Thursday, May 15, 2014

Piala Dunia a la Galeano II: Piala Dunia 1934*

Oleh Eduardo Galeano; Alibahasa Mahfud Ikhwan

Johnny Weissmuller sedang mengarang auman pertama Tarzan; kolonye pertama yang diproduksi massal tengah menggebrak pasar; sementara Polisi Louisiana menembak mati Bonnie dan Clyde. Bolivia dan Paraguay, dua negara paling miskin di Amerika Selatan, berperang atas nama Standar Oil dan Shell berkait minyak di Chaco. Sandino, yang digulingkan para marinir di Nikaragua, ditembak mati dalam sebuah penyergapan. Samoza, pembunuhnya, meresmikan dinastinya. Di Cina, Mao memulai Long March-nya. Di Jerman, Hitler ditahbiskan sebagai Fuhrer of the Third Reich dan mewara-warakan Undang-undang Pemurnian Ras Aria, yang memaksakan pembersihan para penjahat dan semua orang yang memiliki penyakit turunan. Dan di Italia, Mussolini tengah membuka Piala Dunia Kedua.

Poster untuk kejuaraan menunjukkan gambar Hercules yang menimang bola di kakinya sementara tangannya mengacungkan salam fasis. Untuk Il Duce (Sang Pimpinan), Piala Dunia ’34 di Roma adalah sebuah ajang propaganda yang terencana. Mussolini hadir di semua pertandingan, duduk di bangku kehormatan, dengan dagu mendongak ke arah tribun yang dipenuhi penonton berpakaian hitam. Sebelas pemain Italia mempersembahkan kemenangan-kemenangan mereka kepadanya. Tangan kanan mereka mengulur ke depan.

Namun jalan menuju gelar tidaklah mudah. Semifinal antara Italia dan Spanyol muncul sebagai pertandingan paling melelahkan dalam sejarah Piala Dunia. Pertempuran berakhir 210 menit dan tak juga rampung sampai hari berikutnya. Italia menang, namun menyelesaikan pertandingan tanpa empat pemain intinya, sementara Spanyol tanpa tujuh pemain utamanya, yang menepi karena digasak cedera atau dirundung kepayahan. Di antara yang cedera terdapat dua pemain terbaik Spanyol: Langara dan si kiper Zamora, yang memukau siapa pun pemain lawan yang menjejak kotak penaltinya.

Italia meraih tiket final melawan Cekoslowakia di Stadion Partai Fasis Nasional dan menang 2-1. Dua orang Argentina yang baru-baru itu saja dinasioalisasi sebagai orang Italia mengerjakan tugasnya: Orsi mencetak gol pertama, menggocek bola melewati kiper, dan Guaita, orang Argentina yang lain, memberi umpan pada Schiavio untuk menciptakan gol yang memberi Italia gelar Piala Dunia pertamanya.

Pada tahun ’34, enambelas negara ambil bagian: duabelas dari Eropa, tiga dari Amerika Latin, dan Mesir, yang mewakili belahan dunia sisanya. Sang juara bertahan, Uruguay, menolak datang karena Italia tak datang ke Piala Dunia pertama di Montevideo.

Jerman dan Austria jadi yang ketiga dan keempat. Orang Ceko, Nejedly, jadi pimpinan pencetak gol dengan lima gol, diikuti oleh Cohen dari Jerman dan Schiavio dari Italia dengan empat gol.


*diterjemahkan dari Soccer in Sun and Shadow; trans. Mark Fried; Verso, 2003. 

No comments:

Post a Comment