Sunday, April 10, 2016

Pada Mulanya adalah Pertengkaran: Pengantar untuk Tamasya Bola

Oleh Mahfud Ikhwan



Pada mulanya adalah sebuah perdebatan yang menjurus pertengkaran. Atau, sebut saja itu sebagai pertengkaran.

Pagi setelah semifinal Liga Champions 2010 yang hanya akan diingat oleh pengemar Inter Milan dan Jose Mourinho (dan karena itu anggap saja kita semua lupa kapan waktu persisnya), saya menulis status di Facebook tentang kemuakan saya atas cara bermain yang dipilih Inter saat mengalahkan Barcelona. Tak cukup segitu, saya bahkan menantang: “… untuk seminggu ke depan, aku akan siap bertengkar dengan siapa pun yang memaklumi apa yang dilakukan Mourinho dan Inter-nya.”

Mudah ditebak kalau para komentator bukanlah para penggemar Inter; mereka pasti sedang sibuk menghadapi komentar-komentar miring atas status perayaan mereka. Kebanyakan penanggap adalah penggemar Barca yang kecewa atau pembenci Mou yang ingin timnya dihancurkan Munchen-nya van Gaal pada final di Bernabeu. Di antara mereka adalah Darmanto Simaepa, penggemar Barca yang emosional sekaligus antropolog amatiran yang saat itu tampaknya sedang jeda dari monyet-monyet dan keladinya di Mentawai dan tidak sedang mabuk laut.

Namun, tak seperti tipikal penggemar yang timnya dikalahkan dengan cara yang sangat buruk, ia menulis komentar dengan kata-kata bijak dan sok dingin, seakan dia adalah Wesley Hutagalung. Ia bicara tentang ambisi, hasrat, semangat, sampai dengan statistik soal tim mana yang paling banyak berlari, dan semuanya menjurus pada kesimpulan bahwa Inter memang layak menang. Saya tak menyukai kata-kata ala komentatornya, menolak tetek-bengek statistiknya, dan kami bertengkar. Saling berbalas komentar, dalam paragraf-paragraf panjang yang penuh pameran ingatan, pengalaman, dan bacaan, pertengkaran itu bertahan berhari-hari (karena kami saat itu sepertinya sama-sama memakai jasa warnet). Pertengkaran itu bahkan berlanjut ke kotak pesan.

Mungkin karena sama-sama mendukung Milan, kami berdamai dengan cara elegan: kami sepakat mulai memikirkan agar pertengkaran-pertengkaran yang acak ala Facebook itu diawetkan dan ditata menjadi lebih rapi dalam media yang kami miliki sendiri. Kebetulan saat itu saya belum lama mengeluarkan dua buku tentang sepakbola (dengan memakai nama pena), sementara secara bersamaan Darmanto juga rajin menulis sepakbola baik di blog pribadinya maupun dalam catatan-catatan Facebook-nya.

Usai Piala Dunia 2010 saya membuat sebuah blog sepakbola, namun sampai setahun kemudian blog itu terlantar. Hanya ada satu tulisan saja di sana. Ketika Darmanto di Jogja sekitar awal 2011, kami berdua dan seorang teman menindaklanjuti “pertengkaran” lebih dari setahun sebelumnya itu dalam obrolan yang serius, penuh keringat, bahkan darah—saya tak bisa menemukan frasa lain yang bisa lebih mewakili sebuah rapat media yang melibatkan adegan penarikan Vespa bermesin Bajaj oleh motor bebek tua bikinan Cina memakai tali rafia, dari sebuah warung kopi di Sorowajan sampai ke rumah kontrakan di Maguwo pada jam 10 malam. Kami putuskan namanya, kebijakan redaksionalnya, sasaran pembacanya, siapa yang bisa diajak menulis, juga memikirkan kemungkinan seberapa lama media amatir macam itu bisa bertahan. Menjelang pengujung tahun, terutama dipicu oleh perpecahan di PSSI dan kekalahan yang kesekian timnas Indonesia, tulisan-tulisan baru dari kami berdua kemudian bermunculan.

Demikianlah Belakang Gawang dilahirkan.

***

Dimulai dari pertengkaran, Belakang Gawang jelas dihidupi oleh kejengahan. Kami merasa ada yang macet dengan cara media kita menulis sepakbola. Dari sejak munculnya tabloid-tabloid olahraga generasi pertama seperti Bola (Kelompok Kompas-Gramedia) dan Kompetisi (Group Jawapos) pada akhir ’80-an, saat kami memulai membaca laporan dan ulasan sepakbola, hingga era 2010-an ketika situs-situs berita khusus sepakbola bertebaran, kami merasa semua ulasan sepakbola berbunyi dengan nada yang sama. Ulasan sepakbola, di semua tempat, di segala jenis, hanya terdiri tak lebih dari tiga hal: tebak-tebakan skor di Jumat sore, transkrip nyaris mentah dan alakadarnya dari jalannya pertandingan di Selasa pagi, dan profil pemain yang tak pernah lebih dari biodata yang ditambahi kata penghubung antarkalimat.

Gaya yang sepertinya dirintis oleh para penulis Bola didikan Sumohadi Marsis (atau anggapa saja begitu), dengan sengaja atau tidak, menyelusup ke segala penjuru, di mana ulasan sepakbola ditulis—atau, dalam kasus komentator sepakbola di televisi, diomongkan. Persis, atau setidaknya nyaris. Bukan saja dari segi gaya, tapi hingga ke bentuk judul, bahkan pilihan kata. Idiom-idiom perang yang bertebaran dalam ulasan sepakbola kita, yang tampaknya dicomot mentah-mentah dari ulasan-ulasan sepakbola dari Eropa (dari mana kita mendapatkan nyaris semua berita sepakbola dunia), bertahan dan masih terus dipakai dengan membabi buta oleh semua orang yang menulis sepakbola. Misalnya, menyebut sebuah tim sebagai “pasukan”, “armada”, atau “skuat”, mengistilahkan kiper dan pemain belakang sebagai benteng, mengganti kata pemain dengan “penggawa”, “senjata”, atau bahkan “amunisi”, menulis pemain penting dengan istilah “jenderal”, dan nyaris selalu menyebut pemain depan sebagai “bomber” selain “ujung tombak”. Okelah jika istilah perang itu dipakai dalam ulasan-ulasan sepakbola Eropa, tempat negara-negara dibentuk oleh hasil peperangan yang terjadi belum lama, dan obsesi-obsesi sejarah atasnya masih tetap menghantui--sebagaimana simpulan Liz Crolley dkk (dalam Adam Brown, 1998). Lha, untuk sepakbola di negara yang setiap peralihan kekuasaannya diwarnai aksi penculikan macam Indonesia, istilah armada, jenderal, apalagi bomber bukan saja tidak cocok, tapi terlalu gagah. Ingat, dalam khazanah militer kita, selain bambu runcing dan ilmu kebal, kita hanya punya pleton, kolonel, dan senapan—terutama popornya.  

Di luar kosakata-kosakata peperangan, frasa-frasa dalam tulisan sepakbola kita nyaris seragam seperti tentara. Coba, berapa tulisan sepakbola yang kita baca bebas dari frasa macam “mengoyak jala”, “memungut bola”, “mempecundangi lawan”, “tersungkur di kandang”, “tak dinaungi dewi fortuna”, “pulang dengan tangan hampa”, “memetik poin penuh”, “palang pintu”, “jenderal lapangan”, “kartu as”, “juru gedor”, “kuda hitam”, “mental juara”, “dibekap cedera”, “di atas angin”, “terpuruk di dasar klasemen”, hingga “terancam jurang degradasi”?

Pada awal ’90-an, tulisan-tulisan macam ini tentu saja jadi aose bagi gembala kehausan—dalam bahasa sepakbola ala Bola-lah penggemar sepakbola generasi saya dan Darmanto tumbuh. Namun setelah lebih 20 tahun dan sepakbola masih ditulis dengan cara yang sama, tidak saja di satu media, tapi nyaris di semua media, yang bisa dirasakan justru adalah ulasan-ulasan yang dingin dan rata, persis tegel mushala. Dari pekan ke pekan, sepakbola ditulis berulang-ulang dan dengan cara yang sama, seakan upacara bendera pada Senin pagi di kantor-kantor Pemda. Sorak-sorai penonton, teriakan kiper kepada para beknya, keluhan penyerang atas keputusan offside hakim garis, ledakan petasan dan semburat kembang api dari tribun, ketegangan di bangku cadangan, tak pernah sampai kepada kita, pembaca. Portal-portal dotkom, dengan karakter tulisan yang cekak-aos, yang rampung dibaca dalam sekali lirik, semakin mendamparkan kita pada laporan-laporan sepakbola yang mengingatkan kita pada iklan pendek obat batuk yang diputar tiga kali dalam sekali tayang: bukan saja bikin bosan, tapi malah membuat jengkel.

Dan yang sulit diterima, kok bisa para wartawan itu, juga kebanyakan penulis kolom di koran, menulis sepakbola dengan sejenis keberjarakan atau rasa enggan—atau setidaknya terbaca seperti itu? Ini sepakbola, Bung! Bukan berita perceraian Saipul Jamil. Ini hal yang membuat Musollini mengancam para oriundi dari Argentina memilih apakah mereka mati atau memenangkan Piala Dunia untuk Italia. Ini benda yang membobol gawang Moacir Barbosa dan menenggelamkan seluruh Brazil dalam duka. Ini yang menyebabkan El Salvador berperang lawan Honduras. Ini yang membikin Bangladesh rusuh karena listrik mati tepat saat final Piala Dunia. Ini yang jadi gara-gara 6 suporter PSIS Semarang tewas menjelang final Liga Indonesia 1999. Ini yang boleh jadi merupakan alasan kedua terpenting bagi para pemuda di Malang untuk giat bekerja selain memberangkatkan kedua orangtuanya naik haji.

Sekali lagi, ini sepakbola, Bung! Dari apakah kau diciptakan, sehingga hatimu tak berdebar dan tanganmu tak gemetar saat menuliskan permainan terindah di dunia ini? Kami berasumsi, mungkin, jauh di balik meja redaksi, ada tempelan-tempelan yang mesti dipatuhi bahwa seorang profesional tak boleh menjalin hubungan emosional dengan objek profesinya, sebagaimana hubungan dokter dengan pasiennya, atau tukang sapu jalan dengan sampahnya.

Dugaan itu bisa saja salah. Tapi kami sudah ambil kesimpulan: Belakang Gawang tak akan menghasilkan tulisan ala wartawan, apalagi dalam bentuk tiruannya yang amatiran, dalam kalimat-kalimat penuh idiom-idiom perang, dan frasa-frasa yang terbaca seragam. Kami juga tak ingin mengkopi ucapan para komentator sepakbola di televisi yang prediksinya terdengar seperti hafalan dari siaran pers sebuah rumah judi.

Seperti yang ditulis sebagai kredo Belakang Gawang, sepakbola bagi kami adalah kekasih bagi seorang perindu dendam, suntikan penenang bagi orang keranjingan, atau ampunan Tuhan bagi pendosa. Kami bukan wartawan yang menulis laporan pertandingan dari pinggir lapangan atau tribun samping yang nyaman. Kami adalah penonton di belakang gawang, yang bersorak saat menang, mengumbar caci-maki ketika kecewa, dan meratap-ratap jika tim kami kalah. Kami tak pernah berhasil menjaga jarak dengan sepakbola, sekeras apapun kami mencoba. Kami terlalu mencintainya. Dan dengan cara itulah kami menuliskannya.

Dan dengan cara itulah Darmanto melahirkan tulisan-tulisan sepakbola di buku ini.

***   

Kami bertengkar karena sepakbola, kami juga bersahabat untuk alasan yang sama.
Sekelas selama dua tahun saat SMA, kami agak sulit nyambung soal selera musik, tapi selalu kompak dalam sepakbola. Tiap ada gerombolan siswa yang bermain sepakbola, baik saat sebelum kelas dimulai atau di sela dua istrihat berikutnya, kami berdua selalu ada di sana. Kami selalu bisa ditemukan ikut berdesak-desakan membaca koran dinding, terutama pada halaman sepakbola, sebagaimana kami juga akan mudah didapati berkerumun di meja yang menggelar tabloid sepakbola yang dibawa seorang teman ke dalam kelas. Ia ikut ekskul sepakbola, demikian juga saya; ia mungkin pemain yang lebih baik dari saya, tapi kenapa ia lebih diistimewakan dalam latihan atau pertandingan oleh pelatih pasti karena alasan-alasan yang lebih primordial—dia anak setempat, tidak seperti saya yang dari luar daerah. Merasa sudah tak cukup tertantang dengan TTS di tabloid Bola, di antara kelas akuntansi yang membosankan, kami biasa membuat TTS sepakbola kami sendiri, saling menukarnya, dan siapa yang TTS bikinannya banyak yang kosong dialah yang menang.    

Darmanto, sebagaimana saya, memiliki hubungan yang sangat emosional dengan sepakbola. Sebagaimana yang pernah ditulisnya, ia selalu mual menjelang tim kesayangannya bertanding di laga-laga penting dan tak bisa tidur jika timnya kalah, apalagi dengan cara buruk. Pada tulisan yang sama, salah satu tulisan paling emosional yang pernah dihasilkan Belakang Gawang, ia menceritakan betapa ia tersedu-sedu sepanjang 90 menit saat Barcelona-nya Cruyff disikat Milan-nya Capello pada final Liga Champions 1994. Beberapa tahun kemudian, menjelang sebuah pertandingan semifinal Liga Champions 1997 (saya lupa pertandingan yang mana, tapi tampaknya melibatkan MU, klub kesayangannya), Darmanto menawari saya yang anak pondok untuk ikut menonton di rumahnya. Saya tentu saja senang meskipun saya tahu itu merepotkan. Pada sore yang ditentukan, saya butuh bersiasat untuk bisa meninggalkan pondok, sementara Darmanto butuh menggenjot sepedanya belasan kilo, bolak-balik, naik-turun bukit, dari rumahnya di Puncak Wangi, desa paling tinggi di kecamatan Babat, untuk menjemput saya. Dan ia melakukan itu tidak sekali-dua.

Hubungannya yang emosional dengan sepakbola juga bisa dilihat dari caranya menonton pertandingan. Paling hanya sekali-dua menonton pertandingan langsung di stadion bersamanya, saya lebih banyak melewatkan menonton bersamanya di depan layar televisi. Sejak remaja hingga sekitar dua tahun lalu, saat kami sempat tinggal serumah, menonton sepakbola bersama Darmanto selalu meninggalkan kesan yang sama: seru, ramai, tapi sekaligus mengerikan. Gairahnya yang meluap-luap, mulut, tangan, dan kakinya yang tak mau diam, membuat teman menontonnya bisa merasakan suasana pertandingan yang mendekati nyata. Tapi, karena tabiat menontonnya itu, gairahnya yang meluap itu pada saat-saat tertentu bisa berubah jadi amuk yang tak terkendali.

Seperti yang pernah saya gambarkan dalam sebuah tulisan di Belakang Gawang, saat timnas Indonesia dikalahkan Malaysia pada final Sea Games 2011 lewat adu penalti, Darmanto berkali-kali membanting antena duduk tv tunner di rumah kami, membuat isi sebungkus ketela goreng bertebaran di seluruh ruangan, dan seusai pertandingan mencela siapa pun yang ia dengar merelatifkan kekalahan itu sebagai “kurang beruntung” atau “belum waktunya”. Pada kesempatan lain, saat menyaksikan Valdes membuat blunder konyol sehingga Benzema mampu mencetak gol mudah di menit-menit awal dan membawa Madrid-nya Mou untuk sementara unggul atas Barca-nya Pep, dalam el clasico edisi 2011-12, Darmanto secara spontan melempar botol Aqua yang masih ada isinya ke arah layar televisi. Lemparan itu meleset dan televisi selamat, tapi botol yang masih ada isinya itu menghantam tembok dan menciptakan banjir kecil di seantero ruangan.

