosan duluan. Ngantuk pula. Saya pun memutuskan pulang.

Sampai di rumah, saya menemukan bapak menonton sendiri, dan Eder masuk lapangan. Mau apa si Santos? Saya ngadal di kursi dengan muka menatap televisi dan bantal menyangga dagu. Lalu, kejadian selanjutnya saya tak tahu.


5/

Saya lebih tua dua tahunan dari Candra ketika menonton Euro saya yang pertama. Itu Euro ’96. Saat itu saya kelas dua SMA. Listrik PLN baru menyala, kalau saya tak salah ingat. Sudah cukup banyak orang yang punya televisi. Meski demikian, saya ingat betul, hanya ada dua tempat yang memungkinkan kami bisa menonton sepakbola malam-malam: Taspan di bagian tengah arah barat, dan Kaji Puad (yang waktu itu belum haji) di ujung utara desa. Tak ada yang namanya nonton bareng, karena semua tindakan menonton sepakbola di televisi adalah nonton bareng.

Jelas tak ada ikan salem bakar dan nasi hangat, lengkap dengan sambal kecapnya. Juga biasanya tak ada sisa nasi di rumah—kalau pun ada pasti sudah basi. Kalau kelaparan, kami bisa mengunduh (dengan diam-diam tentunya) jambu air di samping rumah di pinggir jalan. Meski saya tak pernah ikut, teman saya malah sering menyatroni warung bakso Mbokwak Sudar yang sudah tutup dan gelap, dan mengaduk-aduk panci kuahnya. Syukur kalau masih ada pentol baksonya, tapi kalau tak ada kuah saja dengan diberi saus banyak-banyak rasanya boleh juga. Ada pula yang malam-malam lalu lalang dengan membawa cucukan (pikulan rumput dengan ujung runcing), dan kemudian kembali dengan semangka segar yang dicuri dari dagangan seseorang di pasar. (Yang hidup di kota, tolong, jangan memaksakan diri untuk membayangkannya.) Meski warung kopi sudah ada sejak lama, saya tak pernah merasakan ngopi di warung. Juga di rumah. Selain nasi dan lauk, yang selalu akan habis sebelum jam tujuh malam, tak ada apa-apa di dapur. Emak saya akan membikinkan saya wedang jahe hanya kalau saya sakit. Kalau kuatir ngantuk, saya beli beberapa bungkus Kopiko. Mungkin karena saya tertipu iklan, tapi terutama karena hanya itu yang bisa saya beli dari uang hasil mencuri sisa belanja Emak.

Saya pendukung Argentina sejak mengenal sepakbola, dan menjadi Milanisti sejak melihat mereka dikalahkan Ajax pada final Piala Champion 1995. Tapi seingat saya, saya menyongsong Euro ’96 dengan antusias tanpa menjadi pendukung tim mana pun. Malah, kalau diingat, Euro ’96 justru menjadi titik awal saya menyukai beberapa pemain yang kemudian berujung pada kesukaan saya dengan tim-tim tertentu. Misal saja, Davor Suker. Suka sekali dengan striker Kroasia ini, saya mengikuti karirnya dengan antusias bersama Madrid. Dan dari situlah saya kira saya mulai menyukai Madrid.

Meski begitu, ada satu tim yang mengundang perhatian saya. Mungkin karena terpengaruh tulisan-tulisan bombastis di Tabloid GO, atau ulasan-ulasan asertif dari Bung Kaisar dan Bung Mario di acara Praktik Trang di Radio Suzanna Surabaya (pedoman utama para remaja penggemar bola di daerah Surabaya dan sekitarnya di masa itu). Para cewek mungkin akan menyebut tim itu tim tertampan di Euro ’96. Saya cukup menyebutnya keren saja. Tim ini dikenal sebagai generasi emas. Mereka menjuarai Piala Dunia U-20 dua kali berturut-turut. Ada tiga pemain vital yang setelah turnamen ini bermain bareng di Barcelona: kiper, bek tengah, dan gelandang. Tapi tepat di posisi playmakerlah pemain idola saya berada. Angker dan dingin di wajah, tapi begitu anggun di kaki. Ia bernama Rui Costa, yang bermain untuk Fiorentina. Dan timnya tentu saja Portugal.

Mungkin karena Potugal rontok di perempat final oleh Rep. Ceko, tim ini hanya bisa saya kenang namun tak pernah membekas di hati. Dan saya bahkan menyoraki mereka ketika kalah dari Yunani di final Euro 2004, saat mereka jadi tuan rumah. Kemudian, kemunculan Ronaldo bahkan membuat saya membenci mereka. Dan cara Fernando Santos memainkan tim itu di Euro 2016 menyempurnakannya.

Meski demikian, saya samasekali tak punya beban memberi selamat kepada Candra dan kawan-kawan sebayanya: bocah-bocah yang mendukung Portugal karena mereka menyukai Ronaldo, striker hebat itu. Sebab, kalau saja duapuluh  tahun lalu, Rui Costa bisa membawa timnya menjuarai Euro ’96, saya pasti akan sebahagia mereka.


6/

Euro 2016 banyak memberikan kekecewaan. Rerata gol yang rendah, permainan bertahan, tim-tim bagus yang rontok terlalu awal, final-final kepagian, dan—tentu saja—Portugal. Tapi, selain dengan kemenangan dan kejayaan, bukankah dengan cara itulah, sepakbola selalu membuat kita menunggu pertandingan berikutnya, musim berikutnya, dan turnamen berikutnya? Kita ingin mendapatkan penebusan. Meskipun, biasanya kembali gagal.

Untuk saya pribadi, ini adalah Euro yang tak selesai. Setelah mengikuti ribuan menit dari setidaknya 40 pertandingan, saya malah melewatkan 40 menit paling menentukan di pertandingan final, dan setidaknya 10 menit paling membanggakan bagi sejarah sepakbola Portugal. Saya membenci Ronaldo, dan telanjur tidak menyukai Portugal. Tapi, saya tak yakin, apakah di detik ketika Ronaldo mengangkat pot perak itu, saya sanggup untuk tak bertepuk tangan untuknya. Untuk mereka.     


Jogja, 19 Juli 2016