Monday, May 12, 2014

Piala Dunia a la Galeano: Pengantar dari Belakang Gawang

Oleh Mahfud Ikhwan

Man City juara lagi. Kedua kali dalam tiga musim ini. Liverpool gagal lagi—untuk ke-24 kali. Mou, sekali lagi, tak dapat apa-apa dengan tim yang dilatihnya. Dua busnya cuma dapat urutan ketiga. Sementara Arsenal mengulang-ulang lagu lama, MU merengkuh banyak rekor [kalah] di kandangnya: WBA, Newcastle, Everton, Sunderland, dan... banyak lagi yang lainnya.

Empat pekan lagi Piala Dunia. Brazil si tuan rumah terus berderap tapi tetap tampak tak kunjung siap. Ada tribun yang ambruk. Banyak buruh bangunan yang mati. Lebih banyak lagi orang miskin tanpa tanah yang tergusur. Senasib dengan Kaka, Robinho, dan Ronaldinho, yang tak dapat tempat di Selecao.

Di Indonesia, orang-orang sibuk menyerang calon presiden yang bukan pilihannya. Yang agak kalem dan saleh mungkin bersiap menyambut puasa sunat tengah Sa'ban, sebelum benar-benar larut pada Ramadan yang akan datang. Yang kalem, saleh, dan lumayan bisa memanfaatkan peluang, tengah menimang surat panggilan pemilihan suaranya untuk, suatu hari, ditukar dengan sedikit uang. Pasti lumayan untuk belanja berbuka.

Sudah tak cukup yakin bisa meningkatkan iman dan takwa saat puasa, tak cukup bersemangat untuk berencana berangkat ke bilik suara, sementara novel baru tak terbit juga, maka Piala Dunia adalah harapan saya hampir satu-satunya.

Ada dua novel tentang sepakbola, masih dalam kepala. Ada dua naskah lama yang seharusnya diterbitkan ulang, tapi siapa yang mau baca? Ada banyak film dan soundtrack lagu India yang sudah diunduh dan belum disimak, tapi masa itu melulu? Karena tak mungkin menunggu mulainya Piala Dunia sambil mati bosan mendengarkan uraian yang tak pernah diuji dari Burhanudin Muhtadi, dan tak mau menghabiskan waktu menyimak berita bola ala suratkabar online yang berisi tebak-tebakan, saya memutuskan untuk balik ke Belakang Gawang, tempat persembunyian yang hampir dua musim ini saya tinggalkan.

Dan buku Soccer in Sun and Shadow-nya Galeano. Buku buah tangan seorang teman yang kini sudah penuh coretan. Buku yang, bagi seorang penggila bola, sangat menggiurkan. Tapi juga menggentarkan—mengingat angka 3 dalam Bahasa Inggris yang saya dapat pada ujian nasional di tiga jenjang.

(Tapi Darmanto bisa, kenapa saya tidak?)

***

Eduardo Hughes Galeano, seperti yang dengan terbata saya baca di Wikipedia, adalah penulis Uruguay yang gagal menjadi pemain sepakbola. Ia menulis buku sejarah, novel, dan esai tentang bola. Nyeni dan kiri, membuatnya selalu berurusan dengan jenderal-jenderal sayap kanan. Tahun 1973 terjadi kudeta militer di Uruguay. Ia dibui dan terpaksa menyingkir. Bukunya tentang sejarah Amerika Latin, Open Veins of Latin America, dilarang di beberapa negara. Ketika tinggal di Argentina ia kembali harus terusir setelah namanya masuk daftar orang yang harus dilenyapkan oleh para begundal Jenderal Videla.

Soccer in Sun adalah buku yang indah, begitu kata yang pernah membacanya. Saya mempercayainya dan karena itu berusaha membacanya—sebisanya. Dan saya rasa begitu—kalau tidak salah. (Karena takut salah itulah, saya mencoba menerjemahkannya, dan membaginya dengan beberapa gelintir pembaca Belakang Gawang.)

Tapi ‘indah’ tak mencukupi untuk menggambarkan buku ini. Membaca Soccer in Sun, dalam pengalaman saya, seperti melihat cuplikan gol dan trik-trik Maradona, atau dagu mendongak dengan kerah tegak Cantona, atau diving Suarez, atau wawancara Mourinho. Atau, sepakbola itu sendiri.

Indah jelas. Tapi kepahitan juga ditemukan di banyak bagian. Ledakan tawa tercetak satu halaman dengan rasa ngungun dan murung. Main-main ada. Serius dan berdarah-darah lebih banyak lagi. Di atas semuanya, adalah rasa agung. Dan memang demikianlah sepakbola.

Orang banyak menyebut sepakbola sebagai permainan. Saya meyakininya sebagai seni budaya. Dan hal itulah yang saya temukan pada Soccer in Sun. Seperti seni budaya yang lain, berlawanan dengan harapan naïf dan rasis dari mantan Presiden FIFA Stanley Rous, sepakbola tak bisa dibahas sebagai dirinya sendiri dan tak mungkin dikucilkan dari apa yang terjadi di sekitarnya. Pasar saham di New York, harga tebu di Dominika, penulis yang mati bunuh diri di Rusia, kelaparan di Haiti, hingga pembantaian PKI di Indonesia, semua memiliki keterkaitan dengan sepakbola. Demikian Galeano meyakininya dan meyakinkan saya.

“Militer memandikan Indonesia dalam kubangan darah. Setengah juta, sejuta, atau entah berapa, mati. Jenderal Soeharto meresmikan kediktarotannya yang panjang dengan membunuh orang-orang merah, kemerah-merahan, atau yang dicurigai merah yang masih hidup…” demikian Galeano membuka kalimatnya saat hendak menulis Piala Dunia 1966 Inggris. Indah, bukan?

***

Sembari menunggu Piala Dunia, agar tak terjebak menonton—meminjam istilah seorang teman—berita banjir bandang di Metro TV yang sebenarnya kencing Surya Paloh dan berita Topan di TVOne yang sesungguhnya kentut Bakri, saya bermaksud menerjemahkan beberapa tulisan dari Soccer in Sun yang terkait Piala Dunia untuk Belakang Gawang.

Itu untuk saya.

Untuk Anda? Jika terlalu sibuk membela calon presiden pilihannya atau menyerang calon presiden orang lain, tak apa, lewatkan saja—toh, calon-calon itu tak omong apa-apa tentang sepakbola. Atau, yang tengah khusuk menyambut Nisfu Sa’ban, ini jelas tak terlalu penting. Tapi, yang jelas, Belakang Gawang tak hendak menyabotase pemilu, apalagi membawa insan kepada jalan kesesatan. Jadi, ke TPS-lah, puasalah, dan coba bacalah. Insyaallah Anda akan jadi pemilih saleh yang lebih baik.

(Tapi mohon tak berharap terlalu tinggi—mengingat angka 3 dalam Bahasa Inggris yang saya dapat pada ujian nasional di tiga jenjang pendidikan.)   

***   

Oh ya, ngomong-ngomong, apa kabar dengan tiki-taka?

1 comment: