Wednesday, February 22, 2017

Setelah 4-0*

Oleh Mahfud Ikhwan


Barca dibantai PSG di Parc des Princes 4-0 tengah pekan lalu. Dilengkapi dengan dilucutinya Arsenal 5-1oleh Munchen di Alianz Arena, orang-orang mulai mengeluarkan keluhan lama: "Sepakbola indah telah kalah." Sebagian dilengkapi dengan ekspresi cengang, tak percaya.

Keluhan dan kecengangan itu pastinya keluar dari para pendukung Barca. Tentu saja itu lazim. Mungkin ditambah dengan beberapa orang lain yang biasanya punya kecenderungan memakai standar moral dalam menonton sepakbola.

Meski saya kadang juga terjebak jadi moralis bola, ada godaan besar untuk mendebat keluhan itu. Misalnya dengan mengatakan: bukankah mereka kalah karena kalah indah? Atau: tidakkah colengan Rabiot atas bola Messi yang kemudian dilanjutkan sodoran bola Verrati kepada Draxler adalah seni, dan dua gol De Maria adalah puisi?

Tapi, dalam kesempatan ini, saya tidak mau berdebat. Dengan segala simpati kepada para pemuja Barca maupun pendukung Arsenal, saya hendak lebih berterus-terang: kalah atau bahkan sudah lama kalah, sepakbola indah yang selama ini dilekatkan kepada Barcelona memang mesti tumbang. Ini untuk kebaikan Barcelona. Dan, tentu saja, demi sepakbola indah itu sendiri.    

***

Jangankan dilihat, didengar saja Barcelona sudah indah. Coba ucapkan, nama klub itu bahkan terdengar merdu. (Mungkin yang sebanding dengannya cuma Fiorentina dan Salernitana.) Tak mengherankan jika Indonesia bahkan setidaknya punya dua lagu cinta tentangnya. Namun, sampai kedatangan Johan Cruyff untuk kedua kalinya pada 1988, lalu membangun apa yang kerap kali disebut Tim Impian, keindahan itu tak banyak terhubung dengan sepakbola yang mereka mainkan.

Romantisme sebuah kota kosmopolitan di tepian Laut Mediteran, tragedi (pendirinya, Joan Gamper, mati bunuh diri; presidennya, Yosep Sunyol, ditembak tentara fasis; kebangkitannya kembali yang dipimpin seorang pengungsi perang yang nyaris mati dari Hungaria bernama Laszlo Kubala), korban represi, dan bahkan lambang dari semangat perlawanan kaum kiri, adalah hal-hal yang lebih melekat kepada tim ini selama nyaris seabad umurnya. “Kami jagoan, sampai Franco membungkam kami,” mungkin begitu alasan para pendukung Barcelona.

Faktanya, sampai Wembley ’92, ketika mereka memenangi Piala Champion pertamanya, secara statistik Barcelona tidak lebih istimewa bahkan dibanding tim gurem macam Steau Bucarest, tim yang mengalahkan mereka di final 1986. Jangan lagi bandingkan dengan legenda tragis seperti Nottingham Forest, misalnya.

Didirikan para imigran, berasosiasi dengan politik sayap kiri kelas menengah, Barcelona selalu membanggakan karakter kosmopolitnya—sebagaimana Inter di Italia. “Tak disangsikan, Barca adalah tim asing,” tulis Simon Kuper di Soccer Against the Enemy. Mereka selalu tergantung dengan pemain asing. Tak heran, pahlawan-pahlawan dan ikon mereka adalah orang-orang asing: Kubala (Hungaria), Cruyff (Belanda), Stoichkov (Bulgaria), hingga Ronaldinho (Brazil). Sampai kemudian Pep Guardiola membentuk tim terbaik Barca sepanjang zaman—boleh jadi tim sepakbola terbaik di abad ke-21.

Guardiola memulai kerjanya dengan menyingkirkan bintang-bintang internasional yang memberi mereka gelar Liga Champion kedua untuk Barca: Deco dan Ronaldinho, menyusul kemudian Eto’o. Saat memenangi final Liga Champion 2009, Pep memainkan 7 pemain yang besar di asrama yang dulu juga dihuninya, La Masia. (Lima di antaranya bahkan kelahiran Katalunya.) Pep mengenal sebagian besar pemainnya sejak usia sangat muda. Xavi sejak belia disebutnya sebagai suksesornya, Busquet diberinya debut dan bermain nyaris mirip dengannya, Iniesta remaja bahkan punya poster Guardiola di kamarnya, sementara Messi sudah dilihatnya bahkan sejak pertama masuk asrama.

La Masia adalah berwujudan ide Cruyff pada 1979, dengan sistem yang diimpor dari Ajax. Tigapuluh tahun kemudian, bukan hanya menjadi akademi sepakbola terbaik di dunia, La Masia juga menciptakan tim terbaik di dunia. (Bahkan, menurut klaim orang Catalan, La Masia juga yang membuat Spanyol juara dunia.) Tapi lebih penting dari itu, La Masia memberi identitas terbaik bagi apa yang disebut sebagai barcelonismo.

Kurang berhasil dengan Tito dan gagal total dengan Tata Martino, dengan materi yang tak terlalu jauh berbeda Barcelona berjaya kembali di bawah Luis Enrique. Enrique lulusan akademi Gijon, pernah main di Madrid, dan tak pernah mengecap langsung kepelatihan Cruyff, sang ideolog tiki-taka. Dalam tiga musim ia memberi delapan gelar domestik dan internasional untuk Barca. Tapi penonton di Camp Nou mencari-cari di mana letak barcelonismo mereka.

Termehek-mehek saat menahan imbang Real Betis pada 29 Januari menguatkan pertanyaan dan pencarian itu. Kekalahan telak dari PSG di 16 besar Liga Champion 2017 pekan lalu memperjelasnya. Para penggemar Barca harus bersyukur menyaksikannya.

***          

Barca biasa mencetak lima hingga delapan gol dalam sebuah pertandingan. Jadi, mereka bisa saja membalik keadaan dan menyingkirkan PSG di putaran kedua. Tapi, tidak lolos 16 besar Liga Champion musim ini jelas bukan persoalan terpenting Barcelona.

Memecat Enrique—atau menunggunya pergi dengan kemauan sendiri seperti dilakukannya di Roma dan Celta—adalah opsi mudah. Mencari penggantinya juga gampang. Pelatih muda bertalenta sedang bejibun. Ronald Koeman yang sangat mengenal Barca dan bersentuhan langsung dengan tradisi tiki-taka bisa jadi pilihan utama. Sebagai mantan pemain Espanyol, Pochettino juga mengenal Barcelona, meskipun dari sisi berbeda. Dan semua sepakat bahwa ia berlimpah bakat. Pilihan lain lagi ada pada Eusebio, rekan setim Koeman dan Pep dan murid Cruyff, yang kini melatih Sociedad. Ada pula Sanpaoli yang sedang sangat mengkilap dengan Sevilla. Atau mau bikin kejutan? Ada Simeone atau Alegri. Atau... Mou?

Selanjutnya bagaimana, itu yang jauh lebih memusingkan kepala para direktur Barca.

Dalam beberapa kesempatan, Barcelona biasanya kesulitan melakukan transisi. Yang paling pahit adalah ketika mereka hendak mengubah tim usai kalah 4-0 di final Piala Champion 1994 oleh AC Milan. Sebagian besar pemain lama dibuang, dan hasilnya nol besar. Cruyff dipecat dalam sebuah pertengkaran, dan sosok dewa bagi orang Katalunya itu memejahijaukan klub yang memujanya. Ujungnya, Presiden klub kala itu, Josep Nunez, terguling.

Van Gaal memberi dua gelar liga dalam dua kali pengabdiannya, tapi tim-tim di bawah Robson, Serra Ferrer, Rexach dan Antic, adalah tim-tim semenjana, jika bukan malah jadi rangkaian kenangan yang mesti dilupakan. Mereka baru merasa pulih ketika Rijkaard, bersama tumbuhnya sebuah generasi baru dari akademi La Masia seperti Xavi dan Puyol, memberi mereka gelar Eropa ke-2. Lalu, bersama Pep, mereka panen raya.

Apa yang diberikan oleh Pep dan tim ala La Masia-nya adalah proses transisi panjang dan menyakitkan, yang makan waktu lebih dari dua dekade. Dan bagaimana Barcelona dibangun pasca-Pep menunjukkan betapa tim macam inilah yang sangat diidealkan para pendukung Barca. Dan memang, setidaknya sampai hari ini, inilah tim yang paling ideal bagi dunia sepakbola. Menengok bagaimana mereka lahir, tentu saja tak mustahil ia diulangi, mungkin dengan sedikit utak-atik dan revisi. Tentu saja butuh waktu. Dan bisa jadi lebih panjang.

Tapi itu bukan satu-satunya opsi. Dan, menilik sejarah Barcelona, itu bukan satu-satunya jalan prestasi yang pernah mereka tempuhi.

Asal tahu saja, Barca tak sesuci yang dikira para penggemar barunya. Ketika mendatangkan Cruyff dan Neesken dari Ajax, sekaligus memboyong Rinus Michels pada musim 1973-74, dengan harga dan gaji yang memecahkan rekor dunia, mereka tentu saja sedang berusaha “membeli gelar” yang didapat Ajax (tiga Piala Champions berturut-turut). Hal yang sama mereka ulang lagi ketika menunjuk Van Gaal sebagai pelatih, dengan memboyong nyaris separoh pemain Ajax yang mengantar mereka menjuara Liga Champion 1995. Dan karena Maradona, Stoichkov, Romario, Ronaldo Luis, Rivaldo, Ronaldinho, hingga Ibrahimovic, bukan produk La Masia, tentu mereka juga membelinya dengan mahal. Belakangan, toh mereka juga melakukannya dangan Neymar, Suarez, dan Andre Gomes.

Jadi, sembari menunggu pengganti Puyol, Xavi, dan Iniesta lahir (tentu secara bersama-sama), tak ada salahnya mereka menempuh cara lama, cara yang kini dijalani Chelsea, PSG, City, dan rival mereka, Real Madrid. Toh mereka bukan tim miskin.

Juan Laporta pernah bilang: “Kami memahat Ballon d’Ors, tim lain membelinya.” Presiden Barca saat ini, Josep Bartomeu, bisa saja mengubahnya sedikit: “Tim lain membeli Ballon d’Ors, kami bisa membelinya lebih banyak.”

Dan sepakbola indah pun akan tetap ada. Mungkin dengan harga yang sedikit beda.


*Terbit di Jawa Pos, Selasa 21 Februai 2017 dengan judul “Sepakbola Indah Sudah Kalah?”

No comments:

Post a Comment