Thursday, November 17, 2011

Sepatu Bot dan Cawat di Lapangan bola (1)

Oleh Darmanto Simaepa

Sepakbola bisa dimainkan dan dinikmati dengan beragam cara di Siberut. Di lembah-lembah terpencil, olahraga ini dimainkan secara teratur di sore hingga menjelang malam diakhir pekan. Suasananya akan lebih ramai di hari Minggu karena semua petani sudah pada pulang dari ladang. Setelah acara kebaktian di Gereja untuk segala usia, lapangan bola adalah tempat sosialisasi bagi anak laki-laki dewasa dan orang tua. Di desa-desa terpusat berlokasi di dekat kecamatan atau pusat pemerintahan, yang jumlah populasi anak mudanya lebih banyak, ia dimainkan lebih sering—kadang nyaris setiap hari.

Studi etnografi, laporan media, atau pamflet-pamflet politik tentang Siberut tidak pernah memuat satu katapun tentang sepakbola. Buku-buku, kliping media atau kertas kerja dipenuhi istilah-istilah ritual, primitif, animistik, upacara, terasing, konservasi alam, sagu, dukun atau Sikerei, adat. Sebelum menginjak daratan pulau itu, kata-kata yang paling dekat dengan Siberut adalah ‘jauh, malaria, terpencil, hutan, dukun, eksotik.’

Saat bertanya kepada seorang teman, apa yang harus saya bawa ke Siberut, dia menyarankan untuk membeli kelambu. Bila diingat, saran itu sungguh menyesatkan, karena kemudian kelambu itu tidak berguna. Ini bukan karena barang itu tidak penting. Keluarga muda tempat saya tinggal memiliki banyak kelambu. Kelambu yang saya beli di Jakarta lebih cocok untuk menjaring ikan disungai dari pada mencegah nyamuk mendenging dekat telinga.

Saya tiba di Ugai, sebuah dusun kecil di lembah Rereiket tempat penelitian etnografi, tanpa sepatu bola. Seminggu beradaptasi di dekat Muara, saya mencium aroma sepakbola. Tembakau-rokok dan gitar adalah cara berkomunikasi paling mudah sebelum menguasai bahasa Mentwai—selain sepakbola. Saya tidak bisa merokok dan suara saya ‘kurang garam’—meskipun sedikit bisa main gitar. Kemampuan mengolah bola bisa diandalkan untuk mendapat teman.

Ugai terletak sekitar 20-kilometer dari kota Kecamatan. Di huni sekitar 110 keluarga, dusun ini merupakan pemukiman yang dibentuk pemerintah pada awal 1990an. Dusun itu sangat sepi karena di hari Senin-Sabtu, penduduknya berada diladang. Selasa petang di awal Januari adalah perjumaan dengan Ugai. Butuh waktu 3-4 hari untuk menunjukkan diri kepada seluruh kampung ada orang baru.

Lapangan bola adalah tempat yang paling tepat untuk memperkenalkan diri. Lapangan kecil iitu terletak di belakang gereja. Berukuran sekitar 30-an meter x 50 meter dekat kebun kelapa dan disamping tanaman keladi. Sisa angin kayoman masih bertiup lembut dari arah tenggara di awal Januari, membawa awan lembab dan angin basah. Sisa musim hujan dan banjir limpahan terlihat dari warna abu-abu rumput tipis. Lumpur yang terbawa bersama sapuan banjir beberapa hari lalu memberi bekasnya.

Setelah peluit disempritkan berulang-ulang, para pemain berdatangan.

Sebagian bertelanjang kaki. Sebagian membawa sepatu hitam-kecil tanpa kaus kaki. Sepatu ini sangat terkenal di Siberut. Terbuat dari campuran plastik dan karet murahan tipis, sepatu ini sederhana saja. Seperti sepatu selop dengan tali pendek 3 lobang. Dicetak dengan mesin pabrikan, sepatu ini hanya memiliki 3 jenis ukuran: kecil, menengah dan besar. Harga sepatu ini cukup murah—Rp10,000. Di telapak kakinya terdapat tonjolan tipis menyerupai pull, dimana sepatu ini mendapatkan namanya: sepatu kacang.

Tonjolan itu sengaja diciptakan untuk menambah daya cengkeram saat bergesekan dengan tanah. lazimnya, sepatu ini digunakan untuk masuk ke hutan atau pergi ke ladang. Bagi para pencari rotan dan gaharu, sepatu ini sangat diandalkan. Ia cukup tangguh untuk mengatasi duri-duri rotan dan ringan saat dibawa melintasi sungai-sungai dangkal berbatu tajam. Ia juga gampang dicopot dan dipakai seperti memakai sandal. Jika sudah bosan, ia masuk ke ranjang dan tidak menambah beban. Agak sedikit longgar dan licin bila dipakai, tapi cukup efektif untuk menaklukkan rawa-rawa sagu dan genangan lumpur.

Sepatu itu cukup populer bagi pecinta sepakbola Siberut karena cukup murah dan praktis untuk dipakai. Terutama di desa-desa yang tim sepakbolanya tidak pernah juara. Di lembah-lembah dimana memiliki sepatu bola adalah prioritas ke sekian dalam ekonomi rumah tangganya, sepatu ini pasti dikoleksi, setidaknya oleh setiap laki-laki dewasa . Sepatu ini cukup licin jika dimainkan di lapangan berumput rata, tapi tidak ada tandingannya jika digunakan dilapangan seperti di Ugai. Apalagi lapangan licin bekas banjir.

Sore itu, agaknya sepatu kacang menemukan momentumnya. Seiring riuh rendah pemain bersuara, sepatu bola itu sering tertancap dalam genangan lumpur atau melenting ke udara bersama bola. Setelah lepas, anda tidak perlu menunggu 10 detik untuk memakai kembali. Pemain tidak perlu menyingkir ke sisi lapangan dan meminta wasit menghentikan, untuk sementara, pertandingan. Ketawa dan senyuman sudah cukup untuk jadi alasan pertandingan diteruskan.

Semakin sore, semakin banyak pemain berdatangan. Semakin banyak keringat berjatuhan. Lapangan menjadi genangan lumpur. Satu-satunya area yang bisa digunakan menggiring bola, mengumpan dan melewati lawan adalah sisi kanan-kiri lapangan di bagian tengah. Di depan gawang, sudut sayap dan tengah lapangan menyerupai lahan peternakan babi. Memanglah tidak separah sepakbola di sawah, tapi jelas, anda menendang bola hanya jika kaki sebelah harus tertancap kuat dikubangan.

Setelah rehat sejenak untuk melakukan pergantian, beberapa pemain mengeluhkan kondisi lapangan. Meskipun demikian tidak ada tanda-tanda permainan berhenti. Agar lebih ramai dari pertandingan pertama dan menguras emosi, Extra Joss jadi taruhan. Dua pak diambil dari kedai, siapa yang kalah yang harus membayari. Beberapa penyerang meminta waktu pulang. ‘Mengambil sepatu’, mereka bilang.

Tak lama kemudian, mereka menenteng sepatu bot! Anda bisa bayangkan semuanya. Sebuah pertandingan dengan para pemain yang penuh lumpur mengenakan sepatu bot karet yang, kalau di Jawa, digunakan untuk pergi membajak sawah. Betapa sulitnya menendang bola, berlari, mencari posisi dan mengarahkan sepakan ke arah gawang. Agaknya di Ugai, ini perkara biasa. Lapangan berisik dengan suara gesekan kaki dan karet sepatu. Klok..klok..klok.... bercampur dengan teriakan pemain meminta bola atau mengumpat rekannya.

Sepanjang pertandingan, bola dibawa dari pinggir dan diumpan ke depan gawang. Pencetak gol bersepatu bot menunggu disana. Saat bola mendarat, lantas diperebutkan dan berubah menjadi hitam dalam genangan. Jika beruntung, si penyerang bisa mencucuk bola ke mulut gawang. Yang lebih sering terjadi adalah bola tertinggal di lumpur sementara sepatu melayang ke udara. Atau sepatu tertinggal di dalam kubangan dan kaki pemain menendang kosong udara. Kejadian-kejadian konyol begitu adalah salah satu menu utama dan penggugah selera untuk tetap menikmati pertandingan. Umpatan, makian, dan tertawa dan teriakan menjadi satu dalam semangat permainan.

Kali lain, si penyerang yang nyaris frustasi, melemparkan sepatu botnya ke alam gawang dan berteriak histeria gol! Semua orang—pemain, wasit, penonton dipinggir lapangan, orang yang baru pulang dari ladang—menikmati sepakbola sebagai arena kegembiraan bersama dengan diri mereka sendiri sebagai bahan tertawaan. Salah seorang pemain depan tim lawan, saat gagal menghadang bola segera mencopot sepatu botnya dan melempar ke arah bola.

Saya adalah sedikit pemain yang bersemangat meski tidak membawa sepatu bola. Terpukau oleh pengalaman pertama melihat cara orang Siberut menikmati pertandingannya, saya terhanyut oleh suasana. Menjelang petang, Aman tak Gozi, orang yang menjadi induk semang selama penelitian, bertanya, apakah kaki saya sakit. Saya menggeleng kepala. Namun setelah berjalan beberapa meter di jalan rabat beton P2D yang baru dibuat saya menahan jeritan. Setelah tersadar beberapa saat, saya merasakan telapak kaki seperti terkena pecahan beling. Benar saja: dari jempol ke tumit, kaki ini penuh dengan sayatan yang dalam. Sepanjang pertandingan, rasa sakit tidak terasa.

Sambil ketawa-tawa, dia menjelaskan kenapa orang Ugai memakai sepatu bot. Lapangan itu dulunya adalah semak—dan baru-baru ini saja agak bersih setelah pertandingan memeriahkan pesta natal dan tahun baru. Di bawah lumpur terdapat akar popou, sejenis rumput liar yang sukar dibersihkan. Rumput itu menyerupai gelagah dan berakar rhizoma tajam dibawah tanah. Akar itu tidak terlihat tapi membuat kaki berjalan diatas pecahan kaca. Dari jarak yang agak jauh, orang-orang Ugai tersenyum simpul dan sesekali mencemooh. Mereka mengatakan, ‘eeeret, sasareu, simagai maen bola, tak oa pasikeli derenia. ’ Artinya: ‘Itulah, orang jauh/pendatang, tahu dia bermain bola, tapi tidak tahu menjaga kakinya,’

Sepatu bot tidak pernah saya lihat dipakai dalam pertandingan resmi. Saya hanya menyaksikannya di Ugai dan Simatalu, dan sekali di Matotonan. Sementara sepatu kacang kerap dipakai dalam tarkam. Sepatu ini tidak mudah digunakan dilapangan datar dan berumput bagus. Sepatu akan melenting lebih kencang dari pada bola yang ditendangnya. Bagi para pemain dari kampung yang sepakbola sering kalah, pilihan membeli sepatu kacang lebih masuk akal dibandingkan dengan sepatu bola biasa.

Yang jelas: sepatu bot dan sepatu kacang membuat sepakbola layak untuk dinikmati tanpa mengorbankan kaki.

No comments:

Post a Comment