Wednesday, June 15, 2016

Anak-anak Bangau Berjenggot

Oleh Mahfud Ikhwan


Migrasi dan perang kentara mewarnai sejarah sepakbola. Dulu begitu. Dan tampaknya masih akan begitu.

Tanpa pendatang Inggris, mungkin hari ini Amerika Latin tidak bermain bola melainkan sumo. Jika para budak dari Ghana tidak dibawa kapal-kapal Portugis ke Brazil dan dipekerjakan di perkebunan-perkebunan kopi dan tebu di hutan hujan Amazon, boleh jadi yang mereka punya hanya Ayrton Senna, sebab Garincha, Pele, Romario, hingga Ronaldinho tak pernah ada. Italia mungkin tak akan seperkasa sekarang, atau bahkan lebih memilih main basket saja, bila para oriundi dari Argentina tidak keluar dari negara mereka dan Azzuri tidak meraih dua gelar dunia pertamanya.

Jika Yahudi jenius bernama Sindelar tidak mati secara misterius, dan Austria tidak dicaplok Nazi, dan tim impiannya tidak dipaksa bermain untuk memuliakan Hitler, mungkin yang punya 5 gelar dunia bukan Jerman, tapi Austria. Bila saja Yugoslavia tidak terbelah, pemain-pemain Denmark yang sudah berangkat piknik itu tidak akan pernah memperoleh piala Eropanya.

Gelar dunia pertama Prancis diwarnai dan ditentukan para keturunan imigran, sama seperti yang dilakukan para anak imigran untuk gelar paling mutakhir Jerman. Dikapteni anak imigran Balkan, Swedianya Zlatan jauh lebih dikenal dibanding Swedianya Brolin yang cemerlang, semifinalis Piala Dunia 1994. Dalam tim Belgia yang belum lama ini menempati peringkat pertama FIFA kita bahkan menemukan nama Indonesia. Sementara itu, seorang bocah Thailand ada di tim Swiss yang menjuarai Piala Dunia U-17 2009. Tim ini sendiri dikapteni seorang anak imigran Albania.

Dan bocah Albania yang sama, Frederic Vaseli namanya, bersama sembilan nama lain yang lahir dan/atau besar di Swiss, pulang ke negeri orangtuanya, untuk mengantar Albania lolos ke Euro 2016, kejuaran besar sepakbola pertama dalam sejarah negara paling tertinggal di Eropa itu.

***

Vaseli lahir dan tumbuh di Swiss. Juga Cana, Mavraj, Ajeti, Xhaka, Abrashi, Basha, dan Gashi. Lanjeni dan Aliji pun tumbuh di Swiss, meskipun masing-masing lahir di Kosovo dan Macedonia. Dari 23 pemain yang dibawa pelatih De Biasi ke Prancis, yang lahir di Albania hanya 8 orang. Tak mengherankan, asisten pelatih Paolo Tramezzani harus keliling Eropa untuk menemukan anak-anak perantau Albania yang berbakat.

Kemiskinan tinggalan rejim komunis Enver Hoxha, juga konflik berdarah di Kosovo, wilayah bekas Yugoslavia yang dihuni oleh minoritas etnik Albania, membuat bangsa itu tercerai-berai. Mereka pergi untuk menghindari perang, sekaligus mencari penghidupan yang lebih baik. Dari sekitar 3 juta, tak kurang dari sepertiga penduduk Albania hidup di luar negaranya. Kebanyakan menjadi pekerja kasar di negara-negara Eropa Barat, terutama Italia, Jerman, dan Swiss. Anak-anak para perantau inilah yang belakangan kita kenal namanya lewat kiprahnya di sepakbola. Valon Behrami, Xherdan Shaqiri, Granit Xhaka, Adnan Januzaj, dan Shkodran Mustafi adalah sedikit dari banyak anak perantau Albania yang mengemuka.

Albania memang bukan kisah satu-satunya. Awal 2000-an, kita temukan nama-nama Balkan di banyak tim dunia, dari Swedia hingga Singapura. Pada kurun yang kurang lebih sama, bocah-bocah turunan Turki ada di timnas Jerman, Swiss, Belanda, Denmark, dan lain-lain. Sebaliknya, nyaris separoh anggota timnas Bosnia-Herzegovina di Piala Dunia 2014 lahir atau besar di negara-negara lain.

Kasus Albania mirip Bosnia-Herzegovina, tetangga yang sama-sama terpapar konflik Balkan. Tapi Albania lebih mengundang perhatian karena jumlah pemainnya yang lahir di rantau lebih banyak. Juga, karena di Euro 2016 ini, mereka satu grup dengan Swiss. Bukan saja karena Swiss adalah tempat sebagian pemain Albania lahir, tapi karena tim ini begitu berwarna Albania. Tak kurang, enam pemain timnas Swiss berdarah Albania, dan sangat memenuhi syarat memperkuat Albania. Keluarga Xhaka bahkan memiliki masing-masing satu wakil di kedua tim. Konon, kakak-beradik Granit dan Taulant perlu melewati rapat keluarga yang emosional sebelum akhirnya memilih memperkuat dua negara yang berbeda.

Bangau yang jauh terbang akhirnya kembali ke kubangan, kata pepatah Melayu. Itu mengena, tapi tak tepat benar menggambarkan timnas Albania. Yang pulang ke kubangan bukanlah bangaunya, melainkan anak-anaknya.

***
Enver Hoxha (baca Anwar Hoja, biar lebih mudah) adalah seorang tiran yang mengamalkan Stalinisme pada level paling aneh. Anak seorang guru sufi ini ingin melenyapkan jejak-jejak sejarah Ottoman berusia 500-an tahun di Albania. Salah satu caranya adalah dengan melarang orang Albania memelihara jenggot. Maka ada cerita, pada pertandingan Piala Champions 1979, bek Skotlandia Danny McGrain ketakutan dengan jenggotnya saat timnya, Celtic, harus bertandang melawan juara Albania, Partizan Tirana.

Hoxha sudah mati, menyusul visi-visi revolusionernya yang gagal. Ia juga gagal mengikis corak Usmani yang melekati Albania. Setidaknya menurut demografi, 90% warga Albania masih menautkan diri dengan Islam. Kalau Hoxha bisa menonton siaran langsung Euro 2016 dari kuburnya, dia mungkin menyumpah-nyumpah: sebagian pemain Albania datang ke Prancis dengan jenggot lebat di dagu.

Kalah dari Swiss, "saudara angkat"-nya, Albania pasti akan sulit mengikuti jejak Denmark atau Yunani untuk membuat kejutan. Apalagi di pertandingan kedua, mereka mesti menghadapi tuan rumah Prancis. Lepas dari itu, semoga Ramadan akan memberkati mereka. Penampilan bagus anak-cucunya, yang lahir di negeri orang, berjenggot pula, mungkin bisa sedikit menenangkan Hoxha di alam sana.


*dimuat di Jawa Pos, 15 Juni 2016 

      

No comments:

Post a Comment