Monday, May 19, 2014

Piala Dunia a la Galeano IV: Piala Dunia 1950*




Oleh Eduardo Galeano; Alihbahasa Mahfud Ikhwan

Televisi berwarna sudah muncul; komputer-komputer melakukan ribuan operasi dalam satu detik; Marilyn Monroe melakukan debut Hollywood-nya. Sebuah film karya Bunuel, “Los Olvidados”, merebut Cannes. Otomobil yang dikendarai Fangio menang di Prancis. Bertrand Russell memenangkan Nobel. Neruda menerbitkan Canto General-nya, sementara Onetti dan Octavio Paz mengeluarkan edisi pertama dari A Brief Life dan The Labyrinth of Solitude.

Albizu Campos, yang berjuang keras dan berkepanjangan demi kemerdekaan Puerto Rico, dijatuhi hukuman tujuhpuluh sembilan tahun di penjara Amerika Serikat. Seorang informan menjeritkan nama Salvatore Giuliano, bandit legendaris dari Italia Selatan, dan dia terkapar sekarat, dilubangi peluru polisi. Di Cina, pemerintahan Mao mengambil langkah pertama dengan melarang poligami dan penjualan anak. Dibungkus dalam bendera PBB, tentara Amerika menyerang Semenanjung Korea dengan api dan pedang, sementara para pemain sepakbola mendarat di Rio de Janeiro untuk bersaing di Rimet Cup keempat setelah prei panjang sehabis perang .

Yang ambil bagian pada turnamen 1950 di Brazil terdiri atas tujuh negara dari Benua Amerika dan enam dari Eropa yang baru saja bangkit dari debu perang. FIFA tak membolehkan Jerman ikut bermain. Untuk pertama kalinya, Inggris ikut Piala Dunia. Sebelum-sebelumnya, orang Inggris menganggap remeh kejuaraan tersebut. Percaya atau tidak, Inggris kalah oleh Amerika Serikat. Dan gol yang menempatkan Amerika di atas angin bukan dibikin oleh Jenderal George Washington, melainkan oleh seorang ujung tombak dari Haiti hitam bernama Larry Gaetjens.

Brazil dan Uruguay meraih final di Maracana, kandang baru tim tuan rumah, stadion terbesar di dunia. Brazil yakin jadi juara. Final akan jadi sebuah pesta. Sebelum pertandingan dimulai, para pemain Brazil, yang menghancurkan tim-tim yang mereka hadapi dengan gol demi gol, dianugerahi gelang emas dengan tulisan “Untuk Juara Dunia” yang tertera di gelang belakangnya. Halaman depan koran telah dicetak lebih dulu, arak-arakan raksasa yang akan memimpin parade kemenangan sudah diatur, setengah juta kaos dengan semboyan tentang kemenangan yang pasti datang sudah diperjual-belikan.

Saat pemain Brazil Friaca mencetak gol pertama, gemuruh suara dari duaratus ribu penonton dan ledakan kembang api mengguncang stadion monumental itu. Namun kemudian Schiaffino menyamakan kedudukan dan sebuah tembakan dari pemain sayap Giggia memberikan mahkota juara bagi Uruguay dengan kemenangan 2-1. Saat Giggia mencetak gol, keheningan di Maracana begitu memekakkan. Keheningan paling parau dalam sejarah sepakbola. Ary Baroso, musisi dan komposer lagu Acuela do Brasil, yang mengomentari pertandingan ke seluruh penjuru negeri, mundur dari dunia penyiaran demi kebaikannya.    

Usai peluit panjang, komentator Brazil menyebut kekalahan tersebut sebagai “tragedi paling buruk dalam sejarah Brazil”. Jules Rimet menyeberang lapangan seperti arwah gentayangan, memeluk piala yang bertatahkan namanya: “Aku mendapati diriku sendirian dengan piala di genggaman dan tak tahu apa yang harus kulakukan. Aku akhirnya menemukan kapten Uruguay, Obdulio Varela, dan aku berikan piala itu kepadanya dengan cara seolah-olah tak membiarkan siapa pun tahu. Aku ulurkan tanganku tanpa bicara sepatah kata.”

Di sakunya, Rimet menyimpan naskah pidato yang dia tulis untuk memberi ucapan selamat atas kemenangan Brazil.

Uruguay juara dengan bersih: mereka hanya melakukan sebelas pelanggaran, dibanding Brazil yang melakukan duapuluh satu pelanggaran.

Tempat ketiga diraih Swedia. Yang keempat didapat Spanyol. Ademir dari Brazil memimpin daftar pencetak gol dengan sembilan gol, diikuti oleh Schiaffino dari Uruguay dengan enam gol dan Zarra dari Spanyol dengan lima gol.


*diterjemahkan dari Soccer in Sun and Shadow; trans. Mark Fried; Verso, 2003. 

1 comment: