Friday, August 17, 2012

Seandainya Saya Fans United (2)


Oleh Mahfud Ikhwan


Seandainya saja fans United, ini adalah hari-hari di mana hati tengah berbunga-bunga.

Begitu musim berakhir, United telah mendapat tanda tangan Kagawa. Bocah Jepang yang dibesarkan Ragnick di Signal Iduna Park selama dua musim itu, datang ke Manchester tak hanya dengan sensasi kalau ia berpacar seorang AVN Idol, tapi juga dengan serangkai penampilan pramusim yang sangat menjanjikan. Dan, di tengah pekan ini, hati yang berbunga-bunga itu akan pecah berantakan oleh euforia yang tak tertahankan. Van Persie, top skorer musim lalu, penyelamat Arsenal di paroh terakhir musim dengan gol-gol sehingga menghindarkan Gudang Peluru bernasib seperti Inter di Italia, telah bermusim-musim menebar ketakutan di barisan belakang United yang menua. Dan kini, monster kidal yang semakin terasah kaki kanannya itu, ada di kubu mereka.

Bingkisan lebaran yang luar biasa, bukan?

Kagawa menegaskan bahwa visi yang selama ini dipakai Fergie membesarkan United masih dipakai: mendatangkan pemain muda. Datang dengan status yang jauh lebih mentereng jika dibanding kebanyakan pemain-pemain belia yang didatangkan Fergie ke Old Trafford belakangan ini (dengan dua gelar Bundesliga bersama Dortmund), Kagawa adalah wujud bahwa sebuah tradisi bagus dan terbukti sukses dari sebuah klub hebat masih terus dipertahankan. Sembari mengenang musim 1999 dengan bangga, seorang pencinta United mungkin kini sudah mereka-reka di kepalanya tentang sebuah tim, dengan de Gea, Smalling, John, Cleverly, Kagawa, Welbeck, dan Chicarito ada di dalamnya, akan mengangkat treble saat usia mereka belum lagi 25.

Tapi datangnya van Persie—melebihi semua itu—bukanlah sebuah bayangan, tak semata visi. Tanda tangannya di depan dewan direksi United adalah sebuah gol di menit pertama; sebuah gebrakan yang menandakan bahwa United akan kembali mendapatkan apa yang selama ini menjadi haknya—gelar demi gelar. Siapa pun yang intens mengikuti United dari masa ke masa, akan tahu apa arti dari bergantinya van Persie dari baju merah berlengan putih ke baju merah kotak-kotak. Ia adalah sekepal batu yang bisa menjatuhkan dua burung dalam sekali lempar.

Menilik betapa musim lalu van Persie hampir sendirian membawa Arsenal tetap bertahan di habitatnya di empat besar, memindahkannya dari Emirates ke Old Trafford sama halnya mencuri separoh peluru dari meriam putus asa yang telah sewindu lebih tanpa piala itu. Jika saya fans United, saya akan berani berpikir bahwa mengambil van Persie dari para Gooner sama halnya memreteli dua tangan Michael Pelps sebelum menceburkannya ke kolam renang; ia mungkin tetap akan bisa mengapung di air (karena ia Michael Pelps), tapi ia musti butuh waktu untuk bisa berenang tanpa lengan. Mereka boleh punya Podolski, Girroud, dan terakhir Carzola, tapi normalnya, mereka tentu butuh waktu.

Yang mungkin lebih menggembirakan, kedatangan van Persie ke kompleks latihan Carrington pastinya juga jadi kemenangan pramusim yang mengesankan atas musuh lama tapi baru—si kaos abu-abu. Ya, ini memang bukan pertandingan yang seharusnya—bagaimana mungkin United absen dari Community Shield setelah lima musim berturut-turut? Ini juga tanpa piala. Tapi, percayalah, gengsi dan arti besarnya luar biasa. Menjadikan van Persie pasangan Rooney di Theatre of Dream dan bukannya jadi cadangan Balotelli di Carravan of Oil bisa berarti: 1) mengalahkan mereka dalam berebut pemain yang diinginkan—hal yang dalam tiga musim terakhir sulit sekali dilakukan oleh klub manapun saat berhadapan dengan City; 2) menunjukkan pada dunia bahwa, tak seperti yang dalam beberapa musim terakhir ini banyak dibicarakan, Fergie bisa kembali berbelanja dengan duit besar (United tetap klub kaya, tau!); 3) seorang pemain hebat yang ingin memperoleh gelar telah menunjukkan kalau ia lebih memilih tradisi dibanding sensasi; 4) MU telah lebih dari siap untuk meraih gelar, sebagaimana biasa.

Sementara melihat tetangga sebelah kebingungan mau menjual pemain-pemain tak bergunanya namun menghabiskan alokasi gaji, menunggu Arsenal bertransisi, mengamati Chelsea yang mantap dalam belanja untuk keperluan di lapangan tapi sangat ragu di sektor bangku cadangan, Spurs yang tengah coba-coba, dan Liverpool yang sepertinya memilih proyek jangka panjang, jika saya fans United, saya akan sangat yakin menyongsong liga musim ini.

***     

Tapi saya bukan fans United. Dan, tentu saja, saya punya pandangan lain. Juga perasaan lain.

Begitu mendengar mereka berhasil mendaratkan van Persie,  para pembenci United pastilah blingsatan seketika. Betapa mengerikannya membayangkan van Persie satu baju dengan Wayne Rooney—dua nama yang selalu mengisi daftar pencetak gol-gol hebat di EPL dalam beberapa musim terakhir ini. Para pendukung tim lain pastinya akan berharap-harap cemas dengan nasib penjaga gawang mereka. Jika pada musim 2011 United bahkan bisa juara dengan mengandalkan Chicarito, seorang striker yang ‘kebetulan’ tajam, bagaimana jika mereka memiliki dua orang striker kejam?

Tapi, para pembenci United, coba duduk sebentar, lalu tenangkan pikiran. Dan, dalam beberapa saat, kalian akan menemukan bahwa kalian tak perlu secemas itu. Van Persie datang ke United dengan transfer 24 juta Pound, usia 29, dan riwayat cedera yang panjang dalam CV-nya. Jadi, percayalah, itu bukan hanya belanja yang tak terlalu brilian dari Sir Alex, tapi bahkan berisiko.

Saya agak sulit mengerti bagaimana staf medis MU begitu saja mengabaikan rentannya otot kaki van Persie. Mungkin 32 golnya musim lalu menghapus jejak kurang baik itu, termasuk menghapus jejaknya yang samar di tim Arsenal pada tujuh musim sebelumnya yang tanpa gelar dan tanpa peran yang semenonjol Fabregas atau bahkan si bengal Nasri. Tapi, bisa jadi, dalam 24 juta Pound itu, MU memang tak hanya membeli kaki kiri van Persie, tapi juga menghidup-hidupi bayangan mereka sendiri tentang betapa akan lemahnya salah satu musuh mereka, Arsenal—setelah mereka gagal berebut Eden Hazard dengan Chelsea musim ini dan dipermalukan City saat mereka membajak Tevez tiga musim lalu.

Tapi yang lebih membingungkan adalah kenapa mereka membeli striker, sementara yang mereka butuhkan adalah pemain tengah. Dengan melambatnya Berba, munculnya Chicarito dan prospektifnya Welbeck, dan tetap kokohnya Rooney, tak pernah membuat MU jadi tim mandul—apalagi jika Young terus saja mengasah keterampilannya dalam hal menjatuhkan diri. Dalam hemat saya (seperti yang pernah saya utarakan dalam tulisan tentang United sebelumnya), United membutuhkan seorang playmaker lebih dari apapun. Jadi, cukup mengherankan jika mereka membawa buku cek itu ke London dan bukannya ke Milan, sebab seharusnya mereka tidak membutuhkan van Persie melainkan rekan setimnya di timnas Belanda, Sneijder. (Jika pun mereka ke London, bidikan seharusnya diarahkan ke White Hart Lane, di mana seorang pemain tengah elegan yang sudah tak kerasan, namanya Luka Modric, sedang menunggu pinangan.)

Dengan mata telanjang dapat dilihat, apa yang membuat mereka diempaskan City pada musim lalu adalah level pemain-pemain tengah mereka yang rendah. Fletcher pemain bagus, tapi tim seperti MU tentu saja membutuhkan lebih dari sekadar pemain bagus. Anderson akan tampak sebagai pemain hebat jika ia bermain di tim yang nyaman dengan peringkat 12 atau 10 di tabel liga.

Tapi, meski bukan fans United, dengan bergabungnya Kagawa dan van Persie, saya berharap MU tetap akan mampu bersaing. Paling tidak dengan Arsenal.


1 comment:

  1. 8 Bulan berlalu dan saya sebagai fans United sangat senang dengan kehadiran Van Persie :)

    ReplyDelete