Friday, December 18, 2015

Tidak Ada Tempat Pulang Untukmu Jose


Oleh Darmanto Simaepa



Chelsea bukan, dan tidak akan pernah, menjadi rumah bagi Jose Mourinho. Memang, ia menyebut berulangkali bahwa Chelsea adalah “sebuah klub yang ada di dalam hatiku dan akan menyertaiku ke manapun aku pergi”. Orang-orang, terutama pendukung Chelsea, percaya, melatih di Cobham adalah perjalanan kembali Jose untuk menemukan rumah dan menjadikannya orang yang paling bahagia. Namun, hati kecil tidak pernah bisa berdusta. Ia menyebut Chelsea sebagai rumah lebih karena ia pernah berusaha kembali ke rumah yang membentuk dirinya dan begitu ia cintai namun cinta itu bertepuk sebelah tangan, dan nampaknya hampir mustahil ia bisa merebut cinta itu di masa depan. Atau paling tidak ia menyebut Chelsea rumah karena ia sedang berharap menemukan dan membangun rumah tempat ia mewariskan dinasti dan legasi di sana.

Sebelum rentetan konflik internal dan hasil-hasil buruk di awal musim ketiga-periode kedua, terlihat bahwa ada kerlip cahaya di ujung lorong yang membawa petunjuk bahwa Chelsea bisa menjadi rumah masa depannya. Kegemilangan dua musim pertama di Stamford Bridge memaksa para pandit dan pembencinya menelan ludah dan berkeringat dingin, sambil semakin menguatkan iman para pendukung, mendapati kenyataan bahwa ia akan melampaui capaian pelatih-pelatih agung dalam sejarah sepakbola. Kontrak perpanjangan kerja empat tahun yang disodorkan Chelsea seperti menjadi rute pembuka bagi Jose dalam usahanya membangun Chelsea sebagai imperium sepakbola, seperti yang pernah berhasil dilakukan oleh Tuan Matt Busby, Bill Shankly, Rinus Michel, Cruijff……Ferguson.

Dengan janji proyek jangka panjang Chelsea, Ia punya kesempatan untuk melengkapi citra sosok salah satu pelatih terhebat yang pernah diproduksi oleh sepakbola Eropa.  Sosok itu tidak akan hanya dikenal dalam sejarah sepakbola sebagai pemburu trofi, pelatih jenius sekaligus pragmatis yang menghalalkan segala daya-upaya untuk meraih kemenangan. Ia punya kesempatan untuk membangun fondasi kokoh sepakbola Chelsea yang kelak akan di kenal sebagai Warisan Mourinho.

Yang menjadi masalah adalah Chelsea bukanlah Manchester United, Arsenal, Juventus atau Barcelona. Lahan dan bangunan tempat ia hendak menyemaikan dan mendirikan kerajaan sepakbola sudah dibeli, dimiliki, dan ditempati Roman Abramovic.

Baiklah, kita bikin jelas. Dalam banyak aspek, klub-klub kaya ini lebih punya banyak kesamaan dari pada yang saya sangkakan. Paling tidak para pemilik dan pemegang saham bisa menentukan apa yang mereka mau beli dan belanjakan, meskipun tidak bisa mengintervensi formasi pemain di atas lapangan secara langsung. Mereka juga akan setuju jika lebih banyak siaran televisi berbayar dan harga tiket dinaikkan. Florention Perez, presiden yang dipilih lewat pemilu societe, bisa sama brutalnya dengan Roman, dan Glatzer jelas-jelas menghisap keringat pemain, pelatih, dan terutama penonton sepakbola sama rakusnya dengan Stan Kroenke dan para pemilik saham di Arsenal.

Yang membedakan, MU, Arsenal dan Liverpool (paling tidak sebelum dikuasai Fenway Sport Group) memberi ruang dan waktu bagi pelatih macam Ferguson, Wenger, dan Houilier atau Benitez untuk menciptakan identitas sepakbola yang sesuai, dan identik, dengan personalitas dan nilai-nilai yang mereka percayai. Di Chelsea, Roman memberi banyak uang bagi pelatih untuk menciptakan sepakbola yang membuatnya bahagia, sepakbola menyerang dan menghibur sekaligus menang, dan di sinilah letak masalahnya.

Roman berpikir ia bisa seperti Berlusconi dan Agnelli dalam hal membeli dan menciptakan sebuah klub sepakbola sebagai tempat memuaskan hasrat artistik dan ekonomi-politik. Hanya saja ia tidak ambil pusing dengan kebenaran fakta bahwa setiap warisan sepakbola dibangun dari sebuah tradisi, dan tradisi selalu dibangun di atas landasan kesabaran dan keberuntungan. Di sini, kesinambungan adalah kata kunci. Chelsea bukannya tak punya tradisi sepakbola yang kuat dan berkesinambungan, namun kalau dibandingkan dengan Milan, United, Everton, Barcelona……. 


Abramovic tak punya kesabaran untuk memotong pohon, membilai papan, merangkai layar, mengurai tali atau memilih-milah kompas untuk membuat kapal pinisi yang tangguh mengarungi lautan. Dengan uang tak terbatas di rekening, ia lebih memilih memesan yacht atau kapal pesiar pabrikan. 

Mourinho direkrut sebagai nakhoda bayaran untuk membuat yacht ini mengelilingi dunia dan memenangi pacuan kapal layar, sementara si pemilik melihat dari tribun jauh bahwa propertinya—kapal, nakhoda, kru—mengalahkan properti milik pesaing bisnis atau kolega makan kaviar dan minum sampanye. Si nakhoda bukanlah siapa-siapa melainkan bagian dari properti. Benar ia punya keahlian dan bisa mengambil kredit dari kemenanganya, namun yacht itu bukanlah rumahnya. Seperti dalam lahraga pacuan kuda, kuda pemenang pacuan dan pemiliknya selalu lebih penting dari pada si joki.

******

Tidak berbeda dengan dongeng, legenda, cerita tentang orang-orang besar, kisah pelatih agung (dan kontroversial) dalam sejarah sepakbola dunia adalah kisah tentang bakat dan ego besar. Seringkali ego dan bakat itu mencapi potensi terbesarnya karena dendam kesumat. Apa yang terjadi dengan Jose lebih dari sekadar pelatih bergelimang piala yang sedang mengalami ujian dan kejatuhan atau, yang populer di antara wartawan Inggris disebut sebagai siklus syndrom tiga-tahunan. 

Setelah menyigi wawancara-wawancara, dokumenter, biografi dan beragam bahan yang tersedia di internet, saya bisa melihat narasi tentang Mourinho adalah perjalanan tentang seseorang yang tidak bisa pulang ke rumah tempat ia melewatkan masa akil balig sebagai pelatih dan belum bisa menciptakan rumah untuk dirinya sendiri.

Tidak diragukan lagi bahwa ia adalah seorang pembelajar cerdas dan gigih dengan bakat melatih yang sangat besar. Ia lahir dari keluarga sepakbola—kakeknya presiden klub Vitoria Setubal dan ayahnya Felix adalah kiper nasional Portugal yang menggagalkan tendangan penalti Eusebio dalam pertandingan debutnya. Ia membantu ayahnya sebagai pemandu bakat klub Rio Ave sejak masa belia—mungkin dengan kesadaran bakat dan teknik sepakbolanya semenjana dan kemudian bekerja sebagai guru olahraga bagi anak-anak dengan disabilitas. Sampai kemudian pertemuan dengan pelatih kenamaan Inggris Boby Robson membawanya menjadi penterjemah di Sporting Lisbon dan kemudian menjadi asisten di Porto dan Barcelona.

