Friday, May 9, 2014

Moreno*

Oleh Eduardo Galeano; Alihbahasa Mahfud Ikhwan


Mereka menyebutnya “El Charro” sebab wajahnya mirip seorang bintang film Mexico. Tapi dia berasal dari daerah hulu di pinggiran Buenos Aires.

Jose Manuel Moreno, pemain paling populer River Plate era “Mesin”, suka sekali menyaru: kaki perompaknya tampak akan menendang ke satu arah tapi bola menuju ke arah lain, sementara kepalanya yang bajingan menunjukkan hendak menanduk ke arah tiang gawang sini namun bola meluncur ke tiang sana.

Kapan pun lawan menggasaknya, Moreno akan bangun sendiri dan tanpa mengeluh. Dan betapa pun dia kesakitan, dia akan tetap bermain. Dia angkuh, penuh lagak dan petantang-petenteng, yang bisa memukul KO seluruh pendukung lawan. Juga dirinya sendiri. Sebab, meskipun penggemarnya mengelu-elukannya, mereka punya tabiat buruk mencercanya setiap River kalah.

Penyuka musik bermutu, senang berteman, gemar keluyuran malam, Moreno biasa menyambut fajar dalam keadaan awut-awutan. Nyungsep di ketiak seorang perempuan. Atau, tengah ngorok bertopang dagu di meja sebuah kedai minuman.

“Tango,” katanya, “adalah cara terbaik untuk berlatih: kamu merawat ritme, lalu mengubahnya saat melangkah maju, kamu mengenali berbagai sisi, kamu bekerja dengan tangan dan kaki-kakimu.”

Pada Minggu tengah hari bolong, sebelum waktu pertandingan, dia akan mengganyang sebaskom besar ayam rebus dan menenggak tandas berbotol-botol anggur merah. Pihak berwenang di River memerintahkannya untuk menghentikan kebiasaan buruknya itu, yang tak pantas untuk seorang atlet profesional. Dia melakukan sebisanya. Sepanjang pekan dia tidur saat malam dan tidak minum selain susu. Lalu dia memainkan pertandingan terburuk dalam hidupnya. Ketika dia kembali teler, klub menghukumnya. Rekan-rekan setimnya mogok untuk menunjukkan solidaritas atas si urakan bengal ini. River kemudian memainkan sembilan pertandingan dengan pemain cadangan.

Tapi coba dengar: Moreno adalah salah satu pemain dengan karir terpanjang dalam sejarah sepakbola. Dia bermain selama 20 tahun di divisi utama dengan klub-klub Argentina, Mexico, Chile, Uruguay, dan Kolumbia. Pada 1946, saat dia kembali dari Mexico, pendukung River begitu tak sabar melihat tusukan-tusukan dan tipuannya sehingga mereka membanjiri stadion. Lebih banyak lagi pendukung fanatik yang menjebol pagar dan menyerbu lapangan. Ia mencetak tiga gol dan mereka membopongnya di atas pundak. 

Pada 1952, klub Nacional di Montevideo memberinya tawaran menggiurkan. Namun, dia justru memilih bermain untuk klub Uruguay lain, Defensor, klub kecil yang cuma bisa membayar alakadarnya. Alasannya, dia punya beberapa teman di sana. Tahun itu, Moreno menyelamatkan Defensor dari kehancuran.

Pada 1961, setelah pensiun, dia jadi pelatih Medellin di Kolumbia. Medellin tengah kalah dalam sebuah pertandingan melawan Boca Juniors dari Argentina, dan pemain-pemain Medellin sama sekali tak bisa mendekati gawang lawan. Maka Moreno, saat itu berumur 45, melepas baju pelatihnya, masuk lapangan dan mencetak dua gol. Medellin menang.


*diterjemahkan dari Soccer in Sun and Shadow; trans. Mark Fried; Verso, 2003

No comments:

Post a Comment