Saturday, June 2, 2012

Catatan dari Atas Truk: dari Desa Saya Sampai Italia


Oleh Mahfud Ikhwan


Truk dengan Tujuan Masa Lalu

Sejak jauh hari, saya dipesan teman-teman untuk tak cepat-cepat balik ke Jogja. Tahun-tahun belakangan ini, mereka punya kebiasaan baru: nonton pertandingan kandang Persela. Mereka ingin saya ikut serta—sebab mereka tahu, saya belum pernah melihat secara langsung permainan tim kebanggaan mereka itu. Saya menyanggupi—dengan senang hati. Maka, tibalah tanggal 31 Mei. Persela menghadapi Deltras Sidoarjo.

Desa kami mungkin adalah desa di Lamongan yang terjauh jaraknya dari Stadion Surajaya. Karena itu, persiapan keberangkatan itu sudah terlihat bahkan sebelum azan dhuhur mengalun. Beberapa orang dengan atribut Persela sudah tampak bersiap di pertigaan desa saat saya baru beranjak pulang dari warung kopi untuk pulang dan bersiap. Tak punya atribut apapun dengan klub yang pada masa remaja saya sama sekali belum terdengar itu, tak juga memiliki kaos dengan warna abu-abu (warna yang tak pernah saya punyai kecuali di celana SMA), saya menyabet kaos biru yang ada di rumah. Di depan masjid, sebuah truk pasir sudah menunggu; seorang juragan material pencinta Persela menyediakan gratis untuk kami. Benda itulah yang akan mengantar kami menonton salah satu pentandingan di—mengutip presenter ANTV—“liga sepakbola terakbar di Indonesia”.

Menunggu semua penonton yang akan ikut ke Lamongan naik, truk itu tak langsung berangkat. Namun, belum lagi truk itu berangkat, saya merasa telah sampai ke tujuan yang sebelumnya tak saya duga akan sampai ke sana: masa lalu. Ya, naik ke bak truk, menunggu semua yang akan berangkat lengkap, dan seseorang yang jadi ketua rombongan mengutip uang dari setiap penumpang agar nanti lebih mudah dikoordinasi saat sudah sampai di lokasi, benar-benar membawa saya ke masa kecil saya, saat saya akan selalu ikut bapak—dengan antusiasme luar biasa—mengikuti laga-laga tandang tim kesebelasan desa kami ke desa-desa di seputaran Lamongan-Gresik-Tuban.

Saat itu, sepakbola di televisi masih jadi sekadar pesta empat tahunan saja. Galatama masih ada, Perserikatan masih dimainkan, tapi hampir semuanya—kecuali beberapa partai penting—hanya disimak dari radio sebagai siaran pandangan mata. Liga Indonesia edisi pertama bahkan belum terdengar sedang direncanakan. Dengan truk bak terbuka, kami mengantar kesebelasan desa kami, Persatuan Sepakbola Karangtaruna (Perseka) Lembor, ke banyak desa lain. Dengan truk kami menang, kalah, senang, susah. Dengan truk juga, tanpa bermaksud berlebihan, kami bertemu sukacita dan juga bencana. Kami, tim dari sebuah desa tak dikenal, pernah menantang kesebelasan besar dan menang saat tandang. Tapi, kami pernah dipaksa pulang berjalan kaki puluhan kilo meter ketika, tanpa disengaja, truk yang kami tumpangi diamanakan polisi setelah melindas mati seorang pejalan kaki.

Tak diragukan, truk adalah bagian dari sejarah sepakbola di desa kami.



(Liga) Indonesia bagian dari (Sepakbola) Desa Saya 

Tapi, sebenarnya, beberapa hari sebelum keberangkatan ke Lamongan itu, aroma masa lalu itu telah tercium. Dua pekan sebelum pertandingan yang hendak kami tonton itu, tongkrongan dan lingkaran-lingkaran obrolan di bangku-bangku pinggir jalan atau di meja-meja warung kopi, sepakbola Indonesia adalah menu obrolan utama, terutama soal kekalahan yang tragis dan menyesakkan dari PSMS Medan pada 20 Mei 2012. Tentu bukan karena obrolan itu serupa obrolan Abraham Isnan dengan John Halmahera pada ujung siaran pertandingan semifinal Perserikatan antara PSMS Medan vs Perseman Manokwari atau narasi Max Sopacua untuk sebuah review dari partai kompetisi Galatama antara Perkesa Mataram vs BPD Jateng di acara Arena dan Juara. Tapi karena obrolan soal kekalahan Persela itu serupa sekali dengan saat kami dulu mengobrolkan kekalahan kesebelasan desa kami sendiri.

Persela kalah pada sebuah pertandingan yang seru tapi brutal. Sempat dua kali unggul dengan selisih dua gol, Persela akhirnya kalah dari PSMS dengan angka 4-3. Merasa diperlakukan tidak adil oleh wasit Suharto dan terintimidasi oleh penonton di Stadion Teladan, juga pasti karena kecewa terhadap diri sendiri sebab tak sanggup mempertahankan keunggulan, para pemain Persela mengamuk dengan menyerang wasit Suharto.

Teman-teman di warung kopi tak bisa menyembunyikan kegusarannya. Uniknya, cara kegusaran soal kekalahan Persela itulah yang mengingatkan saya pada cara kami merutuki kekalahan kesebelasan desa kami sendiri. Ketika mereka bicara soal Dedi Indra yang diseret keluar oleh Osas Marvelous saat cedera (atau mungkin pura-pura cedera), terasa seakan-akan Dedi Indra adalah teman atau tetangga kami. Cara mereka memaki pemain-pemain PSMS, mencela kepemimpinan wasit, dan mengutuk perlakuan buruk suporter Ayam Kinantan, seakan tim, wasit, dan para suporter ini secara geografis terjangkau oleh kami dan sewaktu-waktu kami bisa menggruduk mereka jika berpapasan di jalanan—seperti yang banyak terjadi di desa-desa di kawasan Pantura Lamongan.

Meski tak memiliki reputasi sebagai biang onar, kami biasa menyebut pertandingan sepakbola sebagai musuhan. Jadi, kami terbiasa menyikapi sebuah pertandingan sepakbola sebagai ajang pertempuran dan sering kali pembalasan dendam. Nada-nada serupa itulah yang mewarnai pembicaraan tentang kekalahan itu. Mereka mengutuk cara pemain Persela diperlakukan oleh suporter PSMS. Tapi, mereka mengutuk diri sendiri karena tak akan bisa melampiaskan dendam pada PSMS dan suporternya secepatnya, karena PSMS sudah lebih dulu tandang ke Persela pada putaran pertama. Oleh sebab itu, mereka tak sabar menunggu musim berikutnya. Tapi, di samping itu, mereka telah mengancam akan diam-diam membawa panah ke stadion jika sewaktu-waktu wasit Suharto bertugas di Stadion Surajaya. (Tentu saja, ucapan itu agak sulit dipercaya kesungguhannya. Kami bukan warga desa yang punya catatan sebagai biang rusuh; beberapa desa tetangga malah mengcap warga desa kami sebagai penonton yang terlalu kalem, meski memiliki kesebelasan yang cukup disegani di kawasan sekitar. Lagi pula, saya tak tahu, bagaimana cara mereka menyembunyikan panah itu dari pihak keamanan. Saya juga tak tahu, siapa di antara mereka yang masih memiliki kepandaian memanah. Apalagi, setelah tahu, kalau jarak antara tribun dan lapangan di Surajaya sangatlah jauh.)

Cara dan ekspresi itu tidak mengejutkan di satu sisi, tapi mengejutkan di sisi lain. Tidak mengejutkan, sebab saya sangat mengenal ekspresi semacam itu; itulah cara purba kami menyikapi sebuah pertandingan sepakbola. Tapi, sekaligus mengejutkan, karena pada dasarnya saya menduga telah banyak hal berubah berkait dengan persepsi kami terhadap sepakbola. Dan, saya ternyata salah.

Desa saya selalu tergila-gila dengan sepakbola, itu tak diragukan. Namun, sepanjang yang bisa saya ingat, dulu, kegilaan itu tak banyak beranjak dari batas-batas desa. Jadi, satu-satunya sepakbola yang benar-benar mampu menyita perhatian mereka adalah kesebelasan desa kami sendiri. Kebanyakan orang tentu menonton pertandingan-pertandingan tim nasional Indonesia yang disiarkan TVRI. Juga siaran Piala Dunia empat tahunan di saluran yang sama. Tapi, hanya di situ saja. Sepakbola level klub, entah itu di liga-liga Eropa yang apalagi klub di Indonesia, tak pernah menjadi perhatian mereka—seperti yang belakangan ini terjadi.

Saya masih ingat dengan jelas, pada akhir ’80-an, orang-orang mengutip kalimat bapak saya, “Hancur Kramayuda!”, dengan nada mengejek. Itu terjadi karena bapak saya, mungkin dengan sedikit naif, bercerita kepada banyak orang tentang kekalahan telak Kramayudha atas Niac Mitra pada sebuah pertandingan Galatama yang biasa disimaknya lewat siaran RRI Surabaya, sementara hampir tak ada orang selain dirinya di seantero desa yang mengenal apa itu Kramayudha dan tak cukup peduli apakah klub itu hancur atau berjaya. Siaran laga-laga Liga Indonesia musim-musim awal biasanya saya tonton sendirian, karena teman-teman seumuran biasanya lebih memilih berangkat ke lapangan untuk main bola. Bahkan, pada 1995, bersama seorang teman, saya musti berjalan malam-malam sejarak sepenanakan nasi melewati batas desa dan hutan bambu agar bisa menonton final Liga Champions antara AC Milan vs Ajax di sebuah pesawat tv hitam-putih di desa sebelah, karena saat itu tak satu pun pemilik pesawat tv di desa saya tertarik menyalakan tv untuk final Liga Champions.

Listrik yang masuk belakangan, dan teknologi elektronik yang semakin terjangkau harganya, juga banjir siaran sepakbola di media siar kita, jelas mempengaruhi cara mereka mencerna dan menikmati sepakbola. Misalnya, final Liga Champions, sekarang selalu ditonton dengan pakai layar besar, bahkan dengan acara-acara setengah pesta—paling tidak, sudah dua tahun berturut-turut ini saya mengalaminya.
Tapi, kemunculan Persela ke pentas sepakbola nasional 10 tahun terakhir, tampaknya membawa dampak sangat besar—terutama pada cara cerna mereka terhadap sepakbola Indonesia. Jika 15 tahun lalu, orang-orang tak memedulikan klub besar macam Kramayudha, kini mereka membicarakan perpindahan seorang striker tak dikenal dari PSAP Sigli ke Persiram Raja Ampat seakan dia adalah Eden Hazard. Di sebuah dinding warung kopi, jadwal laga Persela yang disiarkan ANTV ditempel rapi dan hati-hati seakan itu adalah jadwal imsakiyah bulan Ramadan.

Tapi, untuk banyak hal—seperti yang sebagian telah saya ceritakan—tak banyak yang berubah. Kecuali scraft ala Inggris Raya yang melilit di leher dan topi bertanduk ala penonton Skandinavia, tak cukup terlihat ada gejala “kebarat-baratan” pada para penonton generasi baru. Tubuh dan kepala mereka, gerak-gerik dan pola perilaku menonton sepakbola, tak terlalu berbeda dengan bapak-bapak kami dulu. (Mulut-mulut kotor yang celometan mulai dari atas truk dan kemudian berlanjut di pinggir lapangan tak pernah berubah dari dekade ke dekade, demikian juga perasaan puas saat melihat pemain tim yang didukungnya menggasak pemain tim lawan hingga terkapar, masih seperti yang dulu-dulu.) Mungkin ada tanda-tanda pengglobalan sepakbola tengah terjadi di desa kami, tapi yang jauh lebih kentara adalah pelokalan yang nasional maupun yang global.



Dalam kasus Persela, tampak jelas bahwa sesuatu yang nasional (Liga Indonesia) diringkus dalam cara pandang yang tetap lokal (ala tarkam dan galadesa). Artinya, seiring dengan semakin semaraknya persepakbolaan Indonesia pada level klub, bukan desa kami yang mulai masuk jadi bagian dari sepakbola Indonesia, tapi sepakbola Indonesialah yang justru jadi bagian dari cara pandang sepakbola di desa kami.     


Surajaya: yang Desa, yang Indonesia, yang Italia

Memasuki kawasan Surajaya menjelang pertandingan, memberi kita pemandangan yang umum ditemukan pada stadion-stadion di Indonesia: pasar kaget bertebaran, calo tiket berkeliaran, berkompi-kompi petugas keamanan, dan suporter-suporter berusia tanggung yang berjubelan. Tapi, begitu masuk, saya menemukan hal yang relatif sama dengan apa yang saya temukan terjadi di desa saya: sepakbola Indonesia dan segala anomalinya.

Secara fisik, Surajaya menjelaskan secara hampir sempurna apa yang terjadi dengan sepakbola Indonesia. Lapangan pertandingan, ke arah mana kamera televisi ANTV hari itu akan menyorotkan moncong lensanya, tampak dengan sekuat tenaga dibuat untuk terlihat bagus di layar kaca. Dibanding yang kita lihat di televisi pada awal musim kompetisi, permukaan lapangan jelas tampak jauh lebih baik, meski beberapa cekungan masih bisa dilihat dari kejauhan, sementara garis lapangan, sebaliknya, terlihat agak samar. Kita tahu, semakin dekat ke 2014, lapangan-lapangan yang muncul di layar kaca, tak boleh kalah rapi dengan wajah para calon presiden.

Tribun juga menunjukkan wajah sesuangguhnya sepakbola kita. Jarak yang jauh dari lapangan (mungkin mencapai 10 meter), dengan parit yang lebar dan pagar yang tinggi, menjelaskan bagaimana suporter sepakbola kita dipersepsi—bahkan oleh para stakeholder sepakbolanya sendiri. Jarak lapangan dan tribun yang begitu jauh, juga parit dan pagar, sangat bisa diartikan bahwa dalam sepakbola kita, suporter masih ada dalam posisi dipinggirkan sekaligus juga ditakuti. Kebersihan tribun, yang kontras dengan terawatnya lapangan, juga menegaskan bagaimana suporter diposisikan. Teras terlebar sekaligus terbawah dan terdekat dengan parit di tribun timur, misal, yang tak akan mungkin kita temukan terpampang di layar kaca, seperti jalan setapak kotor tempat comberan yang mulai kering menyatu dengan sampah sobekan karcis yang dipindahkan oleh angin dari pintu masuk, tampaknya tak dibersihkan selama semusim terakhir. Dan, penonton musti membayar 20 ribu untuk tribun semacam itu.

Dalam tribun yang semacam itu, tentu sedikit berlebihan jika diharapkan menjadi tempat yang nyaman bagi keluarga, tempat para ibu muda dan anak-anak manis menikmati manisnya hiburan yang disediakan suami dan ayah budiman mereka. Mungkin akan muncul satu-dua gadis manis di layar kaca dari tempat itu (karena para juru kamera ANTV memang sebisa mungkin mencarinya). Tapi, selebihnya adalah bocah-bocah tanggung dan para lelaki dewasa—sebagaimana yang bisa kita temukan di pinggir-pinggir lapangan desa saat sepakbola sekaligus adu kejantanan dipertontonkan. Maka, adegan yang biasa dijumpai di pinggir lapangan atau jalan desa juga masih bisa ditemukan di sebagian besar sektor di Surajaya. Setiap perempuan yang lewat, apalagi wandu (transgender), akan langsung disambut dengan sorakan dan siulan penuh gairah seakan Gustavo Lopez baru saja mengirim umpan indah.



Mencoba mencari suasana yang berbeda, saya dan beberapa teman memutuskan untuk mencari tempat lain. Saya menuju tribun belakang gawang di sektor utara. Pertama, karena alasan praktis bahwa tribun itu masih kosong-melompong saat kami datang. Kedua, tahu sendirilah... Masih tetap kosong hingga mendekati waktu pertandingan, suasana berbeda itu kemudian muncul. Secara bersamaan, datang ratusan orang dengan kaos hitam—yang jelas tampak berbeda dengan lautan warna abu-abu di sore itu. Terdiri atas lelaki dan perempuan, hampir keseluruhan dari mereka adalah bocah-bocah tanggung—beberapa bahkan mungkin saja masih di tahun awal sekolah menengah pertamanya. Tulisan di kaos yang mereka pakai dan bendera-bendera raksasa yang mereka bawa memberi tahu siapa mereka. Paling tidak, dalam rombongan itu, saya mencatat dua identitas: pertama, Ultras Persela; kedua, Curva Boys. Semboyan-semboyan disablonkan di punggung, dan yel-yel yang mulai mereka teriakkan begitu seluruh anggota rombongan itu telah lengkap menjelaskan dari mana mereka meniru. “Forza Persela Vinci Per Noi” tertulis di punggung kaos hitam dengan sablon warna abu-abu. “Forza Persela! Persela Campeone!” diteriakkan oleh pemandu yang kemudian diikuti oleh semua anggota.

Suasana berbeda itu jelas melebihi ekspektasi. Untuk beberapa saat, saya seperti tidak berada di sektor utara Stadion Surajaya, tapi di curva sud stadion-stadion kecil namun riuh di Italia; mungkin di Via del Mare milik Lecce atau di Armando Picchi-nya Livorno. Atraktif bahkan sejak pertandingan belum dimulai, mereka pastilah idaman produser acara olahraga tv mana pun juga. Membuat lagu-lagu sendiri yang hampir semuanya baru, tak ikut-ikutan menyanyikan “Iwak Peyek” atau lagu-lagu umpatan untuk Bonek, mereka juga akan mudah disukai oleh para penyuka sepakbola terdidik yang ingin melihat sepakbola kita tampak lebih “beradab”. Bahkan, seorang teman yang menonton di tribun lain mengagumi kekompakan mereka ketika serempak mencopot kaos saat hujan menderas. “Seperti semangkuk coklat,” begitu kira-kira komentar teman itu seusai pertandingan. Dan, jika saya menonton di rumah, saya pasti akan menyukai mereka.



Tapi, terus terang, mereka bukan teman menonton di stadion yang menyenangkan—paling tidak untuk saya pribadi. Mereka terus bernyanyi, menari, bertepuk tangan, menabuh drum, berloncatan, meneriakkan yel-yel, membuat gerakan pozhnan ala suporter Man City secara berulang-ulang, tapi saya hampir-hampir tak menemukan mereka menonton sepakbola. Saya bahkan tak melihat ekpresi mereka berubah (apakah menjadi kendor atau malah menggila) saat gol Qischil pada menit ke-40-an (saya tak tahu persisnya) membuat Persela tertinggal dari Deltras. Itu jelas membingungkan.

Karena saya dan beberapa teman berada di tengah-tengah mereka, dan karena itu dengan terpaksa maupun sukarela musti ikut nyanyian, gerakan, dan yel-yel mereka, sepanjang pertandingan babak pertama, saya sangat sulit memfokuskan pandang ke pertandingan yang berlangsung di lapangan. (Jarak tribun yang jauh dan hujan sangat deras menjadi masalah lain juga.) Mungkin ini prasangka, tapi, rasa-rasanya, saya menduga mereka datang ke stadion bukannya untuk melihat suguhan umpan-umpan Gustavo Lopez dan gol-gol Mario Costas (sebagaimana yang mereka nyanyikan), tapi ingin menyuguhkan “permainan” mereka sendiri. Karena itulah, begitu pergantian babak, kami memutuskan untuk menyingkir ke tribun lain.

Masih di lokasi yang sama, namun berbatas sekat, saya akhirnya menemukan tribun yang membuat saya at home (proposisi yang aneh, ‘kan?). Sektor itu didominasi anak-anak dan perempuan. Tapi, justru, tepat di sinilah atmosfir pertandingan paling bagus bisa ditemukan. Setiap kejadian kecil di lapangan memperoleh reaksi yang sesuai. Peluang yang gagal mendapatkan pujian sekaligus umpatan, serangan yang berbahaya mendapatkan sorakan dan tepuk tangan, dan sebuah gol penyama membuat kami semua keranjingan. Seorang perempuan berkerudung yang duduk di teras di belakang saya menegur saya yang berdiri karena merasa terhalang. Sebentar kemudian ia terdengar memaki Rudi Widodo yang salah umpan. Dan lain kali, bersama anaknya yang kira-kira 10 tahunan, juga bersama sebagian besar seluruh  keduanya serempak memaki wasit Thoriq Alkatiri yang tak mengesahkan gol Jimmy Suparno.

Menjelang pertandingan berakhir, terjadi keributan di sektor di samping kami; sektor yang kami tempati pada babak pertama, tempat para Ultras dan Curva Boys berada. Polisi merangsek ke arah mereka setelah mereka menggangu pertandingan dengan bom asap yang kelewat tebal. Beberapa orang jelas terluka.


Dari Truk Kembali ke Truk

Sepanjang pertandingan, cuacanya buruk. Persela juga bermain buruk. Hasil pertandingan mengecewakan. Saya kedinginan karena basah kuyup, sementara pakaian ganti di dalam tas juga ikut basah akibat derasnya hujan. Kami kembali ke truk dan mulai membuat catatan, dalam pikiran.


Lamongan, 1-3 Juni 2012

10 comments:

  1. weh, aku wae sampek saiki durung pernah nonton langsung Persela tanding nang surajaya kang,

    ReplyDelete
    Replies
    1. jadi rindu Surajaya

      Delete
    2. jiah lali gak gawe identitas kang...konco IPA-1 Komeng

      Delete
  2. Mas Bro,,, bisa minta no contact sampean ? fb ? twitter ? gamasalah. saya mau tanya2 tentang stadion surajaya. . . trims, salam kenal

    ReplyDelete
  3. silakan memberi nama lengkap,biar enak. trus bisa cari akun fb Mahfud Ikhwan atau kirim email ke belakanggawang@gmail.com. begitu, oke?

    namun, jika untuk obrolan spesifik soal Surajaya (apalagi jika itu berkait dengan detil)saya rasa penulis-penulis di belakanggawang bukan orang yang sangat tepat. Saya (mahfud Ikhwan) bahkan menghasilkan tulisan ini dari kunjungan pertama ke stadion itu. Dan, sejauh ini, itulah kunjungan satu-satunya yang pernah saya lakukan.

    ReplyDelete
  4. Replies
    1. Halo, Boy Moslem. Itu kaos dipakai oleh para Curva Boys Persela. Aku hanya ambil fotonya. Jadi, aku tak tahu kamu harus mesen di mana.

      Delete