Thursday, June 14, 2018

Ketika Uni Soviet Gagal Lolos Piala Dunia Secara In Absentia


Oleh Mahfud Ikhwan


Setelah memenangi tiga pertandingan berat melawan Peru, Chile mesti melewati dua pertandingan lagi melawan Uni Soviet untuk merebut satu tempat di Jerman Barat. Ini seharusnya menjadi pertemuan antarkawan lawa, mengingat Chile, di bawah pemerintah sosialis Salvador Allende, adalah salah satu negara di Amerika Latin yang paling bersahabat dengan Uni Soviet. Tapi yang terjadi sama sekali berkebalikan. 

Pertandingan tersebut jatuh di saat yang sangat tidak tepat—dan seharusnya, demi sepakbola, dan lebih dari itu demi kemanusiaan, pertandingan itu semestinya tak pernah ada.

Hanya berbilang minggu saja sebelum pertandingan tersebut dijadwalkan, pemerintahan sah Allende digulingkan. Augusto Pinochet yang didukung Amerika, yang kelak menjadi salah satu diktator paling mengerikan dalam sejarah dunia, adalah pelakunya. Tapi hal paling belum lagi terjadi.

Penggulingan Allende, yang oleh sejarah Chile disebut sebagai “Operasi Jakarta” itu, diikuti oleh penangkapan besar-besaran kalangan komunis dan kaum kiri di seantero Chile. Helikopter-helikopter dikerahkan Pinochet untuk memindai para pembangkang. Pasukan khusus bentukan Pinoche, yang dikenal dengan nama Karavan Kematian, menangkap puluhan ribu orang kiri dan membuat penjara-penjara di Chile tak mampu menampung tahanan politik. Estadio Nacional kemudian dipilih untuk “menampung” para tahanan politik yang tak kebagian penjara. Beberapa waktu kemudian, stadion itulah yang akan dipakai Chile untuk menjamu lawan komunis mereka.

Pertandingan pertama dilaksanakan di Central Lenin Stadium, Moskow. Beberapa pemain Chile yang sekaligus pendukung Allende turun ke lapangan dengan ketakutan. Mendapat bantuan yang agak terang-terangan dari seorang wasit asal Brazil yang antikomunis bernama Marques, Chile menahan tuan rumah Uni Soviet 0-0 di pertandingan yang jauh dari rasa persahabatan itu.

“Tak ada tukar cendera mata, tak ada lagu kebangsaan, dan pemain Uni Soviet menolak makan malam dengan tim Chile,” begitu tulis Carl Worswick di The Blizzard

“Uni Soviet bahkan tak bisa mengalahkan kita main bola!” tulis sebuah koran di Chile keesokan harinya.

Chile ganti menggelar pertandingan kedua kurang dari sebulan kemudian. Mereka tentu saja menawarkan Estadio Nacional, stadion kebanggaan mereka. Itu adalah stadion yang pernah dipakai menggelar pertandingan final Piala Dunia 1964. Juga pertandingan brutal antara Chile melawan Italia yang kemudian dikenal sejarah sepakbola sebagai Pertempuran Santiago. Dan, saat itu tengah dijadikan kamp interniran dadakan sekaligus tempat eksekusi orang-orang kiri. 

Seperti ditulis Worswick, sekitar 40 ribu orang dijebloskan ke dalam stadion itu antara 12 September- 9 November—hanya berselisih kurang dari dua minggu dari jadwal pertandingan. Salah satu tahanan yang disekap di situ adalah Hugo Lepe, mantan pesepakbola sekaligus pemimpin buruh, yang sangat dihormati oleh para pemain timnas Chile

Uni Soviet menolak bermain di stadion itu, dan menuntut pertandingan digelar di tempat netral. “Kami tak akan bertandingan di lapangan yang ternoda darah para patriot Chile,” kata mereka.

Asosiasi Sepakbola Chile sempat goyah, hendak mencari jalan tengah, tapi Junta Militer bersikeras. Dan penilik FIFA—konon, di bawah tatapan dari kejauhan 7000-an tawanan politik yang masih terkurung di dalam stadion—merestui hajatan Junta itu. Perwakilan FIFA menyatakan, “Kehidupan (di Chile) sudah kembali normal”. Akhirnya, 21 November 1973, pertandingan kedua itu dilangsungkan di tempat yang telah ditetapkan. 

Pernah menampung penonton hingga 85 ribu lebih ketika Universidad de Chile bertanding melawan Universidad Catolica pada 1962, hari itu tribun Estadio Nacional hanya diisi oleh 17 ribu penonton (15 ribu kata sumber lainnya). Tapi hal paling aneh terjadi di tengah lapangan. Sebelas pemain Chile bersiap di paroh lapangannya, demikian juga wasit Erich Linemayr dari Austria di lingkaran tengahnya. Tapi, di paroh lapangan lain, tak ada seorang pun pemain Uni Soviet. Mereka telah menyatakan menolak bertanding, sementara FIFA ngotot melangsungkan pertandingan.

Meski tak ada lawan, wasit memerintahkan  para pemain Chile untuk melakukan kick-off. Dan terjadilah adegan tak lazim itu. 

Dalam rekaman pertandingan yang masih bisa ditemukan di internet, empat pemain Chile berlari dengan enggan ke arah gawang kosong, beriringan, saling mengumpan, sementara seisi Estadio Nacional menyemangati timnya, seakan sebuah serangan balik cepat yang memporak-porandakan lawan sedang berlangsung di lapangan. Satu meter di depan gawang, pemain Chile bernomor punggung 19 dengan ban kapten di lengannya (jika tak ada perubahan dengan tim yang turun di Jerman Barat pada musim panas berikutnya, itu pastilah Francisco Valdes) menendang bola ke mulut gawang. Sorakan penonton membahana. Lalu, wasit meniup peluit panjang. 

Pertandingan hanya berlangsung 30 detik. Chile berangkat ke Jerman Barat.

“Pertandingan paling menyedihkan dalam sejarah sepakbola,” kutuk sastrawan Uruguay, Eduardo Galeano. 

“Pertandingan yang benar-benar memalukan, yang seharusnya tak boleh mendapat tempat,” kata Leonardo Veliz, salah satu penyerang Chile di pertandingan konyol itu, dengan getun. “Apa kata orang? Mungkin mereka menertawakan kami,” sesalnya.

Yang lebih buruk lagi, meskipun disebut bahwa para tawanan politik telah diangkut ke Gurun Atacama beberapa hari sebelum pertandingan dilangsungkan, rupanya sebagian kecil masih disekap di dalam stadion. Dan mereka bisa mendengar dengan jelas pendukung Chile menyoraki gol “lucu” itu.  

Sihir Piala Dunia

Oleh Darmanto


Barangkali, tak ada kekuatan gaib—selain Tuhan tentu saja—yang menandingi kehebatan Piala Dunia. Bayangkan.Ia bisa menyihir lebih separuh penduduk dunia yang hidup di ruang dan waktu berbeda untuk bangun dan terjaga tengah malam—tanpa harus diiming-imingi pahala. Dalam hal ini, ia mengalahkan para ulama.

Piala Dunia juga bisa mengeluarkan sihir penenang yang mencairkan segala kekakuan dan ketegangan. Di negara-negara yang didera konflik, ia mampu melunakkan jantung dan hati manusia yang mengeras oleh perbedaan atau kepentingan. Dalam hal ini, Sepp Blatter benar. Sepakbola dan FIFA berhak meraih hadiah peraih Nobel Perdamaian. Jauh lebih pantas dari pada Malala atau Obama.

Sihir Piala Dunia juga dapat melampaui segala pencapaian akal manusia. Filsafat dan ilmu pengetahuan mungkin membantu manusia memahami dunia dan membuat hidup jadi lebih mudah. Namun keduanya tak bisa menandingi sepakbola, misalnya, dalam mengobarkan antusiasme atau mengobati apati dan putus asa. Dalam skala global.

Dengan sastra dan film? Wah, jauh, Bung. Sastra dan film bisa saja mengasah kepekaan dan imajinasi. Konon keduanya dapat memandu penikmatnya menghayati rasa kemanusiaan.
Namun, sepakbola punya keunggulan. Ia lebih efisien.

Sepakbola menghadirkan semua pengalaman dasar kehidupan (tragedi, komedi, drama, epos) dan segenap perasaan (sedih, marah, simpati, empati, sombong,  arogan, terpuruk, jumawa)yang di alami manusia. Hanya dalam waktu 90 menit. Atau lebih sedikit.

Lagipula, sepakbola tak mendorong orang untuk pura-pura pintar atau menyombongkan diri agar dianggap cendekia untuk mengenal satu-dua sari pati kehidupan.

Untuk urusan praktis sehari-hari, Piala Dunia jauh unggul dari Pegadaian. Jika kantor pemerintah itu mampu menyelesaikan masalah tanpa masalah, sihir sepakbola membuat orang bahkan bisa mengabaikan dan melupakan masalah. Errrm, meskipun sementara.

Di kampung saya, Piala Dunia lebih punya daya persuasif. Ketika Kamerun mengalahkan Argentina (1990) atau Bulgaria membekuk Jerman (1994),banyak anak-anak SD yang tiba-tiba gandrung pada geografi, bergegas membuka peta dan buku pintar Iwan Gayo untuk belajar tentang ibukota negara-negara di dunia.Guru paling inspiratif sekalipun tak mampu melakukannya.

Yang agak mendekati kehebatan barangkali cinta,sebab keduanya punya kemampuan merasuki jiwa manusia dan membuatnya mabuk kepayang dan tergila-gila—tak pandang usia dan warna kulitnya.

***

Bagi saya, sihir Piala Dunia lebih memukau dari pada keahlian tukang sulap mana pun yang pernah saya temui. Ia memberi ingatan terbaik bagi masa kanak-kanak saya. Dan ia datang di waktu yang tepat.

Waktu seakan-akan membeku ketika saya menyaksikan aksi kaki Maradona di Italia (1990). Melihatnyamemperdaya empat bek Brazil dan mengirim umpan manis yangdisambar oleh Claudio Caniggia, saya seperti kena gendam permanen yang tak punya kemungkinan untuk disembuhkan.

Saya berumur sepuluh tahun saat itu. Dan sejak itu, dunia ini tak pernah lagi sama.

Gendam itu mengeram di hati dan kambuh tiap empat tahun. Jika kumat, gendam itu membuat saya berhenti menjadi pria dewasa dan kembali menjadi anak sepuluh tahun yang mengalami waham di depan televisi.

Gendam itu memanggil rangkaian ingatan di kepala saya seperti film laga dan drama yang bergerak maju-mundur melintasi waktu. Saat mata saya menatap Iniesta menggelindingkan bola di garis tepi lapangan, kepala saya dipenuhi bayangan Michael Laudrupyang memindahkan bola dari kaki kiri ke kaki kanan dan lalu mengirim sebuah umpan cungkilan.

Begitu pula saat melihat tatapan nanar Leo Messi ke arah trofi Piala Dunia,gambar Maradona menangis tersedu-sedu usai dikalahkan Jerman segera melintas.

Bahkan ketika saya sudah menyeberang tiga lautan dan jauh meninggalkan masa kanak-kanak itu, gendam itu juga masih menempel di kulit ari. Di tahu 2006, untuk bisa menyaksikan semifinal Italia vs Jerman, saya menerabas belantara Mentawai sejauh 23 kilometer semalaman.

Sihir sepakbola mengalahkan rasa letih, nyeri duri rotan dan pedih racun jelatang di badan selama sepekan. Jika mengingatnya, itu adalah satu hal yang terakhir yang akan saya lakukan dalam sisa hidup saya.

Tapi semua ketidakwarasan yang disebabkan oleh Piala Dunia sangat layak dijalani. Kekalahan yang buruk selalu menghadiahi rasa suwung yang sangat dalam, yang nyerinya jauh lebih menyakitkan dari patah hati. Namun pertandingan-pertandingan terbaiknya selalu membuat hati saya membuncah, memberi kebahagiaan yang tak tergantikan oleh kata-kata, suatu perasaan menggelegak yang barangkali hanya muncul saat kita jatuh cinta.

Dan karena itu, di hari-hari menjelang Piala Dunia seperti ini, istri saya menyadari dan akhirnya dengan rendah hati menerima kenyataan sedih ini: ia bukanlah cinta pertama saya.

***

Seperti halnya sihir yang kuat, Piala Dunia juga bisa sangat berbahaya. Ia datang malam hari (yang paling berbahaya tapi sekaligus menggoda muncul di sepertiga malam). Bagi jiwa-jiwa yang rapuh, Piala Dunia penuh tipu daya. Jangan heran jika para pemeluk teguh selalu mengingatkan bahaya sepakbola. Ia lebih buruk dari godaan setan terkutuk karena bisa membuat orang menjauh dari amal ibadah.

Bagi tubuh yang ringkih, daya rusaknya tak kalah dahsyat. Sihir sepakbola melebihi efek gigitan malaria atau serangan anemia. Ia memberi cekung di pelupuk mata yang sangat dalam, mengirim dingin yang menusuk tulang, dan menghilangkan selera makan.

Ia juga bisa membuat orang mengalami panas tinggi, dan memaksa orang bermalas-malasan. Seharian. Lebih buruk dari demam tipus, ia menyerang lebih dari tiga kali sehari. Terutama bagi yang gemar berjudi.

Bagi Anda yang masih bujangan, ingat sepi dan nelangsanya menjadi sakit—bahkan sekedar serangan masuk angin ringan pun. Tak ada yang akan menyuapimu bubur hangat. Atau menarik selimut untukmu. Orang tua Anda sudah terlalu banyak beban.

Jagalah diri. Makan yang cukup dan sehat, minum air putih yang banyak. Kalau perlu siapkan suplemen makanan. Dan jangan lupa punya  nomor tukang pijat langganan.

Bagi yang sudah punya pasangan, Anda juga harus ingat bahwa sihir ini tak begitu mempan bagi perempuan. Anda tahu alasannya kan? Jadi para suami, pandai-pandailah. Siapkan rayuan yang baik atau alasan-alasan yang penuh pertimbangan.

Jika tidak, sihir Piala Dunia akan memanggil puting beliung ke dapur, membuat piring-piring beterbangan, dan mengubah nasi menjadi bubur. Atau lebih buruk lagi, membuat kasur Anda berhenti berderit selama sebulan.

Pembaca yang terhormat, selamat menikmati sihir Piala Dunia!


*dimuat di Jawa Pos, Kamis 14 Juni 2018

Wednesday, May 30, 2018

Setengah Abad Menjadi Pecundang*


Oleh Darmanto Simaepa




Semua orang tahu sepakbola Indonesia tak pernah lagi juara atau berhasil lolos dari kualifikasi Piala Dunia, meski sebagian dari kita terus bertanya-tanya mengapa. Apakah ini karena bakat-bakat pemain tak cukup berkualitas? Apakah ini berhubungan dengan ketidakberaturan kompetisi? Ketidakbecusan pengurus PSSI? Rendahnya dukungan pemerintah? Keterpencilan sepakbola Indonesia dari sistem kompetisi sepakbola Eropa, yang kini menjadi pusat sepakbola dunia?

Dirundung oleh kegagalan demi kegagalan, kita yang sebagiannya malas melakukan analisa dan sebagiannya mudah putus asa ini bisa dengan gampang menyimpulkan bahwa kepecundangan sepakbola Indonesia dikarenakan akumulasi dan komplikasi semua masalah yang bisa kita sebut. Ini adalah cara yang paling gampang dan tak perlu pikir panjang. Setiap alasan sudah pasti akan dibenarkan oleh fakta bahwa kita memang tak pernah menang.

Tapi ini cara yang tak memuaskan, bukan? Coba kita tengok timnas negara lain, yang punya prestasi lebih baik. Tidak, kita tidak sedang melongok ke Jerman. Sedikit lurus ke utara, di belahan utara Semenanjung Korea, ada negara yang terpencil dari sistem dunia tapi ikut Piala Dunia. Di Amerika Latin, federasi sepakbola Brazil dan Argentina tak kalah koruptif dan brengseknya, tapi mereka jadi penguasa sepakbola. Sepakbola Panama di Amerika Tengah atau Nigeria di Afrika juga diurus oleh orang-orang yang sama buruknya, tapi mereka lumayan berprestasi. Kompetisi sepakbola Mesir juga lebih tidak teratur, penuh kekerasan, namun mereka toh menjadi juara Piala Afrika dan kini ada di Piala Dunia.

Lalu apa masalah utamanya, dan bagaimana kemudian mengatasinya?

Ada banyak cara untuk mendekati pertanyaan ini—tergantung posisi Anda. Orang di PSSI melihat masalahnya ada pada pelatih, sementara ketuanya menuding pemain-pemain yang ingin menjajal kompetisi luar negeri dan kontrak yang lebih baik. Para pengamat menyebut-nyebut pembinaan pemain muda dan skema permainan. Presiden melihat kerja menterinya. Keluasan wilayah sering juga menjadi kambing hitam. Sementara, sebagaian besar orang mengarahkan telunjuk kepada pengelola kompetisi.

Sebagai suporter, akan lebih mudah buat saya untuk mengamati apa yang terjadi di kedai-kedai kopi, bangku stadion, atau di gelaran tikar di ruang-ruang keluarga. Atau di halaman olahraga koran/tabloid dan program-program sport di layar kaca. Atau di dinding sosial media. Di tempat-tempat itulah kita bisa melihat jutaan orang yang emosinya naik-turun, ditentukan oleh keberhasilan timnas Indonesia.

Ijinkan saya menyebut agregat orang Indonesia yang ikut terpapar sepakbola Indonesia tanpa menjadi pengurus federasi—termasuk di dalamnya pemain dan pelatih—dengan nama ‘publik sepakbola Indonesia’. Jumlah mereka sangat besar, meski angka persisnya kita tidak pernah tahu. Di hari-hari timnas bertanding, merekalah yang membuat Indonesia seperti sebuah pasar sayur yang besar.

Mereka menonton, memaki, mencela, menulis, tersenyum bahagia, karena sepakbola. Meskipun publik sepakbola terlibat secara pasif dan kurang menentukan dalam aspek teknis-taktis sepakbola nasional, peran mereka tidak sepele. Mereka adalah wajah sepakbola Indonesia. Bayangkan saja timnas bertanding tanpa penonton di stadion dan tanpa disiarkan televisi.

Meskipun relatif pasif, publik sepakbola Indonesia adalah pihak yang tak lepas dari kesalahan atas rusaknya sepakbola kita. Ia tak inosen dan suci. Publik sepakbola, termasuk saya, memiliki masalahnya sendiri, yang langsung maupun tidak langsung berkontribusi terhadap prestasi sepakbola nasional kita.

***

Publik sepakbola Indonesia terkenal di jagad raya sebagai publik yang antusias, berkomitmen, dan punya cinta-tanpa-pamrih terhadap timnas-nya. (Kita, misalnya, bisa memaksa komentator Thailand minta maaf karena mengatakan sesuatu yang tidak mengenakkan di telinga orang Indonesia, dalam bahasa Thai—hal yang agak mustahil terjadi sebaliknya.)

Hari ketika timnas bertanding—dikelompok umur berapa pun dan bermain di manapun—adalah adalah hari besar nasional. Ketika timnas berlaga, siaran televisi menghadirkan siaran langsung dan berita-berita terus memenuhi media. Twitter, FB, Instagram penuh dengan kata-kata dan gambar patriotik. Kantor-kantor tutup lebih cepat. Pasar dan jalanan lengang. Nun jauh di suatu daerah pelosok, orang-orang berjalan kaki menembus hutan dan ngarai untuk bisa menonton bersama ‘pahlawan modern’ mereka.  

Namun, di sinilah masalahnya. Cinta-tanpa-pamrih adalah hal yang mulia buat anak untuk orangtua atau sebaliknya. Cinta tanpa berharap imbalan akan laku sebagai tema fiksi dan cerita sinema. Tapi tidak selalu baik untuk sepakbola.

Dukungan yang meluap-luap bukan jaminan juara. Doa jutaan orang tak mengubah nasib timnas Indonesia. Prestasi tim nasional membaik—dalam pengertian paling hebat tentu saja juara SEA Games—ketika publik sepakbola justru menurun antusiasmenya. Sebaliknya, ketika publik sepakbola Indonesia memiliki cinta-tanpa-pamrih yang luar biasa, justru di saat-saat itulah kita terpuruk. Bukti-bukti kontemporer bisa dideret—dari Piala Asia 2007 di rumah sendiri, hingga masa-masa histeria Irfan Bahdim di Piala AFF 2010. Tapi itu tak terlalu penting. Anggap saja poin saya ini benar.

Lebih luas lagi, cinta-tanpa-pamrih inilah yang turut berkontribusi terhadap ketidakmampuan kita mencari jalan keluar dari kebobrokan penyelenggaraan sepakbola dan mandeknya prestasi timnas Indonesia.

Cinta yang besar ini membuat penyelenggaraan sepakbola nasional bisa berjalan tanpa evaluasi dan pembenahan berarti, bahkan setelah rangkaian tragedi. Berkali-kali penonton mati di stadion, entah karena di pukuli oleh petugas keamanan atau tertimpa runtuhan beton, tak ada perubahan mendasar mengenai perbaikan kondisi stadion. Tiap tahun kita akan selalu mendengar penonton ditusuk pisau, dikeroyok suporter lawan, korban salah sasaran dalam tawuran, atau terinjak-injak penonton lain yang kalut.

Lagu lama tentang kerusakan transportasi publik dan rombongan suporter tewas jatuh dari atau tersambar kereta api juga masih kita dengar. Bahkan barangkali hanya di Indonesia pemain asing mati meringkuk di bangsal kumuh puskesmas kecamatan atau harus berhutang karena kelaparan dan terserang penyakit yang seharusnya mudah diatasi dengan obat generik.

Jika tragedi demi tragedi datang silih berganti, kemampuan publik sepakbola untuk menuntut perbaikan layanan sepakbola justra sangat sedikit sekali. Rentetan tragedi belum mampu  menggerakkan penonton untuk menuntut pertanggungjawaban ketua PSSI misalnya, atau penyelenggara kompetisi, atau bahkan menteri. Ketidakmampuan ini terlihat dari tidak adanya dukungan publik terhadap keberadaan serikat pemain, wasit, atau pelaku sepakbola lain yang posisinya rentan dan butuh dukungan orang banyak. 

Sepakbola memang bisa membuat orang memberikan seluruh hatinya untuk timnas atau klub. Namun, publik sepakbola yang hebat tak pernah serta-merta kehilangan semua kewarasan. Itulah mengapa misalnya dukungan setia suporter Liverpool di masa paceklik gelar yang begitu lama tidak mengurangi kegigihan mereka mencari ‘kebenaran’ di balik tragedi Hillsborough.

Di Indonesia, publik sepakbola jarang sekali menggunakan kekuatan dan kekuasaannya untuk menuntut (dengan sangat keras dan konsisten) pertanggungjawaban penyelenggara sepakbola. Kita nyaris tak punya tradisi protes kuat terhadap kebijakan PSSI, misalnya ketika memilih pelatih atau rekanan penyelenggara kompetisi. Padahal, publik sepakbola Indonesia sangat besar.

Kenapa mereka tidak mampu menjadi kelompok penekan untuk mencari perbaikan prestasi timnas, dan sepakbola Indonesia secara keseluruhan? Di akhir tulisan saya akan mencoba mencari tahu, namun sekarang kita lanjutkan dengan efek cinta buta publik sepakbola Indonesia.

Cinta-tanpa-pamrih membuat kita memberi cek kosong kepada PSSI dan pengelola industri sepakbola. Ketika PSSI dan orang-orang berkuasa di klub dan liga menyusun platform kompetisi dan program kerja yang buruk, nyaris tidak ada catatan yang menyeluruh dan sistematis di media, protes di jalanan, atau boikot di stadion. Ketidakpuasan dan kegundahan hanya menjadi obrolan santai di kedai kopi. Kalaulah ada rasa marah dan frustasi, semua itu hanya makian dan sindiran di sosial media. Rumor dan gosip hanyalah senjatanya orang-orang kalah, sebuah tembakan di dalam cawan, yang tak membuat pengurus federasi merasa ada kritik yang berarti.

Dari tahun ke tahun, jaringan orang-orang kuat PSSI di klub-klub liga dibiarkan untuk mengubah-ubah format kompetisi, memperjualbelikan klub, menghapus sejarahnya, memindahkannya dan mendandadaninya menjadi klub baru yang sama sekali ahistoris di tempat baru yang asing. Bahkan, belakangan kita melihat tentara masuk lapangan (dalam arti sebenarnya) dan mengembalikan peran dwifungsinya, dan itu nyaris tanpa perlawanan dan catatan.

Saya tidak sedang mengabaikan sejarah kegigihan Bonek untuk merebut Persebaya dari petualang politik atau daya juang kelompok suporter yang menolak Nurdin Halid. Usaha-usaha tersebut, dan mungkin lebih banyak lagi dalam skala yang lebih kecil, menjadi contoh bahwa masih ada kekuatan publik sepakbola lewat demonstrasi, mobilisasi massa, dan protes terbuka. Publik sepakbola, meskipun sporadis, masih punya daya perubahan yang luar biasa. Tanpa kegigihan Bonek, Persebaya mungkin hanya tinggal plang namanya saja.

Hanya saja, kasus-kasus seperti Bonek bisa dikatakan sebuah kasus khusus, dan bukan sebuah gejala.   

Cinta-tanpa-pamrih inilah yang membukakan pintu bagi datangnya amnesia sejarah dan impunitas. Kegagalan dan kesalahan besar pengurus PSSI dalam menyelenggarakan sepakbola Indonesia tak tercatat, dan pengurus yang akan datang segera melakukan kesalahan yang sama. Pelaku-pelaku pengaturan skor dan rekayasa kompetisi tetap melenggang dan kebal sanksi. Jual beli jatah promosi dan degradasi seperti lagu lama yang disiarkan berulang-ulang di akhir kompetisi.

Cinta yang besar ini membuat para pengurus klub yang tidak hanya tidak becus, tapi menggunakan sepakbola secara terang-terangan untuk dukungan politik atau akumulasi kekayaaan pribadi, tetap jadi pahlawan.

Bayangkan jika timnas Indonesia juara di Piala Tiger 1998 setelah mengalah dari Thailand. Saya yakin nasib Mursyid Effendi tak akan jadi pecudang. Mungkin ada buku khusus yang merayakan pertandingan itu setelah 25 tahun. Ulang tahun Andi Darussalam Tabusalla boleh jadi akan dirayakan sebagai hari bersejarah sepakbola; dan pemain-pemain yang tampil di turnamen itu akan menjadi pahlawan—seperti halnya puji-pujian kepada Haji Agil dan perayaan kekalahan 0-12 Persebaya dari Persipura.

Ketiadaan dokumen—laporan jurnalistik, buku, studi—tentang Sepakbola Gajah di Indonesia, yang bisa kita jadikan cerminan kritis tentang sejarah siapa dan bagaimana sepakbola Indonesia, mengindikasikan bahwa peristiwa seperti ini adalah lumrah dan wajar dalam sepakbola kita. Kita menjadikan sebagai hal yang normal. Saya merasa, jauh di dalam dasar hati kita, kita akan baik-baik saja, bahkan mungkin akan bangga, melakukannya sekali lagi jika itu menjamin menghasilkan sebuah trofi.

Puncak dari cinta-tanpa-pamrih publik sepakbola Indonesia adalah, meminjam judul sebuah buku, ‘mencintai sepakbola Indonesia meski kusut’. Sepakbola Indonesia sudah sedemikian kusut, sehingga alih-alih mengurai, membuang, atau memotongnya, satu-satunya yang bisa kita lakukan adalah memandangi kekusutan itu dan tetap bersuaha mencintainya. 

Publik sepakbola Indonesia adalah pecundang yang tawakal. Kita nyaris tahu timnas akan dibantai lawan, kalah dengan cara yang buruk, atau gagal di final oleh lawan yang tak lebih bagus, namun kita terus bertahan dengan harapan akan adanya kemungkinan akhir yang bahagia. Stadion tetap penuh; televisi tetap banyak iklan; tiket terus terjual; dan nyaris apokaliptik, suatu saat ada masa ketika Indonesia menjadi juara atau ikut Piala Dunia.

***

Saya tidak menolak jika seseorang mencap saya sebagai pemakan bangkai, karena menyalahkan komponen paling lemah dan paling rentan dalam hierarki sepakbola Indonesia: publik.

Penonton pasif, pemain, wartawan, komentator televisi, pelatih lokal, dan klub-klub gurem tidak ada sangkut pautnya secara langsung dengan kegagalan prestasi sepakbola nasional mereka. Jika dukungan besar dan cinta-tanpa-pamrih dianggap tidak cukup, bahkan dipandang sebagai sebuah kesalahan, apalagi yang bisa diberikan?

Saya punya alasan sendiri untuk ini. Sebagai bagian dari publik sepakbola, saya merasa semua yang dilakukan oleh siapa pun di luar PSSI dan perusahaan penyelenggara kompetisi (wartawan kritis, serikat pemain, pelatih di daerah) seperti meninju udara. Semua keringat yang keluar dan komitmen seperti menabrak tembok kegagalan.

Situasinya terkadang begitu beracun sehingga kita tak lagi melihat apa yang bisa kita lakukan. Sebaliknya, seperti jutaan orang lain yang mencemooh orang-orang tulus yang berkontribusi gagasan dan tindakan, saya cenderung pesimis dan skeptis terhadap upaya-upaya perbaikan sepakbola Indonesia.

Sampai kemudian saya melihat dunia paralel antara saya sebagai bagian dari publik sepakbola Indonesia dan saya sebagai warga negara Indonesia. Cinta-tanah-air seperti punya resonansi dengan cinta-tanpa-pamrih terhadap timnas Indonesia. Haqqul yakin, saya tidak sendirian. Bukan suatu hal aneh ketika jantung kita ikut berdebar dan mata kita berkaca-kaca ketika lagu Indonesia Raya dikumandangkan di stadion sepakbola, meskipun hampir semua dari kita suka menghindari upacara bendera di sekolah.

Perasaan haru yang paralel itu benar adanya jika sedikit membentangkan perbandingan itu dalam konteksnya.

Sepakbola hanyalah bagian dari kementerian (olahraga) di sebuah negara yang juga punya urusan dengan pendidikan, kesehatan, politik, hukum dan lain sebagainnya. Jika publik sepakbola ingin timnas berprestasi dan punya kekuatan untuk mengubah PSSI, begitu juga jutaan orang yang ingin hidup sehat dan pintar sembari punya kontribusi terhadap perbaikan lembaga kesehatan dan pendidikan.

Dan di sinilah letak paradoks cinta-tanpa-pamrih itu. Kita tahu bahwa nenek yang memotong dahan jati kering di hutan negara untuk memasak air lebih mungkin untuk masuk penjara ketimbang koruptor yang tertangkap tangan KPK. Namun, kita tidak kehilangan rasa cinta kita terhadap Indonesia dan harapan bahwa suatu saat semua orang setara di hadapan hukum.

Sepanjang hidup, kita mendapati layanan kesehatan yang diskriminatif, hukum yang tajam ke bawah tumpul ke atas, birokrasi yang alih-alih memudahkan justru mempersulit, petugas keamanan yang alih-alih melindungi justru memukuli dan membunuh rakyatnya sendiri. Semua fakta ini tidak menjadikan harapan kita tentang kesetaraan hukum, pencerdasan kehidupan bangsa, dan hidup yang sejahtera berkurang.

Perbandingan serupa bisa direntangkan hingga jauh sehingga kita bisa menemukan akibat paralel dari cinta-tanpa-pamrih untuk sepakbola dan Indonesia ini. Jika seorang Nurdin Halid masih tetap menjadi anggota legislatif, dan kini jadi calon gubernur, kita bisa mendapati para Jendral yang berlumur darah tetap menjadi menteri.

Kenapa kita mendapatkan hal yang paradok dari cinta-tanpa-pamrih ini? Saya punya sedikit argumen: cinta-buta ini lahir dari momen historis tertentu dan bukan karakter esensial yang terberi atau muncul begitu saja dari dalam bumi.

Penjelasannya begini.

Publik sepakbola Indonesia hidup dalam negara-bangsa Indonesia. Ia adalah bagian dari rakyat Indonesia. Keduanya adalah publik yang kalah, yang kekuasaannya dan kekuatannya telah ditaklukan. Ditaklukan oleh siapa?

Mari kita melingkar dulu bertamu ke antropologi. Secara universal, hidup manusia di semua jaman dan semua tempat butuh pengaturan/tatanan. Kelahiran dan kematian butuh diatur. Begitu juga dengan olahraga, kesehatan, politik, pendidikan. Semua tatanan ini  membutuhkan hirarki antara si pengatur dan yang diatur.

Secara kosmik, meta-human (Tuhan, Dewa-Dewi) dan manusia sebagai pengatur dan yang diatur memenuhi peran itu.  Di masyarakat animistik, roh-roh yang menciptakan hewan buruan atau ‘spirit’ yang menghadirkan hujan, pelangi, dan gempa bumi mengatur hidup manusia. Di dunia kontemporer, kapitalisme menciptakan si pemilik modal dan buruh. Di sebuah kerajaan, paduka dan hamba sahaya memainkan peran itu.

Penciptaan hirarki ini merupakan asal muasal segala bentuk tatanan kehidupan. Secara umum, hirarki ini ditandai oleh pemisahan si pengatur dan yang diatur. (Ingat, semua isi kitab suci dan mitos tentang asal-usul kehidupan memuat terpisahnya manusia dengan si maha pengatur). Tanpa hirarki ini, masyarakat tidak akan pernah ada dan publik tak pernah diciptakan. Hidup akan menjadi khaos dan kekerasan akan meletus tiap hari.

Sistem kepengaturan ini punya banyak bentuk. Ada yang berupa kekerabatan (leluhur sebagai pemberi restu/sanksi dan keturunannya yang hidup sebagai publik), kerajaan (raja dan rakyatnya), polity (dewan kota dan publiknya), dan secara umum kita sekarang mengenal negara-bangsa (pemerintah dan rakyatnya). Di sepakbola, ada FIFA/PSSI dan publik sepakbola.

Dalam setiap tatanan ini, relasi si pengatur dan yang diatur diwarnai oleh ketegangan. Sudah menjadi nasibnya, si penguasa/pengatur terus ingin melanggengkan kekuasaan untuk ‘memerintah’ dan berusaha memonopoli kekuasan memerintah atas publiknya, sementara publik selalu berusaha membatasi campur tangan si pemerintah sembari menuntut si penguasa menjalankan kebutuhan kolektif milik publik. Jadi, ketegangan akan terus-menerus mewarnai hubungan keduanya.

Jika ketegangan itu berlangsung sehat, maka keseimbangan kekuatan adalah hasilnya.
Idealnya, si penguasa dan publik akan tumbuh bersama. Di saat-saat ini, secara umum kita sebut publik tumbuh dengan baik dan makmur.

Jika penguasa terlalu kuat (apalagi sampai berkolaborasi dengan penguasa lain, menciptakan senjata dan militer), maka tatanan berada dalam risiko untuk menjadi absolut. Menjadi diktatur. Menjadi raja. Menjadi otoriter. Penguasa menjadi hukum, penentu moral, sekaligus panglima perang. Jika publik yang kuat, hasilnya bisa jadi demokrasi atau welfare state, tapi dalam bentuk ekstremnya adalah sebuah revolusi.

Nah, dari sini kita bisa sedikit melihat, sejak kapan publik sepakbola Indonesia dan secara umum rakyat Indonesia kalah. Karena kata pengantar ini bukanlah teks sejarah, bukan tempatnya untuk secara rinci mendeskripsikan bagaimana pendulum sejarah Indonesia berayun dari keseimbangan penguasa-rakyat di awal-awal revolusi kemerdekaan, menjadi demokrasi terpimpin, dan mencapai titik ekstremnya pasca anti-revolusi 1965, yang menjadi kemenangan mutlak penguasa atas rakyat/publik.

Cukuplah di sini kita ingat bahwa sejak 1968 hingga kini, PSSI nyaris selalu dipegang oleh tentara. Bila di masa tertentu bukan orang dengan senjata yang pegang, maka ia pastilah pengusaha. Bisa disebut di sini bahwa klub-klub profesional Galatama muncul sejalan dengan tumbuhnya kapitalis pribumi yang mendapat proteksi dari penguasa dan tentara. Dan mudah dipahami, pasca desentralisasi, klub-klub yang ikut kompetisi adalah klub-klub daerah yang menjadi alat politik-ekonomi para bupati, walikota, hingga ketua partai. Dan jangan heran, setelah era Djohar Arifin, yang gagal jadi boneka patuh oligarki, kita sekarang punya Edy Rahmayadi. 

Kemenangan penguasa atas publiknya di Indonesia begitu telaknya, sehingga media massa,  satu-satunya tempat publik sepakbola memiliki suara, sepanjang berdekade-dekade memilih bungkam dan apolitis di waktu-waktu publik sepakbola mulai mengguncang PSSI.

Seperti halnya rakyat Indonesia secara umum, publik sepakbola Indonesia sudah kalah selama setengah abad. Penguasa, yang berkolaborasi dengan tentara dan pengusaha, unggul sangat jauh, sehingga tidak ada tanda-tanda mereka akan goyah. Kepecundangan ini sudah sedemikian dalam, karena berlangsung beberapa generasi. Akibatnya, kita tidak tahu lagi bagaimana berimajinasi tentang restorasi sepakbola Indonesia.

***

Meski kritis terhadap publik sepakbola Indonesia, bukan berarti saya kehilangan harapan. Walau cinta-tanpa-pamrih publik sepakbola Indonesia memiliki karakter fatalis, ia menunjukkan bahwa ia belum sepenuhnya mati.

Dari sudut lain, dukungan total publik Indonesia bisa jadi adalah bentuk yang paling embrionik dari usaha publik untuk mengajak penguasa sepakbola berbagi kekuatan dan dukungan. Tak sulit untuk memahami, jika timnas menang yang menang adalah semuanya. Pendukung menang. PSSI pun menang.

Barangkali sepakbola unik karena ia bisa memberikan harapan berulang kali. Setiap tahun selalu ada kualifikasi atau turnamen yang diikuti. Setiap kemenangan dan prestasi kecil adalah kemenangan kolektif besar. Dan ketika di bidang-bidang lain kekalahan rakyat sudah sedemikan sulit dipulihkan dan kemenangan kolektif yang bisa dibanggakan bersama—baik oleh rakyat maupun penguasanya—sulit dibayangkan, kemenangan (di sepakbola) ini jadi semakin berarti.

Lapangan sepakbola dan timnas Indonesia masih memberi kemungkinan imajinasi bahwa ketegangan dinamik antara penguasa dan publiknya bisa disalurkan menjadi prestasi yang membanggakan. Setiap pertandingan, tak peduli berapa skala maupun nilai pentingnya, adalah momentum untuk membuktikan bahwa publik, federasi, pemain, dan seluruh elemen sepakbola Indonesia bisa memberi kemenangan kecil.

Keluhan, makian, ratapan adalah bukti bahwa publik sepakbola Indonesia masih bernyawa. Tidak. Tidak. Kita belum sepenuhnya putus asa. Harapan itu masih ada. Ia masih terdengar dari jantung jutaan orang yang berdegup pelan, yang akan mengencang jika timnas Indonesia bertanding. Ketika rasa bangga, haru, sekaligus sedih dan putus asa itu tiba-tiba menyelinap di balik kulit dan meremangkan bulu kita, itulah saat kita bisa berimajinasi kolektif sebagai sebuah publik, sebagai sebuah bangsa.


*tulisan ini merupakan kata pengantar untuk buku Mahfud Ikhwan, "Dari Kekalahan ke Kematian" (EA Books, 2018).


Thursday, May 24, 2018

Rivalitas Mimesis Dua Kota


Oleh Darmanto Simaepa

Rivalitas paling sengit, dan sekaligus paling getir, biasanya melibatkan orang-orang dekat. Sangat-sangat dekat. Ingat kisah Qabil dan Habil? Dari kitab suci kita mengenal rivalitas, dan pertumpahan darah pertama di dunia, terjadi justru di antara saudara satu rahim.

Pun demikian di sekeliling kita. Kisah-kisah rakyat di Nusantara tentang jatuh-bangunnya kerajaan, legenda suku-suku dan riwayat asal-usul sebuah desa berawal dari persaingan kerabat dekat yang berujung perselisihan. Di film dan novel silat, alur cerita nyaris digerakkan oleh perseteruan dua saudara seperguruan. Sehari-hari kita pun mendengar dengan persaingan sengit antar sepupu di sekolah atau punya istri/suami yang lebih baik....

Dalam khazanah sepakbola, perseteruan diantara dua saudara itu bernama derbi, el-classicoder klassiker, match of eternal enemies. Dari Buenos Aires hingga Glasgow, dari Madrid hingga Tokyo, pertandingan-pertandingan paling keras dan menguras emosi hampir selalu melibatkan tim yang lahir berasal dari kota, dan bahkan pada suatu waktu berbagi stadion, yang sama.

Sebagai provinsi sepakbola, Jawa Timur pun memiliki derbi-nya sendiri. Derbi ini, yang berangsur-angsur menjadi sebuah rivalitas yang melampaui skala geografisnya, melibatkan dua tim yang paling berprestasi dalam empat dekade.

Pertandingan Persebaya dan Arema tidak hanya menarik publik sepakbola Malang dan Surabaya ke stadion tetapi juga menyeret publik sepakbola Indonesia, terutama di Jawa Timur dan sekitarnya ke dalam demam persaingan.

Namun, seperti rivalitas klasik lain, kita tidak akan pernah menemukan cerita tunggal tentang bagaimana dan mengapa demam ini terbentuk.

Ada yang bilang rivalitas ini bermula dari insiden tawuran anak-anak muda Malang dan Surabaya di sebuah konser musik. Sumber lain menyebut arogansi tokoh-tokoh sepakbola Surabaya sebagai biangnya—orang Malang merasa selalu diremehkan. Satu versi lain menyebut kontribusi  halaman olahraga Jawa Pos yang menganakemaskan Persebaya dan menganaktirikan Arema. Versi lain mengaitkan rivalitas ini dengan perpindahan pelatih dan pemain—terutama dari Arema ke Persebaya.

Masih ada varian dari versi-versi di atas yang lebih kecil. Tiap-tiap versi punya pembenaran dan kebenarannya sendiri. Seperti halnya dalam perseteruan dua bersaudara, tiap pihak punya daftar bukti kesalahan orang lain. Rincian peristiwa adalah bumbu, bukan masakan utamanya. Dan barangkali tak begitu penting untuk mencari mana versi yang lebih sahih.

Yang pasti, rivalitas Arema dan Persebaya belum begitu lama. Rivalitas ini bahkan barangkali tidak bisa dikatakan sebagai sebuah derby. Persebaya dan Arema bukan ‘saudara-dalam-sepakbola’. Mereka lahir dari dua kota yang berbeda pada waktu yang berbeda, dan tumbuh dari rahim kompetisi yang berbeda.

Persebaya berumur 60 tahun lebih tua. Ia dibentuk oleh ‘pemoeda-pemoeda’ yang sedang bergairah dengan ide-ide, meskipun embrionik, tentang kemerdekaan dan revolusi nasional. Sebagai konsekuensi dari sejarahnya, klub ini bermain dalam sepakbola amatir, akar dari sepakbola Indonesia, yang kemudian bertransformasi menjadi kompetisi Perserikatan.  

Sebaliknya, Arema, lahir di masa-masa puncak Orde Baru, adalah bagian dari klub-klub yang diinisiasi dari ‘atas’ oleh elit-elit politik-bisnis-birokrasi-militer yang mendapat proteksi dari kekuasaan. Arema bermain di Liga Sepakbola Utama (Galatama), sebuah proyek kompetisi olahraga semi-profesional yang mendapat subsidi dari konglomerat-konglomerat pribumi.

Sampai awal-awal tahun penyelenggaraan Liga Indonesia bergulir di paruh dekade 1990, keduanya tidak punya punya sejarah rivalitas. Secara tradisional kedua klub ini memiliki riwayat perseturuan, meskipun barangkali tidak terlalu sengit, justru dengan klub lain di kompetisi yang mereka ikuti. Di sepanjang dekade 1980an kita mendengar permusuhan Persebaya vs Persema sementara di akhir 1980an dan awal 1990an, kita menyaksikan persaingan Arema dan Niac Mitra.

Sejarah rivalitas Persebaya vs Persema dan Niac Mitra vs Arema sebelum Persebaya vs Arema menunjukkan sesuatu yang lain. Sesuatu itu adalah rivalitas yang lebih laten, lama dan besar: rivalitas dua kota dari sub-kultur yang sama.

Rivalitas Persebaya vs Arema adalah manifestasi kontemporernya.

***

Malang dan Surabaya adalah dua kota yang menjadi anak kandung sub-kultur Jawa Timur-an yang paling Jawa Timur. Berbeda dengan kota-kota di kawasan Tapal Kuda, kedua kota ini tidak begitu terpengaruh Madura dan Islam. Berbeda dengan kota-kota di bagian baratnya, kedua kota ini juga nyaris tidak mendapatkan penetrasi budaya Mataram.

Dua kota ini mengembangkan sub-kulturnya sendiri. Terletak di pesisiran, Surabaya menjadi kota dagang dan industri manufaktur yang ramai. Sementara Malang, berada di pedalaman dan diberkahi keindahan alam, identik dengan kota wisata, pertanian, dan pendidikan.  

Kedua kota ini juga mengembangkan versi Jawa yang lebih egaliter dan terbuka. Di kelilingi pabrik dan toko-toko, penduduk Surabaya identik dengan kelas pekerja yang dibekali dengan karakter tekad-kuat, rasa setia-kawan, dan keberanian. Sementara dengan kesejukan iklimnya, orang Malang membanggakan daya kreatifitas dalam usahanya.

Kedua kota ini, juga, pada dasarnya, juga dekat dan saling membutuhkan. Orang Surabaya butuh hasil bumi, pegunungan dan udara segar dari Malang. Sementara Orang Malang perlu barang pabrikan dan layanan finansial serta hiburan dari kota Surabaya.

Corak egalitarianisme sub-kultur Jawa Timur memampukan kedua kota ini menemukan identitasnya sendiri. Masing-masing menciptakan keunikan, dari bahasa sampai makanan.
Jika Surabaya menghasilkan ludruk, Malang menemukan bahasa walikan. Jika Surabaya melahirkan Kartolo, Malang memiliki Ian Antono. Surabaya menemukan rujak cingur dan lontong kupang, malang menciptakan bakso dan angsle.  

Namun, gaya egaliter Jawa Timuran mendorong penduduk dua kota ini untuk membawa dinamika saling bersaing-dan-membutuhkan ini pada batas terjauhnya. Klub sepakbola adalah salah satu tempat di mana warga Surabaya dan Malang bisa mengekspresikan persaingan ini. Dari sini kita bisa memahami asal muasal rivalitasnya.

Dekade 1990an menandai susut dan bangkitnya klub-klub bekas era Galatama dan Persyerikatan. Penyatuan kompetisi Galatama dan Persyerikatan ke dalam Liga Indonesia (Ligina) membuat sebagian klub-klub penting di Galatama dan Persyerikatan lenyap, sementara yang lain muncul ke permukaan.

Di Surabaya, eks Galatama (Niac Mitra dan Assyabab) keteteran mengikuti irama kompetisi yang baru itu. Dalam prosesnya, keduanya gagal beradaptasi dan kehilangan kesaktiannya. Sebaliknya di Malang, eks Persyerikatan (Persema) perlahan menjadi tim kedua dan tak berapa lama hilang entah main di divisi berapa.

Arema dengan bekal juara di periode-periode akhir Galatama mendapatkan simpati yang luas dari publik Malang, terutama generasi mudanya. Dukungan politik-ekonomi dan jaringan dari para pendirinya juga membuat Arema mengalami transisi yang relatif bagus ke Ligina. Sementara Persema, yang prestasinya semenjana, pelan-pelan hilang dari panorama, Arema muncul menjadi representasi sepakbola Malang.  

Persebaya tidak punya masalah dalam transisi ini. Klub ini punya segalanya: tradisi, sejarah, stadion, dan suporter yang loyal. Sementara klub-klub Galatama tersingkir ke pinggir secara literal maupun kiasan—Assyabaab terdesak ke Sidoarjo, lantas ke Bali sementara Niac Mitra dioperasi plastik dan berganti nama menjadi Mitra Kukar dan entah apalagi.  

Di ujung hari, Persebaya dan Arema menjadi wakil-tanpa-saingan bagi kota Surabaya dan Malang. Dan yang lebih penting, keduanya memberi kebanggaan bagi Surabaya dan Malang untuk menjadi sedikit klub yang berjaya di dua era kompetisi yang berbeda.

Lintasan sejarah ini memberikan keistemawaan bagi keduanya. Persebaya dan Arema menjadi simbol sekaligus arena bagi perwujudan hasrat dan aspirasi persaingan warga kedua kota untuk mendapatkan keotentikan Jawa Timur. Jika gerobak bakso dan warung lontong kupang tidak menjadi arena persaingan terbuka untuk menunjukkan siapa yang lebih hebat antara Surabaya dan Malang, kompetisi sepakbola menyediakanya.

Lambang Bajul Ijo yang konsisten dari tahun ke tahun mewakili gaya Surabaya yang solider, nekat, dan tak-takut berkonfrontasi. Gambar Singo Edan di stiker atau kaos yang bervariasi menyimbolkan kera ngalam yang kreatif dan penuh kejutan.

Keberanian Bonek mendatangi stadion lawan mewakili Surabaya sebagai kota yang penuh vitalitas dan keberanian warga Surabaya. Sementara, tari-tarian di stadion dan gambar singa di setiap sudut gang menggambarkan selera seni dan imajinasi warga Malang.

***

Sepakbola secara inheren mendorong insting perseteruan karena hanya menyediakan satu pemenang dalam sebuah kompetisi. Ia menjadi arena konkrit apa disebut sebagai rivalitas mimesis.

Konon, seseorang punya hasrat menggebu-gebu akan sesuatu, pertama-tama bukan ditentukan oleh nilai atau kualitas sesuatu itu sendiri, namun karena ada orang lain yang pada waktu sama menginginkan sesuatu itu.

Orang Surabaya berpikir bahwa kotanya menjadi yang paling unik dan Persebaya menjadi klub sepakbola yang paling hebat. Mereka punya hasrat untuk mewujudkannya karena orang Malang mengklaim dan menginginkan hal yang sama.

Dalam rivalitas mimesis, ruang dan waktu menjadi penting. Ketika berada dalam jarak dan waktu dekat, dua orang yang saling menginginkan hal yang sama tidak begitu merasakan dan mengenali bahwa mereka saling bersaing. Jarak yang dekat membuat mediasi ego tidak terlihat. Mereka menjadi rival karena berusaha saling meniru tindakan pesaing.

Semua orang tua yang berdedikasi atau petugas layanan day-care sangat familiar dengan hal ini. Pertengkaran anak-anak sepantaran atau adik-kakak kandung yang umurnya berdekatan nyaris semua dimulai karena keduanya menginginkan balon atau layang-layang yang sama. Ketika mainan itu tidak dipegang oleh orang lain, rivalitas tidak ada. Begitu salah satu anak mengambil dan memainkannya, kekacauan akan segera muncul.

Dalam rivalitas ini, seringkali tidak penting seseorang mendapatkan apa yang diinginkannya. Yang lebih penting adalah si rival tidak mendapatkannya. Anak-anak yang berebut layangan atau mobil-mobilan seringkali memilih menyobek layang dan melempar mobil itu ke comberan. Orang Malang senang bukan saja saat-saat Arema menang atau juara, tetapi lebih sering ketika Persebaya menjadi pecundang.

Ada potensi kekerasan dalam setiap rivalitas orang-orang dekat. Setelah layang-layang sobek, seorang kakak mungkin akan memukul adiknya. Seorang akan melukai hati sahabat dan si sahabat menyimpan dendam itu dalam hatinya untuk waktu yang lama. Luka fisik mungkin akan pulih seiring berjalannya waktu, namun luka batin biasanya mengeras seperti batu seiring bertambanya waktu.

Seperti halnya kisah Qabil dan Habil, rivalitas orang-orang dekat sulit didamaikan karena rivalitas ini lahir dari mimesis—proses meniru dan mediasi internal satu sama lain, yang sering kali tidak disadari oleh pelakunya. Orang dewasa punya istilah ini: harga diri. Rivaltias mimesis memberikan gengsi. Pendukung Persebaya dan Arema sulit disatukan persis karena mereka gengsi dan harga diri mereka ditentukan oleh keberhasilan dalam persaingan yang saling mengandaikan dan membutuhkan ini.  

Rivalitas mimesis ini bisa menghasilkan hubungan yang buruk dan bahkan memicu kekerasan. Satu-dua perkelahian, perusakan, dan bahkan tawuran masal yang berujung kematian adalah bagian tak terpisakan dalam setiap derbi sepakbola.

Namun, di sisi lain, rivalitas ini punya energi yang besar. Rivalitas ini mendorong daya cipta dan kreativitas. Seperti halnya hikayat rivalitas mimesis yang mendorong lahirnya temuan ilmiah, inovasi teknologi, dan  banyak dilumasi oleh rivalitas mimesis.

Rivalitas mimesis Surabaya dan Malang telah memberi banyak hal kepada kita. Di luar sepakbola, lidah kita diberikan pengalaman untuk merasakan penemuan kuliner terbaik dunia rujak cingur atau bakso.

Di sepakbola, rivalitas ini menjadikan dua kota ini menjadi barometer. Pemain berbakat tak putus diciptakan di Malang dan Surabaya. Di bawah bayang-bayang kebesaran figur masa lalu seperti Singgih Pitono, Mecky Tata atau Aji Santoso, kota Malang adalah tempat inkubasi pemain lokal seperti Dendi Santoso dan Dedik Setiawan. Dengan daya akulturasi yang tinggi, Malang mengadopsi Kurnia Mega atau Hanif Syahbandi seperti anak mereka sendiri. Bukan suatu kebetulan jika figur sepakbola seperti Iwan Budianto lahir di sini. Kota ini memberi kesempatan bagi orang muda seperti dia untuk mengasah keahlian dan ketrampilan menjadi wirausahawan sepakbola.

Di Surabaya, kehidupan sepakbola terus berdenyut kencang, meskipun konflik kepentingan para petinggi federasi berusaha memisahkan publik (bonek) dengan sepakbolanya. Kota ini mencetak ulang kecerdikan Uston Nawawi dalam diri Rendi Irawan atau ketenangan Bejo Sugiantoro dalam diri Rachmat Irianto. Di gang-gang sempit, di bekas puing-puing bangunan pabrik, atau sudut lapangan berdebu di Surabaya, anak-anak kecil punya impian menjadi Yusuf Ekodono, Mustaqim atau Syamsul Arifin. Atau membayangkan dirinya mengatur irama permainan seperti Ibnu Graham.

Di atas segalanya, keduanya berbagi kesamaan: punya basis suporter yang besar dan representasi dari kota yang gila sepakbola. Dua modal utama dalam sepakbola itu membuat Surabaya dan Malang terus menjadi kota yang melahirkan terobosan-terobosan bari di luar lapangan .

Strategi bisnis yang kreatif terus diluncurkan untuk menarik iklan—Arema dan Persebaya adalah sedikit tim yang tak punya masalah dengan pendapatan dari sponsor. Lagu-lagu dan koreografi baru pemberi semangat terus dicipta ulang dan dipentaskan. Desain-desain baru syal, kaos, dan tiket terus diperbaharui untuk menunjukkan semangat persaingan sekaligus mengeruk pendapatan. Mereka membangun Kanjuruhan dan Gelora Bung Tomo yang kini menjadi katedral baru bagi massa yang hendak melakukan penziarahan dan perayaan rivalitas mimesis ini setelah era Gajayana dan Tambaksari.

Di depan wartawan, kapten Persebaya Rendi Irawan melihat pertandingan melawan Arema sebagai pertaruhan harga diri kota Surabaya dan pemain lokal. Sebaliknya, bekas pelatih Arema Joko Susilo membahasakannya sebagai gengsi kota kecil melawan kota raksasa. Ketua suporter Surabaya bicara tentang Surabaya dan Malang sebagai ‘aset sepakbola nasional’ dan siapa yang terbaik di lapangan adalah pemenangnya.

Narasi rivalitas Surabaya dan Malang ini memenuhi kriteria mendasar terbentuknya rivalitas sengit dalam sepakbola modern. Harga diri, gengsi, persaingan—semuanya adalah bahan dasar perseteruan mimesis.

Hari-demi-hari narasi ini bisa semakin mengkristal dan menjadi bagian penting sejarah sepakbola Jawa Timur, dan bahkan dalam skala tertentu Nasional—penggemar Arema dan Persebaya tersebar di seluruh penjuru tanah air, entah karena ikatan tempat lahir atau identifikasi lainnya. Karena bercorak kultural dan berpilin dengan tradisi dan sejarah kota, narasi jenis ini sangat fundamental bagi terbentuknya sebuah kompetisi sepakbola yang berkelanjutan dan menguntungkan secara ekonomi.

Jika PSSI dan otorita sepakbola terkait mengelola rivalitas ini dengan baik dan menyalurkan energi besar persaingan sengit ini ke dalam kompetisi yang nir-kekerasan (misalnya dengan pemasaran yang pintar), kita bisa punya tontonan sepakbola Indonesia dalam versi terbaiknya—yang lebih dekat dengan sejarah sosial dan terasa lebih hangat dibalik kulit ari kita dibanding el-classico atau derbi the greater Manchester. 


*dimuat di Jawa Pos, 6 Mei 2018, dengan beberapa perubahan

Friday, March 9, 2018

Kembalinya Si Setan Merah (1993)*


Oleh Nick Hornby; terj. Mahfud Ikhwan

Di luar, tentu saja, aku ngomel-ngomel dan bersungut-sungut. Aku tunjukkan harapanku yang menggebu bahwa mereka akan babak-belur lagi, lebih baik lagi kalau di saat-saat terakhir sekali, menit terakhir dari pertandingan terakhir. Itu pasti akan lebih sakit.
Aku bilang kepada orang-orang, mending orang lain saja yang menang. Ron Atkinson boleh, bahkan Kenny Dalglish tak apa, yang penting Manchester United jadi nomor dua. Duapuluh enam kali kegagalan United di Liga Inggris, meskipun penontonnya bejibun, meskipun bergepok-gepok uang mereka yang melimpah bisa membeli pemain mana pun yang mereka sukai, adalah salah satu hal terbaik yang terjadi di sepakbola. Dan itu lelucon yang tak habis-habis. Jadi, kenapa itu mesti diutak-atik?
Jika kamu tak biasa hadir di teras stadion, ada baiknya kamu diberi penjelasan soal kesenangan yang lezat dan jahat dari fans tim lain atas ketidakmampuan United memenangkan gelar domestik terpenting. Bayangkanlah orang Inggris dan Kanada dan Australia memenangkan semua Piala Oscar dari tahun ke tahun, sementara orang-orang Hollywood sendiri hanya bisa ndomblong saja; bayangkanlah semua koki di Prancis membuang buku panduan masak Michelin; bayangkan klab paling asyik di Londong menolak masuk staf majalah Face.
Dalam kasus tertentu, schadenfreude (senang lihat orang lain susah--penrj.) adalah kewajiban moral. Manchester United yang menggap diri sebagai klub terbesar, terbaik, dan terpenting di Eropa adalah gunungan bahan gojekan sepanjang lebih dari seperempat abad yang tak mungkin diabaikan oleh sebagian besar kami.
Potonglah tubuh seorang suporter sepakbola jadi dua, maka kebenaran yang rumit akan terlihat. Jika orang biasa punya daging, tulang, dan jeroan, maka kami (para suporter) punya lingkaran-lingkaran berlapis yang sangat mirip dengan kulit pohon. Setiap lapis mewakili setiap musim yang dihabiskan untuk menonton sepakbola. Lapisan-lapisan itu biasanya tak terbedakan, namun untuk kami yang kini sudah di pertengahan 30-an terdapat keanehan botanis; persis di lapisan galih kami, di bagian paling awal, yang ada gabusnya, di situ ada lingkaran mencolok yang berbeda dari lingkaran lainnya. Persis seperti Protestantisme tumbuh dari Katolikisme, dan teori Jung lahir dari teori Freud, sebagian cinta kami kepada Arsenal atau Spurs atau Everton berakar pada sebuah masa pertumbuhan yang terkait erat dengan Manchester United.
Akhir enampuluhan dan awal tujuhpuluhan adalah masa keemasan bagi sepakbola, sebagaimana juga untuk musik pop: Best dan (Rodney) Marsh, Dylan dan Aretha, Charlton Bersaudara dan The Stones, Matt Busby dan Berry Gordy. (Di masa remajaku, sering kualami ketika mimpi aku tertukar-tukar antara musik pop dan sepakbola, dua pilar penyangga hidupku saat melek mata: aku biasa memimpikan bahwa Rod Stewart atau Jimmy Page "ditransfer" ke band lawan, dan karena itu aku tak lagi bisa menyukai mereka.) Alhasil, Manchester United adalah The Beatles (George Best sering disebut-sebut sebagai 'Beatles kelima')--merekalah yang terbesar, terbaik, sine qua non-nya sepakbola Inggris.
Tim mana yang didukung tidak penting lagi, nalarnya begitu. Hubungan antara nyaris seluruh klub Inggris dan United setara dengan hubungan antara The Monkees dan Fab Four. Mau pilih yang pertama atau yang kedua sah-sah saja, namun entah kenapa itu terasa tak pantas. Aku cinta Arsenal, tapi jauh di lubuk hati aku tahu bahwa dewa-dewa yang kupuja--George Armstrong, John Radford, Bobby Gould--tidak tinggal di puncak gunung yang sama dengan Best, Law, dan Charlton. Bobby Gould jelas penghuni Scafell Pike, dan bukannya Olympus (sebagaimana Best dan kawan-kawan).
Jika triumvirat United yang agung itu main di Liga Inggris hari ini... Ah, tak ada gunanya berandai-andai. Mereka semua pastinya akan main di Turin atau Milan, bukannya di Manchester atau Tottemham. Kenyataan bahwa sang Trinitas itu pernah main di Inggris untuk saat ini rasa-rasanya luar biasa--Paul Gascoigne yang sorangan menjelaskan semua hal tentang sepakbola mutakhir kita--tapi fakta bahwa mereka pernah main bersama, di tim yang sama, itu terlalu fantastik, sebuah penyimpangan sejarah yang aneh. Hanya rangkaian terbitnya novel-novel Inggris yang hebat pada musim 1847/1848--Jane Ayre, Dombey and Son, Withering Heights--yang bisa jadi padanan jauhnya.  
Diet gelar pendukung United di kemudian hari begitu ketatnya sampai-sampai seseorang membayangkan bagaimana cara mereka mencolokkan jari mereka ke rongga tenggorokan saat pulang ke rumah (dari stadion). Tendangan salto Law, sepakan geledek Charlton, goyangan dan lob dan cungkilan dan giringan Best yang menakjubkan tinggal jadi wayang umbul yang dijual sepicis dapat dua di Old Trafford.
Ada satu adegan di video Sejarah Resmi Manchester United-nya BBC yang membuatmu menangis darah karena iri dan frustrasi: gol briliant, yang dipuncaki tendangan geledek Charlton di pertandingan Charity Shield melawan Spurs pada 1967. Law berlari sepanjang dua pertiga lapangan, tanpa ampun mempermalukan para pemain bertahan yang dilewatinya, lalu bola dikasih ke Kidd. Kidd mengirim umpan silang, dan Chalton kemudian berusaha membunuh penonton yang berdiri tepat di belakang gawang Tottemham yang dijaga Pat Jenning. Jika Arsenal mencetak gol dengan cara macam itu di tahun enampuluhan, aku akan dengan sukacita membakar diriku sendiri; fans United, sementara itu, paling-paling cuma menguap saja, sebab boleh jadi pekan depan mereka akan melihat gol yang lebih baik.
Jika kemenangan United atas Benfica di Piala Champions tahun 1968 adalah versi sepakbolanya Woodstock, maka apa yang terjadi setelahnya adalah Altamont-nya. Best mengemas kopernya dan ngacir ke Marbella, Law dijual, sementara Charlton dan Sir Matt Busby pensiun; manajer-manajer baru--Wilf McGuinness yang malang, yang rambutnya memutih karena terguncang, lalu Frank O'Farrell--memenuhi Old Trafford dengan masa lalu, paceklik, dan hal-hal yang talak guna.
Mereka beli Wyn Davies dan Ted MacDougall, Ian Storey-Moore, dan, yang luar biasa, Ian Ure, pemain tengah yang bermain untuk Arsenal pada final Piala Liga 1969, yang melukaiku sangat parah hingga codetnya masih tetap terlihat jelas hingga sekarang. Maka, degradasi pun tak terelakkan. Meskipun United langsung bangkit dari Divisi Dua di tahun berikutnya, tak ada yang sama setelahnya.
Beberapa dari kami adalah orang-orang yang pertama kali pergi ke stadion setelah jatuh cinta dengan permainan United dalam versi yang lebih santai; mereka sekarang cuma tim biasa dan kami bisa membenci mereka tanpa takut dosa, dan menertawakan kesialan mereka tanpa rasa malu.
Sebenarnya ada banyak yang bikin ngakak. Tersebutlah laju mereka yang menakjubkan di awal musim 1972/1973 (dua kekalahan dalam duapuluh tiga pertandingan pertama), yang kemudian diikuti oleh keterpurukan ancur-ancuran mereka yang menyenangkan setelah Natal, yang membuat Frank O'Farrell dipecat; selingkuh menggelikan antara (manajer) Tommy Docherty dengan istri tukang pijat United, yang membuat Docherty didepak; kekalahan di final Piala FA melawan Southampton dari Divisi Dua, malapetaka yang bikin semua orang bersorak gembira sebab gol Southampton itu sebenarnya offside bermeter-meter.
Tahun delapanpuluhan sebagian besar sama saja; mereka berjaya di piala yang remeh-temeh, kalau sesekali menanjak di papan klasemen Divisi Utama maka akan segera diikuti oleh kemelorotan yang tak kalah bersemangatnya. Para manajer (Dave Sexton, Ron Atkinson) datang dan pergi; citarasa yang ganjil terhadap striker mahal yang kemudian terbukti mandul minta ampun (Alan Brazil, Garry Birtles, Peter Devenport) menjadi tradisi.
Pada periode inilah, ketika klub-klub di Inggris bisa menjual seorang pemain ke United cukup dengan mengumumkan bahwa pemain itu memang layak dihargai sekian juta pound, para penggemar klub lain bisa mendapat hiburan gratis dari ketidakmampuan berkelanjutan  Manchester United merebut gelar dari kubu Merseyside.
Sekarang, jelas kelihatan bahwa masa tunggu yang lama itu sedang menjelang berakhir. Dan... dan... (alah, tinggal bilang saja susah!)... aku tidak lagi yakin soal betapa tidak bahagia aku dibuatnya. Mula-mula, aku mulai merasakan bahwa lelucon itu sudah setengah dekade lebih panjang, dan itu membuat ia mulai kehilangan rasa lucunya. Kasih mereka apa kek, dan setelah itu mungkin mereka akan bungkam.
Namun ada alasan lain, yang lebih sentimentil, untuk berharap gelar juara itu jatuh ke Old Trafford. Ini adalah masa-masa gelap sepakbola. Norwegia punya peluang besar untuk merebut tempat Inggris di Piala Dunia 1994;  sekarang, mengumpan bola kepada salah satu teman setim, yang sama sekali berbeda dengan menendang bola sekeras-kerasnya ratusan mil ke angkasa, oleh sebagian besar pelatih sepakbola dianggap sebagai tindakan ilegal seorang banci kaleng, dan tak disarankan untuk dilakukan; Liga Premier yang baru jadi bencana kehumasan yang memalukan, sementara para penonton berbondong-bondong menjauh.
Kadang kala terasa bahwa seperempat abad kegagalan Manchester United itu cuma sisi keren dan simbolisme yang efektif, sebuah ilustrasi yang mendalam, dari fakta bahwa zaman keemasan sepakbola sudah lewat. Namun, tim United yang sekarang, memiliki gaung yang lemah namun menyenangkan dari tim mereka di tahun enampuluhan.
Sebagai Trinitas, Giggs, Sharpe, dan Cantona agak kebanyakan suku kata (dibanding pendahulunya, Best, Law, Charlton), namun setidaknya merekalah yang punya takaran yang cukup memadai yang bisa ditawarkan tahun sembilanpuluhan. Ada banyak pemain yang hampir-hampir disebut sebagai George Best Baru, sebanyak orang-orang bilang tentang munculnya Dylan-Dylan baru, tapi Ryan Giggs adalah tiruan Best paling lumayan hingga hari ini; cuma mukanya yang terlalu pucat saja yang mengingatkan kita bahwa ini adalah masa yang kurang sehat.
Tapi bagaimanapun, adalah Eric Cantona, pemain mahal United paling menarik sejak Dennis Law diselamatkan dari Torino di tahun 1963, yang menyediakan otoritas moral bagi tim ini untuk mengklaim gelar juara.
Ya, ia pemain bagus, tapi ia juga sebuah tontonan, sebuah kebahagiaan, sekaligus juga kelemahan, jika mengacu kepada beberapa bekas pemain profesional yang kini mencari nafkah dengan corat-coret pakai pensil di acara Match of The Day di TV. Dan jika memungkinkan merebut gelar Liga dengan uba rampe, misalnya sekerat roti Prancis, di lapangan (dan Leeds United, bekas klubnya, tahu soal hal itu, meskipun ia tidak memperkuat tim itu di beberapa pertandingan), maka boleh jadi para pelatih kita bisa beralih ke hal-hal estetis dan bukannya mekanis sebagai sumber ilham.
Cantona membaca puisi—bajingan betul. Ia tahu siapa Rimbaud! Dan, seperti di pertandingan kandang terakhir United, ia seperti bisa menggelitik bola di udara dengan kaki luarnya, dan dengan begitu Irwin tinggal hajar saja.
Aneh rasanya melihat tabel akhir klasemen Liga dengan Manchester United ada di puncaknya. Kami sudah sangat terbiasa melihat ada dua atau tiga klub yang menutupi mereka di atasnya—rasanya seperti melihat rumah yang tanpa atap, atau melihat Terry Wogan tanpa rambut palsu. Sekalipun begitu, akan mustahil untuk tidak merasakan rasa tegang oleh ketertarikan yang nostalgis, dan menerima semuanya itu sebagai tanda bahwa masa-masa indah itu akan terulang lagi.
United akan menjuarai Piala Champions lagi, akan ada serangkaian single-single hebat yang dihasilkan di label Tamla Motown, Tuan Waverley akan memberikan Napoleon Solo misi U.N.C.L.E baru dan aku akan menghabiskan setiap Sabtu pagiku nonton acara anak-anak di ABC. Jangan ngaco, United (kecuali kalau kalian main ke London Utara, di mana kalian tak akan dapat tos dariku); aku ingin masa kecilku kembali.    
 
*diterjemahkan dari "Return of The Red Devil (1993)" dalam Fan Mail, Nick Hornby, 2013