Monday, March 6, 2017

SEPAKBOLA TELANJANG BULAT* (Bagian 2)

Oleh   Alex Bellos

Vila Nova adalah tim dari Sao Fransisco, sebuah pemukiman buruh di Manaus. Sebagian besar rumah-rumah di sana terbuat dari papan. Jalan menuju kota baru saja diaspal. Bau selokan menguar ke udara. Kita melihat proses urbanisasi adalah sebuah pertarungan tak henti-henti melawan kekuatan alam—di mana orang tak membersihkan halaman, semak belukar segera menguasainya.

Audemir adalah laki-laki pendiam dan pekerja keras. Rambutnya yang hitam pekat berantakan jatuh ke alis. Kami nongkrong dengan teman-temanya di kedai tuak lokal, Novo Encontro, yang berupa gubuk kayu sederhana dengan lemari es besar penuh bir.

“Di sinilah kami memulai semuanya.” dia mengawali percakapan. “Kami sadar kawasan tempat kami tinggal tidak punya wakil di Tarkam. Kami musti punya dan karena itu membuat tim sendiri.”

Pedalaman Amazon menjadi daya tarik bagi para pendatang yang mengadu peruntungan. Sebagian dari mereka akhirnya tinggal di Manaus, kota terbesar di tengah belantara Amazon. Ini adalah kota penuh harapan. Novo Encontro berarti awal yang baru. Vila Nova berarti tempat yang baru. Audemir memilih nama—disalin dari nama klub sepakbola profesional di Brazil tengah—karena itu sesuai dengan semerbak harapan awal yang baru. Tim sepakbola memberi harapan itu .

Audemir mengangkat dirinya sebagai Presiden Vila Nova, istilah rada-rada resmi yang wajib dipakai oleh tim yang ikut Tarkam. Dia menunjuk Mauricio Lima, saudara ipar, sebagai wakil presiden dan adik kandungnya sebagai Direktur Olahraga. Empat saudara ipar lain ikut cawe-cawe di tim yang memulai debut pada tahun 1998.

Vila Nova kini menjadi pusat kegiatan warga. “Sao Fransisco dulunya terpecah-pecah,” kata Mauricio. “Orang-orang tidak membaur. Ketika tim bermain bagus, orang-orang mulai menyatu. Kami mulai dengan seratusan pendukung, sebagian besarnya keluarga dan sekarang kami bisa mengumpulkan 300 orang.”

Ini mengubah Audemir, pria kalem yang menjadi pelayan bar, menjadi tokoh lokal. Tahun ini ia berhasil mencari 26 pemain. Dia juga mengganti nama klub dari singkatan kuno FC (Football Club) menjadi AA (Associaco Atletica atawa Athletical Association), yang lebih terkesan modern. Vila Nova boleh saja klub kecil, tapi namanya mengesankan optimisme dan kelas.

Birokrasi Tarkam memakan waktu panjang dan berpotensi memakan biaya. Audemir menghabiskan sebagian besar waktu luang untuk mencari pemain, mengundang sponsor, mencetak kostum dan membeli sepatu. Dia punya map kulit yang berisi daftar nama pemain dan proposal permohonan bantuan dana.

Dan untuk ratu tim? Ketika baru mulai, Audemir mengandalkan keluarga. Di tahun 1998 ratunya adalah si keponakan. Di tahun 1999 adiknya. Keduanya gugur di babak pertama. Audemir tidak berharap banyak: dia memilih kepantasan dari pada kecantikan.

Lebih baik mengirim ratu buruk rupa dari pada tidak mengirim sama sekali. Tahun ini, karena tim semakin populer, dia bisa mencari kandidat yang lebih glamor. Erica dos Santos, gadis pujaan lokal terpilih setelah dia mencuat dalam festival tari-tarian tradisional.

Tidak semua tim yang bermain di Tarkam  berasal dari sebuah kampung seperti Vila Nova. Karena turnamen ini bebas dan terbuka, klub-klub peserta dibentuk berdasar lingkungan sosial yang beragam. Serikat satpam, para pekerja migran yang tinggal di hutan yang sama, grup band, atau koperasi petani punya tim.

Ada juga tim bernama Barra Persada FC. Tim ini milik kumpulan orang yang kelebihan berat badan. Tiga bulan yang lewat, salah satu pemainnya terkena serangan jantung dalam sebuah pertandingan. “Kami menang tapi hampir kehilangan seorang teman,” ujar anggota tim Fernando de Abreu. Dia sadar bahwa kesempatan timnya untuk menang di kontes ratu kecantikan sangat tipis. “Ratu kami, sudah bisa ditebak, adalah yang paling gendut.”

Aku tidak bisa membayangkan ada kompetisi sepakbola yang lebih akurat merefleksikan dinamika sosial tempat ia dilangsungkan dari pada Tarkam. Kompetisi ini adalah gambar dari masyarakat Amazon itu sendiri. Tiga belas ribu pesepakbola datang dari penjuru kota dan desa. Segala keliaran, keindahan, ketiadaan aturan, dan keserbamenawanan Tarkam adalah wajah Manaus itu sendiri.

Nama-nama tim berwarna-warni. Selain Arsenal, ada juga Manchester. “Kami memilihnya karena enak didengar,” kata Presiden klub, “dan karena kami tidak punya uang”. Aston Vila, Ajax, Barcelona, dan Real Madrid dengan gampang dikenali sebagai nama tiruan. El Cabaco Futebol Clube—artinya Kesebelasan Berselaput Dara—adalah contoh humor lokal. Kolonel Kurtz, andaikata saja dia tinggal di Amazon, pastilah mendukung Apocallipse Club.

Sehari setelah menghabiskan waktu bersama Vila Nova, aku mengunjungi sebuah tim yang kekuatan finansialnya kebalikan dari Vila. Unidos da Gloria, atau Gloria United, dirancang seperti klub profesional. Klub ini berbasis di Gloria, sebuah pemukiman nan-makmur khas Manaus.

Tim ini disokong oleh perusahaan tepung terbesar di Amazon. Mereka membayar skuad berisi 22 pemain, pelatih berkualitas dan punya perlengkapan yang layak, kendaraan dan berkrat-krat bir sehabis pertandingan. Fernando Salles, juru perlengkapan, dibayar untuk merawat tiga bola dan dua puluh dua pasang kaus kaki, sepatu dan kostum di gubuk tiga lantai di mana ia tinggal bersama 13 anggota keluarganya.

Sore hari ketika aku datang, ada pesta bakar daging untuk memperingati ulang tahun klub yang kesebelas. Tiga speker besar berdentam-dentam menggelontorkan suara musik yang dimainkan oleh pemain orgen tunggal. Kegaduhan speker itu membuat obrolan mustahil dilakukan.

Kekuatan di balik Unidos da Gloria adalah Americo Loureiro. Dia pria berhidung pesek dan beralis tebal. Kalung biru bergambar Maria sang Perawan menjuntai di dadanya yang berbulu. Americo bekerja di pabrik kayu lapis selama tiga puluh tahun dan menjadi ketua serikat buruh selama dua puluh tahun.

Kami pindah ke dekat jalan supaya bisa mendengar kata-kata kami sendiri. “Unidos adalah kebanggaan kampung. Kami punya fans lebih banyak dari pada yang lain,” dia sedikit membanggakan. Tahun ini dia berusaha untuk memperbaiki penampilan timnya setelah hasil mengecewakan tahun lalu. “Tahun sebelumnya, kami lambat mempersiapkan tim. Ketika kami harus memulai pertandingan pertama, pemain-pemain terbaik sudah dikontrak tim-tim yang lain.”

Dia punya ide tersendiri mengenai ratu klub. Dia mengundang juara kedua kontes tahun lalu, Samanta Simoes. “Kami meminangnya dengan mahar yang sulit ditolak oleh gadis manapun. Itu seperti seorang pemain bola diminta bermain untuk Flamengo.”

Hutan Amazon adalah tempat legenda dan mitos menakjubkan, sebagian karena pengaruh budaya lisan Indian. Dan Tarkam menciptakan mitosnya sendiri. Ini terbantu oleh pembual seperti Americo.

Terlibat dengan kejuaraan ini sejak awal berdirinya, ia tak pernah melewatkan kesempatan untuk membumbui cerita Tarkam dengan kelakar liar. Kisah-kisah bualan biasanya melibatkan dirinya sendiri. Hanya saja, tiap cerita tidak selalu memiliki keterangan waktu atau tempat yang jelas. Karakter-karakter yang muncul dalam bualannya tak selalu punya nama.

Awalnya, Americo membidani sebuah tim yang dikenal dengan JAP. Suatu ketika, terdengar tim bernama Sao Jose. Mereka berasal dari pedalaman dan tak terkalahkan di wilayahnya. Suatu waktu mereka memutuskan ikut Tarkam. Mereka datang ke Manaus dan minta dimasukkan ke dalam satu grup dengan JAP. Sambil terkekeh-kekeh, Americo mengenang: “Setelah dua puluh empat menit, kami unggul 24-0. Kiper kami pun ikut mencetak gol.”

Saat kami berbincang, Messias Sampaio muncul. Kedatangannya adalah berkah karena sebelumnya aku berencana mewawancarainya. Messias menemukan ide Tarkam di tahun 1973 saat bekerja sebagai wartawan. Reputasi sebagai pencetus Tarkam membawanya sukses di jalur politik. Sekarang dia menjadi ketua Parlemen Kotamadya.

Messias datang untuk menunjukkan dukungan kepada Gloria dan Americo, yang bekerja untuknya sebagai staf ahli bidang politik. Dia sangat ramah dan kami duduk di kursi plastik. Dia punya rambut tipis dan gigi yang tak beraturan. Bicaranya lembut dengan kesabaran dan kewaspadaan seorang politisi.

Kisah kejayaan Manaus berakhir ketika orang-orang Inggris membawa karet ke Borneo, tempat budidaya karet yang lebih efisien. Kota ini menderita sepanjang setengah abad sampai kemudian bergeliat lagi untuk kali kedua. Di tahun 1967, Brazil mengeluarkan peraturan yang membebaskan pajak bagi perusahaan yang mendirikan pabrik di Manaus. Kebijakan ini dikeluarkan bersamaan dengan proyek modernisasi lain seperti pembangunan jalan lintas Amazon. Itu adalah strategi junta militer untuk mengkolonisasi hutan Amazon. Usaha itu berhasil.

Manaus berubah dari kota terlantar yang muram menjadi penghasil barang-barang elektronik dan menjadi kota industri paling ambisius di dunia. (Kendati punya masalah logistik seperti jalan atau jalur kereta api menuju bagian selatan.) Penduduknya meledak—dari 300,000 di tahun 1970 menjadi 1.4 juta di akhir abad 20.

“Anak-anak muda dalam jumlah besar berbondong-bondong ke Manaus mencari kerja di awal 1970-an,” kata Messias, “Namun kota ini kekurangan hiburan.” Messias lalu diminta oleh perusahaan tempatnya bekerja, sebuah grup media lokal Rede Calderado de Comunicao, untuk memikirkan even promosi besar di mana publik bisa ikut berpartisipasi. Turnamen sepakbola amatir adalah solusi tokcer. Brasil baru saja juara Piala Dunia untuk kali ketiga. Ini memantapkan sepakbola sebagai kebanggaan nasional.

Masalahnya, Manaus tidak punya sejarah sepakbola profesional. Beberapa klub profesional bermain di liga ecek-ecek dan tidak terlalu berpengaruh di tingkat nasional. Messias mencium kebutuhan akan turnamen amatir namun kompetitif.

Dugaannya tepat. Tarkam pertama berisi 188 tim. Yang kedua diikuti 286 klub dan ketika masuk tahun ketiga, tim yang terlibat lebih dari 500. Kejuaraan itu tumbuh seiring berkembanganya industri. Dengan cepat, Tarkam menjadi bagian tak terpisahkan dari fabrikasi sosial kota Manaus. Kendati turnamen ini masih didanai oleh Rede Calderado—sebesar 4 miliar per tahun—Tarkam adalah institusi lokal.

Tarkam mendapat tempat terhormat karena setiap orang Brasil, pepatah lama bilang, menganggap diri mereka sebagai pesepakbola. Di Tarkam, setiap pemain bisa menjadi pemain sepakbola. Namun turnamen ini menjadi sangat penting mungkin karena alasan yang lain.

Manaus sangat terpencil dan terisolasi dari pusat-pusat kekuasaan Brasil sehingga warganya, seperti orang Inggris di pantai barat Spanyol atau eksil Indonesia di Moskow atau Amsterdam, punya kebutuhan untuk melebih-lebihkan karakter khas nasionalisme mereka.

Setelah Tarkam edisi pertama mendapat sambutan meriah, Messias merenungkan bagaimana bisa melibatkan perempuan. “Aku mendapati banyak fans perempuan. Lebih tepatnya, banyak sekali fans perempuan yang cantik. Lantas kami berpikir bagaimana bisa menggabungkan keduanya,” dia mengatakan ini sambil menggosok kedua telapak tangannya pelan–pelan sehingga kedua jari telunjuknya akhirnya saling bertautan.

“Sepakbola perempuan belum ada saat itu. Di tahun kedua aku bersikeras tiap klub yang ikut harus mengirim ratu tim. Tarkam sukses besar karena menampilkan dua hal yang paling disukai oleh orang Brasil: sepakbola dan perempuan cantik.”

Selama bertahun-tahun, upacara pembukaan dihelat di balai kota Manaus. Kontestan ratu kecantikan berparade di atas perahu seperti dalam karnaval. Messias berkelakar: “Pemilihan ratu kecantikan Tarkam lebih dikenal dan lebih penting dari pemilihan Putri Amazonia.”

Arti penting kontes ratu Tarkam harus diletakkan dalam konteks regional. Jarang sekali ada even besar di Amazon yang tidak menyertakan perempuan-perempuan bahenol. Karnaval tahunan punya ratu. Begitu juga perayaan hari lahir Santo Petrus, Santo Joni, dan Santo Antoni di bulan Juni.

Setiap kota-kota kabupaten di hutan Amazon punya ratu yang dinamai seturut dengan hasil pertanian utama. Coari punya ratu pisang. Maues punya ratu jambu. Ratu jeruk ada di Anori, sementara ratu susu dipilih di Autazes. Ratu mentimun dipentaskan di Codajas dan Ratu cupuacu dikonteskan di Presidente Figueiredo. Sepakbola tak mau ketinggalan dan Tarkam juga punya ratu.

Aku tanya Messias mengapa dia memberi kesempatan kepada tim dengan ratu paling cantik bisa kembali masuk turnamen.

“Itu menyemangati orang-orang untuk mencari ratu yang bagus dengan serius. Namun, ada alasan lain yang tak kalah penting. Katakanlah ada sebuah tim yang bermain bagus dan mereka tersingkir karena kesalahan wasit. Biasanya, tim yang kalah akan menyerang wasit dan memukulinya.

Sepakbola bisa menciptakan ketidakadilan dan wasit tidak ada yang menjaga. Sebaliknya, mereka tahu bahwa kesempatan masih terbuka jika punya ratu yang cantik sehingga mereka tidak terlalu frustasi dan bertindak semaunya sendiri. Ratu-ratu ini adalah obat penenang,”

Messias percaya bahwa kekuatan terbesar Tarkam adalah memberi peluang bagi orang-orang kalah untuk mendapatkan rasa hormat dan mencicipi kemenangan. Menjadi presiden klub misalnya, adalah sebuah kehormatan besar. Di tengah-tengah melebarnya jurang si kaya dan si miskin, turnamen ini mempromosikan kesetaraan.

Tak peduli asal-usul mereka, setiap tim memiliki struktur yang sama persis dengan klub profesional. Sembilan dari sepuluh dari mereka punya pelatih. Messias juga yakin bahwa aturan main kejuaraan ini sangat longgar sehingga memungkinkan seluruh komponen masyarakat ikut terlibat. “Kejahatan berkurang selama hari-hari pertandingan,” dia menambahkan, “karena semua orang pergi ke lapangan.”

Kami berbincang-bincang tentang bagaimana Tarkam menjadi turnamen raksasa.

Messias percaya bahwa orang-orang di Manaus punya obsesi sepakbola paling besar di antara orang Brasil lain. “Orang-orang di sini punya banyak kendala. Lapangan berlumpur, terik matahari, badai tropis, hujan deras. Semakin banyak rintangan yang mereka hadapi, semakin keras mereka berjuang menyingkirkannya.”

Bayangkanlah suasana ini. Proses pemilihan ratu kecantikan sedang panas-panasnya. Penonton berdesak-desakan memenuhi panggung untuk melihat bokong-bokong sintal dan berminyak dari dekat. Semua tampak berjalan sempurna ketika seorang gadis menawan menyedot pandangan mata. Tiap mulut berbisik-bisik mengatakan dia sangat semlohai. Tinggi dan seksi seperti boneka. Dia tidak berjalan—dia melenggang. Dengan mengenakan sepatu tapak tinggi, dia melenggok sambil tersenyum penuh kemenangan ke arah semua orang. Beberapa pesaingnya sudah berpikir bagaimana cara mencederainya. “Bagaimana kalau kita patahkan salah satu hak sepatunya,” salah seorang kontestan berbisik. Tiba-tiba salah satu dari kerumunan berteriak lantang: “Dia laki-laki!” Alamaaak! Saya membayangkan berapa banyak penonton yang sudah basah celananya.

Nei Rezende mengundangku datang ke kediamannya, sebuah rumah panggung reot di atas lumpur. Di luar, ayahnya bersantai di atas kain ayunan. Seekor anjing hitam tertidur pulas di pangkal pokok jambu. Aku masuk ke dalam dan berjalan di lantai papan yang tak rata. Aku bisa melihat keluarga ini adalah pecinta olahraga. Di salah satu dinding, ada rak kecil dijubeli medali dan piala. Di dekatnya berderet poster tim sepakbola dan model-model cantik. Dua hal yang orang Brazil paling sukai.

Nei adalah pemain bayaran. Dia bisa saja bergabung dengan salah satu klub profesional di Manaus namun dia tidak tertarik. Dia mendapat penghasilan lebih besar dari Tarkam. Tahun ini dia mendapat 10 juta, telepon genggam, dua puluh sak semen, dan 2,000 batu bata untuk membangun rumah.

Sebagai profesional, paling-paling dia akan mendapat upah minimum, sekitar 500 ribu per bulan. Ketika upah minimum pesepakbola profesional disepakati tahun 1998, tiga puluh pemain meminta Federasi Sepakbola Amazonas untuk mencabut status mereka sebagai pesepakbola profesional sehingga mereka dapat ikut Tarkam.

Kebanyakan tim-tim kaya di Tarkam punya koneksi dengan perusahaan lokal. Nei bilang beberapa kawannya bermain untuk mereka dan mendapatkan pekerjaan tetap. Tarkam menawarkan masa depan yang lebih menjanjikan dari pada liga profesional. Kejuaran ini adalah cara terbaik untuk mendapatkan ketenaran.

Manaus memiliki lebih dari 60 liga-liga amatir tingkat kota. “Sepanjang tahun, tim-tim besar memantau pertandingan itu,” kata Nei. “Siapapun yang bermain bagus akan dimintai nomor telepon dan mendapat kontrak.”

Tarkam menjadi wahana bagi bagi pemain-pemain untuk memunculkan diri. Franca, alumni Tarkam paling sukses, masuk tim nasional Brasil. Tandukannya menyamakan kedudukan dalam pertandingan seri 1-1 melawan Inggris di Wembley Mei 2000.

Nei berharap bahwa Tarkam tahun ini meroketkan namanya. “SD saja aku tak tamat. Sepakbola adalah satu-satunya yang aku tahu. Target tahun ini adalah membuat namaku dibicarakan.”

Manaus punya sembilan klub profesional. Hanya dua di antaranya—bermain di divisi kedua liga nasional—yang mampu membayar pemain lebih dari ketentuan upah minimal. Sisanya hidup segan mati tak mau.

*Disadur tanpa izin dari Naked Futebol Bab XI dari "Futebol The Brazilian Way of Life" (Bloomsbury 2014). 

1 comment:

  1. AYOO SERBUU GAN MUMPUNG GRATIS DAN MURAH
    ADU BANTENG, Sabung Ayam, Sportbook, Poker, CEME, CAPSA, DOMINO, Casino
    Modal 20 rb, hasilkan jutaan rupiah
    Bonus 10% All Games Bolavada || Bonus Cashback 10% All Games Bolavada, Kecuali Poker ||
    FREEBET AND FREECHIP 2017 FOR ALL NEW MEMBER !!! Registrasi Sekarang dan Rasakan Sensasi nya!!! ONLY ON : BOLAVADA(dot)com
    BBM : D89CC515
    https://goo.gl/3G0lA8
    https://goo.gl/kbkvXv
    https://goo.gl/JB5DSD

    sabung ayam
    agen terpercaya
    bandar judi

    ReplyDelete