Friday, March 9, 2018

Kembalinya Si Setan Merah (1993)*


Oleh Nick Hornby; terj. Mahfud Ikhwan

Di luar, tentu saja, aku ngomel-ngomel dan bersungut-sungut. Aku tunjukkan harapanku yang menggebu bahwa mereka akan babak-belur lagi, lebih baik lagi kalau di saat-saat terakhir sekali, menit terakhir dari pertandingan terakhir. Itu pasti akan lebih sakit.
Aku bilang kepada orang-orang, mending orang lain saja yang menang. Ron Atkinson boleh, bahkan Kenny Dalglish tak apa, yang penting Manchester United jadi nomor dua. Duapuluh enam kali kegagalan United di Liga Inggris, meskipun penontonnya bejibun, meskipun bergepok-gepok uang mereka yang melimpah bisa membeli pemain mana pun yang mereka sukai, adalah salah satu hal terbaik yang terjadi di sepakbola. Dan itu lelucon yang tak habis-habis. Jadi, kenapa itu mesti diutak-atik?
Jika kamu tak biasa hadir di teras stadion, ada baiknya kamu diberi penjelasan soal kesenangan yang lezat dan jahat dari fans tim lain atas ketidakmampuan United memenangkan gelar domestik terpenting. Bayangkanlah orang Inggris dan Kanada dan Australia memenangkan semua Piala Oscar dari tahun ke tahun, sementara orang-orang Hollywood sendiri hanya bisa ndomblong saja; bayangkanlah semua koki di Prancis membuang buku panduan masak Michelin; bayangkan klab paling asyik di Londong menolak masuk staf majalah Face.
Dalam kasus tertentu, schadenfreude (senang lihat orang lain susah--penrj.) adalah kewajiban moral. Manchester United yang menggap diri sebagai klub terbesar, terbaik, dan terpenting di Eropa adalah gunungan bahan gojekan sepanjang lebih dari seperempat abad yang tak mungkin diabaikan oleh sebagian besar kami.
Potonglah tubuh seorang suporter sepakbola jadi dua, maka kebenaran yang rumit akan terlihat. Jika orang biasa punya daging, tulang, dan jeroan, maka kami (para suporter) punya lingkaran-lingkaran berlapis yang sangat mirip dengan kulit pohon. Setiap lapis mewakili setiap musim yang dihabiskan untuk menonton sepakbola. Lapisan-lapisan itu biasanya tak terbedakan, namun untuk kami yang kini sudah di pertengahan 30-an terdapat keanehan botanis; persis di lapisan galih kami, di bagian paling awal, yang ada gabusnya, di situ ada lingkaran mencolok yang berbeda dari lingkaran lainnya. Persis seperti Protestantisme tumbuh dari Katolikisme, dan teori Jung lahir dari teori Freud, sebagian cinta kami kepada Arsenal atau Spurs atau Everton berakar pada sebuah masa pertumbuhan yang terkait erat dengan Manchester United.
Akhir enampuluhan dan awal tujuhpuluhan adalah masa keemasan bagi sepakbola, sebagaimana juga untuk musik pop: Best dan (Rodney) Marsh, Dylan dan Aretha, Charlton Bersaudara dan The Stones, Matt Busby dan Berry Gordy. (Di masa remajaku, sering kualami ketika mimpi aku tertukar-tukar antara musik pop dan sepakbola, dua pilar penyangga hidupku saat melek mata: aku biasa memimpikan bahwa Rod Stewart atau Jimmy Page "ditransfer" ke band lawan, dan karena itu aku tak lagi bisa menyukai mereka.) Alhasil, Manchester United adalah The Beatles (George Best sering disebut-sebut sebagai 'Beatles kelima')--merekalah yang terbesar, terbaik, sine qua non-nya sepakbola Inggris.
Tim mana yang didukung tidak penting lagi, nalarnya begitu. Hubungan antara nyaris seluruh klub Inggris dan United setara dengan hubungan antara The Monkees dan Fab Four. Mau pilih yang pertama atau yang kedua sah-sah saja, namun entah kenapa itu terasa tak pantas. Aku cinta Arsenal, tapi jauh di lubuk hati aku tahu bahwa dewa-dewa yang kupuja--George Armstrong, John Radford, Bobby Gould--tidak tinggal di puncak gunung yang sama dengan Best, Law, dan Charlton. Bobby Gould jelas penghuni Scafell Pike, dan bukannya Olympus (sebagaimana Best dan kawan-kawan).
Jika triumvirat United yang agung itu main di Liga Inggris hari ini... Ah, tak ada gunanya berandai-andai. Mereka semua pastinya akan main di Turin atau Milan, bukannya di Manchester atau Tottemham. Kenyataan bahwa sang Trinitas itu pernah main di Inggris untuk saat ini rasa-rasanya luar biasa--Paul Gascoigne yang sorangan menjelaskan semua hal tentang sepakbola mutakhir kita--tapi fakta bahwa mereka pernah main bersama, di tim yang sama, itu terlalu fantastik, sebuah penyimpangan sejarah yang aneh. Hanya rangkaian terbitnya novel-novel Inggris yang hebat pada musim 1847/1848--Jane Ayre, Dombey and Son, Withering Heights--yang bisa jadi padanan jauhnya.  
Diet gelar pendukung United di kemudian hari begitu ketatnya sampai-sampai seseorang membayangkan bagaimana cara mereka mencolokkan jari mereka ke rongga tenggorokan saat pulang ke rumah (dari stadion). Tendangan salto Law, sepakan geledek Charlton, goyangan dan lob dan cungkilan dan giringan Best yang menakjubkan tinggal jadi wayang umbul yang dijual sepicis dapat dua di Old Trafford.
Ada satu adegan di video Sejarah Resmi Manchester United-nya BBC yang membuatmu menangis darah karena iri dan frustrasi: gol briliant, yang dipuncaki tendangan geledek Charlton di pertandingan Charity Shield melawan Spurs pada 1967. Law berlari sepanjang dua pertiga lapangan, tanpa ampun mempermalukan para pemain bertahan yang dilewatinya, lalu bola dikasih ke Kidd. Kidd mengirim umpan silang, dan Chalton kemudian berusaha membunuh penonton yang berdiri tepat di belakang gawang Tottemham yang dijaga Pat Jenning. Jika Arsenal mencetak gol dengan cara macam itu di tahun enampuluhan, aku akan dengan sukacita membakar diriku sendiri; fans United, sementara itu, paling-paling cuma menguap saja, sebab boleh jadi pekan depan mereka akan melihat gol yang lebih baik.
Jika kemenangan United atas Benfica di Piala Champions tahun 1968 adalah versi sepakbolanya Woodstock, maka apa yang terjadi setelahnya adalah Altamont-nya. Best mengemas kopernya dan ngacir ke Marbella, Law dijual, sementara Charlton dan Sir Matt Busby pensiun; manajer-manajer baru--Wilf McGuinness yang malang, yang rambutnya memutih karena terguncang, lalu Frank O'Farrell--memenuhi Old Trafford dengan masa lalu, paceklik, dan hal-hal yang talak guna.
Mereka beli Wyn Davies dan Ted MacDougall, Ian Storey-Moore, dan, yang luar biasa, Ian Ure, pemain tengah yang bermain untuk Arsenal pada final Piala Liga 1969, yang melukaiku sangat parah hingga codetnya masih tetap terlihat jelas hingga sekarang. Maka, degradasi pun tak terelakkan. Meskipun United langsung bangkit dari Divisi Dua di tahun berikutnya, tak ada yang sama setelahnya.
Beberapa dari kami adalah orang-orang yang pertama kali pergi ke stadion setelah jatuh cinta dengan permainan United dalam versi yang lebih santai; mereka sekarang cuma tim biasa dan kami bisa membenci mereka tanpa takut dosa, dan menertawakan kesialan mereka tanpa rasa malu.
Sebenarnya ada banyak yang bikin ngakak. Tersebutlah laju mereka yang menakjubkan di awal musim 1972/1973 (dua kekalahan dalam duapuluh tiga pertandingan pertama), yang kemudian diikuti oleh keterpurukan ancur-ancuran mereka yang menyenangkan setelah Natal, yang membuat Frank O'Farrell dipecat; selingkuh menggelikan antara (manajer) Tommy Docherty dengan istri tukang pijat United, yang membuat Docherty didepak; kekalahan di final Piala FA melawan Southampton dari Divisi Dua, malapetaka yang bikin semua orang bersorak gembira sebab gol Southampton itu sebenarnya offside bermeter-meter.
Tahun delapanpuluhan sebagian besar sama saja; mereka berjaya di piala yang remeh-temeh, kalau sesekali menanjak di papan klasemen Divisi Utama maka akan segera diikuti oleh kemelorotan yang tak kalah bersemangatnya. Para manajer (Dave Sexton, Ron Atkinson) datang dan pergi; citarasa yang ganjil terhadap striker mahal yang kemudian terbukti mandul minta ampun (Alan Brazil, Garry Birtles, Peter Devenport) menjadi tradisi.
Pada periode inilah, ketika klub-klub di Inggris bisa menjual seorang pemain ke United cukup dengan mengumumkan bahwa pemain itu memang layak dihargai sekian juta pound, para penggemar klub lain bisa mendapat hiburan gratis dari ketidakmampuan berkelanjutan  Manchester United merebut gelar dari kubu Merseyside.
Sekarang, jelas kelihatan bahwa masa tunggu yang lama itu sedang menjelang berakhir. Dan... dan... (alah, tinggal bilang saja susah!)... aku tidak lagi yakin soal betapa tidak bahagia aku dibuatnya. Mula-mula, aku mulai merasakan bahwa lelucon itu sudah setengah dekade lebih panjang, dan itu membuat ia mulai kehilangan rasa lucunya. Kasih mereka apa kek, dan setelah itu mungkin mereka akan bungkam.
Namun ada alasan lain, yang lebih sentimentil, untuk berharap gelar juara itu jatuh ke Old Trafford. Ini adalah masa-masa gelap sepakbola. Norwegia punya peluang besar untuk merebut tempat Inggris di Piala Dunia 1994;  sekarang, mengumpan bola kepada salah satu teman setim, yang sama sekali berbeda dengan menendang bola sekeras-kerasnya ratusan mil ke angkasa, oleh sebagian besar pelatih sepakbola dianggap sebagai tindakan ilegal seorang banci kaleng, dan tak disarankan untuk dilakukan; Liga Premier yang baru jadi bencana kehumasan yang memalukan, sementara para penonton berbondong-bondong menjauh.
Kadang kala terasa bahwa seperempat abad kegagalan Manchester United itu cuma sisi keren dan simbolisme yang efektif, sebuah ilustrasi yang mendalam, dari fakta bahwa zaman keemasan sepakbola sudah lewat. Namun, tim United yang sekarang, memiliki gaung yang lemah namun menyenangkan dari tim mereka di tahun enampuluhan.
Sebagai Trinitas, Giggs, Sharpe, dan Cantona agak kebanyakan suku kata (dibanding pendahulunya, Best, Law, Charlton), namun setidaknya merekalah yang punya takaran yang cukup memadai yang bisa ditawarkan tahun sembilanpuluhan. Ada banyak pemain yang hampir-hampir disebut sebagai George Best Baru, sebanyak orang-orang bilang tentang munculnya Dylan-Dylan baru, tapi Ryan Giggs adalah tiruan Best paling lumayan hingga hari ini; cuma mukanya yang terlalu pucat saja yang mengingatkan kita bahwa ini adalah masa yang kurang sehat.
Tapi bagaimanapun, adalah Eric Cantona, pemain mahal United paling menarik sejak Dennis Law diselamatkan dari Torino di tahun 1963, yang menyediakan otoritas moral bagi tim ini untuk mengklaim gelar juara.
Ya, ia pemain bagus, tapi ia juga sebuah tontonan, sebuah kebahagiaan, sekaligus juga kelemahan, jika mengacu kepada beberapa bekas pemain profesional yang kini mencari nafkah dengan corat-coret pakai pensil di acara Match of The Day di TV. Dan jika memungkinkan merebut gelar Liga dengan uba rampe, misalnya sekerat roti Prancis, di lapangan (dan Leeds United, bekas klubnya, tahu soal hal itu, meskipun ia tidak memperkuat tim itu di beberapa pertandingan), maka boleh jadi para pelatih kita bisa beralih ke hal-hal estetis dan bukannya mekanis sebagai sumber ilham.
Cantona membaca puisi—bajingan betul. Ia tahu siapa Rimbaud! Dan, seperti di pertandingan kandang terakhir United, ia seperti bisa menggelitik bola di udara dengan kaki luarnya, dan dengan begitu Irwin tinggal hajar saja.
Aneh rasanya melihat tabel akhir klasemen Liga dengan Manchester United ada di puncaknya. Kami sudah sangat terbiasa melihat ada dua atau tiga klub yang menutupi mereka di atasnya—rasanya seperti melihat rumah yang tanpa atap, atau melihat Terry Wogan tanpa rambut palsu. Sekalipun begitu, akan mustahil untuk tidak merasakan rasa tegang oleh ketertarikan yang nostalgis, dan menerima semuanya itu sebagai tanda bahwa masa-masa indah itu akan terulang lagi.
United akan menjuarai Piala Champions lagi, akan ada serangkaian single-single hebat yang dihasilkan di label Tamla Motown, Tuan Waverley akan memberikan Napoleon Solo misi U.N.C.L.E baru dan aku akan menghabiskan setiap Sabtu pagiku nonton acara anak-anak di ABC. Jangan ngaco, United (kecuali kalau kalian main ke London Utara, di mana kalian tak akan dapat tos dariku); aku ingin masa kecilku kembali.    
 
*diterjemahkan dari "Return of The Red Devil (1993)" dalam Fan Mail, Nick Hornby, 2013

No comments:

Post a Comment