Sunday, April 15, 2012

Sepakbola Wanita (di) Eropa

Oleh Darmanto Simaepa

Saat cuaca Leiden menghangat di akhir Maret, sepulang dari kuliah atau perpustakaan, saya menikmati sejenak gadis-gadis kecil berambut pirang bermain bola dengan teman laki-lakinya di jalanan dekat kos kos-an. Di akhir pekan, gadis-gadis kecil yang berbeda bermain di taman Hoffland sambil menikmati matahari musim semi—juga dengan sekumpulan bocah laki-laki. Mereka mungkin masih tidur dengan barbie atau belajar mengusap lipstik sendiri, tapi sepertinya tidak dilarang menendang si kulit bundar karena jenis kelaminnya. Di benua di mana seksisme berusaha dikikis habis, sepakbola menjanjikan buat perempuan dan terlihat demokratis.

Tetapi ternyata tidak begitu faktanya. Di Belanda, saya hanya sedikit mendengar obrolan liga wanita. Berita pesepakbola wanita jarang muncul dikoran setempat, buku panduan ekstrakurikuler universitas atau siaran televisi. Supervisor penelitian saya—suaminya pemain bola amatir—bahkan tak pernah ke stadion. Majalah-majalah sepakbola terkenal seperti Voetbal International, Kickers, French Footbal, dan World Soccer hampir semuanya berisi kisah laki-laki. Hanya sesekali situs yahoo Belanda melaporkan berita kalau ada pemain cantik yang cedera, skor-skor besar, atau saat Ajax dan tim besar di Eredevisie tidak bertanding.

Di liga terbaik Eropa—Spanyol, Inggris, Italia, Prancis—liga wanita tak populer. Meskipun tiap pekan ruang keluarga dilimpahi siaran sepakbola terbaik atau cewek-cewek terbiasa menemani pacarnya ke stadion, sepakbola tak pernah menjadi olahraga kaum wanita. Negara-negara juara dunia untuk laki-laki ini bahkan tidak ada satupun berhasil menembus semifinal piala dunia wanita. Sementara Jerman yang juara dunia dua kali masih harus meminta pemainnya memamerkan payudara dan bokong di majalah Playboy agar penonton tertarik pergi ke stadion.

‘Pemain perempuan disini sangat hebat. Sungguh sangat hebat,’ Jan van der Ploegh, mahasiswa PhD antropologi yang juga pemain sepakbola di akhir pekan, mengatakan, ‘Mereka bisa mematahkan kakimu dan membuatmu seperti pemain amatir,’. Tetapi dia juga tidak tahu mengapa liga perempuan di Belanda tidak pernah masuk televisi. Di awal April, dia menyarankanku melihat pertandingan sepakbola semi profesional di Cattweigt, sebuah desa pantai dekat Leiden yang terkenal akan kegilaan bermain sepakbola.

Aku melihatnya sebentar dari luar stadion yang berpagar kawat. Tidak ada bangku-bangku seperti stadion kecil di Millwall atau Larborough di Inggris—meskipun rumputnya sangat empuk dan halus. Penonton juga tidak terlalu banyak. Karena cuaca mendadak turun lagi, para pemain perempuan itu tidak begitu maksimal menendang bola. Meskipun begitu, saya bisa melihat sepakbola industri ‘sungguhan’: teamwork, skill, persiapan, organisasi permainan, kerja keras, wasit yang teliti. Saya yakin—meskipun ini tidak mungkin diperbandingkan—para pemain perempuan itu akan membuat Andik Vermansyah atau Boaz sama sulitnya mencetak gol ke gawang Sriwijaya atau Persib Bandung.

Jan hanya menggelengkan kepala ketika ditanya kenapa sepakbola perempuan tidak begitu berkembang dan populer di Eropa, meskipun para pemainnya bermain dengan brilian. Dia hanya menjawa dengan sebuah hipotesis. ‘Mungkin standar permainan sepakbola profesional pria jauh lebih bagus,’ ujarnya, ‘atau siaran televisi memang lebih tertarik kepada laki-laki’. Saya tidak membenarkannya. Hanya saja, saya langsung teringat di bulan Martha terpilih sebagai pemain terbaik dunia perempuan untuk kali kelima berturut-turut, FourFourTwo malah menulis puing-puing stadion dan laki-laki gila yang meninggalkan keluarga demi klubnya.

Anehnya, liga sepakbola berkembang di negara-negara yang timnas laki-lakinya kurang ditakuti. Norwegia, Kanada atau Amerika adalah negara yang menggelar kompetisi wanita secara teratur. Mereka membayar pemain seperti Martha dengan layak. Padahal di negara itu sepakbola tak menjadi olahraga rakyat. Cina selalu jadi kuda hitam dan maju ke Final ke dua edisi piala dunia. Swedia selalu lolos ke perempat final dalam beberapa edisi terakhir. Sementara Inggris, Spanyol, Belanda, yang liganya dianggap terbaik tak pernah bisa maju hingga ke Semifinal.

Di sinilah letak paradoks sepakbola. Di Kanada dan Amerika, separuh pemain profesional adalah wanita dan prestasi timnasnya dalam urusan mencetak gol mengalahkan tim prianya. Sebuah dokumen resmi FA menyebutkan (Anda bisa mengunduhnya dari FIFA.com), di Inggris, dimana para gadis muda bermimpi dipacari pesepakbola, perempuan memainkan sepakbola sebagai rekreasi. Remaja berbakat sulit menapak jenjang karir dari lapangan di taman, menuju tim sekolah menengah, universitas hingga akhirnya berlabuh di klub profesional.

Ini jelas aneh karena disisi yang lain, Chris Smalling hanya bermain di taman di Oxford sambil mencuci piring untuk sebuah hotel 2-3 tahun yang lalu dan kini secara teratur bermain di Old Trafford dan akan bermain untuk Inggris di piala Eropa. Di negeri dimana sepertiga transaksi industri sepakbola berputar, dan kisah cinderela seperti Smalling bisa terjadi di liga prianya, kompetisi wanitanya bermasalah dengan pelatih, sponsor, stadion, dan kestabilan. Bahkan, sebagian besar klub perempuan bernaung di klub ‘laki-laki’ dan menjadi parasit karena tidak menghasilkan uang sendiri.

Dalam buku Football Againts Enemy (1994), Simon Kuper menyebut sepakbola berkembang di Amerika dan Norwegia karena kecelakaan strategi pemasaran. Di Amerika, federasi sepakbola pada awalnya mendekati keluarga seperti salesman menjual produk pembasmi kecoa. Jelas ini sebuah taktik primitif yang terpaksa dipilih karena media, televisi dan universitas sudah dikuasai Basket dan American Football. Yang tidak disangka, mereka justru mendapat perempuan penuh talenta. Dengan sedikit modifikasi, asosiasi sepakbola Amerika kemudian mengarahkan ke institusi pendidikan di SMP dan SMA.

Anehnya, generasi awal yang masuk industri sepakbola berasal dari sekolah-sekolah menengah kelasatas terdidik. April Heinrich, kapten Amerika yang mengangkat piala dunia di China mengatakan, justru karena simbol kelas atas, sepakbola wanita menjadi mudah tersebar. Remaja putri berbakat di sana akan mendapat dua hal sekaligus: gelar sarjana dan kesenangan bermain bola. Industri sepakbola berjalan bukan karena iklan dan televisi tetapi terkait sistem pendidikan tinggi.

Tesis sederhana tentang hubungan antara kesetaraan jender dan hilangnya seksisme dalam relasi sosial dengan sepakbola sebagai olahraga maskulin belum sepenuhnya terbukti. Saya kira perempuan di Eropa tidak banyak mendapatkan prasangka sosial karena tidak bisa memilih jenis kelamin pada waktu lahir. Di Belanda dan, seperti di film seperti Bend it Like Beckham gadis cantik tidak selalu identik dengan catwalk atau calon pemenang miss universe.

Masalahnya barangkali ada pada struktur industrinya. Dalam logika investasi dan akumulasi, siaran sepakbola perempuan relatif jarang masuk rating tinggi. Iklan-iklan jarang menampilkan celana dalam Mia Hamm atau parfum Brigite Prinz. Saya tetap tidak mengerti kenapa para perempuan berteriak histeria dan menunggu berjam-jam untuk melihat lambaian tangan Beckham dalam beberapa detik dari kejauhan di sebuah Bandara, sementara para laki-laki tidak tertarik menonton betapa seksi dan hebatnya Martha menggocek bola atau kecantikan Abby Wambach.

Hipotesis mentah saya: dalam sepakbola, kapitalisme ikut menentukan selera konsumen dan memilih komoditi. Tidak seperti dalam prostitusi, ia lebih memilih laki-laki.

3 comments:

  1. Sangat informatif.
    Di Indonesia, penonton perempuan jadi sasaran hunting utama kameramen :D
    Tapi banyak juga perempuan yang jadi pengurus tinggi di jajaran manajemen klub Indonesia.

    ReplyDelete
  2. Sepakbola pada awalnya adalah permainan laki2, ketika perempuan berusaha masuk dan main perlu effort yg besar. Tentu saja sulit. Tapi beberapa negara besar punya kompetisi Liga Wanita. Namun tetap saja, eksposur berita ga besar

    ReplyDelete