Friday, December 9, 2016

Kembali (Mencoba) Berharap

Oleh Mahfud Ikhwan


Raut haru itu—apakah Anda menyaksikannya? Alfred Riedl, orang Austria itu, kakek berwajah dingin itu, seperti menahan isaknya di ruang jumpa pers usai mengantar Indonesia lolos ke semifinal AFF 2016. Wajah bulenya memerah, kalimat-kalimatnya (tentu masih tetap dalam bahasa Inggris beraksen Jerman) nyaris terbata. Ia memuji timnya yang masih sangat muda, tak berpengalaman, dan penuh kecingkrangan akibat berbagai batasan dan keterbatasan. Berkali-kali kata “manis” keluar dari bibirnya, tapi matanya menatap kamera dengan berkaca-kaca.

Riedl pernah diberitakan menangis. Itu saat ia bertemu dengan pendonor ginjalnya—seorang warga Vietnam. Tapi menangis untuk timnas Indonesia? Itu… itu membuat saya, seorang warga Indonesia, pendukung timnas bahkan sebelum benar-benar mengerti sepakbola, sangat tidak nyaman. Itu menggelisahkan.

Beberapa jam sebelumnya, dengan wajah berbinar, bapak saya langsung nyerocos soal betapa indahnya gol penyama milik Andik begitu saya pulang dari warung kopi. (Ia belum tahu saya tak menonton pertandingan itu, bahkan sama sekali tidak ingat.) Itu binar yang sama saat ia bercerita bagaimana Ronny Pasla, dengan tangan-tanganya yang panjang, menyelamatkan gawang Indonesia, saat saya masih bocah. Itu semangat yang sama ketika ia menggambarkan gol sundulan Syamsul Arifin si Kepala Emas kepada anaknya yang masih TK, di sela siaran pandangan mata pertandingan-pertandingan Persebaya dari radio.

“Menang, Pak?” saya bertanya dengan sedikit rasa bersalah. “Menang 2-1, dan lolos!” jawabnya semringah.

Sehari setelahnya, dalam sebuah obrolan ringan soal agama, seorang kerabat yang sehari-harinya dikenal sebagai imam masjid yang saleh, jenis orang yang tak mungkin saya sangka punya antusiasme dengan sepakbola, tiba-tiba dengan menggebu memuji permainan timnas saat mengalahkan Singapura. “Luar biasa. Yang mencetak gol kedua itu... siapa namanya?” Diam sebentar, seakan berpikir tapi sebenarnya agak malu, saya menjawab: “Stefano Lilipaly.”

***

Lilipaly, seperti halnya Riedl, tak pernah terlihat memberikan wawancara dalam bahasa Indonesia, dan tampaknya tak cukup berusaha. Ia, sebagaimana juga nyaris seluruh pemain yang dipanggil Riedl, dan Riedl sendiri, adalah hal-hal yang membuat saya tak berharap di AFF tahun ini. Sebagaimana AFF di beberapa edisi terakhir.

Ya, mohon maaf, saya memang sedang tak punya harapan dengan timnas, sebagaimana dengan sepakbola Indonesia. Mengingat apa yang terjadi di tahun-tahun belakangan ini, dan apa yang masih terjadi saat ini, bagi saya, memiliki harapan untuk sepakbola kita terdengar imoral. Lagi pula, setelah berkali-kali dibuat hilang harapan dengan cara yang sangat buruk, dan sebagian besarnya sama sekali tak ada hubungannya dengan sepakbola, pendukung biasa seperti saya merasa layak untuk tidak berharap.

Lenyapnya timnas dari peredaran dan menghilangnya sepakbola lokal dari televisi kita adalah bencana. Namun bikin kompetisi yang artifisial jelas bukan usaha rekonstruksi yang dibenarkan. Mendongkel oligarki partai dari PSSI itu penting, tapi mengundang kembali serdadu ke sepakbola adalah langkah mundur. Keluar dari mulut harimau masuk mulut buaya, itu kata teman saya Darmanto Simaepa tentang sepakbola Indonesia. Belakangan, kita tak berdaya melihat sepakbola kita jadi rebutan para lipan dan lengkibang.

Riedl berangkat ke Manila dengan skuad sangat terbatas akibat hanya bisa bawa dua pemain dari setiap klub. “Biar timnas dan kompetisi sama-sama bisa tetap jalan,” begitu kata yang sok bijak. Tunggu..., sejak kapan timnas dan kompetisi bisa “sama-sama tetap jalan”? Jelas ada yang tak beres jika jadwal bertanding timnas Indonesia bersamaan jamnya dengan laga big match liga. Mendapati lini tengah Indonesia diobrak-abrik Filipina (bangsa yang lebih suka main bola dengan tangan), sementara pada saat yang sama di tv sebelah misalnya kita menyaksikan Slamet Nurcahyo sedang bagus-bagusnya bersama Madura United, apa kepala tidak pening?

Jelas, itu bukan win-win solution timnas dan klub. Jika bukan kompromi dua kelompok oligarki yang masih terus saling berebut sepakbola Indonesia, itu pasti kesepakatan dua televisi untuk tak saling mengganggu acara unggulan masing-masing.

Untuk kondisi macam itulah saya lebih memilih untuk tak berharap. Dan dengan tak berharaplah saya menonton Indonesia dilantakkan Thailand dan kemudian didominasi Filipina. Karena tak berharap, saya merasa lebih baik. Karena tak berharap pula, saya lupa jadwal pertandingan menentukan Indonesia vs Singapura, dan saya tak apa-apa.

Sampai kemudian saya melihat haru di wajah Riedl.

***

Akhir pekan lalu, di semifinal leg pertama, Indonesia 2-1 atas Vietnam. Indonesia bermain bagus setidaknya di paroh pertama babak kedua. Lewat akselerasinya yang menghasilkan penalti, tapi terutama karena peran pentingnya di sepanjang pertandingan, Lilipaly menjelaskan kepada kita kenapa ia jadi satu-satunya pemain naturalisasi yang dipanggil Riedl. Andik ngos-ngosan selewat menit 70-an, tapi kompetisi yang teratur di Malaysia membuatnya terlihat lebih bijak dalam berlari dan pegang bola, dan karena itu ia jauh lebih berbahaya. Tapi hal terbaik adalah melihat para pemain Indonesia tetap tenang usai menerima beberapa keputusan tak menyenangkan dari wasit.

Tapi saya tahu, bukan hal-hal itu yang membuat harapan itu menyelusup kembali, mendesak-desak lagi. Kita toh pernah mengalami yang lebih: AFF 2010, Sea Games 2011, dan tentu masih banyak lagi. Lagi pula, untuk pertandingan format tandang-kandang, menang tipis di kandang dengan lawan mampu mencetak gol tandang adalah bekal yang rentan. Tidak, bukan itu.

Adalah kekaca di mata kakek bule itu yang memicunya. Juga binar wajah bapak saya, yang tak pernah berubah dari masa ke masa berkait timnas Indonesia. Juga pertanyaan seorang kerabat tentang pemain dengan wajah dan nama yang terlalu asing untuk dihapalnya. Semua itu yang menyadarkan bahwa saya sebenarnya hanya seorang penggemar yang sedang ngambek saja, yang membenci karena terlalu mencintai. Yang mendendam karena rindu. Yang jauh di dalam sana, masih saja bandel memendam harapan, meskipun berkali-kali dikecewakan.


Apa daya, saya hanya seorang penggemar biasa. Anda juga, ‘kan?

No comments:

Post a Comment