Monday, July 2, 2018

Brazil yang Melawan Dirinya Sendiri

Oleh Darmanto Simaepa


Tite, pelatih Brazil, lebih suka bicara tentang perasaan atau emosi dari pada membahas taktik atau mengomentari kekuatan lawan. Ia menyebut-nyebut rasa cemas, gugup, dan tekanan. Sangat mudah untuk menerka ke mana arah omongannya.

Brazil punya luka besar yang masih segar. Empat tahun lalu, Brazil mengalami Mineirazo (tragedi Mineiro). Kekalahan 7-1 itu meruntuhkan kepercayaan dan harga diri sepakbola Brazil.
‘Namun, Brazil sudah bisa berdamai dengan dirinya sendiri’, begitu kata Tite sebelum berlaga. Di tangannya, Brazil sepertinya sudah mengatasi kenangan pilu itu. Sepanjang kualifikasi dan ujicoba, mereka tak terkalahkan, bermain dengan penuh gaya dan kepala tegak.

Mereka datang ke Russia dengan percaya diri. Mineirazo seakan-akan sudah lama berlalu. Pemain-pemain yang jiwanya remuk oleh kekalahan itu bangkit dari puing-puing. Ratusan juta warga Brazil yang hatinya masih basah oleh kekecewaan kembali optimis akan peluang timnya.

Di antara tim unggulan, Brazil paling sedap dipandang. Mereka begitu menikmati permainan mereka sendiri. Sentuhan Neymar, imajinasi Coutinho, letupan langkah kecil Marcelo, dan kemampuan Casemiro mendeteksi bahaya seperti menghadirkan kembali tarian samba. Mereka bermain dengan riang tapi tetap tenang, dengan kaki yang lincah dan hati yang membuncah.  

Lalu gol Zuber. Dan tiba-tiba kita menemukan Brazil yang lain. Brazil yang rapuh dan rentan. Mereka seperti sekumpulan bocah-bocah pintar yang gugup dan cemas ketika lawan cerdas-cermat mereka lebih cepat menekan tombol jawaban. Kecerdasan sepakbola mereka seperti menguap ke udara.

Selama lebih dari 15 menit setelahnya, Brazil kehilangan kontrol, tempo dan keanggunannya. Mereka tersesat di lapangan. Bayang-bayang Mineirazo terasa sekali di depan televisi ketika kita mendapati Willian atau Paulinho mengumpan dan berlari seperti pemain Arab Saudi.

Dorongan Zuber ke Miranda barangkali hanya satu momen biasa yang mudah diabaikan. Dan tidak begitu menentukan. Jauh dibandingkan, misalnya dengan sikutan Diego Costa ke tengkuk Pepe. Namun momen itu cukup menelanjangi sisi lain Brazil. Itu adalah Brazil yang kelu dan kedinginan, yang mengigigil ketika bertemu dengan tragedi dan masa lalunya.

Reaksi pasca pertandingan menjelaskan semua. Tite mengumpat wasit dan menunjuk satu momen itu sebagai satu-satunya penyebab mereka gagal menang. Kemarahan Tite, dan juga 200 juta lebih warga Brazil, terhadap wasit ibarat mikroskop yang menunjukkan kanker yang bersemayam di balik kulit mereka. Empat tahun kemo terapi dan dokter yang bagus mungkin telah menghilangkan kanker yang mereka derita. Tapi itu belum menghilangkan rasa takut dan kecemasan tentang kemungkinan kanker itu kembali.

Menonton pertandingan pertama Brazil di Russia ini, terutama selepas Swiss menyamakan kedudukan, melihat bagaimana mereka sedang bertarung dengan dirinya sendiri. Dan ini bukan yang 
pertama kali.

Brazil adalah negara yang menghayati sepakbola dengan sepenuh hati dan segenap emosi. Karena itu, kisah sepakbola mereka sangat ekstrim. Mereka punya sejarah kebahagiaan yang paling hebat sekaligus tragedi paling memilukan. Mereka punya senyuman yang paling ceria tapi sekaligus derai air mata yang tak pernah berhenti mengalir.  

Bermain dengan riang dan penuh keingintahuan, Brazil memberi kita lebih dari sekadar sepakbola. Mereka menciptakan  jogo bonito. Dengan keberanian dan imajinasi, Brazil memberi kita kisah petualangan mengasyikkan di atas lapangan yang dibawakan oleh Garrincha, Jairzinho atau Ronaldinho.

Namun dari sana kita juga belajar bahwa sepakbola bisa tidak mengenal rasa belas kasihan. Moacir Barbosa, kiper kulit hitam yang tidak membuat kesalahan, dihukum seumur hidup oleh sebuah bangsa dengan cara yang tak terperikan. Dianggap sebagi kutukan dan sial yang menggagalkan Brazil juara dunia, kiper terbaik di masanya diasingkan bukan hanya oleh publik sepakbola dan media tetapi juga teman-teman dekat dan anak istri.

Kejayaan Brazil adalah siklus melampaui kegagalan. Habis Maracanazo, mereka berjaya di Swedia. Gagal di Inggris, nomor satu di Mexico. Porak-poranda di Italia, tersenyum di Amerika. Terpuruk di Prancis, juara di Jepang.  

Seperti yang sudah-sudah, pertempuran paling besar yang Brazil hadapi di Piala Dunia kali ini adalah pertempuran melawan bayang-bayang masa lalunya sendiri. Secara teknik, tim ini paling berbakat. Skuad mereka sangat dalam dan merata. Secara fisik, mereka tampak jauh lebih bugar. Secara taktik, mereka juga sangat matang.

Di lima belas menit terakhir melawan Swiss, ketika sudah bisa mengatasi rasa takut dan kecemasan, Brazil menjadi kandidat kuat pemenang Piala Dunia. Permainan mereka menjadi stabil tanpa kehilangan urgensi. Kreatifitas mereka juga keluar tanpa kehilangan kewarasan.

Kali ini, Brazil akan sanggup melewati ketakutan. Lawan-lawan yang sedikit ringan di fase grup akan membantu mereka menemukan kepercayaan dirinya. Kemenangan atas Costa Rica dan Serbia mustilah pelan-pelan menyingkirkan trauma.

Sekali Brazil mampu mengatasi rasa takut, menyembuhkan luka-luka yang masih segar itu dan berdamai dengan dirinya sendiri, pendukung Argentina dan penggemar Lionel Messi seperti saya ini harus siap-siap untuk menghadapi trauma sepakbola yang tak tersembuhkan.


*Dimuat di Jawa Pos, 22 Juni 2018


Saturday, June 30, 2018

Hidangan Prancis dan Anggur Yang Masih Muda

Oleh Darmanto Simaepa


Melihat materi les blues, kita seperti memasuki dapur restoran Prancis. Bahan-bahan dasar makannya segar dan berkualitas. Hampir semua bahan itu hasil kebun pembibitan Clairefountain yang terkenal menghasilkan pemain bola pilih-tanding karena hawanya sejuk dengan tukang-tukang rawat yang hebat.

Kultivarnya dari mana? Jangan ditanya. Prancis dibekali bibit unggulan dari seluruh penjuru dunia. Pogba dari Guyana. Mbappe hasil persilangan Kamerun dan Aljazair. Griezman punya darah Jerman dan Portugal. Lorris asli Mediterannia. Alphonse Areola adalah orang Filipina. Pokoknya, hampir semua pemain Prancis adalah hasil serbuk-silang alamiah gen-gen terbaik dari segala bangsa.

Mereka juga punya koki sarat pengalaman. Didier Deschamp belajar dan magang langsung dari master chef kelas dunia. Tak main-main, bos-bosnya adalah pemenang trofi Jules Rimet dan Liga Champions. Di Marseille, dia diasuh oleh Franz Beckenbauer. Di Juventus, ia belajar dari Marcelo Lippi. Di timnas, ia adalah kaptennya Aime Jacquet.

Sebagai koki utama, prestasi Deschamp juga tidak semenjana. Ia sukses memenangi kompetisi Bintang Michelin beberapa kali bersama Monaco dan Marseille.

Dengan bahan dasar beragam dan berkualitas, chef yang mumpuni, dan tradisi sepakbola yang panjang, Prancis punya segalanya untuk menghadirkan hidangan klasik haute cuisine, mewah sekaligus nikmat. Namun, yang hadir di atas meja justru masakan yang tidak menggugah selera. Kenapa?

***

Masakan Prancis umumnya sederhana. Kualitasnya ditentukan bahan-bahannya. Mereka membenci bumbu yang berlebihan atau saus instan. Teman kuliah Prancis saya selalu terpana dengan orang Inggris yang senantiasa menuangkan ketchup di atas fish-and-chips-nya. Ia juga tak habis mengerti mengapa orang Indonesia selalu mencari sambal botolan ketika makan di restoran.  

Orang Prancis berpendapat, masakan yang enak dimasak dengan bumbu dan saus sederhana, yang mengeluarkan dan menguatkan rasa bahan utama. Mereka sulit menerima ikan segar di atas bara diolesi mentega dan rempah ulekan. “Bumbu berlebihan akan menghilangkan sensasi, tekstur, dan keunikan rasa bahan dasar,” begitu teman itu menjelaskan.

Oleh karena itu, hidangan khas Prancis terkadang disajikan setengah matang dengan percikan saus seadanya. Kita diajak berpetualang, menikmati keaslian dan kesegaran cita rasa bahan-bahan pokoknya. Tak ada kecap, sambel, atau cuka. Paling banter ya garam dan lada.

Racikan Deschamp mengikuti pakem klasik french cuisine ini. Ia tidak memperumit komposisi masakan. Atau menambahkan bumbu berlebihan. Menunya baku dan standar 4-3-3 yang ketika gagal, berubah menjadi 4-2-3-1.

Di belakang, kita bisa merasakan simpelnya selera Deschamp. Bek-beknya tidak terlalu bernafsu menyerang dan terobsesi dengan penguasaan bola. Ia bahkan dianggap konservatif dengan memasang Benjamin Pavard yang cenderung bertahan.

Di tengah, komposisi Prancis polanya sederhana. Kante berfungsi sebagai perebut bola, Pogba mendistribusikannya. Sementara Tolisso atau Matuidi bermain sebagai positional player yang menjaga rasa permainan tetap seimbang.

Di depan, Deschamp membiarkan kualitas bahan yang bicara. Mbappe, Griezmann dan Dembele dibebaskan masuk ke mulut lawan mengikuti insting alamiah mereka. Jika terlalu tawar, kekuatan Giroud masuk untuk memberi tekanan pada lambung lawan.

Deschamp juga mengikuti ritme dans struktur gastronomi Prancis. Permainan pendek dari Lorris ke Umtiti atau ke Lucas Hernandes seperti hidangan pembuka (entrée). Umpan-umpan kecil di belakang itu seperti sup atau foi grass. Ringan dan menaikkan selera.

Lalu kombinasi vitalitas Kante dan kreatifitas Pogba adalah plat principal atawa hidangan utama. Umpan melebar ke sayap, permutasi posisi dan kombinasi imajinasi Pogba-Griezmann-Tolisso seperti bouillabaisse (ikan kuah) atau pot-au-feu (sup daging sapi). Hangat, kaya rasa dan benar-benar memanjakan selera.  

Di depan, sentuhan akhir Mbappe atau Giroud adalah fromage (keju dan hidangan penutup). Sederhana, gurih-manis, dan menyempurnakan sajian. Sesekali, muncul kecemerlangan Dembele. Seperti salad yang diperciki vinnegar. Segar dan mengembalikan kesegaran organ dalam.

Meski Deschamp meracik hidangan mengikuti tradisi kuliner klasik, tetapi kenapa hidangan Prancis terasa hambar di mata?

***

Aha, yang kurang dari racikan Deschamp pastilah anggurnya. Hidangan Prancis tak banyak pakai garam. Anggur bukan bahan dasar atau saus utama dalam komposisi french cuisine. Namun ia sangat penting. Tanpanya, masakan Prancis tidak terasa hidangan Prancis. Ia ibarat garam dalam hidangan Indonesia. Semua masakan enak hasil sentuhan koki yang paling hebat akan mendapat cibiran bila komposisi dan takaran anggurnya kurang atau berlebihan.

Sebagai pelengkap, anggur membuat seluruh bahan dan bumbu menyatu dengan sempurna. Sebagai minuman, anggur adalah bagian integral dari struktur dan kultur kuliner Prancis. Minuman itu dicicip sebelum makan, diteguk pelan-pelan di sela-sela suapan, dan diminum usai perjamuan.

Nah, anggur terbaik adalah anggur yang berumur. Ia butuh waktu dan fermentasi yang sempurna. Sementara, anggur Prancis di Russia ini masih sangat muda. Miskin pengalaman.

Pengalaman adalah anggur tua yang membuat bakat alam Prancis keluar aromanya dan membuat racikan taktik berjalan mulus. Ia bisa membuat aliran bola dicecap oleh panca indra dengan lezat dan mengalirkan perasaan nikmat. Seperti anggur tua, pengalaman memang tidak menentukan kemenangan. Tapi tanpa pengalaman, sebuah tim akan sulit bermain secara konsisten dan anak-anak muda mudah keder menghadapi tekanan.

Anggur yang masih muda membuat bahan-bahan terbaik dan saus lezat Prancis belum bercampur dengan sempurna. Ini membuat hidangan yang dimasak Deschamp, meminjam ungkapan orang-orang tua kita, terasa hambar dan tidak terasa asam-garamnya.


