Monday, May 26, 2014

Piala Dunia ala Galeano VIII: Piala Dunia 1966*

Oleh Eduardo Galeano; Alihbahasa Mahfud Ikhwan

Militer memandikan Indonesia dalam kubangan darah. Setengah juta, sejuta, atau entah berapa tak ada yang tahu, mati. Dan Jenderal Soeharto meresmikan kediktatorannya yang panjang dengan membunuhi sisa-sisa orang merah, yang kemerah-merahan, atau yang dicurigai merah, yang masih hidup. Jenderal lainnya menggulingkan Nkrumah, Presiden Ghana sekaligus nabi bagi kesatuan Afrika. Kolega mereka lainnya di Argentina mendongkel Presiden Illia dengan kudeta.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah seorang perempuan, Indira Gandhi, memerintah India. Mahasiswa menggulingkan kediktatoran militer Ekuador. Angkatan Udara Amerika membom Hanoi dengan semangat baru, namun rakyat Amerika semakin lama semakin yakin mereka seharusnya tidak pergi ke Vietnam, tidak menggangu negeri itu, dan pergi dari sana sesegera mungkin.

Truman Capote baru saja menerbitkan In Cold Blood. One Hundred Years of Solitude karya Garcia Marquez dan Paradiso-nya Lezama Lima sudah muncul. Pendeta Camilo Torres sekarat pada pertempuran di pegunungan Kolumbia. Che Guevara sedang mengendarai Rocinante bututnya melewati pedesaan Bolivia. Mao melancarkan Revolusi Kebudayaan di Cina. Beberapa bom atom jatuh di pesisir Spanyol di Almeria, menebarkan kepanikan meskipun orang-orang tak tahu harus pergi ke mana. Sumber yang bisa dipercaya di Miami mengumumkan tentang keniscayaan jatuhnya Fidel Castro, cuma tinggal dalam hitungan jam saja.

Di London, bersamaan dengan Harold Wilson mengisap pipa tembakaunya dan merayakan kemenangan di pemilu, para gadis muda yang keranjingan rok mini, Carnaby Street menjadi ibukota mode, dan seluruh dunia yang menggumamkan nada-nada Beatles, Piala Dunia kedelapan dilangsungkan.

Ini adalah Piala Dunia terakhir bagi Garincha, juga pesta perpisahan bagi kiper Meksiko Antonio Carbajal, satu-satunya orang yang bermain di lima Piala Dunia.

Enambelas tim ambil bagian: sepuluh dari Benua Eropa, lima dari Benua Amerika, dan, aneh tapi nyata, Korea Utara. Yang menakjubkan, orang-orang Korea itu menyingkirkan Italia dengan sebuah gol dari Pak, seorang dokter gigi dari Kota Pyongyang yang bermain bola di waktu senggang. Padahal, dalam skuad Italia ada Gianni Rivera dan Sandro Mazzola. Pier Paolo Pasolini biasa mengatakan bahwa Rivera dan Mazolla bermain bola seumpama prosa yang jernih yang diselingi oleh sajak yang cemerlang, namun Pak si dokter gigi membuat mereka tak bisa bicara.

Untuk pertama kalinya semua pertandingan dalam kejuaraan disiarkan langsung lewat satelit, dan meskipun masih hitam-putih seluruh dunia bisa menyaksikan acara yang dipandu para wasit itu. Pada Piala Dunia sebelumnya, wasit-wasit Eropa memimpin duapuluh enam pertandingan; kali ini, mereka memimpin duapuluh empat dari tigapuluh dua pertandingan. Seorang wasit Jerman menghadiahi kemenangan Inggris pada pertandingan melawan Argentuna, sementara wasit Inggris memberi Jerman kemenangan saat bertanding melawan Uruguay. Brazil tak kalah sialnya: Pele diburu dan dijegal tanpa hukuman oleh Bulgaria dan Portugal, tim yang menyingkirkan Brazil dari kejuaraan.

Ratu Elizabeth menghadiri pertandingan final. Ia tidak berteriak ketika terjadi gol, cuma dengan malu-malu bertepuk tangan. Piala Dunia menjadi milik orang Inggris Bobby Charlton, seorang yang memiliki gocekan menakutkan dan jago tembak, dan orang Jerman Beckenbauer, yang baru saja memulai karirnya dan sudah bermain dengan topi, sarung tangan, dan tongkat. Seseorang mencuri Piala Rimet, namun seekor anjing bernama Pickles menemukannya di sebuah kebun di London, dan tropi sampai ke tangan pemenang tepat waktu. Inggris menang 4-2. Portugal jadi nomor tiga. Di tempat keempat, Uni Soviet. Ratu Elizabeth menghadiahi Alf Ramsey, pelatih tim juara, pangkat kehormatan, sementara Pickles menjadi pahlawan nasional.

Piala Dunia ’66 dirampas oleh taktik bertahan. Setiap tim menggunakan sistem sweeper dengan seorang pemain bertahan tambahan di garis gawang di belakang para fullback. Meski demikian, Eusobio, manusia artileri asal Afrika berkebangsaan Portugal, mampu menembus tembok pertahanan yang mustahil dijebol itu sembilan kali. Di belakangnya adalah Haller si Jerman, dengan enam gol.


*diterjemahkan dari Soccer in Sun and Shadow; trans. Mark Fried; Verso, 2003.

No comments:

Post a Comment