Saturday, June 7, 2014

Piala Dunia a la Galeano XVI: Piala Dunia 1998*

Oleh Eduardo Galeano; Alihbahasa Mahfud Ikhwan


India dan Pakistan mewujudkan mimpi mereka untuk memiliki bom sendiri, dan menari di depan beranda rumah kelompok nuklir ekslusif para adikuasa. Pasar saham Asia tiarap, sebagaimana juga kediktatoran panjang Suharto di Indonesia, yang kekuasaannya gembos bahkan saat kantongnya menggembung besar dengan uang enam miliyar dolar. Dunia kehilangan Frank Sinatra, yang dikenal sebagai 'sang Suara'. Sebelas negara Eropa sepakat untuk meluncurkan satu mata uang, yang dikenal sebagai Euro. Sumber informasi terpercaya di Miami mengumumkan tentang pasti jatuhnya Fidel Castro, hanya soal waktu saja.

Joao Havelange lengser keprabon dan menaikkan ke tahtanya "sang bangsawan” Joseph Blatter, selir kawakan di kerajaan sepakbola dunia. Jenderal Videla, bekas diktator Argentina yang duapuluh tahun lalu meresmikan Piala Dunia bersama Havelange, digiring menuju penjara, sementara kejuaraan baru di Prancis sedang dilangsungkan.

Mengesampingkan masalah ruwet yang menyebabkan pemogokan di Air France, tigapuluh-dua tim tiba di Stadion Saint Denis yang megah untuk ambil bagian dalam Piala Dunia terakhir abad ini: lima belas dari Eropa, delapan dari Benua Amerika, lima dari Afrika, dua dari Timur Tengah, dan dua dari Asia.

Ribut saat pesta, bersungut saat kembali terjaga: sebulan pertarungan di stadion yang penuh sesak menyisakan Prancis, sang tuan rumah, dan Brazil, sang favorit, beradu pedang di partai final. Brazil kalah 3-0. Suker dari Kroasia memimpin daftar pencetak gol dengan enam gol, diikuti oleh Batistuta dari Argentina dan Vieri dari Italia dengan lima gol.

Merujuk kepada studi keilmuan yang dilaporkan Daily Telegraph London, dalam satu pertandingan, penonton mengeluarkan jumlah testosteron yang nyaris sama dengan para pemain. Namun perusahaan multinasional juga bekerja memeras keringat seakan-akan mereka ikut bermain di lapangan pertandingan. Brazil gagal jadi juara untuk kelima kalinya, tapi Adidas berhasil. Dimulai dari Piala Dunia ’54, saat Adidas memenangkannya bersama Jerman, ini adalah kemenangan kelima dari para pemain yang mewakili si strip tiga itu. Dengan Prancis, mereka mengangkat piala emas batangan itu sekali lagi. Dan bersama Zinedine Zidane, Adidas merengkus penghargaan pemain terbaik. Nike si pesaing memantapkan posisi kedua dan keempat, yang ditempati Brazil dan Belanda. Dan sang bintang Nike, Ronaldo, kena meriang saat final. Perusahaan bubuk bawang, Lotto, membuat gol mengejutkan bersama Kroasia, tim yang tak pernah masuk Piala Dunia sebelumnya dan mengobrak-abrik semua perkiraan dengan menempati posisi ketiga.

Setelah itu, rumput di Saint Denis dijual dalam bentuk irisan, persis seperti Piala Dunia sebelumnya di Los Angeles. Penulis buku ini tidak memiliki kue rumput untuk dijual, tapi dia akan senang untuk menawarkan, gratis ataupun bayar, remah-remah sepakbola yang juga memiliki hubungan dengan kejuaraan ini.


*diterjemahkan dari Soccer in Sun and Shadow; trans. Mark Fried; Verso, 2003.

No comments:

Post a Comment