Sunday, May 11, 2014

Garincha*

Oleh Eduardo Galeano; Alihbahasa Mahfud Ikhwan











Salah seorang abangnya menjulukinya Garincha, nama sejenis burung kecil buruk rupa dan sia-sia. Ketika ia mulai bermain bola, dokter memberi tanda silang untuknya. Mereka meramalkan makhluk tak berbentuk itu, yang lolos dari busung lapar dan polio, pincang dan bodo, dengan otak udang, punggung melengkung seperti huruf S, dan sepasang kaki bengkok ke arah yang sama, tak akan pernah jadi pesepakbola.

Tak ada sayap kanan seperti dia. Pada Piala Dunia ’58, dia yang  terbaik di posisinya. Pada Piala Dunia ’62, dia yang terbaik di kejuaraan. Namun, selama bertahun-tahun keberadaannya di lapangan bola, Garincha lebih dari itu semua: dalam sepanjang sejarah sepakbola, tak ada seorang pun yang membuat penonton bahagia melebihinya.

Saat ia bermain, lapangan diubahnya jadi pasar malam. Bola adalah hewan jinak baginya. Permainan berubah jadi ajang pesta. Seperti bocah yang mempertahankan mainannya, Garincha tak akan melepaskan bola yang dikuasainya. Bola dan dirinya akan menampilkan akobat bangsat yang membuat penonton tertawa tergelak-gelak. Ia melompat di atas bola, bola melenting di atasnya. Bola menghilang, ia melenggang. Ternyata bola mengikuti di belakang. Pada prosesnya, para pemain lawan akan saling bertabrakan, kaki mereka keriting, sebelum limbung karena pusing, kemudian jatuh rubuh. Garincha melakukan trik-trik kurang ajar ini di tepian lapangan, di sekitar sisi kanan, jauh dari lapangan tengah: ia tumbuh di kawasan kumuh pinggiran kota, di mana ia biasa bermain bola. Ia bermain untuk klub bernama Botafogo, yang berarti “tukang sulut”. Dan ia memang tukang sulut yang membuat penontong menggila dengan air api dan semua hal yang menyala. Dialah orangnya yang kabur dari jendela pusat pelatihan karena mendengar, dari gang yang jauh di belakang, panggilan bola yang minta dimainkan, musik yang mengajak menari, dan perempuan yang mau dicumbu.

Seorang jawarakah dia? Pecundang beruntung lebih tepatnya. Dan keberuntungan punya penghabisan. Seperti pepatah Brazil: jika tahi bisa jadi duit, orang miskin akan lahir tanpa burit.

Garincha mati dengan cara seperti yang dikira: mabuk, papa, dan sebatang kara.


*diterjemahkan dari Soccer in Sun and Shadow; trans. Mark Fried; Verso, 2003

1 comment: