Tuesday, January 3, 2017

Berita Cuaca dari Lima Liga

Oleh Mahfud Ikhwan
Italia membeku. Tidak oleh cuaca ekstrem di pengujung tahun, atau kabut, atau banjir seperti biasanya. Dan ini tidak terjadi baru-baru saja. Sudah berlangsung bertahun-tahun, begitu-begitu melulu. Klub kota Turin, yang bukan Torino, mencengkam kuat-kuat nyaris semua gelar yang melingkupi sepakbola Italia. Nyonya Tua tak hanya terdengar angkuh sebagaimana namanya, tapi juga kikir. Setelah kepergian Mourinho dari Inter hampir sewindu lalu, dan Milan tak lagi juara sejak setengah dekade lalu, Juve tak ada yang mengganggu. 
Napoli sebenarnya selalu tampak berbahaya sejak dipunyai De Laurentis yang setengah gila itu. Tapi tampak berbahaya berbeda dengan benar-benar berbahaya. Dan Roma… Ah, klub yang dikuasai oleh seorang pangeran memang akan selalu sulit untuk berkuasa. 
Bagi yang merindukan kiprah Italia di level Eropa, bolehlah sedikit berandai-andai. Montella sepertinya bisa diharapkan membawa Milan ke posisi ketiga dan ke Eropa, dan sedikit membikin gentar Barcelona. Kalau itu gagal, mungkin takdir Italia masih akan sama—kecuali gunung berapi di Islandia meletus kembali. 
Hal yang kurang lebih sama terjadi juga di Jerman. Munchen lagi, Munchen lagi. Dan tampaknya akan Munchen lagi. Yang sedikit berbeda, Munchen bersama Ancelotti, pelatih yang catatan gelar domestiknya sebenarnya tak sementereng namanya, tak semulus Munchen di musim-musim sebelumnya. Mereka sudah kalah di pekan ke-11 dan kalah dua kali di babak grup Liga Champions. Di puncak liga, mereka harus berbagi tempat dengan klub pupuk bawang, RB Leipzig. 
Setelah bertahun-tahun tak punya saingan berarti, usai Dortmund berevolusi, penggemar Liga Jerman (yang bukan fan Munchen) semestinya gembira ada klub yang mampu mengganggu Munchen. Tapi, tampaknya tidak begitu. Publik Jerman membenci Leipzig, klub milik pabrik minuman berenergi punya orang Austria itu. Munchen yang dominan lebih dimaklumi dibanding RB Leipzig yang karbitan, klub yang baru berdiri 2007, yang berarti satu tahun sebelum Wolfburg juara Bundesliga untuk pertama kalinya dan Jurgen Klopp menjalani musim pertamanya bersama Dortmund. 
Tapi Liga Jerman tetaplah liga yang menarik, setidaknya jika Anda mau melongok dasar klasemen. Tahun lalu, klub tradisional macam Stuttgart (juara liga 5 kali, dan biasa mondar-mandir di kompetisi Eropa) terjerembab, bergabung dengan tim-tim kenamaan lain macam 1860 Munich, Armenia Bielefeld, hingga Kaiserslautern di liga level dua. Kali ini, klub-klub yang sangat akrab di telinga dan mata macam Bremen, Schalke, M’Gladbach, dan Hamburg, sudah harus pontang-panting menjauhi lubang-lubang becek degradasi bahkan sebelum Natal.
Sama bekunya tentu saja Spanyol. Meskipun beriklim lebih hangat dan liganya kini bermain lebih siang (agar pemirsa di Cina tidak harus begadang untuk menontonnya), La Liga masih sama dengan sebelum-sebelumnya. Hanya ada dua kuda pacu: Madrid dan Barca, atau Barca dan Madrid, terserah Anda bagaimana membacanya. 18 klub sisanya cuma jadi garis lintasan, bahkan debu. Memang ada kuda liar pada diri Simeone dan Atletico-nya dalam beberapa musim belakangan, tapi di akhir tahun ini dan tampaknya di akhir kompetisi mendatang Atletico tak akan cukup bisa memberi kesulitan. 
Jika ingin menemukan yang agak panas, maka itu adalah bangku cadangan di Camp Nou tempat Luis Enrique biasa duduk. Ia telah membeli banyak gelar untuk Barca dalam tiga musim kepelatihannya, sangat banyak malah. Tapi, seperti para penonton dan para direktur di Bernabeu, para penonton dan para direktur di Camp Nou juga adalah orang-orang paling ceriwis di dunia, yang tak merasa cukup dengan gelar, atau permainan cantik, atau bahkan kedua-duanya sekaligus. Mereka ingin lebih dari itu: identitas. 
Barca di tangan Enrique, bagi seorang macam saya yang tidak terlalu menyukai tiki-taka (yang rutin dan mekanik itu), sebenarnya lebih enak dilihat dibanding Barca ala Pep. Lebih langsung, lebih tak terduga, dan terpenting lebih manusiawi. Tapi ketakterdugaan ala Enrique memang mudah dibaca sebagai ketidakjelasan. Statistik di klasemen menjelaskannya, sementara belanja besar di awal musim yang tak berbuah, dan deretan pemain semenjana di bangku cadangan adalah garis bawahnya. Ketika rival di ibukota sedang sangat stabil, dan Valdebebas sedang menyaksikan mekarnya bibit-bibit baru dari akademinya sendiri, Camp Nou justru sedang cemas melihat generasi emas La Masia menua dan tak segera mendapat gantinya. 
Maka beruntunglah sepakbola Inggris yang menitipkan hal-hal tak jelas macam identitas kepada klub-klub level bawah seperti AFC Wimbledon, Millwall, atau Oxford United. Di jelang pergantian tahun, di lapangan-lapangan yang berangin dan nyaris selalu di bawah guyuran hujan, dan tentu saja di bawah guyuran duit hak siar, tak ada yang semenarik Inggris dalam hal persaingan. 
Jika mengacu kepada gelar Leicester musim lalu, dan melihat posisi MU dan City saat tulisan ini dibuat, pemeo para idealis olahraga bahwa uang tak bisa membeli gelar masih benar adanya. Tapi melihat tim apa saja yang berada di paroh atas tabel klasemen, uang jelas menguasai sepakbola—seperti dulu-dulu, dan masih akan begitu. Kecuali Liverpool, lima klub yang ada di enam besar termasuk dalam 10 klub dengan belanja tertinggi di Eropa. 
Yang paling menyenangkan dari Liga Inggris musim ini adalah cuaca dan arah anginnya yang berubah-ubah, cepat, dan sering tak dinyana—meskipun, tentu saja, tak seekstrem musim sebelumnya. Tiga kemenangan beruntun United bersama Mourinho di pembuka kompetisi seperti memberi tanda: sang Mefisto langsung menunjukkan keajaibannya begitu Dr. Faust bersedia menyerahkan jiwanya. Tapi setelah kekalahan di derbi oleh City pada pekan ke-4, tajuk utama langsung berpindah ke tim sebelah. Dan City-nya Pep segera jadi primadona, seakan tiki-taka telah berpindah dari Katalan ke Manchester dalam enam pekan. Lalu, tibalah saat Spurs, yang dilatih mantan pemain Espanyol, menghantam mereka. 
Meski begitu, yang ambil panggung selanjutnya adalah klub London yang lain. Chelsea, yang secara beruntun digasak di pekan-pekan awal oleh para pesaingnya, masing-masing oleh Liverpool 1-2 dan Arsenal 3-0, tiba-tiba menemukan harinya dan tampak begitu digdaya. Timnya Conte, yang sekilas terlihat seperti sebuah tim Italia dari pertengahan ’90-an, memenangi 13 pertandingan selanjutnya, dan memuncaki klasemen sendirian. 
Sementara itu, kondisi menarik menyelimuti Prancis. Duit Qatar yang memayungi langit Ligue 1 selama empat musim berturut-turut tampaknya sedang membuyar. Nice dengan Balotelli-nya yang tengah memimpin klasemen mungkin saja tak akan menjadi juara. Tapi, setidaknya, ini memberi tanda baik akan kembalinya Liga Prancis ke sifat alaminya, sebagai liga paling “demokratis” di Eropa; liga yang melahirkan 10 juara dalam 20 musim terakhir.

1 comment:

  1. Saya baru menemukan blog ini dan tulisannya keren plus sangat bercerita. Tepat sekali menggambarkan lima liga top Eropa dengan cuaca yang biasa kita rasakan sehari-hari.

    Btw, salam kenal.. saya juga punya blog tentang sepak bola. Silakan dikunjungi http://dimasallstar.blogspot.co.id/

    Masih perlu banyak belajar soal penulisan dunia kulit bundar hehehe

    ReplyDelete