Tuesday, March 6, 2018

Momen Terhebat*

Oleh Nick Hornby; terj. Mahfud Ikhwan 


(Liverpool v Arsenal, 26.5.89)

Sepanjang aku menonton sepakbola, duapuluh tiga musim, hanya tujuh tim yang memenangkan Divisi Utama: Leeds United, Everton, Arsenal, Derby County, Nottingham Forest, Aston Villa, dan yang bersimaharajalela sebelas kali, Liverpool. Lima tim berbeda jadi pemuncak pada lima tahun pertamaku menonton, bagiku itu menunjukkan bahwa liga  bisa kapan-kapan sesuai dengan yang kita inginkan, meskipun untuk itu kadang kita mesti menunggu. Namun, ketika tujuhbelas musim telah berlalu, lalu tujuh belas menjadi delapan belas, maka akhirnya terang bagiku bahwa Arsenal boleh jadi tak akan menjuarai Liga lagi di sepanjang sisa hidupku. Itu tak semelodramatis kedengarannya. Penggemar Wolves yang merayakan gelar ketiga mereka dalam enam musim pada 1959 pasti sangat sulit menerima bahwa tim mereka akan menghabiskan lebih banyak waktu mereka di Divisi Dua dan Divisi Tiga pada tiga puluh tahun ke depannya; pendukung Manchester City berusia '40-an ketika the Blues memenangkan gelar Liga mereka pada 1968 pasti sekarang sudah pada jompo sekarang.

Seperti semua penggemar, sebagian sangat besar pertandingan yang aku telah tonton adalah pertandingan Liga. Dan seperti sebagian besar musim di mana Arsenal tampak tak tertarik lagi dengan gelar Liga begitu melewati Natal, tidak juga dekat ke tubir degradasi, aku hitung-hitung bahwa separoh pertandingan (yang kutonton) itu tak bermakna, setidaknya jika menurut penulis sepakbola ketika menyebut-nyebut tentang pertandingan yang tak bermakna. Di situ tak ada adegan gigit kuku atau gigit jari atau muka-muka cemas; kupingmu tak akan jadi panas karena kau tempelkan ke son radio, mencoba mendengar bagaimana Liverpool merangsek; kamu juga, nyatanya, tidak terpuruk dalam keputusasaan atau matamu melotot karena begitu gembira oleh hasil akhir pertandingan timmu. Jika ada yang bermakna, maka itu bukan yang tertera di tabel klasemen, melainkan apa yang kamu bawa kepada mereka.

Dan setelah kurang lebih sepuluh tahun terus-terusan begini, Liga kemudian menjadi sesuatu yang bisa dipercaya bisa juga tidak--seperti Tuhan. Kamu akui bahwa itu mungkin, tentu saja, dan kamu menghargai pandangan mereka yang tetap mampu untuk terus percaya. Kira-kira antara 1975 hingga 1989 aku sudah tidak percaya lagi. Ya, aku berharap, pada tiap awal musim; dan pada waktu-waktu tertentu--misalnya di pertengahan musim 86/87, ketika kami memimpun sekitar delapan hingga sembilan pekan--aku hampir saja merobek selubung kekufuranku. Namun, di lubuk terdalam hatiku, hal itu tak akan pernah terjadi, sebagaimana aku tahu bahwa itu memang tak akan terjadi; ini seperti yang biasa aku pikirkan saat muda, mencari obat penangkal kematian sebelum aku menjadi tua.

Pada 1989, delapan belas tahun setelah Arsenal terakhir kali memenangi Liga, aku dengan enggan dan tolol menuruti nafsu untuk percaya bahwa Arsenal mungkin saja jadi juara. Mereka ada di puncak antara Januari hingga Mei. Pada pekan terakhir musim yang kemudian molor karena Tragedi Hillsborough mereka memimpin lima poin bersih atas Liverpool dengan tiga pertandingan tersisa. Liverpool memiliki satu pertandingan lebih di tangan, namun kata para bijak mengatakan bahwa Tragedi Hillsborough dan para penontonnya yang jadi korban akan membuat mereka mustahil untuk tetap menang. Lagi pula, dua dari tiga pertandingan akan digelar di kandang, melawan tim yang lebih lemah. Satu pertandingan lain adalah lawan Liverpool, tandang; pertandingan yang akan menentukan akhir musim.

Sampai lapangan Arsenal terbalik, aku tidak begitu saja kemudian tobat jadi anggota Gereja Pengiman Kemenangan Hari Akhir. Mereka kalah, dengan menyedihkan, di kandang atas Derby; dan di pertandingan terakhir di Highbury, melawan Wimbledon, mereka dua kali membuang kemenangan dan akhirnya imbang 2-2 atas tim yang mereka gasak 5-1 di pembuka musim. Setelah pertandingan melawan Derby aku bertengkar dengan pacarnya hanya karena perkara secangkir teh. Namun setelah lawan Wimbledon, aku sudah tidak marah lagi, cuma bengong karena kecewa. Untuk pertama kalinya aku bisa memahami perempuan di sinetron yang sebelumnya patah hati tidak akan membiarkan dirinya jatuh cinta lagi kepada orang lain: aku sebelumnya tidak pernah melihat hal itu sebagai sebuah pilihan, tapi sekarang aku benar-benar dilucuti ketika aku masih tetap keras kepala dan sinis. Aku tak akan membiarkan hal itu terjadi lagi, tak akan, tak akan pernah. Dan aku konyol, ya, aku tahu sekarang, sebagaimana aku tahu bahwa aku akan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk pulih dari patah hati yang parah setelah merasa sudah begitu dekat dan kemudian gagal.

Tapi ini belum sepenuhnya berakhir. Liverpool punya dua pertandingan tersisa, lawan West ham dan melawan kami, Arsenal, keduanya di Anfield. Karena dua tim begitu dekat nilainya, hitung-hitungannya jadi begitu rumit: berapa pun skor yang dicetak Liverpool untuk mengalahkan West Ham, Arsenal mesti mencetak separohnya. Jika Liverpool menang 2-0, kami harus menang 1-0, dan terjadilah yang akan terjadi. Waktu itu Liverpool menang 5-1, artinya kami membutuhkan dua gol kemenangan; "DOAMU BELUM TERKABUL, ARSENAL", menjadi headline halaman belakang Daily Mirror.

***   

Aku tidak berangkat ke Anfield. Awalnya pertandingan dijadwalkan di awal musim, saat hasilnya tak terlalu penting. Seiring berlalunya waktu, jelas sudah bahwa pertandingan itu akan menentukan hasil akhir kompetisi, dan tiket pun sudah lama ludes. Pada pagi hari aku jalan-jalan ke sekitaran Highbury untuk membeli kostum baru tim, cuma agar aku merasa berbuat sesuatu. Meski tak bisa disangkal bahwa memakai kostum di depan televisi tidak akan memberikan banyak dukungan kepada tim, aku tahu itu akan membuatku merasa lebih baik. Ketika hari masih siang, sekitar delapan jam sebelum kick-off malam, bus-bus dan mobil-mobil sudah berseliweran di sekitar sana. Sembari berjalan pulang, aku mendoakan orang-orang yang kupapas semoga mereka beruntung; prasangka baik mereka ("tiga-satu", "dua-nol, sipil", bahkan ada yang keterlaluan "empat-satu") di Mei yang indah ini membuatku prihatin. Para pemuda-pemudi yang penuh semangat dan penuh keberanian itu mending terjun ke Pertempuran Somme untuk kehilangan nyawa, daripada pergi ke Anfield untuk kehilangan--yang terburuk--iman mereka.

Aku berangkat kerja sore harinya, dan merasa muak terhadap diri sendiri. Setelahnya aku langsung ngeloyor ke rumah seorang teman pendukung Arsenal yang hanya sepelemparan batu dari North Bank untuk nonton siaran langsung. Segala hal yang terjadi malam itu terkenang, mulai dari momen ketika tim keluar menuju lapangan dan pemain Arsenal berlari melewati The Kop dan meletakkan beberapa karangan bunga. Dan pertandingan pun berjalan. Dan jelas sudah, begitu Arsenal menjalani pertempuran hidup-matinya, betapa baiknya aku mengenali timku, wajah-wajah dan tingkah-polah mereka, dan betapa aku mencintai mereka satu demi satu. Senyum Merson dengan gigi jarangnya, juga potongan rambut kekanakannya yang awut-awutan; kejantanan Adams dan usahanya yang menawan untuk menjadi jantan dengan segala kekurangannya; elegansi Rocastle yang terpompa; ketekunan Smith yang melelehkan hati... Aku dapati pada diriku maaf bagi mereka karena telah begitu dekat (dengan gelar juara) dan kemudian amblas; mereka masih muda, dan melewati musim yang luar biasa, dan sebagai suporter kamu tak bisa menuntut lebih dari itu.

Aku begitu kepincut ketika kami mencetak gol tepat di awal babak kedua. Dan aku tersengat lagi sepuluh menit berikutnya ketika Thomas mendapatkan peluang bersih dan hanya menendangnya langsung ke arah Grobbelaar. Tapi Liverpool tampak jadi lebih kuat dan menciptakan peluang di akhir-akhir pertandingan. Dan, akhirnya, bersamaan dengan angka waktu di sudut layar televisi yang menunjukkan bahwa sembilan puluh menit sudah lewat, aku sudah menyiapkan sebuah senyum gagah berani untuk tim yang gagah berani itu. "Jika Arsenal kehilangan gelar Liga, meskipun sempat memimpin, akan jadi keadilan yang puitik bahwa mereka mendapat imbalan di pertandingan terakhirnya, bahkan jika mereka tak memenanginya," kata komentator David Pleat manakala Kevin Richardson pendapat perawatan karena cedera, sementara The Kop sudah mulai berpesta. "Itu akan jadi sedikit penghiburan bagi mereka kurasa, David," timpal Brian Moore. Sedikit penghiburan tentu saja, untuk kami semua.

Richardson akhirnya bangkit, sembilan puluh dua menit sudah lewat, dan ia bahkan mampu membuat sebuah tekel di area penalti kepada John Barnes; lalu Lukic melemparkan bola kepada Dixon, Dixon angkat bola ke depan, umpan kepada Smith, sebuah cukilan brilian dari Smith... dan tiba-tiba, pada menit terakhir di pertandingan terakhir di pengujung musim, Thomas merangsek, sendirian, dengan peluang untuk memenangkan Liga bagi Arsenal di ujung kakinya. "Sekaranglah saat merebutnya!" Brian moore memekik. Dan di saat seperti itu aku bahkan masih mendapati diriku--hasil dari mengambil hikmah atas keterpurukanku ke dalam skeptisisme yang membatu--menahan diri untuk berpikir, katakanlah, setidaknya kami telah begitu dekat dengan juara, dan bukannya berpikir: ayo Michael, pliss Michael, ayo masukkan bolanya, mohon Tuhan, biarkan ia mencetak gol. Kemudian Thomas berjumpalitan, dan aku terkapar di lantai, dan semua orang di ruangan itu berlompatan menindihku. Delapan belas tahun, semua terlupakan dalam satu kedipan.

***

Begitu peluit panjang dibunyikan (cuma ada satu momen yang menghentikan detak jantung, ketika Thomas berbalik dan menyontek umpan back pass yang sangat biasa kepada Lukic, selamat secara sempurna namun dengan ketenangan yang tak kurasakan) aku langsung lari keluar pintu menuju kedai minum di Blackstock Road; tanganku terentang, seperti seorang bocah yang bermain pesawat terbang. Manakala aku tengah melayang di jalanan, seorang perempuan tua keluar dari pintu rumahnya, menyoraki lariku, seakan-akan akulah Michael Thomas. Lalu aku dengan sembrono mencongkel sebotol sampanye murahan. Belakangan aku sadari, melalui cerita si pelayan kedai, bahwa cahaya kewarasan telah menghilang sama sekali dari mataku. Aku bisa mendengar tempik dan sorak dari kedai dan toko-toko kelontong dan rumah-rumah di sekitarku; dan manakala para penggemar mulai berkerumun di stadion, beberapa dengan berselimut spanduk, beberapa yang lain duduk-duduk di atap mobil yang mendengking-dengking, siapa pun memeluk siapa pun selagi sempat, dan kamera TV mulai datang mengabadikan pesta itu untuk Berita Terakhir, dan ofisial klub melongok dari jendela untuk melambaikan tangan kepada kerumunan yang berlonjakan, kuakui bahwa aku gembira tidak ikut ke Anfield, dan melewatkan kebahagiaan ini, subuah ledakan yang nyaris latin di depan pintu rumahku sendiri. Setelah duapuluh satu tahun aku tak lagi merasakannya, perasaan macam yang kurasakan saat musim Juara Ganda dulu, bahwa kalau aku tak hadir di pertandingan maka aku tak berhak untuk ambil bagian dalam perayaan; aku sudah mengerjakan tugasku, tahun demi tahun demi tahun, dan aku merasa berhak.



*diterjemahkan dari Fever Pitch, Nick Hornby, 1992.
 
     

1 comment: