Monday, April 30, 2012

Bola, Buku dan Pesta: Untuk Leideners

Oleh Darmanto Simaepa

Saya pernah mendengar sebuah aksioma tentang hubungan antara kalangan ‘cendekiawan’ dan sepakbola di Indonesia. Aksiomanya kira-kira begini: orang yang suka membaca buku, tidak menyukai sepakbola, dan sebaliknya orang yang senang sepakbola, tidak suka membaca buku. Bertahun-tahun saya meyakini hal tersebut—kecuali untuk diri saya sendiri. Fakta bahwa hanya ada satu artikel serius di jurnal internasional tentang sepakbola Indonesia, seakan-akan menggambarkan kebenaran aksioma itu. Juga hanya sedikit sarjana Indonesia yang meluangkan waktu dengan teliti untuk menyigi aspek sosial, ekonomi dan politiknya sepakbola Indonesia memperkuat rumusan tentang ketidakakuran sepakbola dan kegiatan akademik.

Namun sepertinya, pengalaman selama tiga bulan di Leiden sedikit menumpulkan ketajaman aksioma itu. Rumus itu lebih menyerupai sebentuk ungkapan frustasi dari pada realitas sehari-hari. Paling tidak, dinamika hubungan antara mahasiswa, buku dan sepakbola lebih berwarna dari yang kita kira. Juga barangkali hubungan ketiga kata-kata itu menyimpan kebenaran akan istilah klise namun nyata: kehangatan Indonesia dan persaudaraan erat di perantauan.

Inilah kisahnya...


Sejarah di Hoffland:
Indonesia 4, Maroko 15

Kekalahan timnas Indonesia 0-10 dari Bahrain jelas sebuah pertandingan paling yang menyebalkan dalam sejarah sepakbola Indonesia. Tetapi, sepertnya, itu tidak bisa dibandingkan dengan rasa malu yang diterima oleh kumpulan ‘cendekiawan muda’ yang harus rela gawangnya di jebol 16 kali oleh anak ingusan dari Maroko. ‘Timnas’ pelajar Leiden hanya bisa membalasnya empat kali—dengan salah satunya berupa gol cuma-cuma.

Sedari semula, pertandingan itu adalah sebuah nasib buruk. Awalnya, manajer merencanakan latihan menjelang siang di lapangan kecil di taman Hoffland. Latihan ini adalah kali pertama untuk persiapan mengikuti turnamen antar mahasiswa Indonesia Belanda di Arnhem. Dengan ukuran Indonesia, janjian di Centraal Station pukul 12.00 siang tidak begitu menyisakan banyak getah karet, karena semua datang sebelum 13.00. Namun, sesampai di taman Hoffland, lapangan sudah di pakai anak-anak Maroko yang rumahnya di sekitar taman. Tidak sabar menunggu anak-anak Maghribi kelelahan, manajer membuat kesepakatan dengan mereka untuk sebuah pertandingan persahabatan. Akhirnya, latihan ini berubah menjadi petaka.

Dengan cedera engkel yang saya dapat dari lapangan Imam Bonjol, tujuh bulan lalu, saya hanya bisa menggigil kedinginan di pinggir lapangan karena sisa salju dan menahan gigi geraham karena hujan gol ke gawang tim Leiden. Hati menjadi panas karena salah satu anak Maroko dengan nada mengejek menyatakan, Indonesia 0 Maroko 7 di jeda pertama. Saat mendengar kata Indonesia, saya lantas teringat rasa geram Uji Nugroho, sejarahwan dan pembuat bakso paling hebat dari Gunung Kidul. ‘Anak-anak itu mengatai-ngatai dan mengaggap remeh kita’ ujar Uji dalam percakapan sambil makan fish chip di Open Markt hari Rabu sebelumnya, ‘dikira aku tidak mengerti bahasa Belanda’.

Saat salah satu anak Maroko yang agresif menunjukkan gestur merendahkan dan menyebut identitas terkait dengan asal-usul, tiba-tiba Indonesia datang dengan cara yang aneh. Mungkin ini adalah melankoli perantauan sebagai warga negara Indonesia: di saat kecewa, kita sering mencelanya namun disaat jauh, kita merasa butuh. Saya tidak membayangkan bagaimana perasaan Uji atau mas Wahid—yang mendapat pelajaran bahasa Belanda abad 17 hingga 21—mendengar omongan itu.

Tanpa perhitungan akan cedera, saya akhirnya membuat sejarah hari itu: bermain sepakbola di Eropa pertama kalinya. Di bawah suhu 0 celcius, hidung seperti tersumbat dan tenggorokan menyempit. Mulut menguarkan asap seperti cerobong kereta uap di perkebunan gula awal akhir abad 19. Otot kaku dan mengkerut—balsem tropis paling panas pun tidak bisa melenturkannya. Dengan udara di pori-pori kulit tropis, saya harus bermain dengan kupluk, jins, sarung tangan, dan sweeter. Jelas, itu lebih mirip petani dieng yang sedang memanen kentang dari pada bermain sepakbola.

Lebih buruknya, saya mendapat kekalahan terbesar dalam hidup saya.

Para pemain yang ikut seleksi timnas Leiden jelas bukan sembarangan. Hampir kesemuannya menggenggam gelar sarjana. Otak encernya jelas tidak perlu diragukan lagi. Dari ahli statistik sampai pemikir politik, dari yang menggeluti budaya hingga perbandingan agama, semua ada. Tetapi masalahnya adalah, pikiran para pemain itu jauh melampaui tindakan. Saat ide di kepala mengarahkan bola ke arah gawang, tetapi otot kaki ternyata menendang bola ke sudut lapangan, jelas menggambarkan ada yang keliru dengan koordinasi tindakan. Untung saja, diantara salah umpan dan pergantian pemain yang hampir sama jumlahnya, pemain belakang hanya sekali membuat gol ke gawang sendiri.

Sebelum mencela etos atau perjuangan ‘duta’ Indonesia di Leiden ini, mari kita sedikit mengenali latar belakangnya. Sebagai mahasiswa yang relatif miskin—untuk ukuran Belanda—para pemain ini akan memilih memasak nasi dan menghindari makan siang dari pada terbiasa makan roti, keju, daging atau jus stroberi. Asupan protein paling istimewa adalah daging sapi paling murah di Mabroek, kedai milik orang Maroko atau susu sekotak yang bisa untuk beberapa hari dengan harga di bawah 1 euro. Sementara otak mereka diperas sepanjang hari untuk menyelesaikan tesis dan dibuat frustasi oleh urusan yang belum selesai dengan artikel, verba, atau proposisi, otot mereka jelas dilatih hanya melalui jalan kaki atau bersepeda.

Tidak diragukan lagi bahwa pemain-pemain berbakat untuk menganalisis dan memahami sepakbola. Namun bila dilihat dari gaya larinya dan cara menendangnya, mereka jauh lebih banyak berurusan dengan angka atau buku-buku dari pada tersungkur di lapangan rumput. Sebagian dari mereka di masa remaja adalah pemain berbakat. Ini bisa dikenali dari teknik mengambil bola atau berteriak meminta bola. Namun mereka tidak bermain sepakbola di lapangan sungguhan secara teratur sekitar sepuluh tahun. Seperti veteran yang kalah perang, sepakbola adalah sejumput kenangan masa muda yang hanya nikmat untuk diceritakan lalu ingin dilupakan. Jadi kekalahan ini jelas bisa lebih mudah dimaklumi dan dilupakan.....

Diantara sejarah yang memilukan ini, puji tuhan, selalu ada suporter yang setia. Di hari pembantaian itu, Dr. Eddy datang dengan bakwan dan sambal kecapnya yang legendaris plus jus apel yang segar. Kombinasi jajanan tradisional dan perasan buah Eropa sedikit mengalihkan perbincangan tentang kekalahan. Sepekan kemudian, lebih banyak suporter datang. Kali ini para pemain boleh sedikit bersemangat. Para pendukung adalah gadis-gadis cantik dan pintar dengan sepatu bot, jaket tebal dan sedikit gaya—meskipun suhu dingin membuat bibir mereka kering dan sedikit berkerak jingga. Mereka duduk di kursi sudut taman di bawah pohon ek—lengkap dengan kamera. Luar biasanya, mereka membuat puding yang sangat Indonesia: bubur kacang hijau lengkap dengan ketan hitam dan santannya.

Barangkali tidak ada suporter sepakbola di dunia sehebat di Leiden. Mereka bangun pagi-pagi di akhir pekan untuk menanak kacang padi, ketan hitam dan memanaskan santan dan kemudian datang untuk memberi dukungan bagi sebuah tim yang minggu sebelumnya kalah 4-16 secara memalukan. Tidak terdengar—setidaknya secara terang-terangan—caci maki, siulan dan nada cemoohan. Kacang padi disajikan dalam keramahan dan ‘kelembutan’ timur yang terkenal itu. Dalam hal ini, nilai dukungan dari para suporter lebih banyak untuk dibincangkan dan dikenang ketimbang sejarah kekalahan...

Sepakbola di KITLV? Yang ada adalah keluarga.....

Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV) nyaris seperti surga bagi peneliti Asia Tenggara—khususnya Indonesia—dan Karibia. Disini tersedia dokumen sejarah Indonesia yang tertulis maupun visual sejak tahun 1851. Bagi mahasiswa ekonomi, antropologi, ilmu agama, atau ilmu sosial lainnya anda bisa orgasme menemukan harta karun pengetahuan yang anda cari-cari selama ini. Namun bagi peminat sejarah sepakbola Indonesia—anda akan dibuat frustasi.

Dokumen tentang sepakbola dari masa Hindia Belanda hingga jaman Nurdin Halid tidak begitu banyak tersedia. Kisah-kisa sepakbola di awal abad 20 hanya terselip dalam koran-koran kecil berbahasa Belanda dan koran Melayu Tionghioa. Buku tentang sejarah klub tidak ada. Sedikit dokumentasi berasal dari PSSI yang biasa dicetak glossy lebih banyak kisah puja-puji terhadap organisasi dan ketokohan pengurusnya dari pada cerita tentang sepakbola Indonesia itu sendiri.

Atas bantuan Bart Barendreght dan Fera, saya bisa ngobrol kilat dengan Freek Colombijn, satu-satunya sarjana Belanda kontemporer yang menulis politik sepakbola Indonesia. Mungkin sekitar 15 menit—karena dia harus pulang mengurus anaknya sementara istrinya sedang field work di Afrika—saya bisa berbagi perspektif tentang sejarah bola di Indonesia. Ia membuat kesimpulan bahwa sepakbola di Indonesia memang sebuah anomali. Negeri ini punya populasi 250 juta yang hampir semuanya menggilai bola—separuh diantaranya setidaknya pernah memainkan dan menontonnya—namun hanya sedikit ilmuwan sosial yang menulisnya.

Di negeri dimana sepakbola berimpit dengan gerakan nasional pasca kemerdekaan, terhubungkan dengan kontrol militerisme dan kapitalisme semu di masa orde baru, dan oligarki kekuasaan serta dekat dengan sejarah kekerasan sepanjang penyelenggaraan kompetisi, studi tentang sepakbola sebagai fenomena sosial dan cerminan transformasikan proses ekonomi-politik hanya bisa dihitung sebelah tangan.

Sebelum pulang, Freek mengenalkan saya dengan seorang archivaris khusus bidang olahraga Indonesia di KITLV. Namanya Nick van Horn. Nick bekerja mengumpulkan buku, naskah, guntingan koran mikro film, video, laporan tentang sepakbola Indonesia. Orang lucu ini setahun sekali berburu dokumen dari Museum di Taman Mini, Kwitang di Pasar Senen hingga kedai-kedai buku bekas Jalan Bawean di Surabaya. Ia menyilahkan saya datang ke ruang kerjanya untuk melihat koleksi hasil buruanya. ‘Tidak banyak,’ ujar Nick yang suporter Persija itu, ‘sepertinya klub-klub dan orang penting di Indonesia tidak peduli dengan dokumentasi olahraga’.

Di ruangannya yang sempit di lantai tiga, saya hanya menemukan 2 buku tentang sejarah klub sepakbola (Suryanaga di Surabaya dan UMS di Jakarta, kebetulan dua-duanya klub milik keturunan Tionghoa yang peduli dokumentasi). Buku-buku lain adalah kolom-kolom pendek di koran yang dibukukan—misalnya ulasan Gus Dur, Emha Ainun Nadjib atau Sindhunata. Hanya ada tiga guntingan koran yang menulis laporan khusus tentang kontinyuitas sejarah sepakbola—satu tentang kejayaan sepakbola Tionghoa, lainnya tentang desa sepakbola di Maluku, dan terakhir tentang bonek Surabaya di musim 2003-2004. Selain itu, sepakbola Indonesia terbenam dalam kegelapannya goa sejarahnya sendiri.

*****

Meskipun tidak menemukan aliran passion saya atas sejarah sepakbola bertemu dengan arusnya, saya seperti mendapat berkah terhubungkan dengan KITLV. Selain bahwa disini tersedia naskah dan dokumentasi paling lengkap tentang pulau tercinta yang akan saya teliti, Siberut, saya merasa seperti di sebuah keluarga imajiner bernama ‘Indonesia’. Disini tiap kali membuka pintu, saya selalu menemukan wajah-wajah Indonesia. Anda akan sering berjumpa dengan para bule yang menyapa dalam bahasa Indonesia. Kalau kangen berita nusantara dari media cetak, Kompas, Indo Pos, Republika atau Tempo tersedia secara rutin tiap minggunya. Tempat inilah di Belanda yang paling menghubungkan emosi saya dengan entitas abstrak bernama Indonesia.

Ini bukan sekadar karena isi KITLV yang melimpah dengan studi tentang Indonesia. Lebih kongkrit dan terasa, tempat inilah dimana solidaritas dan pertemanan seperantuan di Leiden (bahkan mungkin di Eropa) dimulai. Hampir semua teman baru yang didapatkan di Belanda berawal dari dari tatap muka di rak yang menderet jurnal Indonesia terbitan Cornell, di komputer reservasi, di loker penyimpanan tas, dibalik pintu toilet, di ruang foto kopi atau saat-saat menunggu antrean pengembalian sambil ngobrol basa-basi. Hari ini kadang kita mendapat teman yang sekolah di Paris dan Praha dan lusa mahasiswa Indonesia dari Edinburgh dan Frankfurt menyapa.

Bagi mahasiswa baru, KITLV adalah salah satu tempat untuk merasa nyaman berada di Leiden. Disini juga banyak para peneliti yang kita tidak kenal memulai percakapan dengan bahasa Indonesia. Para senior yang sedang pada fase akhir penulisan atau profesor sesekali berkunjung dan membuat kesepakatan bertemu untuk berdiskusi. Jika seseorang tinggal berjauhan, peta Google susah dibaca dan Leiden masih jadi tempat yang membingungkan, KITLV adalah tempat yang paling mudah untuk janjian.

Selain Central Station, KITLV adalah melting pot, tempat bermuaranya dokumen masa lalu, arus sirkulasi pengetahuan masa kini dan sekaligus tempat yang memberi peluang untuk membangun jaringan akademia di masa depan. Jaringan ini tidak dimulai dari debat panas, diskusi ndakik-ndakik, atau percakapan elit dunia akademik. Disini, pertemanan dimulai dari janjian untuk membeli tempe di pasar hari Rabu atau sumbang saran atas resep makanan yang ada di toko Cina, datang ke acara pak Min berbarengan, bertukar informasi mengenai kost-kostan dan informasi harga buah atau sayur-sayuran yang paling murah, atau bergosip ria sambil melempar humor jenaka.....

Diatas semuanya, KITLV adalah pusaran arus migrasi pengetahuan dan migrasi ruang mahasiswa Indonesia. Dan tentu saja ada sepakbola dalam lalu lintas percakapan di bangku-bangku di luar ruang baca perpustakaan KITLV. Setelah penat berurusan dengan artikel-artikel jurnal atau arsip-arsip tua, saat matahari peralihan musim semi bersinar cerah dan angin dari arah laut atlantik berhembus lembut, bangku melingkar di taman adalah tempat yang asyik untuk membahas kekalahan Barcelona atau nasib apes Fernando Tores. Ada juga ledekan antar pendukung dan sedikit taruhan untuk pertandingan akhir pekan.

Mahasiswa Indonesia yang datang ke KITLV, seserius dan sekutu buku apapun dia, terlihat tidak terasing di negeri asing—meskipun barangkali sebagian diantara mereka terasing dari sepakbola....

‘Yaps, kami tidak punya ipad tapi punya tukang pijat, imajinasi dan semangat’

Dari segi apapun, tim Leiden bukanlah tim yang menyenangkan mata dalam turnamen futsal antar pelajar Indonesia di Arnhem. Diantara peserta lainnya yang lebih segar dan berwajah bening, kontingen Leiden lebih mudah dikenali dari warna kusam rona mukanya dan bentuk perutnya. Meskipun jauh lebih kreatif dari sisi pembuatan nomor punggung, dilihat dari gaya dan pesona, jelaslah kontingen ini kurang berada dari segi dana dan gaya meskipun berlebih dari segi usia.

Di Valkenhuizen Arena itu, terlihat kelas yang berbeda antara remaja-remaja anak orang kaya yang sekolah di Delft, Deventer, Tilburg dan Amsterdam dan para calon cendekiawan yang tidak akan pergi ke luar negeri kalau tidak mendapat beasiswa. Jika manajer Deventer menggunakan jas rapi, sepatu kulit, dan I-Pad terbaru, maka rombongan Leiden bermodalkan pita suara dan nyaring bunyi kecrekan belaka. Saat sepasang remaja yang sepertinya sedang dilanda asmara berjalan hilir mudik seperti dua perangko di tempelkan di seterika, yang bisa dilakukan adalah menelan ludah dan membicarakannya dengan pelan-pelan. ‘Itu kita juga pernah,’ seloroh Aji, ‘Saya mah lebih hebat dari itu’.......

Namun jangan salah sangka, kontingen Leiden jauh unggul dalam banyak hal. Pertama, tim ini adalah tim yang paling berpengalaman. Bukan pengalaman bertanding tentunya, tetapi pengalaman menghadapi pahitnya hidup dan tekanan. Dari pengalaman sendiri, setiap pekan selalu ada cerita sindrom bab pembukaan, gaya tulisan atau perasaan tidak percaya diri saat bertemu supervisor penelitian. Menulis berbahasa Inggris adalah alat intimidasi yang paling mengerikan sekolah di negeri orang dari pada sekedar menerima rasa malu salah jalan. Jadi tidak masalah jika rombongan yang hampir kehilangan usia muda itu tetap berteriak penuh semangat penuh tenaga meskipun barangkali remaja-remaja bening dari bangku sebelah agak keheranan.

Tim Leiden punya dua hal sekaligus dalam diri Mas Ary Budhi—fisioterapis dan ahli masak ulung. Mungkin jurus dan ilmu mengendorkan otot betis dan membuat tahu petis berbeda, tapi ditangan mas Ary, semua seperti asam digunung dan garam dilaut. Saya sedikit percaya diri untuk tampil beberapa menit meski belum sembuh dari cedera setelah jurus urut mas Ary bekerja. Pemain terbaik yang merupakan naturalisasi dari Timor Leste Edegar Concecao, menjadi bertenaga setelah penanganan yang brilian darinya. Sayang sekali, gara-gara makanan yang kelebihan gula dalam saus tauge yang disediakan panitia, jurus fisioterapis tidak bekerja karena ‘tenaga dalamnya’ digunakan untuk menyelesaikan masalah perutnya...

Setelah berlatih tiga kali dan sebuah pertemuan yang membahas taktik dan teknik sama seriusnya dalam menyantap iga bakar di kamp konsentrasi Duwo, dalam tiga pertandingan penyisihan yang penuh hasrat, tim ini berhasil membuat sejarah bagi PPI Leiden karena mencetak gol dan meraih 3 angka dari 2 pertandingan. Penyerang terbaik yang dipunya, campuran aneh antara semangat dan tenaga Drogba dengan postur Fabrizio Miccoli dalam diri Yanwar van Tasik, membuat gol tercepat dalam turnamen itu. Meskipun kiper dadakan ‘Romi Rafaik’ berulang kali harus meminta pendapat dari penontont sebelum dan setelah menendang bola, gawangnya paling sedikit dibobol penyerang dari tim favorit sekaligus tuan rumah Arnhem.

Yang tidak semua orang bisa tahu—kecuali Tuhan dan Leideners sendiri—tim ini punya sehimpun imajinasi. Ngurah Suryawan yang diplot di tengah seperti posisi pemain favoritnya Steven Gerard, memiliki bayangan di kepalanya tentang bagaimana umpan terobosan diberikan atau sudut terbaik untuk menendang. Sayang sekali antropolog muda menjanjikan ini, saat dilapangan, jelas lebih mengkhayalkan sepakbola dari pada memainkannya. Imajinasi sepakbola memberikan arahan, tetapi apa daya, usia tidak pernah bisa berbohong dan gambir di perut tidak bisa menyembunyikan bukti seseorang mengarungi waktu.

Kecuali Edegar dan Uji, para pemain Leiden lebih sering memegang pinggang dari pada mengejar lawan. Otot mudah bergetar bukan karena grogi tetapi memang tidak bisa dipaksa untuk kencang berlari. Setelah dua kali atau tiga kali sprint mata Yanwar terlihat berkunang-kunang, Muslihin dan Aji bingung menjaga lawan hingga hanya banyak berlari-lari kecil ke sana kemari, sementara Faik dengan celana pendeknya yang seksi menyisir lapangan cepat meminta ganti...

Namun kalau dilihat dari perspektif lain, tim ini bermaterikan pasukan tempur yang bermain heroik meski punya banyak keterbatasan. Uji harus merelakan engkelnya bergeser dan Akhmad Wahid yang bermain sayap kiri, terus menempel lawan meski otot hamstringnya konstraksi. Yang paling membanggakan, tim ini jelas paling demokratis dan egaliter. Antara tim inti, pemain cadangan, manajer, dan suporter mengeluarkan tenaga yang sama dan merasakan capek yang setara. Kiper bisa berganti posisi menjadi penyerang dan tim cadangan bisa masuk kapan saja asal kuat tenaga.

Dan sekali lagi, suporter layak mendapat kredit tambahan. Dengan kecrekan, plastik biru dan spidol hitam, pendukung hebat ini membuktikan usia tidak ada kaitannya dengan percaya diri, kebersamaan, spirit dan kekompakan. Meskipun barangkali paling sedikit jumlahnya, dengan suara nyaring dan lambaian tangan, suporter ini memiliki gema tersendiri di ruangan itu. Jika mahasiswa pasca sarjana yang tidak lagi remaja dan tengah dipusingkan dengan tesis masih lebih energik dan memiliki vitalitas dibanding remaja-remaja tingkat kuliah dua, cukuplah kita mengakui bahwa ada makna tentang soliditas diantaranya....

Bagi pendatang baru seperti saya, turnamen Arnhem bukanlah sekadar bisa merasakan atmosfer bola antar pelajar di Belanda atau kuping geli mendengar sambutan wakil duta besar Indonesia di Belanda. Arnhem adalah kota paling jauh yang saya pertama saya kunjungi di Belanda. Diantara jeda stasiun di belasan kota dan ratusan kilometer diantaranya, ada percakapan-percakapan kecil diantara bangku kereta. Obrolan ringan tentang negeri asing—kuburan, kanal-kanal, hamparan lahan pertainan, trem-trem dan gedung tua—bertukar tangkap dengan lepas bersama pembicaraan tentang kisah negeri sendiri dan ceritera pengalaman diri sendiri. Itu adalah waktu-waktu yang berharga untuk bisa mengenal kisah orang lain, dari rute sejarah yang agak lain, melewati kota-kota yang asing. Misalnya, saya bisa sedikit berbagi tentang biografi diri dan Mentawai dan mendapatkan sejarah kelam di Bali atau kisah perdagangan di pedalaman Kalimantan ...

Dan tentu saja perjalanan-perjalanan jauh bersama di akhir pekan ini memiliki banyak manfaat. Anda bisa sedikit melarikan diri dari kepenatan menulis paper, mengistirahatkan pantat dari bangku perpustakaan, atau memberi asupan pengalaman diluar urusan akademi. Sekali lagi, ini juga bisa memberikan anda rasa nyaman untuk bersama sebagai sebuah keluarga. Lahir dan tumbuh dalam tradisi Indonesia, sekuat apapun anda bersendiri dan mandiri, kadang-kadang kolektivitas kita butuhkan untuk memberikan rasa nyaman di negeri orang.

Dan diantara semuanya, tidak lengkap tanpa pesta

Sebagai keturunan Austronesia yang sudah melanglang buana hingga ke Eropa, mahasiswa ini sudah tidak akrab lagi dengan pengayauan, rumah panjang, dan menyembah roh-roh yang bersemayam di batu-batuan. Namun kita masih berhak mengklaim pewaris tradisi itu karena kita masih melestarikan salah satu ritual ‘warisan nenek moyang’. Tradisi neolitik Mentawai mengenalnya sebagai puliaijat atau punen, di Jawa ada selametan, orang Meratus mengenalnya aruh ganal, Sunda Wiwitan memiliki seren taon. Dan mahasiswa Indonesia di Leiden selalu punya alasan untuk syukuran.

Mungkin ini tidak ada kaitan dengan pepatah yang bias Jawa, ‘makan gak makan yang penting kumpul’. Toh, dalam setiap syukuran dan pesta, makanan tersedia melimpah. Minuman meruah. Dan makanan ringan selalu berlebih. Saya tidak tahu persis tradisi Leideners dalam melakukan acara bersama. Yang saya tahu untuk satu turnamen atau kegiatan, disini perlu dua acara syukuran. Paling tidak dalam kasus Arnhem, sebelum berangkat semua berkumpul bersama untuk makan-makan, doa dan berpesta dan setelah pulang, semua berkumpul lagi untuk makan-makan, doa dan berpesta. Dan setiap pekan hampir selalu ada undangan datang untuk hajatan orang pulang, ulang tahun, atau peresmian rumah baru...

Dulu di tahun 1970-an, Ashadi Siregar dengan novelnya Cintaku di Kampus Biru, membawa istilah ‘buku, pesta dan cinta’ dalam kehidupan mahasiswa Yogya. Saya tidak tahu apakah istilah cinta di Leiden menemukan makna terbaiknya. Istilah ini lebih menyerupai alegori dalam sahut menyahut obrolan dan tampaknya, entah mengapa, semua orang menghindari pembicaraannya secara terbuka. Tapi yang pasti, dengan syukuran dan kumpul bersama nyaris tiap minggunya, kata-kata cinta mungkin bisa diganti dengan bola.

Mungkin bias perspektif menyulut saya untuk berani mengganti bola dengan cinta disini. Tetapi jika melihat pemahaman, kualitas percakapan dan juga daya jangkau sepakbola dalam percakapan sehari-hari para mahasiswa ini, jelas obrolan tentang sepakbola bukan sekadar cara mendapat teman. Yanwar darahnya sebiru Chelsea, Uji dan Ngurah meski saling meledek di acara seperti biasa tak pernah bisa berganti hati dengan Liverpool, Dani mukanya memerah jika MU kalah, dan saya sendiri lunglai berhari-hari di pekan menyedihkan Barcelona.

Tetapi mungkin juga, cinta dalam pengertian terbaiknya tak pernah menguap di udara kota Leiden seiring bergantinya cuaca. Saya bisa menangkapnya dalam tiga urusan ini: makanan, lagu-lagu kenangan, dan pembacaan cerpen....

Mas Ary Budhi, koki Indonesia terbaik di Leiden, membuat masakan seperti mencintai perut dan kesehatannya sendiri. Saya tidak beruntung merasakan bebek panggangnya di malam perpisahan kang Kusmana, tetapi hanya dari warna kuah mangut tongkol dan sambal merahnya, orang paling awam pun akan terbit air liurnya. Baksonya Uji ratusan kali jauh lebih mententeramkan jiwa dari bakso Surabaya ala pasar malam Den Haag. Ronde segar-hangat dan klepon manis Zweta merefleksikan kepribadianya. Iga bakar asam manis ala ‘satria bergitar’ rasanya tersisa dalam ingatan hingga kini dan cumi bumbu padang dari Intan rasanya gurih di lidah dan menyegarkan pikiran. Sementara gulai kambing Yanwar memaksa orang harus tambah dua kali. Saya boleh berbangga, rendang yang dibuat tidak menggunakan bumbu instan meski mata harus pedih dan tangan pegal karena melumat bawang dan bumbu satu-satu dalam ulekan.

Bicara soal masakan dan cinta, saya jadi teringat Remy, tikus pintar dalam film Ratatouile. Di bagian akhir film, saat bertemu dengan Anton Ego si pengkritik, Remy mengatakan ‘anda tidak bisa menilai masakan dengan kepala, tetapi harus dengan hati’. Sebab, kata Remy, seluruh masakan terbaik selalu dimasak dengan hati. Dan hanya sedikit yang bisa dilakukan dengan hati selain memasak, bukan? Diantara yang sedikit itu, cinta adalah salah satunya. Jika anda tidak bisa memasak dengan segenap cinta, apa yang akan terjadi dengan perut teman yang kamu kasihi? Begitulah kira-kira pesannya si Remy.

Selain asap dapur dan bau terasi, pesta mahasiswa Indonesia tidak akan punya gaya tanpa lagu-lagu sisa kenangan 'masa remaja'. Jika tukang kendang tidak selalu bisa datang untuk mengiringi irama dangdutan, alunan gitar irama melankoli akan mendominasi. Seperti yang sering saya guraukan, anugerah terbesar mahasiswa Leiden kontemporer adalah memiliki Gesit Pambudi. Ia sabar dan mahir melayani beragam selera, berbagai jenis suara, dan bermacam-macam cengkok dan irama--bahkan suara yang nyaris tanpa garam.

Generasi emas pop progresif 90an dan 2000an adalah sajian utama. Kla Project, Dewa, Padi, Gigi, Iwan Fals dan dari musik internasional, Cranberries mungkin adalah selera segelintir orang, namun setidaknya lagu-lagi itu bisa menyulut romantisme akan kebersamaan. Para rock mania menyembunyikan hatinya dan bersikap malu-malu kucing (atau sebenarnya takut malu), sementara lagu Yogyakarta, Begitu Indah dan Tentang Kita senantiasa mengudara. Barangkali perasaan Ngurah yang bersemangat melagukan Tentang Kita—dan hampir semua penggemar ikut paduan suara—mewakili perasaan mahasiswa yang tengah jauh dari keluarga yang dicintainya, apapun definisi tentang keluarga.

Lalu Mas Achmad Munjid datang dengan kisah-kisah pendek dan puisi melankolis yang penuh metafora. Puisi Luka dibaca dengan hening dan tenang di rumah Koening—membuat orang pada terdiam. Juga dengan Ama yang begitu mencintai bunga kamboja di Marienpoel Straat 51. Suara mas Munjid yang empuk (seempuk daging kalf Maroko) dan lembut(selembut es krim Australian) dengan iringan dentingan gitar Gesit membuat para mahasiswa yang lebih sering menggunakan otak kanannya itu, terbawa hanyut dalam suasana: ngelangut.

Kata-kata dari kisah mas Munjid kadang datang seperti udara segar, kadang sehangat matahari Mei, namun kadang menikung menyerupai suhu dingin membekukan hati. Ceritanya seperti membuka tirai dan menuntun pendengarnya untuk mendengarkan kisahnya yang ia tenun sendiri. Dan kebenaran ucapan pak guru Keating dalam film Peter Weir, Dead Poet Society tak terbantahkan: puisi membuat dewa-dewa iri dan para perempuan pingsan! Terutama Donna, yang meskipun kadang celalakan dan mirip preman Medan, hatinya akan segera lumer: lemeeeessss . Sementara yang lain, setelah sesi baca puisi atau cerpen, segera merekues kisah lanjutannya.

Uji akan menyebut kata ‘dahsyat’ berpuluh-puluh kali selama membicarakan karya-karya mas Munjid. Sementara yang lain, entah karena tersentuh hatinya atau tidak mengerti rangkaian majas dan alur ceritanya, lebih memilih duduk dengan khidmat merenungi makna di balik kata-kata. Bertahun-tahun menjalani lika-liku sebagai mahasiswa studi religi tidak mengikis keterampilan menulis dan cita rasa romantis era 90-an. Philadelpia, sepertinya tidak bisa menghapus ingatan mas Munjid akan tema-tema abadi seperti cinta dan kematian, bahkan semakin menebalkannya.

Lagu-lagu, masakan berbumbu dan cerpen syahdu adalah alasan dibalik kehangatan perantauan. Pesta atau syukuran adalah salah satu medium untuk mengintegrasikan mahasiswa yang berbeda generasi, bidang keilmuan, perspektif, dan yang lebih penting allowance beasiswanya. Dari generasi Obi Messakh, Kla Project, Sheila on7 hingga Adele, dari boruSiregar, bli I Ngurah, teh Intan hingga Concecao, semua berusaha meleburkan diri—meski tidak semuanya berhasil—dalam nuansa kebersamaan.

Dalam pesta syukuran: semua menyanyi (meski sebagian hanya dalam hati) untuk merayakan sejenak momen kebersamaan; untuk melupakan masalah tenggat tulisan; untuk lari sejenak dari kenyataan; untuk berjarak dari masalah yang membelit diri sendiri; untuk menyeka barang sebentar kesunyian dan kesendirian di negeri orang; untuk bertahan dari segala tekanan. Yang penting dalam nyanyian bersama ini, seluruh arus jiwa dan gelora mengambang di udara—segalanya berasal dari nasib berbeda namun dipertemukan dalam muara ruang dan waktu bersama.

*****

Sepanjang tiga bulan di Leiden ini saya menemukan makna dan peristiwa baru lengkap dengan peralihan dan ketidakmenentuan cuacanya. Saat saya datang kembali—percakapan tentang sepakbola, buku-buku dan pesta—semua tak akan pernah lagi sama. Saat menyadari harus melintas benua untuk meninggalkan arus peristiwa selama tiga bulan ini, untuk kembali ke sebuah negeri rumit yang lebih kita cintai saat kita pergi, saya tidak bisa menemukan kata-kata sendiri untuk menggambarkannya. Saya perlu satu sajak Octavio Paz untuk mengakhirinya:

Between going and staying the day wavers

Between going and staying the day wavers,
in love with its own transparency.
The circular afternoon is now a bay
where the world in stillness rocks.

All is visible and all elusive,
all is near and can't be touched.
Paper, book, pencil, glass,
rest in the shade of their names.

Time throbbing in my temples repeats
the same unchanging syllable of blood.
The light turns the indifferent wall
into a ghostly theater of reflections.

I find myself in the middle of an eye,
watching myself in its blank stare.
The moment scatters. Motionless,
I stay and go: I am a pause.

1 comment:

  1. bagus bang ceritanya.. typical Leideners sejati..

    ReplyDelete