Barcelona dekade 1990an dipandang sebagai rumah terbaik bagi pelatih papan atas yang beredar di liga utama Eropa sekarang. Cruijff, dan kemudian Van Gaal, mewariskan tradisi kepelatihan sepakbola yang mengkombinasikan taktik total-voetball dan seni Catalan ala Gaudi dan menetaskan anak didiknya dari pesepakbola perancang taktik brilian. Barca menghasilkan tidak hanya figur pelatih terkenal seperti Koeman, Luis Enrique, Guardiola, Michael Laudrup, Van de Boer (Ajax), Laurent Blanc, Lopetegui (Porto), tetapi juga pelatih Almeria (Sergi Barjuan), Pizzi (ex-Valencia, sekarang Leon di Meksiko) Sporting Gijon (Abelardo Fernandez), Chapi Ferrer (Cordoba). Nama-nama itu bisa diperpanjang hingga Prosinecki (Azerbaijan), Ammunike di Nigeria, Giovanni di Olympiakos...

Dan tentu saja Barcelona adalah rumah tempat Mourinho mengasah taringnya. Ia menjadi satu-satunya orang (non-pemain) yang mengalami secara langsung turbulensi dan transisi Barcelona era Cruijff—Robson—Van Gaal. Ia bekerja mulai dari penterjemah di awal-awal masa Robson hingga menjadi asisten pelatih yang diberi tanggung jawab penuh oleh Van Gaal untuk menyiapkan tim dalam pertandingan non-kompetitif. Bagi pemain, ia tidak hanya dikenal sebagai la traductor (penterjemah), tetapi juga menjadi teman dan asisten pelatih yang memiliki kemampuan membangun solidaritas dan kedekatan dengan pemain sekaligus cakap dalam hal pemahaman taktik.

Periode di Barcelona-lah yang membentuk formasi metode dan gaya kepelatihannya.
Hampir semua pemain Barca yang mengenal dekat Jose memberi pujian. Ia dikenal sebagai seorang yang ambisius, berani mengemukakan pendapat, tegas namun sekaligus dekat dan hangat dengan pemain.  Berulang kali ketika Robson dan Van Gaal sibuk mengurusi etorno, kegaduhan politik dalam tubuh pengurus Barca, Jose mengambil sikap dan memimpin tim.

‘Dia memang spesial. Dia ingin menjadi yang terbaik dan ingin klub meraih hasil terbaik. Seringkali ia mengambil alih kepemimpinan jika pelatih mengurusi hal-hal non-sepakbola.’ kenang Stoichkov. Bekerja dengan pemain-pemain besar dengan ego besar—Ronaldo, Figo, Rivaldo, Stoichkov, Blanc—dan belajar dari pemikir sepakbola dalam diri Cruijff dan Van Gaal memberi bekal melimpah baginya untuk menjadi pelatih sepakbola hebat.

*****

Yang menarik, ada kesan kuat bahwa Mourinho enggan dan menolak periode formatifnya di Barca sebagai periodi paling penting dalam karir kepelatihannya. Dari selusin wawancara eksklusif yang saya tonton, Mourinho mengulangi pernyataan bahwa ia belajar dari dirinya sendiri. Dengan hati-hati ia memilih kalimat untuk menjelaskan Ia tidak belajar secara khusus dari siapapun, tidak dipengaruhi atau mengekor figut pelatih ternama dan tidak berhutang pada tradisi sepakbola manapun. 

Ia mengakui bahwa Van Gaal membantunya dalam pengambilan keputusan menerima tawaran Benfica sebagai pelatih utama dan terang-terangan mengatakan bahwa ia menyukai meneer Belanda itu, dan jelas-jelas hubungan itu bersifat resiprokal karena Van Gaal juga tanpa sungkan menyukai dan memuji Jose. Namun ia di setiap wawancara terlihat jelas ia menahan diri untuk menyebut Barcelona sebagai rumah tempat ia berkepompong dari penterjemah menjadi salah satu pelatih paling sukses di dunia.

Saya baru sadar bahwa sebagian besar dokumenter dan wawancara Jose yang saya tonton itu diproduksi paska tahun 2007. Itu adalah tahun ketika ia mendapat pemecatan pertama kali dan masuk kandidat sebagai pengganti Frank Rijkaard yang tidak bisa lagi mengontrol ego pemain bintang. Peluang ini menjadi harapan besar setelah ia mendapat perlakuan buruk di Chelsea. Ia pantas berharap tinggi dengan apa yang telah ia raih dengan Uniao de Leiria, Porto dan Chelsea. Dalam periode 7 tahun setelah meninggalkan Barca, ia telah mengoleksi empat titel liga domestik, Piala Champions dan UEFA, dan tujuh gelar domestik lain.

Presiden Laporta dan Direktur Begiristain memberi angin segar, tapi Cruijff memberi pertimbangan akhir, merasa Mourinho memiliki kepribadian yang tidak tenang dan strategi bertahannya tidak cocok dengan filosofi Barca. Alih-alih memilih orang Portugal yang ambisius, berpengalaman, dan bergelimang sukses, Barca menunjuk Guardiola, pelatih Barca B yang bahkan belum punya ijin melatih tim utama.

Guardiola adalah teman Jose paling dekat dan paling antusias dalam mendiskusikan taktik dan strategi selama periodenya Barca. Mereka dikisahkan sering beradu argumen sampai pagi untuk membahas apakah seorang bek harus maju dua langkah untuk menutup ruang lawan atau seorang gelandang menggulirkan bola lebih lambat setengah detik ketika tim mengalami tekanan. Sama-sama punya obsesi dengan permainan ini, ada suatu masa keduanya adalah saudara kembar-seperguruan dalam menimba ilmu kepelatihan. 

Yang membedakan, Jose telah melewati banyak ujian dan mengalahkan para pendekar dari perguruan lain. Keberhasilannya menaklukkan Eropa dengan klub ‘kecil’ Porto dan memotong dominasi rivalitas United-Arsenal memberi kredibilitas dan kredensial buatnya untuk mengklaim bahwa ia telah menjadi jagoan pengelana naik turun bukit sampai ke manca negara dan memenangkan banyak sayembara adu pedang.

Ia berhak menjadi pelatih Barca dari pada Guardiola. Ia menyebut keputusan Laporta dengan menunjuk Pep adalah kesalahan terbesar dalam sejarah Barca dan waktu akan menunjukkannya.

Barca mengambil jalan lain yang beresiko itu namun sukses besar. Guardiola tidak hanya membangun dan menyempurnakan inovasi sepakbola 4-3-3 dalam tradisi Michels-Cruijff-an dan memberi sentuhan seni geometris ala Catalunya ke dalamnya, tetapi ia juga memberi warisan kepada sejarah sepakbola salah satu tim terbaik yang pernah ada dengan gaya permainan yang khas. Lebih dari itu, ia membuktikan bahwa menang dengan cara agung bukanlah mustahil bagi sepakbola.

*****

Meletakkan kisah Jose dalam arus sejarah sepakbola Eropa elit kontemporer yang mata airnya ditimba di kota dagang Mediterania bisa menjelaskan narasi yang diciptakan oleh sepakbola untuk Mourinho seperti halnya narasi kitab suci tentang pengusiran Iblis dari Surga. Guardiola adalah manifestasi penuh sifat dan karakter sepakbola Catalunia. Ia adalah makhluk sempurna dan berpengetahuan yang dijanjikan oleh Tuhan dalam taman surga Catalunia. Terlahir dekat stadion Nou Camp, Pep adalah ball boy, pemain akademi, kapten, pemegang tiket terusan, pelatih, anggota societe. Mourinho, pintar, arogan, jenius dan lebih terbukti diciptakan oleh sejarah sebagai orang yang pertama kali meragukan kesempurnaan Guardiola.

