Saturday, June 7, 2014

Piala Dunia a la Galeano XVII: Piala Dunia 2002*

Oleh Eduardo Galeano; Alihbahasa Mahfud Ikhwan


Satu masa rusak-rusakan. Serangan teroris merata-tanahkan Menara Kembar New York. Presiden Bush menghujani Afganistan dengan rudal dan memberantas Taliban, kelompok yang disusui oleh bapaknya dan Reagan. Perang melawan terorisme memberikan restu pada teror militer. Tank-tank Israel meluluh-lantakkan Gaza dan Tepi Barat, sehingga rakyat Palestina bisa terus menebus dosa Holocaust yang tidak mereka lakukan.

Spiderman nangkring di puncak box-office. Sumber informasi terpercaya di Miami mengumumkan tentang pasti jatuhnya Fidel Castro, hanya soal waktu saja. Yang tersungkur justru Argentina, negara model itu, dan mata uangnya, pemerintahannya, juga semua hal yang berkait dengannya. Di Venezuela, sebuah kudeta menggulingkan Presiden Chavez. Khalayak menaikkan kembali yang termakzulkan, namun televisi Venezuela, sang kampiun kebebasan informasi, gagal menyiarkan fakta tak menyenangkan ini.

Remuk karena aksi tipu-tipunya sendiri adalah perusahaan raksasa Enron, penyumbang paling pemurah bagi kampanye Bush dan sebagian besar senator Amerika Serikat. Dan seperti domino, saham para gergasi yang disembah-sembah ini segera bertumbangan setelahnya: WorldCom, Xerox, Vivendi, Merck—semua karena kesalahan kecil akuntasi beberapa miliar dolar. Rekanan-rekanan FIFA yang terbesar, ISL dan Kirch, juga musti mengetatkan ikat pinggang. Namun berbagai kebangkrutan memalukan itu gagal mencegah Joseph Blatter dinobatkan, dengan sebuah tanah longsor, di atas tahta sepakbola dunia. Carilah orang yang lebih buruk, maka kamu akan tampak baik: Blatter yang tak tergoyahkan itu membuat Havelange terlihat seperti ibu-ibu pengajian.

Bertie Felstead tersungkur juga, mangkat. Felstead, orang tertua di Inggris, adalah satu-satunya orang yang masih hidup dari pertandingan sepakbola luar biasa antara tentara Inggris dan tentara Jerman di Hari Natal, di tanah tak bertuan. Di bawah pengaruh jampi-jampi sebutir bola yang datang entah dari mana, medan perang untuk sementara berubah jadi lapangan pertandingan, sampai teriakan para komandan mengingatkan para tentara itu bahwa mereka diwajibkan saling membenci.

@@@

Tigapuluh dua tim bertandang ke Jepang dan Korea untuk melangsungkan Piala Dunia ketujuhbelas di stadion baru yang gemerlap di duapuluh kota. Piala Dunia pertama di milenium baru adalah Piala Dunia pertama yang dimainkan di Asia. Anak-anak Pakistan menjahit bola canggih untuk Adidas yang mulai bergulir di malam pembukaan di stadion di Seoul: sebuah aula dari karet, dibebat dengan kain rajut yang berlapis busa, di dalamnya kulit polimer putih dihiasi simbol api. Sebuah bola menarik keberuntungan dari rumput.

Di sana ada dua piala dunia sepakbola. Yang satu diikuti oleh para atlet dengan darah dan daging. Yang lain, yang diselenggarakan bersamaan, menampilkan para robot. Para pemain mesin, yang diprogram oleh para insinyur perangkat lunak, mengikuti RoboCup 2002 di Fukuoka, pelabuhan Jepang di seberang lepas pantai Korea. Apa yang para saudagar, teknokrat, birokrat, dan para ideologi industri sepakbola impikan? Satu impian mereka yang terus berulang, sampai lebih seperti kenyataan, adalah membuat para pemain menirukan robot.

Tanda duka dari sebuah titimangsa: abad keduapuluh satu mengkuduskan keseragaman atas nama ketepatgunaan dan mengorbankan kebebasan di depan altar kesuksesan. “Kamu menang bukan karena kamu bagus, tapi kamu bagus karena kamu menang,” tulis Cornelius Castoriadis beberapa tahun lalu. Dia tidak merujuk pada sepakbola, namun bisa jadi begitu. Membuang waktu adalah terlarang, demikian juga dengan kekalahan. Dikebiri jadi sejenis pekerjaan, ditundukkan oleh hukum rugi-laba, sepakbola tidak akan dimainkan lebih lama lagi. Seperti semua hal, sepakbola profesional terlihat dijalankan oleh Yang Maha Kuasa—bahkan jika itu tak benar-benar ada—SMK (Serikat Musuh Keindahan).

Kepatuhan, kecepatan, kekuatan, dan tak satu pun segala keindahan itu bisa kembali: inilah jamur yang tumbuh pada globalisasi yang mengguyur permainan tersebut. Sepakbola jadi produksi massal, dan ia jadi lebih dingin dari peti es dan tak punya perasaan seperti gilingan daging. Itulah sepakbola untuk para robot. Barang membosankan itu konon berarti kemajuan, namun sejarawan Arnold Toynbee telah cukup melihat hal tersebut saat ia menulis, “Peradaban yang runtuh selalu saja ditandai oleh tendensi menuju standarisasi dan penyeragaman.”

@@@

Kembali ke Piala Dunia darah dan daging. Pada pertandingan pembukaan, lebih dari seperempat manusia menyaksikan kejutan pertama di televisi. Prancis, juara pada penyelenggaraan sebelumnya, dihajar Senegal, salah satu negara bekas jajahannya dan tampil untuk pertama kalinya di Piala Dunia. Bertentangan dengan semua ramalan, Prancis tersingkir di putaran pertama tanpa menceploskan satu gol pun. Argentina, favorit besar lainnya, juga terjungkal di bursa awal. Dan kemudian Italia dan Spanyol yang dikirim pulang setelah babak belur di tangan wasit. Semua tim perkasa itu tewas di hadapan dua saudara kembar: pentingnya kemenangan dan ngerinya kekalahan. Bintang-bintang terbesar sepakbola dunia datang ke Piala Dunia dengan kewalahan menanggung beban berat ketenaran dan tanggungjawab, dan kepayahan akibat kerja habis-habisan yang dituntut oleh klub-klub tempat mereka bermain.

Dengan tanpa memiliki sejarah Piala Dunia, tanpa bintang, tanpa jaminan untuk menang atau rasa was-was kalah, Senegal bermain dengan keikhlasan dan jadi ilham bagi segenap kejuaraan. Cina, Ekuador, dan Slovenia juga bermain dengan semangat menyala, namun tersingkir di putaran pertama. Senegal sampai ke perempat final tanpa terkalahkan, namun mereka tak bisa melaju. Meski demikian, gerak-tari mereka yang abadi membawa pulang kebenaran sederhana yang cenderung bertolak belakang dengan para ilmuwan sepakbola: sepakbola adalah permainan, dan siapa yang benar-benar memainkannya akan merasa bahagia dan membuat kita juga bahagia. Gol yang paling saya suka di sepanjang turnamen adalah gol yang diciptakan Senegal, melalui umpan tumit Thiaw, lalu dituntaskan tembakan jitu Camara.  Pemain Senegal lainnya, Diouf, selalu menggiring bola rata-rata delapan kali tiap pertandingan, di sebuah kejuaraan yang mana memanjakan mata tampaknya dilarang.

Kejutan lain adalah Turki. Tak seorang pun mempercainya. Mereka absen dari Piala Dunia selama setengah abad. Di pertandingan pertamanya, melawan Brazil, kubu Turki secara semena-mena dicurangi wasit. Semangat dan kualitas permainan mereka membuat para pengamat yang meremehkan mereka bungkam.

Selebihnya hampir-hampir adalah sebentuk rasa jemu yang berkepanjangan. Untungnya, di pertandingan final Brazil mengingat bahwa mereka adalah Brazil. Tim yang akhirnya berangkat dan bermain layaknya Brazil, keluar dari kerangkeng kesemenjanaan yang oleh pelatih mereka, Scolari, dipakai untuk mengurung mereka. Lalu, empat serangkai R mereka, yakni Rivaldo, Ronaldo, Ronaldinho Gaucho, dan Roberto Carlos, moncer. Dan Brazil, pada akhirnya, kembali berpesta.

@@@

Dan mereka adalah kampiun. Persis sebelum final, seratus tujuhpuluh juta rakyat Brazil tertusuk lencana para serdadu Jerman, dan Jerman menyerah 2-0. Itu adalah kemenangan ketujuh dalam tujuh pertandingan. Kedua negara telah menjadi finalis berkali-kali, namun tak sekali pun mereka sebelumnya saling berhadapan di Piala Dunia. Turki merebut tempat ketiga, sementara Korea Selatan keempat. Jika diterjemahkan dalam bahasa marketing, Nike merebut tempat pertama dan keempat, sementara Adidas berada di tempat kedua dan ketiga.

Ronaldo dari Brazil, yang pulih dari cedera panjang, memimpin daftar pencetak gol terbanyak, diikuti oleh kompatriotnya Rivaldo dengan lima gol, kemudian Tomason dari Denmark dan Vieri dari Italia dengan empat gol. Sukur dari Turki mencetak gol tercepat di sejarah Piala Dunia, sebelas menit setelah pertandingan dimulai.


Untuk pertama kalinya, seorang penjaga gawang, Oliver Khan dari Jerman, terpilih sebagai pemain terbaik di turnamen. Karena kengerian yang diruapkannya, para pemain lawan berpikir bahwa ia adalah anak dari Khan yang lain, Jengis. Tapi tentu saja bukan.


*diterjemahkan dari Soccer in Sun and Shadow; trans. Mark Fried; Verso, 2003. 

No comments:

Post a Comment