Sunday, November 13, 2011

Towel tentang Wim: Resensi Siaran Langsung


Oleh Mahfud Ikhwan


Rasa bahagia saya atas gol cepat Wanggai dan gol bagus Tibo ke gawang Singapura pada pertandingan Sea Games tak ingin hilang dalam semalam. Karena itu, saya menunggu pertandingan timnas (senior) melawan Qatar dengan rasa enggan—sepertinya, tak pernah saya menunggu pertandingan timnas Indonesia dengan rasa seenggan itu, sepesimis apapun saya. Obor yang padam dan lagu penutup yang “menjilat pantat rakyat” di Upacara Pembukaan Sea Games rasanya sudah cukup merusak. Saya tak mau malam ini pergi tidur dengan umpatan di tenggorokan.

Tapi, seperti yang sudah-sudah, tentu tak segampang itu perkaranya. Saya mungkin tak sesemangat teman-teman tetangga kampung—para buruh bangunan di Qatar—yang berbondong-bondong datang ke stadion al-Sadd dan mengambil alih gelanggang dari pendukung tuan rumah dengan “Garuda di Dadaku”. Tapi, saya tak mungkin pergi, mengunci diri di kamar, dan membiarkan timnas Indonesia kalah dan tidak ditonton.

Yeah…, katakan saja, saya memaksa menonton (bakal) kekalahan keempat timnas itu karena ada Tommy Welly di meja komentator. “Ia selalu bisa memberi nilai tambah siaran pertandingan,” begitu puji teman saya soal Towel—begitu para pembawa acara sepakbola RCTI biasa memanggilnya. (Kalau menurut saya, Towel bisa mengarahkan dengan tepat kepada apa dan siapa kita mengumpat.) Sebagai alasan lain, saya rasa, dibanding menonton film Steven Seagal yang ngomong cara Surabaya di JTV, menonton timnas—bagaimanapun—adalah cara yang lebih baik sebagai pelewat waktu untuk menunggu play-off kualifikasi Piala Eropa.

***

Tris Irawan membuka siaran langsung dengan obrolan soal pemain-pemain baru yang dibawa Wim ke Doha. Tercatat, selain mengeluarkan Markus Harrison dari tim dan tak membawa Made Wirawan ke Qatar, Wim memasukkan (kembali) kiper Hendro Kartiko (38, jimat Indonesia di even-even besar), kiper Syamsidar, bek sayap Mahyadi Pangabean, dan Fandi Muchtar. Mengisyaratkan kebingungan, Towel menyatakan kalau penambahan skuad itu sulit dimengerti. Pertama, pemain-pemain yang dipanggil tak tampak mewakili kebutuhan tim. Kedua, tak ada parameter yang jelas kenapa pemain-pemain itu dipanggil—karena para pemain Indonesia sudah hampir setengah tahun libur dari kompetisi. Ketiga, tak ada visi ke depan dalam pemanggilan para pemain baru tapi lama itu.

“Kalau Thailand menarik kiper utama tim U-23 ke tim senior untuk melawan Arab Saudi, jelas karena kiper itu diproyeksikan untuk masa depan tim nasional Thailand. Tapi, memanggil Hendro yang telah berumur 38, kita tak melihat proyeksi itu,” demikian komentar Towel.

Karena itu, simpul Towel, para pemain baru itu tak lebih sebagai pelapis saja.

Namun, ia jelas salah tebak, saat kamera mulai menyorot wajah-wajah pemain Indonesia di lorong menuju lapangan pertandingan. Di situ, ada wajah (sangat) senior Hendro Kartiko, dengan seragam bernomor dada 1. “Tampaknya, Wim ingin memanfaatkan pengalaman indah Hendro saat melawan Qatar,” komentar Towel, sembari mengacu kemenangan Indonesia 2-1 atas Qatar di Piala Asia 2004 di Cina. Saat itu, selain mendapat gelar man of the match, ketangguhan Hendro juga berhasil membuat Phillipe Trossier, si Dukun Putih, dipecat oleh Federasi Sepakbola Qatar hanya beberapa jam setelah pertandingan.

Catatan menarik dari Towel yang lain—yang patut dicatat—adalah soal tak adanya Gonzales—satu-satunya pemain Indonesia yang sejauh ini bisa mencetak gol di kualifikasi. Ia mashgul. Tampaknya, penonton di seluruh Indonesia juga.

***

Salah satu hal yang paling saya sukai dari Towel adalah kemampuannya menciptakan suasana dan emosi pada siaran pertandingan, terutama untuk pertandingan-pertandingan timnas Indonesia. Jelas itu karena analisis yang tajam dan pilihan kalimat yang tepat, tapi terutama karena Towel tak pernah merasa perlu untuk menyembunyikan emosinya. Ia tak mempertentangkan posisinya sebagai komentator dengan kenyataan bahwa ia pendukung fanatik timnas Indonesia. Hal itulah yang membuatnya menjadi komentator yang paling bisa mewakili penonton. Meski sering sangat bijak, ia tak sok bijak; objektif tanpa harus membuat jarak. “Serahkan bola pada Boaz, dan mari kita lihat apa yang bisa dilakukannya,” kata Towel saat pertandingan pra-kualifikasi Indonesia vs Turkmenistan. Saya rasa, menjelang pertandingan yang berakhir 3-2 itu, tak ada pendukung tim nasional yang tak cocok dengan pendapat ini.

Tapi, pada pertandingan Qatar vs Indonesia itu, Towel tampak lebih dingin. Sepanjang dua jam siaran, saya hampir tak mendengar satu momen di mana suaranya meninggi-memarau—sesuatu yang biasa kita saksikan jika timnas sedang dalam keadaan tertekan atau main buruk. Suara Towel tetap datar, bahkan pada saat pertandingan mengalami masa paling depresif sekalipun. Ketika kita melihat Boaz yang bingung justru memberikan bola kepada pemain Qatar—yang kemudian berujung gol pertama untuk Qatar—Towel dengan kalem mengomentari kalau kehilangan bola di daerah pertahanan sendiri membuat para pemain Indonesia kesulitan melakukan transformasi cepat dari posisi menyerang ke posisi bertahan.

Nada yang tak terlalu berbeda juga kita dengar di sepanjang tiga perempat akhir babak kedua, saat Wim melakukan serangkaian pergantian pemain yang membingungkan (atau menggeramkan—jika merujuk pendapat teman-teman ngopi saya pada pagi berikutnya). Saat Firman digantikan M. Ilham pada menit ke-72, yang sangat mungkin disambut oleh caci-maki seluruh pencinta sepakbola Indonesia, Towel memilih untuk “mengimbau” pemirsa untuk menunggu perubahan macam apa yang hendak dilakukan Wim atas timnya.

Memang, ada nada gugatan saat Towel mengungkit keberadaan dan fungsi Purwaka Yudi yang masih tetap dipertahankan Wim meski Ibrahim Kalfan—yang merupakan target operasi Purwaka, sudah ditarik keluar oleh Lazaroni. Tapi, itu gugatan yang hampir tanpa emosi. Gugatan itu tak sampai menjadi saran, sebagaimana yang dengan jelas bisa kita simpulkan pada pernyataan soal Boaz yang saya kutip di atas.

***

Ah, mungkin kata “dingin” tak tepat benar. Lebih pas jika dikatakan Towel tak melihat ada faedahnya untuk menjadi lebih emosional. Ia menahan analisisnya berujung jadi rekomendasi, bukan saja karena itu memang tak mengubah apa-apa (sebagaimana lazimnya komentar) tapi juga karena komentar itu dirasanya bahkan tak cukup untuk menghibur dirinya sendiri bahwa ia, sebagai komentator sekaligus fans, telah melakukan sesuatu untuk tim yang dicintainya. Bahkan, pada level yang paling ektrem, saya menyangka, Towel tak ingin rekomendasi-rekomendasinya dari studio Kebon Jeruk didengar Wim di bangku cadangan stadion al-Sadd.

Ya, seperti Wim yang tampak putus-asa dengan timnya, Towel jelas terdengar sudah putus ada dengan Wim.

Seperti saya. Seperti kita semua.

Ketika di layar tampak Lazaroni masih begitu menggebu di area teknis, dengan suara serak dan tangan yang sibuk (meski timnya telah unggul tiga gol), sementara Wim—sebaliknya—menyandarkan punggungnya ke kursi dengan mata yang enggan memandang ke lapangan, Towel mengeluarkan komentar terbaiknya; komentar yang memberi energi luar biasa bagi saya sehingga mau memaksa diri untuk membuat tulisan ini. “Saya kira,” kata Towel, “di antara pelatih-pelatih di Grup E, Wim-lah yang paling tidak ekspresif. Lazaroni begitu Ekspresif. Juga Peter Taylor. Bahkan, Carlos Queroz yang kalem pun tampak lebih ekspresif.” Di kuping saya, kalimat hambar dan hampir melantur itu, terdengar seperti sebuah semburan makian tepat di wajah Wim: “Apa kerja lo, Wim..?!!!”

***

Persis seperti yang saya kuatirkan, empat gol bodoh dari Qatar itu telah merusak kebahagiaan yang saya dapatkan sejak siang. Tapi, komentar-komentar Towel, terutama yang saya kutip terakhir itu, membuat saya merasa lebih tenang.

Bosnia-Herzegovina vs Portugal pun terlewat. Untung 0-0.



Lembor, 13-11-11—dengan diiringi lagu kasidah “Pengantin Baru” dari tempat hajatan tetangga.

No comments:

Post a Comment