Oleh Darmanto Simaepa
Tite, pelatih Brazil, lebih suka bicara tentang perasaan atau emosi dari pada membahas taktik atau mengomentari kekuatan lawan. Ia menyebut-nyebut rasa cemas, gugup, dan tekanan. Sangat mudah untuk menerka ke mana arah omongannya.
Brazil punya luka besar yang masih segar. Empat tahun lalu, Brazil mengalami Mineirazo (tragedi Mineiro). Kekalahan 7-1 itu meruntuhkan kepercayaan dan harga diri sepakbola Brazil.
‘Namun, Brazil sudah bisa berdamai dengan dirinya sendiri’, begitu kata Tite sebelum berlaga. Di tangannya, Brazil sepertinya sudah mengatasi kenangan pilu itu. Sepanjang kualifikasi dan ujicoba, mereka tak terkalahkan, bermain dengan penuh gaya dan kepala tegak.
Mereka datang ke Russia dengan percaya diri. Mineirazo seakan-akan sudah lama berlalu. Pemain-pemain yang jiwanya remuk oleh kekalahan itu bangkit dari puing-puing. Ratusan juta warga Brazil yang hatinya masih basah oleh kekecewaan kembali optimis akan peluang timnya.
Di antara tim unggulan, Brazil paling sedap dipandang. Mereka begitu menikmati permainan mereka sendiri. Sentuhan Neymar, imajinasi Coutinho, letupan langkah kecil Marcelo, dan kemampuan Casemiro mendeteksi bahaya seperti menghadirkan kembali tarian samba. Mereka bermain dengan riang tapi tetap tenang, dengan kaki yang lincah dan hati yang membuncah.
Lalu gol Zuber. Dan tiba-tiba kita menemukan Brazil yang lain. Brazil yang rapuh dan rentan. Mereka seperti sekumpulan bocah-bocah pintar yang gugup dan cemas ketika lawan cerdas-cermat mereka lebih cepat menekan tombol jawaban. Kecerdasan sepakbola mereka seperti menguap ke udara.
Selama lebih dari 15 menit setelahnya, Brazil kehilangan kontrol, tempo dan keanggunannya. Mereka tersesat di lapangan. Bayang-bayang Mineirazo terasa sekali di depan televisi ketika kita mendapati Willian atau Paulinho mengumpan dan berlari seperti pemain Arab Saudi.
Dorongan Zuber ke Miranda barangkali hanya satu momen biasa yang mudah diabaikan. Dan tidak begitu menentukan. Jauh dibandingkan, misalnya dengan sikutan Diego Costa ke tengkuk Pepe. Namun momen itu cukup menelanjangi sisi lain Brazil. Itu adalah Brazil yang kelu dan kedinginan, yang mengigigil ketika bertemu dengan tragedi dan masa lalunya.
Reaksi pasca pertandingan menjelaskan semua. Tite mengumpat wasit dan menunjuk satu momen itu sebagai satu-satunya penyebab mereka gagal menang. Kemarahan Tite, dan juga 200 juta lebih warga Brazil, terhadap wasit ibarat mikroskop yang menunjukkan kanker yang bersemayam di balik kulit mereka. Empat tahun kemo terapi dan dokter yang bagus mungkin telah menghilangkan kanker yang mereka derita. Tapi itu belum menghilangkan rasa takut dan kecemasan tentang kemungkinan kanker itu kembali.
Menonton pertandingan pertama Brazil di Russia ini, terutama selepas Swiss menyamakan kedudukan, melihat bagaimana mereka sedang bertarung dengan dirinya sendiri. Dan ini bukan yang
pertama kali.
Brazil adalah negara yang menghayati sepakbola dengan sepenuh hati dan segenap emosi. Karena itu, kisah sepakbola mereka sangat ekstrim. Mereka punya sejarah kebahagiaan yang paling hebat sekaligus tragedi paling memilukan. Mereka punya senyuman yang paling ceria tapi sekaligus derai air mata yang tak pernah berhenti mengalir.
Bermain dengan riang dan penuh keingintahuan, Brazil memberi kita lebih dari sekadar sepakbola. Mereka menciptakan jogo bonito. Dengan keberanian dan imajinasi, Brazil memberi kita kisah petualangan mengasyikkan di atas lapangan yang dibawakan oleh Garrincha, Jairzinho atau Ronaldinho.
Namun dari sana kita juga belajar bahwa sepakbola bisa tidak mengenal rasa belas kasihan. Moacir Barbosa, kiper kulit hitam yang tidak membuat kesalahan, dihukum seumur hidup oleh sebuah bangsa dengan cara yang tak terperikan. Dianggap sebagi kutukan dan sial yang menggagalkan Brazil juara dunia, kiper terbaik di masanya diasingkan bukan hanya oleh publik sepakbola dan media tetapi juga teman-teman dekat dan anak istri.
Kejayaan Brazil adalah siklus melampaui kegagalan. Habis Maracanazo, mereka berjaya di Swedia. Gagal di Inggris, nomor satu di Mexico. Porak-poranda di Italia, tersenyum di Amerika. Terpuruk di Prancis, juara di Jepang.
Seperti yang sudah-sudah, pertempuran paling besar yang Brazil hadapi di Piala Dunia kali ini adalah pertempuran melawan bayang-bayang masa lalunya sendiri. Secara teknik, tim ini paling berbakat. Skuad mereka sangat dalam dan merata. Secara fisik, mereka tampak jauh lebih bugar. Secara taktik, mereka juga sangat matang.
Di lima belas menit terakhir melawan Swiss, ketika sudah bisa mengatasi rasa takut dan kecemasan, Brazil menjadi kandidat kuat pemenang Piala Dunia. Permainan mereka menjadi stabil tanpa kehilangan urgensi. Kreatifitas mereka juga keluar tanpa kehilangan kewarasan.
Kali ini, Brazil akan sanggup melewati ketakutan. Lawan-lawan yang sedikit ringan di fase grup akan membantu mereka menemukan kepercayaan dirinya. Kemenangan atas Costa Rica dan Serbia mustilah pelan-pelan menyingkirkan trauma.
Sekali Brazil mampu mengatasi rasa takut, menyembuhkan luka-luka yang masih segar itu dan berdamai dengan dirinya sendiri, pendukung Argentina dan penggemar Lionel Messi seperti saya ini harus siap-siap untuk menghadapi trauma sepakbola yang tak tersembuhkan.
*Dimuat di Jawa Pos, 22 Juni 2018