Wednesday, February 8, 2017

Klub Besar Tak Pernah Mati, Persebaya Tak Akan Mati

Oleh Darmanto Simaepa

Setiap kota besar di dunia menghasilkan klub-klub bersejarah. Buenos Aires punya River Plate dan Boca Juniors. Madrid melahirkan Real dan Atletico. Di Glasgow, ada Celtic dan Rangers. Kairo menciptakan Zamalek dan Al-Ahli. Dan di negeri kolam susu, kota-kota bersejarah memberi kita Persebaya, PSMS, Persija, Persib, dan belasan lainnya.

Selama detak jantung kota-kota itu berdetak, klub-klub sepakbola legenda itu tak pernah mati. Tentu tak semua dan tak selamanya, klub-klub itu hidup dalam gelimang kejayaan. Sekali-dua mereka akan terdegradasi. Pailit. Langka talenta. Salah urus. Di antaranya ada yang harus menderita karena berlaga di kompetisi tingkat tiga atau lima dan berangsur-angsur kehilangan dukungan dari superternya yang setia dan sumber daya.

Yang malang nasibnya tertimpa bencana alam, bencana politik, atau tersulut huru-hara. Red Star hancur lebur ketika semenanjung Balkan mengalami perang saudara. Dynamo Kiev pernah bubar di bawah kekuasaan Stalin di era perang dingin. Yang lebih malang lagi terlanda bencana manusia: kecelakaan pesawat di Munich, bom bunuh diri di Kabul, perang saudara di Kairo, kebakaran di Athena.....

Saat klub-klub legenda dilanda bencana atau hidup menderita berlaga di kompetisi level tiga, penduduk kota juga tenggelam dalam duka. Saat River Plate terdegradasi dan terlilit hutang, setengah kota Buenos Aries tenggelam dalam duka dan hilang akalnya. Ketika pesawat yang membawa tim Chapecoense kehabisan minyak dan menabrak gunung Kolombia, bayi-bayi di Chapeco ikut menitikkan air matanya.

Namun, seperti burung Phoenix, klub-klub besar yang jadi abu itu akan hidup kembali. Mereka tak pernah benar-benar mati. Pendukung yang ngambek akan segera memulihkan rasa sayangnya. Bakat-bakat baru bermunculan di penjuru kota. Gema nyanyian pujian di stadion akan terdengar lagi.

Dan akan selalu ada ada orang kaya dan/atau berpengaruh yang kerasukan hantu sepakbola. Mereka akan merelakan sebagian hartanya untuk menebus cinta remajanya. Sebagian dengan mengkombinasikan bakat pencoleng yang sudah ada, maniak sepakbola yang duduk di parlemen atau kursi walikota dengan mudah mereka mengkorupsi anggaran negara demi gengsi klubnya (dan kekuasaannya). 

Pendeknya, dengan cara apapun, sebuah kota tak akan rela klub sepakbola yang ia lahirkan mati membusuk. Sebab, klub sepakbola bukan sekadar organisasi yang mencetak karcis masuk stadion atau mengatur kontrak kerja tim pelatih dan 25 pemain. Klub sepakbola—entah di Barcelona atau Salatiga—tak pernah hanya sekedar klub.

Klub besar adalah institusi kultural yang mewakili sejarah sebuah kota. Ia adalah anak kandung kota yang melahirkannya. Barcelona mewakili sejarah sosial kota pelabuhan dan pedagang cerdik Mediterania. Glasgow Celtic mewakili sejarah penderitaan orang-orang Katolik di sebuah kota pekerja pelabuhan di Britania Raya.

Itulah kenapa setiap klub besar selalu unik. Ia tumbuh berimpit dengan riwayat kota tempat ia lahir. Di Italia, Juventus atau Milan dikelola oleh para direktur yang menjalankan klub seperti direktur perusahaan mobil memonopoli suku cadang atau baron televisi memanipulasi opini; sementara klub di Selatan (Palermo, Cagliari) presiden menjalankannya seperti ketua kelompok mafia beroperasi atau bangsawan feudal abad pertengahan menarik upeti.

Tiap klub besar juga dibentuk oleh peristiwa sejarah yang membentuk karakter kota. Di Indonesia, karakter keras dan egaliter kota Medan menghasilkan PSMS yang bermain lugas dan keras; permainan tak terduga dengan pemain-pemain luar negeri yang betah tinggal di dalamnya, tim-tim seperti Persiwa Wamena atau Persidafon Dafonsoro mencerminkan kekayaan dan karakter kota-kota pedalaman yang kosmopolit dan penuh kejutan tetapi sering dianggap remeh oleh kota-kota yang telah mapan.

Tengok juga, bagaimana kota kecil, agak sedikit di pinggiran tetapi punya sejarah modernitas yang intensif dan terhubung dengan metropol seperti Padang atau Manado selalu menghasilkan tim-tim yang ‘sangat modern’ dalam pengertian selalu bermain dengan akal sehat baik dalam neraca anggaran maupun permainan di lapangan.

Pendek kata, setiap klub besar tak bisa dipisahkan dari sejarah kota dan penduduk kotanya. Klub-klub besar lahir, tumbuh, dan berkembang dalam arus sejarah yang melintasi kota-kota penting. Tanpa cinta dari penduduk kota, klub-klub itu hanya akan menjadi gelembung instan tanpa akar sosial yang kuat. Sebaliknya, klub-klub besar yang kuat juga dituntut untuk memberi sesuati lebih yang menjadi udara segar bagi penduduk kota.

Itulah kenapa, klub-klub yang hanya digenjot oleh kucuran uang instan dari luar dan mengabaikan sejarah kota tempat ia lahir selalu mendapat cemoohan. RB Leipzig sering mendapat makian di Jerman. Di Inggris, Chelsea, paling tidak pada tahun-tahun awal Abramovich, selalu menjadi bahan gunjingan.

Bahkan klub-klub besar yang secara tradisional menjadi bagian sejarah kota namun kemudian menjual jiwanya dan sejarahnya kepada pengusaha-pengusaha dari Arab, Amerika atau China demi harapan palsu, segera menyulut cemoohan dari pendukung setianya dan kehilangan elan vitalnya.

Misalnya saja Valencia. Klub bersejarah ini kini terpuruk tanpa daya setelah dibeli dan dijalankan oleh pengusaha Singapura lewat perantara broker besar dari Portugal dan dikelola oleh pengusaha China. Setiap bertanding, siulan dan sorakan kemarahan pendukung setianya diarahkan, tidak hanya ke tempat-tempat direktur dan presiden duduk di Mestalla tetapi juga, ke lokasi latihan pemain-pemainnya.

Di Indonesia, kita punya contoh klub hebat tapi tanpa jiwa sebuah kota. Klub konglomerat seperti Mastrans Bandung atau Pelita Jaya memang pernah berjaya. Namun mereka selalu pindah-pindah stadion, ganti nama, sewa stadion dan tak pernah mendapatkan rasa sayang yang cukup dari kota-kota yang disinggahinya. Mereka mati dan dikubur entah di mana tanpa ada isak tangis dari penduduk kota.

Sebaliknya, klub-klub yang lahir dari darah dan doa kota yang melahirkannya tetap dikibarkan benderanya, meskipun klub-klub itu sekarat, mati suri atau tak punya kantor lagi. Pujian dan nyanyian untuk PSIM, Persis Solo, Persib, Persebaya, PSMS—klub-klub yang lahir dari masa perjuangan kemerdekaan—diwariskan dan dikekalkan dari generasi ke generasi.  Mereka datang pasang surut namun bertahan di gelombang perubahan zaman.

*****

Kebangkitan Persebaya harus dilihat dari jiwa kota Persebaya yang berkehendak menyambung sejarah panjang sepakbola. Orang boleh berpendapat dan mengklaim bahwa pencabutan sangsi PSSI adalah hasil lobi-lobi tingkat tinggi para juragan sepakbola. Itu boleh jadi benar. Namun saya yakin Persebaya sekarang sedang siuman itu juga karena perjuangan tak kenal lelah dari pelaku dan sekaligus produk dari sejarah kota Surabaya: Bonek.

Bonek adalah wujud dari jiwa kota Surabaya. Ia adalah bentuk kolektif dari lakon Syarip Tambak Oso atau metamorfosis dari jutaan pemuda revolusioner yang di tahun 45’, berbekalkan bambu runcing dan tekat merdeka, merobek warna biru bendera kolonial Belanda. Hanya orang yang tuli dan buta hatinya, yang menganggap mereka adalah anak-tak-sah dari industri sepakbola. Sebaliknya, ia anak kandung dari sepakbola Surabaya.

Entah dulu, entah sekarang, Bonek adalah wujud sosial kota Surabaya: kota pelabuhan yang terbuka, dinamik, penuh energi. Kota dengan solidaritas sosial, jiwa kewirausahaan, namun juga dengan suara-suara gelisah yang keluar dari kost-kost sempit dan dinding-dinding pabrik di kawasan industri. Bonek adalah suara kota Surabaya yang paling terbuka, berani dan mentah: Mereka adalah suara kota yang diisi oleh keluarga-keluarga muda yang bekerja keras, pemuda rantau yang berjuang mengubah nasib, sekaligus remaja-remaja yang cemas akan masa depan.

Vitalitas dan energi Bonek-lah yang memelihara dan menghidupkan harapan bahwa Persebaya akan kembali berlaga di kompetisi sepakbola Indonesia. Ini menunjukkan betapa menyesatkannya pandangan dominan nan hegemonik bahwa Bonek adalah suporter yang bikin rusuh, mengganggu ketertiban dan memancing kekerasan.  

Surabaya adalah kota dengan jiwa sepakbola yang dahsyat, yang bahkan suara dari sepersepuluh dari jumlah keseluruhan Bonek akan membuat para administratur dan birokrat sepakbola akan gentar dan berkeringat dingin. Bung! Ini adalah kota yang melahirkan bakat-bakat besar sepakbola. Liem Tiong Hoo, Mudayat, Rusdy Bahalwan, Abdul Kadir Ruddy Keltjes, Syamsul Arifin, Bejo Sugiantoro, dan sekarang Evan Dimas lahir dari kota ini. 

Sejarah Persebaya mengalir dalam pembuluh darah kota Surabaya. Klub ini menghasilkan pertandingan-pertandingan legenda yang, dulunya  diriwayatkan dari mulut ke mulut, disiarkan dari corong radio, diabadikan dalam memori tayangan televisi, yang lantas semuanya selalu diceritakan kembali dan kembali tanpa henti, setiap hari. Ini adalah kota yang stadionnya bergelora yang tiap anak bermimpi mengenakan seragam hijau-hijau dan menendang bola layaknya Mustaqim atau Andik Vermansyah menggulirkan si kulit bundar di Gelora Sepuluh Nopember. 

Selamat bangkit kembali Bonek dan Persebaya! Klub besar tak pernah mati. Bonek tak pernah mati. Persebaya tak akan pernah mati.



1 comment: