Friday, October 26, 2018

Arsenal Setelah Arsene Wenger


Oleh Nick Hornby; Terj. Mahfud Ikhwan

Sekolah tempat anak-anakku belajar hanya sepelemparan batu dari Highbury dan selontaran tombak dari Emirates. Mereka dengan keras tak memperbolehkan penggunaan ponsel. Tiap pagi, anak-anakku dan teman-teman yang seperjalanan ke sekolah dengan mereka biasa menitipkan ponsel mereka di dapur kami. Ponsel-ponsel itu akan tergeletak diam di situ sampai jam sekolah usai.
Sampai Jumat pagi itu, mereka meletakkan ponsel-ponsel itu sebagai mana biasa, dan aku duduk membaca koran di rumah yang sontak tenang itu. Lalu tiba-tiba ponsel-ponsel itu mulai bergetar dan berbunyi tang-ting-tung secara bersamaan. Hanya ada satu pokok pembicaraan--Arsenal Football Club--yang bisa memantik keributan yang simultan itu.  Bahkan, berita soal serangan bom nuklir Korea Utara boleh jadi baru akan tiba setelah beberapa hari. Ponselku pun mulai ikut-ikutan ribut. Sampai di titik ini, sulit membayangkan hal lain terjadi, selain mundurnya  Arsene Wenger.
Anak-anak yang menitipkan ponselnya di rumahku tiap hari itu rata-rata berusia awal belasan. Tak satu pun di antara mereka pernah menonton Arsenal main di Highbury; bila dipukul rata, mereka mulai nonton ke Emirates antara 2008 dan 2010, dan mereka menikmati masa-masa indah. Mereka menyaksikan Cesc Fabregas dan Robin van Persie di puncak karir mereka. Mereka merayakan tiga kemenangan di final FA Cup dalam empat musim. Mereka ada di sana pada malam ketika Andrey Arshavin mencetak gol kemenangan atas Barcelona, dan malam ketika Thierry Henry melakukan debut ulangnya untuk Arsenal, di usia 35, masuk sebagai pemain cadangan untuk menyontek gol di tiang jauh gawang Leeds United, persis seperti yang dilakukannya saat masih di Highbury.
Bahkan semestinya kejadian-kejadian itu tak perlu dibesar-besarkan. Barcelona memenangi leg kedua dengan gampang, dan gol Henry terjadi tepat di akhir sebuah pertandingan paling jelek yang pernah kusaksikan. Kemenangan di final FA Cup atas Hull City yang mengakhiri paceklik gelar selama sembilan tahun itu memalukan, sampai Laurent Koscielny menyamakan kedudukan di menit-menit akhir.
Sebagian besar, pengalaman anak-anak itu lebih banyak kecewanya dibanding senangnya: jadi penantang juara di awal musim, kemudian habis di bulan Maret; dibantai secara memalukan oleh tim-tim besar di pertandingan besar. (Meskpun, sejauh yang bisa kuingat, tak ada fan Arsenal yang pernah melihat timnya kebobolan delapan gol dalam satu pertandingan, sampai itu terjadi di musim 2011.) Mereka sering menyaksikan Nicklas Bendtner dan Emmanuel Eboue, Philippe Senderos dan Sebantien Squillaci, Johan Djourou dan Carl Jenkinson, Marouane Chamakh, Andre Santos, dan Manuel Almunia main dalam satu pertandingan. Dan para pemain itu tentu saja bertanggung jawab secara langsung atas kehilangan pemain-pemain yang dicintai para pendukung Arsenal, terutama Van Persie dan Fabregas.
Tentu saja benar bahwa sebagian besar penggemar sepakbola lebih banyak susahnya dibanding enaknya, tapi para orangtua bocah-bocah itu mengingat satu hal lain: ada satu windu ketika Arsenal sama hebatnya dengan jagoan-jagoan di Eropa. Punya tiket musiman di masa itu senangnya bukan main; itu paspor untuk menyaksikan sepakbola terbaik di Britania Raya, juga hiburan terbaik di London. Arsenal mungkin tak menang sebanyak yang seharusnya--ngobrollah soal tim The Invincibles 2003-2004 dengan pendukung Arsenal, maka aib kekalahan  atas Chelsea di perempat final Liga Champions akan ia sebut di kalimat berikutnya. Tapi, memoriku tenang masa-masa Arsene Wenger pastilah memasukkan Henry, Dennis Bergkamp, Robert Pires dan Freddie Ljungberg, Patrick Vieira dan Sol Campbell, musim-musim dengan trofi dobel, dan sepakbola yang mencengangkan, bertenaga, dan mematikan. Hal terburuk yang bisa dialami oleh para lawan Arsenal di awal abad 21 adalah mendapat sepakpojok: bukannya mencetak gol, seringnya mereka malah kebobolan.
Tapi bocah-bocah di bawah umur 20 tak ada yang benar-benar ingat hal itu. Ketika para pandit menuduh para pendukung Arsenal yang marah punya ingatan pendek, seseorang bisa saja membantah bahwa ingatan para pandit itulah yang kini terlalu panjang. Jika kalian sudah cukup tua, Masa Keemasan Arsene Wenger itu terasa seperti baru kemarin. Namun, anak-anakku dan teman-temannya sudah muak mendengar tentang apa yang telah dilakukan seorang kakek berumur 68 tahun sepuluh tahun lalu atau lebih. Mereka pening: Arsene Wenger sudah menjadi manajer Arsenal di sepanjang usia mereka. (Bandingkan saja, mereka hidup di bawah empat Perdana Menteri dan melihat sebelas manajer Chelsea.) Namun, mereka juga sangat bersemangat.  Mereka mendambakan masa depan yang lebih baik.
Aku menduga, Wenger tak akan pergi sampai kontraknya habis di akhir musim depan. Ia selalu punya kepercayaan terhadap para pemainnya dan pada kemampuannya sendiri untuk membalikkan keadaan. Namun, kenyataannya, ia tak mampu menemukan tantangan manajerial yang baru sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Sir Alex Ferguson.
Ferguson telah mengalahkan Wenger, menyusul kemudian Jose Mourinho, lalu Manchester City muncul dengan kekuatan uangnya. Namun, Wenger terus saja mencari cara untuk membalikkan keadaan, kemudian frustrasi, dan mulai menjadi rabun.
Bagiku, final Piala Liga pada Februari melawan Manchester City menjadi momen ketika semua kelihatan tak tertolong lagi. Manchester City sudah sangat jauh meninggalkan lawan-lawannya, sehingga kekalahan atasnya tak lagi mengejutkan, juga tak memalukan. Namun, cara kalahnyalah yang menyedihkan.
Dalam hitung-hitunganku, hanya 10 tim yang kalah dengan tiga gol di final persepakbolaan Inggris (Piala FA dan Piala Liga--penrj.) dalam 50 tahun terakhir, waktu yang kuhabiskan untuk menonton Arsenal: 10 dari 100. Dan sebagian besar mereka (yang kalah dengan tiga gol) adalah tim-tim dari liga bawah--baru-baru ini, misalnya, Millwall melawan Manchester United, Bradford City melawan Swansea.
Satu-satunya saat ketika aku melihat Arsenal kalah lebih dari satu gol di pertandingan final adalah tahun 1969, ketika tim Divisi Tiga Swindon Town mengalahkan kami 3-1 di babak tambahan. Itu artinya, bahkan di pertandingan final paling mengecewakan pun, Arsenal masih menyuguhkan rasa gugup yang membuncah dan usaha mati-matian sampai di menit-menit terakhir. Sebagian besar final menjadi pertandingan yang licin: ketika satu tim (di atas kertas) kemampuannya jauh di bawah, mereka biasanya masuk lapangan dengan rencana untuk menghentikan tim yang lebih baik memainkan permainanan mereka. Begitulah cara Wigan mengalahkan Manchester City beberapa tahun lalu, juga ketika Wimbledon mengalahkan Liverpool.
Tak ada bukti adanya ide taktis itu ketika Wenger menghadapi Guardiola. Arsenal melakukan apa yang sering Arsenal lakukan selama lebih dari sedekade ini: gocak-gocek, mutar-muter, sampai kebobolan gol konyol, lalu gocak-gocek lagi, mutar-muter lagi, sampai kebobolan gol lagi, dan lagi.
Aku adalah salah satu dari ribuan pendukung Arsenal yang bubar duluan, saat pertandingan masih 25 menit; ketika peluit panjang ditiup, hampir tak ada lagi pendukung dengan kaos merah dan putih tersisa di stadion. Tak ada amarah, sumpah. Cuma ada perasaan bahwa klub-klub besar itu sudah tak terjangkau lagi oleh Arsenal, namun Wenger dkk. tak ada niatan untuk bersaing dengan cara yang bisa dilakukan klub kecil, misalnya dengan membuang bola, main kasar, atau menutup ruang.
Empat hari kemudian, sedikit di antara kami pergi ke Emirates di malam yang dingin dalam beberapa tahun terakhir, untuk menonton penampilan dan hasil yang sama. Kali ini, aku hanya kuat satu jam. Aku tak pernah meningalkan pertandingan lebih awal, dan aku menentang tindakan tersebut, namun dalam keadaan seperti ini tetap menonton sama saja dengan menyakiti diri sendiri. Setelah pekan tersebut, banyak kursi kosong, ribuan, semua di pertandingan kandang. Sesuatu telah mati, dan ia tak hendak hidup lagi.
Tak akan pernah ada manajer Arsenal yang lebih baik, dan tak ada yang lebih cerdas dan lebih dicintai (melebihi Arsene Wenger). Momen ketika ponsel-ponsel itu mulai bergetar, itu memungkinkan kita melihat totalitas, arti penting, dan kebahagiaan dari karir luar biasa Wenger di Arsenal. Getaran itu sudah terjadi, bagaimana pun, ketika gambar yang lebih besar kembali terlihat. Dan alangkah bagusnya gambar itu.

*diterjemahkan dari “Nick Hornby: Arsenal Free to Dream of Better Future after Arsene Wenger Exite”, ESPN, 23 April 2018. 

Monday, August 13, 2018

Mimpi yang Mustahil Terwujud di Senegal*


Oleh Mark Hann**; Terj: Lubabun Ni’am***


Pada 31 Mei 2002, Senegal membuat dunia sepakbola tercengang dengan kemenangan 1-0 atas juara bertahan Prancis pada pembukaan Piala Dunia di Jepang dan Korea Selatan, kemenangan yang secara simbolis luar biasa atas negeri yang dulu menjajahnya. Sepekan kemudian, Lions de la Téranga (Singa yang Ramah, julukan tim nasional Senegal) menghadapi Denmark. Tertinggal satu gol pada babak pertama, pemain pengganti Henri Camara merebut bola dengan tekel di area dekat kotak penalti timnya. Umpan ke depannya dijentikkan dengan sangat piawai oleh El Hadji Diouf kepada Salif Diao, yang—dengan tanpa menghentikan langkah larinya—mendorong bola ke Khalilou Fadiga di sayap kiri. Diao terus berlari hampir di sepanjang lapangan pertandingan sebelum menerima umpan balik, lalu menuntaskannya dengan kaki luar hingga membuat kiper Denmark tak berdaya.

Ini adalah momen penentu bagi Senegal. Dilihat dari segi apa pun, gol tersebut luar biasa—contoh kerja sama tim yang mengagumkan dan kecekatan serangan balik yang ditakdirkan sebagai salah satu momen terbaik Piala Dunia yang akan terus diputar ulang. Kehadiran Senegal di Piala Dunia bukanlah suatu kebetulan—gol Diao yang mengesankan itu membuktikan bahwa tim tersebut mampu bersaing di level tertinggi. Senegal selanjutnya melaju ke perempat final sebelum dikalahkan oleh Turki, penampilan terbaik tim Afrika yang pernah ada di ajang Piala Dunia, dan dengan itu Senegal mencatatkan diri dalam sejarah.

Keberhasilan tim yang dikenal sebagai Senegal Génération 2002 itu membuat negeri tersebut masuk dalam peta sepak bola dunia, dan menempatkan para pemain Senegal di bawah pantauan para pemandu bakat dan klub-klub Eropa. Sejak 2002, para pemain Senegal semakin banyak direkrut klub-klub Eropa, dan ekspor para pemain berbakat ke Eropa dan tempat-tempat lain pun muncul sebagai bisnis yang menggiurkan. Pada 2015, Senegal merupakan negara pengekspor utama pemain sepakbola dari Afrika, dan rangking kesepuluh dunia (Poli, Ravenel, Besson 2015). Banyak akademi dan sekolah sepakbola yang didirikan dengan tujuan untuk menyalurkan para pemain, mulai dari klub sepakbola yang profesional seperti Diambars dan Génération Foot sampai yang lebih kecil dan oportunis yang berharap meraup keuntungan dari ledakan sepakbola. Imbasnya, jumlah anak muda yang ingin mengejar mimpi karier sepakbola internasional pun semakin meningkat, meski kesempatan untuk mewujudkan hal itu sebenarnya amatlah kecil.

Pada 2014–2016, ketika mengumpulkan data penelitian di Dakar tentang jalan hidup orang-orang yang bercita-cita menjadi atlet, saya rutin mengunjungi sekolah sepakbola yang didirikan Salif Diao, pencetak gol terkenal kala melawan Denmark. Di sini, para pemain muda berlatih dengan harapan akan mengikuti jejak para idola mereka. Bermain dalam pertandingan uji coba di depan para agen dan pemandu bakat dari Eropa, para pemain berharap mendapat kontrak dari tim-tim Prancis, Inggris, atau Spanyol dan menjadi pemain sepakbola profesional yang sukses dan mapan. Diao sendiri merupakan salah satu pemain pertama yang ditransfer dari Senegal ke tim Eropa, mendapat kontrak dari AS Monaco (yang mendirikan akademi sepakbola di Dakar pada 1990-an) sebelum selanjutnya bermain di Inggris untuk Liverpool FC dan Stoke City. Namun, tujuan utama Diao melalui sekolah sepakbola tersebut bukanlah untuk mencetak para pemain internasional elite: ia berharap dapat menggunakan sepakbola sebagai “alat pancing” untuk mendorong para pemain muda berfokus pada pendidikan. Para pemain hanya boleh mengikuti latihan jika mereka dapat menunjukkan bahwa mereka datang sekolah secara reguler, dan beberapa pemain pun telah menerima beasiswa atlet yang prestisius ke universitas-universitas di Amerika Serikat.

Di Senegal, hubungan antara olahraga dan pendidikan ditandai dengan ambivalensi dan ketegangan. Di satu sisi, beberapa akademi dan sekolah sepakbola berusaha untuk memadukan olahraga dan studi, memastikan bahwa mereka yang tidak berhasil sebagai pemain sepakbola profesional dapat mengejar pendidikan tinggi atau pelatihan kejuruan. Di sisi lain, mimpi berkarier di sepakbola dapat menjadi penghalang besar bagi para pemain maupun keluarga mereka. Banyak pemain mengatakan kepada saya beragam cerita umum bahwa orangtua mereka melarang mereka untuk bermain sepakbola, tetapi mereka tetap menyelinap pergi dan hal itu dilakukannya dengan berbagai cara, mengabaikan PR dan mengambil risiko untuk dihukum di rumah dan di sekolah. Sebaliknya, bagi beberapa keluarga, sepakbola dipandang sebagai strategi penghidupan.


Saat penelitian, saya bertemu Moussa, gelandang berbakat berusia 19 tahun dan pemain bintang bagi tim lokalnya. Sang ayah, Ababacar, melihat bakat sepakbola Moussa sebagai investasi bagi seluruh anggota keluarganya, menghujani anak termudanya tersebut dengan berbagai hadiah dan kemewahan seperti kamar tersendiri (sementara saudara-saudaranya mesti berbagi), sepatu sepakbola baru, dan laptop. Namun, hal ini memberi beban berat di pundak Moussa: ia berharap kelak berhasil mendapat kontrak bermain di luar negeri, dan membantu keuangan seluruh anggota keluarganya.

Anak muda lain, Lamine, frustrasi dengan ambisinya untuk bermain di luar negeri. Ia rutin tampil pada pertandingan-pertandingan uji coba di depan para pemandu bakat tapi tak pernah berhasil. Memutuskan untuk mengambil langkah sendiri, ia tersambung dengan agen asal Prancis di Facebook. Lamine diberi tahu bahwa ia harus mengumpulkan separuh uang untuk menutup ongkos penerbangan dan akomodasi guna mengikuti percobaan di sebuah klub divisi bawah Prancis—sejumlah uang yang sangat besar bagi anak muda yang pada dasarnya saat itu tak punya penghasilan. Setelah berhasil mengumpulkan uang dengan meminta bantuan anggota-anggota keluarga yang tinggal di luar negeri, Lamine berhadapan dengan serentetan kerumitan administratif untuk mendapatkan visa—masalah yang menurut orang yang membantunya secara online dapat diselesaikan dengan mengirimkan sejumlah uang tambahan. Lamine menanggalkan rencana tersebut sebelum kehilangan uang terlalu banyak, tapi orang-orang lain tak seberuntung itu: cerita-cerita tentang para pemain dan keluarga mereka yang dikadali untuk menguras tabungan oleh penipu yang mengaku sebagai agen, sudah sangat umum. Dan meski cerita-cerita itu beredar luas di telinga para pemain dan klub, mimpi yang begitu kuat terhadap sepakbola membuat para pemain rentan dieksploitasi (Esson 2015).

Lamine akhirnya tinggal di Dakar, menanggalkan mimpinya untuk menjadi pemain sepakbola profesional dan memilih untuk membangun sebuah keluarga. Ia berhasil mendapat pekerjaan biasa (jika bukan berupah rendah dan tak tetap) di dapur hotel, tapi tahun-tahun—hampir satu dekade—yang ia habiskan untuk mengejar kontrak sepakbola itu kini berbalik menyerangnya. Tekadnya pada sepakbola menghalanginya untuk membangun penghidupan yang lebih stabil melalui sekolah, magang, atau pelatihan kejuruan, membuatnya kehilangan pendapatan dan dengan begitu menunda masa kerja. Meski ia berhasil menikah, ia tak mampu membeli rumah atau bahkan sepetak kamar untuk dirinya sendiri, sehingga ia dan istrinya tetap tinggal dengan keluarga masing-masing. Jadi, dampak sosial dari karier sepakbola yang tak tergapai dapat dialami berupa penundaan kehidupan dewasa—atau dalam kasus-kasus lain yang saya temui, pengangguran jangka panjang atau penyalahgunaan obat.

Harapan untuk menceburkan diri dalam industri sepakbola global telah menarik ribuan anak muda dan para lelaki, yang mengambil risiko besar ketika melakukannya. Meski kasus-kasus tertentu seperti perdagangan anak melalui sepakbola dan eksploitasi telah membetot perhatian media, semua itu hanyalah kejadian spektakuler dari dampak terjauh industri sepakbola. Kenyataan sehari-hari yang terjadi adalah ribuan anak muda menyerahkan seluruh hidup mereka dan berlatih habis-habisan untuk mengejar mimpi yang hampir mustahil terwujud. Sepakbola dapat memberi imbalan besar bagi mereka yang beruntung dan berbakat yang dapat mewujudkannya, tetapi keberhasilan yang diraih oleh segelintir orang itu bergantung pada jerih payah rekan-rekan satu tim mereka yang tak terbilang jumlahnya yang berjatuhan di tengah jalan.

Untuk kali pertama sejak keberhasilan Génération 2002, Senegal kembali ke Piala Dunia pada musim panas kemarin. Selain memenangkan pertandingan pembuka dan mengesankan para penonton dengan penampilan yang cerdik dari segi taktik, mereka tersingkir dari kompetisi pada babak penyisihan grup melalui peraturan fair play, menerima kartu kuning lebih banyak daripada pesaing mereka, Jepang. Selain para pemain skuat U23, semua pemain Senegal berlaga di liga-liga utama Eropa, dengan hampir separuhnya merupakan lulusan akademi-akademi di Senegal sebelum menerima kontrak bermain di luar negeri. Separuhnya lagi merupakan anggota diaspora Senegal, yang kebanyakan lahir dan berlatih di Prancis. Beberapa pemain diaspora dipandang dengan penuh curiga dan awas oleh para suporter di Senegal. Mbaye Niang, penyerang kelahiran Prancis yang saat ini bermain di Italia untuk Torino, awalnya menolak kesempatan untuk bermain buat Senegal supaya bisa bergabung dengan tim nasional Prancis. Tetapi, ketika tampaknya ia tak akan dipilih oleh Prancis, ia memutar haluan dan menyatakan kesetiaannya pada Senegal—keputusan yang direspons dengan kegeraman dan kecaman oleh para suporter Senegal yang menuduhnya kurang patriotik. Momen penebusannya datang pada pertandingan pertama Piala Dunia, ketika gol yang dicetaknya dan penampilannya sebagai man of the match sangat berarti bagi kemenangan Senegal atas Polandia.

Meski tersingkir dari penyisihan grup, Senegal dapat membusungkan dada sebagai tim Afrika terbaik pada Piala Dunia 2018—penampilan Mbaye Niang, Sadio Mané, dan rekan-rekan satu tim mereka merupakan kisah keberhasilan di bidang olahraga yang memberi harapan bagi bangsa yang dalam beberapa tahun terakhir ini semakin bergeser pada olahraga gulat yang luar biasa populer. Tetapi, begitu sepakbola Senegal kembali ke tingkat global, penting untuk memikirkan ongkos sosial yang tersembunyi di balik keberhasilan tersebut. Senegal tetaplah berada di pinggiran industri sepakbola global yang ditandai dengan ketimpangan yang tajam, dan sebagian besar orang yang bercita-cita menjadi pemain sepakbola tak akan mewujudkan mimpi karier profesional sepakbola mereka. Hal ini meninggalkan mereka dalam posisi yang tak menentu—posisi yang Diao dan sebagian kecil sekolah sepakbola berusaha untuk mengubahnya dengan memadukan olahraga dan tujuan-tujuan pendidikan guna memastikan bahwa para pemain sepakbola yang “gagal” memiliki sesuatu untuk kembali bangkit. Karena keberhasilan tim saat ini tak diragukan lagi akan mengilhami generasi baru anak-anak muda untuk mengejar karier di sepakbola, penanganan masalah ini pun menjadi semakin penting daripada sebelumnya.



* Artikel ini diterjemahkan tanpa izin dari naskah asli berjudul “Senegalese Football’s Impossible Dream” (http://www.anthropology-news.org/index.php/2018/07/10/senegalese-footballs-impossible-dream/). 

**Mark Haan adalah kandidat doktor antropologi di Universitas Amsterdam, Belanda. 

***Lubabun Ni’am adalah mahasiswa S2 di bidang Sosiologi, Universitas Wageningen, Belanda; produk kurang berbakat dari pembinaan usia dini Persatu Tuban, dan penggemar Inter Milan yang malang.



Wednesday, July 11, 2018

TIMNAS INGGRIS 2006

Oleh Nick Hornby; Terj. Mahfud Ikhwan

Langsung saja kita kembali ke tahun enampuluhan, ketika aku mulai menonton sepakbola. Inggris baru saja memenangkan Piala Dunia 1966 dan, dengan demikian, tak terbantahkan, merupakan tim terbaik di dunia. Fakta, titik, akhir cerita. Benar bahwa gol kemenangan di final itu seharusnya tak dihitung; pun, benar juga, bahwa tim Brazil dan Pele secara sistematik dibuat kalah di turnamen itu--Pele bolak-balik digotong dengan tandu setelah pelanggaran brutal yang kesekian. Tapi tetap saja, ya kan? Inggris yang terbaik! Mungkin!
Dan kami adalah tim terbaik kedua di Piala Dunia 1970. Jelas, meskipun seseorang harus sedikit lebih kreatif untuk menunjukkan buktinya. Ya, Inggris memang tersingkir di perempatfinal, tapi seharusnya tidak. Mereka unggul 2-0 melawan Jerman hingga pertandingan tersisa 20 menit, dan akhirnya dipaksa kalah 3-2. Brazil adalah tim terbaik di 1970, jauh mengungguli lawan-lawannya. Namun, mereka hanya unggul tipis dari kami di babak grup, 1-0. Dan Jeff Astle membuang peluang menyamakan kedudukan di menit-menit akhir pertandingan. Seharusnya pertandingan berakhir 1-1. Padahal, Brazil menggulung semua lawan. Maka, kesimpulannya: kami jelas-jelas tim terbaik di 1966, dan lumayan terbaik--mari Brazil kita kasih sedikit kredit, agar setera dengan kita--di 1970.
Kemudian, semua jadi serba salah. Sepertinya untuk seterusnya.

Sebagai permulaan, aku jadi lebih dewasa, dan menjadi jauh lebih terganggu soal apa artinya menjadi bagian dari negara, sementara timnas Inggris jeleknya minta ampun. (Aku mungkin tidak terlalu pusing dengan soal nasionalisme dan patriotisme ini jika mereka lumayan bagus.) Tim yang sama bagusnya dengan Brazil itu bahkan tak lolos babak kualifikasi untuk Piala Dunia 1974 dan 1978; para pemain kelas dunia yang dianugerahkan kepada kita di tahun enampuluhan sudah pergi, dan pada tahun delapanpuluhan, soal sepakbola dan patriotisme ini menjadi lebih rumit lagi.

Terlintas jelas di pelupuk mata, di dekade itu, pertandingan-pertandingan timnas Inggris seringkali hanya bisa dinikmati di tengah-tengah kelimun gas airmata, yang biasa dipakai polisi-polisi negara Eropa untuk membubarkan hooligan kita yang ribut. Pendukung timnas Inggris dengan segera berubah menjadi segerombolan penjahat. Dan meskipun pertandingan-pertandingan di tingkat klub juga terjangkiti kerusuhan, itu tak ada apa-apanya. Jika kamu nonton pertandingan timnas di Wembley, sebagaimana yang masih aku lakukan, sekali waktu kamu akan ketemu orang di sampingmu melakukan salut ala Nazi ketika lagu kebangsaan dinyanyikan. Menghina pemain berkulit hitam--bahkan jika pemain itu bermain untuk Inggris--adalah sesuatu yang biasa.

Pada masa itu, Wembley sanggup menampung 92 ribu orang; tampak tidak kebetulan bahwa ada 92 klub profesional di seluruh Inggris. Kadang kala terasa bahwa seribu fan paling busuk dari setiap klub berkumpul bersama di Wembley, menirukan suara monyet dan menyanyikan lagu-lagu anti-IRA. Orang-orang itulah yang berjasa membentuk ketakutan dan kengerian khalayak atas dua bendera kita. Jika kalian melihat seseorang yang berjalan ke arahmu dengan kaos bergambar bendera salip Santo George atau Union Jack, kalian akan disarankan lebih baik menyingkir. Kaos itu kadang-kadang punya gambar dan slogan lain, yang boleh jadi berbunyi: "Aku rasis, tapi aku membencimu apa pun warna kulitmu"; atau, kaos dengan gambar grafiti hasil jepretan fotografer Philadelphia Zoe Strauss yang bertuliskan: "KALAU KAMU BACA INI BERARTI KAMU BANGSAT". Jika mereka tak ngapa-ngapin kamu, maka anjing pit-bull mereka yang akan menggigitmu.

Maka, cukup bisa dimengerti kalau lambat laun sebagian fan semakin hilang rasa dengan timnas Inggris. Pada 1990, ketika Inggris bertanding lawan Kamerun di perempatfinal Piala Dunia Italia, tak sulit menemukan orang Inggris (kelas menengah, biasanya liberal, tapi bisa juga siapa pun) yang ingin Kamerun menang. Aku nonton pertandingan itu dengan sebagian dari mereka. Ketika Inggris ketinggalan 1-2 (meskipun kemudian bisa menang dengan 3-2), orang-orang itu bersorak. Aku bisa mengerti sikap mereka, tapi tentu saja aku tidak bisa bersorak bersama mereka. Itu agak mengejutkanku. Orang-orang mabuk itu, para bajingan rasis yang berselimut bendera Inggris itu... bagiamanapun adalah orang sejenisku, tak seperti (sebagaimana yang sejak awal kupikirkan) teman-teman liberalku yang budiman yang nonton bersamaku. Dan timnas Inggris adalah timnasku. Maksudku, kalian tak bisa memilih, 'kan?

Piala Dunia 1990 memang jadi sebuah titik balik. Tim itu tidak malu-maluin--setidaknya setelah pertandingan pembuka. Terlepas dari tawuran kecil-kecilan yang ganjil, para fan Inggris juga tak malu-maluin amat. Pada akhirnya, Inggris kalah, tipis dan secara gagah berani, dari Jerman, lewat adu penalti, di semifinal. (Inggris, kebetulan, pada enam Piala Dunia terakhir, sudah empat kali dipulangkan kalau tidak oleh Jerman ya oleh Argentina, dua negara yang punya urusan dengan kami di masa lalu. Kalian yang familiar dengan koran-koran tabloid kita yang bawaannya ngajak ribut itu bisa membayangkan bahwa kesialan di Piala Dunia itu tak akan menyumbang apa-apa bagi perdamaian dunia.) Setelah beberapa dekade tidak karu-karuan, tim nasional, dan olahraga nasional ini, sekali lagi bisa berselimutkan kehangatan kasih sayang seluruh bangsa.

***
Kelahiran kembali itu pupus dalam lima menit. Akibat salah tunjuk manager, Inggris kembali gagal lolos kualifikasi. Dan pada 1998, sepakbola sudah menjadi permainan yang berbeda. Prancis memenangi Piala Dunia 1998, namun hanya beberapa gelintir pemain di tim itu yang main di Prancis. Para pemain kunci mereka, Zidane dan Desailly dan Deschamps, bermain di Italia; sisanya main di Spanyol, Inggris, atau Jerman. Sementara itu, para bintang besar di sepakbola Inggris adalah Zola dari Italia, Bergkamp dari Belanda, Schmeichel dari Denmark. Manchester United, klub terbesar di Inggris, memang mendasarkan kekuatan intinya pada para pemain muda Inggris, termasuk di dalamnya David Beckham. Namun, Arsenal, timku, yang dengan nyaman memenangkan Liga, telah mencampur kegigihan ala Inggris dengan kelihaian ala Prancis dan Belanda. Para pemain asing, yang jadi bagian terbesarnya, lebih baik, lebih fit, dan lebih murah, dan mereka juga lebih sedikit minum. (Orang seperti Bergkamp dan Henry jelas-jelas menjadikan tirakat sebagai tebusan bagi karir atletnya, namun sikap macam ini kadang dianggap sebagai sebentuk kecurangan oleh kebanyakan pesepakbola Inggris.) Belum lama terjadi, mayoritas pemain di divisi teratas sepakbola kita datang dari luar Kepulauan Inggris.

Globalisasi dan pasar transfer menusuk sepakbola internasional tepat di ulu hati. Di masa-masa lalu, kita terbiasa menonton pemain terbaik di setiap klub dan berpikir: "alangkah hebatnya jika pemain-pemain terbaik itu main bersama?" Dan jawabannya adalah seperti apa yang kita lihat dalam tim nasional--meskipun itu idealnya, karena kenyataannya, timnas, khususnya timnas Inggris, seringkali kali kurang terlatih dan salah urus. Sekarang, Chelsea, MU, Real Madrid, Juventus, duo Milan, dan Barcelona telah menggantikan timnas sebagai tim sepakbola fantasi. Jika di timnasmu tidak ada pemain dari klub-klub tersebut di atas, itu bukan berarti klub-klub tersebut tidak mau, tapi karena para pemain di timnasmu tidak bagus. Dalam beberapa tahun terakhir, timnas Inggris melorot akibat harus memilih pemain yang belum tentu terpakai di klubnya, dan kenapa pemain itu dipilih sudah sama sekali berubah. Dulu, seorang pemain berkelas timnas sudah pasti jadi pilihan utama di klubnya. Sekarang, tergantung--sebagus apa klubnya, dan sebagus apa timnasnya.

Bagaimanapun, tak diragukan lagi, impor pemain asing membuat pemain Inggris harus mengeluarkan kemampuan terbaiknya, kadang kala dengan ogah-ogahan, agar bisa bersaing. Kita sudah terbiasa dengan permainan itu, dan itu-itu juga ('kita' di sini boleh jadi merujuk kepada semua penduduk negeri ini); kita tidak terlalu mengkhawatirkan tim dari negara lain, sebab kita bertanding lawan mereka hanya sesekali dalam beberapa tahun. Sekarang, para pemain Inggris bermain bersama atau melawan tim terbaik dunia setiap pekan, dan mereka mesti cepat belajar agar bisa tetap ikut bermain, dan tetap mendapat pekerjaan.

Mereka yang tahu bola akan bilang bahwa timnas Inggris diperkuat oleh beberapa pemain terbaik dunia. Wayne Rooney masih remaja ketika Piala Eropa 2004. Namun, ketika ia pincang karena cedera saat pertandingan melawan Portugal, timnas Inggris jadi berantakan. Ia sangat kuat, sangat lihai, dan sebelum mendapat kartu merah, mungkin karena memaki, ia menciptakan salah satu gol terbaik yang pernah kita lihat. (Pada sebuah pertandingan melawan Arsenal, Rooney diperkirakan bilang 'fuck off' kepada wasit 20 kali dalam 60 detik. Karena "pelanggaran dan makian" diganjar kartu kuning, kita bisa menduga bahwa apa yang dikatakan Rooney adalah kata-kata yang betul-betul buruk, yang lebih buruk dari f*** atau c***, yang hanya pemain bola yang tahu dan kita tidak.) Frank Lampard dan John Terry adalah pemain-pemain terpenting di Chelsea, yang bila diukur dengan iklim ekonomi saat ini berarti bisa dianggap sebagai dua pemain terpenting di Eropa--jika tidak begitu, mereka pasti sudah kerja di tambak garam sekarang. Ashley Cole boleh jadi adalah bek kiri terbaik di dunia, itulah kenapa ia tidak mau lagi main di klubku, Arsenal, lebih lama lagi.

Setidaknya, separoh pemain timnas Inggris saat ini sungguh bagus. Maka, ketika mereka kalah di perempatfinal, seperti biasanya, yang muncul adalah kemarahan yang tidak penting alih-alih pasrah.

Menjelang pengujung babak kualifikasi Piala Dunia 2006 yang tak mengesankan, Inggris dipaksa menyerah 1-0 dari Irlandia Utara, yang sebagian besar pemainnya bermain di tim-tim gurem di Inggris Raya. Saat pertandingan, kalian hampir-hampir bisa melihat para pemain bintang Inggris berpikir: "ngapain aku di sini, di tempat sampah ini, bertanding melawan para pecundang?" (Fakta bahwa para pecundang itu memenangkan pertandingan tampaknya tidak terlalu mereka ambil pusing.) Tentu saja sulit menilai sebuah tim nasional hanya dalam 90 menit, jadi tunggu setidaknya sampai putaran final Piala Dunia dan setelahnya. Lalu, beberapa pekan kemudian, setelah kemenangan di menit terakhir di sebuah pertandingan yang tak ada artinya namun menegangkan melawan Argentina, kita semua telah menyimpulkan: Inggris akan jadi juara Piala Dunia.

Gambaran ini sedikit membaik: biasanya, kepercayaan nasional kita membumbung setelah kemenangan tipis dari Irlandia, sebelum kemudian dihancurkan oleh tim yang lebih baik. Sekarang kita punya sekelompok pemain kosmopolitan yang lebih 'ndenger' (atau para primadona yang gemerlapan, tergantung dari pandangan dunia, usia, dan koran apa yang kita baca), yang tak mudah diganggu, kecuali kalau ada kesempatan.

Enambelas tahun lalu, Inggris bertanding imbang melawan Swedia, hasil yang menjamin mereka lolos Piala Dunia 1990. Gambar abadi dari pertandingan itu adalah saat kapten Inggris, Terry Butcher, menyapu bola dengan kepala diperban, dan kaos putih timnasnya yang bersimbah darah yang menetes dari kepalanya yang terluka nyaris sepanjang pertandingan. "Di luar lapangan, aku adalah orang biasa yang lemah-lembut," kata Butcher pada wawancara setahun kemudian. "Namun, begitu aku pakai seragam timnas, aku merasa seperti pakai topi baja dengan sepucuk bayonet yang terhunus. Merdeka atau mati!"

Begitulah orang Inggris lama: bayangan tentang perang, menganggap penting pertandingan 0-0 melawan tim semenjana, pergantian tak terhindarkan bakat dan gaya dengan darah dan luka-luka. Hal itulah yang bikin pening David Beckham, kapten Inggris saat ini, yang bisa mengaku pakai topi baja dan kepala berperban jika dan hanya jika ia terpaksa pakai di sebuah klab malam dengan fashion konyol di Eropa.

Tentu saja itu tidak adil. Di luar wajah dan uangnya, Beckham juga telah bekerja sangat keras untuk menambal apa yang ia kurang sebagai pemain, terutama kecepatannya. Namun, tak diragukan lagi, ia adalah gambaran yang brilian tentang olahragawan Inggris jenis baru: profesional, sadar-media, sesekali marah-marah, dan sangat-sangat kaya.

Maka, lebih dari mencurigakan rasanya ketika para pendukung timnas Inggris yang menonton pertandingan persahabatan melawan Argentina (dilangsungkan di Jenewa, entah apa alasannya) masih menyanyikan lagu "Jangan Menyerah kepada IRA"; mereka masih mencari-cari sosok Terry Butcher dengan bayonetnya dan bukannya David Beckham, orang yang baru-baru ini difoto sedang pakai sarung. Padahal, Inggris macam itu sudah lewat. Kita sudah membom Jerman; dan, setelah 60 tahun, lamat-lamat sudah muncul dugaan bahwa hari-hari itu tak akan terulang lagi dalam waktu dekat; dan dalam pada itu, kita harus menyandarkan diri kepada bocah ganteng kaya yang pakai sarung untuk menendang orang Argentina untuk kita. Kita tak senang dengan itu, tapi mau bagaimana lagi?

***
Pada Piala Dunia 1998, saat paling menegangkan bagiku datang ketika Viera dari Arsenal menyodorkan bola kepada Petit dari Arsenal untuk menciptakan gol ketiga Prancis atas Brazil di final. Aku melonjak-lonjak. (Pagi berikutnya, the Daily Mirror, yang dieditori oleh seorang pemegang tiket musiman Arsenal, menulis kepala judul: ARSENAL JUARA PIALA DUNIA--halaman depan itu aku pigura.) Viera dan Petit adalah bocah-bocahku: aku menghabiskan lebih banyak hari dalam setahun membenci para pemain Inggris demi mereka; jika ada para bangsat dari Manchester United atau Chelsea berhadap-hadapan langsung dengan mereka, bocah-bocah Prancis-ku yang ganteng dan berbakat itu, aku tak ada keberatan kalau bangsat-bangsat itu dibereskan. Itulah saatnya kamu bisa memilih. Allez, les blues.

*diterjemahkan dari "Fan Mail", Nick Hornby, 2013

Tuesday, July 3, 2018

Menonton Belgia vs Inggris, Mengingat Dinamit Denmark


Oleh Mahfud Ikhwan

"Bilang kepada para pemainku untuk mengalah? Itu tidak akan kulakukan. Itu bukan jiwa sepakbola," begitu kata pelatih Sepp Piontek, menjelang pertandingan terakhir grup antara tim yang diasuhnya, Denmark, melawan tim dari negaranya, Jerman Barat, di Grup E Piala Dunia Mexico 1986.
Padahal, skenario menarik sudah menunggu di babak selanjutnya. Jika kalah, Denmark akan menjadi runner-up grup dan akan menghadapi pemimpin klasemen grup F, Maroko, tim Afrika yang tampil mengejutkan, yang mengungguli Inggris, Polandia, dan Portugal di grup mereka. Kalau mereka imbang atau menang, mereka akan memimpin klasemen grup dan menghadapi runner-up Grup D sekaligus lawan yang lebih alot, Spanyol, finalis Piala Eropa 1984, dengan Butragueno-nya.
Itu pilihan mudah, bukan? Lagi pula, apa janggalnya kalah dari Jerman Barat?  
Tapi Piontek dan para pemain Denmark lebih memilih "jiwa sepakbola" dibanding lawan enteng di babak berikutnya. Tim yang beberapa hari sebelumnya merebut hati dunia setelah membantai juara dunia dua kali Uruguay 6-1 itu maju dengan gagah berani dan sepenuh hati. Jerman Barat mereka hantam 2-0. Untuk kemenangan itu, Denmark bahkan mesti kehilangan pemain terpenting mereka, Frank Arnessen, yang terkena kartu merah.
Tiga hari kemudian, tanpa Arnessen, tim yang sama, yang membabat dua juara dunia di babak grup itu, dibantai 5-1 oleh Spanyol. Butragueno mencetak empat gol.
Secara statistik, tim itu tak ada apa-apanya dibanding tim yang mereka kalahkan di babak grup, Jerman Barat, yang kemudian muncul sebagai finalis—dan empat tahun kemudian menjadi juara dunia di Italia '90. Bahkan, jika diukur dari capaiannya, mereka bukan tim Denmark terbaik yang pernah ada. Meski dianggap sebagai paling menarik di Piala Eropa 1984, mereka tak punya tropi sebagaimana tim Denmark (yang telah sama sekali berbeda) di Piala Eropa 1992. Tim ini juga tak melaju sejauh tim Denmark di Piala Dunia 1998. Tapi, merekalah Dinamit Denmark. Ya, Dinamit Denmark yang terkenal itu. Salah satu tim terbaik yang pernah ada dalam sejarah sepakbola.
Lewat buku Danish Dynamite: The Story of Football’s Greatest Cult Team (2014), Rob Smyth dkk. mengantar kisah menggetarkan ini kepada kita dengan indah dan menggebu.
***
Saya memikirkan kalimat Piontek dan tim Dinamit Denmark-nya itu sepanjang menonton pertandingan "penentuan" di Grup G antara Belgia vs Inggris.
Itu adalah pertandingan yang di atas kertas tampak paling menjanjikan untuk menjadi pemungkas babak grup Piala Dunia 2018. Para pengamat, grafis di koran-koran cetak, juga komentator-komentator di layar televisi, membayangkan tentang pertemuan familiar namun sengit pemain-pemain terbaik di Liga Inggris dalam pertandingan ini: dua bek Inggris, Walker dan Stone, akan bertemu sejawat Man City-nya, De Bruyne; sementara Kane akan bermuka-muka dengan dua bek yang jadi rekannya di Spurs, Alderweireld dan Vertonghen. Itulah kenapa, sejak sebelum Piala Dunia mulai, saya menjanjikan kepada Jawa Pos untuk menulis pertandingan itu.
Tapi kening saya dibuat berkerut bahkan sejak daftar pemain terpampang di layar: Ingris mengganti delapan pemainnya dari pertandingan melawan Kostarika, sementara Belgia mengganti sembilan pemainnya dari pertandingan sebelumnya. Sejak pagi saya memang menemukan analisis-analisis akal-akalan, mulai dari media-media Inggris sendiri, macam The Sun, hingga status-status facebook sok tahu sepakbola, bahwa Inggris mesti jadi nomor dua agar ada di jalur yang lebih empuk, dan bisa melaju lebih jauh. Karena itu, saya tak terlalu kaget dengan daftar pemain yang dikeluarkan, baik oleh Southgate maupun oleh Martinez. Tapi mereka tak bisa mencegah pikiran buruk saya—dan siapa saja yang mengerti sepakbola—bekerja.
Tentu saja, tak ada  yang terlanggar di sini. Tak ada satu pun aturan yang mereka tabrak. Mereka menurunkan pemain yang sah. Mereka juga bertanding dengan normal. Kedua tim, misalnya, tak melakukan apa yang dilakukan Jerman (Barat) dan Austria pada Piala Dunia 1982, dengan hanya saling mengoper bola sepanjang nyaris 80 menit, setelah keduanya sama-sama memastikan diri lolos, dan sama-sama memastikan Aljazair tersingkir. Baik Inggris maupun Belgia saling menyerang, terlihat ingin memenangi pertandingan.  
Di sisi lain, sebagai penggemar sepakbola, ada banyak hal yang menyenangkan dari diturunkannya "tim berbeda" di pertandingan ini. Saya suka Mousa Dembele sejak di Fulham. Dengan diistirahatkannya Hazard dan De Bruyne, Dembele yang biasa turun agak telat, menjadi bos sepanjang pertandingan. Dan itu menyenangkan. Pertandingan ini juga menyadarkan kita, sepotong berlian terlupakan bernama Adnan Januzaj, yang terbuang dari Old Trafford, terlunta-lunta bersama Sunderland, dan kini mencoba menemukan kembali dirinya bersama Sociedad di Spanyol, ternyata tak pernah kehilangan gilapnya.  
Di sisi Inggris, menyaksikan penyerang tipe jadul macam Jamie Vardy yang makin langka itu tak kalah menyenangkannya. Untuk penggemar MU, apa kalian tak girang melihat Phil Jones nongol di Rusia? Dan, hei, jika kalian pencinta Inggris dan pengkritik keras Jose Mourinho karena alerginya dengan pemain muda, ini kesempatan yang mewah menyaksikan pemain-pemain muda berbakat macam Rashford dan Alexander-Arnold jadi elemen penting tim.
Jadi, sekali lagi tak ada yang salah. Semua terlihat tak ada masalah. Selain, tentu saja, semua orang tahu bahwa pemain-pemain terbaik dari kedua tim sedang duduk-duduk selonjoran di bangku cadangan.
Lalu kenapa suara "huuu..." menggema sepanjang pertandingan? Boleh jadi karena penggemar Inggris dan Belgia bosan. Tak seperti pendukung Argentina atau Jerman yang mesti empot-empotan sampai menit terakhir pertandingan ketiga, saya kira mereka sudah merasa lolos ke babak 16 besar bahkan ketika undian grup baru diumumkan, beberapa bulan lalu.
***
Jika tulisan ini terbaca nada moralisnya, mohon maaf. Percayalah, itu bias. Itu lebih karena saya bukan pendukung Inggris atau Belgia. Jika tim saya yang menghadapi pilihan seperti yang dihadapi Inggris, saya kira saya akan dengan gembira mendukung langkah mereka.
Bagaimana pun, Inggris telah memilih (meskipun mereka berhasil membuatnya tampak sebagai bukan pilihan), dan dengan demikian mendapatkan imbalan yang telah dibayangkannya: terhindar dari kemungkinan ketemu Brazil di babak 8 besar. Cuma, tampaknya mereka sedikit lupa memikirkan Kolumbia. Atau, yang mereka ingat tentang Kolumbia sepenuhnya adalah tentang Falcao yang gagal total di MU dan Chelsea? Entahlah. Semoga mereka beruntung.
Lalu, bagaimana dengan kalimat Piontek, Dinamit Denmark, dan “jiwa sepakbola”-nya? Saya kira Southgate dan para pendukung Inggris tak perlu terlalu menghiraukannya. Itu sudah lama berlalu—32 tahun lalu. Lagi pula, apa yang bisa ditiru dari tim yang tak memperoleh apa-apa?


*Dimuat di Jawa Pos, 30 Juni 2018

Monday, July 2, 2018

Brazil yang Melawan Dirinya Sendiri

Oleh Darmanto Simaepa


Tite, pelatih Brazil, lebih suka bicara tentang perasaan atau emosi dari pada membahas taktik atau mengomentari kekuatan lawan. Ia menyebut-nyebut rasa cemas, gugup, dan tekanan. Sangat mudah untuk menerka ke mana arah omongannya.

Brazil punya luka besar yang masih segar. Empat tahun lalu, Brazil mengalami Mineirazo (tragedi Mineiro). Kekalahan 7-1 itu meruntuhkan kepercayaan dan harga diri sepakbola Brazil.
‘Namun, Brazil sudah bisa berdamai dengan dirinya sendiri’, begitu kata Tite sebelum berlaga. Di tangannya, Brazil sepertinya sudah mengatasi kenangan pilu itu. Sepanjang kualifikasi dan ujicoba, mereka tak terkalahkan, bermain dengan penuh gaya dan kepala tegak.

Mereka datang ke Russia dengan percaya diri. Mineirazo seakan-akan sudah lama berlalu. Pemain-pemain yang jiwanya remuk oleh kekalahan itu bangkit dari puing-puing. Ratusan juta warga Brazil yang hatinya masih basah oleh kekecewaan kembali optimis akan peluang timnya.

Di antara tim unggulan, Brazil paling sedap dipandang. Mereka begitu menikmati permainan mereka sendiri. Sentuhan Neymar, imajinasi Coutinho, letupan langkah kecil Marcelo, dan kemampuan Casemiro mendeteksi bahaya seperti menghadirkan kembali tarian samba. Mereka bermain dengan riang tapi tetap tenang, dengan kaki yang lincah dan hati yang membuncah.  

Lalu gol Zuber. Dan tiba-tiba kita menemukan Brazil yang lain. Brazil yang rapuh dan rentan. Mereka seperti sekumpulan bocah-bocah pintar yang gugup dan cemas ketika lawan cerdas-cermat mereka lebih cepat menekan tombol jawaban. Kecerdasan sepakbola mereka seperti menguap ke udara.

Selama lebih dari 15 menit setelahnya, Brazil kehilangan kontrol, tempo dan keanggunannya. Mereka tersesat di lapangan. Bayang-bayang Mineirazo terasa sekali di depan televisi ketika kita mendapati Willian atau Paulinho mengumpan dan berlari seperti pemain Arab Saudi.

Dorongan Zuber ke Miranda barangkali hanya satu momen biasa yang mudah diabaikan. Dan tidak begitu menentukan. Jauh dibandingkan, misalnya dengan sikutan Diego Costa ke tengkuk Pepe. Namun momen itu cukup menelanjangi sisi lain Brazil. Itu adalah Brazil yang kelu dan kedinginan, yang mengigigil ketika bertemu dengan tragedi dan masa lalunya.

Reaksi pasca pertandingan menjelaskan semua. Tite mengumpat wasit dan menunjuk satu momen itu sebagai satu-satunya penyebab mereka gagal menang. Kemarahan Tite, dan juga 200 juta lebih warga Brazil, terhadap wasit ibarat mikroskop yang menunjukkan kanker yang bersemayam di balik kulit mereka. Empat tahun kemo terapi dan dokter yang bagus mungkin telah menghilangkan kanker yang mereka derita. Tapi itu belum menghilangkan rasa takut dan kecemasan tentang kemungkinan kanker itu kembali.

Menonton pertandingan pertama Brazil di Russia ini, terutama selepas Swiss menyamakan kedudukan, melihat bagaimana mereka sedang bertarung dengan dirinya sendiri. Dan ini bukan yang 
pertama kali.

Brazil adalah negara yang menghayati sepakbola dengan sepenuh hati dan segenap emosi. Karena itu, kisah sepakbola mereka sangat ekstrim. Mereka punya sejarah kebahagiaan yang paling hebat sekaligus tragedi paling memilukan. Mereka punya senyuman yang paling ceria tapi sekaligus derai air mata yang tak pernah berhenti mengalir.  

Bermain dengan riang dan penuh keingintahuan, Brazil memberi kita lebih dari sekadar sepakbola. Mereka menciptakan  jogo bonito. Dengan keberanian dan imajinasi, Brazil memberi kita kisah petualangan mengasyikkan di atas lapangan yang dibawakan oleh Garrincha, Jairzinho atau Ronaldinho.

Namun dari sana kita juga belajar bahwa sepakbola bisa tidak mengenal rasa belas kasihan. Moacir Barbosa, kiper kulit hitam yang tidak membuat kesalahan, dihukum seumur hidup oleh sebuah bangsa dengan cara yang tak terperikan. Dianggap sebagi kutukan dan sial yang menggagalkan Brazil juara dunia, kiper terbaik di masanya diasingkan bukan hanya oleh publik sepakbola dan media tetapi juga teman-teman dekat dan anak istri.

Kejayaan Brazil adalah siklus melampaui kegagalan. Habis Maracanazo, mereka berjaya di Swedia. Gagal di Inggris, nomor satu di Mexico. Porak-poranda di Italia, tersenyum di Amerika. Terpuruk di Prancis, juara di Jepang.  

Seperti yang sudah-sudah, pertempuran paling besar yang Brazil hadapi di Piala Dunia kali ini adalah pertempuran melawan bayang-bayang masa lalunya sendiri. Secara teknik, tim ini paling berbakat. Skuad mereka sangat dalam dan merata. Secara fisik, mereka tampak jauh lebih bugar. Secara taktik, mereka juga sangat matang.

Di lima belas menit terakhir melawan Swiss, ketika sudah bisa mengatasi rasa takut dan kecemasan, Brazil menjadi kandidat kuat pemenang Piala Dunia. Permainan mereka menjadi stabil tanpa kehilangan urgensi. Kreatifitas mereka juga keluar tanpa kehilangan kewarasan.

Kali ini, Brazil akan sanggup melewati ketakutan. Lawan-lawan yang sedikit ringan di fase grup akan membantu mereka menemukan kepercayaan dirinya. Kemenangan atas Costa Rica dan Serbia mustilah pelan-pelan menyingkirkan trauma.

Sekali Brazil mampu mengatasi rasa takut, menyembuhkan luka-luka yang masih segar itu dan berdamai dengan dirinya sendiri, pendukung Argentina dan penggemar Lionel Messi seperti saya ini harus siap-siap untuk menghadapi trauma sepakbola yang tak tersembuhkan.


*Dimuat di Jawa Pos, 22 Juni 2018