Tuesday, March 21, 2017

MENAKAR LUIS MILLA

Oleh Darmanto Simaepa

Nyaris seluruh federasi sepakbola di dunia ingin timnas-nya bermain seperti Barcelona, Spanyol atau Belanda. Publik sepakbola Indonesia, terutama rejim PSSI, bukanlah perkecualian.

Dari  jaman Bardosono hingga Edy Rahmayadi, kita punya selera khusus dengan sepakbola total voetbal, dan turunannya di masa kontemporer:tiki-taka. Wiel Coerver, Foppe de Haan, hingga Wim Rijsbergen pernah punya kesempatan untuk membudidayakan gaya Hollande School nun jauh di negeri tropis ini. Konon, gaya itu cocok dengan tipikal fisik dan teknik pemain Indonesia.

Jadi, Luis Milla, Anda bukanlah orang pertama. Dan tampaknya, ini adalah pilihan yang masuk akal. Dan paling aman. Tengok saja jejak rekamnya.

Sebagai pemain, ia produk akademi La Masia. Andai tak ribut dengan direktur klub untuk urusan kontrak dan mata jeli Johan Cruijff  luput menemukan bakat hebat dari bocah kurus dari Sentpedor bernama (ermmm siapa lagi kalau bukan) Joseph Guardiola, mungkin saja dia akan menjadi legenda no. 4 Barcelona.

Ia termasuk segelintir pemain yang punya keistimewaaan merasakan gelar La Liga bersama dua rival Real Madrid dan Barcelona. Ia juga punya koleksi medali Liga Champions. Meskipun, medali nomor dua, bersama Valencia.

Sebagai pelatih, ia membawa tim Spanyol junior juara final piala Eropa. Tangannya dianggap mujarab bila memoles pemain belia. Tulang punggung timnas Spanyol kontemporer—Juan Mata, Gerard Pique, Isco, Alvaro Morata, David de Gea, Ander Herera—berhasil menjalani transisi dari tim junior, salah satunya, karena kerja kerasnya.

*****

Pertama kali mendengar kesediaan Milla membesut timnas, timbul rasa respek kepadanya. Berpetualang sejauh setengah bumi ke arah timur jauh untuk melatih timnas negara yang prestasi sepakbolanya sama sekali tak terdengar jelas butuh nyali.

Meski kondisi Indonesia jauh lebih baik dari abad 15, teknologi pelayaran seribu kali lipat lebih canggih dari masa Alfonso de Albuquerque, dan bau pala dan lada tak lagi punya daya sengat sebesar beberapa abad yang lewat, melatih sepakbola di Indonesia setara dengan perjudian mencari (dan mencuri) harta kekayaan di wilayah yang belum tartera di peta.

Ibaratnya, Luis Milla sedang melempar dadu, mempertaruhkan karir kepelatihannya yang, meskipun tak begitu mentereng di level senior, tetap saja akan menarik minat negara-negara tau klub-klub medioker di Eropa. 

Tak mudah meninggalkan kenyamanan sepakbola Eropa dan beradaptasi dengan kultur, dan terutama struktur, sepakbola Indonesia. Belum lagi menghadapi jalanan macet, terik udara tropis, dan ancaman nyamuk malaria.

Lalu saya pun menduga-duga. Apakah nyalinya berpetualang muncul karena dipaksa oleh keadaan setelah kegagalan di CD Lugo dan pemecatan dari presiden Real Zaragosa—keduanya tim-tim papan bawah divisi dua kompetisi la Liga?  Apakah ia butuh tantangan di tempat lain setelah gagal di negeri sendiri?

Yang pasti, keluarga atau penasehat dan pengacaranya tahu bahwa ia butuh kontrak yang bagus.

*****

Sebagai warga sepakbola Indonesia, saya tak memiliki keluhan. CV-nya mentereng. Kredensialnya terbukti—paling tidak ditingkat junior. Dari sudut pandang politik sepakbola, kedatangannya sangat mudah untuk dipahami. Ia datang satu kapal dengan naiknya rezim Edi Rahmayadi di PSSI.

Ia memberi kredibilitas buat rejim baru PSSI. Ia menawarkan kesegaran: wajah baru sepakbola Indonesia yang baru saja melewati masa pertengkaran internal harimau dan buaya yang, banyak orang menduga, tak akan kunjung sudah.

Sebagai orang asing yang sama sekali asing dengan politik sepakbola Indonesia (dan Asia Tenggara), Luis Milla, merepresentasikan kebaruan dan harapan. Meskipun operasi membawa Milla tak lepas dari kepentingan cukong dan toke sepakbola, ia, secara personal, tak punya sejarah dengan mereka dan tak dibebani kelimut kepentingan, seperti yang pernah dialami oleh Alfred Riedl dan Ivan Kolev.

Yang menjadi masalah adalah:  jejak rekam pelatih seperti Luis Milla tak pernah membawa kesuksesan buat timnas Indonesia. Dari enam belas pelatih asing pernah membesut timnas senior, dua pertiganya berlatar belakang sepakbola Eropa Barat dan sepertiganya dari Eropa Timur. Hanya satu, Jacksen Tiago, dari Brazil—itupun problematis jika dibilang dia mewakili sepakbola Brazil karena Jacksen sebagai pemain dan pelatih terbentuk di Indonesia

Sebagian besar dari mereka—terutama yang dari tradisi sepakbola Eropa Barat—adalah pelatih yang bermain dengan tradisi sepakbola gaya 4-3-3. Beberapa dari mereka punya reputasi mentereng. Romano Matte, Wiel Coerver atau Fopee de Haan punya reputasi besar di Italia dan Belanda. Peter White adalah orang terkemuka di Inggris dan berjasa besar membangkitkan kembali sepakbola Thailand.

Di tangan pelatih Eropa Barat, timnas tak pernah juara. Yang menarik, hanya dua pelatih asing yang mewariskan medali buat PSSI. Keduanya pelatih Eropa Timur yang tak punya reputasi mentereng menangani pemain muda atau dikenal memiliki inovasi taktik. Atau jejak rekam yang membanggakan. Secara nama, bahkan di masanya masing-masing, mereka bukan pelatih yang populer.

Di masa kejayaan kompetisi reguler (perserikatan dan Galatama) paruh 1980an, Anatoly Polosin adalah pelatih asing yang benar-benar asing. Sebelum datang, publik sepakbola Indonesia tak ada yang mengenalnya. Dan dia bukan pelatih yang menarik atau menyenangkan—dari aspek keahlian maupun kepribadian. Alih-alih mengajarkan rondo atau inovasi taktik 4-3-3, dia memaksa pemain berlari berkilo-kilo meter dan anglatpunya daya tahan fisik dan disiplin tinggi. 

Sudah menjadi legenda bagaimana ia meminta pemainnya naik-turun gunung Welirang dan Arjuna hingga muntah-muntah. Metode ini membuat banyak pemain terbaik (secara teknik) namun lemah secara fisik saat itu (Ansyari Lubis, Fachri Husaini) lari dari pemusatan pelatihan.

Justru tanpa pemain berbakat dan berteknik tinggi, ia membawa timnas berjaya di Manila.  Racikan dan metode Polosin memaksa pemain Thailand yang lebih bagus secara teknik kelelahan dan frustasi di babak final serta kaki gemetaran saat mengambil tendangan pinalti. Kekuatan fisik membuat pemain Indonesia disiplin secara taktik dan percaya diri.    

Jauh lagi ke belakang ke era 1950an, Tony Pogacnik datang ke Indonesia bukan karena reputasi. Hubungan erat Soekarno dan presiden Yugoslavia Joseph Tito di masa perang dingin membuat Indonesia mencari pelatih dari blok netral dan/atau blok timur untuk membangun tim sepakbola.

Meskipun motif politik lebih kuat dibanding motif olahraga, kedatangan Pogacnick masih dikenang sebagai masa-masa emas sepakbola Indonesia. Dilihat dari perspektif masa kini, kita akan kesulitan berimajinasi bahwa bagaimana mungkin Pogacnik bisa membawa sepakbola kita melaju ke perempat final Olimpiade, masuk semifinal Piala Asia dua kali, dan secara rutin menjuarai kompetisi regional lainnya.

Keberhasilan Polosin dan Pogacnik punya kesamaan: menghasilkan tim yang solid dengan disiplin tinggi ala Eropa Timur dan daya tahan fisik. Timnas 1991 tidak spektakuler dan mengesankan. Namun dengan kedisiplinan dan kebugaran, mereka memaksa Thailand yang lebih berbakat bertarung hingga akhir. Dengan kaki-kaki yang lebih kuat, Indonesia menang adu pinalti.

Kisah-kisah orang tua mengatakan timnas zaman Soekarno bermain sederhana, dengan fisik yang kuat dan disiplin secara taktik. Laporan resmi IOC Melbourne 1956 pun memuji kekokohan organisasi permainan timnas Indonesia ketika menahan timnas Rusia. 

Kesamaan lain: keduanya adalah pelatih asing yang memiliki kontrak (yang relatif) berjangka waktu panjang. Dari 16 pelatih asing yang pernah membesut timnas, hanya Pogacnik dan Polosin yang memiliki kontrak lebih dari 3 tahun. Kontrak lebih dari 3 tahun menunjukan bahwa, selain PSSI memiliki orientasi jangka menengah, juga memberi kesempatan buat pelatih asing untuk mengenali kekuatan dan kelemahan pemain Indonesia secara lebih baik.

Polosin dan Pogacnik sedikit beruntung karena mereka tidak dikontrak untuk memenangi sebuah turnamen. Nyaris semua kontrak pelatih asing berpola untuk, kalau tidak lolos kualifikasi Piala Asia, ya menjadi juara di Asia Tenggara—terlepas apapun nama turnamen itu. Mereka berdua adalah sedikit pelatih yang beruntung mengikuti lebih dari dua turnamen dan dua kualifikasi.

Mereka berdua gagal di turnamen pertama, namun hal itu tidak membuat pejabat PSSI gegabah membuat keputusan. Jadi, mereka punya waktu cukup untuk mengenali kebutuhan tim dan membangun tim yang sesuai dengan karakter pemain Indonesia.

*****

Metode Polosin mungkin sudah kadaluarsa bagi sepakbola masa kini. Taktik sederhana Pogacnik juga tak akan sukses ketika diterapkan sekarang. Belum lagi tuntutan juara yang  menjadi batu gerinda bagi rejim yang berkuasa. Apalagi, psikologi massa sepakbola Indonesia yang terlalu lama menjadi pecundang (dari sisi kebanggaan prestasi, maupun harga diri sehari-hari) menghilangkan kesabaran dan kerja keras dan seringkali mendukung jalan pintas. Dan ini bukan hanya melanda sepakbola Indonesia.

Namun dari pengalaman Pogacnik dan Polosin, kita bisa mengambil pelajaran dari sejarah. Dan dari sini, demi sepakbola Indonesia (well, saya tidak sedang berkelakar), ijinkanlah saya untuk sedikit punya the will to improve, hasrat untuk mencari perbaikan.

Pertama, timnas tak perlu berpikir untuk bermain seperti Spanyol atau Barcelona. Yang perlu dibenahi dari timnas barangkali adalah kualitas fisik dan organisasi permainan. Dalam sejarahnya, timnas yang membawa medali juara adalah timnas yang siap secara fisik dan rapi  dalam bermain.

Kedua, kontrak jangka pendek tak baik untuk sepakbola Indonesia. Kita tahu Luis Milla, seperti semua pelatih asing timnas lainnya, dikontrak untuk memenangi sebuah turnamen. Ketika gagal di satu turnamen atau babak kualifikasi, mereka dipecat.

Dengan dua tahun kontrak, saya tak yakin Luis Milla akan memberi sesuatu yang berharga bagi sepakbola Indonesia. Alih-alih juara, menginstal gaya 4-3-3 atau mencetak generasi pemain hebat, dua tahun adalah masa yang pendek bagi Milla untuk memahami kultur dan struktur sepakbola Indonesia. Selain ia harus mengenali bentangan geografis yang begitu luas untuk mendapatkan bakat-bakat terbaik, berhadapan dengan kekuasaan para makelar sepakbola, dan terutama adalah absennya kompetisi yang teratur.  

Seperti halnya dengan pelatih-pelatih asing sebelumnya, mungkin ada banyak kekecewaan di akhir masa kontrak Luis Milla. Yang saya tak ingin lihat lagi adalah kontrak yang bagus dari PSSI membuat Luis Milla hidup bahagia dan sejahtera, sementara publik sepakbola Indonesia tetap merana.



1 comment:

  1. Josh markojos...tulisane mantan santri karanggayam cen top

    ReplyDelete