Sunday, July 10, 2016

Juara Mengalahkan Rasa Takut

Oleh  Darmanto Simapa

Setelah sebulan begadang dan meriang, kita berharap final yang menakjubkan. Kita ingin dua tim yang saling berseteru, berjibaku, jual-beli serangan. Kita ingin pertandingan dengan banyak gol, banyak peluang, banyak kejutan, dengan irama naik-turun, tak terkendali dan menguras emosi.

Kita ingin klimaks yang memuaskan. Tontonan yang membuat kita menahan napas: penyerang beradu ketajaman. Dua kiper terbang menyelamatkan gawang. Bek-bek terlibat duel sepanjang pertandingan. Gelandang membuat umpan terobosan atau tendangan jarak jauh mengejutkan.

Namun, kita juga tahu final hampir selalu menjadi akhir yang mengecewakan. Plot turnamen sepakbola yang dimulai dengan gairah dan gelora, justru, sering berakhir dengan menyedihkan.  Kita nyaris selalu mendapati pertandingan yang buruk. Sangat buruk bahkan.   

Acapkali, pertandingan final kerap berjalan dengan lambat dan membosankan. Peluit tak henti berbunyi menginterupsi aliran permainan. Peluang sedikit dan menyaksikan gol nyaris seperti berjumpa hewan langka.

Alih-alih menyaksikan kulminasi keindahan sepakbola, kita selalu mendapati dua tim yang saling menahan diri. Dua tim yang bermain hati-hati. Dua tim yang tidak berani keluar menyerang. Dan satu tim yang tertawa di akhir pertandingan, lazimnya, adalah tim yang bermain dengan cara menyebalkan.

Kecuali empat tahun lalu di Kiev, 13 final Piala Eropa dan Piala Dunia terakhir tidak menghasilkan lebih 3 gol. Setengahnya melalui babak tambahan dan adu pinalti. Sepertiganya tuntas dengan skor 1-0. Dari 26 finalis, separohnya gagal menceploskan bola ke jala lawan. 

Kita mendapati pertandingan-pertandingan seru, menguras emosi, dengan gol melimpah,  dan abadi dalam memori justru biasanya ada di perempat final atau semifinal.  Di final, kita akrab dengan fenomena ini: tepuk tangan dan sorak-sorai saat lagu kebangsaan berkumandang segera berganti cemoohan dan siulan panjang. Antusiasme cepat menguap dan diganti rasa bosan, membuat penonton di rumah lebih sering menengok pesan telpon genggam dari pada menatap layar televisi.

*****

“Final turnamen sepakbola modern,” Eduardo Galeano, penyair sepakbola Uruguay, membuat metafora, “seperti percintaan orang modern”.  Semua orang menginginkan klimaksnya, tetapi jarang yang mendapatkannya.

Kenapa? Bukankah manusia modern sangat peduli dengan romantika dan hubungan badan? Bukankah mereka punya banyak taktik dan strategi: buku panduan, konsultasi psikologi, hingga minum obat kuat dan jamu-jamuan—awetan kalajengking, viagra, pil biru atau tulang harimau. Juga liburan romantis, temaram lilin atau sprei beledru?

Menurut Galeano, semua taktik dan strategi itu adalah topeng dari rasa takut. Rasa takut untuk gagal dan berusaha lagi. Rasa takut kehilangan. Rasa takut untuk memberi. Semua taktik dan strategi itu menutupi rasa takut untuk tidak dicintai.

Rasa takut tidak dicintai membuat orang modern tidak percaya diri. Rasa takut itu juga mengebiri potensi. Rasa takut kehilangan waktu membuat cumbu-rayu harus terencana dan sesuai jadwal liburan. Rasa takut kehilangan karir dan masa depan membuat menikah, berkomitmen dan mengikuti kata hati—hal-hal yang esensial dalam percintaan—menjadi hal yang menakutkan.

Dalam sepakbola modern, rasa takut itu bernama kekalahan. Tentu saja, tidak ada finalis yang maju jadi pecundang. Semua ingin menjadi pemenang. Rasa takut kalah adalah elemen dasar permainan.

