Tuesday, December 13, 2016

Jangan Bebani Timnas dengan Beban Hidupmu

Oleh Mahfud Ikhwan

Saat menonton semifinal leg kedua Vietnam-Indonesia, teman yang menonton di samping saya mendukung Vietnam. Ia mungkin kekiri-kirian, tapi dukungannya untuk Vietnam bukan karena mereka tim dari negara komunis. Kurang patriotik, tidak juga. Ia hanya seseorang yang sedang sangat skeptis. “Aku hanya tak mau keberhasilan timnas diklaim penguasa,” begitu ia memberi alasan.

Ia memang bukan penggemar sepakbola, dan kebetulan bukan pendukung pemerintah. Jadi, maklum saja kalau yang mengemuka adalah alasan-alasan yang jauh dari sepakbola. Meski begitu, saya yang menonton untuk mendukung timnas senang-senang saja. Saya jadi ada rival di depan televisi. Acara menonton jadi seru, tidak sepihak. Ekspresi perayaan kemenangan saya, ketika wasit Fu Ming menyudahi 15 menit kedua babak tambahan waktu, jadi punya sasarannya.

Tapi jika pun teman saya itu seorang penggemar sepakbola, sikap tersebut juga akan saya maklumi. Sebab penggemar sepakbola, lebih-lebih sepakbola Indonesia, tahu benar bahwa sepakbola memang bisa dimanfaatkan oleh siapa pun. Siapa pun! Mulai dari kepala negara, ketua partai oposisi, ketua partai bukan oposisi, kepala departemen yang kurang menonjol, kepala daerah yang kurang berprestasi, kepala keluarga yang sedang pusing soal ekonomi, hingga kepala bujangan yang pening karena harus mikir pindah kontrakan.

Gampangnya, banyak sekali kepala yang disandarkan di pundak sepakbola kita.

Tapi itu bukan hal yang terlalu istimewa. Setidaknya, di mana-mana memang seperti itu.

Sepakbola menanggung beban yang jauh lebih berat di tempat-tempat kurang beruntung atau di antara orang-orang melarat. Di tempat-tempat macam itu, sepakbola jadi bukan sekadar permainan, dan olahraga hanya jadi bagian kecilnya saja. Ia harus jadi obat untuk orang-orang sakit; jadi roti untuk orang-orang lapar; jadi bola lampu untuk orang-orang dalam gelap; jadi penghiburan untuk orang-orang susah. Dalam banyak kasus, sepakbola bahkan jadi agama untuk orang-orang yang tersesat.

Itulah kenapa Maracanazo, kekalahan Brazil di final Piala Dunia ’50, jadi tragedi nasional yang melegenda, melebihi kisah kekalahan di mana pun. Itu juga yang membuat perang konyol yang disebut Football War antara Honduras dan El Salvador pada 1969 bisa terjadi dan masuk akal. Itulah sedikit alasan kenapa hooliganisme merebak di era Theacher, masa ketika Inggris secara ekonomi sedang murung dan mundur setelah ngos-ngosan membiayai Perang Malvinas. Dan itulah kenapa, pemujaan bak dewa yang didapat Maradona di Naples yang miskin tak akan didapat Maldini di Milan atau Del Piero di Turin yang lebih makmur, meskipun dua nama terakhir mendapat lebih banyak gelar dibanding yang pertama.

Dan, itulah kenapa kita tak membutuhkan penjelasan yang terlalu njelimet untuk tahu kenapa persoalan sepakbola di negeri ini jadi jauh lebih runyam dari seharusnya.

***

Saya ada di antara 80-an ribu suporter Indonesia di Gelora Bung Karno yang dibuat kesurupan oleh gol indah Cristian Gonzales ke gawang Filipina, yang mengantar kita ke final AFF 2010. Tapi, pada saat yang sama, dengan mata-kepala sendiri, saya menyaksikan di seantero stadion terpasang spanduk-spanduk konyol berisi puja-puji kepada ketua PSSI, yang saat itu tengah banyak digoyang. Dan hanya beberapa jam kemudian, seluruh Indonesia menyaksikan tim calon juara itu digiring seperti ternak ke “acara keagamaan” seorang ketua partai. (Mana bisa kita lupa dengan wajah cemberut dan mengantuk Irfan Bachdim di antara kerumunan dan cubitan ibu-ibu pengajian malam itu.)

Dengan salah satu tim terbaik yang pernah kita punya, Indonesia gagal secara memalukan di final, ditaklukkan Malaysia, tim yang mereka gasak 5-1 di babak grup. Orang Indonesia murka. Oligarki partai yang menguasai sepakbola kita selama berdekade-dekade digugat. Dan sekelompok orang, entah siapa dan dari mana, tiba-tiba merasa punya hak untuk “menyelamatkan” sepakbola Indonesia. PSSI belah dua. Klub-klub terlibat perkubuan. Ada kompetisi kembar. Timnas jadi kacau. Lalu, penguasa saat itu, yang tengah sangat tidak populer, dengan sok bijak dan sok pahlawan berlagak menjadi hakimnya. Ujungnya, tak ada. Kita tak tahu lagi, mana hakim, mana jaksa, mana penjahatnya. Semuanya sama.

Di tubir titik nadirnya, tiba-tiba sepakbola kita menemukan tim U-19. Seperti mendapati sumur jatuh dari langit, orang-orang berkerumun, berebut airnya, berebut berkahnya. Nama Evan Dimas, Maldini Pali, Paulo Sitanggang, secara instan jadi lebih dikenal dibanding artis manapun di Indonesia. Wajah mereka beredar di acara-acara gosip, di iklan-iklan, di program-progam penguras air mata. Maka, kisah-kisah ditulis, wawancara-wawancara dibuat, mitos-mitos muncul.

