Tuesday, April 11, 2017

Membayangkan Leicester City Juara Liga Champions

Oleh Mahfud Ikhwan

Bola yang membentur pundak Robert Huth itu bergulir pelan saja di antara kaki dua bek Juventus yang terkejut. Dan Gigi Buffon yang ingin pensiun dengan gelar Liga Champion hanya bisa memukuli permukaan lapangan, menyesali diri sendiri, karena ada di posisi yang salah. Ia meraung, tapi segera meraih bola dari sudut jaring gawangnya, menepuk keras punggung beberapa beknya yang masih tercengang, dan meminta Paulo Dybala untuk segera membawa bola ke lingkaran tengah. Pertandingan sudah ada di menit 117 perpanjangan waktu babak kedua, setelah 90 menit pertandingan normal gagal menghasilkan gol.

Diawali dari lemparan ke dalam jauh dari Christian Fuch, yang kemudian disambut sundulan ke belakang oleh Jamie Vardy, Huth, seperti biasanya, ada di tempat yang tepat. Di antara kerumunan, dan dengan sedikit kekagetan, ia menyambut bola liar dari Vardy dengan kepalanya yang memanjang. Bukannya kepala, bola itu justru melintir ke pundak. Itu jelas bukan cara terbaik sebuah sundulan dilakukan, lebih-lebih di pertandingan final Liga Champions. Tapi siapa peduli? Itu gol. Itu GOL!

Beberapa ribu pendukung Juventus melongo, membekap kepala—mereka mengutuki diri, kenapa hal ini terjadi lagi, dan lagi, kepada mereka. Namun, seisi Stadion Millenium Cardiff sisanya meledak oleh rasa terkejut yang indah. Dan tiga menit setelahnya adalah sejarah.

***

Tentu saja, tiga paragraf pembuka di atas cuma karangan saya. Sebab, hanya orang ngarang yang akan menebak Leicester City mencapai final Liga Champions, apalagi sampai memenanginya. Tak perlu bertanya kepada mesin pencari untuk tahu ada di posisi mana dan perbandingan berapa Leicester diunggulkan di rumah-rumah judi di Eropa. Di antara raksasa macam Real Madrid, Barcelona, Bayern Munchen, dan Juventus, atau bahkan klub dengan klub macam Atletico dan Monaco, Leicester jelas bukan apa-apa, bukan siapa-siapa.

Tapi, kalau kita belum lupa, siapakah Leicester City sebelum mereka menjadi juara Liga Inggris sepuluh bulan lalu? Mereka adalah tim yoyo, yang dikenal karena hanya sesekali nongol di liga level atas. Enam musim sebelum bermain di Liga Champions untuk pertama kalinya, mereka masih terjerembab di liga kasta tiga. Naik ke Liga Ingris pada musim 2014-15, mereka lolos dari degradasi dan bisa bertahan di Liga Premier karena tujuh kemenangan ajaib di akhir kompetisi.

Itulah kenapa, pada awal musim berikutnya rumah judi Ladbrokes dan William Hill memasang mereka dalam angka taruhan 5000/1. Leigh Herbert, seorang tukang kayu dari Leicester, dan 12 orang lainnya, dianggap fans putus asa ketika mereka tetap bersikeras menaruhi tim pujaannya. Sementara itu Gary Lineker (striker legendaris Inggris, seorang penyiar sepakbola ternama, dan fans Leicester) mungkin hanya berniat bercanda ketika mengatakan akan siaran dengan cuma pakai cawat jika si Rubah juara liga.

Pada awal Mei 2016, Herbert pun jadi orang kaya baru. Lineker akhirnya benar-benar muncul di televisi cuma dengan cawatnya. Dan kita kemudian menyaksikan, di Liga Champions, Leicester menjuarai babak penyisihan grup, sebelum menyingkirkan tim dengan tradisi hebat di turnamen, Sevilla, di 16 besar.

Kejutan tak sering terjadi di sepakbola, sebagaimana juga dalam kehidupan. Karena itu, kita semua menyukai kejutan.

***

Meski begitu, kejutan adalah nama tengah sepakbola.

Orang selama ini menyangka, keindahan sepakbola semata ada pada cara ia dimainkan. Itu kenapa belakangan orang berbondong-bondong memuja Barcelona. Barcelona memang memberikan kegembiraan dengan tiki-takanya, dengan Messi-nya. Dan memberi kegembiraan adalah sifat hakiki sepakbola. Tapi bukan hanya itu.

Eduardo Galeano menyebut, keindahan sepakbola juga terletak pada kemampuannya untuk mengelak dikira, menolak disangka. Sepakbola menyajikan apa yang tidak kita bayangkan.

Yang tak terbayangkan itu tak sering terjadi. Karena itu ia istimewa. Ia dikenang dalam rentang waktu panjang, bahkan mungkin abadi. Makanya, Pele, Cruyff, Maradona, dan Messi ada di tempat yang berbeda dalam statistik dan sejarah sepakbola. Brazil sudah memenangi lima Piala Dunia, tapi mereka tak akan bisa melupakan Maracanazo. Sebelum timnas Jerman terbiasa dengan piala, mereka mengawalinya dengan mengejutkan dunia: menghajar Hungaria di final Piala Dunia 1958. Benarkah final Piala Dunia 1974 dikenang karena keindahan Total Football Belanda? Boleh jadi, tapi mungkin juga karena orang-orang tak menyangka Der Panzer yang inferior bisa bangkit dengan dua golnya. Dan gelar Denmark pada Piala Eropa 1992 masih tetap mengundang senyum dan geleng kepala, sebagaimana gelar Yunani pada 2004.

Contoh teranyar ditunjukkan Barcelona, saat menang 6-1 atas PSG untuk lolos ke 8 besar. Cules yang terlalu fanatik mungkin akan tetap yakin bahwa keberhasilan itu karena tiki-taka yang selama ini menjadi ciri Barcelona. Tidak. Di pertandingan itu tiki-taka tak berjalan, bahkan tak dipakai. Pertahanan kedodoran. Umpan-umpan kunci terbaik diciptakan Verrati, bukannya Messi. (Sebelum tendangan bebas Neymar yang kemudian dibuat jadi gol ke-6 oleh Sergi Roberto, nyaris tak ada umpan hebat yang masuk kotak penalti PSG.) Gol terbaik di pertandingan itu pun tak dicetak pemain Barcelona, tapi oleh Cavani.

Tapi itu tetap saja pertandingan sepakbola yang indah. Hal terindah yang membuat saya berdiri dan bertepuk tangan di akhir pertandingan adalah karena kita semua, termasuk di dalamya para pendukung Barca, tak menyangka ujung pertandingan akan sebegitu rupa. Dan, tentu saja, itu tak kalah indahnya dengan permainan indah manapun yang pernah disajikan Barca.

***

Sejak Red Star Belgrade jadi juara pada 1991, gelar antarklub Eropa hanya mondar-mandir di antara klub-klub besar, dari kompetisi-kompetisi yang bergelimang uang. Mungkin yang bisa sedikit kita golongkan sebagai “mendingan” adalah ketika Monaco dan Porto ada di partai final Liga Champions 2004. Selebihnya, masa-masa ketika klub semenjana macam Steau Bucuresti, Aston Villa, Nottingham Forest, hingga Hamburg bisa menjadi juara tampaknya sudah lama berlalu.

Industrialisasi membuat sepakbola makin minim kejutan. Tak seperti penonton, para pemilik modal menginginkan kepastian. Sepakbola jadi kian rutin. Atau, kalau bisa, memang harus dirutinkan. Klub-klub kaya mendominasi, dan semakin mendominasi.

Saya adalah pendukung salah satu tim besar itu. Dan saya ingin tim pujaan saya jadi juara Liga Champions setiap tahunnya. Tapi, terkadang, saya ingin tahu bagaimana rasanya dikejutkan. Dortmund, atau Atletico, atau Monaco mungkin akan lebih mudah dibayangkan menjadi ganjalan bagi raksasa macam Munchen, Madrid, Barcelona, atau Juve. Tapi kenapa tidak sekalian Leicester?

Pendukung tim-tim besar, mungkin termasuk saya, boleh jadi akan kecewa. Orang-orang yang memuja sepakbola indah akan menyesalinya. Bagaimana bisa tim dengan materi buruk, bermain sangat sederhana, dan sedang berjuang dari degradasi di liga domestiknya, bisa juara? Mungkin begitu pertanyaannya. Tapi, jika klub macam Leicester bisa juara, ia akan memberi pelajaran lain tentang sepakbola—sebagaimana sebelumnya Eropa pernah mendapatkannya dari Denmark dan Yunani. Ia akan menunjukkan keindahan sepakbola dari sisi yang berbeda.


Bahwa: sepakbola adalah permainan yang mengelak dikira, menolak disangka. Ia menyajikan apa yang tidak kita bayangkan.  


*Dimuat di Jawa Pos, Selasa 11 April 2017

3 comments:

  1. Prediksi Bola Liga Inggris 2017
    Prediksi Bola Liga Spanyol 2017
    Prediksi Bola Liga Italia 2017
    Prediksi Bola Liga Germany 2017
    Prediksi Bola League 1 Perancis 2017
    Daftar Casino Online
    Agen Judi SBOBET
    Agen Judi Bola
    Agen 1s Casino
    Agen IBCBET Online
    Agen BOLATANGKAS88
    Pertandingan Liga Eropa
    Prediksi Pertandingan 21 April 2017 Pukul 02:05 WIB

    Schalke 04 1 vs 0 Ajax (Odds = 00 – ½)
    Racing Genk 1 vs 1 Celta Vigo (Odds = 0 – 0)
    Manchester Unite 2 vs 0 Anderlecht (Odds = 0 – 1 ¾)
    Besiktas 1 vs 0 Olympique Lyonnais (Odds = 0 – 0)

    Hanya Depo 70k dapat 100k tersedia jga banyak bonus untuk anda Dengan Menggunakan kode Referal "98J03" hanya di http://988betlink.com

    ReplyDelete