*Dimuat di Jawa Pos, 26 Juni 2018 

Thursday, June 28, 2018

Messi dan Mitos Itu

Oleh Mahfud Ikhwan

Membaca ulang buku Jonathan Wilson tentang sejarah sepakbola Argentina, Angels With Dirty Faces (2016), saya selalu kembali ke kesimpulan yang sama: ia mengada-ada. Tentang para malaikat buruk rupa pujaan orang Argentina, para pahlawan tak sempurna mereka, termasuk pahlawan-pahlawan bolanya, itu pasti dibuat-buat. Orang-orang Argentina itu hanya terlalu fanatik dengan judul film Hollywood lama. Dan Wilson menelannya begitu saja.
Saya pikir, mitos itu pasti dibikin untuk membuat bocah cebol, berkepala galon, dan badung macam Maradona pas dengan imajinasi orang Argentina. Karakter separoh Indian, miskin, tumbuh dan besar dari villa miseria, dan punya keculasan jalanan itu muncul setelah Maradona, kemudian dijadikan teori, dan dipercayai sendiri oleh mereka.
Sebagai pendukung Argentina sejak mengenal sepakbola, saya enggan menerima mitos itu. Mungkin karena saya bukan orang Argentina, berjarak dengan sejarah dan kehidupan mereka. Tapi terutama karena itu tak penting. Saya tak begitu peduli sang penolong itu seperti apa wujudnya. Entah malaikat atau iblis, atau bahkan Tuhan, yang penting mereka mesti memenangkan sesuatu—jangan cuma “medali level Porseni,” seperti diejekkan teman saya yang pendukung Jerman.
Jika orang seperti Tevez, atau Ortega, atau Requelme, yang sangat memenuhi syarat sebagai Malaikat Buruk Rupa, tak memberikan apa-apa, lalu buat apa? Sebaliknya, jika orang itu macam Thomas Muller, yang wajah, perawakannya, dan potongan rambutnya seperti tetangga sebelah rumah, namun memberi piala, ya sudah, tak masalah. Atau, kalau memang ada jelmaan baru yang mengingatkan kita dengan Di Stefano, Kempes atau Caniggia, ayo segera berikan kesempatan. Persetan dengan mitos itu. Persetan dengan Jonathan Wilson.
Sayangnya, kelihatannya, Messi sendiri mempercayainya.
***
Ketika muncul pertama kali di tepi lapangan Camp Nou pada pertengahan Oktober 2004, ia begitu manis. Belum genap delapan belas, dengan tubuh kecil rampingnya, dengan rambut sepundak berombak, ia seperti anak anjing lincah menggemaskan. Semua orang ingin pegang. Dan gadis-gadis belia datang ke stadion dengan kertas karton bertulis tangan: "Messi, Marry Me".
Lalu gelar-gelar bersama Barca itu berdatangan. 32 jumlahnya. Dan jagad raya pun dipersuntingnya. Seiring dengan itu, juara Piala Dunia U-20 dan emas Olimpiade didapatnya. Dilengkapi dua gol dengan tangan dan gocekan dari tengah lapangan yang diciptakannya ke gawang Espanol dan Getafe di pertengahan 2007, semua orang berpikir Maradona baru telah lahir. Tak seperti Maradona-Maradona baru sebelumnya, macam Ortega, Ibagaza, Aimar, Saviola, D'Alessandro, hingga Tevez yang masih berupa nujuman, kepada Messi orang-orang benar percaya.
Meski keduanya sangat berbeda, Maradona sendiri mempercayai Messi memanglah pewarisnya. Secara verbal ia mengatakanya, tapi yang paling jelas bisa kita lihat dari caranya memperlakukan Messi ketika jadi pelatih Argentina. Di Piala Dunia 2010 Afrika Selatan, Maradona ingin Messi seperti dirinya, bermain sepertiya, bermain di posisinya. Namun percobaan—juga harapan—itu hancur, sehancur-hancurnya; di kaki musuh yang salah: Jerman.
Para pendukung Argentina macam saya mulai menyadari bahwa harapan yang terlalu besar itu pasti tak adil untuk Messi. Tapi apa yang ditunjukkan oleh Messi (bersama Barcelona) setelah kegagalan di Afrika Selatan justru mencegah orang untuk berhenti berharap kepadanya. Bagaimana Anda tak berharap kepada seseorang yang setiap tahunnya jadi pemain terbaik dunia?
Dan Messi bukannya tak peduli dengan harapan itu. "Aku mau menukar rekor apa pun yang kupuya untuk membuat orang Argentina bahagia," katanya. Karena itu, ia sangat mengupayakannya. Dan itulah yang bisa kita saksikan ketika ia membawa Argentina—nyaris sendirian—di tiga final secara beruntun, dalam tiga tahun.
Sayangnya, itu hanya tiga final. Dan final selalu berjarak jutaan tahun cahaya dengan juara.  
***
Seperti bisa kita saksikan dalam pertandingan melawan Islandia, kadang Messi tampak mencoba terlalu keras. Saya menyangka, ia bahkan mengupayakannya di luar lapangan. Dan karena itulah, saya pikir, ia percaya dengan mitos soal Malaikat Buruk Rupa itu.
Ia tahu, ia jauh dari sosok itu. Ia tak tumbuh dan mulai dicintai dari lapangan-lapangan penuh konfeti dengan pendukung-pendukung gila di Liga Argentina, seperti Ferreyra, Corbatta, Bochini, Maradona, atau bahkan Tevez. Ia “lahir” di salah satu kedaton sepakbola paling megah bernama Camp Nou, tempat yang justru dikenang dengan pahit oleh Maradona. Ia memang boncel, tapi jelas tidak dari keluarga miskin. Moyangnya di Italia dan Katalonia masih terlalu mudah dilacak, sehingga tak mungkin baginya mengklaim sebagai setengah Indian. Yang paling berbeda, tak seperti para pendahulunya, Messi jauh dari kehidupan keras jalanan. Dari seorang remaja imut, dengan mulus ia mengubah diri jadi bapak bijak sayang anak.
Lalu kita mendapati tato-tato itu. Kemudian, brewokan di wajahnya. Ya, tentu saja kita tahu bahwa tato-tato itu untuk anaknya, sementara brewokan itu mungkin ditujukan agar ia lebih tampak kebapakan. Tapi, tak bisa diabaikan, terpikir juga kemungkinan bahwa dengan tato dan brewokan itu, Messi sengaja ingin terlihat lebih garang. Ia ingin sedikit agak “buruk rupa”. Ia ingin menjadi kapten Argentina yang lebih sempurna, sebagaimana Passarella dan Maradona.
Sayangnya, tato-tato dan brewokan itu tak membantu banyak kekaptenannya. Jauh berbeda dengan kapten-kapten macam Passarella dan Maradona yang petarung, Messi nglokro setelah gagal secara beruntun di final ketiganya di Amerika. Ia menyatakan pensiun dari timnas.
Itu bukan saja keputusan yang buruk; alih-alih keputusan seorang kapten yang gagal, itu lebih dekat dengan keputusan seorang bintang yang tak tak sanggup membuktikan diri. Namun yang lebih buruk lagi, hanya dalam hitungan hari, ia menyatakan kembali.
Sebagai pendukung Argentina, saya sebenarnya telah bersiap untuk bergabung dengan para pendukung Belanda dan Italia, menjadi penonton Piala Dunia tanpa tim gacoan. Tapi hattrik Messi di Quito mengantar Argentina ke Russia. Dan itu, tak lain dan tak bukan, berarti penderitaan akan jadi lebih panjang.
Karena itu, saya bukan termasuk orang yang kaget dengan ketakberdayaan Messi di depan gawang Hannes Halldorson. Dan saya tak akan terkejut jika Argentina pulang sangat awal, seperti di Jepang-Korea 2002.


*dimuat di Jawa Pos, 18 Juni 2018 

Thursday, June 14, 2018

Ketika Uni Soviet Gagal Lolos Piala Dunia Secara In Absentia


Oleh Mahfud Ikhwan


Setelah memenangi tiga pertandingan berat melawan Peru, Chile mesti melewati dua pertandingan lagi melawan Uni Soviet untuk merebut satu tempat di Jerman Barat. Ini seharusnya menjadi pertemuan antarkawan lawa, mengingat Chile, di bawah pemerintah sosialis Salvador Allende, adalah salah satu negara di Amerika Latin yang paling bersahabat dengan Uni Soviet. Tapi yang terjadi sama sekali berkebalikan. 

Pertandingan tersebut jatuh di saat yang sangat tidak tepat—dan seharusnya, demi sepakbola, dan lebih dari itu demi kemanusiaan, pertandingan itu semestinya tak pernah ada.

Hanya berbilang minggu saja sebelum pertandingan tersebut dijadwalkan, pemerintahan sah Allende digulingkan. Augusto Pinochet yang didukung Amerika, yang kelak menjadi salah satu diktator paling mengerikan dalam sejarah dunia, adalah pelakunya. Tapi hal paling belum lagi terjadi.

Penggulingan Allende, yang oleh sejarah Chile disebut sebagai “Operasi Jakarta” itu, diikuti oleh penangkapan besar-besaran kalangan komunis dan kaum kiri di seantero Chile. Helikopter-helikopter dikerahkan Pinochet untuk memindai para pembangkang. Pasukan khusus bentukan Pinoche, yang dikenal dengan nama Karavan Kematian, menangkap puluhan ribu orang kiri dan membuat penjara-penjara di Chile tak mampu menampung tahanan politik. Estadio Nacional kemudian dipilih untuk “menampung” para tahanan politik yang tak kebagian penjara. Beberapa waktu kemudian, stadion itulah yang akan dipakai Chile untuk menjamu lawan komunis mereka.

Pertandingan pertama dilaksanakan di Central Lenin Stadium, Moskow. Beberapa pemain Chile yang sekaligus pendukung Allende turun ke lapangan dengan ketakutan. Mendapat bantuan yang agak terang-terangan dari seorang wasit asal Brazil yang antikomunis bernama Marques, Chile menahan tuan rumah Uni Soviet 0-0 di pertandingan yang jauh dari rasa persahabatan itu.

“Tak ada tukar cendera mata, tak ada lagu kebangsaan, dan pemain Uni Soviet menolak makan malam dengan tim Chile,” begitu tulis Carl Worswick di The Blizzard

“Uni Soviet bahkan tak bisa mengalahkan kita main bola!” tulis sebuah koran di Chile keesokan harinya.

Chile ganti menggelar pertandingan kedua kurang dari sebulan kemudian. Mereka tentu saja menawarkan Estadio Nacional, stadion kebanggaan mereka. Itu adalah stadion yang pernah dipakai menggelar pertandingan final Piala Dunia 1964. Juga pertandingan brutal antara Chile melawan Italia yang kemudian dikenal sejarah sepakbola sebagai Pertempuran Santiago. Dan, saat itu tengah dijadikan kamp interniran dadakan sekaligus tempat eksekusi orang-orang kiri. 

Seperti ditulis Worswick, sekitar 40 ribu orang dijebloskan ke dalam stadion itu antara 12 September- 9 November—hanya berselisih kurang dari dua minggu dari jadwal pertandingan. Salah satu tahanan yang disekap di situ adalah Hugo Lepe, mantan pesepakbola sekaligus pemimpin buruh, yang sangat dihormati oleh para pemain timnas Chile

Uni Soviet menolak bermain di stadion itu, dan menuntut pertandingan digelar di tempat netral. “Kami tak akan bertandingan di lapangan yang ternoda darah para patriot Chile,” kata mereka.

Asosiasi Sepakbola Chile sempat goyah, hendak mencari jalan tengah, tapi Junta Militer bersikeras. Dan penilik FIFA—konon, di bawah tatapan dari kejauhan 7000-an tawanan politik yang masih terkurung di dalam stadion—merestui hajatan Junta itu. Perwakilan FIFA menyatakan, “Kehidupan (di Chile) sudah kembali normal”. Akhirnya, 21 November 1973, pertandingan kedua itu dilangsungkan di tempat yang telah ditetapkan. 

Pernah menampung penonton hingga 85 ribu lebih ketika Universidad de Chile bertanding melawan Universidad Catolica pada 1962, hari itu tribun Estadio Nacional hanya diisi oleh 17 ribu penonton (15 ribu kata sumber lainnya). Tapi hal paling aneh terjadi di tengah lapangan. Sebelas pemain Chile bersiap di paroh lapangannya, demikian juga wasit Erich Linemayr dari Austria di lingkaran tengahnya. Tapi, di paroh lapangan lain, tak ada seorang pun pemain Uni Soviet. Mereka telah menyatakan menolak bertanding, sementara FIFA ngotot melangsungkan pertandingan.

Meski tak ada lawan, wasit memerintahkan  para pemain Chile untuk melakukan kick-off. Dan terjadilah adegan tak lazim itu. 

Dalam rekaman pertandingan yang masih bisa ditemukan di internet, empat pemain Chile berlari dengan enggan ke arah gawang kosong, beriringan, saling mengumpan, sementara seisi Estadio Nacional menyemangati timnya, seakan sebuah serangan balik cepat yang memporak-porandakan lawan sedang berlangsung di lapangan. Satu meter di depan gawang, pemain Chile bernomor punggung 19 dengan ban kapten di lengannya (jika tak ada perubahan dengan tim yang turun di Jerman Barat pada musim panas berikutnya, itu pastilah Francisco Valdes) menendang bola ke mulut gawang. Sorakan penonton membahana. Lalu, wasit meniup peluit panjang. 

Pertandingan hanya berlangsung 30 detik. Chile berangkat ke Jerman Barat.

“Pertandingan paling menyedihkan dalam sejarah sepakbola,” kutuk sastrawan Uruguay, Eduardo Galeano. 

“Pertandingan yang benar-benar memalukan, yang seharusnya tak boleh mendapat tempat,” kata Leonardo Veliz, salah satu penyerang Chile di pertandingan konyol itu, dengan getun. “Apa kata orang? Mungkin mereka menertawakan kami,” sesalnya.

Yang lebih buruk lagi, meskipun disebut bahwa para tawanan politik telah diangkut ke Gurun Atacama beberapa hari sebelum pertandingan dilangsungkan, rupanya sebagian kecil masih disekap di dalam stadion. Dan mereka bisa mendengar dengan jelas pendukung Chile menyoraki gol “lucu” itu.  

Sihir Piala Dunia

Oleh Darmanto


Barangkali, tak ada kekuatan gaib—selain Tuhan tentu saja—yang menandingi kehebatan Piala Dunia. Bayangkan.Ia bisa menyihir lebih separuh penduduk dunia yang hidup di ruang dan waktu berbeda untuk bangun dan terjaga tengah malam—tanpa harus diiming-imingi pahala. Dalam hal ini, ia mengalahkan para ulama.

Piala Dunia juga bisa mengeluarkan sihir penenang yang mencairkan segala kekakuan dan ketegangan. Di negara-negara yang didera konflik, ia mampu melunakkan jantung dan hati manusia yang mengeras oleh perbedaan atau kepentingan. Dalam hal ini, Sepp Blatter benar. Sepakbola dan FIFA berhak meraih hadiah peraih Nobel Perdamaian. Jauh lebih pantas dari pada Malala atau Obama.

Sihir Piala Dunia juga dapat melampaui segala pencapaian akal manusia. Filsafat dan ilmu pengetahuan mungkin membantu manusia memahami dunia dan membuat hidup jadi lebih mudah. Namun keduanya tak bisa menandingi sepakbola, misalnya, dalam mengobarkan antusiasme atau mengobati apati dan putus asa. Dalam skala global.

Dengan sastra dan film? Wah, jauh, Bung. Sastra dan film bisa saja mengasah kepekaan dan imajinasi. Konon keduanya dapat memandu penikmatnya menghayati rasa kemanusiaan.
Namun, sepakbola punya keunggulan. Ia lebih efisien.

Sepakbola menghadirkan semua pengalaman dasar kehidupan (tragedi, komedi, drama, epos) dan segenap perasaan (sedih, marah, simpati, empati, sombong,  arogan, terpuruk, jumawa)yang di alami manusia. Hanya dalam waktu 90 menit. Atau lebih sedikit.

Lagipula, sepakbola tak mendorong orang untuk pura-pura pintar atau menyombongkan diri agar dianggap cendekia untuk mengenal satu-dua sari pati kehidupan.

Untuk urusan praktis sehari-hari, Piala Dunia jauh unggul dari Pegadaian. Jika kantor pemerintah itu mampu menyelesaikan masalah tanpa masalah, sihir sepakbola membuat orang bahkan bisa mengabaikan dan melupakan masalah. Errrm, meskipun sementara.

Di kampung saya, Piala Dunia lebih punya daya persuasif. Ketika Kamerun mengalahkan Argentina (1990) atau Bulgaria membekuk Jerman (1994),banyak anak-anak SD yang tiba-tiba gandrung pada geografi, bergegas membuka peta dan buku pintar Iwan Gayo untuk belajar tentang ibukota negara-negara di dunia.Guru paling inspiratif sekalipun tak mampu melakukannya.

Yang agak mendekati kehebatan barangkali cinta,sebab keduanya punya kemampuan merasuki jiwa manusia dan membuatnya mabuk kepayang dan tergila-gila—tak pandang usia dan warna kulitnya.

***

Bagi saya, sihir Piala Dunia lebih memukau dari pada keahlian tukang sulap mana pun yang pernah saya temui. Ia memberi ingatan terbaik bagi masa kanak-kanak saya. Dan ia datang di waktu yang tepat.

Waktu seakan-akan membeku ketika saya menyaksikan aksi kaki Maradona di Italia (1990). Melihatnyamemperdaya empat bek Brazil dan mengirim umpan manis yangdisambar oleh Claudio Caniggia, saya seperti kena gendam permanen yang tak punya kemungkinan untuk disembuhkan.

Saya berumur sepuluh tahun saat itu. Dan sejak itu, dunia ini tak pernah lagi sama.

Gendam itu mengeram di hati dan kambuh tiap empat tahun. Jika kumat, gendam itu membuat saya berhenti menjadi pria dewasa dan kembali menjadi anak sepuluh tahun yang mengalami waham di depan televisi.

Gendam itu memanggil rangkaian ingatan di kepala saya seperti film laga dan drama yang bergerak maju-mundur melintasi waktu. Saat mata saya menatap Iniesta menggelindingkan bola di garis tepi lapangan, kepala saya dipenuhi bayangan Michael Laudrupyang memindahkan bola dari kaki kiri ke kaki kanan dan lalu mengirim sebuah umpan cungkilan.

Begitu pula saat melihat tatapan nanar Leo Messi ke arah trofi Piala Dunia,gambar Maradona menangis tersedu-sedu usai dikalahkan Jerman segera melintas.

Bahkan ketika saya sudah menyeberang tiga lautan dan jauh meninggalkan masa kanak-kanak itu, gendam itu juga masih menempel di kulit ari. Di tahu 2006, untuk bisa menyaksikan semifinal Italia vs Jerman, saya menerabas belantara Mentawai sejauh 23 kilometer semalaman.

Sihir sepakbola mengalahkan rasa letih, nyeri duri rotan dan pedih racun jelatang di badan selama sepekan. Jika mengingatnya, itu adalah satu hal yang terakhir yang akan saya lakukan dalam sisa hidup saya.

Tapi semua ketidakwarasan yang disebabkan oleh Piala Dunia sangat layak dijalani. Kekalahan yang buruk selalu menghadiahi rasa suwung yang sangat dalam, yang nyerinya jauh lebih menyakitkan dari patah hati. Namun pertandingan-pertandingan terbaiknya selalu membuat hati saya membuncah, memberi kebahagiaan yang tak tergantikan oleh kata-kata, suatu perasaan menggelegak yang barangkali hanya muncul saat kita jatuh cinta.

Dan karena itu, di hari-hari menjelang Piala Dunia seperti ini, istri saya menyadari dan akhirnya dengan rendah hati menerima kenyataan sedih ini: ia bukanlah cinta pertama saya.

***

Seperti halnya sihir yang kuat, Piala Dunia juga bisa sangat berbahaya. Ia datang malam hari (yang paling berbahaya tapi sekaligus menggoda muncul di sepertiga malam). Bagi jiwa-jiwa yang rapuh, Piala Dunia penuh tipu daya. Jangan heran jika para pemeluk teguh selalu mengingatkan bahaya sepakbola. Ia lebih buruk dari godaan setan terkutuk karena bisa membuat orang menjauh dari amal ibadah.

Bagi tubuh yang ringkih, daya rusaknya tak kalah dahsyat. Sihir sepakbola melebihi efek gigitan malaria atau serangan anemia. Ia memberi cekung di pelupuk mata yang sangat dalam, mengirim dingin yang menusuk tulang, dan menghilangkan selera makan.

Ia juga bisa membuat orang mengalami panas tinggi, dan memaksa orang bermalas-malasan. Seharian. Lebih buruk dari demam tipus, ia menyerang lebih dari tiga kali sehari. Terutama bagi yang gemar berjudi.

Bagi Anda yang masih bujangan, ingat sepi dan nelangsanya menjadi sakit—bahkan sekedar serangan masuk angin ringan pun. Tak ada yang akan menyuapimu bubur hangat. Atau menarik selimut untukmu. Orang tua Anda sudah terlalu banyak beban.

Jagalah diri. Makan yang cukup dan sehat, minum air putih yang banyak. Kalau perlu siapkan suplemen makanan. Dan jangan lupa punya  nomor tukang pijat langganan.

Bagi yang sudah punya pasangan, Anda juga harus ingat bahwa sihir ini tak begitu mempan bagi perempuan. Anda tahu alasannya kan? Jadi para suami, pandai-pandailah. Siapkan rayuan yang baik atau alasan-alasan yang penuh pertimbangan.

Jika tidak, sihir Piala Dunia akan memanggil puting beliung ke dapur, membuat piring-piring beterbangan, dan mengubah nasi menjadi bubur. Atau lebih buruk lagi, membuat kasur Anda berhenti berderit selama sebulan.

Pembaca yang terhormat, selamat menikmati sihir Piala Dunia!


*dimuat di Jawa Pos, Kamis 14 Juni 2018