Friday, June 17, 2016

Ketje Belgia dan Warisan Kolonial Sepakbola Eropa

Oleh Darmanto Simaepa


Jika timnas Swiss atau Austria mendapatkan bakat alam dari anak-anak pengungsi Albania, Jerman dipenuhi talenta keturunan pekerja imigran Turki,  maka Belgia diuntungkan oleh kehadiran orang-orang Afrika, terutama dari negara bekas jajahannya. Orang-orang dari Zaire atau Kongo merantau ke Brussel atau kawin-mawin dengan perempuan Antwerp dan melahirkan pemain seperti Romelu Lukaku, Vincent Kompany atau Jason Denayer.

Orang Afrika atau campuran yang lahir di Belgia diberi istilah khusus, Ketje. Berasal dari bahasa Flemish, Ketje secara literal merujuk pada anak-anak muda non-kulit putih. Ketje gampang ditandai karena mereka berwarna gelap dan berperawakan tegap, atletis, kuat, liat, dan cepat.

Ketje adalah sebutan bagi anak-anak muda yang hidup santai, penuh canda, suka pesta, dan gemar berkencan. Secara sosial, Ketje punya kaitan dengan gambaran kehidupan idaman yang bebas, mengalir dan tanpa beban. Mereka hidup dalam suasana sukaria tanpa banyak pikiran.

Ketje secara metaforis juga menggambarkan kehidupan campuran di kota-kota Eropa paska kebangkitan nasionalisme abad 19 dan 20. Kehidupan bebas Ketje menubuhkan imaji zaman peralihan bebas belenggu kolonisasi. Periode peralihan ini ditandai masuknya gaya hidup baru yang dibawa penduduk  bekas jajahan ke negara bekas penjajah.
Ketje dikagumi karena memiliki apa yang tidak dipunyai oleh Eropa: semangat anti-kemapanan, energi dan vitalitas. Gaya hidup serampangan dan ringan hati dipandang melengkapi, atau anti-tesis dari, apa yang dipunyai  Eropa: keteraturan, logika presisi, dan organisasi.

Di Belgia dan Belanda, kekaguman (dan juga hinaan) tentang Ketje adalah gambaran tentang kehidupan Eropa yang dekaden. Ketje menjadi sebuah olok-olok terhadap sopan-santun sisa feodalisme abad pertengahan. Ia alegori bagi penduduk benua yang  mapan dan berkecukupan sisa penjarahan dan penjajahan, namun hidup membosankan.

Di lapangan sepakbola, gaya permainan Ketje memberi dimensi lain sepakbola Eropa yang mengandalkan logika. Kehadiran Ketje secara fisik memberi metafor bagi percampuran gaya main non-Eropa dan Eropa. Mereka memberi otot dan kelenturan, kecepatan dan dinamika, semangat dan fantasi. Di timnas Belgia, kualitas fisik Kompany, atletisme Romelu Lukaku, dan kegesitan Jason Denayer melengkapi teknik Eden Hazard dan Kevin de Bruyne.

Kehadiran Ketje di Belgia di Piala Eropa kali ini lebih istimewa. Dengan jumlah separuh dari keseluruhan skuad, mereka turut menciptakan generasi emas Rode Duivels yang komplit dibanding generasi emas era Enzo Scifo tahun 1980-an. Dari belakang ke depan, tim Belgia berisi kombinasi menarik antara kualitas teknik dan keunggulan fisik.
Sejak dua tahun lalu, tim ini digadang-gadang menjadi kandidat pendobrak kemapanan negara adidaya sepakbola. Bahkan dari ukuran koefisian FIFA, Belgia di atas Jerman, Spanyol atau Italia.

Kehadiran kolektif Ketje di timnas Belgia mengingatkan generasi emas Prancis di Piala Eropa 2000. Waktu itu, Prancis memiliki tim multikultur yang komposisinya setara. Generasi ini juga memaksa kita membandingkannya dengan timnas Belanda 1988. Kala itu, kombinasi teknik Belanda totok dan kualitas fisik Ketje dalam diri Ruud Gullit, Aaron Winter atau Frank Rijkaard menyandingkan permainan Total Football dengan raihan piala.

Apakah Ketje Belgia ini akan menciptakan sejarah baru? Karena bukan juru ramal, saya tidak tahu. Yang lebih menarik bagi saya tentang Ketje ini adalah mereka mencerminkan kesinambungan historis antara Belgia sebagai bekas negara penjajah dan negara-negara jajahannya dalam memproduksi pemain sepakbola.

Terputusnya rantai kolonialisme tidak serta merta memutuskan rantai sejarah sepakbola negara koloni dan metropol. Dan ini tidak hanya Belgia. Separuh dari skuad  Portugal dan Prancis diisi oleh pemain yang lahir di negara jajahan atau hasil kawin campur. Dan ini juga bukan hal yang baru.

Jika turnamen Piala Eropa selalu diwarnai kehadiran Ketje, kenapa jarang sekali di antara mereka berasal dari Asia Tenggara, dan terutama Indonesia, meski negara ini dijajah selama berabad-abad oleh negara Eropa?

Baiklah. Tentu saja benar bahwa darah Maluku menyumbang Giovanni van Bronckhorst dan Johny Heitinga. Dan pastinya marga Nainggolan ada di timnas Belgia. Namun, ada dua perbedaan besar antara Ketje Indonesia atau Asia Tenggara besar dengan Ketje Afrika.

Pertama, Ketje Indonesia hanya berlaga di liga-liga kelas dua dan tiga dan sedikit sekali yang menjadi pemain kelas dunia. Kedua, mereka muncul sporadis, dan tidak melahirkan satu generasi pemain seperti Lukaku dan kawan-kawannya.

Apakah Ketje di Indonesia di Belanda tidak banyak? Tidak juga. Apakah mereka kurang bisa beradaptasi dan tidak punya sikap petualangan anak muda seperti Ketje Afrika? Mungkin saja. Apakah Ketje Indonesia tidak punya kualitas fisik, teknik dan bakat? Bisa jadi.

Ataukah ini lebih luas dari sekadar urusan sepakbola? Misalnya, apakah ini karena keterputusan historis sepakbola kita dengan Belanda paska 1945 sehingga menyulitkan kesinambungan industri sepakbola Indonesia dan Belanda? Ataukah karena ini dosa Belanda yang tidak mewariskan sesuatu yang berharga kecuali hutang perang?

Menyaksikan Ketje di timnas Belgia melentingkan bola membuat saya berandai-andai jika saja Belanda mewariskan sesuatu berharga bagi Indonesia selain tanam paksa.


*terbit di Jawa Pos, 15 Juni 2016


2 comments:

  1. Sedikit koreksi, saya lihat di beberapa tulisan Bung sering menuliskan 'paska' yang dilihat dari konteksnya berarti setelah. Bentuk yang baku adalah 'pasca-' (dibaca tetap sesuai hurufnya 'pasCa' bukan 'pasKa').

    Kata 'pasca'adalah bentuk terikat yang harus disambungkan dengan kata lain, tidak bisa dan tidak akan pernah berdiri sendiri karena digagas sebagai padanan dari 'post-' dalam bahasa Inggris. Sedangkan 'pra-' sebagai padanan dari 'ante-'.

    Sebagai contoh 'prasejarah', 'pascaperang', 'pra-Kemerdekaan', 'pascasarjana' (sebagai terjemahan dari postdoctoral), dll.
    Silakan merujuk ke KBBI atau Kamus Merriam-Webster (Bahasa Inggris).

    Di beberapa kalimat yang diimbuhi 'paska' yang Anda tulis, lebih baik tegas-tegas gunakan kata 'setelah' atau 'sesudah'. Jadi lebih elok.

    Terima kasih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih banyaaaaaak. semoga, paska, eh, pascamembaca komentar yang sangat berharga ini, kami bisa lebih konsisten menggunakan kata pasca yang benar secara kaidah berbahasa.

      Delete