Tuesday, July 19, 2016

Euro 2016: Narasi Tak Selesai

Oleh Mahfud Ikhwan

“...This kind of intimacy with the ball is a mixed blessing... a poison remedy. In part this is because football is an unpredictable game. All the statistical evidence reinforces the observation that on any given day the worst team can win, that favourites are more vulnerable than in other sport, that the place for the random, the chaotic and the unexpected is surprisingly large in football...”  -- David Goldblatt  


1/

Ketika Eder mencetak gol di pengujung babak kedua perpanjangan waktu final Euro 2016, gol yang menjadi pembeda mana tim yang menang dan mana yang pecundang, Candra (14 tahun), dengan sedikit kaget berdiri dari duduknya. Tampak masih tidak percaya, ia menuding ke tembok, ke mana sorot proyektor diarahkan. “Lho, gol. Gol. Hore, Gol!” Ia bertepuk tangan dengan sedikit ragu, dan merayakan gol itu sedikit terlambat. Dan sendirian. Teman-teman sebayanya, yang kebanyakan mengidolakan Ronaldo dan mendukung Portugal, bergelimpangan di sekitarnya dihajar kantuk. Ya, bagaimana pun, itu jam setengah empat pagi. Orang-orang dewasa, yang kebanyakan bergerombol agak jauh dari layar, bersandar di tembok aula sebuah sekolah TK itu, tak ada yang ikut merayakan. Mereka ada di pihak yang kalah. Sikap sok rasional, sok analitik, yang mungkin saja mereka dapatkan dari ocehan para pengamat di televisi atau penulis-penulis Jawa Pos, membuat mereka mendukung tim tuan rumah, “yang bermain fantastis”, sang Ayam Jantan Prancis.

Beberapa dari mereka tak mampu menepikan rasa kecewanya bahkan sampai sore di hari berikutnya—ada yang bahkan menyimpannya sampai berhari-hari kemudian. Dalam sikap yang masih uring-uringan itulah salah satu dari mereka bercerita tentang perayaan Candra yang seorang diri pada dini hari itu kepada saya. Ya, saya memang tak menyaksikan secara langsung perayaan Candra tersebut. Sayang sekali—hal yang paling saya sesali di malam final itu. Padahal, saya ada di tempat yang sama sejak sore. Tapi, rasa kantuk dan bosan membuat saya memutuskan untuk pulang dari tempat nonton bareng itu 15 menit sebelum babak kedua waktu normal selesai. Tapi adegan terakhir yang bisa saya ingat dari pertandingan itu hanya saat masuknya Eder menggantikan Renato Sanchez. Saya tepar begitu sampai rumah.

Kalau diingat-ingat, itu bukan saja satu-satunya pertandingan di Euro 2016 yang tidak saya tonton (selain dua-tiga partai penentuan di babak grup yang memang disiarkan serentak), tapi juga final Euro pertama sejak saya menonton sepakbola yang tak sanggup saya selesaikan karena mengantuk. Dan ini tentu saja adalah pertandingan yang saya saksikan dengan cara nonton bareng pertama yang tak saya tuntaskan. Konyol sekali, bukan?


2/

Memang sangat konyol jika mengingat betapa saya mempersiapkan diri untuk turnamen ini. Sejak jauh-jauh hari saya sangat antusias menyambut Euro kali ini, yang kebetulan berbarengan dengan Copa Amerika edisi Centenario. Ini tahun sepakbola memang. Yang terutama, ini adalah tahun ke-20 saya sejak pertama menonton Euro—nanti akan coba saya ceritakan. Ketika seorang teman dari Jawa Pos kemudian menggubungi saya untuk ikut nimbrung nulis di kolom sportainment mereka, saya tahu ini akan jadi Euro yang tak biasa bagi saya.

(Terdengar norak dan berlebihan? Haha... biar saja. Sepakbola memang tak pernah membiarkan saya jadi terlalu kalem seperti lazimnya.)

Tulisan saya muncul sekitar tiga minggu sebelum turnamen berlangsung—itu adalah tulisan sepakbola pertama saya di Jawa Pos, juga tulisan pertama sejak saya berhasil menerbitkan dua cerpen pada 2003 silam di media itu. Beberapa teman di Jogja membacanya, kemudian membaca tulisan yang kedua, dan itu segera membuat mereka tertulari antusiasme saya. Bayangkanlah sebuah bulan puasa yang penuh dengan sepakbola, demikian saya menggoda. Tidak semua teman saya ketahui menyukai sepakbola. Tapi toh mereka ikut bersemangat juga. Seorang teman yang sehari-harinya hanya ngomong soal Islam dan Jawa dan hubungan antara keduanya bahkan menegur saya karena tak memasang jadwal pertandingan sebulan, padahal waktu turnamen sudah semakin dekat. Properti kantor, sebuah proyektor tua, yang sehari-harinya kami salahgunakan untuk menonton film-film India, untuk sebulan kedepan telah siap kami salahgunakan untuk sarana olahraga.   

Dan itulah yang memang terjadi nyaris sebulan ke depan: setiap malam, dari setengah delapan sore sampai jam lima pagi, kadang sampai jam 11 siang jika kebetulan dilanjut dengan dua pertandingan Copa Amerika. Ruang tengah di rumah-kantor kami di belakang Bandara Adi Sucipto Jogja malih fungsi jadi serupa tribun, lengkap dengan serakan sampah, kopi yang tumpah, teh yang tak habis terminum, minuman panas yang mendingin, minuman dingin yang butuh kembali dipanaskan, dan tentu saja sumpah-serapah. (Ada juga alkohol, tapi si empunya bersikeras tetap menyimpannya di kulkas. “Puasa,” katanya, “nunggu nanti setelah Lebaran.”)

Beberapa kali gedoran dari tetangga kontrakan—sebagai tanda rasa terganggu—menyelingi acara nonton bareng kami. Tapi tak ada yang lebih menarik untuk dikenang dari malam-malam nonton bareng itu melebihi malam-malam waktu seorang tamu dari Prancis datang menginap. Ia teman dari teman, seorang aktivis agraria yang kekiri-kirian, yang banyak bercerita tentang Amerika Latin, terutama soal cewek-ceweknya. Ya, dia cowok. Sejak sebelum kedatangannya, saya sudah khawatir kalau dia akan jadi selingan tak menyenangkan bagi kegilaan sepakbola yang tengah saya bangun di rumah itu. Ketika ia bilang bahwa ia suka bola, saya sedikit lega. Dan itu dibuktikannya dengan ikut menonton satu-dua pertandingan. Juga bertanya hasil-hasil pertandingan yang dilewatkannya karena harus keluar untuk keperluan kunjungannya. Juga obrolan-obrolan pendek ala-ala Tarzan-Jane soal kondisi ekonomi-politik sepakbola Prancis. Meski demikian, seperti yang saya perkirakan sebelumnya, ia dan saya memang tidak berada di level yang sama soal apa yang disebut dengan “suka bola”.

Pertama, ia tak kenal nama Luca Modric. Kedua, ia tampaknya kesulitan memahami bagaimana cara orang Asia, khususnya orang Indonesia, menyukai sepakbola. Ia terlihat berusaha keras untuk bersosialisasi, dan saya menghargai itu. Selama di Indonesia, ia ikut puasa. Ia ikut berbuka, dan memaksa diri ikut bangun makan sahur, meski pada satu Jumat siang yang panas, ia berselonjor di beranda rumah dengan hanya pakai celana pendek saat orang-orang berbondong berangkat Jumatan. Tapi, masalah itu muncul saat tengah malam.

Malam itu, ia ditinggal teman saya yang jadi temannya, sehingga dia harus bersosialisasi dengan teman-teman saya yang baru dilihatnya. Dua orang di antara teman saya pernah mengecap Program Bahasa Inggris Sanata Dharma, tapi kemampuan komunikasinya tampaknya tak banyak berbeda dengan saya. Jadi, tanpa teman saya yang jadi temannya, si Prancis tetap jauh lebih pendiam dari biasanya. Meski begitu, ia cukup berhasil jadi bagian dari kerumunan keriuhan kami pada pertandingan pertama. Ia antusias. Kata seru “O la la!” berkali-kali saya dengar dari mulutnya. Ia minum teh yang kami buat, saya nyemil snack yang dibelikannya untuk kami. Pada pertandingan kedua, yang dimulai pukul sebelas, ia undur diri ke dalam kamarnya, kamar yang persis ada di belakang tembok tempat proyektor menyorotkkan siaran sepakbola. Saya lupa apa pertandingan malam itu, yang jelas jauh lebih seru dibanding pertandingan pertama. Dan itu membuat suasana menonton jadi jauh lebih hidup. Singkatnya: lebih ribut. Saya sedikit menyimpan khawatir, tapi menetralisirnya dengan berpikir bahwa ia semestinya tahu bahwa orang Prancis main bola saat orang Indonesia tidur dan orang Indonesia nonton bola pada jam yang sama dengan orang Prancis tidur. Tapi ia ternyata tidak tahu, atau mungkin belum tahu. Sekitar setengah satu tengah malam, ia keluar kamar dengan muka merah dan mata yang lebih merah. Ia tampaknya marah, tapi mencoba dengan sopan memohon: “be quiet, please...” Kami kontan saja jadi lebih kalem, sebagaimana umumnya tuan rumah yang mendongkol kepada tamunya.

Dalam beberapa kesempatan setelahnya ia memberi nasihat soal tidak sehatnya begadang; ia bahkan menunjuk perut saya. Saya senyam-senyum saja, yas-yes saja. Tapi mungkin juga telah berpikir bahwa ia agak kebablasan, malam berikutnya, sejak sangat sore ia mendekati meja saya, minta maaf karena membuat nonton saya tidak nyaman, sembari kembali memohon-mohon agar saya nonton bolanya lebih kalem. “Saya mau good sleep,” katanya, dengan senyum memelas. Saya berjanji, karena saya tahu esoknya dia akan melakukan perjalanan jauh. Sedikit kebetulan, malam itu saya hanya punya sedikit kawan menonton. Itu malam yang tenang. Dan teman Prancis teman saya itu pun bisa sedikit pulas tidurnya. Ketika paginya ia pamit pergi dari Jogja menuju tujuan berikut, saya mengantarnya dengan ucapan selamat tinggal yang sudah saya hapalkan. Lengkap dengan senyum—senyum kemerdekaan.   

Pada pertandingan antara Kroasia-Spanyol yang seru itu, kami kemudian bisa ribut dengan tenang. Demikian juga pertandingan Hungaria-Portugal—pertandingan terbaik Ronaldo sepanjang turnamen. Dan saya sulit membayangkan betapa berat beban pemberadaban yang ditanggung teman Prancis itu jika harus menyaksikan betapa biadabnya kami di tengah malam saat merayakan tendangan voli Pelle membunuh—tampaknya untuk selamanya—tiki-taka-nya Spanyol.     

Dan saya pikir dia akan kesulitan menerima penjelasan saya bahwa kemenangan Italia atas Spanyol dan kemenangan Islandia atas Inggris mengembalikan energi puasa saya, setelah sehari sebelumnya saya lesu, lelah, dan marah usai menyaksikan betapa buruknya Argentina di final Copa Amerika, yang ditambah reaksi Messi setelahnya yang bertolak belakang dengan seramnya tato di bahu dan kakinya dan lebat brewoknya. “Itulah yang di sini kami sebut ‘suka bola’, Monsieur...”

Dengan mood yang sedang baik, juga karena jeda jelang perempat final, saya menganggap itu waktu yang tepat untuk ikut berdesak-desakan di bus Jogja-Surabaya. Berangkat selepas sahur, saya mudik dengan seringai mengejek untuk para pendukung Inggris masih tersisa di bibir. Saya bahagia untuk kesedihan mereka. Saking senangnya, saya lupa memasukkan cas laptop, cas hp, dan modem ke dalam tas. Padahal, saya masih ngutang dua tulisan untuk Jawa Pos.   


3/   

Kehilangan layar seukuran almari lawas, juga umpatan-umpatan brutal dari orang-orang yang baru ikut-ikutan nonton bola, saya kemudian melewatkan empat pertandingan perempat final dan dua semifinal dengan televisi 21 inci murahan kami di rumah bersama rekan nonton lama saya: bapak. Ia orangtua yang ribut saat nonton bola, tak banyak berubah seperti saat ia masih muda. Meski demikian, tetap saja saya tidak mungkin bisa nonton seperti biasanya. Apalagi jika dalam satu pertandingan ternyata kami berpihak pada tim yang berbeda. Sementara itu, tidak punya peralatan untuk menulis, saya ternyata masih diharuskan untuk memikirkan tiap pertandingan dengan lebih serius. Itu akan jadi modal yang baik untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan teman yang kadang terlalu serius—setelah beberapa dari mereka tahu saya nulis di koran—soal pertandingan-pertandingan semalam, entah saat di warung kopi atau saat jadi panitia zakat fitrah. Pada saat-saat seperti itulah tercetus untuk bikin acara nonton bareng pertandingan final.

Sudah cukup lama, acara nonton bareng telah jadi kebiasaan di desa kami. (Setidaknya, saya ingat untuk pertamakalinya ikut nonton bareng dengan menutup jalan desa saat final Liga Champions 2011, dan itu tampaknya bukan acara nonton bareng pertama di desa.) Kadang untuk sekadar nonton bareng saja, sekadar ramai-ramai dan senang-senang saja, kadang juga untuk menciptakan momentum agar kami bisa kumpul-kumpul dan mengobrolkan hal yang agak urgen, semisal soal-soal kontemporer desa, soal-soal pemuda, bahkan soal-soal agama. Toh tidak sulit cari proyektor. Beberapa institusi pendidikan di desa kami, juga beberapa individu, punya proyektor dan bisa dipinjam.

Usai Lebaran, saya diberitahu kalau nonton bareng final Euro akan sekaligus dipakai untuk mengumpulkan para pelajar dan remaja yang di hari-hari biasa kebanyakan ada di luar desa, sebagain besar karena belajar di pesantren. Organisasi remaja di masjid kami sudah lama mati suri, dan teman-teman sebaya saya merasa ikut bertanggung jawab untuk berinisiatif mengorganisirnya kembali. Sedikit di luar bayangan nonton bareng final yang gayeng, tapi saya kira itu baik.

Sempat bersilang pendapat soal di mana sebaiknya kami mengadakan nonton bareng—ada yang mengusulkan di depan masjid (agar ini tampak sebagai kegiatan yang bermanfaat), ada yang bahkan mengusulkan di depan rumah saya (agar lingkungan rumah saya yang sepi bisa sedikit ramai)—kami bersepakat menyelenggarakannya di aula sebuah taman kanak-kanak. TK itu masih ada di lingkungan masjid, sehingga akan memberi kesan bahwa itu bukan sekadar acara hura-hura. Meski demikian, lokasinya yang tidak langsung bersebelahan dengan masjid akan menghindarkan ketidakenakan menonton seandainya pertandingan memanjang sampai menerabas waktu Subuh. Cocok.

Saya menyatakan diri siap membantu. Berpengalaman dengan proyektor, saya siap jadi operator. Saya juga siapkan senjata andalan saya: hardisk eksternal beserta film-film yang mengisinya. (Ya, brengsek benar, di saat cas dan modem ketinggalan, hardisk malah tak pernah alpa ikut pulang.)


4/

Hal terakhir yang ingin saya lakukan, atau yang paling tak saya sukai,  saat dan sesudah nonton bola adalah menganalisis taktik. Karena itu pula, saya tak terlalu suka membaca analisis taktik dan utak-atik statistik. Beberapa penulis, lebih sedikit lagi komentator, memang membantu kita memahami pertandingan lebih baik. Tapi sisanya adalah omongkosong—sebuah kerangka yang telah pakem, yang bisa diisi nama-nama pemain yang berbeda, tim yang berbeda, pelatih yang berbeda, tergantung hasil pertandingan.

Dan hal paling sia-sia dalam industri game paling tua ini adalah analisis taktik sebelum pertandingan. Semua preview adalah gombal. Sejak sangat awal, saya tak menyukai tabloid olahraga edisi Jumat karena isinya cuma tebakan yang dipanjang-panjangkan. Para penjudi mungkin membutuhkannya, tapi salafus-salih sepakbola sebaiknya mengabaikannya. Menebaklah jika ingin menebak. Begitu saja. Kalau benar, asyik. Kalau salah, itulah sepakbola—dan sepakbola selalu asyik.

Saya berhasil menebak skor pertandingan Kroasia-Spanyol dengan tepat nyaris ke menit-menit golnya. Dan meski sakit, saya juga sama sekali tak terkejut ketika Kroasia tumbang oleh gol di menit terakhir perpanjangan waktu oleh Portugal. Saya tak punya statistik, dan tak lagi menyukainya kecuali ia ada dalam kalimat-kalimat Sid Lowe. Saya tak baca satu pun preview. Hanya perasaan dan pengalaman menonton ribuan pertandingan yang saya pakai. (Mungkin seperti petani yang menghapal pranata mangsa setelah bergenerasi-generasi menanam padi.) Dan—dalam kondisi tak punya mesin ketik dan tak memiliki akses internet—itulah yang saya pakai ketika membuat tulisan jelang final yang dibaca banyak orang cenderung mengunggulkan Portugal.

Tulisan itu saya garap tengah malam, sekitar satu jam sebelum pertandingan semifinal Prancis-Jerman. Tapi, sejak pagi, apa yang saya tulis itulah yang saya obrolkan dengan banyak teman di sela-sela berhari raya. Kekalahan Wales di semifinal membuat banyak orang marah, dan saya membuat mereka jadi lebih dongkol karena bilang bahwa mereka memang pantas kalah. Di sisi lain, secara bersamaan, itu adalah pertandingan terbaik Portugal. Dan pola itulah yang membawa saya bersimpulan: Portugal justru tengah ada di puncak penampilan saat mengkapling tempat di partai puncak. Dan itu mengkhawatirkan. Dan meskipun Prancis bisa mengalahkan Jerman dengan skor yang sama dengan skor Portugal saat mengalahkan Wales, namun dengan permainan terburuk mereka sepanjang turnamen (minim peluang, minim penguasaan), saya jadi semakin khawatir.

Membaca dukungan yang menggebu dan terus terang terhadap Prancis dalam tulisan seorang teman di blog ini, yang saya tahu mewakili sebagian besar penggemar sepakbola (sebagaimana yang diklaimnya), saya tahu tulisan saya yang muncul di koran beberapa jam sebelum pertandingan final itu menentang arus. Dan dengan tebakan yang melawan harapan banyak orang itulah saya datang ke tempat nonton bareng.

Sekolah TK itu adalah bangunan terbaru di lingkungan masjid kami—secara lembaga, saya adalah alumninya, tapi dulu kami belum memiliki tempat yang tetap, sehingga sekolah kami berpindah-pindah. Fakta bahwa saya tak banyak tahu kapan gedung dua lantai itu dibangun jelas menunjukkan bahwa bangunan ini sangat baru. Namun yang benar-benar sulit saya kenali adalah para remaja yang sudah banyak berkumpul di tempat itu. Cowok-cewek, mereka ada sekitar 30-an orang. Dengan rentang usia SMP kelas 2 hingga kuliah semester 4, saya nyaris tak mengenali mereka dan mereka tampaknya juga tak mengenal saya. Sebagian besar dari mereka pasti lahir beberapa tahun setelah saya ke Jogja. Sedikit yang saya kenali adalah mereka yang masih termasuk famili. Juga mereka yang pernah saya perdaya dengan bola plastik, es teh, dan ote-ote agar mau masuk ke perpus masjid yang saya dirikan.

Sembari menyiapkan proyektor, mengatur kabel-kabel, memastikan antena bisa menangkap siaran, menggotong televisi tabung dan son-son sebesar kulkas dari lantai satu ke lantai dua, saya mencuri simak bocah-bocah itu rapat di antara mereka sendiri. Hebat juga mereka. Seorang yang tertua dari mereka, dengar-dengar sedang kuliah di Surabaya, memimpin forum dengan kemampuan komunikasi yang tak saya miliki bahkan ketika sudah mengelola sebuah terbitan mingguan di kampus. Dalam dua jam, mereka membentuk formatur, menunjuk ketua, dan ketua-ketua bidang. Orang-orang tua yang selalu mengeluh soal kenakalan anak-anak mereka seharusnya melihat anak-anak mereka rapat.

Tapi yang paling mengesankan dari mereka adalah saat mereka menyelesaikan rapatnya. Sementara beberapa dari mereka segera membuat perapian untuk membakar ikan buat dimakan ramai-ramai, saya bertanya kepada beberapa di antara mereka tentang final yang akan kami tonton bareng. Yang sedikit mengejutkan, sebagian besar dari mereka tampaknya mendukung Portugal. “Kok bisa?” tanya saya, tak terima. Alasan mereka standar, namun sangat mudah diterima: Ronaldo. Ketika saya mengkonfrontir mereka dengan analisis-analisis yang beredar bahwa Portugal adalah tim buruk, dengan permainan buruk, mereka dengan enteng menukas: “Yo uwis.” Biar saja.

Untuk membuat suasana tetap gayeng, sementara jam pertandingan masih jauh, saya berinisiatif memutar film untuk bocah-bocah itu. Ya, sudah dalam beberapa kali kesempatan saya memerankan diri menjadi apa yang di waktu kecil dulu sangat saya idamkan: jadi operator video. Saya pernah sukses membuat layar tancap kecil-kecilan dengan penonton para bocah beberapa waktu lalu dengan memutar film aksi cum perjuangan tahun 80-an, Pasukan Berani Mati. Dan saya mau mengulanginya lagi. “Ojo India yo, Cak,” mohon bocah yang komputernya saya pakai memutar film. (Haha... betapa sudah tercemarnya reputasi saya.) Mengabaikan beberapa hal, saya putuskan memutar Pendekar Tongkat Emas. Dalam beberapa menit, saya segera bisa melihat bahwa itu film silat sekaligus film Indonesia yang aneh—saya baru menontonnya malam itu. Tapi saya antusias melihat kerumunan yang membesar di depan layar.

Kerumunan menjadi lebih besar ketika di luar tiba-tiba hujan tercurah dengan deras. Anak-anak yang di luar gedung sekolah berhamburan masuk, dan mereka segera bergabung dengan antusiasme layar tancap. Siapa yang nakal dan siapa yang pendiam segera terlihat saat layar memampang adegan ciuman Reza Rahadian dan Tara Basro. Yang nakal bersorak, sementara yang pendiam tersipu. Sempat ada sedikit rasa bersalah, tapi kenangan menonton film-film Suzanna, Warkop, film-film laga brutal sekaligus erotis khas tahun 90-an, di usia yang lebih muda dibanding mereka, membuat saya jadi lebih cuek. Lagi pula, Youtube dan Facebook pasti menjadikan hal-hal begituan tak terlalu istimewa untuk anak-anak remaja sekarang. Film selesai dengan sambutan yang menyenangkan. Jika ada di lokasi, Ifa Isfansyah pasti akan ikut senang.

Yang sedikit kurang menyenang, perapian untuk membakar ikan yang ada di halaman mati total karena dihajar hujan, dan kemudian sama sekali tak bisa diperbaiki. Dari duapuluh kilo ikan salem yang disiapkan, baru sedikit yang sudah matang dan siap santap. Untung nasi dimasak di rumah. Film usai, anak-anak itu—saya juga ikut—menyerbu nasi dan ikan bakar (matang) yang jumlahnya terbatas. Saya masih kebagian ikan, tapi kehabisan sambal kecapnya, sementara beberapa bocah malah hanya makan dengan sambal kecap saja.

Kembali ke depan proyektor, waktu masih setengah satu. Artinya, masih 90-an menit lagi dari final. Tak ada yang membawa kopi, sementara warung kopi pasti sudah tutup. Perut kekenyangan dan takut mengantuk, saya meminta pertimbangan mereka untuk memutar satu film lagi. Mereka sepakat. Saya pilihkan Rango-nya Verbinsky, film animasi yang sudah beberapa kali muncul di TV. Hanya untuk pelintas waktu saja. Tak saya sangka, tak seorang pun dari mereka yang pernah menontonnya. Dan kadal pembual bersuara Jack Sparrow itu pun segera jadi pusat perhatian.

Lalu jam dua tiba. Waktu kick-off menjelang, film yang masih separo jalan harus dihentikan. Beberapa orang tampak berat, tapi tak ada pilihan: ini acara nonton bareng final. Komputer dimatikan, tv dinyalakan. Beberapa orang dewasa bergabung. Juga beberapa orang yang bahkan tidak saya kenal. Anak-anak bergerombol dengan teman sebayanya di barisan depan. Orang-orang dewasa berkerumun menyender dinding, sedikit jauh di belakang. Jika dikasih kaos, kerumunan depan akan didominasi warna merah tua, sementara warna biru akan mencolok di beris belakang. Ketika Prancis mendominasi total babak pertama, memiliki peluang bersih melalui sundulan Griezman dan sepakan Sissoko, kerumunan yang bersandar di tembok terlihat riuh. Bocah-bocah di barisan depan menyembunyikan ketegangannya di balik sarung. Pasti juga untuk menyumpal kuping mereka dari mendengar cemoohan orang-orang dewasa itu terhadap tim yang mereka bela. Ketika Ronaldo yang cedera lutut dipapah keluar lapangan, masuk lagi, dan kemudian benar-benar keluar, cemoohan itu makin membadai. “Huu... pasti dia pura-pura. Agar dia punya alasan kalau kalah!” kata seseorang dari baris belakang.

Memulai pertandingan dengan grogi, banyak salah umpan, Sanchez yang tampak tenggelam, dan puncaknya kehilangan Ronaldo di babak pertama, pasti membuat pendukung Portugal khawatir. Tapi saya malah mengkhawatirkan Prancis. Saya ketemu sedikit dejavu. Banyaknya penguasaan bola, dominasi total, juga banyaknya peluang, namun tak sanggup membuat gol sampai babak pertama usai, Prancis mengingatkan saya dengan Jerman di semifinal. Dan beberapa penyelamatan gemilang Rui Patricio—terutama atas sundulan indah Griezman—seperti tengah mengulang apa yang dilakukan Llorris empat hari sebelumnya. “Kalau gini terus, dan Prancis tak punya solusi, bisa kalah mereka,” bisik saya kepada teman di sebelah.

Di awal babak kedua, Portugal tampak memperbaiki penampilan, dan kemudian semakin membaik dari menit-menit ke menit. Segera kelihatan, Deschamp memang belum menemukan solusi untuk timnya. Tapi bukan hanya Deschamp yang tak menemukan solusi. Kami juga. Dari awal pertandingan, kami mengalami persoalan dengan daya tangkap antena atas siaran—ini sebenarnya masalah klasik kami sejak zaman TVRI masih Menjalin Persatuan dan Kesatuan. Hujan deras barusan tampaknya memperburuk keadaan. Jika gambar di layar televisi memburuk, gambar yang disorotkan proyektor menghilang. Dan seiring berjalannya pertandingan, hilangnya gambar dari tembok yang disorot semakin sering. Telah dicoba menstabilkan arah antena, tapi hanya bisa mengatasi sementara saja. Kabel visual juga coba diganti. Tapi tak banyak menolong. Dalam beberapa kesempatan, kami—ada sekitar 30-an orang—dipaksa memelototi layar televisi. Dan itu tak menyenangkan.

Lalu azan awal dari masjid di sebelah berkumandang. Pertandingan masih duapuluh menitan. Prancis tetap buntu. Portugal, walau kelihatan lebih baik dibanding di awal pertandingan, kelihatan menunggu. Dan beberapa kali gambar di proyekter amblas, dan saya sudah putusasa mengatasinya. Saya simpulkan, Fernando Santos akan menunggu Prancis bosan, seperti yang dilakukannya pada Kroasia; ini akan jadi pertandingan dengan perpanjangan waktu yang kesekian untuk Portugal. Tapi sayalah yang bosan duluan. Ngantuk pula. Saya pun memutuskan pulang.

Sampai di rumah, saya menemukan bapak menonton sendiri, dan Eder masuk lapangan. Mau apa si Santos? Saya ngadal di kursi dengan muka menatap televisi dan bantal menyangga dagu. Lalu, kejadian selanjutnya saya tak tahu.


5/

Saya lebih tua dua tahunan dari Candra ketika menonton Euro saya yang pertama. Itu Euro ’96. Saat itu saya kelas dua SMA. Listrik PLN baru menyala, kalau saya tak salah ingat. Sudah cukup banyak orang yang punya televisi. Meski demikian, saya ingat betul, hanya ada dua tempat yang memungkinkan kami bisa menonton sepakbola malam-malam: Taspan di bagian tengah arah barat, dan Kaji Puad (yang waktu itu belum haji) di ujung utara desa. Tak ada yang namanya nonton bareng, karena semua tindakan menonton sepakbola di televisi adalah nonton bareng.

Jelas tak ada ikan salem bakar dan nasi hangat, lengkap dengan sambal kecapnya. Juga biasanya tak ada sisa nasi di rumah—kalau pun ada pasti sudah basi. Kalau kelaparan, kami bisa mengunduh (dengan diam-diam tentunya) jambu air di samping rumah di pinggir jalan. Meski saya tak pernah ikut, teman saya malah sering menyatroni warung bakso Mbokwak Sudar yang sudah tutup dan gelap, dan mengaduk-aduk panci kuahnya. Syukur kalau masih ada pentol baksonya, tapi kalau tak ada kuah saja dengan diberi saus banyak-banyak rasanya boleh juga. Ada pula yang malam-malam lalu lalang dengan membawa cucukan (pikulan rumput dengan ujung runcing), dan kemudian kembali dengan semangka segar yang dicuri dari dagangan seseorang di pasar. (Yang hidup di kota, tolong, jangan memaksakan diri untuk membayangkannya.) Meski warung kopi sudah ada sejak lama, saya tak pernah merasakan ngopi di warung. Juga di rumah. Selain nasi dan lauk, yang selalu akan habis sebelum jam tujuh malam, tak ada apa-apa di dapur. Emak saya akan membikinkan saya wedang jahe hanya kalau saya sakit. Kalau kuatir ngantuk, saya beli beberapa bungkus Kopiko. Mungkin karena saya tertipu iklan, tapi terutama karena hanya itu yang bisa saya beli dari uang hasil mencuri sisa belanja Emak.

Saya pendukung Argentina sejak mengenal sepakbola, dan menjadi Milanisti sejak melihat mereka dikalahkan Ajax pada final Piala Champion 1995. Tapi seingat saya, saya menyongsong Euro ’96 dengan antusias tanpa menjadi pendukung tim mana pun. Malah, kalau diingat, Euro ’96 justru menjadi titik awal saya menyukai beberapa pemain yang kemudian berujung pada kesukaan saya dengan tim-tim tertentu. Misal saja, Davor Suker. Suka sekali dengan striker Kroasia ini, saya mengikuti karirnya dengan antusias bersama Madrid. Dan dari situlah saya kira saya mulai menyukai Madrid.

Meski begitu, ada satu tim yang mengundang perhatian saya. Mungkin karena terpengaruh tulisan-tulisan bombastis di Tabloid GO, atau ulasan-ulasan asertif dari Bung Kaisar dan Bung Mario di acara Praktik Trang di Radio Suzanna Surabaya (pedoman utama para remaja penggemar bola di daerah Surabaya dan sekitarnya di masa itu). Para cewek mungkin akan menyebut tim itu tim tertampan di Euro ’96. Saya cukup menyebutnya keren saja. Tim ini dikenal sebagai generasi emas. Mereka menjuarai Piala Dunia U-20 dua kali berturut-turut. Ada tiga pemain vital yang setelah turnamen ini bermain bareng di Barcelona: kiper, bek tengah, dan gelandang. Tapi tepat di posisi playmakerlah pemain idola saya berada. Angker dan dingin di wajah, tapi begitu anggun di kaki. Ia bernama Rui Costa, yang bermain untuk Fiorentina. Dan timnya tentu saja Portugal.

Mungkin karena Potugal rontok di perempat final oleh Rep. Ceko, tim ini hanya bisa saya kenang namun tak pernah membekas di hati. Dan saya bahkan menyoraki mereka ketika kalah dari Yunani di final Euro 2004, saat mereka jadi tuan rumah. Kemudian, kemunculan Ronaldo bahkan membuat saya membenci mereka. Dan cara Fernando Santos memainkan tim itu di Euro 2016 menyempurnakannya.

Meski demikian, saya samasekali tak punya beban memberi selamat kepada Candra dan kawan-kawan sebayanya: bocah-bocah yang mendukung Portugal karena mereka menyukai Ronaldo, striker hebat itu. Sebab, kalau saja duapuluh  tahun lalu, Rui Costa bisa membawa timnya menjuarai Euro ’96, saya pasti akan sebahagia mereka.


6/

Euro 2016 banyak memberikan kekecewaan. Rerata gol yang rendah, permainan bertahan, tim-tim bagus yang rontok terlalu awal, final-final kepagian, dan—tentu saja—Portugal. Tapi, selain dengan kemenangan dan kejayaan, bukankah dengan cara itulah, sepakbola selalu membuat kita menunggu pertandingan berikutnya, musim berikutnya, dan turnamen berikutnya? Kita ingin mendapatkan penebusan. Meskipun, biasanya kembali gagal.

Untuk saya pribadi, ini adalah Euro yang tak selesai. Setelah mengikuti ribuan menit dari setidaknya 40 pertandingan, saya malah melewatkan 40 menit paling menentukan di pertandingan final, dan setidaknya 10 menit paling membanggakan bagi sejarah sepakbola Portugal. Saya membenci Ronaldo, dan telanjur tidak menyukai Portugal. Tapi, saya tak yakin, apakah di detik ketika Ronaldo mengangkat pot perak itu, saya sanggup untuk tak bertepuk tangan untuknya. Untuk mereka.     


Jogja, 19 Juli 2016   


  

No comments:

Post a Comment