Thursday, September 20, 2012

Sepakbola

Oleh Eduardo Galeano

Sejarah sepakbola adalah sebuah perjalanan menyedihkan tentang keindahan yang berubah menjadi tugas yang menjemukan. Saat olahraga menjadi industri, keindahan yang mekar dari kegembiraan bermain-main dicampakkan dari akarnya yang terdalam: permainan. Di era ini, pesepakbola profesional beranggapan bahwa semua yang bermain-main tak ada gunanya, dan tak berguna berarti tak menghasilkan keuntungan. Tak seorang pun akan mendapatkan uang dari perasaan hebat ini: sebuah momen yang mengubah laki-laki dewasa menjadi anak kecil yang asyik dengan balonnya, seperti seekor kucing dengan bola karetnya; seperti seorang penari balet dengan bola kristal-bercahaya atau gulungan pitanya. Seseorang yang bermain bahkan tanpa sadar ia sedang bermain-main, tanpa tujuan, tanpa batas waktu, tanpa lapangan bergaris tepi, tanpa wasit meniup peluit.

Permainan telah menjadi tontonan, dengan sekelompok pahlawan dan ribuan penonton: sepakbola untuk siaran. Dan tontotan menjadi salah satu bisnis yang paling menjanjikan di dunia, digerakkan tidak untuk menghadirkan permainan, tetapi bahkan untuk merusaknya. Teknokrasi olahraga profesional dikelola untuk menghadirkan kilatan kecepatan dan brutalitas kekuatan. Dan bisnis siaran menghadirkan jenis sepakbola yang membenci kegembiraan, membunuh fantasi, dan menghancurkan nyali.

Untunglah, di tengah lapangan, kau masih dapat menyaksikan, meskipun hanya sekali untuk waktu yang panjang, sedikit berandal kurang ajar yang melesat diluar skenario dan berlari sambil menggiring bola, melewati seluruh lawan, wasit dan meninggalkan kerumunan yang berdiri dibelakangnya. Semua itu untuk kenikmatan ragawi bermesraan dengan sebuah penjelajahan terlarang menuju kebebasan.

No comments:

Post a Comment