Saturday, June 6, 2015

Manakala Milanisti Menciptakan Juventini

Oleh Mahfud Ikhwan


Saya pertama-tama jatuh cinta dengan sepakbola. Setelah itu, baru ke Milan.
Kenapa Milan? Saya tidak tahu persisnya; dan jika pun dijelaskan, tak akan cukup memuaskan.

Milan jelas bukan klub pertama yang saya dengar, yang saya kenal. Dibanding Milan, sepertinya saya lebih dulu mendengar nama Everton, Liverpool atau Manchester United. Klub-klub sepakbola lokal malah jelas jauh lebih awal, bahkan yang namanya kini telah menjadi asing macam Warna Agung, PS Gajah Mungkur, BPD Jateng, Perseman Manokwari, Persis Sorong, Pusri Palembanng, dan tentu saja Niac Mitra (yang dulu selalu saya ucapkan Niat Mitra).

Sama-sama sulit diucapkan, ketika saya pertama kali menemukan nama Ruud Gullit dan Van Basten di sesobek koran bekas tentang Piala Eropa 1992, saya sudah mahir menghafal nama Benny van Breukelen, kiper Arseto Solo, juga nama-nama rumit lain macam Yonas Sawor, Frans Sinatra Huwae, atau Edward Mangilomi. Jika ada klub Italia yang secara sangat samar saya dengar jauh lebih awal, itu adalah Napoli. Saat itu saya sudah mengenal nama Maradona dan Argentina. Saat pertama kali masuk sekolah SD, buku seorang teman bergambar foto-foto tim dengan nama-nama yang sangat aneh (yang jauh belakangan kemudian saya ketahui sebagai nama klub Italia). Di situ saya mendapati nama Maradona dijajar dengan “nama” yang lain yang bukan Argentina.

Maklum, saya memulai dari radio. Bapak saya yang memperkenalkannya. Dan karena yang diputar Bapak selain RRI Jakarta dan RRI Surabaya adalah Radio BBC London, maka Liga Inggris adalah liga Eropa pertama yang saya ikuti, selain Liga Jerman yang disiarkan TVRI. Milan, Fiorentina, Genoa, Padova, Bologna, Parma, juga Juve, menjadi jauh lebih terang bagi saya begitu Piala Dunia 1994 berlangsung. Nama-nama klub itu mulai menyita perhatian karena dikaitkan dengan pemain macam Thomas Brolin, Kennet Anderson, Florin Raduciou, Alexi Lalas, Nestor Sensini, dan tentu saja pemain-pemain Italia yang maju sampai final.

Lalu dari sekian banyak itu, kenapa Milan? Saya tak bisa meyakini satu jawaban pun selain mengira-ngira. Mmm... bolehjadi itu terjadi di saat menjelang sampai usainya final Liga Champion 1995. Dan saat itu Milan kalah. Apakah masuk akal jatuh cinta dengan tim yang kalah? Saya tidak tahu, tapi begitulah.

Yang saya tahu benar asal usulnya malah lahirnya seorang Juventini. Saya tahu karena sayalah sebab-musababnya. Sial!

***

Saya menyukai sepakbola sejak masih TK. Tapi di SMA saya gila. Saya membaca, menghafal, dan kemudian menggunting nyaris apapun yang berkait sepakbola.

Tabloid sepakbola pertama saya adalah Kompetisi, milik Group Jawapos. Karena tabloid inilah, saya yang awalnya berangkat ke Babat ingin mondok tiba-tiba memutuskan untuk ngekos di rumah seorang tukang wingko di dekat Pasar Babat, setelah saya melihat setumpuk Tabloid Kompetisi bekas di ruang tamu si tukang wingko. (Tabloid bekas untuk pembungkus wingko itu sebagian kemudian diam-diam saya colong dan guntingi.)

Bergaul dengan anak-anak kota (kecil), saya segera mengenal Bola. Tapi, cinta sejati saya adalah GO, pimpinan Hardimen Kotto. Di antara Kompetisi yang terlalu kecil dan Bola terlalu mahal, GO menawarkan harga yang lebih murah dengan ukuran yang lebih besar, tulisan bola yang lebih banyak, dan—yang terpenting—poster pemain. Hal terakhir inilah yang membuat saya memilih menahan diri untuk membeli GO edisi baru, agar bisa membeli GO bekas secara kiloan, dan mendapatkan poster pemain lebih banyak.

Poster-poster itu terdistribusi ke mana-mana. Sebagian saya tempel berjejal-jejal di lemari pondokan yang saya yang kecil dan reot (ya, saya akhirnya tetap mondok—mau jadi apa kalau tidak mondok?). Yang terbanyak saya tempel di buku-buku sekolah saya, terutama di sampul-sampul buku pelajaran IPA yang sampulnya membosankan itu. Yang terbaik saya bawa pulang, saya kasih alas kardus, saya beri pigura, dan saya pajang di ruang tamu rumah. Meskipun telah menjadi fans Milan yang bangga, saya tetap dengan mudah menyukai pemain dari klub mana pun. Karena itu, poster pemain yang saya pajang di dinding rumah berasal dari bermacam klub. Saya sudah lupa poster siapa saja yang saya pajang, tapi saya ingat bahwa Milan hanya diwakili oleh Marco Simone, striker yang saat itu pun sudah pindah ke PSG. Tapi poster kesayangan saya adalah duel langka antara Batistuta (dengan kaos ungu Fiorentina bersponsor dada Gelati Sammontana) melawan Del Piero (dalam kaos lorek bertajuk Danone). Kenapa itu poster langka? Karena tangan sayalah, dibantu gunting dan lem, yang membikinnya.

Mungkin saat ini Anda, bahkan saya sendiri, akan menertawakan poster rekayasa itu. Tapi tidak untuk seseorang.

Poster-poster pemain itu sebenarnya tak bertahan lama di tempatnya. Saya jatuh cinta dengan kanvas dan cat minyak, terutama di kelas tiga SMA. Dan sori saja... untuk saat itu, kegilaan pada sepakbola tak berdaya mengalahkan gejolak jiwa seni yang tengah menggelegak. Poster-poster itu saya campakkan. Tapi seseorang, dengan mata dan kepalanya yang masih kecil, justru menyimpannya dengan baik—dan kemudian selektif. Dan “makhluk yang tak dikehendaki itu” kemudian lahir dari situ.

***

Saya suka pamer kegilaan saya dengan sepakbola, tapi saya tak suka mempengaruhi orang lain, termasuk dengan keluarga atau teman dekat. Makanya, saya tidak ingat pernah memaksa-maksa orang lain, termasuk adik saya, menonton atau menikmati sepakbola (kecuali jika itu membuat saya bisa menonton sepakbola: pemilik tv atau lurah pondok, misalnya). Meski demikian, saya tidak heran ketika, pada satu kesempatan balik dari Jogja, saya dipersalahkan oleh guru madrasah setempat soal adik saya. Pasalnya, saat Ujian Akhir tingkat SD, dia selalu menyelesaikan soal dengan terburu-buru, dan sudah keluar dari ruang ujian saat waktu masih tersisa puluhan menit. Kenapa saya dipersalahkan? Karena bocah itu buru-buru menyelesaikan soal ujiannya cuma agar bisa menyaksikan pertandingan Copa Amerika.

“Ah, dasar anak bapaknya dan adik kakaknya,” begitu cibir orang-orang. Dan, dengan tersenyum-senyum, saya menyepakatinya.

Saya juga tidak heran ketika sangat belakangan saya tahu kalau ia menjadi pendukung Juventus. Pasti karena ia mulai menyukai sepakbola bersamaan dengan masa-masa hebat Juventus di pertengahan hingga akhir ‘90-an, saat Juve menguasai sendirian Serie A dan jadi langganan final Liga Champions.

“Ah, paling karena menangan,” begitu tebak saya, sambil mengejek. Adik saya menggeleng.

“Lha, terus?”

Ia tersenyum dengan sungkan: “Karena poster Del Piero-mu di rumah dulu.”

Lihat, Juve bahkan melakukan kecurangan di rumah saya!

***

Saya tidak punya persoalan dengan Juventus. Sungguh! Wani kithing! Tidak cuma punya adik yang Juventini, saya juga punya banyak teman dekat yang Juventini. Jadi, tentu saja saya berharap yang terbaik untuk mereka.

Misalnya, dengan mengukuhkan predikatnya sebagai runner-up terbanyak Liga Champions. Itu jelas hebat. Dan itu sebuah rekor!

Jangan salah paham. Seperti yang dilakukan semua fans atas klubnya, yang saya harapkan adalah yang terbaik untuk klub saya, AC Milan—di tengah keterpurukannya. Karena Milan tidak sedang dalam kondisi bisa diharapkan mempertahankan kebesarannya, maka yang bisa saya dilakukan adalah berharap kebesaran itu tak terkurangi. Mengharapkan Barca dan Juve sama-sama gagal jelas tak mungkin, maka yang paling mungkin adalah mengharapkan Juve gagal.

Milan 7 gelar juara, Juve 6 gelar runner-up. Itu akan bagus untuk Italia, ya to?

1 comment:

  1. Saya juga Milanisti sejak 2005 dan saya tahu bahwa saat itu Milan sudah kalah di final Liga Champions, jadi sama-sama membela tim yang barusan kalah

    ReplyDelete