Sunday, June 8, 2014

Piala Dunia Zidane*

Oleh Eduardo Galeano; Alihbahasa Mahfud Ikhwan


Catatan

Tulisan Eduardo Galeano tentang Piala Dunia dalam Soccer in Sun dan Shadow pada edisi 2003 hanya sampai Piala Dunia 2002. Oleh karena itu, untuk Piala Dunia 2006 dan 2010, saya terjemahkan tulisan Galeano yang ada di situs The Progressive, edisi 13 Juli 2006 dan New Internationalist, edisi 11 Agustus 2010. Saya tidak tahu apakah kedua tulisan itu ditulis langsung dalam bahasa Inggris, atau hasil terjemahan dari bahasa Spanyol, sebab tak ada keterangan tambahan -- mahfud ikhwan --




Di panggung yang mulia, sebuah serangan menggila.

Di sebuah kuil yang dipersembahkan bagi pemujaan atas sepakbola dan penghormatan atas aturan, di mana Coca-Cola menghidangkan kebahagiaan, MasterCard menjamin kemakmuran, dan Hyundai menawarkan kecepatan, menit-menit terakhir dari pertandingan terakhir di Piala Dunia dimainkan.

Itu juga pertandingan terakhir dari yang terbaik, yang paling dipuja, pemain paling dicintai, yang saat ini berencana mengucapkan selamat tinggal kepada sepakbola. Mata seluruh dunia tertuju kepadanya. Dan tiba-tiba, sang raja pesta malihrupa menjadi banteng terluka dan menghantam seorang lawan, menjatuhkannya dengan tandukan tepat ke dada, dan kemudian melangkah pergi.

Ia dikeluarkan oleh wasit dan dilempar ke cemoohan penonton yang seharusnya memberinya tepuk tangan, pergi tidak lewat gerbang utama tapi lorong menuju kamar ganti.

Saat pergi, ia melewati piala emas yang akan dianugerahkan kepada tim juara. Ia bahkan tak meliriknya.

Saat Piala Dunia kali ini dimulai, para pengamat bilang bahwa Zinedine Zidane sudah menua. Mariano Pernia, si Argentina yang bermain untuk tim Spanyol, bilang: “Angin itu telah renta, dan ia tetap bertiup.”

Dan Prancis mengalahkan Spanyol, dan di pertandingan ini dan di pertandingan-pertandingan berikutnya, Zidane adalah yang paling muda dari semua.

Bagaimana pun, di pengujung Piala Dunia, setelah yang terjadi telah terjadi, sangat mudah memaki si penjahat dalam sebuah film silat. Namun hal itu, dan terus akan begitu, sulit untuk dimengerti. Apa itu benar? Jangan-jangan itu cuma mimpi buruk saja? Bisa-bisanya dia meninggalkan para pemujanya saat mereka begitu membutuhkannya?

Horacio Elizondo, sang wasit, sudah benar mengacunginya kartu merah. Tapi kenapa Zidane melakukan apa yang telah dilakukannya?

Tampaknya pemain bertahan Italia Marco Materazzi melontarkan beberapa makian rasis yang biasanya dipekikkan oleh orang-orang gila dari tribun.

Zidane, seorang muslim, anak dari imigran Aljazair, tahu bagaimana mempertahankan dirinya sejak kanak-kanak, saat ia mendapat serangan serupa di wilayah kumuh Marseille. Ia kenal mereka dengan baik namun mereka mengganggunya seperti yang sudah-sudah. Dan musuh-musuhnya tahu bahwa provokasi itu manjur. Lebih dari sekali ia hilang kendali karena perilaku buruk yang serupa, dan Materazzi tidak dikenal—kalau boleh dikata—karena tindakannya yang budiman.

Piala Dunia kali ini ditandai dengan slogan-slogan melawan wabah rasisme, yang dianjurkan oleh tim-tim yang berlaga pada saat dimulainya pertandingan. Dan Zidane adalah salah satu dari pemain yang membuat hal itu jadi mungkin.

Rasisme adalah isu panas. Pada malam sebelum Piala Dunia dimulai, politisi ekstrem kanan Prancis Jean-Marie Le Pen berkoar bahwa timnas Prancis tidak lagi dikenali oleh para pemainnya sendiri, sebab mereka semua hampir seluruhnya hitam dan sebab kapten mereka, orang Arab itu, tidak menyanyikan lagu kebangsaan. Wakil presiden dari Senat Italia, Roberto Calderoli, menggemakan pernyataan Le Pen, dan menyatakan bahwa timnas Prancis terdiri atas orang-orang Negro, Islam fanatik, dan Komunis, yang lebih menyukai mars Internationale dibanding Marseillaise dan lebih senang Mekah daripada Belen. Sebelumnya, pelatih timnas Spanyol, Luis Aragones, menyebut pemain Prancis Thierry Henry sebagai “kotoran hitam,” dan Presiden Asosiasi Sepakbola Amerika Selatan yang tak ganti-ganti, Nicolas Leoz, bilang dalam buku otobiografinya bahwa ia lahir di sebuah kota kecil yang dihuni oleh tigapuluh orang dan 100 Indian.

Tapi bisakah seseorang mereduksinya menjadi satu hinaan, atau satu rangkaian hinaan, tragedi tentang pemain yang memilih untuk kalah ini, bintang yang mencampakkan kejayaan saat kejayaan itu bergelut melawan dirinya?

Mungkin, siapa tahu, boleh jadi amuk kemarahan itu, tanpa Zidane kehendaki atau bahkan ia sadari, merupakan sebuah lolongan ketakberdayaan.

Boleh jadi itu adalah lolongan ketakberdayaan melawan hinaan demi hinaan, tonjokan, cipratan ludah, sepakan diam-diam, simulasi yang lihai atas pelanggaran dan kesakitan, ketakberdayaan melawan drama para bintang panggung sandiwara orang-orang yang menonjokmu dan kemudian pura-pura sekaan-akan mereka tidak pernah berada di sana.

Atau boleh jadi itu adalah lolongan ketakberdayaan melawan kesuksesan yang menghancurkan dari sepakbola kotor, melawan ketidakjujuran, kepengecutan, dan ketamakan dari sepakbola yang mengglobal, musuh dari kebinekaan, yang dipaksakan untuk kita. Pada akhirnya, sebagaimana Piala Dunia telah dilangsungkan, menjadi jelas dan lebih jelas lagi bahwa Zidane bukanlah bagian dari sepakbola dengan pendekatan macam itu. Dan sihirnya, kejadukannya, keanggunannya yang mengharu-biru, pantas untuk dikalahkan, sebab dunia hari ini, dengan produksi massal sebagai model kesuksesan, hanya layak untuk Piala Dunia yang semenjana.  

Namun bisa juga dibilang bahwa Italia layak untuk memenangkan Piala Dunia, sebab seluruh tim di Piala Dunia, beberapa lebih menonjol dari lainnya, memainkan gaya Italia, dengan gaya permainan yang sama, empat pemain bertahan dalam formasi gerendel, yang mencetak gol lewat serangan balik.

Italia melakukan apa yang harus dilakukan. Alhasil, cara bertahan ala catenaccio menciptakan kebosanan namun juga empat tropi dunia. Di Piala Dunia kali ini, cuma dua gol yang berhasil diceploskan ke gawang Italia. Satu dari titik penalti, yang lain hasil bunuh diri. Dan para pemain terbaik mereka berada di garis belakang, bukan di depan. Buffon, sang kiper, dan Cannavaro, bek tengah.

Delapan pemain Juventus tampil di final di Berlin: lima bermain untuk Italia, tiga untuk Prancis. Itu adalah kebetulan yang aneh mengingat Juventus adalah tim yang paling terlibat dalam skandal mengaturan hasil pertandingan yang merebak persis sebelum Piala Dunia. Dari Tangan Bersih ke Kaki Bersih: pengadilan Italia memutuskan untuk mendepak ke tingkatan lebih bawah di Serie B dan Serie C tim-tim paling kuat di negeri itu, termasuk di dalamnya Lazio, Fiorentina, dan Milan—yang dimiliki si budiman Silvio Berlusconi, yang berlaku curang dengan berbekal kekebelan hukum baik di sepakbola maupun di politik.

Kehakiman membuktikan serangkaian kongkalikong yang meliputi menyuapan wasit dan wartawan, pemalsuan kontrak dan akrobat neraca bank, hingga memanipulasi program-program televisi.

Seorang menteri pemerintah mengapungkan ide tentang pengampunan jika Italia memenangi kejuaraan. Dan Italia juara. Akankah ada tangan-tangan di balik meja, lagi, seperti biasa? Zidane dilempar keluar membuatnya lebih gampang.

Seseorang, entah siapa, merangkum Piala Dunia 2006 sebagai berikut: Para pemain bertingkah laku dalam gaya penuh keteladanan. Mereka tidak minum, tidak merokok, dan tidak bermain.

Begitulah, barangsiapa yang dari waktu ke waktu menciptakan gol tidak bermain sepakbola indah, sementara yang bermain sepakbola indah tidak mencetak gol. Tim-tim Afrika tersingkir dini, dan tak lama kemudian tim-tim Amerika Latin terdepak juga.

Piala Dunia malihrupa jadi Piala Eropa.

Hasil akhir jadi milik apa yang sekarang disebut pendirian praktis: tembok tinggi pertahanan dan menyisakan ujung tombak sendirian di depan, lalu memohon Tuhan untuk memberikan pertolongan. Seperti yang biasa terjadi dalam sepakbola dan hidup, dia yang bermain baik kalah, sementara yang bermain untuk tidak kalah justru menang.

Pengujung adu penalti cuma menambah ketidakadilan. Hingga 1968, pertandingan yang alot akan ditentukan dengan undian koin. Dalam satu hal, ini tetap terjadi. Mencolok sekali, adu penalti terlihat cuma soal untung-untungan saja.

Argentina lebih baik dari Jerman, dan Prancis lebih baik dibanding Italia, namun beberapa detik jauh lebih berarti dibanding dua jam pertandingan. Dan Argentina harus pulang, sementara Prancis hilang gelar.

Cuma ada sedikit imajinasi dalam pertunjukan itu. Para seniman meninggalkan permainan kepada pemain angkat besi dan pelari Olimpiade, yang lewat sekadar untuk menendang bola atau menendang lawan.

Piala Dunia begitu membosankannya sehingga sang pemilik perhelatan tak memiliki pilihan kecuali memikirkan cara-cara untuk menyuntikkan antusiasme pada pertunjukan yang suram itu.

Salah satu ide yang diusulkan FIFA adalah memberi hukuman bagi hasil 0-0. Ide lain adalah meluaskan ukuran gawang untuk meningkatkan jumlah gol. Dan, ujung-ujungnya, seperti lelucon di sekolah: “Jika kamu tidak suka sup, bawalah dua mangkuk,” adalah ide menghelat Piala Dunia dua tahun sekali.

Namun sepakbola profesional, yang menjadi cerminan dunia, dimainkan untuk menang, dan bukannya untuk dinikmati. Dan kalkulasi biaya menciptakan olok-olok tentang khayalan tak berguna lingkaran birokrat yang mengatur sepakbola dunia.

Untungnya, tidak semua sepakbola adalah profesional. Yang Anda butuhkan adalah keluar ke jalan atau pergi ke pantai untuk melihat bahwa bola masih menggelinding dengan gembira.

Dalam sepakbola profesional, dalam keramahan televisi, hanya ada sedikit kebahagiaan yang bisa disaksikan. Kita rasa-rasanya dikutuk noltalgia di masa lalu saat sepakbola memiliki lima penyerang, dan menuju pada pengakuan menyedihkan bahwa sekarang cuma tinggal satu. Dan berdasar rerata yang tengah terjadi, satu penyerang itu bahkan tak akan bersisa lagi: suatu masa, hanya akan ada satu pemain bertahan.

Zoolog Roberto Fontanarrosa telah membuktikannya: pemain depan dan panda adalah makhluk-makhluk yang terancam punah.
  

*diterjemahkan dari “The World Cup of Zidane”, yang dimuat pada situs The Progressive, July 13, 2006.

No comments:

Post a Comment