Mereka main dua hari sekali--untuk pertandingan-pertandingan konyol yang sama sekali tak bermanfaat untuk mereka--seakan mereka sebuah boyband remaja yang sedang laris-larisnya. Terpukau dengan skil Evan Dimas, gocekan Ilhamuddin, lari Maldini, dan metode kepelatihan Indra Sjafri, orang Indonesia bukan hanya yakin mereka akan juara Piala Dunia U-21 tapi juga percaya bahwa 8 atau 10 tahun ke depan Indonesia mungkin saja juara Piala Dunia. Ketika mereka gagal melewati fase grup di Myanmar, semua orang segera menyadari bahwa raja dengan pakaian gemerlap yang tengah mereka puja-puja itu tak lebih dari bayi telanjang. Bayi yang masih butuh dipopoki, yang masih harus dibedaki. Faktanya, mereka memang masih sekumpulan bocah.

Seperti semua pencinta sepakbola di Indonesia, saya mendukung mereka. Tapi, kegagalan mereka yang terlalu awal, tangis mereka yang tersedu-sedu, justru melegakan saya. Mereka akhirnya terbebas dari beban yang belum waktunya, dan tak semestinya, mereka tanggung.

Saya waktu itu tak mendukung Vietnam seperti teman saya yang kekiri-kirian itu, tak juga mendukung tim lainnya. Tapi saya tahu, semakin jauh mereka melaju, akan semakin banyak pihak yang mengincar keuntungan atas mereka. Urat leher mereka yang muda, darah mereka yang segar, dan kegilaan yang tengah menyelubungi mereka, pasti tak akan dilepaskan begitu saja oleh stasiun-stasiun tv yang butuh iklan atau pejabat-pejabat gagal yang ingin nampang.

***

Ini Indonesia 2016. Masih banyak orang yang kecewa calon presidennya tak jadi. Tak sedikit orang uring-uringan karena presiden pujaannya dihina. Berbondong orang murka karena merasa agamanya dilecehkan. Tak terhitung buruh di-PHK, orang-orang miskin digusur rumah dan mata pencahariannya, petani diusir dari tanahnya, nelayan dihalau, laut diurug, sawah dibeton. Ini tahun yang berat. Ini Indonesia yang sedang kurang menyenangkan. Jutaan orang, ratusan juta orang, membutuhkan penebusan.

Karena itu, alangkah jahatnya melarang orang-orang malang itu menumpukan harapan pada timnas sepakbolanya. Tapi, berlebihan memberikan dukungan, berlebihan menitipkan harapan, berlebihan membuat ekspektasi—setelah hal-hal buruk yang telah mencengkam dan belum benar-benar pergi dari sepakbola kita—adalah tindakan tak tahu diri. Mendukung dan berharaplah dengan sewajarnya, sepantasnya.

Kepada Pak Presiden, silakan datang ke stadion, berilah dukungan kepada timnas kita, sebagaimana Anda memberikan dukungan kepada rakyat Anda yang sedang memperjuangkan hidup dan cita-citanya, di manapun, di bidang apapun. Tapi cukuplah begitu saja, tak perlu lebih dari itu. Sebab, sejujurnya, saya tak ingin kekuatiran teman saya itu jadi kenyataan. Saya ingin teman saya yang mendukung Vietnam kembali menjadi orang Indonesia selazimnya, yang mendukung timnasnya.

Pak Menteri, Pak ketua partai, dukungan Anda sekalian juga dibutuhkan, sebagaimana dukungan seluruh rakyat Indonesia. Tapi tetaplah jadi pendukung (seperti kami-kami ini), dan bukannya pelatih, apalagi pemain, apalagi jadi semuanya sekaligus. Jika Anda ingin memberi yang terbaik bagi sepakbola Indonesia, ambil kebijakan yang baik dan langkah-langkah yang konkret, dan bukannya mengambil mik dan jadi pusat sorotan kamera, dan mengesankan seakan Anda yang paling punya jasa.

Kepada ketua dan pengurus PSSI, siapa pun kalian, fokus untuk mengurus tiket pertandingan timnas dengan baik, memperlakukan suporter Indonesia dengan sepantasnya, akan jadi bentuk dukungan yang sangat bermanfaat dan dihargai. Membuat kompetisi yang baik dan rapi ke depannya, yang diorientasikan sepenuhnya untuk kepentingan timnas, akan lebih baik. Tapi jika kalian tak melakukan apa pun, itu tampaknya jauh lebih baik lagi.

Kepada teman-teman, para suporter biasa seperti saya, menjadi suporter bijak itu sulit. (Kkalau bijak, cerdas pula, kita tak akan jadi suporter tapi jadi pelatih, ya toh?) Tapi, kita bisa berusaha menjadi suporter yang baik, yang... ehmm... yang tak menumpahkan beban hidupnya kepada 11 pemain yang beban hidupnya tak lebih ringan dibanding kita.

Katakanlah, tak ada di antara mereka yang calon presiden pilihannya nggak jadi, yang presiden yang didukungnya terus-menerus dimaki, yang calon gubernurnya dikriminalkan, yang agamanya dilecehkan, yang rumah atau tanah keluarganya digusur, atau yang desanya diincar pengembang—seperti kita. Tapi, yang pasti, belum lama ini mereka adalah bagian kecil dari sekelompok orang Indonesia yang terancam mata pencahariannya.


Noyokerten, 13 Desember 2016

No comments:

Post a Comment