Masalahnya: takut kalah itu menguasai sehingga mengebiri potensi hebat dan menumpulkan kepercayaan diri. Takut kalah membuat tim memusatkan perhatian pada apa yang dipunyai lawan, ketimbang apa yang mereka miliki sendiri.

Rasa takut kalah juga menghalangi pengambilan resiko. Finalis cenderung konservatif. Sedikit sekali tim berani bermain terbuka. Kebanyakan menunggu lawan membuat kesalahan. Atau menumpuk pemain di belakang.

Rasa takut itu sering disembunyikan di balik topeng bernama taktik, formasi atau strategi. Kali lain, ia dibungkus dalam kalimat “demi keseimbangan tim”.  Bek-bek dilarang naik melewati garis tengah lapangan. Pemain kreatif diminta menarik kaos lawan. Para penyerang dicadangkan. 

Di final, takut kalah membuat taktik dikembangkan untuk mengekang kebebasan.
Kreatifitas dan imajinasi tunduk oleh strategi. Hasilnya, final menjadi panggung drama bagi aktor-aktor berbakat yang bermain dengan naskah dan plot yang sangat buruk.

*****

Saya bukan pemuja Prancis atau Portugal. Namun, ketika tidak ada istilah netral dalam final, pilihan mudah dijatuhkan.

Dari enam pertandingan yang telah dilalui, kapan Portugal memberi kita tontonan yang menguras emosi. Kapan mereka bermain menyerang dan mengambil resiko? Sebaliknya, mereka membuat kita sebal dengan tempo lambat dan membosankan. Mereka lolos, bahkan tanpa sekalipun menang. Sementara tim-tim yang bermain dengan hati dan menggugah selera seperti Albania atau Wales terkapar, Portugal dengan cerdik dan beruntung mengambil keuntungan dari sistem turnamen dengan 24 tim.

Para analis dan pelatih mungkin punya pendapat lain. Portugal barangkali adalah contoh tim yang jitu mengatur kebugaran, lihai mengatur tuntutan dan jadwal turnamen, serta punya fleksibilitas taktik. Portugal adalah sedikit tim yang bisa menang dengan cara yang buruk dan di saat yang tepat, suatu kemahiran yang hanya dipunyai oleh sedikit tim, sekaligus syarat mutlak menjadi juara turnamen sepakbola modern.

Fernando Santos boleh jadi dianggap pelatih adaptif, seorang yang akhirnya bisa memaksimalka bakat Ronaldo ketika ia telah melewati masa puncaknya. Ia bisa membentuk tim tanpa penyerang tengah. Ia bahkan mampu menciptakan tim yang bermain tanpa sayap, dengan pemain-pemain sayap kelas dunia.

Bisa juga Portugal sedang mencari keadilan, lewat rute yang ditempuh oleh lawan yang menorehkan luka di jantung dan meremukkan hati mereka: Yunani. Mungkin mereka sedang menebus kesalahan dan kesembronoan masa lalu ketika tim bertabur bakat hebat menyia-nyiakan kesempatan emas untuk menjadi juara dan membuat kecewa seluruh warganya.

Mungkin juga takdir atau dewa fortuna sedang mendekati mereka. Untuk itu, mereka pasti dengan rela dan gembira menukar kecaman dan cemoohan atas ketakpantasan dan ketaklayakan mereka ke babak akhir dengan piala.

Namun, tentu saja kita bukan orang Portugal. Kita peduli dengan sepakbola bagus dan hebat, justru karena kita, sebagai penonton ‘netral’ boleh cerewet, penuntut dan emosional. Karena kita bisa kecewa atau patah hati oleh pemain-pemain dan negara yang tidak punya hubungan  apapun dengan kehidupan keseharian kita, kita bisa juga mengumpat dan mencela dengan sukarela.

Bagi Saya dan jutaan penonton non-Portugal, mereka bermain sama seperti diktator Salazar menjalankan pemerintahannya. Sementara Salazar memberangus lawan politik dengan sensor, membentuk polisi rahasia, mengekang gereja, dan memberangus partai politik, timnas Portugal mengekang daya kreatif pemainnya, membentengi pertahanan dengan tumpukan gelandang,  dan menghilangkan tradisi bermain negara yang pernah menciptakan seorang Luis Figo.  

Prancis juga jauh dari ideal. Mereka tampak bukan tim yang solid dan koheren. Kecemerlangan mereka bersifat sporadis. Dalam satu-dua menit, pemain-pemain berbakatnya bisa padu dan mengalirkan bola dengan rapi dan lembut, namun sepanjang waktu, mereka lebih banyak menciptakan kecemasan.

Namun, justru karena  terlihat rentan dan tidak seperti tim yang sudah jadi, setiap pertandingan  Prancis selalu memberi ruang bagi kreatifitas, imajinasi, dan visi para pemain berbakatnya. Setiap bola di kaki Dimitri Payet, kita seperti anak kecil menunggu tukang sulap mengeluarkan triknya. Tiap melihat Antoine Griezman berhasil merebut bola dan mengawali serangan balik, kita merasa sesuatu yang hebat akan terjadi.

Sudah lama sekali kita tidak menyaksikan turnamen sepakbola menghasilkan momen-momen indah yang diciptakan oleh individu. Sejak Roberto Baggio di Piala Dunia Amerika atau Ronaldo Brazil tahun 2002, kita jarang menyaksikan pemain yang bersinar dan menentukan hasil pertandingan, nyaris sendirian.

Turnamen sepakbola modern tidak ada lagi menghasilkan Garrincha, Platini atau Maradona.  Tidak ada lagi pemain yang melewati dua tiga pemain lawan. Tidak ada lagi duel bek-penyerang yang indah sepanjang pertandingan.  Semuanya tentang penguasaan bola dan keseimbangan. Semuanya tentang tim, tim, tim, tim. Strategi, strategi, strategi.

Kerentananan dan ketidaksolidan Prancis justru mencipratkan kesegaran dan memberi ruang bagi pemain jenius untuk mendemonstrasikan jurusnya. Ini juga memaksa pelatihnya untuk berjudi dan mengambil resiko. Saat melihat Griezmann bergerak, kita melihat bagaimana seni bertahan tidak lantas menumpulkan naluri menyerang. 

Seiring dengan berjalannya waktu, Prancis berupaya, dan sedikit berhasil, mengatasi rasa takut. Ketika melawan Jerman yang superior secara taktik dan taktik, Prancis berani berduel di lapangan tengah. Alih-alih menumpuk gelandang bertahan, Deschamp justru menaruh Kante di bangku cadangan dan meresikokan Pogba untuk jadi bulan-bulanan gelandang serang Jerman.

Meskipun berantakan, keberanian Deschamp justru membuat Prancis tampak menggigit. Kerentanan mereka memberi udara segar, menuntun pemainnya untuk mengerahkan kreatifitasnya. Mereka tampak seperti sebuah tim yang ingin memberi lebih, tim yang lebih menngerakkan hati.

Sulit membayangkan final hari Minggu ini akan seperti apa. Portugal tampak seperti Jerman sebelum era Klinsman. Mereka bisa jadi kodok buruk rupa yang berubah menjadi pangeran tampan dan meraih mahkota di halaman terakhir dongeng modern sepakbola.

Namun kita berharap bahwa tim yang juara adalah tim mengalahkan rasa takut dan bermain dengan sepenuh hati. Tim yang berani bermain terbuka dan mengambil inisiatif. Klimaks sepakbola lebih berhak dirasakan oleh tim yang lebih mencintai dan memberi kesenangan dan kepuasan kepada jutaan penonton di dunia—bukan tim yang melulu berpikir tentang strategi dan berharap adu pinalti.

Saya tahu mana tim yang berusaha mengatasi rasa takutnya dan memberi ‘orgasme’ bagi jutaan pencinta sepakbola di seluruh dunia.


3 comments: