Saturday, June 28, 2014

Luis Suarez Bermain Sepakbola Cara Uruguay: Kemenangan adalah Segalanya*

Oleh Martin Aguirre; Alihbahasa Mahfud Ikhwan


Adalah satu kebenaran yang tak terbantahkan bahwa di Uruguay sepakbola selalu mengambil kedudukan agama di beberapa negara. Sepakbola juga mengambil peran sangat besar dalam penciptaan mitos kami. Uruguay cuma sebuah negara mungil yang dikelilingi para raksasa, berumur kurang dari 200 tahun, dan kisah paling heroik yang dituturkan orang-orang ke anak-cucu adalah kejayaan sepakbola dan bukannya dahsyatnya peperangan. Di antaranya, tentu saja, adalah Maracana, di mana Uruguay mengalahkan Brazil di kandangnya sendiri untuk memenangi Piala Dunia 1950.

Kami membangun sebuah mitos nasional tentang kemenangan. Kemenangan melawan takdir, melawan setiap rintangan yang menghadang. Kami tertawa saat orang Inggris ngoceh tentang permainan indah. Ada seorang pelatih sangat kondang di Uruguay, Julio Ribas, yang bilang bahwa sepakbola sudah seharusnya tidak indah. Jika mau keindahan, pergilah nonton balet.

Sepakbola adalah soal kemenangan. Ini bukan berarti bisa diterima menginjak muka lawan dalam rangka mencetak gol. Namun, hal itu berdampak bahwa sekali kamu berjalan di atas lapangan, satu keseluruhan perangkat baru aturan moral masuk juga, yang sangat berbeda dibanding dengan aturan yang mengendalikan dunia luar yang kacau dan membingungkan.

Datanglah ke lapangan-lapangan sepakbola amatir di sekitaran Montevideo dan Anda akan menyaksikan pertandingan paling keras yang pernah Anda lihat. Pertandingan antara orang-orang yang kerja di kantor yang sama, sekelas, teman sepermainan begitu serunya sehingga hampir semua hal diterima untuk menang.
Sekali pertandingan selesai, orang-orang yang sama itu akan berkumpul, minum bir dan tertawa-tawa, dan segala yang telah terjadi di lapangan biar sampai di situ saja.

Semangat ultra-kompetitif ini adalah penjelasan kenapa sebuah negara dengan tiga juta penduduk mampu membangun semacam massa yang kritis bagi elit-elit pesepakbola, sebagaimana yang dilakukan Uruguay. Dan itulah satu-satunya penjelasan yang masuk akal bagi Luis Suarez.

Di negeri yang menciptakan agama kemenangan, mencucurkan keringat terakhir di lapangan, di mana orang hebat macam Nicolas Lodeiro memperoleh kreditnya hanya jika ia menyorongkan kepalanya untuk memblok bola sebagaimana ia lakukan saat melawan Inggris, maka menjadi jelas bahwa orang macam Suarez akan menjadi pahlawan nasional. Seseorang yang jadi jadi jutawan karena usahanya sendiri namun menyerahkan hidupnya di barisan untuk merebut bola, mencetak gol, dan memenangkan pertandingan. Dia mewakili semua nilai yang kami akui mengesahkan seorang pesepakbola sejati.

Maka ketika gol-golnya dan tingkah lakunya mulai menjadikannya sosok dunia, dan ketika media internasional mengarahkan lensa pembesarnya kepadanya, kami membuat-buat dua penjelasan untuk membenarkan tingkah-lakunya.  Pertama adalah masa kecilnya yang kurang bahagia: keluarganya yang  pecah dengan beban finansial, kepindahannya yang dini dari rumah keluarganya di Salto untuk mendaftar di tim muda Nacional. Namun, sejujurnya, itu saja tidak cukup, paling tidak di mata orang Uruguay. Itu boleh jadi adalah kisah sembilan dari sepuluh pemain di negeri ini. Maka, diperlukan penjelasan kedua dan sekaligus spesialisasi orang setempat: teori konspirasi.

Jika ada sebuah mitos yang menyemai sepakbola Uruguay, maka itu adalah obsesi bahwa di luar sana selalu ada persekongkolan melawan kami dalam politik permainan ini. Bahwa kami bukanlah pasar ekonomi yang penting, bahwa kami selalu merontokkan nama-nama besar di berbegai even, dan oleh karena itu kami mewakili bisnis yang buruk. Ide ini cuma akan berlaku setelah sanksi berat dan belum pernah terjadi terhadap Suarez, terutama ketika, apabila Uruguay bisa melewati Kolombia, perempat final melawan Brazil tampaknya akan terwujud.

Beginilah reaksi terhadap perkara Suarez dari sang kapten, Diego Lugano, yang mengklaim "sudah diketahui dengan baik bahwa media Inggris selalu melawan Suarez," atau dari sang pelatih, Oscar Tabarez, yang menyebut bahwa pemain bintangnya adalah "selalu jadi sasaran tembak oleh pers Inggris" dan "ini adalah Piala Dunia sepakbola, bukan lomba budi-pekerti cengeng". Bahkan Jose Mujica, Presiden Uruguay dan satu-satunya persona yang bisa menandingi ketenaran Suarez, angkat bicara membela, bersikeras bahwa ada sebuah kampanye melawan Suarez dan bahwa dirinya adalah "anak hebat". Mujica menambahkan: "Kami tak memilihnya untuk jadi filsuf, atau mesinis, atau sebab karena akhlaknya yang terpuji, dia cuma seorang pemain sepakbola yang hebat."

Semua komentar itu bukan berarti dukungan mendalam bagi Suarez. Sebagian besar orang Uruguay tak akan memaafkan saya karena menulis di koran Inggris tanpa mengibarkan bendera dan membela orang kami dari apa yang kami pandang di sini sebagai agresif, tidak jujur, dan semacam (ironisnya) kampanye rasis dari media Inggris. Tapi menggigit? Seorang pemain sepakbola profesional, yang tahu ada ratusan kamera mengarah kepadanya? Seseorang yang menghasilkan uang miliyaran dan mewakili impian dan harapan seluruh negeri? Mikir apa dia? Dari Diego Maradona ke Mike Tyson ke Tiger Wood, sebagian besar atribut yang menciptakan seorang atlet elit adalah apa yang membuat mereka begitu sulit untuk dipahami orang biasa. Namun dalam kasus Suarez, ada sesuatu yang berbeda.

Karirnya di Liverpool diikuti dengan penuh gairah di Uruguay. Orang-orang datang ke bar dan berdebat seru tentang pertandingan-pertandingan di Anfield seakan itu adalah bagian dari liga lokal. Komentar umum yang biasa muncul adalah betapa hambarnya para pemain itu, bagaimana mereka tidak mempedulikan pertahanan dengan semestinya, bagaimana sebagian besar dari mereka tidak berbeda antara yang menang dengan yang kalah. Kami memiliki istilah yang mendefinisikan pemain jenis ini beserta tingkah lakunya: "pecho frio", atau "berhati batu".

Tak seorang pun akan menganggap Suarez berhati batu. Dia mungkin melakukan hal tergila di lapangan sepakbola, namun Anda bisa memtaruhkan jiwa Anda dia akan bersedia menyerahkan hidupnya di atas lapangan. Di dunia yang dingin dan materialistis, ada puncak kualitas yang diinginkan kebanyakan orang Uruguay dari seorang pemain sepakbola. Itulah kenapa orang-orang mencintainya. Itulah kenapa mereka akan memaafkannya untuk hampir semua dosa. Dan itulah kenapa mereka akan selalu membelanya, seperti ekspresi yang dilakukan orang setempat, dengan kuku dan gigi mereka.


*Diterjemahkan dari "Luis Suarez plays football the Uruguay way: winning is all that counts", Guardian, 26 Juni 2014.

  



No comments:

Post a Comment