Meski menjadi jauh lebih terkendali saat menulis, rasa serupa perut mual, badan menggigil, mata tak bisa memicing, juga ekspresi-ekspresi yang lebih brutal dari itu bisa dengan mudah kita temukan dalam ulasan-ulasan sepakbola Darmanto. Coba saja cermati ratapan-ratapannya usai kekalahan MU, Barca, dan timnas Indonesia. (Dalam tulisan bernada rutukan atas kekalahan timnas Indonesia dari Qatar dalam pertandingan Pra-Piala Dunia 2014, seluruh makian yang bisa dihafalnya bahkan dikeluarkan dalam tulisan.)

Jangan lupakan juga obsesinya yang menggebu atas Jose Mourinho, nama yang membuat kami bertengkar, yang koleksi pialanya memaksanya kagum tapi sepakbola buruk yang dihasilkannya begitu dibencinya. Selain menghasilkan beberapa tulisan khusus tentangnya, yang biasanya panjang, ndakik, dan kurang bersahabat, “si pemalas dari Setubal”, demikian ia sering menyebut, adalah nama yang paling sering muncul dalam tulisan-tulisannya, disebut entah sebagai rujukan tentang sesuatu yang buruk atau sekadar sebagai sebentuk ejekan, bersaing dengan nama-nama yang dicintainya macam Messi, Ronaldinho, hingga Mattew Le Tissier. Uniknya, entah yang ditulis dengan nada dengki atau yang ditulis dengan bibir yang menyeringaikan ejekan, pada tulisan-tulisan yang banyak menyebut nama Mourinho inilah hal-hal terbaik dari Belakang Gawang (dan—kalau boleh jujur—seni menulis ulasan sepakbola di Indonesia) kita dapatkan. 

Lebih kalem dan benar-benar terkendali, bahkan kadang manis, namun secara bersamaan juga menunjukkan betapa istimewanya sepakbola bagi sarjana Biologi yang murtad ini, adalah tulisan-tulisannya yang etnografis. Kata “etnografis” mungkin akan memberi kesan berat atau sok intelek, tapi saya justru mendapati bahwa pada tulisan-tulisan jenis ini kita menemukan sisi personal Darmanto yang kental, baik dalam kapasitasnya sebagai pemain bola tarkam yang mendapati puncak-puncak karirnya di tiap pertandingan agustusan atau sebagai peneliti kesepian yang menghabiskan delapan tahun usia 20-annya di salah satu pulau terluar Indonesia—entah untuk menuntaskan kegelisahan intelektualnya atau untuk mengubur luka cinta remajanya. Saya sama sekali tak heran jika tulisan-tulisan jenis inilah yang kemudian paling banyak mendapatkan pembaca di Belakang Gawang.   

***   

Saya mungkin akan terus terlibat pertengkaran soal sepakbola dengan Darmanto, apalagi jika itu menyangkut Mourinho atau United. Tapi, untuk tulisan-tulisan di buku ini, saya akan siap bertengkar dengan siapa pun yang mengabaikannya sementara ia mengaku menyukai sepakbola. Sepakbola adalah permainan terindah di dunia, dan karena itu ia harus diulas dengan indah. Sepakbola, mengutip kalimat yang pernah diucapkan Darmanto sendiri, harus ditulis dengan badan demam, hati berdebar, dan tangan gemetar.

Terkutuklah mereka yang hanya menyukai tebak-tebakan skor!


Noyokerten, 20 Oktober 2015 

    

1 comment:

  1. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete