Monday, April 23, 2012

Messi Yang Biasa Saja

Oleh Darmanto Simaepa

Gol Drogba ke gawang Barca membuktikan ucapan Peter Cech sehari sebelumnya.’Messi juga manusia,’ ujar kiper Ceko itu. Yang membuktikan kata-kata Cech bukannya karena Messi gagal bersinar, tidak mampu melewati lawan, atau memberi umpan brilian. Messi tetap menjadi orang paling berpengaruh di lapangan—seperti yang ia lakukan di setiap pekan.

Peter Cech benar karena satu hal: Messi membuat satu kesalahan terpenting dalam pertandingan itu. Ia gagal menguasai bola, lalu Frank Lampard berhasil mencegatnya dan memberi umpan diagonal yang, kalau Mario Teguh penggemar bola pasti akan bilang, supppppperrrr! Di detik yang sama, Ramires, si Kenya Biru itu, mengambil momentum larinya. Serangan balik kilat membuat empat bek sejajar Barca kehilangan awalan untuk berbalik arah. Satu-satunya tembakan ke gawang dan satu-satunya peluang dari Chelsea, juga satu-satunya gol di Stamford Bridge.

Empat hari kemudian Madrid dan Barca seperti biasa—kecuali kerendahan tensinya. Madrid, dengan pendekatan anti-taktik Barca, tidak banyak menguasai bola. Sedikit tembakan ke gawang, sedikit peluang. Ronaldo, diluar aktingnya dan satu lari kencang dan penyelesaian akhir yang klinis, tidak begitu kelihatan sebelumnya.

Kesalahan umpan, bola tercegat, dan serangan balik yang mematikan. Strategi menyerang (dan satu-satunya cara yang diketahuinya) menghukum Barca. Apa yang dialami oleh Barca dalam empat hari terakhir ini mengingatkan saya akan kata-kata penganjur Catenaccio, Eanzo Bearzot, yang membawa Italia juara piala Dunia 1982. Dalam sejarah pertandingan besar, kata Bearzot, siapa yang menang bukanlah tim yang selalu membuka peluang, menyerang dan menembak ke gawang. Tim pemenang tidak selalu bermain dengan taktik dan strategi. ‘Namun, tim yang menang,’ ujarnya usai piala dunia yang dimenanginya, ‘adalah tim yang membuat paling sedikit kesalahan.’

Pelatih kontemporer yang paling obsesif dengan ucapan Bearzot barangkali adalah el-Loco Marcelo Bielsa dan Mourinho. Secara ekstrim, Bielsa mengklaim akan mengetahui siapa tim yang menang dan kalah dengan melihat jumlah umpan dalam suatu serangan yang berhasil dan jumlah salah umpan yang terjadi dalam menit-menit tertentu. El-Loco menggunakan Chile dan sekarang Bilbao sebagai laboratorium untuk mengembangkan tim pembuat gol dari peningkatan proporsi umpan tepat sasaran dan menghindari kebobolan dari serangan kebetulan dan bola-bola mati.

Morinho yang dengan pintar, mengambil rute yang berbeda. Ia memanfaatkan kesalahan lawan sebagai dasar penciptaan peluang. Kehebatannya adalah menggunakan jurus lama Kung Fu: menggunakan kekuatan lawan untuk membuat serangan balik. Ia sangat impulsif dengan cara menciptakan serangan paling cepat setelah lawan gagal menekan dan empat bek lawan kehilangan kesejajarannya. Gol-gol serangan balik di Mestalla dan di Nou Camp, terjadi lewat 3-4 sentuhan selama 6-13 detik dari kegagalan pertama pemain lawan mengumpan.

Ia lebih marah melihat blunder para pemain belakangnya dari pada mendapati strikernya membuang banyak peluang. Mungkin dia tidak terlihat kreatif, meracik taktik dengan indah, atau mengusung kemenangan dengan elegan. Namun kita harus ingat, Mou tidak pernah kalah dalam pertandingan finalnya. Kehebatan Mou, salah satunya adalah, memastikan pemainnya tidak salah umpan yang mengundang serangan balik. Saat membawa Inter dan Porto menang di final, timnya tak pernah terkena serangan mendadak lawan.

*****

Dalam pertandingan ketat dan penuh tensi: kepintaraan dan kebrilianan kadang kala dihukum oleh sebuah kesalahan kecil. Kita ingat Portugal melawan Yunani di final piala Eropa. Tim Brazil 1982 yang indah, elegan dan flamboyan gagal juara karena karena salah pengertian antara Junior dan Socrates saat menghadapi Italia. Kita ingat tragedi Maracana akibat kesalahan antisipasi Alcides dan Moacir Barbosa. Orang Indonesia mungkin lupa bahwa timnas gagal dua kali di SEA GAMES (1979 dan 1981), karena dua salah umpan Ronny Pattinasarani, pemain terbaik di Indonesia saat itu.

Tentu saja, kita bisa mengambil perspektif tersendiri terhadap pertandingan Barca vs Chelsea atau Barca vs Madrid. Anda bisa menyebut ketidakberuntungan: taktik ultra-defensif Di Matteo atau Mourinho; Drogba dan Ronaldo yang lebay seperti aktor kelas satu; spirit tim Chelsea atau Madrid yang kuat, empat bek dibawah arahan John Tery yang brilian dan trio gelandang bertahan yang disiplin di Madrid.

Namun menurut saya, momen krusialnya ada pada kesalahan Messi mengamankan bola menjelang turun minum itu dan kesalahan Tello dalam mengumpan ke arah Iniesta. Ini bukanlah kejadian kebetulan. Jika Anda ingat kekalahan Barca dari Inter di edisi Champion 2010, gol terakhir yang dicetak oleh Milito lewat serangan balik juga dimulai dari kesalahan Messi menguasai bola di sayap kanan. Sekuennya hampir sama: Messi membawa bola, Barca menyusun serangan, empat bek sejajar maju, lalu rencana gagal dan serangan balik kilat yang membunuh. Begitu juga gol kedua yang diawali oleh pelanggaran Messi terhadap Maicon. Anda juga harus ingat gol Lampard di Nou Camp yang berawal dari kesalahan umpan Ronaldinho.

Saya tidak tahu kenapa kesalahan krusial Messi kurang dibahas media. Mungkin ini karena kita punya imajinasi tersendiri terhadapnya. Selama tiga tahunan ini, Messi digambarkan nyaris seperti dewa. Media massa dan pengamat menulis tentang pemain dari sebuah planet lain dengan hidup sempurna. Statistik membeberkan berapa banyak umpan dan gol ia lesakkan ke gawang lawan. Tentu saja dia pemain terhebat saat ini. Namun, imajinasi tentang Messi sedikit mengaburkan bahwa sepakbola adalah permainan yang secara alamiah berisi cerita tentang kesalahan dan kekalahan.

Beragam analisis para pundit bisa didengarkan dan dijadikan panduan. Ada faktor kelelahan: Messi hampir memainkan semua pertandingan di semua kompetisi musim ini. Cedera rekan-rekan setimnya, Afellay, Villa, Pique, Abidal. Dan performa Xavi dan Iniesta. Ya, ini fakta. Tetapi semua tim yang bermain di banyak kompetisi mengalami hal yang sama. Tak ada tim yang bebas dari resiko cedera. Saya pikir ini alasan yang mudah dibantah.

*****

Sepakbola adalah permainan manusiawi. Tim yang paling hebat pada masanya, tidak pernah bisa menang terus menerus. The Dream Team Milan akhirnya bisa kalah oleh tim gurem Parma dan Barca runtuh oleh kesombongannya sendiri di Athena. The invicible Arsenal harus takluk—meskipun melalui pertandingan brutal di Old Traffold. Meskipun menyesakkan, ada untungnya juga Messi berbuat salah dan Barca kalah. Sepakbola akan sangat membosankan jika Barca menguasai bola dan menang terus menerus.

‘Yang indah dari olahraga,’ kata Mou suatu kali di FourFourTwo, ‘Kita bisa menguji dan diuji tim yang lebih baik dari kita.’ Jika Barca mengumpulkan seluruh medali, apa gunanya kompetisi? Seperti halnya dalam revolusi ilmiah, suatu paradigma permainan sepakbola akan selalu mengundang tantangan dari paradigma lain yang berbeda. Strategi menyerang Madrid era Di Stefano menghasilkan antitesis pertahanan grendel Helenio Herera. Total voetball Belanda yang egaliter menghasilkan permainan terpimpin der Panzer dengan der Kaizer Beckenbauer-nya. Strategi Barca era 90-an harus macet oleh taktik Milan arahan Capello.

Kekalahan Barca, sepertinya juga akan membawa kebaikan untuk Messi. Ia dicintai karena membawa kisah yang penuh perjuangan: anak brilian yang memiliki masalah hormon pertumbuhan. Mampu mengalahkan kesepian di La Masia dan tumbuh menjadi remaja yang kuat. Ia adalah contoh kisah dongeng produksi Walt Disney. Ia dicintai karena semua orang menginginkan ceritanya berakhir bahagia. Ia dicintai karena semua orang ingin menjadi dirinya. Tidak ada celah dalam hidupnya yang tidak kita sukai.

Namun untuk menjadi kuat dan terhebat dalam sejarah sepakbola—ia, sepertinya, harus mengalami kegagalan. Pemain-pemain hebat adalah figur yang membuat kesalahan. Maradona di kartu merah dalam debut piala di dunia 1982. Van Basten gagal menembak penalti terpenting dalam hidupnya di piala Eropa 1992. Prancis selalu mengingat kesalahan umpan Ginola dan Cantona saat melawan Bulgaria. Kesalahan-kesalahan itu pahit diterima, tapi ini memberi gambaran bahwa sepakbola selalu dimainkan dengan cara yang manusiawi.

Jika ingin menyaksikan Messi mengangkat piala dunia, saya pikir, dia harus lebih banyak mendapatkan kegagalan dan frustasi. Saya teringat bagaimana reaksi Zidane terhadap kebintangannya di piala dunia 1998 setelah ia kalah dalam final Champion pertamanya. Begitu pula, ketika ia gagal mendapat piala dunia di usia emasnya ketika baru saja mencetak salah satu gol terindah di final piala Champions edisi 2002. ‘Dalam sepakbola, Anda tidak mendapatkan semuanya dalam satu waktu’ kata Zidane saat berefleksi atas tindakannya terhadap Materazzi, ‘itulah kenapa saya masih menjadi l’humane’.

Gol Chelsea adalah satu momen dimana sepakbola adalah permainan manusia dan Messi bukanlah dewa...

2 comments:

  1. Bukan penggemar BARCA apalagi Messi :), filippo Inzaghi tetep numero uno #tssaahhhh :D

    ReplyDelete
  2. Keren tulisannya Bang. Kalau tidak salah. strategi Barca di dua pertandingan itu 3-4-3 (cmiiw). Merunut pertandingan lampau, Xavi juga melakukan kesalahan yang sama sewaktu Chelsea vs Barcelona. Saya ingat Xavi melakukan gerakan memutar di tengah lapangan dan terhenti pemain tengah Chelsea, Satu dua umpan dan menjadi gol. Dan untuk permainan Barcelona memang seperti itulah gol gol itulah yang membunuh mereka dari jaman bek Ferrer, Koeman, Christanval hingga sekarang.

    ReplyDelete