Sunday, January 3, 2016

Tiga Tamasya Kecil ke Masa Lalu Bersama 'Bola'

Untuk pekerja yang diPHK
Darmanto Simaepa


‘Bola’ Mati Suri?

Harian ‘Bola’ tutup, begitu rame obrolan media awal November. Banyak ucapan duka-cita di portal-portal olahraga dan juga dari penulis sepakbola. Aku sangka ‘Bola’ memang benar-benar kukut. Terseret gelombang arus ‘perasaan sosial’ yang bergentayangan di era digital dan dengan sedikit kejernihan informasi, perasaan sedih serta merta melindap. Berita itu memantik kesedihan yang lebih luas atas kenyataan bahwa semakin banyak media cetak hanya akan menjadi kenangan.

Rupanya, ‘Bola’ tidak benar-benar mati. Ia hanya berganti kulit menjadi mingguan (lagi) seperti awal kelahirannya. Dan konon akan bangkit kembali menjadi media non-cetak. Aku berkali-kali bilang jancuk! dalam hati dan mengutuk diri sendiri sebagai korban dari sebuah zaman yang memberi terlalu banyak  (dan deras) informasi yang bisa membuat seseorang bersedih hati, bahkan sebelum tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi. Masalahnya, sekali kita terinfeksi virus digital yang keliru ini (dari mana kata viral berasal), kita tidak bisa benar-benar sembuh total. Apalagi ini tentang ‘Bola’, situs kultural yang turut membentuk sejarah sepakbola Indonesia.

Tidak ada vaksin untuk ini. Kematian ‘Bola’ terus bersemayam di kepala, meskipun keriuhan berita itu telah digantikan, misalnya, oleh hasil seri Moto GP Valencia. Tidak ada cara lain untuk meredakan demamnya kecuali mencari kejelasan informasi.

Jangan salah sangka, aku bukan penggemar fanatik tabloid ini, peneliti olahraga, atau kolektor-arsiparis media-massa. Aku tidak pernah berlangganan ‘Bola’, dan bahkan punya pengalaman buruk dengan redaksinya—cerita khusus untuk ini lain kali saja! Sudah lama sekali terasa bahwa tabloid ini tidak memberi pengalaman memuaskan dalam membaca dan menghayati sepakbola. Terakhir membacanya tuntas lebih dari enam tahun tahun lalu ketika bacaan apapun yang teman-temanku kirim ke Mentawai seminggu-dua minggu sekali dari Padang dan Jakarta terasa seperti satu-satunya cara untuk berhubungan dengan dunia.

Lantas, darimana belasungkawa spontan itu berasal? Kenapa hati langsung gundah-gulana kendati sudah lama memutuskan untuk tidak membacanya dan tidak percaya dengan kualitas jurnalistiknya? Pertanyaan itu hilang-timbul selama dua bulan mengurus revisi tesis. Sampai aku menemukan www.bolaperjuangan.com, situs yang dibuat oleh sekumpulan mantan karyawan ‘Bola’ yang diberhentikan paksa.

Di situs  itu, Anda akan merasakan kegetiran hebat orang-orang yang hendak mengartikulasikan campuran rasa kecewa, rasa cinta, harapan dan perlakuan tidak adil, dan kehilangan. Aku sendiri tidak tahu-menahu soal pergolakan internal ‘Bola’. Perkara media, bukan hanya soal ideal-ideal jurnalistik belaka tetapi soal modal, upah dan hubungan kerja. Yang pasti, tidak rumit untuk dipahami kekecewaan mereka yang telah bekerja lebih dari dua dekade membesarkan dan merawatnya. Bagi mereka, ‘Bola’ bukan lagi sekadar komoditi.

Ya, tentu saja mereka adalah buruh yang diupah berdasar atas nilai kerja yang dikuantifikasikan oleh pemilik modal. Tetapi ingat, kapitalisme cetak bekerja dengan cara yang rumit. Ia bisa membentuk solidaritas horizontal dan memobilisasi cinta sesama agar negara-bangsa berdiri misalnya, dan dalam kasus ini, mengubah tenaga kerja yang tercurah menjadi cinta dan rasa memiliki—cinta wartawan, tukang cetak, loper koran, terhadap produk yang tidak dimilikinya.

Rasa getir di situs itu menggemakan pertanyaan tentang rasa kehilanganku sendiri, meskipun kehilangan itu sudah bisa diramalkan dan datang duluan. Kata cinta mungkin terlalu dalam untuk menyebut hubunganku dengan ‘Bola’. Namun, ‘Bola’ juga bukan sekadar tabloid sepakbola. Seperti cerita silat Kho Ping Hoo, serial Lupus, dan lagu-lagu Nike Ardilla di akhir 80-an, dan terutama awal 1990an, ‘Bola’ adalah sebuah situs budaya tempat banyak remaja (dan anak-anak) Indonesia melewati masa akil balig (rite du passage).

Pengalaman dengan ‘Bola’ mirip pengalaman disunat. Seperti halnya mengingat ‘ujungnya daging harus dipenggal’, membaca ‘Bola’ menyisakan pengalaman ‘spiritual’ yang dibawa kemanapun pergi. Anda tidak mungkin sunat lagi, tetapi rasa jarum suntik pertama kali menyentuh peler dan pengalaman pertama melihat kulit kemaluanmu hilang, akan terbawa sampai mati.

Anda mungkin tidak menjadi pembaca rutin ‘Bola’ (atau tidak sudi lagi menyentuhnya), tetapi ia tetap menjadi bagian dari kehidupan sepakbola Anda. Pengaruhnya mungkin tidak definitif seperti halnya sunat, tetapi ia sama larutnya dalam peredaran darah. Dari mengisi TTS sampai melingkari jadwal pertandingan dengan pena berwarna, dari menempel poster sampai membaca ulasan kemenangan tim jagoan, ‘Bola’ membentuk riwayat jatuh cinta dengan sepakbola.

Ketika mulai menulis esai ini, muncul juga pertanyaan reflektif lain: apa yang disedihkan dari tabloid yang hanya diisi ramalan dan laporan hasil pertandingan, yang penuh dengan angka-angka statistik dan tebak skor? Lama mencari jawabannya dan tidak kunjung bisa memastikan jawaban yang memuaskan, terasa bahwa dugaan lama tentang warisan terbesar ‘Bola’ bukanlah karya jurnalistiknya adalah benar belaka.

Perasaan sedih kehilangan ‘Bola’ lebih sebagai ungkapan kecemasan pembaca sepakbola yang takut kehilangan sebagian pengalaman masa lalunya. Ini bukan romansa pembaca buku atau media cetak yang meratapi kematian surat kabar atau dominannya buku-buku digital. Jurnalistik sepakbola tak akan pernah mati (meskipun juga tidak pernah sehat). Buku dalam bentuknya yang klasik tidak akan musnah dari peradaban. Masa depan jurnalistik sepakbola tidak hilang dari ada-tidaknya harian ‘Bola’.

Pertemuan dengan bolaperjuangan membawa pada pengalaman baru, membicarakan ‘Bola’ adalah membicarakan diri sendiri. Kalau bagi mereka, tuntutan itu konkrit urusan dapur dan urusan hak atas tenaga kerja yang telah menjadi cinta, bagi bekas pembaca ‘Bola’ sepertiku, kegelisahan dan pertanyaan yang muncul adalah urusan untuk menemukan riwayatku dengan sepakbola.


1

‘Bola’ dan Bungkus Taoge De Rip

Tidak seperti pengakuan generasi pembaca ‘Bola’ 1990an (dan para literati Indonesia) yang menemukan sumber bacaan di persewaaan bacaan, poster-poster di kamar teman, koleksi perpustakaan sekolah, atau rak-rak buku seorang paman, aku menemukan tabloid itu di pasar sayuran. Sebagai kota dagang kecil yang tidak punya orientasi literasi, Babat dan desa-desa di sekitarnya dekade 1990an tidak punya taman bacaan, perpustakaan kota, atau persewaan komik. Perpustakaan sekolah pastinya ada, tetapi kebanyakan isinya adalah buku-buku dengan cap 'tidak diperdagangkan' dari dinas P & K. ‘Bola’, koran, dan majalah? Jangan harap.

Hari itu di bulan Juli 1995, masa liburan panjang setelah ujian nasional sekolah menengah pertama. Jika tidak bangun kesiangan, aku membantu ibu membawakan ayam kampung, jagung, terong atau hasil bumi lain yang dibeli dari tetangga sekitar ke Pasar Babat. Alasan-alasannya jauh dari urusan berbakti kepada orang tua atau belajar menjadi anak budiman. Pergi ke pasar berarti bisa selalu sarapan pecel yang enak atau bisa melihat album-album pop Indonesia di toko-toko milik keturunan Tionghoa.

Ibu menugasiku belanja barang dan barang yang tidak perlu ditawar di toko langganan. Sebelum berangkat, Ia hanya mendikte daftar belanja dan harga sementara aku menuliskannya di balik bungkus rokok atau anti-nyamuk untuk kemudian diserahkan kepada pemilik toko. Ia percaya penuh dan menyerahkan uang dalam jumlah yang sangat besar untuk anak usia 15 tahun.

Awalnya, pemilik toko langganan tinggal mengambil daftar belanja. Tapi aku sudah terlalu cerdik untuk tahu bagaimana cara mengambil sedikit uang belanja itu. Entah untuk membeli kaset KLa Project atau menikmati semangkuk bakso segar di terminal pasar. Daftar itu hanya aku bacakan—tidak aku serahkan. Beberapa barang aku kurangi jumlahnya. Ketika pulang dari pasar, tetangga sekitar rumah langsung menyemut di lapak dan ibuku tidak punya waktu untuk mengeceknya.

Pergi ke pasar sangat menyenangkan. Hampir selama sebulan penuh di bulan itu, aku ikut membantu ibu. Ia sangat senang, selain karena merasa anaknya berbakti dan bisa diandalkan sejak masih sangat muda, ongkos porter barang tidak perlu dibayar—meski tidak tahu kehilangan lebih banyak uang dari sekadar membayar tukang angkut di tangan anaknya. Belanja jadi lebih cepat sehingga sayur, ikan, tahu, jajanan pasar yang dibeli dari pasar untuk dijual lagi di lapak masih segar.

Aku juga bisa mendapat uang tambahan. Beberapa juragan ibu terkadang meminta bantuan untuk memindahkan ini itu, mengantar ini itu. Kadang mereka cuma-cuma memberi uang persenan. Mungkin karena kasihan.

Suatu hari, juragan taoge langganan ibuku membongkar kios. De Rip panggilan pendeknya (aku tidak pernah tahu nama lengkapnya) akan pindah usaha di kota lain dan menyewakan kiosnya pada orang baru. Ia memintaku untuk membuang tumpukan koran bekas di sudut kios, yang ia gunakan untuk membungkus taoge partai kecil untuk para pelanggan, dan menaruhnya di dekat pintu agar tukang sampah keliling mudah memungutnya.

Dari situlah, aku pertama kali melihat ‘Bola’.

Aku tidak tahu dari mana De Rip membeli koran bekas. (Pertanyaan itu tidak akan muncul, lagi pula tidak menarik, saat itu). Yang menyita mata, di tumpukan paling atas, ada halaman lusuh tapi berwarna. Gambar besar Ryan Giggs yang dagunya belum berbulu menggiring si kulit bundar dengan baju merah bertuliskan merek televisi. Gambar itu membetot pikiranku.

Aku sudah menonton secara rutin dan menjadi penggemar MU sejak Liga Inggris disiarkan oleh SCTV beberapa tahun sebelumnya. Namun berita tentang liga-liga di Eropa bukanlah primadona Jawa Pos, satu-satunya sumber bacaan tentang sepakbola. Di tumpukan kertas bekas itu, lebih banyak ditemukan gambar-gambar pemain dan berita-berita sepakbola luar negeri.

Yang kontras dengan Jawa Pos adalah ukurannya yang lebih kecil. Mudah bagi rentangan anak remaja membolak-balik halaman sambil duduk. Sebagai perbandingan, cara terbaik membaca membaca Jawa Pos (masih dengan ukuran koran lama) adalah telungkup di atasnya. Cukup lama aku memeriksa koran bekas itu satu persatu. Untunglah hari itu, ibuku belanja cukup banyak sehingga ada banyak waktu.

Sambil menunggu, aku mengacak-acak tabloid bekas dengan antusiasme seorang remaja yang sedang membaca surat cinta pertama dari gadis tetangga. Beberapa lembar aku sisihkan karena memuat berita kemenangan MU dan final liga Champions edisi 1994 yang membuatku menangis tersedu-sedu. De Rip mengijinkanku untuk membawanya pulang, meski ibuku hanya membolehkan untuk membawa sebagian.

Dekat di Mata, Jauh dari Stadion

‘Bola’ tidak pernah populer di Jawa Timur. Jawa Pos telah berhasil mengidentikkan dirinya dengan sepakbola Jawa Timur lewat dukunganya terhadap Persebaya sejak paruh 1980an. Koran Jawa Pos menyediakan 16 lembar halaman olahraga, dengan tiga perempatnya khusus untuk berita bola, terutama Persebaya. Tidak hanya itu, Jawa Pos memobilisasi suporter dan punya andil dalam menciptakan Bonek sebagai istilah dan sekaligus sub-kultur remaja dan pemuda Jawa Timur.

Keberhasilan Dahlan Iskan mendekatkan Jawa Pos dengan Persebaya menciptakan hubungan yang kuat dan identik antara suporter sepakbola dan pembaca setia Jawa Pos. Prinsip kedekatan alias proksimiti dalam teori jurnalistik bekerja dengan sempurna: penggemar sepakbola adalah pembaca Jawa Pos, dan pembaca Jawa Pos hampir pasti akan mendukung Persebaya.

Sebelum berjumpa dengan ‘Bola’, aku sudah menjadi pembaca rutin Jawa Pos sejak kelas tiga SD. Kedatangan perawat baru di desa pada tahun 1990 memperkenalkanku dengan koran-nya Dahlan Iskan itu. Keluarga perawat itu membuka pintunya bagi kehadiranku sehingga sebelum adzan maghrib dan setelah mengaji di masjid At-taqwa, aku selalu singgah ke rumah mereka di belakang masjid untuk memamah berita-berita yang belum bisa benar-benar kumengerti sepenuhnya.

Usai sekolah dasar, pengalaman membaca koran telah melampaui pengalaman membaca Qur’an. Jawa Pos telah menjadi bagian keseharian yang paling akrab. Waktu-waktu menuju masjid lebih diisi oleh keinginan segera membuka halaman pertama sepakbola di rumah perawat itu dibanding mendaras kitab suci.

Kendati telah menjadi bagian dari Jawa Pos dan ikut merasakan demam ketika Persebaya akan bertanding di babak utama Perserikatan, pengalaman sepakbola paling riil bagiku adalah sepakbola di televisi dan radio.

Bagi keluarga sederhana, pergi ke stadion di Surabaya adalah impian yang sulit terjangkau. Aspirasi dominan keluarga tuna-kisma adalah mendekatkan anaknya ke masjid dan berharap kelak mengharumkan nama keluarga dengan menjadi da’i atau ulama kampung. Atau bagi yang beruntung punya anak pintar, mereka berharap anaknya terus mendapat rangking pertama di sekolah dan suatu saat ada kenalan baik hati yang menawarkan posisi juru ketik di kantor kecamatan.

Meskipun punya bakat sepakbola lumayan dan tanda-tanda terjangkit gila sepakbola, tidak ada rute menuju masa depan untuk menjadi pemain atau pendukung loyal klub sepakbola. Investasi dengan sekolah sepakbola belum dianggap menjanjikan, dan tidak ada orang tua dengan ekonomi pas-pasan dengan senang hati memberi uang saku bagi anaknya yang ingin menonton sepakbola di stadion. 

Bagi orang tuaku—dan sebagian besar orang tua miskin di desa—sepakbola di stadion identik dengan tawuran dan sangat membahayakan anak-anak. Menjadi suporter sepakbola dikesankan sebagai resiko untuk menghasilkan pemuda berandalan tanpa masa depan. Tentu saja mereka benar. Kalau harus pergi ke stadion Tambak Sari atau Petrogres untuk menonton Eri Irianto atau Widodo C. Putra, pasti aku harus berangkat sebelum ashar dan pulang setelah isya. Tidak ada ruang negosiasi untuk kehilangan shalat lima waktu, terlebih-lebih jika bapakmu adalah orang yang mudah emosi.

Di stadion, anda pasti lapar setelah berteriak, berjingkrak, dan adu-duel dengan petugas masuk stadion. Tidak ada cara lain kecuali berkomplot untuk menipu pedagang asongan, merampas makanan dari warung pinggir jalan, atau main petak umpet dengan pencek tiket kereta api. Itu adalah masa-masa transisi yang mungkin saja membuka jalan seorang anak desa menjadi pemain profesional atau pengurus sepakbola. Sebaliknya, masa transisi itu juga bisa menghasilkan pemuda putus asa yang berakhir dengan mabuk di bawah pohon waru atau mengoplos miras di bawah jembatan.

Tiga dekade yang lalu, isyarat bahwa sepakbola bisa menyediakan peluang mobilitas sosial bagi anak desa miskin dan memberi gaji yang tinggi belum bisa dibaca dan diramalkan. Paling banter, pemain hebat yang lahir jauh dari Surabaya atau kota-kota besar lain, hanya akan beredar dan diperbincangkan dari desa ke desa di sela-sela masa tanam, dan berakhir pensiun dini menjadi buruh tani ketika kaki-kaki mereka patah atau harus mulai mengurus anak-istri.

Menjadi suporter yang loyal atau bermimpi jadi pemain profesional berarti siap mengorbankan dan berani mempertaruhkan banyak hal. Pengalaman dengan stadion adalah barang mewah, mahal, dan menghalangi mobilitas sosial. Sehingga, melambai-lambaikan syal, ikut tret, tet tet Persebaya ke Jakarta atau Semarang tidak pernah menjadi bagian imajinasi sepakbola remajaku.

Lagi pula, Lamongan adalah kota rawa yang tidak punya tradisi sepakbola. Nama Persela nyaris tidak terdengar dalam pembicaraan sepakbola sehari-hari waktu itu. Turnamen agustusan sepakbola di Babat lebih hidup dan menarik minat para pemain top dari Surabaya dan sekitarnya.

Masalahnya: desaku tidak punya tradisi sepakbola yang membanggakan. Kami tidak punya lapangan yang layak. Mengirim tim ke sebuah turnamen hanyalah menyiapkan rasa malu. Kami terbiasa bermain 20 vs 20 dalam lapangan 800 meter persegi, dan kadang harus berbagi dengan kuda dan biri-biri. Tim-tim dari desa lain lebih kuat. Kalaupun mereka masih bisa dikalahkan, tim-tim dari daerah kecamatan yang dibiayai secara patungan oleh para pedagang pasar jelas bukan lawan sepadan. Lebih baik untuk menjadi pendukung tim-tim yang ngebon pemain bagus dari luar kota saja, dari pada melihat gawang tim sendiri menjadi bancakan penyerang lawan.

Konjungtur itu membuat pengalaman sepakbola paling dekat adalah siaran langsung televisi atau laporan pandangan mata dari radio, dan kemudian lewat halaman olahraga Jawa Pos. Aku tidak punya tautan dengan stadion dan tim lokal. Emosi justru tercurah kepada para pemain dari tempat yang jauh di benua lain yang hilir mudik dalam tayangan televisi dan diberitakan keesokan harinya di halaman olahraga. Kalaupun aku menggemari Niac Mitra dan segala sejarahnya, itu adalah Niac Mitra yang hadir lewat siaran radio sepakbola dan cuplikan dari gelanggang ke gelanggang TVRI di minggu siang.  

Koran, televisi, dan radio menghadirkan sepakbola yang dekat, sekaligus berjarak. Ia sangat dekat karena berita, siaran langsung datang ke ruang keluarga dan bisa dinikmati sambil menghapal Juz Amma. Tapi ia juga berjarak, karena emosi yang terlibat dibatasi oleh medium. Pengalaman sepakbola lewat media ini, di satu sisi, menjauhkanku dengan pengalaman-pengalaman konkret untuk menjadi penggemar loyal sebuah klub lokal; namun di sisi lain membuka cakrawala sepakbola global yang dimainkan di stadion-stadion megah di Eropa.

Membayangkan sebagai Bonek terasa sangat jauh. Semakin berjarak dengan imajinasi menjadi bonek dan hingar bingar Persebaya yang menyertainya, semakin dekat aku dengan sepakbola di media massa. Ketika koran bekas bungkus taoge itu ada di depan mata dan melimpahiku dengan gambar pemain-pemain yang lalu lalang di layar televisi tiap akhir pekan, tidak sulit untuk memahami bahwa ‘Bola’ telah mencuri hatiku, menempati ceruk kecil dalam pengalaman cinta remaja dengan sepakbola, yang sebagian besarnya telah diisi oleh Jawa Pos.

‘Bola’ memberi jalan lain untuk menautkan pertandingan-pertandingan di lapangan jauh dengan ruang keluarga, seperti halnya jalan yang diberikan Jawa Pos dengan para pendukung Persebaya. 


2

Mengingat Kios Baidhowi

Pertemuan dengan ‘Bola’ bekas di kios taoge membuat dahaga sepakbola seorang remaja tak cukup di pasok oleh arus berita Jawa Pos. Dahaga itu harus ditahan cukup lama karena aku tidak punya ide ke mana mencari tabloid ‘Bola’. Selama liburan panjang itu, aku tiap hari menyempatkan ke deretan kios koran untuk mencari-cari tabloid ‘Bola’. Keponakan penjual taoge yang menggantikan De Rip tidak lagi punya koleksi Bola dan tidak tahu dari mana bibinya membelinya.

Segera setelah bersekolah dengan celana panjang abu-abu, aku sering berkelana dari satu keramaian penjual buku musiman ke keramaian penjual buku keliling yang lain, di terminal, masjid agung atau di depan kantor pos kota. ‘Bola’, tentu saja tidak ada di antara deretan buku-buku panduan sholat, selebaran khotbah jumat dan iklan penumbuh rambut, dan toples berisi serangga dan ular berbisa yang diawetkan. Ia juga tidak ada di deretan buku stensilan Freddy S dan cerita silat Kho Ping Ho, kaset bekas dan gambar-gambar perempuan dengan vagina menganga yang disembunyikan di antara buku teka-teki silang—meskipun itu memberiku jalan untuk menemukan serial Pendekar Kapak 212.

Aku juga sering pergi ke loper-loper koran dan mendapati gelengan kepala. Beberapa di antaranya memaki karena aku bertanya lebih dari sekali. Sampai seorang kakak teman yang berlangganan majalah ‘Gadis’ memberiku nama toko alat tulis dan agen koran. 

Baidhowi Agency.

Namanya diambil dari nama marga pemiliknya, pria keturunan Arab berewokan yang ramah. Itu adalah satu-satunya kios yang menjual tabloid ‘Bola’. Selama tiga tahun sekolah menengah pertama, aku sering lewat depan kios itu. Beberapa teman membeli pena dan buku, serta memesan seragam di situ. Ada koran-koran dan majalah yang digantung di dinding kios, namun aku belum tahu ‘Bola’ ada di antaranya. Menemukan ‘Bola’ di Baidhowi adalah pengalaman besar—setara dengan halnya melihat film porno untuk pertama kali.

Kios itu barangkali sama pentingnya dengan lapangan sepakbola Sawunggaling tempat aku berlatih sepakbola. Setiap hari Kamis petang, selepas mengisi bak mandi atau menjaga kedai, aku mengayuh sepeda RRT warisan bapakku tujuh kilo menuju jalan Raya Bojonegoro-Surabaya nomor 143. Ruap hangat kertas ‘Bola’ yang keluar dari percetakan dan hasil pertandingan tengah pekan adalah hal yang paling menarik selera bagi remaja yang mulai lebih menikmati kisah pemain ‘Bola’ dari pada kisah para nabi.

Baidhowi pemilik kios itu sudah hapal dengan rutinitas Kamis petang itu. Menjelang aku datang, satu eksemplar tabloid ‘Bola’ yang masih segar diletakkan di atas meja. Jika di mejanya tidak ada tabloid ‘Bola’, aku pun tahu bahwa Kamis itu akan jadi hari yang sangat panjang dan sedikit mengecewakan. Untuk menghibur diri, terkadang aku memaksa Baidhowi untuk memeriksa koleksi tabloid ‘Bola’ yang masih dipajang di dinding kios.

Kami tahu tidak ada tabloid ‘Bola’ hari itu dan tidak mungkin dia tidak mencek barang baru, tapi begitulah, kekecewaan selalu membutuhkan penghiburan. Paling sering, dia menyarankan untuk datang lagi besok hari sebelum Jumatan. “Siapa tahu ekspedisi datang lebih pagi,” katanya. Itu adalah saran yang menghibur namun sama sekali tidak membantu.

Aku tidak tahu persis berapa kali Baidhowi terlambat mendapat kiriman ‘Bola’ di Kamis petang. Dalam rentang empat tahun (1995-1998) selama aku menjadi pengunjung Baidhowi—pertama kali saat kelas satu SMA hingga menjelang pergi ke Yogya, seingatku, hanya dua-tiga kali aku mendapat ‘Bola’ di Jumat sore.

Ketika ‘Bola’ tidak datang tepat waktu, suasana hati akan naik turun, seperti permukaan aspal jalan raya. Satu-satunya hal yang membuat permukaan hati menjadi sedikit rata adalah poster-poster film Sally Marcelina, Warkop DKI atau Cindy Rothrock di Gedung Garuda, satu-satunya gedung bioskop di kota Babat. Berjarak hanya tiga bangunan dari Baidhowi, Gedung Bioskop itu adalah suaka bagi kekecewaan, palung tidak selama satu-dua jam.

Gundah-gulana hilang sebentar jika gambar artis-artis China dengan payudara-payudara montok yang ‘diplester’ putingnya atau kuntilanak dan sundal bolong cantik yang sedang mendesah dan mengancam, terpampang di kotak kaca promosi. Namun, bibir Sally Marcelina dan paha ramping Inneke Koesherawati hanya bisa menegangkan kemaluan dan mempercepat aliran darah paling lama satu jam. Gambar film “Permainan Binal” di atas ranjang tetap tidak bisa mengalihkan gairah terhadap permainan indah di atas lapangan.

Sepakbola bagiku pada masa itu jauh lebih penting (dan mengasyikkan) dari pada menyelesaikan soal-soal mata pelajaran fisika atau ujian matematika. Menyukai lawan jenis, kalaupun pernah terbersit, gampang dialihkan oleh rencana-rencana pertandingan antar kampung atau SMA. Bahkan semua saran dokter untuk mencintai tubuh sendiri dibanding menonton siaran ‘Bola’ dini hari hanya akan diingat hanya ketika berbaring di ranjang rumah sakit. Setelah derita tipus dan masuk angin yang rutin menyerang setiap beberapa bulan sekali hilang, jadwal siaran sepakbola di balik halaman terakhir ‘Bola’ harus simpan dan diperiksa berulang kali.

Sepakbola Bola Global Menggurita ketika Republik Hamil Tua

Aku masih rutin membaca Jawa Pos di rumah Pak Katno (perawat itu) ketika berkenalan dengan ‘Bola’. Namun, Jawa Pos semakin dalam untuk terlibat dengan Persebaya, terutama setelah Petrokimia dengan Widodo, Jacksen dan Carlos de Mello berhasil mencuri perhatian nasional. Semakin banyak porsi untuk persebaya, dan semakin kecil porsi untuk sepakbola Eropa. 

‘Bola’ dan Baidhowi menyempurnakan celah kosong itu. Ia bisa memuat berita pertandingan tengah pekan. Meskipun di pojok atas-kanan halaman mukanya dinyatakan sebagai edisi Jumat, namun Kamis sore, ia sudah beredar di kios-kios koran di kota besar dan area yang terjangkau oleh jalur pengiriman. Jawa Pos terbit pagi dan tidak bisa menunggu hasil-hasil pertandingan Kamis dini hari.

Bagi remaja yang keranjingan berita sepakbola, kehangatan berita adalah segalanya. Benar kata orang., nafsu para remaja tidak kenal kata tunda. Menunggu berita hasil liga Champions, Piala UEFA atau Winners di hari Jumat mungkin rasanya seperti menunggu surat balasan kekasih hati, atau lebih buruk lagi, dipaksa makan nasi basi.

Ini bukan perkara soal kekuatan jurnalistik. Secara kualitas, karya-karya jurnalistik Jawa Pos justru lebih bagus. Untuk sepakbola, mereka secara berkala memberi asupan ekstra. Mereka menyediakan laporan-laporan langsung dari koresponden luar negeri yang mumpuni—untuk ukuran masa itu. Kebanyakan mereka adalah mahasiswa Doktoral di London, Hamburg atau Washington yang diberi kartu wartawan dan menulis secara rutin. Dari sanalah cita-citaku untuk menjadi wartawan tumbuh. Djoko Susilo atau Ramadhan Poham muda yang menulis tentang invasi Israel atau final liga Champions adalah figur-figur yang mengisi halaman-halaman terbaik Jawa Pos 90-an.  

Jawa Pos juga membayari mahasiswa di luar negeri untuk melakukan liputan langsung. Hasilnya, tulisan-tulisan mereka lebih analitik, berkisah, dan panjang, bahkan sebagian di antaranya berseri. Sementara ‘Bola’ lebih memilih orang-orang dari Kedutaan Besar di luar negeri untuk membantu mendapatkan kabar mutakhir dari luar negeri.

Waktu itu, perseteruan dan persaingan Grup Kompas dan Grup Jawa Pos bukan menjadi pembicaraan orang awam, dan tidak keluar di lingkaran kecil para melek media. Kisah tentang sabotase seluruh terbitan Kompas di Bandara Juanda oleh centeng Dahlan Iskan tak pernah terdengar sampai ke desa-desa, lagi pula barangkali bukan isu yang penting bagi pembaca. Bagi anak kecil, 'Bola' terlambat datang hanya karena pesawat ditunda karena cuaca, ban mobil ekspedisi bocor.

Jawa Pos menguasai sepakbola Jawa Timur, tapi tidak untuk Kamis sore.

Informasi terbaru Liga Champions adalah pembuka percakapan pagi hari sebelum masuk kelas. Ia juga penting bagi usaha pamer pengetahuan. Anda bisa terlihat pintar dan berbeda di kelas atau di desa. Apalagi jika persaingan di sekolah untuk mendapat ranking tertinggi begitu ketat dan di lingkungan sekitar, paternalisme memaksa anak-anak untuk menerima orang tua sebagai yang paling tahu dan benar. ‘Bola’ memberi pengetahuan (dan otoritas serta kekuasaan) bagiku untuk bicara sepakbola di lingkungan teman dekat  dan desa—khususnya tentang berita sepakbola luar negeri.

Tumbuhnya Bola dimungkinkan oleh globalisasi siaran sepakbola yang memuncak di paruh 1990an. Setelah berakhirnya monopoli siaran TVRI, televisi swasta berlomba-lomba membeli hak siar televisi. Sky Sport, Rai, atau Canal turut menciptakan Cantona, Ronaldo, Zidane, Del Piero, Beckham, Manchester United sebagai ikon global yang bersanding dengan pujaan lokal. Jika generasi 80an di desaku hanya memperbincangkan Maradona dan Ruud Gullit bersama dengan Syamsul Arifin, Alhadad, Mustaqim, Djoko Malis atau Subangkit, generasi 90an pasti tahu seluruh pemain klub-klub yang berlaga di liga utama Eropa.

Di leven nasional, sepakbola mulai menggeliat menjadi industri. Setelah era patronase bisnis dalam Galatama dan patronase politik dalam Perserikatan dileburkan di tahun 1994, perusahaan rokok berani membayar mahal liga yang tak benar-benar bisa membalikkan investasi. Liga didesain sedemikian rupa untuk disiarkan di televisi dan stadion-stadion dibenahi. Pemain asing berdatangan dan pemain lokal mulai mendapatkan bayaran yang lumayan. 

Meskipun liga Indonesia diniatkan untuk menjadi industri, Jawa Timur tidak pernah bisa menghilangkan ciri primordialisme-nya. Dahlan Iskan dan Jawa Pos masih mengelola ikatan emosional dengan bonek, untuk menjaga oplah sekaligus bersiap-siap lepas landas menjadi koran nasional. Strategi itu berhasil secara gemilang. Mereka berhasil mengantar Persebaya menjadi juara Liga Kansas di musim 1996/1997 dan meningkatkan daya jangkaunya ke Jawa bagian tengah dan Sunda kecil.

Mobilisasi suporter dengan ekspresi kedaerahan menciptakan kekhawatiran besar bagi kekuasaan di Jakarta. Republik sedang hamil tua. Ketidakpuasan para petani dan masyarakat terpencil yang tergusur oleh bendungan atau perusahaan kayu membesar menjadi protes politik. 'Kelas menengah' mulai gerah dan berusaha berkampanye tentang suksesi. Militer dan elit politik terfragmentasi. Di tingkat global, booming dan boosting bisnis properti di kota-kota besar Asia menciptakan krisis nilai tukar, dan merembet menjadi krisis ekonomi. Soeharto mengubah taktik politik sapu lidi menjadi belah bambu. Rumor dukun santet, konflik etnik dan kekerasan menyebar dan menjalar dari kota ke kota.

Kerusuhan di dalam dan di luar stadion juga meluber, memanaskan suhu politik di kota-kota utama. Militer dan Polisi diminta Cendana untuk mengongkan stadion dari rapat-rapat akbar dan kampanye  PDI-Megawati. Imbasnya, stadion juga disterilkan dari penonton sepakbola, demi alasan keamanan nasional Pemilu 1997.

Bagi remaja yang belum benar-benar paham tentang politik, sepakbola di televisi dan ‘Bola’ menawarkan suaka. Hawa panas politik yang menggantung di udara serta dari kekalutan sepakbola nasional tidak menghentikan gambar-gambar Ronaldo Barca yang melewati delapan pemain dan atau berita mengenai Cantona. Sementara liga Indonesia dibubarkan, transisi besar-besaran yang sedang berjalan di Eropa bisa dinikmati dengan tenang di ruang keluarga. Manchester United memulai kejayaan imperiumnya; Wenger mulai menerapkan misi revolusionernya di Highbbury; the Dream Team Barcelona dan Milan telah melewati masa keemasannya; Juventus, Ajax, Bayern siap-siap menggantikannya. Liga Italia mulai kehilangan daya tarik; Liga Inggris semakin kuat memompa uang siaran tayang. 

‘Bola’ menjadi saksi seluruh peristiwa sepakbola global itu. Jawa Pos memang punya koresponden di luar negeri, namun ia tidak punya daya saing dengan grup Gramedia untuk mengirim belasan wartawan ke Olimpiade, Asian Games atau Piala Asia. Ketika Jawa Pos masih berasyik masuk dengan Persebaya, ‘Bola’ mengirim gambar tendangan salto Widodo Cahyono melawan Kuwait di Piala Asia ke seluruh penjuru Indonesia.

Cita rasa kosmopolitanisme penulisan sepakbola juga bisa didapat dari terjemahan kolom-kolom Rob Hughes di Daily Telegraph atau Sunday Time. Teknik menulisnya menjadikannya istimewa, dan membuat ulasan-ulasan sepakbola yang ditulis oleh wartawan Indonesia koran manapun terasa membosankan. Perspektif dan cara pandangnya terhadap bagaimana sepakbola harus dimainkan dan nilai-nilai olahraga harus diutamakan menarik hati.

Gurita sepakbola global yang dibentuk oleh siaran televisi dan diberitakan ‘Bola’ membentuk pengalaman berjarak dengan sepakbola nasional (dan terutama lokal), dan semakin menguatkan aspirasi sebagai penggemar sepakbola global. Ini menghasilkan seorang anak desa lebih mencintai Barcelona dan MU dibanding Persela, dan lebih tahu tentang hubungan oligarki dan sepakbola di Italia dibanding politik para Bupati dan anggaran belanja klub sepakbola.  

*****

Kehidupan sebagai mahasiswa sedikit mengendorkan antusiasme sepakbola yang meluap-luap di masa remaja. Kota, makanan, dan teman-teman dari seluruh Indonesia menghadirkan pengalaman baru. Pergaulan dengan buku-buku dan bacaan baru menghisap anak muda ini bertualang dengan ide-ide yang dianggap mampu mengubah dunia. Dengan begitu, rujukan dan selera bacaan berkembang. Jawa Pos tinggal kenangan, dengan Kompas dan Tempo menggantikannya. Meskipun begitu, ‘Bola’ tidak pernah benar-benar hilang. Teman kost rajin membeli dan aku orang pertama yang menghabiskannya. Kami sering membagi-bagi halaman ‘Bola’ di parkiran Fakultas Biologi di saat jeda-jeda praktikum. Di kantor Pers Kampus tempat menghabiskan waktu diluar praktikum, satu dua orang secara berkala membawa ‘Bola’ untuk dibaca ramai-ramai. Namun, kebutuhan untuk membaca ‘Bola’ tidak lagi seperti dulu.

*****

3

Menunggu ‘Bola’ Dari Kapal Sumber Rejeki

Kehidupan sepakbola bergairah setelah tinggal untuk meneliti dan kemudian bekerja di Siberut, Kepulauan Mentawai. Setiap akhir pekan adalah sebuah pesta permainan. Sepakbola dimainkan dari terik siang sampai matahari benar-benar tenggelam. Bagi pendatang yang hendak menyelami kehidupan Mentawai, lapangan sepakbola adalah tempat perkenalan dan adaptasi terbaik. Skill yang lumayan mempercepat usahaku merebut hati mereka. Sekali dua kali mencetak gol yang bagus, Anda akan diperbincangkan dari lembah-ke-lembah. Apalagi setelah aku berhasil mencetak gol sebuah solo-run dari lapangan tengah dalam turnamen Agustusan, hampir orang setengah pulau membicarakanku.

Yang menjadi masalah justru adalah menonton sepakbola. Liga-liga Eropa, turnamen piala dunia dan Eropa dan Champions yang bisa diakses gratis di kota-kota besar, tidak bisa ditangkap oleh siaran parabola. Beberapa trik bisa digunakan untuk mencuri siaran televisi, tapi itu hanyalah taktik para  mekanik dan pedagang untuk meningkatkan orderan pemasangan antena. Kalau beruntung, siaran televisi Timor Leste atau China yang kebetulan berseliweran di radar parabola menyiarkan liga Portugal, Piala Asia atau Olimpiade.

Masalah lain adalah pasokan listrik. Di tiga desa di dekat Kecamatan, listrik hanya tersedia dari jam 6 siang sampai 11 malam. Di luar kawasan itu, listrik hanya tersedia lewat generator sederhana. Yang punya generator, kalau tidak pedagang Minang atau Nias hanya orang Mentawai yang beruntung menjadi tangan kanan proyek pemerintah. Di dusun tempat aku tinggal, televisi dan generator hanya ada dua, milik pedagang Nias dan kepala desa. Si kepala desa punya TV tapi tidak punya parabola. Di rumahnya, televisi menyala dengan film-film Bary Prima, Arnold, atau kalau sudah bosan dengan adegan baku hantam, diputarlah lagu-lagu pop Minang yang mendayu-dayu.

Televisi berparabola milik pedagang Nias diputar di jam tayang utama di kedai sebagai strategi berjualan dan dimatikan ketika pembeli sudah mulai sepi. Antara jam 8-10 malam, seisi kampung berjubel di teras pemilik kedai untuk menonton Jaka Tingkir berkelahi, Mak Lampir menyeringai, atau air mata Nabila Syakieb jatuh berderai-derai.  

Di kota Kecamatan, beberapa orang kaya berlangganan TV berbayar. Namun tidak seperti di kampung, orang tidak menonton ramai-ramai. Lagipula, karena aku tinggal di kampung nun jauh di pedalaman dan jarang turun ke kota, jaringan pertemanan dengan para pendatang sangat terbatas terbatas.

Pengalaman dengan final Piala Eropa 2004 ini akan terkenang selalu.

Jadwal ambil ransum 3 bulanan jatuh pada bulan Juli, di minggu ketika Portugal menantang Yunani. Atas saran teman, aku diminta menghubungi pak PR, pensiunan polisi yang menampung kopra dan menjual barang kelontong. Dia adalah satu di antara tiga orang di Muara Siberut (ibu kota kecamatan) yang berlangganan Indovision. Siang hari, sambil pura-pura belanja beras dan tembakau, aku bertanya tentang kemungkinan menonton final piala Eropa di rumahnya. Dia sedang mengurus kakao di ladang. Anaknya bilang OK, dan memintaku untuk datang sebelum lampu listrik PLN mati jam 11. Ia juga menyuruhku membawa paling tidak 2 liter bensin untuk menyalakan generator.

Malam itu aku mengajak dua teman. Kami berjalan tujuh kilometer dari tempatku menginap sementara di desa tetangga. Kami menyusuri jalanan becek rawa di tengah rawa sagu, hanya berbekal senter kecil dan parang. Hujan dan badai deras menerjang. Kilat menyambar-nyambar di balik bukit. Kami tidak sadar bahwa PLN mematikan lampunya lebih awal karena takut stasiunnya disambar petir.

Dengan basah kuyup, Kami sampai di depan gerbang rumah Pak PR. Rumah gelap, dan pagar terkunci. Kami berteriak-teriak memanggil. Tidak ada jawaban. Kami menunggu sampai setengah jam. Hujan sedikit reda dan angin mulai tenang. Kami memanggil-manggil lagi. Kali ini yang keluar dua anjing galak. Gonggongan itu memanggil anjing-anjing setengah liar di seluruh Muara Siberut untuk menggonggong dan mengejar kami. Kami lari lintang pukang dengan bensin tercecer di sana sini…

Masa-masa ketika aku tinggal selama kurang lebih 1 tahun di Ugai untuk penelitian skripsi dan setahun berikutnya kerja untuk sebuah proyek konservasi dari satu dusun ke dusun lainnya memutus sama sekali hubunganku dengan sepakbola luar negeri. Aku kehilangan pengalaman dengan final Piala Eropa 2004, final liga Champions 2003 dan 2004, dan liga Eropa dan liga Indonesia dari 2003-2005.

Sampai kemudian aku bekerja dan menetap di kota Kecamatan sejak akhir 2005. Sekretaris kantor mengatur langganan koran dari Padang yang dikirim lewat kapal Sumber Rejeki yang berlayar seminggu sekali. Aku meminta ‘Bola’ sekalian dimasukkan ke dalam pengiriman. Sesekali, seorang teman Belgia mengirim National Geographic dan Four-Four-Two edisi bahasa Inggris dari Jakarta.

Pada saat yang sama, aku mulai pelan-pelan membangun jaringan sosial dengan para pendatang di kota kecamatan. Aku bertemu dengan pak Eko, karyawan sekolah Katolik yang, kegilaannya terhadap sepakbola, belum aku temukan di tempat lain—cerita untuknya lain kali saja. Dia masih tinggal bersama mertuanya di kompleks perumahan guru-guru. Meskipun mertua perempuannya mukanya berubah menjadi masam ketika sinetron kesayangannya diganti siaran sepakbola, Pak Eko terus saja mengundangku untuk berteriak-teriak di rumah sempit itu, terutama ketika Chelsea sedang bertanding.  Setelah dia pindah dan punya rumah sendiri di awal tahun 2006, ia membeli parabola dan tempatnya jadi markas anak muda yang ingin menonton sepakbola ramai-ramai.

Masalahnya, parabola tidak selalu bisa menangkap siaran sepakbola liga-liga di Eropa. Apalagi pemegang hak siar di Indonesia pada tahun-tahun itu berkomplot dengan produsen parabola merek tertentu. Sepakbola masih bisa disaksikan dari televisi biasa di kota-kota besar. Tapi di kota-kota kabupaten, apalagi yang terpencil, siaran itu tidak bisa ditangkap. Karena parabola baru saja dibeli, parabola khusus itu diluar jangkauan kemampuan finansial pak Eko. 

‘Bola’ kembali menjadi penghubung dengan dunia sepakbola di luar Mentawai, selain siaran Metrosport dan cuplikan pertandingan lainnya. Anak-anak yang menonton, dan kadang tidur, di rumah pak Eko juga menanti-nanti ‘Bola’ langganan.

Secara teratur, kapal sumber rejeki mengirim ‘Bola’ setiap hari Selasa pagi ke Siberut. Sambil menunggu kunci kantor dibuka atau menjelang istirahat siang, ‘Bola’ menemani hari-hari sepakbola tanpa siaran televisi di Siberut. Meskipun tidak begitu tertarik lagi dengan karya jurnalistiknya, informasi mengenai hasil-hasil pertandingan dan transfer pemain sedikit mengobati rasa rindu terhadap sepakbola di luar Mentawai.

Tidak jarang, kiriman itu sudah lecek. Tidak sekali dua kali beberapa halaman, dan terutama poster, hilang. Kru kapal terkadang ingin membaca, dan penumpang yang lain sering membaca dan tidak mengembalikannya. Badai kadang memaksa kapal Sumber Rejeki balik arah dan menunda kedatangan ‘Bola’ di hari Selasa. Terutama menjelang dan usai liga champions, rasa kangen terhadap ulasan Rob Hughes sangat tinggi. 


Kematian Yang Dipilih Sendiri?

Meskipun antusiasme sepakbola remaja bangkit kembali selama di Mentawai, kegairahan terhadap ‘Bola’ tidak pernah bisa kembali. Pengalaman membaca berbagai karya jurnalistik dan buku-buku sepakbola selama masa kuliah, membuat membaca ‘Bola’ yang isinya semakin di dominasi oleh statistik, prediksi pertandingan, dan data-data ensiklopedik, menjadi membosankan. Apalagi tebak-tebakan skor juga mulai menggeser laporan-laporan panjang. Tidak ada cerita sepakbola, kecuali dua paragraf gosip tentang pemain yang selingkuh, atau profil pemain tertentu yang kata teman saya ‘biodata yang diberi kata penghubung’.

Rob Hughes juga semakin jarang diterjemahkan setiap pekan. Kolom-kolom yang diisi oleh wartawannya sendiri nyaris seragam, dari segi teknik menulis dan pengambilan posisi penulis terhadap apa yang ditulisnya. Semua ditulis dengan nada yang netral, dingin dan berjarak dengan sepakbola. Analisa hasil pertandingan yang muncul pada edisi Selasa nyaris tidak memberi nilai tambah apapun bagi para pembaca yang telah menonton sendiri pertandingan-pertandingan akhir pekan.

Laporan hasil pertandingan yang panjang adalah satu halaman kolase dari berita-berita yang ditampilkan oleh media luar negeri. Berita itu sering muncul dalam bentuk terjemahan yang keliru atau dalam komposisi yang diramu dan dipenggal ditengah jalan, meninggalkan banyak pertanyaan bagi pembaca yang kritis.

Dari satu edisi ke edisi lainnya, nada dan struktur tulisan ‘Bola’ itu sama persis, seperti barisan kebun sawit atau cetakan batu bata. Emosi pemain, teriakan pelatih, gemuruh pendukung, tangisan suporter yang kalah, warna-warni bendera di stadion, makanan yang dijual di luar stadion tidak pernah muncul dalam ribuan lembar ‘Bola’.

Yang lebih mengejutkan, ‘Bola’ terlihat ingin membuat tangannya bersih ketika kecamuk politik, isu korupsi, dan ketidakpercayaan publik sepakbola merongrong kepengurusan PSSI era Nurdin Halid Ada satu-dua kolom resmi yang menulis tentang kisruh itu, tapi kolom-kolom itu berjarak, berusaha netral, dan tidak memberi kesegaran perspektif atas politik sepakbola Indonesia. Terlintas sebuah pertanyaan di kepala: ‘Bola’ adalah salah satu media yang paling tua, paling punya daya jangkau, dan juga barangkali punya pembaca loyal, kenapa mereka tidak mengambil kepeloporan untuk mengambil sikap politik?

Barangkali ‘Bola’ tidak berubah, dan tidak harus berubah. Kapitalisme cetak butuh stabilitas, meskipun itu harus menjilat pantat penguasa. Media harus tahu cara membaca ke mana angin kekuasaan akan beralih. ‘Bola’, dan grup besarnya, sangat tahu dan ahli dalam hal ini. Barangkali Aku yang mulai cerewet dan menuntut. ‘Bola’ tidak lagi cukup memadai lagi untuk menampung kecerewetanku terhadap bagaimana seharusnya sepakbola ditulis dan dihayati.

Salah satu titik balik untuk membakar jembatan dengan ‘Bola’ adalah perkenalan dengan Four-Four-Two edisi Inggris, yang dikirim oleh teman Belgia. Kalau aku ceritakan seluruh kekagumanku terhadapnya, mungkin aku cocok jadi tenaga pemasaran majalah Inggris itu. Momen membaca Four-Four-Two ada dalam satu level dengan membaca Janji-janji Islam-nya Roger Geraudy di masa SMP dan menghabiskan Saksi Mata-nya Seno di waktu SMA. Dari cara mengomentari foto, teknik wawancara, hingga kualitas artikel-artikel panjangnya, sepakbola bisa menjadi apa saja ditangan penulis majalah itu: hidup, jenaka, serius, optimis, politis..

Hebatnya, di setiap edisi selalu ada ruang bagi sepakbola lokal yang ditulis dengan emosional, dekat, dan berpihak. Stadion-stadion dan pemain-pemain yang mati dihidupkan kembali. Tim-tim divisi lima ditulis sama megahnya dan sama terhormatnya dengan ‘culture club’ macam Liverpool dan United. Mereka mengikuti suporter-suporter gila dan memberi tempat tempat bagi pembuat teh, pembersih toilet, dan penjaga-penjaga malam stadion.

Dan terutama, mereka selalu mengajak dan memaksa pembaca untuk membaca sepakbola sebagai bagian sejarah kehidupan. Misalnya, mereka menceritakan (berulang-ulang) tentang klub-klub kecil yang menjungkalkan unggulan, utamanya di piala FA. Di setiap edisi hampir selalu ada artikel-artikel historis yang mengajak pembaca berpikir tentang perang, kediktatoran, demokrasi, dan tema-tema universal lain lewat kisah sepakbola.

Menunggu Four-Four-Two kapal Sumber Rejeki di dermaga Maileppet hampir-hampir seperti berkunjung ke kios Baidhowi. Ada rasa cemas kalau majalah itu diambil orang dalam perjalanan, atau sobek setelah ditiduri oleh penumpang yang kelelahan, atau basah oleh muntah penumpang yang oleng karena badai Selat Mentawai.

Aku menemukan antusiasme yang dulu pernah aku alami bersama ‘Bola’ dengan Four-Four-Two. Sejak membaca edisi bahasa Inggrisnya pertama kali dengan cover Zidane menanduk Materazzi, aku jatuh cinta dengan media ini. Meskipun sulit membayangkan bagaimana bisa membaca dan memahami tulisan bagus dalam Bahasa Inggris waktu itu, paling tidak penempatan gambar-gambar dengan komentar jenaka dan kisah-kisah tentang sejarah off-side dan umpan panjang telah membuka cara melihat sepakbola dengan bermacam sudut pandang.

Ketika tahu Four-Four-Two diterbitkan dalam bahasa Indonesia, aku pun berlangganan. Setiap bulan selama 2007-2010, majalah itu menjadi satu-satunya sumber bacaan mengenai sepakbola. ‘Bola’ masih dikirim secara teratur, namun hanya di baca ketika aku ketinggalan informasi hasil pertandingan setiap pekan karena tugas kerja atau pertandingan tidak ditangkap oleh antena para’Bola’. 

Lantas apa gunanya masih berlangganan ‘Bola’? Bagi orang yang sedikit terisolasi, hasil-hasil pertandingan (siapa mencetak gol, menit ke berapa) masih menjadi daya tarik, terutama pertandingan-pertandingan tim kecil yan tidak disiarkan televisi. Bagi anak-anak Mentawai, ‘Bola’ disukai karena bisa untuk menambah pengetahuan baru. Dan alasan yang lebih sederhana: kantor membiayai.

Ketika kantor UNESCO Jakarta menyewa ‘kantor’ di Padang untuk aku tempati di awal 2010, aku bisa mengakses internet secara teratur. Lewat panduan Four-Four-Two, aku berselancar di situs atau blog-blog yang menulis sepakbola dengan berbagai gaya dan teknik. Ini juga adalah pengalaman baru: sepakbola (terutama di Eropa) bisa ditulis sama bagusnya dengan sastra dan sama emosionalnya dengan karya jurnalistik tentang perang atau kemiskinan. Pengembaraan dengan situs-situs macam the Blizzard, kolom-kolom di Financial Times, dan sport-blognya the Guardian mempertemukanku dengan para maestro macam Simon Kuper, Sid Lowe, Jonathan Wilson, Beleguer dll., dan koleksi lengkap tulisan-tulisan Rob Hughes.

Membaca artikel-artikel mereka serasa tamasya sepakbola di dalam kata-kata seperti menonton atau memainkan sepakbola secara langsung. Mereka bukan sekadar wartawan yang menulis sepakbola. Sepakbola bukan soal hasil pertandingan akhir pekan. Menulis sepakbola adalah menulis manusia-manusia yang menonton, memainkan, mengeluh, menangis, bergembira, bersedih, frustrasi dan seluruh perasaan yang mendefinisikan kita sebagai manusia, lewat permainan indah ini.

Sementara itu di Indonesia, perkembangan dunia digital menghasilkan panditfootball dan puluhan blog-blog sepakbola yang melahirkan sebuah tradisi baru tulisan sepakbola yang tidak ditemukan di media cetak. Tulisan-tulisan tersebut, meski tidak dihasilkan dari wartawan yang dididik di sekolah jurnalistik, jauh lebih kaya perspektif dan mendalam. Meskipun belum bisa keluar dari frasa, ungkapan, atau kosa-kata dominan di media cetak untuk mengekspresikan resepsi atas sepakbola, tulisan-tulisan itu memberi kedalaman dan terutama perspektif dari pendukung sepakbola lokal militan, yang selama diabaikan oleh jurnalistik konvensional.

Sebagian karena didesain untuk partisan, tulisan di blog-blog itu justru memperlihatkan wajah sepakbola sesungguhnya. Sepakbola bukan perkara hasil pertandingan liga (Eropa), dan tentang kompetisi antara Ronaldo dan Messi belaka. Sepakbola adalah tentang orang-orang yang ramai-ramai pergi ke stadion Siliwangi atau Gelora Bung Karno adalah tentang anak-anak Malang yang menghabiskan setengah gaji bulanan untuk ikut menonton partai tandang di Kalimantan.

Lewat blog-blog tersebut, sejarah Persib, Arema, Persebaya dan klub-klub lokal lainnya ditengok ulang, ditulis dengan kritis (dan juga sebagian penuh puja-puja), didekatkan dengan pendukung, dan ditampilkan dengan cara yang menarik. Meskipun kualitas tulisan-tulisan tersebut banyak yang timpang, dan terutama gaya tulisannya relatif seragam, paling tidak bagaimana sepakbola lokal dihadirkan dan dituliskan melalui perspektif dari dalam yang berpihak, emosional, politis membuat sepakbola hadir sebagai ekspresi manusia itu sendiri—bukan statistik pertandingan dan pres rilis bandar judi.

Di saat yang sama, teknologi menghubungkan penggemar sepakbola di Indonesia dengan tulisan-tulisan bagus yang ditulis dengan standar jurnalistik yang tinggi di dunia maya dengan biaya lebih murah dan lebih bebas waktu. Pengalaman dengan bacaan-bacaan berkualitas pastilah menghabiskan pembaca yang lebih punya selera. Lebih dari itu, pengalaman itu bisa merangsang minat menulis yang tinggi. Menjamurnya blog-blog sepakbola bagus dalam lima tahun terakhir serta munculnya penulis-penulis baru adalah buah dari kosmopolitanisme pergaulan ini.

Sementara publik sepakbola Indonesia jauh lebih berkembang, kosmopolit, punya jaringan kuat, menggali informasi lebih mendalam, punya sumber data yang lebih akurat, dan lebih nyata dalam menghadapi sepakbola, tabloid ‘Bola’ (yang kemudian menjadi harian), masih hidup seperti 20an tahun lalu, dengan fitur-fitur ramalan pertandingan, hasil pertandingan, dan tebak-tebakan skor. Kolom-kolom Wesley Hutagalung dkk pun isinya hanya menggurui publik sepakbola yang, pada kenyataanya, jauh lebih tahu taktik, sejarah, maupun perkembangan sepakbola itu sendiri.

Tidak ada yang mengejutkan dari kematian harian ‘Bola’. Bahkan ketika ‘Bola’ malih rupa jadi mingguan lagi, tidak ada harapan lagi untuk bertahan hidup, jika gaya jurnalistik dan model pemberitaannya masih bertumpu pada laporan hasil-hasil pertandingan. Ini bukan perkara media digital lebih cepat atau lebih murah, seperti anggapan dominan mengapa semakin banyak media cetak menemui ajal. Yang lebih mendalam adalah bagaimana karya jurnalistik model ‘Bola’ tahun 1990an itu hanya membuat pembaca dan publik sepakbola seperti sekumpulan orang dungu yang akan melonjak kegirangan membaca laporan Messi mencetak tiga gol di hari Minggu.   

Sepakbola di dalam ‘Bola’ dikisahkan seperti khotbah Jumatan. Membacanya hanya akan membikin kita ngantuk. Tidak ada emosi, tidak ada terasa hawa pertandingan, dan tidak ada keinginan untuk menghadirkan sepakbola sebagai sebuah peristiwa sosial. Semua datar seperti mistar. Orang lupa bahwa pembaca koran/majalah dan publik bola secara umum jauh lebih punya kesempatan untuk menonton pertandingan dari pada wartawan ‘Bola’ itu sendiri. Karena wartawan-wartawan itu menulis dengan cara pengkhutbah Jumat (padahal aslinya pengepul berita-berita rongsokan dari media luar negeri), dan tidak pernah mengasah kepekaannya membaca pertandingan dan memperbaharui cara berkisahnya, tidak heran tulisan-tulisannya tampak membodoh-bodohi pembaca—seakan-akan mereka tidak menonton langsung pertandingan.

Kendati jurnalistik a la ‘Bola’ mungkin cocok dengan generasi era 80-an dan 90-an, mempertahannya gaya berita tabloid adalah ilusi untuk hari ini. Tulisan pendek-pendek di blog atau komentar-komentar kecil di media daring jauh lebih segar dan mengigit dibanding laporan ‘Bola’. Para wartawan media cetak masih saja menulis sepakbola seperti di zaman monopoli TVRI. Mereka tidak menyadari bahwa pembaca yang tumbuh dan lahir bersamanya telah jauh mengerti tentang sepakbola dan dunia yang membentuk sepakbola dari pada mereka sendiri.

No comments:

Post a Comment