Sunday, December 4, 2011

Sepakbola Melawan Lupa

Oleh Darmanto Simaepa

Tendangan karate Boban ke dada polisi Serbia di Zagreb dalam kejuaraan nasional Yugoslavia Mei 1990 adalah simbol keterkaitan antara sepakbola, sejarah dan politik yang diingat publik. Peristiwa itu menjadi mitos bangkitnya nasionalisme Kroasia. Ia menjadi penanda perlawanan Kroasia atas dominasi orang Serbia. Untuk mengenang peristiwa tersebut, stadion milik Dynamo Zagreb mendirikan patung prajurit dan menulis dibawah patung itu: ‘kepada fans klub, yang memulai perang dengan Serbia di lapangan ini’.

Simon Kuper membantah mitos itu. Dalam esainya, Political Football: Zvonimir Boban (2004), ia mengatakan, para politisilah yang menciptakan perang Balkan. Sepakbola, meskipun sangat penting di semenanjung Eropa timur itu, tidak bisa menghancurkan apa yang telah diusahakan Joseph Tito selama dua dekade. Bersepakat dengan Kuper, saya tidak percaya satu tendangan pemain sepakbola kepada polisi akan menyulut perang suatu negara. Namun kenapa peristiwa itu berhasil menjadi mitos dan dikenang? Disinilah letak teka-teki psikososial sepakbola.

Sepakbola, konon, bisa menjadi alegori sejarah sosial masyarakat yang membentuk dan dibentuknya. Rivalitas Pele dan Maradona adalah alegori kompetisi Brazil dan Argentina dalam kehidupan politik regional di Amerika Selatan. Dendam berkarat Belanda-Jerman adalah warisan perang dunia ke-dua dan sentimen anti-semitisme yang telah mengurat antara keduanya. Kenapa melawan Malaysia menjadi lebih politis dibanding Timor Leste, misalnya, adalah cerminan dari sejarah sosial orang Indonesia yang ‘merasa’ selalu dikalahkan oleh tetangganya.

Manusia yang fana tidak sanggup mencatat setiap kelimun fakta. Setiap serpihan peristiwa yang berenang di sungai waktu akan tertapis oleh pengalaman dan menjadi sedimentasi ingatan. Selama bertahun-tahun, sedimen itu dibentuk dan dibentuk ulang oleh hempasan arus antara dinding publik dan personal. Peristiwanya sendiri lenyap dan yang tertinggal adalah endapan yang berisi sejumlah ingatan. Kita menyebutnya dengan sejarah.

Sejarah yang diingat Boban dan rakyat Kroasia dari karir sepakbolanya sangat berbeda. Bagi Boban sendiri, meskipun ia mencitrakan dirinya sebagai nasionalis romantis dan dikenang sebagai pahlawan Kroasia, momen Zagreb bukanlah yang paling diingat dalam karir sepakbolanya. Satu-satunya yang akan terus ia ingat adalah kesalahan umpannya yang dimanfaatkan Djorkaef untuk memberi umpan sehingga Lilian Thuram mencetak gol di semifinal piala Dunia 1998.

Kroasia tidak butuh satu dekade untuk membuat Boban menjadi mitos nasional, begitu filsuf- sejarah Zarko Puhovski mengatakan. Bagi publik sepakbola, ingatan kemenangan atau simbolisasi terhadap tendangan kepada orang Serbia jauh lebih penting dari kepedihan hati Boban yang membuat kesalahan kecil namun fatal itu. Sepakbola mampu menjadi representasi dari rumitnya kehidupan. Sepakbola dan Boban bertemu di Zagreb, dan keduanya menjadi wakil dari gema Kroasia yang menginginkan merdeka.

Apa yang menarik dari kisah Boban adalah apa yang dialami oleh pemain berbeda dengan apa yang diterima publik. Peristiwa/pertandingan yang dijalani oleh Boban tidak seperti yang ia inginkan. Permainan telah menjadi publik dalam batas terjauhnya. Ia tidak lagi menjadi milik Boban dan 21 orang lain yang bertarung selama 90 menit dilapangan. Tidak juga para pelatih atau pemain cadangan. Peristiwa itu menjadi milik sejarah. Laporannya akan ditulis dikoran atau disiarkan televisi. Pertandingan itu menjadi milik publik. Ia disimpan dalam ingatan bersama.

Sejarah sepakbola yang penting adalah peristiwa sosial-politik yang penting. Itulah barangkali, jauh lebih mudah bagi para pemain untuk melupakan kekalahan dari penonton itu sendiri. Usai pertandingan, Andik Vermansyah atau Bambang Pamungkas akan mandi, berganti kostum, pulang, menerima bonus (mungkin yang lebih kecil), bertemu anak istri. Mungkin beberapa saat mereka sulit tidur, membutuhkan alkohol, atau tenggelam dalam kemurungan. Ada waktu-waktu mereka menghindari wawancara. Kadang menimbulkan suasana hening atau kemarahan di kamar ganti. Namun sepekan kemudian, mereka berlatih untuk menyiapkan pertandingan berikutnya.

Bagi penonton, semuanya menjadi lebih sulit. Perjuangan melawan kekalahan adalah perjuangan melawan lupa. Kekalahan akan tinggal di kepala selama berhari-hari—bahkan mungkin bertahun-tahun, mengendap dalam tumpukan ingatan yang sewaktu-waktu muncul kembali tanpa permisi. Setiap peristiwa itu dilaporkan atau dibicarakan, waktu seakan mendayung ke arah hulu sungai, mencari sumber-sumber penderitaan yang dialami. Kegagalan Sinaga seperti menghantarkan kita kepada kaki kiri Rony Wabia, dan ketidakmujuran Gunawan seperti teka-teki emosi Uston Nawawi.

Ingatan terhadap sepakbola adalah alegori sejarah sosial. Kepedihan rakyat Prancis adalah ketidakmauan Platini dan rakyat Prancis memaafkan Ginola yang berlama-lama memainkan bola sehingga Yordan Lechkov mencurinya dan membuat Emil Kostadinov-lah yang membawa Bulgaria pergi ke Amerika. Kemarahan orang Inggris diwakili dari ingatan tentang Steve McLaren sebagai ‘pria dungu yang murung dibawah payung’. Atau serangkaian blunder Robinson, Seaman dan Carrson. Ingatan tentang piala dunia 1978 adalah ingatan tentang rezim militer Amerika Selatan. Kita bisa menambahkan nasib Dida yang berkulit hitam sebagai kelanjutan nasib pedih Moacir Barbosa di Brazil.

*******

Setiap peristiwa sepakbola yang terjadi akan diseleksi. Beberapa dimunculkan berulang-ulang. Sebagian lagi berusaha dilupakan. Sebagian mengendap menjadi memori. Ingatan tentang sepakbola bisa menjadi kejam atau bisa menjadi menyenangkan tergantung dari bagaimana sejarah dimaknai dan dihayati.

Di Indonesia, ingatan terhadap sejarah sepakbola diwarnai paradoks dan ambivalensi. Di republik ini, gairah terhadap sepakbola nyaris seperti birahi. Orang-orang rela membeli tiket calo yang tiga harganya kali lipat lebih mahal dari aslinya. Pemain sepakbola dipuja lebih dari nabi-nabi dalam agama. Orang-orang bisa mengamuk, merusak pagar, dan membakar stadion ketika harapan tidak menjadi kenyataan. Sebaliknya, jutaan rakyat bisa merasa sebagai bangsa karena sepakbola. Anak-anak yang malas menyanyikan lagu kebangsaan di kelas tiba-tiba hapal diluar kepala dan menyerukannya di stadion dengan semangat menyala. Tidak ada olahraga yang membuat jutaan negeri menjadi nyaris menukar apapun yang ia punya demi melihat timnas sepakbola menang.

Paradoksnya: ingatan tentang sejarah (prestasi) sepakbola berlawanan arus dengan gairah publiknya. Saya tidak tahu persis itu mengapa, tapi punya cerita tentangnya. Setiap akan bertanding, dalam final atau pergi menuju lawatan, selalu ada pesan bahwa timnas yang ‘sekarang’ harus seperti timnas ‘dulu’. Baik dalam prestasi, mentalitas, maupun sikap yang diambil oleh para pemainnya. Ada semacam pola dimana setiap membicarakan sepakbola level negara di pertandingan resmi—AFF Cup, Kualifikasi piala Dunia, SEA Games—selalu memiliki ciri wacana temporal: ‘dulu’, ‘waktu itu’, ‘pada saat’, dan ‘sekarang’.

Saya tidak tahu siapa yang memproduksi wacana tentang kegemilangan masa lampau. Mungkin tidak penting pertanyaan tentang siapa—saya tidak peduli apakah dia media massa, petinggi PSSI, mantan pemain, sejarawan sepakbola, atau politisi yang menarik keuntungan dari permainan waktu ini. Saya tertarik dengan pertanyaan mengapa dan bagaimana? Seakan-akan ada proyeksi, masa lalu adalah titik berangkat yang otentik bagi keberhasilan di masa datang. Titik-titik pencapaian tertinggi ada di masa lalu diacu sebagai tumpuan untuk mendapatkan hasil gemilang.

Tapi apa yang dimaksud dengan ‘dulu’? Apa yang dimaksud dengan standar kesuksesan? Dari mana kita mulai membandingkan satu periode lebih sukses dari periode lainnya? Dari sejarah, kita semua tahu: sejarah sepakbola Indonesia adalah timbunan kegagalan. Berapa emas yang bisa kita raih? Dilevel mana kita pernah bermain? Saya rela bersitegang urat leher dengan para nasionalis dan optimis yang mengatakan bahwa di masa lalu, sepakbola Indonesia telah memberi sesuatu yang membanggakan.

Meskipun berisi timbunan kegagalan, setiap kali membaca berita, kita selalu diberi ingatan tentang masa-masa silam yang gemilang. Media menyebut kemampuan menahan Soviet di Olimpiade 1956, maju ke perempat final piala Asia, atau menahan Korea di kandangnya.
Barangkali sebagaian orang yang positivistik akan mengatakan Jepang ditahun 1970-an belajar dari kompetisi republik ini. Dulu di negeri ini ada nama-nama besar yang datang dan bersimpati: Ivan Toplak, Coerver, Tord Grip. Roger Milla, Kempes datang kemari karena sepakbola.

Sejarah sepakbola Indonesia bagi saya, pada akhirnya adalah serangkaian rasa frustasi demi frustasi. Puncak keberhasilan yang melegakan negeri ini adalah turnamen eksebishi seperti Piala Kemerdekaan, Merdeka Cup di Malaysia, atau dalam level klub kompetisi semacam Aga Khan. Yang paling diingat adalah dua medali emas SEA Games yang hanya diikuti oleh 8 tim.

Saya merasa ada semacam ideologi ratapan yang bekerja dalam ingatan tentang sejarah sepakbola. Orang Indonesia sudah tidak tahan menanggung kegagalan. Karena tidak sanggup hidup dalam sederetan kepecundangan, ideologi ini menyaring fakta-fakta yang memedihkan, menapis kekalahan-kekalahan memalukan, dan mengglorifikasi kejayaan.

Kita suka membanding-bandingkan. Tentu saja perbandingan bukanlah hal yang buruk. Kadang anda mendapatkan inspirasi dari sejarah. Kadang ambisi dibangkitkan dari sentuhan terhadap ingatan. Jerman adalah contoh yang baik tentang ini. Apa yang disebut sebagai ‘mentalitas Jerman’ adalah warisan dari sejarah. Sebaliknya, Inggris adalah contoh yang buruk. Paul Scholes mengeluh, tekanan dari publik datang saat setiap tim yang berjuang selalu dibandingkan dengan skuad 1966. Tekanan ini menyebabkan para pemain berbakat di Inggris—Gazza, Rooney, Wilshere—memiliki masalah mentalitas sebelum bertanding. Setiap bertanding,

Masalah terbesarnya adalah menyeleksi apa yang pantas dibandingkan, apa yang pantas dilupakan dan apa yang pantas dihiraukan. Kita tidak cukup adil untuk melihat setiap cacat-cacat sejarah yang jauh lebih banyak dituliskan oleh para pemain Indonesia—dimasa lalu maupun sekarang. Dengan permainan waktu—masa dulu dan masa sekarang—seakan-akan apa yang terjadi di masa lalu adalah sehimpunan kristal.

Saya hampir tidak pernah mendengar Rony Pattinasarani mengatakan secara jujur apa kesalahan yang dilakukannya. Betul barangkali dia adalah Der Kaizer-nya Indonesia—saya tidak pernah melihatnya bermain langsung. Namun, ia membuat dua kesalahan elementer dan fatal yang membuat Indonesia dua kali gagal meraih emas di SEA Games. Lalu kita hanya mengingat Maman seakan-akan dia orang yang paling berdosa terhadap sepakbola negeri ini. Fachri Husaini melakukan tindakan indisipliner jauh lebih buruk dari apa yang dilakukan Boaz atau Tibo. Rully Nere juga. Bahkan, publik hampir tidak pernah diingatkan tentang sepakbola gajah ala Persebaya tahun 1987, yang kemudian bertransformasi sebelas tahun kemudian secara lebih menjijikkan di Tiger Cup 1998.

Bahkan, sebelum menyeleksi memori itu, saya rasa pemain timnas dan publik sepakbola tidak banyak memiliki ingatan terhadap sejarah sepakbola negerinya sendiri. Saya membaca 3 edisi terakhir FourFourTwo edisi Indonesia. Di lembaran khusus sepakbola nasional, majalah ini mewawancarai beberapa pemain muda. Tidak satupun pemain yang tampil di majalah ini tahu apa yang telah dilakukan Aji Santoso, Widodo, atau Rahmad di tahun 1990an.

Orang bijak akan mengatakan, untuk meraih emas sepakbola, seorang pemain tidak harus membaca buku, membuka kliping, atau mengerti riwayat sepakbola. Itu bisa jadi benar. Tapi ketidak tahuan terhadap silsilah sepakbola menggambarkan bagaimana sejarah dihayati dan ingatan bekerja di republik ini.

Saya tidak percaya ada upaya yang disengaja untuk menglorifikasi masa lalu dan menyeleksi kepecundangan. Ini menjadi alegori sejarah sosial kita. Para ahli sejarah selalu mengatakan, sejarah Indonesia berada dalam ketegangan kontinyuitas dan diskontinyuitas. Dan itu juga yang berlaku untuk sepakbola. Kita tidak memiliki tradisi untuk mengingat kerja keras dan peristiwa yang telah kita lalui. Kegagalan dan keberhasilan di SEA Games, barulah terjadi kurang dari satu generasi. Jadi, ketika seseorang pemain penting yang terseleksi melupakannya, menunjukkan seberapa pendek ingatan kita terhadap kabut peristiwa.

Ingatan sepakbola kita berada di tubir ambivalensi: berusaha melupakan kekalahan tapi dengan cara menjadikan masa lalu menjadi kristal harapan. Gejala ini bukanlah berdiri sendiri. Kita melihat masa lalu sering dengan rasa takjub dan puas diri. Dan karenanya tidak pernah membumi. Seperti para pahlawan nasionalnya, para pemain sepakbola Indonesia di masa lalu ditulis seolah-olah seperti orang suci. Setiap kekalahan atau keburukan moral para pahalawan itu akan diberi tempat untuk dimaklumi.

Indonesia lebih sering kalah dengan buruk, tapi yang lebih buruk lagi, ingatan tentang kekalahan itu ditapis dari skenario dan ditempatkan diluar sejarah.

*******

Saya teringat kekalahan Jerman atas Kroasia 1998 dan kegagalan mereka di piala Eropa dua tahun setelahnya. Kepecundangan mereka di dua turnamen itu menampar publik. Peristiwa itu menyulut tuntutan warga Jerman untuk memperbaharui pembinaan, sistem kompetisi dan terutama filosofi bermain Jerman. DFB (Deutsch FussBall Bund) menginvestasikan 132 juta euro untuk menemukan talenta yang sekarang mewujud dalam diri Muller, Oezil, Kross, dan Neuer.

Jerman merevolusi sistem pelatihan. Pemerintah membantu pendanaan yang berlimpah untuk sekolah-sekolah yang memiliki talenta sepakbola. Klub-klub bekerjasama denan negara bagian untuk membangun kamp pelatihan. Perusahaan-perusahaan besar menopang sebagian pendanaan. Yang terpenting, kekalahan itu memberikan kesadaran nasional bahwa: kemenangan selalu butuh waktu. Kita telah sendiri melihat evolusi Jerman. Rata-rata pemain nasionalnya paling muda. Kursi-kursi stadion selalu terisi penonton semuanya. Kompetisi di liga domestik berjalan dinamis dengan bergilirnya juara.

Mungkin tidak adil membandingkan Indonesia dengan Jerman. Benar, sejarah sosial berbeda dan tingkat kecukupan ekonomi berbeda. Namun dari pengalaman Jerman kita bisa belajar bagamana bereaksi terhadap keterpurukan. Yang menjadi tantangan adalah bagaimana menangani ingatan kekalahan dan mentransformasikannya. Ingatan yang buruk tentang sejarah sepakbola menyebabkan prestasi timnas kita tidak pernah kemana-mana. Kita tidak pernah bisa menangani ingatan dan kegagalan lalu mentransformasikannya menjadi harapan dan realita.

Apa yang terjadi dengan kisruh LPI dan ISL hari-hari ini adalah puncak gunung es dari sepakbola negeri ini yang gampang lupa. Semua petinggi PSSI bicara seperti apa yang diucapkan oleh loyalis rejim Nurdin Halid setahun sebelumnya. Perang kata-kata hanya menjadi tanda dari kebebalan belaka. Dalam sepakbola, kita memang sejenis keledai. Setelah kegagalan di AFF dan di SEA games selama dua dekade, kita tidak melakukan apa-apa! Setiap SEA Games datang atau kualifikasi piala dunia dimulai, antusiasme itu datang dari penjuru negeri. Dan setelahnya dipadamkan oleh kekalahan demi kekalahan. Konflik-konflik. Dan perebutan kekuasaan.

‘Cara terbaik menerima kekalahan,’ Boban pernah mengatakan tentang salah umpannya, ‘adalah dengan mengingatnya’. Kita mungkin melakukannya, tapi tidak pernah menanganinya. Dan karena itu, sepakbola kita tidak pernah bergerak ke mana-mana.

2 comments: