Tuesday, January 3, 2017

Setengah Musim di Eropa

Oleh   Darmanto Simaepa

Musim dingin merambati kota-kota di Eropa Barat. Sisa hujan semalam dan embun di ujung rerumputan memutih-beku di pagi hari. Keluarga, api perapian dan kerlip cahaya Natal di dekat jendela-jendela kaca rumah Belanda membuat suhu menghangat. Di tengah deru angin dari Laut Utara ini saat terbaik untuk melihat apa yang terjadi di separuh musim kompetisi.

Liga Primer

Di Inggris, Liverpool dan Chelsea menemukan identitas sepakbolanya. Ketika dua manajer di kota Manchester masih sibuk merakit tim yang solid, dan seperti biasa, tim asuhan Arsene Wenger mulai menggigil dan gemetar di bawah udara minus, Jurgen Klopp dan Antonio Conte, dengan caranya masing-masing, berhasil memadukan terobosan taktik, tontonan  menarik dan rangkaian kemenangan.

Conte layak mendapat apresiasi. Bukan karena menyulap Chelsea yang pingsan menjadi pemuncak klasemen dalam tempo enam bulan. Tetapi karena keberhasilannya mengusir hantu Jose Mourinho dari Stamford Bridge. Silih berganti pelatih top dipekerjakan dan diberi pesangon, tak ada satupun dari mereka yang bisa mencegah seisi stadion bernyanyi dan mencintai Jose. 

Conte bisa. Ia menendang bokong Jose keluar dari hati dan kepala pendukung Chelsea seperti Bill Murray muda yang menyedot hantu New York di Ghostbusters dan melemparkannya ke gorong-gorong. 

Kini tidak ada lagi klaim, ‘ini timnya Jose’, íni pemainnya Jose',  atau ‘ini mentalitas Jose’. Kemenangan Chelsea 4-0 atas MU menandai segalanya. Conte membentuk timnya sendiri, dengan pemain-pemain yang dibeli Jose, dan uniknya, lewat permainan nyaris sempurna ketika melawan timnya Jose.

Kemenangan beruntun sebelas kali Chelsea, saya yakin, juga membuat Roman Abramovich tak lagi tidur menggigau dengan menyebut nama Joseph Guardiola.

Di Anfield, kita menyaksikan sepakbola deras mengalir penuh energi dan bertekanan tinggi, dengan gol-gol yang turun seperti hujan badai. Jurgen Klopp menciptakan sepakbola rock and rollyang membuat seisi kota terbangun dengan senyuman di pagi hari.

Tidak hanya itu, gairah dan energi Klopp sedang membangunkan kembali raksasa yang lama tertidur. Dengarlah gemuruh suara kelas pekerja di Anfield dan Anda akan mengerti, ribuan orang sedang bermimpi, bernyanyi, dan menari dengan mata terbuka. Mimpi itu sedang menjalar ke seluruh dunia, terutama bagi generasi yang besar di paruh tujuh puluhan atau delapanpuluhan.

Meskipun tabu sebagai pendukung MU untuk memuji Liverpool, untuk kali ini saya harus mengatakan bahwa musim ini hanya Klopp-lah yang menyegarkan sepakbola dunia—terutama setelah buruknya Piala Eropa dan Liga Champions musim lalu . Hanya fanatik bola yang buta hati saja yang tidak tergerak jiwanya untuk memuji Klopp dan pendukung Liverpool. Mereka adalah perkawinan yang sempurna. 

La Liga

Sevilla dan Real Sociedad adalah tim yang memberi kenikmatan tontonan—bukan Real Madrid, Barcelona, atau Atletico Madrid. Menonton Sevilla seperti menghirup udara segar. Menonton Real Sociedad membuat Anda tak bisa bernapas.

Tim Jorge Sampioli dan Eusebio Sacristan memainkan sepakbola tempo tinggi,penuh jual beli serangan dengan hujan gol sebagai jaminan. Publik sepakbola Spanyol sepakat bahwa Sevilla kandidat juara dan Sociedad ke Liga Champions. Ukurannya?

Tengok saja saat mereka melawan Barcelona, tim terbaik dengan pemain terbaik di La liga. Jika bukan karena mukjizat bernama Lionel Messi, Barcelona tidak akan pulang dengan poin, tetapi juga malu besar karena kalah telak dari segi taktik dan permainan.

OK, Real Madrid dan Barcelona masih di posisi satu-dua. Namun, tidak ada pertandingan mereka yang pantas dibicarakan—kecuali ketaktisan Madrid dalam derbi ibu kota. Madrid tak pernah kalah, tapi juga tak pernah meyakinkan. Mereka menciptakan rekor tidak-terkalahkan, tapi mereka terlihat bukan Madrid.

Barca jelas sekali bermasalah di lini tengah. Tiap kemenangan menjadi kian tergantung suasana hati Messi. Gejala keletihan juga melanda Luis Enrique. Tidak hanya ia pusing menemukan komposisi tiga gelandang, tapi juga letih dengan cerewetnya societe.

Atletico Madrid  belum pulih dari luka final Liga Champions. Rumor hengkangnya Diego Simone ke Inter setelah pemangkasan durasi kontrak membuat permainan Atletico goyah dan lunglai. Jauh dari identitas permainan  Atletico yang selama ini tampil dengan solid, tangguh dan keras hati.  

Bundesliga

Revolusi pelatih muda tampak belum bisa menggoyah kemapanan kerajaan Bayern Munich. Inovasi taktik Thomas Tuchel, Roger Schmidt, atau Andrew Schubert justru membuat Borussia Dortmund, Bayer Leverkusen, Bayern Moenchengladbach terseok-seok di papan tengah. Alah-alih merebut singgasana Munich, mereka malah pontang-panting menyelamatkan kursi kepelatihan yang sedang mereka duduki.

Posisi tradisional Dortmund atau Leverkusen kini coba diisi oleh tim-tim tua semenjana yang pernah sekali-dua-kali berjaya dua-tiga dekade lalu seperti Koeln, Hertha Berlin atau Eintracht Frankfurt.

Tim promosi RB Leipzig bolehlah memberi kejutan, terutama karena curahan uang pabrik minuman. Kaya dan dibenci, Leipzig menggunakan cemoohan suporter lawan menjadi batubara untuk bersaing dalam balapan dengan klub-klub mapan. Kejutan ini mungkin akan bertahan sampai akhir musim, namun ini hanyalah badai dalam cawan bagi Bayern.

Jika ada sisi baiknya dari Bundesliga, itu pasti keberanian mereka memberi panggung buat pemain-pemain belia. Sebuah kenikmata melihat calon-calon pemain terbaik masa depan seperti Mousa Dembele, Emre Mor, Pulisic (Dortmund ), Hakan Chalanoglu dan Heinrichs (Leverkusen), Sule (Hoffenheim), untuk sedikit nama, diberi banyak kesempatan menguji semangat masa muda di kompetisi tertinggi.

Serie A

Di Italia, tak ada gunanya membicarakan persaingan. Juventus akan meraih scudetto, betapapun gigih usaha tim-tim dari selatan. Roma, si pemberi harapan palsu, mungkin akan berjuang sampai Februari. Napoli, agak menjanjikan, terutama dalam partai kandang.

Namun seperti biasa, Spaletti akan lebih sering mengusap kepala yang berminyak itu dari pada tersenyum bahagia. Roma hany hanya punya satu solusi ketika krisis: mengirim Pangeran Tua ke medan peperangan. Dan Napoli? Mereka belum benar-benar pulih dari patah hati setelah Higuain pergi. Lagi pula, Dries Mertens tak akan menjadi Maradona kan?  

Anda pasti tahu keluarga Agnelli dan Beppe Marotta di sela libur natal dan tahun baru ini sedang bernegosiasi dengan agen-agen pemain dari klub rival untuk persiapan musim depan. Agnelli tinggal mengangkat alisnya saja untuk memerintahkan Marotta memindahkan Dries Mertens atau Mohammad Salah di transfer Januari atau Juni.

Yang menarik musim ini adalah munculnya tim-tim muda dengan kesegaran taktik.  Tim-tim tradisional yang selama dekade terakhir ini merana (AC Milan , Atalanta, Bologna, dan Torino) beralih strategi dengan menguatkan akademi dan menambalnya dengan pemain pinjaman murahan. Oh ya, mereka juga membuat inovasi taktik dengan memainkan skema 3-4-3 atau 3-5-2 yang cair dan mengalir.

Montella sedang membentuk tim AC Milan yang paling menjanjikan dalam satu dekade. Ini membuat il presidente, Silvio Berlusconi gamang bukan kepalang. Mau lanjut terus takut merugi dan melewatkan uang China. Mau berhenti, timnya punya peluang ke Champions lagi.

Ligue 1

Di Prancis, tema favorit musim ini adalah Mario Balotelli dan Nice. Namun, jujur saja Balotelli tidak sepenting yang tampak dipermukaan. Gol-golnya memberi beberapa kemenangan. Namun, ketika Balotelli absen-pun, Nice tetap menang dan menawan.

Pujian atas keberhasilan Nice juara paruh musim harus diberikan kepada Lucien Favre. Sesuai dengan jejak rekamnya di liga Swiss dan Jerman, Favre membangun kombinasi tim yang setengahnya dipenuhi pemain muda yang enerjik, cekatan dan tajam dan sebagian pemain berpengalaman. Boleh di kata, Balotelli hanya pemanis yang melengkapi adonan kue lezat yang diracik Favre.

Heboh Balotelli tidak bisa dilepaskan dari kepergian Zlatan Ibrahimovich. Pindahnya Zlatan membuat sepakbola Prancis kehilangan tokoh yang mengangkat pamor kompetisi.Media dan publik Ligue 1 membutuhkan tokoh dan Mino Raiola, agen kedua pemain, pintar membaca situasi dan menjadikan Balotelli sebagai protagonista baru.

Munculnya Favre dan Nice cukup menggembirakan. Ini mengembalikan sifat kompetitif liga Prancis yang anehnya, juga menghasilkan dinasti-dinasti model PSG Semoga saja uang Qatar tidak membuat PSG bisa juara liga 7 kali berturutan, seperti yang pernah dilakukan oleh Lyon atau Saint Etiene di waktu lampau.

4 comments:

  1. Selalu menantikan tulisannya bung Darmanto, dengan segala emosinya.

    ReplyDelete
  2. Tulisan saya, mengulas buku Tamasya Bola mas Darmanto :)
    http://narazine.co/sepakbola-dalam-fieldnotes-sang-antropolog/

    ReplyDelete