Tuesday, May 27, 2014

Piala Dunia a la Galeano IX: Piala Dunia 1970*

Oleh Eduardo Galeano; Alihbahasa Mahfud Ikhwan


Di Praha, dalang film boneka Jiri Trnka sedang sekarat; demikian juga Bertrand Russel di London, setelah hampir seabad hidup penuh semangat. Setelah hanya mencapai usia duapuluh, penyair Rugama roboh di Managua, berjuang sendirian melawan satu bataliyon kediktatoran Somoza. Dunia kehilangan musiknya: the Beatles bubar, karena overdosis kesuksesan; dan karena overdosis obat, gitaris Jimi Hendrix dan penyanyi Janis Joplin mengakhiri hidupnya.

Topan memporak-porandakan Pakistan sementara gempa bumi menghapuskan limabelas kota di Andes, Peru. Di Washington, tak ada seorang pun yang percaya dengan Perang Vietnam, namun perang terus dihela walaupun korban tewas mencapai sejuta, menurut Pentagon, dan para jenderal mengelak maju dengan menyerang Kamboja. Setelah kalah dalam tiga kali pemilu, Allende melancarkan kampanyenya untuk menjadi presiden Chile, menjanjikan susu untuk setiap anak dan menasionalisasi tembaga milik negara. Sumber yang bisa dipercaya di Miami mengumumkan kepastian akan jatuhnya Fidel Castro, hanya tinggal hitungan jam saja. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Vatikan dilanda pemogokan. Saat para pegawai Bapa Suci di Roma berpangku tangan, di Meksiko pemain dari enambelas negara mengayunkan kakinya untuk memulai Piala Dunia kesembilan.

Sembilan tim dari Eropa, lima dari Amerika, plus Israel dan Maroko ambil bagian. Pada pertandingan pertama, wasit mengacungkan kartu kuning untuk pertama kalinya. Kartu kuning, tanda peringatan, dan kartu merah, tanda pengusiran, bukan hal satu-satunya yang baru di Piala Dunia Meksiko. Peraturan membolehkan dua pergantian tiap pertandingan. Sebelumnya, hanya penjaga gawang yang boleh diganti jika mengalami cedera, sementara bukan perkara yang sulit untuk mengurangi jumlah lawan dengan satu-dua tendangan jitu.

Gambaran Piala Dunia ’70: kesan ditinggalkan oleh Beckenbauer yang bertarung hingga menit terakhir dengan satu lengan di dalam gendongan; semangat menggebu Tostao, yang baru saja lepas dari operasi mata dan sanggup tampil mantap di setiap pertandingan; kemampuan meringankan tubuh Pele di Piala Dunia terakhirnya. “Kami melompat bersamaan,” kata Burgnich, pemain bertahan Italia yang menjaganya. “Tapi ketika aku sudah mendarat, aku bisa melihat Pele masih mengambang di udara.”

Empat juara dunia, Brazil, Italia, Jerman, dan Uruguay, menembus semifinal. Jerman meraih tempat ketiga, Uruguay keempat. Di final, Brazil mencengangkan Italia dengan kemenangan 4-1. Koran Inggris berkomentar: “Sepakbola indah macam itu seharusnya dianggap tidak sah.” Orang-orang terpaku menceritakan kisah gol terakhir: bola mengalir melalui semua pemain Brazil, kesebelas pemain menyentuh bola, dan pada akhirnya Pele, tanpa melihat, menghidangkan bola di nampan perak bagi Carlos Alberto yang datang seperti topan untuk melakukan tendangan mematikan.

Muller “si Torpedo” dari Jerman memimpin daftar pencetak gol dengan sepuluh gol, diikuti oleh Jairzinho dari Brazil dengan tujuh gol.

Juara tanpa terkalahkan untuk ketiga kalinya, Brazil berhak menyimpan Rimet Cup untuk jadi benda pusaka. Pada akhir 1983, piala tersebut dicuri dan dijual setelah dicairkan menjadi emas murni seberat dua kilogram. Di lemari pameran, piala tiruan berdiri di tempat piala asli.

*diterjemahkan dari Soccer in Sun and Shadow; trans. Mark Fried; Verso, 2003.

1 comment: