Sunday, March 26, 2017

SEPAKBOLA TELANJANG BULAT (Bagian 3-Habis)

Oleh  Alex Bellos

Manaus punya sembilan klub profesional. Hanya dua di antaranyayang mampu membayar pemain lebih dari ketentuan upah minimal—keduanya bermain di divisi dua liga nasional. Sisanya? Hidup segan mati tak mau.

Untuk memahami realitas ini, aku mengunjungi America FC.

Klub ini dijalankan dari gudang pupuk yang terletak di teras belakang rumah Amadeu Teixeira. Amadeu, kini di usianya yang lebih 70, adalah pria yang menawan.  Wajahnya pipih, dengan mata biru dan rambut yang di sisir rapi ke belakang. Ketika dia mengucapkan ‘America’, kata itu terdengar ‘Omega’ karena giginya ompong. Dia membawaku ke ‘kantor pusat’ klub. Gudang itu disesaki medali, piala, gambar, dan perlengkapan olahraga. 

Terentang sebuah spanduk menutupi dinding, bertuliskan ‘Amadeu Teixeira: Legenda Sepakbola’. Aku tidak bisa tidak untuk tidak setuju. Pelatih di Brasil dibilang beruntung jika dia bisa bertahan dalam satu musim. Amadeu sudah menjadi pelatih America sejak 1956. Dan masih. Aku berani bertaruh dengan siapapun bahwa dia adalah pelatih sepakbola terlama di dunia.

Piala terbesar di gudang itu tingginya melampaui Amadeu. Ia bertingkat tiga: patung pesepakbola paling atas, di bawahnya berdiri panel yang menyerupai toples kecil, dan di bawah, empat pilar dari logam pejal menopang keseluruhan. Piala ini menandai kejayaan terbesar America: juara kejuaraan negara bagian Amazon tahun 1994. Amadeu memenanginya untuk pertama kali, dan satu-satunya, setelah mencoba selama 38 tahun.

“Daya tahan adalah kunci.” Gumamnya lirih.

Amadeu punya kesabaran yang luar biasa mengingat kesemrawutan sepakbola profesional di Amazon. Orang biasa pasti akan menyerah berpuluh-puluh tahun lalu. “Kami seharusnya juara beberapa kali,” klaim Amadeu. “Di tahun 70-an, kami melawan Nacional di final. Presiden Nacional adalah gubernur Amazona. Dia berdiri di tepi lapangan dan berteriak kepada wasit untuk mengusir pemain kami. Seingatku, dua pemain kami kena kartu merah.”

“Di tahun yang lain, kami bertanding di final melawan Rodoviaria. Kami sedang unggul sebelum lampu tiba-tiba mati dan stadion menjadi gelap gulita. Kata mereka, tak ada satu orang pun yang bisa menyalakannya lagi. Percaya nggak sih kamu? Di pertandingan ulang, kami kalah.”

Lalu dia mencari kertas untuk menggambarkan lapangan yang digunakan sebagai venue Final Kejuaraan tahun 1988 melawan Rio Negro. Jari-jarinya bergerak menyusuri kertas, menjelaskan arah pergerakan bola di final itu. “Salah satu pemain kami menendang bola ke kotak penalti.  Bek lawan melompat, berusaha menanduknya namun meleset. Bola melenting ke arah gawangnya sendiri. Penjaga garis lapangan bergegas lari ke arah wasit dan mengarang-ngarang cerita. Gol dibatalkan. Semua orang tahu wasit itu. Mereka bilang dia berangkat terbang dari Rio. Kami tahu dia makan siang dan duduk minum-minum dengan pemain dan presiden Rio.”

Amadeu masih remaja bau kencur saat membentuk America dengan teman-teman sekolahnya. Waktu itu dia baru berusia 13 tahun. Ini adalah salah satu aspek dari karernya yang, menurut ukuran Brasil, sebenarnya tidak aneh. (Botafogo, klub besar dari Rio, didirikan oleh remaja ingusan 14 tahun.) Amadeu punya pekerjaan sebagai pegawai negeri di kantor pemda namun menghabiskan seluruh sisa hidupnya untuk America. Dia menciptakan akademi pemain muda, bahkan juga mengembangkan olahraga lain seperti bersepeda, bola voli dan bola basket.

Suatu hari di tahun 1960s, dia melihat anak gadis bermain bola di jalanan. Si gadis itu dijuluki Pele dan cara menggiring bola sebagus anak laki-laki. Itu menginspirasiya untuk mengembangkan sebuah ide. Lalu dia mengumpulkan beberapa gadis yang cukup untuk dua kesebelasan. Namun saat mereka berlatih, seorang polisi datang. Berita mengenai inovasinya sampai ke telinga pejabat di ibu kota Brasilia. Menteri Pendidikan mengirimi pesan: perempuan bermain bola dilarang oleh hukum.

Amadeu menunjukkan kepadaku guntingan koran dari tahun 1969. “Di sana di Amazon, ada sepakbola wanita’ begitu judul artikel dari sebuah koran Sao Paulo, ditulis dengan campuran bingung dan rasa takjub. Empat tahun kemudian, jauh dari kontroversial, perempuan mendapat tempat dalam sepakbola Amazona: tampil dengan cawat dan berlomba memperebutkan gelar ratu Tarkam.

Selain menggelar kompetisi profesional, Federasi sepakbola Amazona juga menghelat Copa dos Rios, Turnamen antar Sungai. Ini turnamen semi-amatir tim-tim yang mewakili kota kecamatan. Karena Amazona luasnya tiga kali luas Prancis dan transportasi utamanya adalah kapal, Copa dos Rios barangkali adalah contoh terbaik seberapa jauh orang Brazil bepergian untuk bermain sepakbola. Wasit-wasit dari Manaus sering menghabiskan waktu berminggu-minggu di atas kapal yang melayari anak-anak sungai Amazon untuk datang ke pertandingan.

Kota kecamatan berinvestasi besar-besaran di Copa dos Rios karena turnamen ini adalah satu-satunya cara bagi masyarakat yang terpencar-pencar dan saling tidak mengenal untuk melakukan sosialisasi. “Tidak ada kegiatan sosial lain yang mampu menghubungkan kota-kota selain turnamen sepakbola. Turnamen itu adalah satu satunya even yang mempertemukan orang-orang,” ujar Fernando Seabra, koordinator Asosiasi Kota-Kota Amazona.

Ucapan itu tak sepenuhnya tepat. Tarkam juga melibatkan tim-tim dari pelosok Amazon. Di tahun 2000, sepuluh kota di Amazon menyelenggarakan Tarkam di tingkat kabupaten (tentu lengkap dengan pemilihan ratu kecantikan).Turnamen-turnamen itu menjangkau desa-desa dan kota-kota kecil sejauh 350 km di luar Manaus. Pemenang Tarkam tingkat kabupaten ini akan bersaing untuk mendapat tempat di putaran final Tarkam tingkat negara bagian di Manaus. Jika kita memasukkan seluruh tim dan pemain yang terlibat dalam keseluruhan Tarkam tingkat kabupaten, ini akan membuat ukuran Tarkam besarnya dua kali lipat.  Di tahun 1995, jumlah pemain yang ikut turun lapangan mencapai 30,000.

Sebuah pertandingan berlangsung tak seimbang. Setelah gol ke empat dicetak, seorang suporter tim yang dipermalukan menghambur ke lapangan untuk membuat perhitungan. Fransisco, suporter nekat itu, sedang berusaha mengayunkan pukulan pertamanya ke arah wasit ketika Eurico, lebih cepat dari kilatan cahaya, tiba-tiba saja sudah berada di dekat wasit. Bek tengah itu kekar dan garang mirip tukang pukul. Fransisco tersentak. Dan mengkeret. Namun dia tidak bodoh. Dia berlutut dan menyembah-nyembah wasit agar mengampuninya. Akhirnya, mereka membuat kesepakatan. Fransesco seorang sopir taksi. Dia setuju mengantar wasit pulang ke rumah. Dua puluh tahun kemudian, dia masih menyopiri taksi. Di manapun dan kapanpun mereka berpapasan, Fransesco akan berhenti dan memberi tumpangan gratis. Semua orang tahu dia masih terbayang-bayang wajah Eurico.

Kendati merupakan negara bagian kedua paling kecil dalam tingkat kepadatan penduduk, Amazonas ironisnya punya kota yang paling padat. Separuh penduduk Amazonas tinggal di Manaus. Secara demografi, ini membuat kota ini seperti pulau kecil yang ramai dikelelingi samudra sunyi. Saat menumpang taxi di salah satu kota satelit, sebuah kota yang menjorok menuju hutan tropis, aku terpana oleh pemandangan di luar jendela. Aku tak ubahnya seperti sedang di sebuah kota miskin biasa di bagian Amerika Latin lain. Bagi kebanyakan penduduk, Manaus adalah kota kumuh berair coklat, bukan hijaunya hutan tropis.

Pagi-pagi jam 7, setelah satu jam berkeleliling, taksi membawaku di depan Rumah No 16, Jalan No 8, Blok 13. Gubuk reot di atas lahan sempit itu tempat Paulinho Jorge de Moraes hidup dengan seekor kucing siam. Poster-poster tim sepakbola dari Rio de Janeiro menguning memenuhi dinding gubuk itu. Paulinho adalah satu-satunya orang yang menjadi panitia Tarkam sejak tahun pertama. Ketika aku tiba, dia sudah mengenakan pakaian wasit lengkap dengan peluit dan sepatu hitam. Gelang dan cincin emas berkilauan melingkari jari dan lengannya. Kalung emas dengan bandul jimat juga menguntai di lehernya. Ketika tersenyum, kilau gigi emas keluar dari mulutnya. Dia lebih cocok sebagai seorang pelanggan pub di utara Inggris.

Jiika ada satu orang yang benar-benar mewakili fantasi tentang Tarkam, maka itu adalah Paulinho. Seorang kenalan memberitahuku untuk tak menganggap serius 30 persen apa yang Paulinho katakan. Dia mengklaim dirinya setinggi 160 cm. Itu adalah klaim yang kelewat bersemangat.

Barangkali satu-satunya penilaian yang tidak terlalu berlebihan terkait dengan Paulinho adalah bahwa hidupnya dibentuk oleh Tarkam. Turnamen ini memberinya kepercayaan diri dan popularitas di tiap sudut kota. Tanpanya, kita tak bisa membayangkan yang sebaliknya.

“Karena pada dasarnya sangat kecil, aku selalu ingin menjadi wasit. Mula-mula ibuku melarang pergi karena khawatir aku akan kena pukul. Namun lambat laun dia terbiasa,” ujar Paulinho, yang sekarang berumur 52 tahun, “Untuk menjadi wasit, ukuran bukan hal yang penting. Yang paling utama adalah memahami aturan.”.

Paulinho adalah wasit dengan nyali kuat. Sepanjang 27 tahun memimpin pertandingan, dia mengklaim telah mengusir 5,982 pemain. Dia lebih terlihat sebagai  orang mungil yang melawan orang normal dari pada seorang wasit. “Biasanya, aku mengeluarkan 18-20 kartu merah tiap minggu. Lebih sering aku mengusir orang dari pada tidak.” Setiap orang harus berhati-hati jika ia memimpin pertandingan. Pernah suatu kali, seorang suporter yang marah memanggilnya, “sabun batangan hotel’ karena badanya yang mini dan penampilan yang kemrincing. ‘Aku langsung memberinya kartu merah,” dia menukas.

Aku tanya dia apakah dia pernah mengalami kekerasan. Paulinho bilang dia pernah dikejar-kejar oleh seorang perempuan sambil mengacungkan sapu. Dia juga mendapat delapan jahitan di kepala setelah seorang pemain meninjunya. “Polisi menemukan dan membawanya kepadaku. Mereka memintaku untuk membalas.” Dia melanjutkan, “sekarang dia salah satu teman terbaikku.” Di lain kesempatan, dia mengusir seorang pemain ‘sebesar orang hutan’. Orang-orang mencegah pemain itu masuk kembali ke lapangan dan melakukan balas dendam. Namun sore itu juga mereka berpapasan di kedai tuak dan berjabat tangan. Paulinho bilang: ‘Dia mengajak ke hotel, mentraktir minum-minum dan membayari perempuan untuk bergabung di mejaku. Kenangan-kenangan seperti inilah yang membuat Tarkam menjadi even yang menyenangkan.’

Pakaian warna-warni tak ada yang berukuran cukup kecil untuknya sehingga dia harus mengenakan baju dinas berwarna kuning-hitam itu. Segala sesuatu di rumahnya berukuran mungil; alih-alih lemari es, dia punya minibar. “Aku ingin dikubur dengan mengenakan baju wasit lengkap, kartu kuning di saku kiri dan kartu merah di saku kiri,” katanya sambil menepuk dada.

Aku memberinya tumpangan ketika dia hendak ke kota. Ini adalah minggu pertama Tarkam. Seratus tiga puluh enam pertandingan akan dimainkan di 40 lapangan yang berbeda dari jam 8 pagi sampai matahari terbenam. Paulinho mengarahkan taksi ke beberapa lapangan yang akan digunakan. Pada dasarnya, di manapun ada gawang, di situlah pertandingan dilangsungkan. Manaus mungkin kota yang dikelilingi semak belukar. Namun nyaris semua lapangan berupa garis petak di atas tanah berdebu. Aku bahkan melihat lapangan yang penuh bebatuan, pecahan kaca, dan tumpukan tulang.

Paulinho tidak bertugas hari ini. Di babak grup, pertandingan di atur sendiri oleh tim-tim peserta. Setiap tim harus menyediakan empat orang sebagai panitia: wasit, penjaga garis, dan manajer pertandingan. Mereka kemudian mengatur kesepakatan bagaimana mengatur pertandingan-pertandingan selanjutnya. Tiap tim butuh secara serius menyiapkan panitia demi kepentingan tim mereka sendiri. Tim yang tidak mengirim wasit pertandingan akan terkena hukuman berat.

Aku berhenti sejenak di salah satu lapangan untuk mengamati prosedur pertandingan dari awal hingga akhir. Pertama-tama, panitia pertandingan datang. Wasit mengempit bola, peluit dan kedua kartu. Penjaga garis membawa bendera yang terbuat dari cabikan kain yang ditempel di tongkat kecil. (Sekali waktu, seorang wasit lupa tidak membawa kartu merah dan menggantinya dengan bungkus rokok.) Manajer pertandingan membawa meja seadanya. Dia membawa secarik kertas yang diambil dari kantor Tarkam dan menuliskan laporan pertandingan.

Sebuah mobil angkot berhenti dan pemain-pemain berhamburan ke luar. Aku terkesima dengan prosesi pertandingan. Presiden klub menata kostum tim di sebuah pagar dan membagikan kepada tiap pemain. Dilengkapi dengan kartu pengenal tim, dia lantas memastikan bahwa setiap pemain menandatangani secarik kertas yang dibawa oleh panitia.

Pertandingan mulai tepat waktu. Wasit melakukan tugas dengan baik. Dia tidak memihak dan tidak juga, seperti yang pernah dikatakan orang-orang, menghentikan pertandingan, memberi kesempatan buat dirinya sendiri untuk bernapas. Untuk meningkatkan kualitas, Tarkam juga menyediakan kompetisi paralel bagi tim-tim yang memiliki 16 wasit terbaik. Juara turnamen paralel ini masuk play-off segi tiga dengan 16 klub yang ratu paling cantik dan 16 tim terbaik dari kabupaten. Juara dari kompetisi paralel ini akan memenangkan satu kursi 16 besar Tarkam tingkat negara bagian.

Setelah mondar-mandir dari satu lapangan ke lapangan yang lain, aku menghabiskan waktu sore hari dengan Vila Nova yang memainkan debutnya. Aku tiba di tempat kumpul-kumpul beberapa jam sebelum bertanding. Kami duduk-duduk di bawah rindang pohon zaitun dekat rumah Audemir. Bangkunya terbuat dari papan kasar yang melengkung tiap seseorang menempelkan pantat. Sekitar sepuluh orang bergantian duduk dan berdiri.

Suasana tegang. Mauricio Lima, ipar Audemir dan wakil presiden Vila Nova, mengatakan persiapan timnya agak berantakan. Mereka punya desain untuk kostum baru. Dia baru saja mengambilnya dari percetakan sablon yang dikelola seorang teman. Nama sponsor mereka, Delirium Drinks, tercetak tak keruan. Mereka memutuskan akan mengenakan kostum lama saja. Delirium Drink adalah nama kedai tuak tempat Ademir bekerja. Dukungan sponsor ini dapat dilihat di bawah pohon zaitun: kotak polifom besar berisi dua krat bir.

Tersiar kabab bahwa Erica, ratu klub, gagal masuk seleksi kedua. Audemir frustasi. “Aku sudah bilang, batalkan saja ikut ratu-ratuan,” dia menggerutu. “Itu pengeluaran tambahan. Kita membuang lebih banyak uang untuk kontes kecantikan dari pada mencari pemain. Tim kaya bisa dengan mudah mencari gadis semlohai. Sementara kami sangat tergantung dari kualitas pemain.” Dia mengucapkan kalimat terakhir layaknya Tarkam adalah kompetisi sepakbola yang tidak adil.

Sejam sebelum dimulai, pemain berjalan beberapa kilo meter menuju lapangan. Tetangga ikut bergabung sepanjang perjalanan. Kami menyusuri lorong air dan melintasi kampung kumuh. Mauricio bilang kampung ini dikuasai pengedar obat-obat terlarang. Siapapun dilarang masuk ke kawasan ini di malam hari. Pemukiman ini dibangun di atas lumpur. Rumah-rumah berada di atas selokan kecil yang bisa dilihat dari kolong-kolongnya. Salah satu superter bernyanyi dan menabuhi drum yang digantung di lehernya. Vila Nova adalah satu-satunya klub yang punya kelompok superter homoseksual yang dibentuk oleh Marcos, seorang juru masak lokal. Marcos dan teman-temannya barangkali adalah ratu sejati Tarkam. Mereka membuat rumbai-rumbai hijau yang melambai-lambai sepanjang jalan.

Ketika tiba di tepi lapangan, aku mengenali Ford Maroon Ademir. Dia mengangkat galon air dari bagasi. Dia meletakkannya dipunggung dan membawanya ke dekat garis lapangan. Mauricio dan saudara-saudaranya Ademir mengenakan kostum tim yang berbeda dengan yang dikenakan oleh pemain. Perbedaan itu membedakan mana pemain dan mana staf pelatih. Aku bertanya apakah ada anggota keluarga yang tidak datang. “Hanya ayah. Dia akan berjingkrak-jingkrak kesetanan dan lalu bertengkar dengan wasit.”

Lawan Vila Nova adalah Unidos da Rua Natal, atau Persatuan Sepakbola Natal. Audemir tampak cemas. Sebelum mulai, pemain dan pelatih saling berangkulan di lingkaran tengah. Suara Audemir serak memberi wejangan: “Simbol tim kita adalah elang. Itu berarti nyali, keberanian, kekuatan dan keinginan kuat. Ingat—tidak ada yang memalukan dari pada menyerah. Mereka lalu menyitir sabda tuhan dan mengakhirinya sambil meletakkan tangan di pusat lingkaran dan berteriak ‘Vila Nova’.

Pertandingan mulai. Vila Nova mendominasi namun lawan lebih kuat dari yang diperkirakan. Kedua tim sangat disiplin. Tampaknya tak ada celah lemah yang bisa dimanfaatkan. Seorang pemain Vila Nova terjatuh dan cedera. Dua staf pelatih berlari memberi pertolongan sambil membawa sekantung es batu. Setelah 25 menit babak pertama—aturan yang berlaku untuk babak penyisihan—skor masih kacamata.

Tak terhitung cerita seru dan kelakar tak tentu Aku dengar tentang Tarkam sampai-sampai aku mulai meragukan kebenarannya. Namun, kisah-kisah ajaib itu melintas di pelupuk mata saya. Menjelang sepuluh menit terakhir, suporter homoseksual mulai berteriak-teriak. Seorang pemain Vila Nova datang telambat karena baru pulang kerja. Dia sangat tampan. Selagi dia pemanasan, suporter gay berjumpalitan. Mereka teriak-teriak kegirangan, “ayo ganteng, ayo ganteng!”.

Dia masuk tanpa sepatu. Kepada Audemir ia bilang bahwa dia hanya bisa bermain dengan kaki telanjang. Bergegas, ia lari mengambil posisi di lapangan tengah. Tiap kali bola menghampirinya, fans Vila Nova melompat-lompat dan meracau seperti orang kesurupan. Kehadirannya mengubah keseimbangan. Vila Nova mulai menekan tanpa henti. Mereka mendapat tendangan sudut berkali-kali. Beberapa menit kemudian, si pengganti seksi itu mencetak gol.

Vila Nova menang 1-0. “Hasil yang bagus kawan-kawan,” sambut Audemir sambil menjabat tangan seluruh pemain ketika mereka meninggalkan lapangan. “Untuk pertandingan pertama, kita melakukan pekerjaan bagus.”

Mereka balik jalan kaki menuju pohon Zaitun untuk sebuah ‘perahu besar’, nama yang diberikan untuk pesta pasca-pertandingan yang wajib dilakukan. Suporter gay sukarela bersedia menjadi pelayan. Mereka membukakan botol bir dan memastikan bahwa gelas-gelas tidak kosong. Di malam yang gerah, seluruh kampung larut dalam pesta kemenangan. ‘Sepakbola adalah permulaan,” ujar Mauricio “Selanjutnya terserah anda.”

Si wasit sekilas melihat sebuah tendangan yang membahayakan dan, tanpa sekalipun berkedip, dia meniup peluit. Pelanggaran. Penalti? Itu detil yang tidak penting. Yang pasti, tiupan itu mengundang amarah. Semua pemain berebutan menonjok wasit. Namun Manuel bukan orang yang goblok. Dia sudah bersiap-siap. Dia mengeluarkan pistol dari balik seragam. Dia menodongkan senjata itu dan berbalik mengancam. “Siapa berani maju sekarang!” koarnya. Hidungnya berasap. Para pemain lari lintang pukang, saling bertabrakan dan kebingungan. Dalam kemelut itu tak ada yang memperhatikan detil kecil. Itu sebuah gertakan. Pistol itu pistol mainan seharga 50 ribu di toko anak-anak.

Aku meninggalkan Manaus hari berikutnya namun mengikuti perkembangan Tarkam sekembali ke Rio. Dua minggu sekali, A Critica, harian dari Manaus memuat delapan halaman khusus buat Tarkam. Aku minta toko majalah langganan menyimpannya untukku. (Ini tidak berlebihan karena dari Rio, Manaus lebih jauh dari Argentina, Uruguay, Paraguay, Bolivia, Chile dan Peru). Halaman khusus itu memang berasa testosteron. Separuh bagian untuk sepakbola. Setengahnya berisi gambar-gambar gadis semok mengenakan bikini. 

Selama beberapa bulan, aku mengikuti perkembangan Vila Nova. Mereka lolos dari babak penyisihan tanpa sekalipun terkalahkan. Mereka takluk 1-3 dari Central Park St Antonio di babak gugur ketika hanya tersisa 45 tim. Tarkam tahun ini akhirnya dimenangi oleh 3B Surprishop, tim yang dipunyai oleh pemilik toko retil barang-barang elektronik. Samantha Simoes dari Gloria United memenangi kontes ratu kecantikan yang disiarkan secara langsung oleh televisi. Nona Roberta, gagal maju ke babak kedua.


* Disadur tanpa izin dari Naked Futebol, Bab XI dari "Futebol The Brazilian Way of Life" (Bloomsbury 2014).  

4 comments:

  1. Prediksi Bola Liga Inggris 2017
    Prediksi Bola Liga Spanyol 2017
    Prediksi Bola Liga Italia 2017
    Prediksi Bola Liga Germany 2017
    Prediksi Bola League 1 Perancis 2017
    Daftar Casino Online
    Agen Judi SBOBET
    Agen Judi Bola
    Agen 1s Casino
    Agen IBCBET Online
    Agen BOLATANGKAS88
    Pertandingan Liga Eropa
    Prediksi Pertandingan 21 April 2017 Pukul 02:05 WIB

    Schalke 04 1 vs 0 Ajax (Odds = 00 – ½)
    Racing Genk 1 vs 1 Celta Vigo (Odds = 0 – 0)
    Manchester Unite 2 vs 0 Anderlecht (Odds = 0 – 1 ¾)
    Besiktas 1 vs 0 Olympique Lyonnais (Odds = 0 – 0)

    Hanya Depo 70k dapat 100k tersedia jga banyak bonus untuk anda Dengan Menggunakan kode Referal "98J03" hanya di http://988betlink.com

    ReplyDelete
  2. AYOO SERBUU GAN MUMPUNG GRATIS DAN MURAH
    ADU BANTENG, Sabung Ayam, Sportbook, Poker, CEME, CAPSA, DOMINO, Casino
    Modal 20 rb, hasilkan jutaan rupiah
    Bonus 10% All Games Bolavada || Bonus Cashback 10% All Games Bolavada, Kecuali Poker ||
    FREEBET AND FREECHIP 2017 FOR ALL NEW MEMBER !!! Registrasi Sekarang dan Rasakan Sensasi nya!!! ONLY ON : BOLAVADA(dot)com
    BBM : D89CC515
    https://goo.gl/3G0lA8
    https://goo.gl/kbkvXv
    https://goo.gl/JB5DSD

    sabung ayam
    agen terpercaya
    bandar judi

    ReplyDelete