Iblis terbukti salah: di bawah asuhan Guardiola, Barca merajalela dan menaklukkan dunia—dengan penguasaan bola, pergantian posisi, menyerang secara membabi buta, dan kreativitas dan keindahan tiada tara. Kegemilangan Barca dan pengakuan Guardiola menjadi nemesis dalam pengalaman psikologi Jose. Kegagalannya menjadi pelatih Barca adalah titik balik yang menandai keterusiran Jose dari surga (dan rumahnya). Dalam perebutan siapa yang paling berhak mewarisi rumah Barca, Jose terlempar keluar.

Ia memilih berkelana dan mengambil sumpah untuk menjadi rival Guardiola dan mendedikasikan energi kepelatihannya sebagai antitesis bagi permainan Barcelona. Ketika Guardiola menikmati waktu di taman indah tiki-taka dan bergelimang kebahagiaan, Jose memulai rute perjalanan untuk menjatuhkan Guardiola dari surga dengan menerima tawaran Inter Milan, dan kemudian Real Madrid.

Tidak sulit untuk memahami kenapa dia menuduh Barca berkonspirasi dengan UEFA untuk mengalahkan Chelsea di semifinal Champions edisi 2009. Ia juga menuduh para wasit selalu memberi keuntungan buat Barca. Ia menggunakan kepintarannya berkelakar, menyindir, melucu dan membuat headline ketika menjawab pertanyaan wartawan di konferensi pers. Di mana ia memberi pernyataan, ia selalu menyerang Barca dan Guardiola. Dan ia menyerang dengan cara yang jenius yang langsung menohok jantung Guardiola, nyaris menyerupai psikopat dalam menakut-nakuti korbannya.

Ia mendapat kesempatan terbaik untuk membuktikan diri bahwa ia lebih baik dari Guardiola dan timnya lebih baik dari Barca pada semifinal Piala Champions edisi 2010. Ia telah siap menunggu hari penentuan itu. Berhari-hari ia menyiapkan tim dengan 10 pemain; bertahan dengan 9 pemain di dalam kotak penalti sendiri. Bahkan ia sudah tahu ke mana dan apa yang akan dilakukannya setelah peluit akhir dibunyikan. Kemenangannya atas United tahun 2003 dan perayaan ke tengah lapangan sambil berlutut tidak ada apa-apanya dibandingkan arah larinya menuju keriuhan dan siulan suporter Barca sambil mengangkat telunjuk jari. Ia menunjukkan bahwa Guardiola dan pemain Barca adalah manusia, dan menyebut kemenangan itu adalah pertandingan terbaiknya sepanjang menjadi pelatih.

Juga tidak sulit untuk memahami kenapa ia memilih tawaran Real Madrid. Obsesi Barca dengan keagungan Madrid dalam sejarah sepakbola menyediakan medan pertempuran bagi penebusan luka lama Jose. Rivalitas sosio-politik Catalunia dan Espana  yang terwujud dalam el-classico Madrid-Barca adalah eksemplar dari pertempuran Guardiola-Barca dan Jose anti-Barca. Ia tidak pernah benar-benar menjadi Madridista dan Madrid tidak pernah bisa menjadi rumahnya juga. Membesut Secara taktik, seorang Madridista tidak menggunakan tiga gelandang bertahan dan menyiku lawan serta merubung wasit untuk menjadi pemenang. Secara mental dan norma, seorang Madridista tidak akan mencolok mata pelatih lawan.  Madrid adalah pilihan terbaik untuk membuktikan bahwa ia bisa membongkar rumah lamanya.

******

Rivalitas Jose dengan Guardiola sering dipandang hanya sebagai bagian perang psikologis lewat media untuk mengganggu konsentrasi lawan. Saya berpendapat bahwa rivalitas itu lebih dalam dari sekadar permainan media. Akar-akar masalahnya terbenam dalam struktur narasi tentang si baik dan si jahat dalam sejarah sepakbola kontemporer. Narasi ini berakar dari satu visi moral tentang hukum kehidupan yang memilih sendiri perimbangan sisi gelap dan sisi terang. Jose dan Guardiola tidak memilih karakter si jahat (anti sepakbola, bertahan, menghalalkan segala cara) dan Guardiola (atraktif, menyerang, pro-aktif). Tapi dunia membutuhkan narasi hitam-putih, kawan-lawan, baik-buruk agar hidup lebih mudah untuk dipahami dan tatanan sosial bisa ditegakkan.

Narasi tentang Jose yang anti-sepakbola selalu muncul dari perbandingan dengan sepakbola yang diaspirasikan oleh Barca dan para romantik sepakbola. Narasi tentang Chelsea yang membosankan, misalnya, muncul karena keberhasilan Jose mengalahkan permainan atraktif Arsenal dan United. Rekor poin kemenangan dan mencetak gol Madrid dalam sejarah La Liga tidak menjadi narasi dominan, kalah oleh imaji tentang Pepe yang menyeringai dan Casillas yang menderita, meskipun ia berhasil ia mematahkan dominasi Barca.

Jose telah menciptakan sejarah. Namun ingat, ia adalah produk sejarah yang tidak bisa ia ciptakan sendiri. Ia tidak bisa memilih untuk tidak ikut Robson dan menjadi bagian dari rejim van Gaal. Ia tidak bisa memilih untuk menimba ilmu dari tempat lain, dalam hal taktik dan manajemen sepakbola. Jose barangkali dengan sadar menciptakan rentetan permusuhan anti-Barca, namun hal ini terjadi setelah ia menjadi anak durhaka.

Si malin kundang, ironisnya, adalah produk Barca. Ia adalah produk Barca yang dianggap bukan-Barca. Ia adalah produk Barca par excellent, namun di saat yang sama ia tidak dilihat mewakili tradisi dan filosofi sepakbola Barca.

“Ia memang lain,” begitu definisi pemain Barca era 90an. Semua orang yang mengenalnya di Barca bilang ia brilian, berdedikasi, berkomitmen, teliti, tekun, dan hebat mengelola emosi pemain. Tetapi, tidak ada orang yang mengidentifikasi bahwa taktik dan permainan sepakbolanya bagian dari tradisi Barcelona. Jika para pandit bisa mengidentifikasi struktur 4-3-3 di Soton, Porto, Bayern, PSG, Ajax, Celta Vigo, Sporting Gijon sebagai warisan formasi baku Barca (yang berasal dari akademi Ajax 1970-an), mereka membuktikan struktur dasar formasi Jose adalah 4-2-3-1. Sepakbola, ditangan Jose, adalah cara untuk menghentikan permainan menyerang dan memukul balik dengan bola mati atau serangan balik. Van Gaal, patron Jose bahkan menuduh Mourinho “lebih bertahan’, dan mengatakan “saya lebih menyerang” sebelum final Champions 2010.

Bekas pemain Barca selalu menyebut Pep sebagai pewaris tradisi sepakbola Catalunia dan, dengan demikian menempatkan Jose diujung anti-tesisnya. Mereka menyebut Jose ketika mereka mengenang masa-masa formatif itu. Hanya saja, mereka tidak menempatkan Jose dan tim-timnya dalam horison perspektif yang dihasilkan oleh sekolah Barca. Ada kesan kuat bahwa kejayaan klub-klub yang ditangani oleh Jose mengganggu permainan ideal sepakbola yang secara romantik diidentikkan di dalam figur seperti Pep, Wenger atau Bielsa. Pandit dan bekas pemain sepakbola mengagumi kepiawaian Jose menghadirkan trofi, tetapi diam-diam tidak menyukai sepakbola yang mereka mainkan.

Narasi tentang si jahat-si baik ini menempatkan Jose dalam pesakitan, tetapi dalam waktu yang bersamaan ia menarik simpati yang luas karena ia mewakili sisi dan hasrat tersembunyi setiap orang yang menginginkan kemenangan dengan segala cara dan di atas segalanya. “Sepakbola bukan sekadar permainan menguasai bola di atas rumput halus dan rata tanpa gawang,” ujarnya suatu kali. Esensi sepakbola adalah mencetak gol dan memenangkan pertandingan bukan selama mungkin menguasai bola.

Iblis adalah makhluk yang pintar, dan dalam banyak hal, ia memiliki keahlian lebih dibanding manusia. Ia tidak memilih untuk memusuhi manusia. Hanya saja, hukum kehidupan (agama dominan), menuntutnya berbuat demikian untuk menunjukkan pemisahan baik-buruk, jahat-mulia. Ia adalah produk sejarah yang sama dengan manusia.  

Di titik ini, saya bisa bersimpati terhadap Jose. Narasi jahat-baik adalah hukum kehidupan, yang tidak pernah adil bagi orang seperti Jose—juga buat Iblis yang terusir dari Surga. Jose sekuat tenaga membela prinsipnya dan seperti sedang melawan dunia, dan membuktikan bahwa sepakbola bisa dimainkan dengan beragam cara. Dia gigih memperjuangkan keadilan epistemik—frase yang saya curi dari istri saya—dalam jagad sepakbola. (Yang dimaksud dengan keadilan epistemik itu adalah membuka segala cara berpikir (filosofi) dan cara pandang terhadap sepakbola.)

Ketika semua klub hendak mengekor cara Barca mengelola klub, memproduksi pemain akademi dan menerapkan taktik untuk meraih kemenangan, Jose memberi alternatif lain bagi klub yang bekerja mengandalkan keringat dan darah. “Messi dan Ronaldo hanya untuk dua klub,” Jose memberi perumpamaan, “tetapi juara bisa diraih oleh tim manapun yang hidup tanpa mereka”.

Seluruh rangkain kerjanya paska-Barca—dari keliling ke Brazil mencari pemain tarkam sampai keberanian mencadangkan Casillas—digerakkan lewat prinsip kerja keras. Bakat tidak ada berarti apa-apa tanpa etos kerja, begitu ia punya mantra. Keberhasilannya bisa menginspirasi klub-klub kecil yang tidak kebagian hak siar televisi dan menjual kaos pemainnya untuk bertarung melawan klub-klub mapan. Ia barangkali orang yang pertama kali memberi selamat kepada klub gurem dari Siprus, Apoel Nicosia, saat mereka melaju ke babak 16 piala champions.

Pujian di atas barangkali sedikit aneh mengingat bahwa saya selalu menulis hal-hal buruk tentang Mourinho. Seorang teman menyebut saya ‘pendengki Mourinho’ dan semua pendengki selalu bisa melihat kekurangan dan celah orang lain. Saya tetap mendengki Jose, dan ia masih menjadi nemesis saya dalam menulis sepakbola. (Saya bisa mengabaikan sakit kepala setiap menyaksikan United di bawah Van Gaal bermain atau menahan diri ketika Barca menampilkan sepakbola terbaik dalam lima tahun terakhir dalam el-classico terakhir, namun saya tetap tidak bisa menahan diri menulis tentang pemecatan Jose Mourinho!!).   

Nada yang berubah dalam menuliskan Jose barangkali mengejutkan karena, anda bisa bilang bahwa saya adalah moralis sepakbola. Sebagai penggemar sepakbola menyerang, atraktif, kreatif dan penuh keberanian mengambil resiko, Jose adalah iblis laknat. Bagi saya, sepakbola yang layak tonton adalah sepakbola yang berakhir dengan skor 4-5 di mana tim yang saya dukung tersungkur dari pada pada pertandingan 0-0 yang memberikan gelar juara.

Saya selalu geleng-geleng kepala ada orang yang menyukai Tony Pulis atau Materazzi. Bahkan ketika ketika Barca kalah atau MU menderita, saya masih bisa tersenyum menyaksikan Chelsea tersungkur dan gembira setelah melihat Jose merah mukanya di depan kamera post-match interview.

Namun, kedengkian terhadap Jose saya bisa letakkan dalam perspektif yang lebih luas.

Ada suatu masa ketika terobsesi dengan pertanyaan “apa dan lingkungan seperti apa yang membentuk formasi seorang Mourinho?”, saya menelusuri internet untuk melihat dokumen audio-visual tentang Jose. Berpuluh-puluh jam usai memelototi layar monitor dan mendengarkan rekaman, saya bisa mengatakan bahwa Jose adalah pelatih yang brilian, jenius dan dengan etos kerja yang luar biasa. Barangkali dia adalah pelatih modern yang memiliki kelengkapan taktik dan kemampuan manajemen pemain terbaik. Tidak perlu bukti-bukti dari statistik OPTA untuk menyebutnya dia pelatih terbesar yang dihasilkan Abad 21. Dari kemampuan berbahasa, hubungan dengan pemain, adaptasi strategi dalam pertandingan-pertandingan besar, dan terutama setiap trofi yang ia berikan kepada klub-klub yang mempekerjakannya, sederhana saja: ia yang terbaik.

Namun, dalam sepakbola trofi semata tidak pernah cukup. Dalam wawancara mendalam usai periode Madrid, Ia menyatakan secara eksplisit bahwa ia membutuhkan tempat yang stabil untuk membangun imperiumnya. Ia masih haus akan gelar dan kemenangan, tetapi ia ingin menciptakan versi lain dari dinasti Ferguson. Chelsea menjadi pilihan yang paling masuk akal. Ia mencium gelagat Roman sepertinya sedikit punya kesabaran setelah berhasil mencium piala Champions di Munich.

Si anak durhaka, iblis terkutuk yang ditolak kembali ke surga ingin mencari rumah tempat ia melabuhkan hati. Ia berharap Chelsea menjadi benar-benar rumah tempat hati sepakbolanya ditaruh dan bisa melupakan penolakan dari Nou Camp.

*****

Cerita tentang Jose adalah kisah tentang pelatih jenius yang mencari-cari rumah tempat ia hendak meletakkan warisannya. Rumah tempat ia tumbuh telah direnggut darinya dan tidak ada kemungkinan untuk mendapatkannya kembali; Rumah itu telah diberikan kepada saudara seperguruan, dan saudaranya itu telah berhasil membuat rumah versi megah dan nyaman untuk ditempati.

Dalam kisah Iblis yang terusir dari surga, konon Tuhan tidak pernah bisa memaafkannya dan tidak ada jalan untuknya pulang ke rumah. Yang tidak pernah dikatakan kepada kita para pemeluk teguh adalah Iblis punya kejeniusan untuk menciptakan rumahnya sendiri.

Penolakan dari Nou Camp memberi peluang baginya untuk menciptakan dinasti dan tradisinya sendiri. Dan Jose tidak akan berhenti sampai ego dan dendam kesumatnya menciptakan pembalasan dan hidup dengan damai dan tenang. Hanya saja, tinggal sedikit klub besar di Eropa yang memberikan kesempatan dan terutama kesabaran bagi orang seperti Jose untuk membangun dinastinya.

Di kitab suci, tempat abadi bagi Iblis adalah neraka. Namun kita tidak pernah tahu bahwa apakah Iblis sengsara atau bahagia di sana dan membangun rumah megah di sana. Kita juga tidak tahu apakah dia akan punya rumah atau tidak. Sepakbola menunggu akan ke mana sang Iblis menciptakan rumahnya. Di sebelah utara London, ada tempat yang ramah bagi Iblis yang wajahnya suka memerah kalau kalah. Bukan kebetulan jika namanya the Red Devils. Itu adalah satu-satunya tempat yang profilnya cocok dengan Jose.

(Jujur saja, saya agak sedikit menggigil membayangkan dalam dekade-dekade mendatang, Jose berhasil membangun rumahnya sendiri di samping istana yang telah dibangun oleh Ferguson.)

6 comments: