Thursday, November 3, 2011

Menulis-Sepakbola: Catatan tentang Catatan-catatan yang Gagal Ditulis

Oleh Mahfud Ikhwan


Sejak berhasil menerbitkan beberapa buku sepakbola (dengan nama samaran) hampir dua tahun lalu, saya merasa punya panggilan untuk lebih memerhatikan sepakbola—bukan semata menonton sebagaimana sebelum-sebelumnya. Seperti dunia yang selalu mencari titik kesetimbangannya, rasanya diri ini juga memerlukan. Begitu pikir saya. Fiksi adalah hal paling berharga bagi saya. Meski dengan sepenuh hati melakukannya, dan mengalami puncak-puncak kebahagiaan saat mengalaminya, saya memperlakukannya terlalu serius. (Dan menjadi lebih serius lagi jika Anda adalah penulis fiksi yang tidak laku). Saya mau lebih bersenang-senang. Dan karena itu, saya memikirkan untuk menulis lebih banyak tentang sepakbola—hal yang paling saya senangi.

Makanya, Piala Dunia Afrika Selatan 2010 lalu menjadi moment of decade bagi saya. Pertama, karena pada Piala Dunia inilah saya tak hanya menunggu pertandingan, tapi juga menunggu peruntungan (lebih tepatnya, keuntungan). Kedua, karena sejak sebelum turnamen mulai, saya sudah mencanangkan program “Tonton dan Tulis”. Itu nazar saya.

Oke, saya tak bosan-bosan mengingatkan diri sendiri bahwa menulis sepakbola saya lakukan untuk bersenang-senang. Tapi, rupanya, sudah sejak sangat awal, saya mengkhianati tujuan itu.

Pertama, karena menulis sepakbola sudah pasti melibatkan tindakan “menulis”. Menulis adalah hal yang menyenangkan, dan karena alasan itulah saya melakukannya—hingga sekarang. Tapi, saya jelas lalai jika menyamakan “hal yang menyenangkan” saat menulis dengan “bersenang-senang”. Itu dua hal yang berbeda. Lebih-lebih bagi seorang yang masih terus bermasalah dengan kemalasan seperti saya.

Kedua, dan ini yang lebih gawat, menulis sepakbola jelas-jelas mengacu kepada “sepakbola”. Kenapa gawat? Begini. Dulu saya menyangka, hubungan saya dengan sepakbola seperti sepasang kekasih. Maklum, doski adalah pasangan kencan paling menyenangkan di setiap akhir pekan, pengirim tidur paling menentramkan, atau rekan begadang yang jauh dari membosankan. Tapi jelas saya salah. Sepakbola tidak berada di luar diri saya. Atau, baca saja, saya tak bisa utuh tanpa sepakbola. Pada tataran fisik, sepakbola tak mengulurkan tangan untuk disentuh atau mencondongkan badan untuk dipeluk, sebab tangan dan badan itu milik saya sendiri. Gampangnya, sepakbola adalah bagian dari diri saya. Dan karena itu, saya merasa selalu gagal mengambil jarak dengan sepakbola. Seperti makhluk bersel banyak yang mau membelah diri, setiap usaha ke arah itu hanya akan berujung pada semacam otobiografi yang dipaksakan. (Mencuri dari khazanah kamar sebelah) mana bisa vertebrata berlaku layaknya amoeba?

Ketiga, yang tak kalah gawat sekaligus menjengkelkan, saya ingin menulis sepakbola dengan cara yang berbeda dengan kebanyakan penulis sepakbola di Indonesia. Saya bayangkan, tulisan sepakbola itu nanti tak terlalu melibatkan frasa-frasa khas tabloid sepakbola macam “mengoyak jala”, “memungut bola”, “palang pintu”, “jenderal lapangan”, “kartu as”, “juru gedor”, “kuda hitam”, “mental juara”, “dibekap cedera”, “di atas angin”, “terpuruk di dasar klasemen”, “terancam jurang degradasi”, dst.

(Lihat, tulisan ini sudah mengkhianati tujuannya sendiri bahkan sebelum menyelesaikan halaman pertamanya!)

***

Saya ingat, tekad untuk “bersenang-senang” di Piala Dunia itu tidak dimulai dengan menyenangkan. Usai tiga pertandingan pertama di hari pertama, bukannya sebuah ulasan sublim bernada masghul tentang membosankan pertandingan antara dua juara dunai, Prancis vs Uruguay, saya malah menulis tentang suara berisik vuvuzela. Meski demikian, hal itu tetap saya anggap sebagai gejala baik. Apalagi, tulisan berikutnya muncul dua hari kemudian—meski itu sebuah tulisan pendek jelek yang tidak hanya emosional, tapi sedikit brutal. Namun, setelah itu, keadaan mulai mengkhawatirkan.

Tapi, saya masih mencoba memupuk keyakinan. Setelah suhu kompetisi mulai menghangat, kira-kira pada pertandingan kedua di fase grup, di mana semua tim usai melewati saat-saat menunggu dan mencoba-coba, saya yakin akan muncul tulisan yang lebih baik dan bahan yang lebih melimpah. Dan, benar (atau, terlihat benar). Sebab, begitu melihat tuan rumah Afsel disikat Uruguay tiga gol tanpa balas, menyaksikan Prancis menyongsong kegagalannya, dan kemudian menemukan Maradona membuktikan kapasitasnya saat timnuya menggasak Korsel, hingga Inggris yang terlalu tergesa menunjukkan karakter kepecundangannya usai gagal menang melawan Aljazair, begitu banyak hal yang berdesakan yang ingin ditulis. Judul-judul pun bergentayangan, bahkan sebelum pertandingan-pertandingan yang ingin diulas itu usai. Dan saya sama sekali tak heran dengan diri sendiri ketika saya mengambil mesin ketik dengan semangat yang serupa Archimides usai meneriakkan kata “eureka”-nya.

Nyatanya, tak ada tulisan lagi yang bisa saya selesaikan.

Saya hendak menulis bahwa blunder Robert Green pada pertandingan melawan AS sebenarnya sangat menguntungkan skuad Inggris secara keseluruhan—kecuali Green sendiri, tentu saja. Blunder itu, saya bayangkan, akan membuat pendukung Inggris lupa kalau sebenarnya yang membikin blunder adalah seluruh anggota tim. Green bagi Inggris akan mengikuti jejak Barbosa bagi Brazil, di mana kesalahan seorang pemain bisa menutupi kesalahan seluruh tim.Tapi, tulisan itu tak selesai.

Usai menonton cara bermain tim Yunani yang aneh dan membingungkan saat melawan Argentina pada pertandingan terakhir Grup B (yang tetap bermain bertahan meski sudah tak mempertaruhkan apa-apa), saya teringat dengan drama-drama klasik Yunani tulisan Sophocles. Dan, wuih.., saya gemetaran ketika merasa menemukan padanan yang pas tentang keanehan cara bermain Karagounis dkk melawan tim Tango dengan para dewa penghuni Bukit Olimpus yang digambarkan Sophocles sebagai karakter-karakter yang tak jelas motifnya saat menentukan garis nasib Raja Oedipus. Dan, tulisan itu pun berujung pada sebuah paragraf gagal yang hanya pantas ditumpas dengan tombol delete.

Dari pertandingan yang sama, saya juga menemukan visi menarik lain. Pada mulanya, Georgios Samaras, striker Yunani satu-satunya yang dipasang pada pertandingan itu, dengan rambut panjang lurusnya, cambang lebatnya, dan tubuh rampingnya, tampak di mata saya seperti seorang rockstar tahun 80-an yang mengidap androgini (seperti yang digambarkan dalam film “Velvet Goldmind”). Dan, tulisan bergaya Rolling Stone sudah mulai membayang di kepala. Namun menjelang akhir pertandingan, saya berubah pikiran. Ketika melihat Samaras tampak seorang diri di lini depan, kesepian, dan begitu menderita saat mengejar bola yang dipermainkan empat bek Argentina, saya teringat dengan Yesus dan kisah penebusannya. Sementara, di bangku cadangan, Otto Rehagel, dengan wajahnya yang gusar namun tak berbuat apa-apa, tak lain adalah Judas-nya. Tapi, seperti yang tak bisa dilihat (karena kita tak bisa melihat yang tak ada), tulisan itu juga tak pernah kelihatan batang judulnya. (Demikian juga dengan tulisan yang gagal tentang sahabat sepakbola yang dibenci tapi sebenarnya amat dirindukan bernama insiden dan kontroversi.)

Tentu saja, saya terus mencoba menghibur diri. Semua tulisan yang belum selesai itu—dengan beberapa perubahan seperlunya—akan selesai sebelum semifinal, itu yang saya yakini. “Setelah Argentina mengalahkan Jerman, semua pasti beres,” demikian pikir saya.

Lalu Argentina disikat Jerman 4-0, dan tak ada lagi Piala Dunia untuk ditulis.

Ketika ulasan kasar tentang kekalahan Belanda atas Spanyol di Final dipaksa muncul, itu tak lebih dari sebuah lambaian tangan yang lemah sebagai tanda ucapan selamat tinggal kepada “Tulisan Sepakbola”. Apalagi, tak lama kemudian, sudah disimpulkan kalau buku-buku sepakbola yang saya tulis tak laku dijual.

***

Sampai lebih dari setahun kemudian, lewat kopi yang kami minum, dua orang teman berhasil memperdaya saya untuk kembali menulis sepakbola. Kali ini bahkan dengan matrik kerja segala. Juga visi kelewat gila: mengubah dunia tulis-menulis sepakbola Indonesia (dari kejumudan ramal-meramal, tebak-tebakan, dan hasil pertandingan). Seperti Sastrawan Angkatan ’45, kami bahkan sepanjang malam membincangkan sebuah kredo kepenulisan.

Munculnya tiga tulisan dalam waktu dua minggu tanpaknya cukup menjanjikan. Sebuah pilihan lain dalam menulis sepakbola telah disajikan. Dan perubahan itu mulai menunjukkan terangnya di ujung lorong sana. Tapi dua minggu berikutnya, tulisan keempat tak kunjung muncul.

Saya mencanangkan kebangkitan kreatif pasti akan terjadi usai pekan ke-9 Liga Inggris, pasca-derbi Manchester. Ya, saya membayangkan akan mendapatkan energi berlipat jika City bisa mengalahkan United di Old Trafford. Ketika kemudian City memasukkan enam gol ke gawang De Gea, energi itu meluap menjadi euforia.

Saya kelewat gembira. Tapi, tentu saja, saya bukannya kosong-blong tanpa ide. Sumpah, bukan hanya bakal tulisan di kepala, bahkan judul-judul file di komputer yang berkait dengan pertandingan itu saya jamin lebih banyak dibanding kesalahan yang dilakukan bek-bek MU dalam pertandingan itu.

Misalnya, saya telah mencoba menulis satu halaman tentang “Bahaya Senyum Balotelli”. Saya tertarik membahas kenapa selama ini Mario Balotelli jarang terlihat tersenyum, bahkan saat mencetak hat-trick. Usai pertandingan yang berakhir 1-6 itu, saya merasa menemukan jawabnya. Senyum Balotelli sangat berbahaya, itulah premis utama ide itu. Sebab, saat senyum itu merekah, nestapa melanda semua pencinta MU sedunia. Bahkan, Sir Alex, orang yang paling dimuliakan dalam sejarah sepakbola Britania Raya, harus ternoda biografi sepakbolanya.

Dalam waktu bersamaan, saya juga merintis tulisan yang saya bayangkan akan menjadi ulasan sepakbola yang keren; sebuah laporan pertandingan sepakbola dalam narasi campuran antara cerita silat Koo Ping Ho dan sejarah pemberontakan Anton Lucas. Judulnya, “Banjir Darah di Kandang Iblis Merah”: sebuah kisah tentang sekumpulan jago bayaran yang menumbangkan penguasa tiran. Di akhir cerita, seorang pendekar berwatak jahat bernama Balo Telli, muncul sebagai pahlawan. Pasti itu akan jadi sebuah glorifikasi manis tentang kekalahan MU.

Tapi tak hanya itu. Pada file lain, beberapa paragraf awal analisis kekalahan MU—yang saya bayangkan pasti akan berbeda dengan kolom-kolom olahraga di koran dan tabloid awal—juga telah saya siapkan. Tajuknya, “Mental Juara Membunuh Tuannya”. Klunya, kekalahan MU tidak dimulai dari gol jitu Balotelli apalagi keluarya Jonny Evans, tapi gol balasan Darren Fletcher. Saya rasa, itu pasti akan jadi ulasan njlimet tentang bahaya terpendam dari mental juara jika dipakai secara arogan dan di masa yang salah.

Juga beberapa kalimat pembuka lainnya.

Tapi setelah lewat sepekan, saat ratapan di satu pihak dan ledekan di pihak lainnya sudah mulai redam, yang muncul cuma lima status facebook, tiga tautan, dan beberapa komentar ejekan yang biasanya diakhiri kata “hahahaha...”.

***

Lalu, seseorang mengingatkan tentang tugas yang lalai saya tunaikan. Saya mengiyakan, tapi tak kunjung memperbaikinya.

Teman saya menyarankan agar mencoba menulis sepakbola Indonesia saja. Dalam pandangannya, saya punya banyak ide kritis saat kami ngobrol soal timnas dan sepakbola Indonesia, dan itu harus ditulis. Tapi, saya berada dalam posisi yang sama dengan kebanyakan pendukung tim nasional Indonesia: ngomong (dan memaki) adalah kapasitas tertinggi kami. Lagi pula, menurut saya, timnas, PSSI, sepakbola Indonesia, tidak berada pada fase untuk dikritik, melainkan harus diabaikan. Kalian pikir apa yang dilakukan Anton Sanjoyo dan Tommy Welly? Tapi, lihat, mereka seperti orang yang terjebak di goa dan mencoba keluar dengan meneriaki reruntuhan. Bukan karena mereka tak melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan, tapi yang mereka hadapi memang cuma reruntuhan. Dalam hemat saya, mengulas kebobrokan timnas-PSSI-sepakbola Indonesia tak ubahnya mengurangi nyeri karena bisul di pantat dengan cara menonjoki mulut.

Menulis sepakbola Indonesia adalah membuat catatan tentang catatan-catatan yang gagal ditulis. Dan ketika saya memaksakan diri untuk membuatnya, tulisan inilah yang jadi hasil akhirnya.

(Tapi, coba ditunggu setelah Indonesia vs Malaysia, hahaha....)

04-11-11

No comments:

Post a Comment