Wednesday, December 21, 2011

Sepakbola Indonesia, Distopia

Oleh Mahfud Ikhwan


Saat menonton secara langsung semifinal Piala AFF 2010, melihat antrian memilukan di depan loket penonton di Senayan, menemukan spanduk-spanduk brengsek dengan pilihan kata yang payah—yang rasa-rasanya tak akan dibikin oleh seorang suporter paling goblok sekalipun—di setiap stand, dan keesokan harinya mendapati wajah Nurdin Halid berbinar-binar penuh kemenangan di TVOne seakan-akan ia (sendiri) mencetak hat-trick ke gawang Filipina, di kepala saya tebersit sebuah ide cerita. Judulnya, “Seputar Matinya Ketua PSSI”.


Jelas ini sebuah triller pembunuhan. Benang-merah ceritanya, kisah cinta yang tak terterima. Sedikit diilhami oleh tindakan John Hickley, Jr. yang mau membunuh Presiden Ronald Reagan untuk menunjukkan cintanya pada Jodie Foster, ringkasannya kira-kira begini: seorang pencinta yang ditolak ingin membuktikan cintanya kepada perempuan yang dicintainya. Caranya, dengan membunuh sosok yang paling dibenci di Indonesia, yaitu ketua PSSI. Singkat cerita, nasib tokoh kita tragis, demikian juga ketua PSSI-nya. Namun, 10 tahun setelah itu, Indonesia juara Piala Asia. Bekas Ketua PSSI yang dibunuh dipatungkan, karena dianggap jadi martir sepakbola Indonesia. Bersamaan dengan itu, si perempuan baru sadar betapa besar cinta si tokoh utama. Dan semua akhirnya bahagia.

Ide itu tak pernah saya kerjakan, hingga Nurdin Halid digulingkan. Anggap saja momentum telah lewat, dan kemalasan saya jadi beralasan.

Lalu, setelah setahun lewat, kini saya terpikir membuat kisah yang lain.

Itu setelah melihat kekalahan demi kekalahan timnas Indonesia di kualifikasi Piala Dunia 2014. Juga tak lama setelah untuk kesekian kalinya Indonesia gagal di cabang sepakbola di Sea Games. Juga saat melihat di layar televisi Johar Arifin shalat dengan khusyu’ pada satu hari dan pada hari lain berkata dengan pernyataan (sok) keras yang tak cukup diyakininya sendiri—dan jelas tak disusunnya sendiri. Juga saat melihat wajah Bernhard Limbong yang menyebalkan muncul makin sering saja di di televisi.

Lebih dari itu, saya memikirkan kisah itu setelah menyaksikan kompetisi sepakbola Indonesia diobrak-abrik oleh para bajingan; setelah menyaksikan sepakbola Indonesia terpental ke belakang, jauh ke abad pertengahan; setelah melihat separoh lebih tim yang berlaga di dua kompetisi memakai kostum yang tampaknya dibeli secara kiloan; setelah melihat Habel Satiya masuk ke lapangan dengan kaos putih-hitam yang sama sekali polos, tanpa sponsor dada, tanpa logo PSSI, bahkan tanpa emblem Persidafon; setelah melihat Gunawan Dwi Cahyo bertanding—di sebuah kompetisi yang diklaim resmi dan profesional, untuk sebuah klub yang fenomenal!—dengan memakai kaos yang nama punggungnya bertulis Legimin Raharjo.

Terbersit di kepala saya sebuah kisah tentang kehancuran, sebuah cerita bergenre distopia. Berbalut fiksi ilmiah, tapi kali ini tanpa bumbu cinta. Begini kira-kira ringkasannya:

Alkisah, seorang sarjana biokimia penggila bola, neurotis, dan putus asa, bertekad melenyapkan sepakbola dari Indonesia, sebersih-bersihnya, untuk selama-lamanya. Setelah siang-malam berkutat di labnya yang terasing, kumuh, dan rahasia, ia berhasil mencipta virus jenis baru yang akan membunuh siapa pun yang berbicara, membaca, atau yang bahkan sekadar terbersit di pikiraannya kata “sepakbola”. Bagaimana cara penyebaran dan kerja virusnya, belum kepikiran. Tapi, yang jelas, dalam 10 tahun setelah disebarnya virus itu, sepakbola benar-benar kalis dari Indonesia. Tidak ada yang mencintainya, tidak ada yang membencinya, tidak ada yang memainkannya, tidak ada yang mempedulikannya.

***

Dari wajahnya kita mungkin akan cenderung menyimpulkan kalau Johar Arifin adalah orang baik. Air mukanya kalem, bahkan teduh—bisa jadi karena air wudlu. Saya bisa perkirakan, ia secara teratur shalat lima waktu ditambah salat sunat rawatib dan dhuha di setiap pagi, plus puasa senin-kamis. Jika bicara tak pernah meletup-letup, bahkan saat mengeluarkan pernyataan yang keras sekalipun. Tapi kamera televisi paling manipulatif sekalipun tak bisa menyembunyikan dari kita kalau orang ini pribadi yang lemah. Johar Arifin, meminjam frasa dari kitab suci, “hanya seorang hamba”. Tidak lebih.

“Saya masih memberi kesempatan kepada klub-klub untuk kembali ke kompetisi yang resmi. Paling tidak sampai Senin ini. Ya, paling lambat Senin malamlah,” katanya suatu kali.

Apa yang bisa kita tafsir dari kalimat macam itu? Ketidaktegasan, barangkali. Keraguan, mungkin. Tapi yang paling jelas, ketiadaan akan kuasa. Yup, jelas, ia bukan pusat dari sebuah orde. Ia cuma tenaga pelaksana. (Dalam kamus TKI, Johar Arifin hanya "orang gaji").

Saya bayangkan, SMS-nya kepada Rahmad Darmawan saat mengizinkan sang pelatih memilih pemain yang dikehendakinya untuk melawan LA Galaxy ditulis setelah ia mendapat SMS dari orang lain. Demikian juga saat dengan tiba-tiba ia menyatakan bahwa pemain yang bermain di ISL tak bisa memperkuat timnas. Tidak bisa tidak, saya berprasangka, kalau pernyataan itu dikeluarkannya setelah ia mendapat telepon dari seseorang, atau setelah ia pulang dari sebuah rapat kecil di salah satu ruangan di sebuah rumah di Jalan Jenggala dan orang yang duduk di kursi utama bukan dirinya.

Johar Arifin, saya masih yakin, adalah orang baik. Namun dalam hal kepemimpinan, kebecusan mengelola sepakbola, dan keefektifannya menjalankan organisasi, saya merasa, Nurdin Halid 10 kali lebih baik.

Saya mungkin akan punya banyak musuh karena menulis kesimpulan macam itu. Tapi, coba kita cermati.

Kita sudah cukup punya alasan untuk membenci Nurdin Halid hanya dengan memandang mukanya—semua karakter buruk dengan mudah bisa kita lekatkan pada warna pupil matanya, kerut keningnya, caranya mengangkat alis, hingga caranya tersenyum. Kita akan merasa berhak meludahinya jika dia sudah mulai bicara. Dan saat ia memekikkan sumpah atas nama Tuhan ketika membela diri, ah... entah apa lagi yang akan kita lakukan. Tapi, tahu kenapa kita begitu membencinya? Jawabannya kira-kira sama dengan pertanyaan, “kok bisa dia mengendalikan PSSI dari balik penjara”: karena ia begitu berkuasa atas organisasi yang dipimpinnya.

Kita biasa menghubungkan Nurdin dengan Aburizal Bakrie—sebagaimana sekarang kita menghubungkan Johar dengan Arifin Panigoro. Klub-klub keluarga Bakrie, baik yang didanai secara langsung atau lewat tangan-tangan para anak buahnya, biasanya mendapat perlakuan yang lumayan istimewa dalam kompetisi Indonesia. Dalam satu kesempatan Nurdin pernah mengatakan kalau ia kader Golkar dan taat kepada Ketua Umum Golkar. Pengakuan itu dikuatkan saat ia memboyong seluruh anggota dan offisial timnas Indonesia ke rumah Ical, dua hari menjelang final AFF Cup 2010. Namun, di atas segalanya, dalam kaitannya dengan PSSI, Nurdin Halid terlihat tidak bekerja untuk orang lain. Ia bekerja untuk dirinya sendiri. Atau, lebih tepatnya, sepakbola Indonesia (dan segenap aparatus yang dibangunnya selama ia berkuasa) bekerja untuk dirinya. Keluarga Bakrie boleh jadi mendapat keuntungan besar (secara politik, ekonomi, dan sosial) dari sepakbola Indonesia selama Nurdin berkuasa. Namun, cukup mudah untuk mengatakan kalau, selama kepemimpinannya, manfaat sepakbola Indonesia adalah sebesar-besarnya untuk kepentingan Nurdin sendiri.

Orang seperti Nurdin Halid jelas harus dienyahkan dari sepakbola, tidak hanya di Indonesia tapi di bumi belahan mana saja. Namun, yang tampak lebih baik adalah ia punya kuasa atas organisasi yang dipimpinnya, sesuatu yang jelas tidak kita temukan pada diri Johar Arifin. Dalam pandangan saya, itu tampak jauh lebih berbahaya.

Mencoba merintis sebuah optimisme pasca-penggulingan Nurdin, dan kemudian menaruh sedikit harapan akan munculnya sebuah kepemimpinan dan sebuah masa yang lebih baik bagi sepakbola Indonesia, tampaknya hanya akan jadi penyesalan yang sakit lagi memutusasakan. Itu tak ubahnya kita memaki Kangen Band, lalu televisi memberikan kita SM#SH. Apa mau dikata?

Ya, apa mau dikata, tanpa pernah mencapai kejayaannya, sepakbola Indonesia tampak menuju tahap distopia. Itulah nampaknya takdir kita. Dan, semua usaha untuk mencegahnya, justru terlihat sebagai cara mempercepatnya.

***

Kembali ke cerita distopia, sepertinya saya akan sulit untuk menuliskannya. Bukan karena menulis genre macam itu punya kerumitan tinggi, namun karena saya sudah bisa membayangkan—dengan sangat jelas—bagaimana cerita harus diakhiri.

Bukankah itu justru membuatnya tampak lebih mudah? Dalam kasus cerita ini, tidak.

Oke, harus dikatakan, saya sebenarnya punya dua versi ending.

Versi pertama: setelah semua orang yang dalam pikirannya terbersit kata "sepabola" mati, si sarjana biokimia yang telah menyiapkan penangkal untuk dirinya sendiri tetap hidup. Ia lalu memikirkan permainan apa yang hanya dilakukan di Indonesia. Ditemukannyalah permainan di masa kecilnya: benthik. Lalu, seperti James Naismith menciptakan aturan-aturan bolabasket, ia memformulasikan aturan baku untuk benthik versinya. Setelah dianggap sempurna, ia kemudian mengajarkannya kepada kerumunan anak-anak pertama yang ditemuinya.

Itu adalah ending yang sangat saya inginkan. Namun, jalan dan logika cerita jelas tak memungkinkannya. Sehingga mau tidak mau saya mesti memilih ending versi kedua.

Versi kedua: semua orang yang dalam pikirannya terbersit kata "sepabola" mati. Si sarjana biokimia juga. Sebab, penangkal yang disiapkan untuk dirinya sendiri ternyata tak sanggup menandingi kuatnya kata “sepakbola” dalam pikirannya. Yang mengejutkan, para pengurus PSSI yang sekarang, juga beberapa bos klub sepakbola Indonesia, ternyata masih tetap hidup. Itu karena, ternyata, dalam kepala mereka tak sedikit pun terbersit kata “sepakbola”.

Bahkan untuk sebuah cerita bergenre distopia, bukankah itu akhir yang terlalu memilukan? Saya tak begitu suka akhir yang bahagia, tapi rasa-rasanya saya tak bisa menulis kisah dengan akhir sesedih itu.


21-12-11

1 comment: