Wednesday, June 4, 2014

Piala Dunia a la Galeano XV: Piala Dunia 1994*

Oleh Eduardo Galeano; Alihbahasa Mahfud Ikhwan

Orang-orang Maya dari Chiapas angkat senjata, rakyat jelata Meksiko menohok wajah aparatnya, dan Subcomandante Marcos mencengangkan dunia dengan kata-kata jenaka dan kalimat-kalimat cintanya.

Onetti, novelis the dark side of the soul, terbaring sekarat. Juara dunia balap mobil Ayrton Senna, orang Brazil itu, terpancung di sebuah lintasan Eropa yang tidak aman. Orang Serbia, Kroasia, dan orang Islam saling bunuh di kepingan-kepingan negara yang dulunya adalah Yugoslavia. Di Rwanda hal serupa terjadi, namun televisi mengocehkan soal suku, dan bukannya manusia, dan secara tersirat bicara bahwa itu cuma masalah orang hitam saja.

Anak-turun Torrijos memenangkan pemilu presiden di Panama, empat tahun setelah invasi berdarah dan sia-sia oleh Amerika Serikat. Tentara Amerika ditarik keluar dari Somalia, di mana mereka memerangi orang kelaparan dengan senapan. Afrika Selatan memilih Mandela. Kaum komunis, yang dibaptis kembali sebagai sosialis, berjaya di pemilihan parlemen di Lithuania, Ukraina, Polandia, dan Hungaria, negara-negara yang mendapati bahwa kapitalisme ternyata juga punya tabiat yang menjengkelkan. Namun Progress Publishers di Moskow, yang biasa menerbitkan buku-buku karya Marx dan Lenin, sekarang menerbitkan majalah Reader’s Digest. Sumber informasi terpercaya di Miami mengumumkan tentang pasti jatuhnya Fidel Castro, hanya soal waktu saja.

Skandal korupsi meluluhlantakkan politik kepartaian Italia dan kekosongan kekuasaan diisi oleh Berlusconi, Orang Kaya Baru yang menjalankan kediktatoran televisi atas nama kebinekaan demokrasi. Berlusconi membungkus kampanyenya dengan sebuah slogan yang dicurinya dari stadion sepakbola, sementara Piala Dunia kelimabelas dilangsungkan di Amerika Serikat, si negeri kasti.

Pers Amerika Serikat memberi secuil perhatian dan berkomentar: di sini sepakbola adalah olahraga masa depan dan akan selalu begitu. Namun stadion penuh sesak meskipun sinar matahari mampu melelehkan batu. Untuk menyenangkan televisi Eropa, pertandingan-pertandingan besar dimainkan di siang bolong, sebagaimana di Meksiko ’86.

Tigabelas tim dari Benua Eropa, enam dari Benua Amerika, dan tiga dari Afrika, ambil bagian, ditambah Korea Selatan dan Arab Saudi. Untuk mencegah banyaknya hasil imbang, tiga poin diberikan bagi yang menang dan bukannya dua sebagaimana sebelumnya. Dan untuk mencegah kekerasan, wasit jadi lebih galak dari sebelumnya, menghambur kartu kuning dan kartu merah sepanjang turnamen. Untuk pertama kalinya wasit pakai seragam warna-warni dan untuk pertama kalinya setiap tim diperbolehkan memiliki tiga pemain cadangan untuk menggantikan penjaga gawang yang cedera.

Maradona memainkan Piala Dunia terakhirnya, dan itu adalah sebuah perayaan, sampai kemudian dia dikecundangi laboratorium yang mengetes air seninya setelah pertandingan kedua. Tanpanya dan tanpa si setan kober Caniggia, Argentina terjerembab. Nigeria memainkan sepakbola paling memuaskan di turnamen. Bulgaria, timnya Stoichkov, memenangkan tempat keempat setelah menghentikan laju Jerman yang menakutkan. Tempat ketiga direbut Swedia. Italia menghadapi Brazil di final. Itu adalah pertandingan membosankan yang berakhir seri. Namun, di antara kejemuan, Romario dan Baggio menawarkan beberapa pelajaran tentang sepakbola yang baik.

Di babak adu penalti, Brazil menang 3-2 dan dimahkotai sebagai juara dunia. Sebuah kisah luar biasa: Brazil adalah negara satu-satunya yang masuk kualifikasi seluruh gelaran Piala Dunia, negara satu-satunya yang juara empat kali, dan negara yang memenangkan paling banyak pertandingan dan mencetak paling banyak gol.

Yang memimpin daftar pencetag gol adalah Stoichkov dari Bulgaria dan Salenko dari Rusia dengan enam gol, diikuti oleh Romaria-nya Brazil, Baggio-nya Italia, Andersson-nya Swedia, dan Klinsmann-nya Jerman, dengan lima gol.


*diterjemahkan dari Soccer in Sun and Shadow; trans. Mark Fried; Verso, 2003.

1 comment: