Sunday, November 20, 2011

Saat Salim Bermain untuk Malaysia*

Oleh Mahfud Ikhwan


“Salim lahir dengan bola di kakinya,” demikian kata orang-orang desa tentangnya.

Sejak kecil, bakat main sepak bola Salim memang luar biasa. Jika bola sudah berada di kakinya, sepertinya, tak ada yang bisa merebutnya. Lawannya hanya bisa menunggu sembari berdoa agar ia tersandung dan bola akan lepas. Sementara, kiper hanya berharap tendangan Salim melenceng. Tapi, itu sulit terjadi. Badannya sangat kuat. Keseimbangan tubuhnya tiada tara. Larinya kencang bukan main. Dan sepakannya akurat. Para orang tua di desanya menganggapnya titisan Maradona, entah bagaimana caranya. Sementara anak-anak sebayanya, dengan agak berlebihan, menganggap Salim tidak kalah dengan Zinedine Zidane.

Dengan bakat yang dimilikinya, tidak berlebihan ia bercita-cita suatu saat bisa bermain dengan kostum hijau-hijau Persebaya, klub yang dicintainya. Sayangnya, bakat saja tidak cukup. Untuk menjadi pemain Persebaya, tentunya Salim mesti bisa menunjukkan kemampuannya pada pelatih atau pengurus Persebaya. Dan inilah yang sulit. Untuk itu, hanya ada satu cara: ikut berlatih di klub-klub milik Persebaya. Itu artinya, ia mesti tinggal di Surabaya serta membayar sejumlah uang untuk pendaftaran dan iuran bulanan. Artinya pula, ia mesti jauh dari rumah, tidak bisa membantu bapaknya menggarap sawah atau menjadi buruh tani di ladang tetangganya. Itu pun tidak menjamin ia bisa mulus masuk skuad Persebaya. Rahman, seorang teman Salim yang pernah berkabung di salah satu klub anggota Persebaya, gagal masuk Persebaya—meski telah menghabiskan banyak uang untuk iuran dan biaya hidup.

Ada cara lain, yang mungkin lebih murah. Yaitu, dengan bermain di klub-klub yang lebih kecil di kabupatennya. Itu bisa dicapai dengan cara bermain sebanyak mungkin di kejuaraan-kejuaraan lokal yang bisa membuatnya dikenal. Namun, ini akan memakan waktu yang panjang dan lebih tidak menjamin lagi. Sebab, kompetisi lokal biasanya hanya diadakan setahun sekali, menjelang 17 Agustusan.

Itulah. Semuanya jadi terasa sulit. Bukan saja karena Salim lahir di sebuah desa yang begitu pelosok (yang sepertinya jauh dari manapun juga), tapi juga karena orangtua Salim terlalu miskin untuk mendukung cita-cita anaknya.

Ketika Salim berumur 16 tahun, tak lama setelah lulus MTs, cita-citanya jadi pemain Persebaya jadi makin mustahil. Seperti teman-teman sebayanya di desa, ia harus memutus sekolahnya—meskipun ia bukan anak bodoh. Ia mesti mulai bekerja. Dan, itu artinya, ia kudu pergi ke Malaysia. Sebab, hanya di sanalah pekerjaan tersedia.
Untuk berangkat, ia dapat talangan 2 juta dari seorang makelar TKI, dengan jangka waktu pembayaran selama 6 bulan. Bagi Salim, hal itu jauh lebih jelas dan lebih menjanjikan baginya dari pada harus hutang tetangga 800 ribu untuk biaya latihan di sebuah klub sepakbola.

***

Maka, setelah bertangis-tangisan dengan ibu dan bapaknya, ia berangkat. Hampir seminggu ia terapung-apung di laut dengan kapal feri, antara Tanjung Perak, Belawan, Dumai, lalu Melaka. Seminggu berikutnya, ia telah bergabung dengan teman-temannya sesama warga desanya bekerja di proyek pembangunan perumahan di wilayah Ipoh, dekat Kuala Lumpur. Meski masih sangat muda, ia tidak kesulitan mendapat pekerjaan di proyek. Badannya besar dan tenaganya kuat. Dua modal paling berharga para pekerja bangunan di Malaysia itu dimilikinya.

Lalu, bagaimanakah dengan cita-citanya jadi pemain Persebaya? “Sudah aku buang di laut. Pas naik kapal kemarin,” demikian jawab Salim, setiap ada yang bertanya soal cita-citanya. Jawaban itu biasanya disertai tawa kecil. Kini, Salim sudah cukup berbahagia bisa mulai mencicil hutang kepada makelarnya, mengirimi ibunya kain melayu, dan main bola plastik dengan teman-temannya sesama pekerja proyek di luar jam kerja.

Tapi, Salim rupanya tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Sepakbola tidak pernah benar-benar dibuangnya ke laut. Ia hanya menelannya dalam-dalam, menyembunyikan di dasar kepasrahannya. Buktinya, dengan tabungan yang dikumpulkannya, bukannya membeli celana Camel atau tape deck Aiwa yang jadi idaman setiap TKI remaja, ia justru beli sepotong kaus Liverpool, sepasang sepatu bola Nike termurah, dan sebuah bola buatan Tangerang.

Satu lagi yang tak cukup disadarinya, ia kadang terlalu sungguh-sungguh saat bermain bola plastik. Saat menggiring bola di tanah kosong dekat proyek, Salim tetap membayangkannya sedang melakukannya di Stadion Tambaksari Surabaya. Ia terlalu polos untuk menyembunyikan kemampuan sepakbolanya. Tentu saja ini tidak bisa diimbangi oleh teman-temannya yang bermain bola untuk senang-senang saja. Akibatnya, Salim terlalu mendominasi setiap permainan. Setiap tim yang dibela Salim akan menang dengan angka mencolok atas tim lawan. Akibat lebih jauh, setiap orang berebut untuk jadi satu tim dengan Salim. Jika tidak satu tim dengan Salim, biasanya mereka jadi malas bermain. “Ya, lebih baik jadi penonton saja daripada dipermalukan,” demikian mereka beralasan.

Maka, untuk menghindari kemungkinan yang lebih buruk, beberapa orang mengusulkan untuk mencari lawan dari tim proyek lainnya saja. Ini adalah sesuatu yang baru. Sebelumnya, jangankan mencari lawan, mendapat tantangan dari tim proyek lain pun tak pernah mereka layani. “Ah, kita main bolasepak untuk senang-senang saja,” demikian jawaban penolakan mereka sebelum-sebelumnya. Tapi, setelah ada Salim, mereka sepertinya lupa dengan jawaban itu. Kini saatnya main sepakbola untuk kebanggaan.

Lawan pertama pun mereka dapatkan. Tim lawan ini berasal dari pekerja proyek jembatan yang tidak jauh dari lokasi proyek Salim dkk. Jika Salim dkk. adalah kelompok TKI Jawa, lawan mereka adalah kelompok TKI Aceh. Kedua tim bertanding di sebuah lapangan di komplek perumahan yang mereka bangun sebelumnya. Sebelum ada Salim, mereka tidak pernah bisa membayangkan bertanding melawan tim TKI Aceh. Orang-orang Aceh terkenal sebagai pemain bola yang bagus. Tapi kini, dengan Salim ada di antara mereka, siapapun lawannya, sepertinya akan mudah. Dan, benar. Meski tidak semudah yang dibayangkan, mereka dapat memenangkan pertandingan melawan tim TKI Aceh.

Kemanangan atas tim Aceh, membuat Salim dkk. makin percaya diri. Setelah itu, setiap ada cuti, Salim dkk. selalu mencari lawan tanding. Usai mengalahkan TKI Aceh, giliran tim Boyan (sebutan lazim untuk TKI dari Pulau Bawean) mereka sikat. Lalu, tim dari Flores, Sumbawa, kemudian Padang. Pertarungan paling berat mereka hadapi saat menghadapi kelompok pekerja Vietnam.

***

Pada sebuah ujung liburan perayaan Cina, mereka bertanding melawan tim Bangla, sebutan untuk pekerja Bangladesh atau India. Tidak bisa disangkal, ini adalah salah satu pertandingan besar bagi Salim dkk. Tim Bangla sangat terlatih. Hal ini dikarenakan mereka sering bertanding. Dan satu lagi, mereka punya tauke seorang penggila bola, Mahesh Gunalan. Dengar-dengar, Mahesh adalah bekas pemain sepakbola yang pensiun dini karena cedera. Kabarnya pula, ia punya hubungan keluarga dengan seorang petinggi sepakbola Malaysia. Tidak heran, meski hanya terdiri dari para pekerja proyek, Mahesh mengurus timnya dengan serius. Meski berkulit gelap, berbadan besar, dan berbulu lebat sebagaimana orang-orang Bangla, Mahesh adalah seorang Malaysia tulen. Dan, seperti kebanyakan warga Malaysia, ia selalu bersemangat ingin mengalahkan Indonesia. Meski hanya para pekerja proyek, mengalahkan mereka adalah tetap sebuah kebanggaan besar.

Tapi, ketika ia melihat seorang anak muda dari tim pekerja Indonesia, meliuk-liuk indah melewati para pemainnya, sepertinya harapan mengalahkan para pekerja Indonesia itu bukan pekerjaan mudah.

“Lihat budak kecil itu! Celaka!” teriak Mahesh kepada anak buahnya yang duduk di sampingnya, seorang Melayu, dengan pandangan tetap tertuju ke arah Salim.

“Awak dengar namanya Salim,” jawab si anak buah.

“Indon celaka!” hentak Mahesh ketika sebuah sebuah sepakan Salim dari luar kotak penalti bersarang manis di gawang tim Bangla. Sorakan Salim dkk. ditingkahi oleh tangan Mahesh yang mengepal geram. Namun, ia tidak bisa menutupi kekagumannya terhadap permainan Salim.

Sesaat kemudian ia berteriak-teriak kepada para pemainnya. Tidak ada pelatih bagi sebuah tim proyek, dan karena itu Mahesh-lah yang mengatur permainan timnya. Dengan bahasa Melayu yang kental, agar menyerukan untuk memperbaiki permainan, dan terutama mengawasi pergerakan Salim. Tak lama kemudian, tim Bangla mencetak gol balasan. Namun, kini itu sepertinya tidak lagi menjadi yang terpenting bagi Mahesh. Karena perhatian Mahesh lebih banyak tersedot kepada gerak-gerik Salim.

“Indon tak tahu pebolasepak bagus! Budak itu mestinya main untuk tim kebangsaan di Olimpic, tak di tim macam ni! Celaka!” katanya lagi-lagi kepada anak buahnya yang duduk di sampingnya. Kata-kata itu kemudian ditutup oleh gelengan kepala yang keras, sebab secara bersamaan, sebuah solo run Salim diakhiri oleh gol cantik. 2-1.

Mahesh kecewa karena timnya kalah. Namun, ia mendapatkan penawar yang setimpal: penampilan Salim. Ia seperti melihat dirinya di saat muda, sebelum cedera parah menghajar lututnya. Ia menemukan masa depan sepakbola akan terus berlanjut. Ketika dua tim saling bersalaman seusai pertandingan, Mahesh juga turut menyalami tim lawan. Dan ketika giliran menjabat tangan Salim, Mahesh berhenti cukup lama. “Gol nan elok. Tahniah. Salut,” puji Mahesh. Salim hanya tersipu.

“You seharusnya jadi profesional,” kata Mahesh lagi. Dan lagi-lagi, Salim hanya tersenyum. Ia sebenarnya mau bicara bahwa itulah cita-citanya sejak kecil. Tapi, Salim hanya diam. Dan lagi-lagi, kembali tersenyum.

***

Sore itu, mess yang dihuni para pekerja proyek itu tiba-tiba menjadi ribut. Bukan karena pertandingan sepakbola, sebagaimana biasanya. Namun, karena sebuah surat yang aneh namun menakjubkan. Surat itu berasal dari Syarikat Bolasepak Wangsa Maju (WMFC), sebuah klub sepakbola yang bermain di Divisi III Liga Malaysia. Surat ditujukan kepada Salim. Isinya, meminta Salim datang ke markas klub guna melakukan tes.

“Kamu akan jadi pemain sepakbola yang betul, Lim?” komentar seorang teman Salim.

“Gajinya besar, Lim. 35 ribu ringgit!” seru yang lain.

“Kamu akan lebih terkenal daripada Elie Aiboy!” yang lain lagi menambahi.
Salim sendiri tak bisa berbicara apa-apa. Baginya, ini semua seperti sebuah dongeng yang penuh keajaiban. Ia tidak pernah mengirim lamaran apapun, ke satu klub mana pun. Tiba-tiba saja sebuah klub memangilnya untuk menjalani tes, meski dari sebuah klub Malaysia yang tidak begitu dikenalnya. Ia masih ragu-ragu kalau-kalau surat ini salah alamat. Bisa jadi, bukan dirinya yang dimaksud. Ada Salim yang lain. Namun, setelah berkali-kali ia membola-balik sampul surat dan membaca isi surat, ia tidak menemukan alasan untuk meragukan bahwa Ahmad Salim yang dimaksud dalam surat tersebut adalah dirinya.

Pada hari yang telah ditetapkan, sebagaimana yang tertera dalam surat panggilan, Salim berangkat ke markas WMFC. Ia diantar oleh seorang teman yang telah puluhan tahun bekerja di Malaysia dan paling lengkap dokumen kerjanya di antara semua teman Salim. Sementara Salim sendiri hanya mengantongi permit kerja yang ia sendiri meragukan keaslianya.

WMFC berhomebase di sebuah stadion berukuran mungil (kira-kira berkapasitas 12000 penonton yang terletak di pinggiran kota Kuala Lumpur. Untuk klub yang berlaga di Divisi III, punya stadion yang dapat menampung 12000 penonton sudah lebih dari cukup. Apalagi, semua fasilitas tampak baik dan sangat terawat. Hal itu telah cukup membuat Salim berdebar-debar ketika memasuki komplek klub.

Setelah menunggu beberapa saat, seorang perempuan berumur 40-an tahun dan berwajah Melayu yang mengaku sebagai sekretaris manajer klub menyambutnya. Namanya Syarifa Zainon. Orangnya ramah dan menyenangkan. Bersama Cik Syarifa ini, Salim kemudian dibawa menemui pelatih klub, (di Malaysia biasa disebut jurulatih). Ia adalah laki-laki berbadan besar, berkulit gelap, dengan rambut yang mulai memutih dan perut yang agak membuncit. Dengan suara bariton dan logat Melayu yang kental, sang jurulatih mengenalkan diri sebagai Suresh Gunalan. Suresh tidak lain adalah kakak Mahesh Gunalan, tauke tim Bangla yang bebeberapa waktu lalu memuji permainan Salim. Kata Suresh, Mahesh-lah yang merekomendasikan nama Salim kepadanya.

***

Salim masih merasa seperti bermimpi ketika dia melakukan raga bola di depan tim jurulatih WMFC. Demikian pula ketika ia melakukan tes kesehatan. Setelah dinyatakan lulus dan menandatangani kontrak satu tahun, barulah ia sadar bahwa ia kini telah menjadi seorang pesepakbola profesional. Usianya, 17 tahun 3 bulan.

Tidak bisa digambarkan seperti apa perasaan Salim. Ini semua tidak pernah dibayangkan. Inilah yang disebut nasib. Empat belas bulan lalu, ketika ia berangkat ke Malaysia, ia dengan getir mencoba mencampakkan cita-citanya menjadi pemain sepakbola. Dan kini, ia telah menyandang kostum sebuah kesebelasan. Ada logo sebuah klub di dadanya. Namanya, sebentar lagi, akan tercatat di database Football Association of Malaysia sebagai salah satu dari ribuan pemain profesional di Liga Malaysia. Ia tidak peduli meski berada di sebuah klub yang masih berkutat di Divisi III. Ia tidak ambil pusing meski ia tahu gajinya adalah yang paling kecil dari semua pemain di klub tersebut. Ia juga akan cukup sabar menunggu hingga musim depan mulai, sembari menunggu visa kerjanya dibereskan oleh klub.

Yang ia pikirkan sekarang adalah bagaimana berlatih segiat-giatnya, meningkatkan kemampuan dan fisik sebaik-baiknya, dan memulai karir profesionalnya semulus mungkin. Bagaimana pun, WMFC telah membuat mimpi yang sempat dicampakkannya itu kini menjadi terasa dekat dan terjangkau. Dan ia tak mau menyia-nyiakannya dengan tampil alakadarnya. Inilah masa depannya.

***

WMFC beruntung menemukan Salim. Bukan saja karena masih sangat muda dan mau digaji rendah, tapi juga karena tipe pemain seperti Salim-lah yang mereka butuhkan. Seorang pemain tengah yang eksplosif sekaligus impresif. Badannya kuat dan besar, drible-nya mantap, dan tendangannya akurat.

Pada tahun pertamanya, Salim belum berhasil membawa Wangsa Maju melaju ke divisi yang lebih terhormat. Di penghujung kompetisi, WFMC hanya bertengger di posisi lima klasemen akhir. Sebuah prestasi yang tidak buruk, sebab ini adalah prestasi tertinggi WMFC selama lima tahun terakhir. Cukup sulit keluar dari tradisi WMFC yang selama ini hanya jadi tim medioker saja di Divisi III Liga Malaysia. Meski demikian, sebagai pemain debutan dan pemain muda, Salim sama sekali tidak bisa disebut gagal. Ia disebut-sebut sebagai pemain tengah paling impresif di kompetisi Divisi III Liga Malaysia. Statistik menjelaskan, ia adalah pemain tengah di kompetisi yang paling produktif mencetak gol, dengan 14 gol.

Tapi Salim tak hanya penting di lapangan hijau. Ia juga jadi andalan klub di luar lapangan. Nama Ahmad Salim, pemain kelahiran Indonesia, bekas seorang pekerja bangunan, rupanya menarik perhatian komunitas TKI di seantero Kuala Lumpur. Mereka berbondong-bondong mendukung Salim setiap WMFC berlaga. Tidak heran jika jumlah rata-rata suporter yang datang ke stadion merupakan rekor yang paling tinggi yang pernah dicapai WMFC.

Jika selama ini WMFC identik dengan suporter Bangla-nya, kini lambat-laun mulai berubah citra. Perubahan citra itu tidak lain karena banyaknya para pekerja Indon yang jadi pendukung setia WMFC. Maka, warna bendera merah putih di tribun-tribun WMFC kini jadi pemandangan biasa. Juga, yel-yel berbahasa Jawa, kini jadi nuansa yang tidak bisa dipisahkan dari pertandingan demi pertandingan yang dilakoni WMFC.
Dengan keberadaan Salim di dalam skuad WMFC, manajemen klub menjadi lebih percaya diri dan lebih serius dalam menyongsong musim kompetisi berikutnya. Mereka tidak lagi berpikir sebatas bertahan di kompetisi, namun mantap menargetkan untuk melaju ke divisi yang lebih tinggi, yaitu Liga Perdana Malaysia. Kabarnya pula, manajemen klub juga mulai berpikir untuk menambah kapasitas stadion.

***

Salim akhirnya berhasil membawa klubnya melaju ke Liga Perdana pada musim ketiganya. Timnya meraih posisi kedua di klasemen akhir dan dengan demikian berhak untuk promosi ke level kompetisi yang lebih tinggi. Kaberhasilan WMFC promosi ke Liga Perdana ini disambut dengan meriah oleh komunitas TKI di Kampung Pandan dan selitarnya. Para TKI, yang sebagian adalah teman-teman sekampung dan bekas teman satu proyek Salim, menggelar pesta seolah-olah sedang menyambut 17 Agustus-an di negeri sendiri. Untuk sejenak mereka lupa kalau di Malaysia mereka hanya perantauan dan orang upahan. Mereka bahkan lupa, dalam suasana seperti itu, Jawatan Imigrasi Malaysia (para TKI menyebutnya, migresyen) bisa saja melakukan penggerebegan dan manggaruk beberapa di antara mereka yang tidak lengkap dokumen kerjanya.

Kegembiraan itu bertambah-tambah ketika keesokan harinya, di foto depan beberapa koran, mereka menemukan wajah Salim yang terlihat tersenyum bangga. Ia dinobatkan sebagai pemain muda terbaik kompetisi Divisi III Liga Malaysia musim itu. Di koran, Salim menyatakan bahwa ia tidak begitu memikirkan soal penobatan dirinya sebagai pemain muda terbaik. Yang terpenting, kata Salim kepada wartawan, Wangsa Maju FC saat ini berada di Liga Perdana. Meski demikian, Salim mengucapkan terima kasih kepada FAM yang telah memilihnya. Ia menganggap terpilihnya dia sebagai pemain muda terbaik tidak lepas dari dukungan rekan-rekan timnya, manajemen klub, dan tentu saja para suporter—terutama para TKI yang senantiasa mendukungnya.

Foto dan pernyataaan Salim ini sangat mengharukan untuk sebagian besar TKI. Selama ini, jika ada gambar TKI di halaman depan, dapat dipastikan itu adalah gambar TKI ilegal yang tertangkap. Apalagi mereka merasa Salim tidak melupakan mereka. Ibu-ibu, yang sebagian besar bekerja sebagai orang gaji (sebutan orang Melayu untuk pembantu rumah tangga), ramai-ramai membeli koran dan menyimpannya. Tidak peduli meski di antara mereka banyak yang tidak bisa membaca dengan baik. Mereka merasa Salim adalah juga anak mereka. Tidak lupa pula mereka saling berandai-andai untuk mengambil Salim sebagai suami bagi anak-anak gadis mereka di kampung.

“Ganteng ya, anak ini,” kata seorang ibu menunjuk gambar Salim. “Lihat.”

“Kuambil untuk anakku, mau tidak ya?” kata ibu yang lain, tersenyum menerawang.

“Salim itu dulu satu tadika sama anakku,” seorang ibu lain, yang katanya satu desa dengan Salim, tidak mau ketinggalan berandai.

“Salim dulu satu feri sama aku waktu berangkat,” daku ibu yang lain lagi, seorang janda, dengan nada penuh gairah.

Maka, untuk sementara, berita tentang Salim menjadi penghiburan yang sangat berarti bagi para TKI. Lebih menghibur dari lagu-lagu Sheila on 7 dan Peterpan yang hari-hari ini kerap mereka dengarkan. Tidak dapat disangkal, Salim adalah pahlawan baru bagi para TKI. Salim menjadikan mereka merasa lebih terhormat.

***

Sepak terjang Salim semakin tersorot ketika ia berlaga di Liga Perdana. Meski bermain di sebuah klub kecil, perhatian media dan publik (terutama para TKI) kepada Salim jauh lebih besar dibanding dengan beberapa pemain Indonesia yang bermain untuk klub-klub Malaysia yang lain. Bahkan dengan pemain-pemian lokal Malaysia yang selama ini mendominasi halaman-halaman rubrik olahraga koran-koran Malaysia.

Namun, Salim benar-benar menyedot perhatian publik ketika sang jurulatih WMFC, Suresh Gunalan, melansir sebuah statemen yang menggegerkan di media. Menurut Suresh, Salim sangat laik untuk dipertimbangkan mengisi skuad Pasukan Kebangsaan Malaysia untuk Sukan SEA (SEA Games) mendatang.

“Salim masih belia dan sangat potensial. Dan belum pernah berkhidmat untuk Pasukan Kebangsaan Indonesia pada kejohanan apa jua!” kata Suresh, memberi alasan.
Pernyataan Suresh ini kemudian mendapat tanggapan yang beragam dari berbagai pihak. Mengingat kemampuan Salim, tidak sedikit yang mendukung pandangan dan usulan Suresh.
Saat ini, fenomena naturalisasi pemain adalah hal yang wajar dalam dunia sepakbola. Jika Singapura saja mau menaturalisasi pemain Nigeria dan pemain Inggris, mengapa Malaysia ogah menaturalisasi pemain kelahiran Indonesia—yang kulit dan bahasanya hampir-hampir tidak berbeda?

Tapi, banyak pula yang menolak mentah-mentah. Yang tidak setuju rata-rata bersikukuh bahwa Malaysia belum lagi kekurangan pemain-pemain muda berbakat. Mengapa harus impor? Apalagi yang diimpor adalah pemain dari Indonesia, yang sepakbolanya tidak lebih baik dari Malaysia. Naturalisasi pemain, menurut kelompok yang menolak ini, adalah sampah bagi sepakbola, dan karena itu harus dienyahkan. Tidak cukup sampai di situ, mereka juga menambahkan fakta-fakta yang harus dipertimbangkan lebih jauh jika ingin memasukkan Salim ke dalam Pasukan Kebangsaan Malaysia di Sukan SEA. Salah satu yang diungkap oleh mereka adalah masa lalu Salim yang merupakan pendatang haram atau buruh migran ilegal.

Selanjutnya, suara yang tidak setuju ini mendapat tanggapan balik. Tanggapan balik ini menganggap bahwa orang-orang yang menolak Salim itu tidak lebih dari orang-orang reaksioner dan nasionalis yang kesiangan. Mereka menolak Salim masuk pasukan kebangsaan Malaysia lebih untuk menutupi inferioritas mereka terhadap Indonesia. Mereka ini adalah orang-orang yang takut, jika suatu saat, Malaysia semakin didominasi Indonesia—bukan hanya pada ranah budaya, seperti saat ini, tapi juga di bidang olahraga.

Pihak FAM sendiri hanya memberikan jawaban yang remang-remang berkait dengan isu Salim. Seorang pejabat FAM mengatakan masih akan mempelajari lebih jauh keuntungan dan kerugian jika memasukkan Salim ke pasukan kebangsaan. Sementara, jurulatih pasukan kebangsaan Malaysia menyatakan masih menunggu keputusan FAM, meskipun secara jujur ia mengakui sangat tertarik untuk memasukkan Salim ke dalam timnya.

Perdebatan yang tidak kalah seru mengenai Salim juga terjadi di kalangan para TKI. Suara mereka juga terpecah. Ada yang terang-terangan menolak jika Salim sampai bermain untuk Pasukan Kebangsaan Malaysia. Mereka tidak bisa membayangkan Salim, pemain kesayangan mereka itu, mengobrak-abrik pertahanan timnas Indonesia. Mereka tidak mau pahlawan mereka itu jadi penghianat bagi negeri kelahirannya sendiri. Bagi mereka, tidak masalah jika Salim bermain untuk Belanda atau Amerika, misalnya. Namun untuk Malaysia, tidak! Mereka sudah cukup sakit hati ketika Indra Gunawan, mantan pemain bulutangkis kebanggaan Indonesia itu, menjadi pelatih bulutangkis di Malaysia. Itu baru bulu tangkis, bagaimana kalau sepakbola? Tidak, tidak, mereka tidak rela.

Namun, tidak sedikit pula yang mendukung agar Salim bersedia menerima jika suatu saat ditawari FAM untuk memperkuat Pasukan Kebangsaan Malaysia. Alasan mereka tidak lain adalah karena buruknya persepakbolaan Indonesia, terutama kinerja PSSI, dan penghargaan yang rendah terhadap pemain. Mereka sudah sering mendengar tentang mantan pemain sepakbola di Indonesia yang hidup miskin dan memprihatinkan saat menginjak usia tua. Mereka ngeri membayangkan jika suatu saat nanti Salim harus menjual medalinya hanya untuk memeriksakan sakit rematiknya. Malaysia, jelas berbeda. Di sini, atlet, lebih-lebih pemain sepakbola, akan terjamin masa depannya. Bukan hanya karena digaji tinggi, tapi juga hidupnya dijamin setelah tak lagi bermain. Karena alasan itulah, mereka lebih mendukung jika Salim memperkuat Pasukan Kebangsaan Malaysia.

Lalu, bagaimana dengan Salim sendiri? Ia cenderung enggan menanggapi kontroversi seputar dirinya. Ia tidak mau berkomentar sebelum FAM membuat sebuah keputusan. Dan, kata Salim, ia lebih suka membicarakan persiapan timnya menghadapi pertandingan-pertandingan berikutnya.

***

Di Indonesia, berita tentang Salim baru saja mencuat. Di beberapa koran, berita tentang adanya seorang pemain Indonesia yang akan bermain untuk Timnas Malaysia menempati halaman depan. Tampak jelas, kebanyakan foto salim yang dipakai diambil dari internet: buram dan pecah. Bahkan ada satu-dua koran yang memasang foto yang salah.

Meski ada yang menanggapinya dengan bijak dan penuh nada introspeksi, kebanyakan koran Indonesia bereaksi keras menanggapi isu Salim ini. Ada yang mengecam Malaysia sebagai negeri yang telah bobrok olahraganya, sehingga bisanya hanya membajak pemain berbakat dari Indonesia. Ada pula yang menganggap Salim sebagai kacang lupa kulitnya. Sementara, beberapa tajuk rencana menyamakan kasus Salim dengan lepasnya Pulau Sipadan-Pulau Ligitan serta sengketa Perairan Ambalat dengan Malaysia. “Terang Sekali, Malaysia kembali telah menginjak kehormatan kita. Masalah Salim adalah masalah kita semua. Masalah kedaulatan sebuah bangsa!” demikian salah satu kalimat tajuk koran itu dengan lugas dan tegas.

Beberapa klub di Indonesia tidak ketinggalan memberi tanggapan. Seorang manajer dari sebuah klub besar yang sedang berjuang lepas dari jurang degradasi dengan berapi-api menyatakan bahwa Salim harus diselamatkan. “Klub kami dengan tangan terbuka akan menampung Salim,” demikian katanya. “Soal gaji, jangan khawatir. Kami telah mengajukan dananya ke DPRD dan beberapa sponsor,” katanya lagi dengan mantap.

Di sisi lain, PSSI juga telah bergerak cepat. Menurut salah satu pengurus, Ketua Umum PSSI telah memerintahkan dibentuknya Tim Advokasi dan Tim Investigasi untuk menangani kasus Salim. Tim Advokasi bertugas untuk mengajukan protes keras kepada Federasi Sepakbola Malaysia dan mengajukan banding ke AFC, bahkan mungkin FIFA. Sementara Tim Investigasi akan mengumpulkan data-data tentang Salim, yang memang belum dimiliki PSSI.***

*Ditulis tahun 2006, saat nama Irfan Bachdim belum kepikiran...

1 comment: