Monday, August 28, 2017

Frustasi di Gelredome

Oleh Sarani Pitor Pakan
Gelredome, 26 Agustus 2017
Udara sedang bersahabat di Arnhem. Orang-orang pergi ke stadion dengan celana pendek dan kaos, termasuk kaos tanpa lengan. Sabtu yang menyenangkan. Tidak banyak sabtu-sabtu seperti ini di musim panas ala Belanda. Maka orang-orang masuk ke Gelredome dengan senyum mengambang. Tak ada wajah-wajah merengut, tak ada gelagat-gelagat kesal. Semua senang. Termasuk suporter yang saya temui di bus menuju Arnhem. Mari kita merayakan akhir pekan dengan sepak bola.
Terlebih lawan sore itu ialah AZ. Klub asal Alkmaar itu yang dikalahkan Vitesse di final KNVB Beker musim lalu. Sebagai catatan, itu trofi pertama sepanjang sejarah berdirinya klub. Catatan kedua, jika kita tidak menghitung gelar juara Eerstedivisie. Jadi, melihat AZ di rumah sendiri mengembalikan bayangan kejayaan itu di benak suporter Arnhem. AZ adalah bagian dari memori indah Vitesse. Justru karena mereka menjadi korban. Terlebih lagi, tengah pekan lalu, undian fase grup Liga Europa baru saja dihelat. Arnhem akan menjamu Lazio, Zulte Waregem, dan Nice. Balotelli akan merumput di Gelredome, kawan!
Mood apik suporter Arnhem berantakan di menit kedua. Adalah si jangkung Wout Weghorst yang membuat seisi stadion bungkam. Saya mengingat Weghorst dengan imaji tentang Lilipaly. Di kamar saya di Haarweg, musim semi lalu, saya menonton Cambuur vs Alkmaar di televisi. Weghorst yang tinggi berkali-kali mengancam gawang Cambuur yang dibela Lilipaly. Pemain nomor sembilan ini sempat mencetak gol di babak tambahan, merayakan dengan girang ke arah suporter AZ, lalu wasit menganulirnya dengan kontroversial. Di akhir laga, Lilipaly dkk takluk lewat adu penalti. Weghorst dan AZ menuju final menantang Vitesse.
Di Sabtu itu, Weghorst tak perlu babak tambahan untuk mengoyak gawang lawan. Ia cuma butuh dua menit. Dia berlari merakayan gol dan menuju pojok lapangan, sambil sedikit menoleh ke asisten wasit. Mungkin ia takut golnya dianulir lagi. Tapi, tidak. 1-0 untuk AZ. Sejak gol itu, sebenarnya, pertandingan menjadi lebih menarik. Dan bagi suporter netral seperti saya, situasi ini begitu menyenangkan. Karena permainan akan lebih terbuka, karena Vitesse bakal habis-habisan mengejar ketertinggalan di depan ribuan pendukungnya. Oh saya akan punya 88 menit yang menggairahkan, pikir saya saat itu.
Tim Matavz menjadi poros serangan Vitesse sejak gol Weghorst. Berkali-kali ia meliak-liuk di dekat kotak penalti tim tamu, mengoper ke Bryan Linssen dan Milot Rashica, atau menerima bola dari Alex Buttner. Matavz bukan nama asing di Eredivisie. Ia, lahir di Republik Sosialis Yugoslavia, melambung ketika merumput di utara sana, di Groningen. Lantas, PSV Eindhoven membawanya ke selatan. Lebih dari 50 gol ia cetak di tanah Belanda. Maka ketika Vitesse kehilangan Ricky van Wolfswinkel, dan mereka akan berlaga di Eropa, Matavz dibawa “pulang” dari perantauannya di Jerman. Ia adalah sebuah garansi.
Saya duduk di baris paling depan Edward Sturing Tribune, tribun utara. Di kanan-kiri saya, meneer-meneer itu mulai berteriak: membentak wasit saat tak memberi pelanggaran, mengajari Fankaty Dabo cara bermain bola, atau sekadar mengumpat ‘godverdomme’ tanpa alasan yang jelas. Sepak bola bukan sains, kita tak butuh kejelasan. Di sini, di stadion, di Gelredome pada sebuah sore yang hangat, kita membiarkan emosi tumpah. Kita membiarkan rasa frustrasi itu larut ke dalam lapangan. Dengan bantuan Heineken, semua lebih mudah. Alkohol membuat kita menyentak lebih keras ke arah para pemain yang malang itu. 
Di Gelredome, saya mengingat stadion-stadion lain. Saat saya duduk di tengah-tengah kerumunan suporter tuan rumah, dan mau tak mau saya harus seolah-olah mendukung tim mereka. Maka saya larut. Saya menendang bangku di depan saat kiper lawan menepis bola, berteriak saat wasit memberi kartu kuning yang tak pantas, atau meninju tangan sendiri saat peluang di depan mata malah melenceng. Menjadi netral di dalam stadion adalah sebuah kemustahilan. Emosi itu, rasa frustrasi itu, menular seperti bakteria dan saya menyerapnya dengan utuh. Di Gelredome, saya seperti menghirup kokain berwarna kuning-hitam.
Dan frustrasi itu bertahan hingga jeda. Orang-orang beranjak ke atas, memesan bir dan frites, atau sekadar bercengkrama, entah tentang sepak bola atau bukan. Kita semua tahu, ketika wasit meniup peluit tanda istirahat, bukan cuma pemain yang butuh rehat. Para suporter di tribun juga perlu berhenti sejenak. Kita butuh makan dan minum, kita butuh memberi jeda pada emosi yang meluap-luap. Saat di ruang ganti pelatih memberi instruksi, kita juga membahas taktik dan statistik, kita berdebat tentang siapa yang harus ditarik keluar.
Matt Miazga masuk di babak kedua, menggantikan Arnold Kruiswijk. Ia menjadi tandem bagi kapten Guram Kashia. Anak muda dari New Jersey ini datang dari Chelsea sebagai pinjaman sejak 2016. Antonio Conte belum membutuhkannya. Saat kita bicara soal Chelsea dan Vitesse, kita bicara soal sisi lain sepak bola modern: feeder club. Sejak diambil alih Merab Jordania pada 2010, dua klub tampak begitu akrab. Jordania ialah rekan bisnis Roman Abramovich, jadi kita tahu logikanya. Pada 2013 Vitesse berganti pemilik, yang lagi-lagi kolega Abramovich. Kisah cinta itu berlanjut hingga sekarang.
Musim paling diingat tentu saja 2013-14. Nama-nama seperti Lucas Piazon, Christian Atsu, dan Patrick van Aanholt memenuhi skuat Vitesse. Tujuh pemain pinjaman Chelsea ada di tim yang diasuh Peter Bosz, yang musim lalu membawa Ajax ke final Liga Europa dan sekarang ada di bench Borussia Dortmund. Di musim itu, dengan bantuan orang kaya Rusia, Vitesse menjelma jadi anak kecil nakal yang mengganggu tidur nyenyak tim besar. Berkali-kali mereka duduk di peringkat satu atau dua, meski di penghujung musim melorot ke posisi enam. Tapi, setidaknya orang-orang jadi tahu Vitesse bisa jadi ancaman. Mungkin suatu waktu nanti.
Selain Piazon dkk, Nemanja Matic juga sempat merapat ke Arnhem pada 2010-11. 27 laga dia mainkan untuk Vitesse, tapi tak ada yang spesial dari Matic di musim itu. Dengan Matic di tengah lapangan, Vitesse cuma finis di peringkat 15. Tak ada Piazon di lapangan sore itu, tak ada Matic. Tapi ruh Chelsea tetap ada disana lewat Charlie Colkett. Ia menjadi sentral di lini vital. Thomas Bruns dan Navarone Foor berada di kanan-kirinya. Nama terakhir, jika anda tertarik, memiliki darah Maluku dan sempat disinggung di forum suporter Indonesia saat kita bicara soal naturalisasi. Toh, Foor tak peduli soal Indonesia hari itu. Cuma Vitesse di kepalanya.
Gol itu tiba juga. Matavz! From Slovenia with love. Tiga laga tiga gol, ini bukan sembarangan. Ia adalah garansi. Sejak gol itu, Arnhem jadi lebih percaya diri. Kita bisa melihatnya dari cara kaki-kaki Kashia dan Rashica memegang bola. Di tribun, animo suporter kembali melonjak. Frustrasi itu tandas berganti harapan. Pada momen-momen seperti ini, di tribun stadion tim-tim semenjana, sebuah gol sudah cukup. Gol Matavz adalah alegori untuk harapan. Kita tahu, suporter sepak bola adalah jenis manusia ambivalen yang terjebak di antara frustrasi dan harapan, di antara rasa senang dan sedih yang ekstrim, di antara statistik dan irasionalitas. Sepak bola membentuk kita jadi paradoks yang susah dimengerti.
Gelredome pelan-pelan mulai menggelap. Tapi Vitesse sedang membara. Mereka harus menyelesaikan libido yang meluap-luap ini. Dan suporter ingin pulang dengan senyum, sama ketika mereka memasuki stadion. Pada titik ini, sepak bola menjadi titik temu paling brutal antara harapan dan kenyataan. Adalah Weghorst, lagi-lagi dia. Lagi-lagi Marko Vejinovic. Nama terakhir mengirim assist kedua untuk Weghorst di sore yang menua itu. Umpan silang anak Serb itu membelah bek-bek tuan rumah dan menuju kepala si nomor sembilan. Tak ada pesta di Gelredome hari ini. Suporter akan pulang dengan makian. Itu pasti.
Biasanya, di 10 menit akhir, saat tim tuan rumah sedang tertinggal, kita bisa melihat dua jenis suporter. Golongan pertama akan semakin kencang beteriak, memaki, dan mengumpat. Golongan kedua akan lemas terduduk, seperti seorang tua menanti kematian yang lekas. Tapi ada dua jenis lain. Mereka yang bertahan sampai peluit akhir dan mereka yang pergi sebelum waktunya. Entah menit ke berapa, seorang meneer yang paling kencang berteriak sejak menit pertama beranjak dari kursinya. Ia pulang. Selesai, katanya. Wajahnya merah, entah karena matahari atau bir. Tapi yang jelas ia meleleh oleh emosi. Kita bisa melihat dari rahangnya yang tegang dan raut mukanya yang keras. Frustrasi telah menelannya mentah-mentah.
Vitesse seolah tak berniat menyamakan kedudukan. Ada kepasrahan di antara para pemain. Saat Miazga dan Dabo terduduk di lapangan karena keram, kita tahu 11 pemain itu sudah habis. Di menit terakhir waktu tambahan, kiper Remko Pasveer maju ke kotak penalti Alkmaar. Sepak pojok untuk Vitesse. Peluang terakhir. Semua pemain merangsek mengerebungi gawang tim tamu. Entah siapa yang mengambil tendangan penjuru itu, tapi bola melambung ke arah kotak. Waktu seakan berhenti, menjelma jadi teater yang dramatik. Lalu Kashia melompat, menanduk bola sekuat-kuatnya. Bola jatuh tepat di pelukan kiper AZ. Di detik itu, saya menunduk, membenamkan kepala saya di antara dua paha. Hari itu saya suporter Vitesse. Dan wasit meniup peluit panjangnya.

No comments:

Post a Comment